• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Jurnaliis - Hasan Muhammad & Syufri.docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Jurnal Jurnaliis - Hasan Muhammad & Syufri.docx"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

37

DAMPAK SOSIAL KEBERADAAN PERUSAHAAN DONGGI SINORO LNG (DSLNG) DI KECAMATAN BATUI

KABUPATEN BANGGAI

Oleh: Hasan Muhammad dan Syufri

ABSTRAK

Abstrak : Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan mengenai dampak sosial keberadaan perusahaan DSLNG serta bentuk resolusi konflik yang dipilih oleh perusahaan DSLNG. Penelitian ini dilakukan di lokasi Donggi Senoro LNG di Desa Uso Kecamatan Batui Kabupaten Banggai, dengan metode pendekatan kualitatif.

Informan dalam penelitian ini adalah orang-orang yang dianggap mengetahui objek penelitian yang dipilih secara purposive sampling yaitu pengurus lembaga adat, para kepala desa, orang tua kampung dan aparat pemerintah daerah dengan Operasional teknik pengumpulan data adalah Observasi partisipatif.

Dari hasil pembahasan di 3 lokasi penelitian masing-masing Desa Uso, Honbola, dan Lamo diketahui bahwa Konflik yang terjadi di 3 lokasi penelitian tersebut belum pada tahap yang menguatirkan, sebab masyarakat mengharapkan kehadiran perusahaan, namun mereka mengharapkan pula penyelesaian ganti rugi lahan yang dinilai belum selesai serta mengutamakan rekruitmen tenaga kerja lokal. Dalam wawancara FGD juga diketahui adanya perasaan cemburu dari masyarakt Desa Honbola yang merasa dinomor duakan oleh pihak PT. DSLNG padahal lahan yang dikuasai DSLNG sebagian besar berasal dari masyarakat Honbola.

Kecemburuan ini merupakan potensi konflik dan setiap saat dapat meledak dalam bentuk kekerasan. Reseluri konflik sebagai langkah awal menekan agar tidak terjadi konflik terbuka, dianggap oleh masyarakat belum maksimal dilakukan oleh perusahaan. Oleh karena itu, untuk menekan terjadinya konflik diperlukan kegiatankegiatan yang antara lain adalah; pemberdayaan dan penguatan kelembagaan ditingkat desa seperti penguatan kelembagaan untuk kelompok tani, nelayan, keagamaan, pendidikan, lembaga adat desa dan kecamatan, kesehatan, lingkungan hidup serta kelompok pengrajin.

Kata Kunci: Konflik Masyarakat Lokal

(2)

PENDAHULUAN

Masyarakat Kecamatan Batui merupakan masyarakat yang berada di wilayah Kontrak karya PT Donggi Sinoro LNG. Proses masuknya perusahaan, semula diterima namun belakangan terjadi konflik antara masyarakat dengan pihak perusahaan.

Salah satu penyebabnya adalah proses ganti rugi lahan yang dinilai kurang adil dan juga dianggap ada pihak yang sengaja bermain dan untuk mengambil keuntungan pada masyarakat lokal.

Sejumlah anggota masyarakat yang menyoalkan penetapan harga tanah yang dinilai merugikan dan menilai bahwa ada sejumlah pihak yang bermain sehingga anggota masyarakat yang tidak memiliki lahan menerima hasil penjualan. Hal ini menyebabkan kerugian pada pemilik lahan sebagai akibat dari lahannya menjadi berkurang dengan kehadiran pemilik siluman.

Selain itu, masyarakat lokal mengenal hak ulayat sebagaimana juga dikenal diberbagai pelosok Nusantara. Hal ulayat mengandung norma-norma hukum yang berhubungan dengan pengelolaan tanah dan segala yang ada diatasnya dan tanah sebagai sumber daya milik bersama. Pelbagai peraturan yang mengatur kehidupan dalam persekutuan desa disebut hukum adat, sebagai kompleks adat-istiadat yang memiliki kekuatan untuk memaksa dan memiliki sanksi bagi para pelanggarnya, (Zakaria, 1999:149).

