Untuk mengetahui dan menganalisis pertimbangan hukum hakim dalam memutus wanprestasi dalam kontrak pekerjaan taman air mancur. UUD 1941 merupakan suatu peraturan baku atau baku mengenai perjanjian kontrak di Indonesia, khususnya untuk proyek-proyek pemerintah. Perjanjian kontrak bersifat bebas, artinya perjanjian kontrak dapat dibuat secara lisan atau tertulis.
Perjanjian kontrak konstruksi diperoleh dari hasil lelang berdasarkan penawaran yang diajukan (competitive bid contract). Perjanjian kontrak bangunan diperoleh sebagai hasil perundingan antara prinsipal dan kontraktor (negotiated contract) 15. Perjanjian kontrak selalu ada pihak-pihak yang terikat pada perjanjian kontrak tersebut, namun ada pula pihak-pihak lain yang terikat secara tidak langsung pada perjanjian kontrak tersebut.
Kedua-dua pihak yang terikat dan mereka yang secara tidak langsung berkaitan dengan perjanjian borong dirujuk sebagai peserta dalam perjanjian borong. Jika pemborong adalah kerajaan manakala pemborong adalah pihak persendirian, hubungan undang-undang itu dipanggil perjanjian borong. Ini boleh dalam bentuk akta yang ditandatangani, Surat Perintah Kerja (SPK), Surat Perjanjian Kerja/Perjanjian. Jika pemborong dan pemborong kedua-duanya adalah pihak swasta, perhubungan yang sah itu dinamakan perjanjian borong, yang boleh berbentuk akta, surat perintah kerja (SPK), surat perjanjian borong atau perjanjian.
Hak dan Kewajiban Pihak-Pihak dalam Perjanjian Pengerjaan Pembuatan Taman
Perjanjian kerja pembuatan taman air mancur di Masjid Agung Kota Lubuklinggau dibuat secara tertulis dan ditandatangani oleh para pihak serta mencantumkan langkah-langkah hukumnya sehingga dapat dilaporkan menjadi suatu akta. Sebagaimana lazimnya dalam sebuah akta, fungsi perjanjian pembangunan taman air mancur di kawasan Masjid Agung Kota Lubuklinggau adalah untuk mengatur syarat-syaratnya. Perjanjian pembangunan taman air mancur di kawasan Masjid Agung Kota Lubuklinggau memenuhi syarat sahnya perjanjian sebagaimana diatur dalam Pasal 1320 KUH Perdata tentang syarat sahnya perjanjian, yaitu syaratnya sah secara subyektif dan obyektif.
Hal ini merupakan pelanggaran terhadap syarat subyektif Pasal 1320 KUH Perdata, yaitu “kesepakatan para pihak yang mengadakan perjanjian dan yang kedua, kewenangan para pihak yang mengadakan perjanjian, maka dapat dimintakan pembatalan, yang berarti salah satu pihak dapat meminta. pembatalan". 29. Sehubungan dengan itu, sebagai undang-undang yang hanya mempunyai fungsi pelengkap, maka ketentuan-ketentuan perjanjian bersama dalam KUH Perdata akan dikesampingkan apabila para pihak sudah mengadakan perjanjian. Menyetujui suatu perjanjian merupakan suatu pernyataan maksud antara seseorang atau lebih dengan pihak yang lain, dan persetujuan dalam suatu perjanjian merupakan wujud kemauan dua pihak atau lebih mengenai apa yang hendak dilakukan, bagaimana cara melakukannya, kapan. itu harus dilakukan dan siapa yang akan melakukannya.
Kesepakatan para pihak dalam perjanjian pembangunan taman air mancur di kawasan Masjid Raya Kota Lubuklinggau adalah para pihak sepakat. Namun bisa saja para pihak atau salah satu pihak yang mengadakan perjanjian/kontrak tidak cakap. Kesanggupan untuk mengadakan perjanjian juga dipenuhi dalam perjanjian pembangunan taman air mancur di kawasan Masjid Raya Kota Lubuklinggau, karena para pihak mempunyai cakap hukum yaitu pihak pertama dan pihak kedua mempunyai kesanggupan untuk mengadakan perjanjian. membuat perjanjian dan menandatanganinya.