Konsekuensi dari masuknya perusahaan akan membawa adat kebiasaan para pekerja yang sudah tentu dapat berpengaruh terhadap kebiasaan masyarakat lokal. Seperti gambaran Watson (2000:89), dalam melihat pengaruh kultur dapat melahirkan kemungkinan- kemungkinan baru termasuk kemungkinan lahirnya konflik.

Hampir semua kajian tentang konflik yang terjadi baik konflik antar kelompok maupun konflik dengan label agama seperti yang marak di Indonesia diawali dengan adanya kesenjangan sosial ekonomi, kemudian adanya suatu anggapan dan meyakini bahwa wilayah yang dihuni tersebut merupakan wilayah adat, sehingga menimbulkan reaksi bahkan dengan kekerasan untuk mengambil kembali yang dianggapnya sebagai milik yang telah dikuasai oleh pemerintah maupun perusahaan-perusahaan besar (HPH) (Soemardjan, 2002:314);

Berdasarkan latar belakang penelitian, dapat diidentifikasi dan dirumuskan masalah penelitian dalam uraian yakni a). Bagaimana model konflik antara masyarakat lokal dengan

(3)

perusahaan; b). Bagaimana resolusi konflik yang dipilih perusahaan guna menghindari konflik terbuka.

METODE PENELITIAN

Objek penelitian ini adalah konflik dan resolusi konflik pada masyarakat lokal di Kecamatan Batui yaitu Desa Uso, Honbola dan Desa Lamo. Informan dalam penelitian ini adalah orang-orang yang dianggap mengetahui objek penelitian yang dipilih secara purposive sampling yaitu pengurus lembaga adat, para kepala desa, orang tua kampung dan aparat pemerintah daerah.

Data penelitian didapatkan dari hasil kerja lapangan dengan jalan observasi dan wawancara mendalam dari para pelaku dan yang menjadi satuan analisis adalah masyarakat lokal yang berkaitan dengan masalah penelitian.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini sebagaimana lazimnya suatu penelitian kualitatif, memposisikan peneliti sebagai instrumen penelitian yang senantiasa memanfaatkan observasi partisipasi, masuk dalam wilayah penelitian, membangun kepercayaan pada informan serta menciptakan hubungan baik sehingga tidak ada jarak antara peneliti dan informan. Manfaatnya adalah informasi didapatkan tanpa ada keraguan. Di samping itu dilakukan wawancara mendalam (depth interview) terhadap sasaran penelitian (Faisal, 1990:78; Nasution, 1992:54; Bodgan dan Taylor, 1993:31). Kegiatan penelitian lapangan dilakukan melalui tahapan berikut: (1) Tahap orientasi; (2) Tahap eksplorasi; (3) Tahap

"member check".

Operasional teknik pengumpulan data adalah Observasi partisipatif, yaitu pengamatan berperan serta dalam pengumpulan data, memungkinkan peneliti melihat, merasakan, mempelajari dan memaknai bentuk-bentuk konflik. Dalam observasi sebagaimana lazimnya penelitian kualitatif, ada tiga hal pokok yang dijadikan elemen utama yaitu: lokasi atau tempat, manusia sebagai pelaku dan aktivitasnya (Faisal, 1990:77).

(4)

HASIL PENELITIAN

1. Model konflik antara masyarakat lokal dengan perusahaan a. Desa Uso

Hasil kajian di Desa Uso, Ada beberapa hal yang dapat disimpulkan diantaranya: (1) masih terdapat masyarakat yang menyoalkan pembebasan lahan, walaupun mereka sadar bahwa secara hukum mereka tidak akan menang jika persoalan tersebut masuk ke rana hukum, karena telah terjadi jual beli; (2) Masyarakatnya terutama elit desa merasa bahwa mereka yang paling berhak atas kehadiran DSLNG, dibandingkan dengan desa-desa lainnya;

(3) kaum muda yakin, bahwa mereka tidak dapat bersaing dalam rekruetmen tenaga kerja kedepan, oleh karena itu perlu penyiapan diri untuk mengolah lahan yang akan ditanami sayur-sayuran; (4) harapan mereka, terhadap perusahaan, kalau ada pekerjaan yang dapat dilakukan oleh masyarakat desa jangan diberikan pada orang luar. Seperti kejadian yang lalu, kami sudah siap dengan membeli parang untuk melakukan pemarasan lahan perusahaan ternyata diberikan pada orang lain, hanya persoalan pembayaran; (5) ada janji yang menurut masyarakat tidak ditepati, seperti janji, terhadap hasil penebangan pohon kelapa dan buahnya akan disumbangkan di desa, kenyataannya tidak ada, kesimpulan yang dibuat masyarakat adalah "sedangkan yang kecil tidak ditepati apalagi janji-janji yang besar seperti rekruetmen tenaga kerja lokal; (6) kehadiran DSLNG sangat kecil manfaat yang dirasakan masyarakat, serta posisinya jauh dari masyarakat. Masalahnya adalah belum dirasakan manfaatnya, masyarakat sadar bahwa memang saat ini belum terasa karena belum beroperasi, tetapi kedepan kehadiran perusahaan memberikan manfaat yang besar; (7) Demikian pula kehadiran Penyuluh Pertanian (PPL) kecil manfaatnya dirasakan serta jauh, hal ini disebabkan masalah pertanian utamanya penyakit kakao yang tidak dapat diselesaikan oleh PPL; (8) BPD dan Lembaga Adat Desa kehadirannya sedang manfaatnya, tidak kecil dan juga tidak besar, hal ini disebabkan belum banyak aktivitasnya yang bermanfaat bagi masyarakat desa.

b. Desa Honbola

Desa Honbola, sangat aktif ketika tim masuk di desa dan melakukan FGD. Sebagian kecil anggota FGD menyoalkan eksistensi tim, sebab menurut mereka kehadiran tim adalah dalam kapasitas menyelesaikan masalah tanah, sehingga ada sebagian dari peserta justru berasal dari Kelurahan Lamo.

(5)

Tim Peneliti berulang kali menjelaskan maksud dan tujuan kajian, tetapi mereka tetap menyoalkan pembebasan lahan. Tarik - menarik dan penjelasan sangat menyita waktu, bahkan hampir sejam waktu tercurah hanya untuk persoalan tersebut. Jalan keluar yang ditempuh fasilitator adalah membagi dua peserta, yaitu peserta yang menyoalkan pembebasan lahan dengan peserta yang sengaja diundang Kepala Desa untuk mengikuti FGD.

Dari komentar peserta FGD, terdapat beberapa komentar, namun ada yang komentarnya bernada cemburu. Mereka menilai DSLNG menomor duakan Desa Honbola dan menomor satukan Desa Uso, padahal lahan yang dikuasai DSLNG sebagian besar berasal dari masyarakat Honbola. Kecemburuan ini merupakan potensi konflik dan setiap saat dapat meledak dalam bentuk kekerasan.

Selain itu, dalam FGD, hampir semua peranan kelembagaan dirasakan kecil manfaatnya, baik lembaga yang intervensi di desa maupun lembaga yang lahir dari desa.