Suatu sebab dalam suatu perjanjian tidak boleh bertentangan dengan undang-undang, kesusilaan, dan ketertiban umum.”34 Sebab yang dimaksud dalam Pasal 1320 KUH Perdata bukanlah yang mendorong orang untuk membuat suatu perjanjian, melainkan sebab dalam arti isi perjanjian itu sendiri yang di dalamnya diuraikan tujuan-tujuan yang ingin dicapai para pihak; pihak yang mengadakan perjanjian. Suatu sebab dikatakan palsu apabila sebab itu dianggap oleh para pihak mengaburkan sebab sebenarnya. Perjanjian pembangunan taman air mancur di Masjid Agung Kota Lubuklinggau tidak bertentangan dengan ketertiban umum dan nilai kesusilaan serta isi perjanjian sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan tidak ada pasal yang dapat merugikan masyarakat. pelanggaran ketertiban dan nilai-nilai moral.
Klausul perjanjian pembangunan taman air mancur di kawasan Masjid Raya Kota Lubuk Linggau memuat hak dan kewajiban para pihak. Diuraikan kewajiban para pihak dalam perjanjian pembangunan taman air mancur di Masjid Agung Kota Lubuklinggau yaitu kewajiban pada CV.
Penyelesaian Sengketa dalam Perjanjian Pemborongan Pekerjaan
PERTIMBANGAN HUKUM HAKIM DALAM MEMUTUS WANPRESTASI
Kasus Putusan Mahkamah Agung RI No
Pembayaran selanjutnya dihitung menurut kemajuan pekerjaan yang dicapai dan dipotong secara proporsional untuk pelunasan uang muka dan disesuaikan dengan ketersediaan dana dari Tergugat II, dan dibayarkan setelah prestasi kerja di lapangan selesai 100% (seratus persen). dibuktikan dengan Berita Acara Pemeriksaan Pekerjaan antara Tergugat I dan penggugat dan disetujui oleh tergugat II. Merujuk pada kesepakatan dalam Surat Perintah Kerja, seharusnya tergugat I membayarkan pembayaran kedua kepada penggugat setelah pelaksanaan pekerjaan di lapangan selesai 100% yang dibuktikan dengan Berita Acara Pemeriksaan Kerja antara tergugat I dan penggugat. Namun pada kenyataannya tergugat I tidak menepati kesepakatan pembayaran pembayaran kedua dengan penggugat, padahal Berita Acara Pemeriksaan Pekerjaan yang dibuat oleh tergugat I dan penggugat telah memenuhi syarat-syarat perjanjian.
Pernyataan Tergugat I juga dibantah oleh Tergugat I, dengan Tergugat I memberikan kepada penggugat Bilyet/Girocheque PT Bank Maybank Indonesia nomor 179451 tanggal 29 April 2016 dan PT Bank Maybank Bilyet Girocheque/Girocheque 997492 tanggal 28 April 2016. , dimana kedua slip pembayaran dari terdakwa I tidak mempunyai saldo yang mencukupi di rekening. Bahwa karena tergugat I tidak beritikad baik dan melakukan pembayaran dengan giro yang tidak mempunyai cukup dana untuk membayar pekerjaan yang dilakukan penggugat, maka penggugat juga menerbitkan surat teguran I nomor 015/KW/IX/SP/2016, tanggal 14 September 2016 kepada Terdakwa I untuk membayar uang pembangunan Taman Air Mancur di Kawasan Masjid Raya Kota Lubuklinggau yang belum dibayarkan sebesar Rp.
Bahwa surat penggugat kepada tergugat I tidak ditanggapi dan juga tidak ada itikad baik tergugat I kepada penggugat untuk membayar biaya pelaksanaan pekerjaan yang ditagihkan oleh penggugat, untuk menjamin terlaksananya gugatan penggugat. keluar. tidak sia-sia dan pembayarannya dapat dilakukan oleh terdakwa I, maka cukuplah alasan bagi majelis hakim penyidik perkara ini untuk memasang jaminan berupa satu unit rumah yang terletak di Perumahan Taman Lebak Bulus 6 Blok Y No. Penggugat juga berusaha menemui tergugat II dan meminta agar tergugat II selaku pemilik karya menghubungi tergugat I dan memerintahkan agar ia membayar pekerjaan tersebut. Hal tersebut dikarenakan tidak adanya itikad baik dari pihak Tergugat I dan Tergugat II untuk menyelesaikan pembayaran pekerjaan pembangunan taman air mancur di sekitar Masjid Agung Lubuklinggau, padahal semua bahan yang digunakan dalam pekerjaan tersebut adalah milik masing-masing pihak. penggugat, selayaknya majelis penyidik perkara ini menyatakan telah diberikan jaminan atas bangunan taman air mancur dekat Masjid Raya Lubuklinggau.