Hasil FGD lembaga yang intervensi adalah: (1) DSLNG dan PDAM kecil dan jauh dari masyarakat; (2) lembaga yang lahir di desa seperti BPD, LKMD, Lembaga adat juga kecil dirasakan namun tidak terlalu jauh dari masyarakat. Sedangkan kelompok tani juga kecil dirasakan namun sangat dekat dari masyarakat. Kelembagaan yang besar manfaatnya dan dekat dari masyarakat adalah Polindes, sebab kalau ada yang sakit dapat diobati walaupun masih kekurangan tenaga medis.

c. Kelurahan Lamo

Masyarakat di Kelurahan Lamo, merupakan masyarakat yang transisi, dari kehidupan desa menjadi kehidupan masyarakat kelurahan. Di kelurahan ini banyak terdapat orang-orang pintar setidaknya merasa pintar, kritis dan tidak segan-segan menyalahkan orang lain secara langsung. Seperti dalam teknik PRA, mereka meminta fasilitator memasukkan kelembagaan kelurahan untuk dievaluasi, permintaan itu diabaikan mengingat dapat menimbulkan konflik.

Selain itu, mereka terbiasa melakukan demonstrasi, sebagaimana tertulis disalah satu dinding kantor kelurahan "tikus tanah" dan sampai saat ini belum terhapus.

Dalam FGD, dengan teknik yang sama dengan desa lainnya, maka ada beberapa temuan diantaranya (1) lembaga intervensi, DSLNG, PDAM, LSM sangat kecil manfaatnya dirasakan serta sangat jauh dari masyarakat, kecuali Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri besar manfaatnya dirasakan dan dekat dari masyarakat. (2) lembaga yang ada dan lahir di desa seperti kelompok tani besar manfaatnya dan dekat dengan

(6)

masyarakat, Kelompok nelayan sedang manfaatnya dan juga tidak terlalu dekat dengan masyarakat, Polindes kecil manfaatnya dan dekat dari masyarakat, PPL pertanian sedang manfaatnya namun dekat dari masyarakat, hal ini disebabkan kehadiran PPI belum mampu mengatasi masalah hama tanaman kakao maupun tanaman lainnya, SPTI serta lembaga kependidikan besar manfaatnya namun masih ada jarak dari masyarakat.

2. Resolusi konflik yang dipilih perusahaan

Perusahaan seharusnya mengakomodir kebutuhan masyarakat yang bersentuhan langsung dengan wilayah kerja perusahaan sebagai tanggung jawab sosial. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mensejahterakan masyarakat, sebab dengan asumsi jika masyarakat sejahtera maka sangat kecil peluang untuk melibatkan diri mereka dalam konflik.

Kegiatan yang dapat dilakukan, diantaranya:

a) Menjaring Kebutuhan Bukan Daftar Keinginan

Dalam FGD di beberapa desa dan kelurahan, ketika fasilitator menanyakan kepada peserta tentang masalah yang dihadapi dan bagaimana mengatasinya, terutama jika seandainya Perusahaan DSLNG beraktivitas apa yang diharapkan. Pertanyaan ini menimbulkan rentetan keinginan, mulai dari membangun gedung sekolah sampai penerimaan tenaga kerja. Terkesan apa yang disampaikan peserta adalah rentetan keinginan bukan kebutuhan yang mendesak.

Walau dalam FGD fasilitator telah menyampaikan berulang kali, namun tetap kurang dipahami, untuk mengatasi masalah ini kedepan, kehadiran fasilitator desa sangat diharapkan.

Diperlukan kehadiran lembaga yang menghimpun fasilitator desa maupun kecamatan.

Pertimbangannya adalah mereka hidup berdampingan dengan masyarakat sehingga mereka lebih memahami apa sesungguhnya yang menjadi kebutuhan masyarakat dan bukan daftar keinginan. Fasilitator yang dibentuk akan mendapat bekal semacam pelatihan perencanaan partisipatif, yang kehadirannya bukan saja menjaring masalah di pedesaan tetapi dapat juga berperan sebagai pendamping pada lembaga-lembaga lainnya seperti pemerintahan desa, BPD dan lain-lain.

b.) Pemberdayaan Melalui Penguatan Kelembagaan

Pemberdayaan atau Enpowerment muncul dengan dua premis mayor, yaitu kegagalan dan harapan. Kegagalan yang dimaksudkan adalah gagalnya model-model pembangunan ekonomi dalam menanggulangi masalah kemiskinan dan lingkungan yang berkelanjutan.

(7)

Sedangkan harapan adalah adanya alternatif-alternatif pembangunan yang memasukkan nilai- nilai demokrasi, persamaan gender, persamaan antara generasi dan pertumbuhan ekonomi secara memadai.

Dalam konteks seperti ini maka pembangunan ekonomi harus diterjemahkan sebagai proses meningkatkan derajat kebebasan manusia dalam menentukan pilihan-pilihannya sendiri. Oleh karena itu, kemajuan ekonomi secara berkesinambungan harus didukung sumberdaya manusia yang memiliki prakarsa dan daya kreasi. Prakarsa hanya tumbuh apabila terdapat emansipasi serta kesempatan yang penuh untuk berpartisipasi dalam proses perubuhan.

Pemberdayaan, sebagai konsep alternatif pembangunan, dengan demikian menekankan otonomi pengambilan keputusan suatu kelompok masyarakat yang berdasarkan pada sumberdaya pribadi, partisipasi, demokrasi dan pembelajaran sosial melalui pengalaman langsung. Kegagalan berbagai proyek yang masuk di pedesaan adalah disebabkan karena tanpa melibatkan masyarakat mulai dari merencanakan sampai mengevaluasi kegiatan tersebut. Paradigma Top Dawn tidak lagi dapat menyelesaikan masalah, maka kecenderungannya adalah menggantikan dengan paradigma buttom Up planing.

Dalam upaya pemberdayaan tidak lepas dari masalah kemiskinan sebagai sasaran dalam perberdayaan, oleh karena itu antara pemberdayaan dan kemiskinan dapat dibedakan namun tidak dapat dipisahkan. Sudah cukup banyak program yang ditujukan pada masyarakat miskin, namun dinilai masih belum maksimal. Pertimbangan itulah, maka penguatan kelembagaan menjadi sesuatu yang mat penting, khususnya sebagai tanggungjawab sosial dari kehadiran perusahaan.

c) Penguatan Kelembagaan Desa

Dalam banyak kasus, dominasi kepala desa menyebabkan kualitas keterwakilan politik parlemen desa (BPD) rendah, hal ini disebabkan kepala desa ikut menentukan dan mengendalikan proses pemilihan anggota BPD. Anggota BPD yang terpilih merupakan orang- orang yang loyal kepada kepala desa dan mengamankan posisi kepala desa. Akibatnya BPD yang semestinya berperan sebagai lembaga legislatif desa yang berfungsi penyeimbang dan pengawas kinerja pemerintahan desa menjadi lembaga yang mandul tanpa bisa berbuat banyak.

Dengan permasalahan tersebut, diperlukan intervensi perusahaan DSLNG melalui fasilitator yang dibentuk agar kelembagaan di desa menjadi mandiri dan mampu

(8)

menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa harus tergantung pada pihak luar.Ada beberapa kegiatan yang perlu mendapat perhatian, diantaranya adalah: (1) pendampingan pembuatan PERDES dan APBDES; (2) simulasi tentang tupoksi baik pemerintahan desa maupun BPD.

d) Penguatan Kelembagaan Kelompok Tani dan Nelayan

Penguatan kelembagaan kelompok tani dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain: (1) penguatan kelembagaan PPL yang terbatas baik dari segi kualitas maupun kuantitas, PPL tidak mampu mengatasi usaha simpan-pinjam dalam kelompok yang bersangkutan; (3) mengelompokkan kelompok tani berdasarkan jenis usaha yang ditekuni.