Hal itu disebabkan karena tidak adanya itikad baik dari Tergugat I dan Tergugat II untuk menyelesaikan pembayaran pekerjaan yang telah selesai 100% sejak tanggal 31 Juli 2015 sebesar Rp. satu milyar empat ratus delapan puluh juta rupiah) kepada penggugat, penggugat juga meminta agar tergugat I dan tergugat II secara tanggung renteng bertanggung jawab atas keterlambatan pembayaran sebesar Rp. Menghukum Tergugat I dan Tergugat II secara tanggung renteng bertanggung jawab atas keterlambatan dan kesengajaan Tergugat I dalam membayar pekerjaan yang telah diselesaikan Penggugat sejak tanggal 31 Juli 2015, dan pembayarannya dihitung per Agustus 2015 sampai dengan pengajuan gugatan ini memakan waktu 15 bulan x 30 hari x Rp.
Menjaminkan pembangunan taman air mancur di kawasan Masjid Agung Kota Lubuklinggau sebagai jaminan agar tergugat I dan tergugat II membayar kepada penggugat pembayaran pembangunan taman air mancur sebesar Rp. Dinyatakan bahwa putusan ini dapat dilaksanakan terlebih dahulu meskipun ada banding dan keberatan hukum dari tergugat I dan tergugat II (uitvoorbaar bij vooraad).
Amar Putusan
Berdasarkan hal tersebut di atas, Pemohon mohon kepada Pengadilan Lubuklinggau untuk mengambil putusan sebagai berikut. satu miliar empat ratus delapan puluh juta) rupiah segera setelah putusan dibacakan oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Kias IB Lubuklinggau. Menyatakan penyitaan 1 unit rumah yang berlokasi di Taman Lebak Bulus 6 Blok Y No.
Memerintahkan para terdakwa untuk membayar biaya perkara yang sampai saat ini berjumlah Rp. satu juta tiga ratus enam puluh satu ribu rupiah). Pengadilan Negeri Lubuklinggau telah mengeluarkan putusan yaitu putusan nomor 23/Pdt.G/2016/PN.Llg yang telah dikukuhkan oleh Pengadilan Tinggi Palembang dengan putusan nomor 99/PDT/2017/PT PLG., tanggal 6 Desember 2017 Mahkamah Agung mengabulkan permohonan Pemohon Kasasi I Pemerintah Kota Lubuklinggau cq Dinas Pekerjaan Umum Kota Lubuklinggau dan membatalkan putusan Pengadilan Tinggi Palembang Nomor 99/PDT/2017/PT PLG., tanggal 6 Desember 2017 jo. Pengadilan Negeri Lubuklinggau Nomor 23 /Pdt.G/2016/PN Llg., tertanggal 12 Juni 2017 dan mengadili sendiri, demikian bunyi putusannya.
Tergugat I divonis membayar biaya pekerjaan kepada Penggugat sebesar Rp satu miliar empat ratus delapan puluh juta rupiah). Menghukum tergugat kasasi untuk membayar biaya perkara di tingkat kasasi sebesar Rp lima ratus ribu rupiah).
Analisis Kasus
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Kewajiban pemilik dalam kontrak pembangunan taman air mancur adalah mengawasi dan memeriksa pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan kontraktor, melakukan pembayaran sesuai harga yang ditentukan dalam kontrak, menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan kontraktor. , melaksanakan kontrak, memberikan instruksi sesuai jadwal dan membayar ganti rugi atas kesalahan yang dilakukan. Pertimbangan hukum hakim dalam memutus wanprestasi dalam perjanjian kontrak pekerjaan spring garden adalah PT. Kertawijaya dan selaku pemilik proyek Pemerintah Kota Lubuklinggau cq Dinas Pekerjaan Umum Kota Lubuklinggau tidak mempunyai hubungan hukum dengan CV.
Kertawijaya diterbitkan tanpa sepengetahuan DPRD Kota Lubuklinggau atau Dinas Pekerjaan Umum Kota Lubuklinggau, sehingga tidak dapat dibebani tanggung jawab untuk membayar kewajiban PT secara tanggung renteng.
Saran
Sudargo, Macam-macam Undang-undang Arbitrase (Menuju Undang-undang Arbitrase Indonesia yang Baru), Citra Aditya Bhkati, Bandung, 2006. Kantaatmadja, Komar, Berbagai Permasalahan Penerapan ADR di Indonesia, dalam Prospek dan Penerapan Arbitrase di Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2011 Margono, Suyud, ADR (alternatif penyelesaian sengketa) dan arbitrase, proses kelembagaan dan aspek hukum, Ghalia Indonesia, Jakarta, 2014.
Nasution, Bahder Johan, Pravne raziskovalne metode, Mandar Maju, Bandung, 2008 Notoatmojo, Soekidjo, Etika in pravo.
Peraturan Perundang-undangan Undang-Undang Dasar Tahun 1945