Harapan terhadap penguatan kelompok tani tersebut dimaksudkan adalah, antisipasi warga yang tidak terjaring dalam rekruetmen tenaga kerja namun mereka dapat berpartisipasi sebagai penyuplay bahan makanan yang dibutuhkan perusahaan. Alasan tersebut sebagai kehendak warga sebab mereka sadar bahwa dengan keterbatasan pengetahuan yang dimiliki tidak akan mungkin masuk dalam bursa tenaga kerja, untuk itu mereka akan menyiapkan diri dalam usaha perkebunan maupun peternakan.

Demikian pula penguatan kelompok nelayan, aktivitas nelayan bagi sebagian besar masyarakat adalah pekerjaan sampingan namun sebagian kecil merupakan pekerjaan utama.

Penguatan kelompok nelayan sangat diperlukan kedepan dengan cara, antara lain: (1) mengorganisir kelompok nelayan terdiri atas 5-10 orang; (2) memperkenalkan usaha simpan pinjam, dengan tidak menggunakan nama koperasi, sebab nama itu sudah tidak bersahabat tetapi prinsip koperasi yang digunakan; (3) modal usaha dapat dipinjam dari kelompok dan bukan dari pedagang pengumpul. Ada kekuatiran kedepan, ketika perusahaan beroperasi, kalau tidak dilakukan penguatan kelompok nelayan, maka pedagang pengumpul yang akan mengambil keuntungan dari hasil nelayan sementara nelayan tetap miskin dan melarat.

e) Penguatan Kelembagaan Kelompok Pengrajin

Selain kelompok tani dan nelayan, ada pula aktivitas masyarakat yang membuat anyaman tikar dari bahan baku tumbuhan laut. Ada kemungkinan bahan baku tersebut akan menjadi masalah kedepan, untuk itu perlu pertimbangan bahan baku alternatif. Penguatan kelompok Pengrajin, dapat dilakukan dengan cara, sebagai berikut: (1) memfasilitasi dan mengorganisir kelompok pengrajin; (2) menularkan aktivitas tersebut pada generasi muda yang saat ini kurang berminat dan tertarik melalui pelatihan dengan mendatangkan instruktur dari luar.

(9)

f) Penguatan Kelembagaan Keagamaan

Dalam FGD, ada kekuatiran sebagian kecil warga jika suatu saat perusahaan beroperasi.

Kekuatiran itu adalah dengan masuknya tenaga kerja dari luar desa, dengan budaya dan kebiasaan yang berbeda terutama kebiasaan mabuk, berjudi serta ikutan yang tidak dapat dihindari yaitu adanya wanita penghibur. Ibu-ibu di desa sangat kuatir, mereka menyakini, bahwa mungkin mereka akan sanggup mengatasi masalah tersebut tetapi bagaimana dengan anak-anak mereka.

Masyarakat desa sangat mengharapkan intervensi perusahaan dalam mengantisipasi masalah yang akan muncul dengan cara melakukan penguatan kelembagaan agama, seperti taman pengajian. Bahkan salah seorang dari peserta FGD bersedia menyiapkan lahannya untuk dijadikan pusat pengajian dan pengkajian.

g) Penguatan dan Pendampingan Lembaga Adat Desa dan Kecamatan

Lembaga adat desa maupun kecamatan lebih pada kegiatan serimoni, yaitu doa syukuran di beberapa wilayah yang kegiatannya dilakukan hanya pada bulan tertentu dalam setahun, yakni dimulai sejak tanggal 1 sampai dengan tanggal 31 Desember. Lembaga Adat di desa, kecamatan maupun kabupaten tidak seperti lembaga adat di wilayah lain di Sulawesi Tengah, yang eksistensinya diakui dan dipatuhi yang ditandai dengan adanya sanksi adat atas pelanggaran adat.

Penguatan kelembagaan adat dapat dilakukan dengan kajian-kajian, terutama tentang mekanisme kerja kelembagaan antara Tomundo Banggai yang berkedudukan di Luwuk, lembaga ini terdiri atas Ketua dan perangkat adat; Bosanyo yang berkedudukan di Kecamatan, lembaganya terdiri atas lembaga dan perangkat adat serta lembaga adat desa tanpa perangkat.

Selain itu, diperlukan kajian menyangkut penguasaan adat atas sumber daya alam khususnya tentang konsep Labong/jerame (bekas kebun) dan alas (kawasan hutan yang berhadapan dengan bekas kebun) dan ubakan, yaitu penguasaan lahan yang berdekatan dengan labong dan ini diakui adat, namun tidak dikenal secara luas dalam masyarakat.

Intervensi Perusahaan terhadap penguatan lembaga adat, selain kajian tersebut, juga memunculkan kewibawaan lembaga adat yang dalam melakukan musyawarah adat menggunakan pakaian seragam serta memfasilitasi pertemuan adat dalam membahas pelanggaran adat serta sanksi adat. Jika memungkinkan difasilitasi pertemuan rutin pertriwulan atau minimal dua kali setahun. Aktivitas pertemuan adat dilakukan pada wilayah

(10)

kecamatan dengan menghadirkan pemerintah daerah serta dinas pariwisata dan dipublikasikan.

Manfaat dari pertemuan adat tersebut adalah sebagai wahana transformasi nilai-nilai adat dari tokoh-adat kepada generasi muda yang kurang peduli pada aturan adat serta memberikan dampak dan gambaran kepada pendatang bahwa aturan adat masih berlaku.

1) Pendidikan

Dalam pengertian yang agak luas pendidikan diartikan sebagai sebuah proses dengan metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkahlaku yang sesuai dengan kebutuhan. Pendidikan berarti tahapan kegiatan yang bersifat kelembagaan seperti sekolah dan madrasah yang dipergunakan untuk menyempurnakan perkembangan individu dalam menguasai pengetahuan, kebiasaan, sikap dan sebagainya. Pendidikan bisa berlangsung secara nonformal dan informal, disamping secara formal disekolah, madrasah dan institusi-institusi lainnya.

Jadi, pendidikan pada hakekatnya adalah pengembangan potensi atau kemampuan manusia secara menyeluruh yang pelaksanaannya dilakukan dengan cara mengajarkan berbagai pengetahuan dan kecakapan yang dibutuhkan manusia itu sendiri. Konsep pendidikan secara formal dan pembangunan kelembagaan menjadi tanggungjawab dinas pendidikan dan kebudayaan.

Dalam konteks pengembangan masyarakat dan dengan pertimbangan tingkat pendidikan warga, maka dipandang perlu perusahaan melakukan intervensi, pada pendidikan nonformal dan informal, sebagai berikut: (1) Pelatihan dan keterampilan teknis bagi warga yang potensial; (2) penyediaan kelengkapan laboratorium di SMK; (3) bea siswa bagi warga yang kurang mampu, khususnya pada jenjang pendidikan tinggi; (4) menyiapkan dana penelitian bagi mahasiswa yang berasal dari Kabupaten Luwuk serta Banggai yang melakukan penelitian pada lokus kawasan perusahaan; (5) Membantu dan memfasilitasi asrama mahasiswa Kabupaten Luwuk di Palu, atau asrama mahasiswa Batui di Luwuk.

2) Kesehatan dan Lingkungan Hidup

Pada bidang kesehatan, hampir semua desa ada polindes walaupun dengan keterbatasan tenaga medis serta obat-obatan. Intervensi perusahaan pada bidang ini dapat dilakukan dengan cara, antara lain: (1) menentukan satu tempat pusat layanan kesehatan rawat inap yang letaknya pada posisi tengah dari desa-desa yang memiliki akses pada perusahaan. Hal ini

(11)

dapat dilakukan dengan kerjasama dengan dinas kesehatan kabupaten; (2) penyediaan ambulance, masyarakat sangat mengharapkan sebab berdasarkan pengalaman jika ada warga yang sakit dan harus dirujuk ke Luwuk tidak jarang meninggal dunia diperjalanan. Faktor penyebabnya adalah keterbatasan kendaraan umum dan jarak yang relatif jauh; (3) melakukan pelatihan dukun bayi sehingga menjadi dukun terlatih.

Pada bidang lingkungan hidup, intervensi dapat dilakukan melalui: (1) penyuluhan tentang pentingnya kesehatan lingkungan atau cara hidup sehat; (2) memfasilitasi pembuatan MCK khususnya pada masyarakat yang mendiami daerah-daerah pinggiran pantai; (3) penyuluhan tentang pentingnya biota laut khususnya terumbu karang;

3) Infrastruktur

Kegiatan pada bidang ini dapat dilakukan diantaranya: (1) pembukaan dan perbaikan jalan menuju sarana produksi, hal ini dimungkinkan untuk program pengembangan masyarakat. Mereka yang tidak terserap sebagai tenaga kerja, maka dapat memanfaatkan lahan kosong.; (2) Perbaikan pipa air bersih yang rusak, di beberapa desa mengalami masalah dengan air bersih, ada desa yang saluran pipa rusak, seperti Desa Uso. Sementara air bersih sangat dibutuhkan masyarakat sebagaimana ibu kota Kecamatan Batui yang air sumurnya terkadang asin: (3) pengaturan selokan pembuangan air, dalam keadaan hujan terjadi banjir seperti di daerah kelurahan Lamo.

KESIMPULAN

Dari Uraian di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Konflik yang terjadi di Kecamatan Batui belum pada tahap yang sebab masyarakat mengharapkan kehadiran menguatirkan, perusahaan, namun mereka mengharapkan pula penyelesaian ganti rugi lahan yang dinilai belum selesai;

2. Resolusi konflik sebagai langkah awal menekan agar tidak terjadi konflik terbuka, belum maksimal dilakukan oleh perusahaan.

(12)

Rekomendasi

1. Segera dilakukan penyelesaian lahan agar tidak terjadi konflik yang berkepanjangan yang dapat mengganggu perusahaan dalam melakukan aktivitasnya.

2. Janji perusahaan mengenai penerimaan tenaga kerja, utamanya mereka yang sudah menjual lahan segera direalisasikan.

3. Perlu menghindari agar tidak terjadi kecemburuan di antara masyarakat, utamanya Desa Lamo dan desa Honbola yang menilai bahwa yang diperhatikan perusahaan hanya desa Uso, padahal Desa Honbola justru lebih banyak lahannya yang diklaim oleh perusahaan.

DAFTAR PUSTAKA

Bogdan, Robert dan Taylor, Steven J., 1993. Dasar-Dasar Penelitian Kualitatif (terj.) A.Khozin Afandi. Surabaya: Usaha Nasional.

Faisal, Sanapiah. 1990. Penelitian Kualitatif Dasar-Dasar dan Aplikasi. Malang: Yayasan Asih Asah Asuh (YA3)

Fisher, Simon.Dkk.2001. Mengelola Konflik. Keterampilan dan Strategi Untuk Bertindak.

(terj.) S.N. Kartikasari DKK. Indonesia: SMK Grafika Desa Putra j

Nasution, 2002. Metode Research (Penelitian Ilmiah), Cetakan Kelima, Jakarta: Bumi Aksara.

Soemardjan, Selo.2002. Konflik-Konflik Sosial di Indonesia: Refleksi Kekerasan Masyarakat. Analisis CSIS: 306-320

Watson, C.W., 2000. Multiculturalism. Buckingham :Open University Press

Zakaria, Zakaria, R., Yando, 1999. Kembalikan Kedaulatan Hak Ulayat Masyarakat Adat, Penyunting Sandra Kartika; Candra Gautama Proseding Sarasehan Masyarakat Adat Nusantara Jakarta, 15-16 Maret, Jakarta: Lembaga Studi Press dan Pembangunan.

hal.146-165

Referensi

Dokumen terkait