ISSN : 2655-3600
PERJALANAN POLITIK BUPATI WIRATANOENINGRAT DALAM MEMBANGUN SUKAPURA PADA TAHUN 1908-1937
Muhammad Fauzan Azmi a, 1 *, Ika Rahayu b, 2, Ade Siti Mariam c, 3, Fahmi Fahrizal d, 4, Wardah Pebriyanti e, 5
a Pendidikan Sejarah, Universitas Siliwangi, Tasikmalaya, Indonesia
1 [email protected]; 2 [email protected];
3 [email protected]; 4 [email protected]; 5 [email protected];
(Jika instansi penulis sama, maka keterangan nomor dijadikan 1 baris. Contoh: a,b Afiliasi, dst.)
* Corresponding author
Informasi Artikel Abstrak
Abstrak ditulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dengan jarak antar baris 1(satu) spasi; ditulis dalam satu paragraf (200-250) kata yang mencangkup konsep yang dikaji, problem yang terkait dan solusi alternatif (untuk ide-ide konseptual) atau masalah, metode dan hasil (untuk hasil penelitian). Abstrak ditulis dengan ukuan huruf 11 dan jenis huruf Times New Roman. Jangan mensitasi referensi di dalam abstrak.
Kata Kunci: Kata Kunci 1, Kata Kunci 2, Kata Kunci 3 Submission:
Tanggal Submission Accepted:
Tanggal Accepted Published:
Tanggal Published
Abstract
Abstract written in Indonesian and English with a line spacing of 1 (one) space;
written in a single paragraph (200-250) says that covers concepts that were examined, problems associated and alternative solutions (for conceptual ideas) or problems, methods and results (for research). Do not cite references in the abstract.
Keywords: Keyword 1, Keyword 2, Keyword 3 PENDAHULUAN [Times New Roman 11 bold]
Bupati Raden Adipati Aria Wiratanoeningrat, yang menjabat sebagai bupati ke-14 di Kabupaten Tasikmalaya dari tahun 1908 hingga 1937, menggantikan ayahnya, bupati ke-13 R. Aria Prawira Adiningrat (1901-1908). Pada masa pemerintahannya, beliau berhasil menjalankan tugasnya sebagai pegawai kolonial dan pemimpin masyarakat, sukses mengawal demokratisasi Kabupaten Tasikmalaya serta mengarahkan kabupaten tersebut ke kehidupan modern. Keberhasilannya dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan yang unik, yang sesuai dengan konsep parigeuing dalam perspektif masyarakat Sunda.
Gaya kepemimpinan adalah metode yang digunakan oleh seorang pemimpin untuk memengaruhi pikiran, perasaan, sikap, dan perilaku orang yang dipimpinnya. Bupati Raden Adipati Aria Wiratanoeningrat mengadopsi cara kepemimpinan sebagai tanggapan terhadap situasi yang dihadapinya, mencerminkan sifat dan perilaku pribadinya sebagai pemimpin. Pada awal abad ke-20, masa kepemimpinan beliau bertepatan dengan perubahan kebijakan Pemerintah Kolonial, termasuk kebijakan agraria dan politik etis. Perubahan ini memengaruhi pola hidup masyarakat, memunculkan ide-ide baru, termasuk konsep kepemimpinan yang berakar pada kesadaran identitas kebangsaan dan cinta terhadap tanah kelahiran. Meskipun terikat pada kepemimpinan Pemerintah Kolonial, Bupati
Raden Adipati Aria Wiratanoeningrat berhasil menyeimbangkan peran ganda dalam memimpin Kabupaten Tasikmalaya, walaupun terbatas oleh peraturan kolonial.
Kemajuan yang signifikan Kabupaten Tasikmalaya salah satunya berkat kemampuan kepemimpinan Bupati Raden Adipati Aria Wiratanoeningrat. Sebagai bupati yang bijaksana dan teliti dalam pengambilan keputusan, beliau mendapatkan rasa cinta dari rakyat dan kepercayaan dari Pemerintah Kolonial. Meskipun di bawah kekuasaan kolonial, bupati Tasikmalaya mempertahankan peran penguasa di tengah masyarakat, mengarahkan pertumbuhan Tasikmalaya menjadi wilayah yang menggabungkan unsur tradisional dan modern. Perkembangan ini tercermin dalam pembangunan fasilitas seperti gedung pemerintahan, pertokoan, perusahaan, pabrik, rumah sakit, jembatan, dan fasilitas lainnya, serta dalam pemikiran-pemikiran masyarakat. Tasikmalaya dikategorikan sebagai wilayah tradisional-modern karena masih mempertahankan suasana pemerintahan tradisional dan pola sosial budayanya. Bupati Raden Adipati Aria Wiratanoeningrat dijuluki sebagai "bapak kesejahteraan"
dan "bapak irigasi" karena fokus kepemimpinannya pada pembangunan, baik secara material (bangunan dan organisasi seperti koperasi) maupun spiritual.
Wilayah Kabupaten Tasikmalaya awalnya terdiri dari 18 distrik, namun setelah reorganisasi, jumlahnya berkurang menjadi 10 distrik. Hal ini memerlukan kerjasama antara Bupati Raden Adipati Aria Wiratanoeningrat dan para pemimpin di bawahnya. Interaksi ini menjadi bagian integral dari gaya kepemimpinan, di mana Bupati Raden Adipati Aria Wiratanoeningrat menjadikan kerjasama sebagai saluran komunikasi dengan bawahannya. Selain itu, pengelolaan jajaran pegawai kabupaten telah diserahkan kepada ahli, menandai perubahan dari pendekatan aristokratis menjadi teknokratis dalam birokrasi. Meskipun ada sisa-sisa tahap awal feodalisme, perubahan ini menjadi variabel penting untuk mengembangkan dan meningkatkan Kabupaten Tasikmalaya.
Gaya kepemimpinan Bupati Raden Adipati Aria Wiratanoeningrat terlihat melalui sifat dan sikapnya dalam pengambilan keputusan dan kebijakan. Dalam menentukan kebijakan, beliau menerapkan konsep sawala atau musyawarah sebagai pendekatan utama.Pejabat pemerintahan dan perwakilan masyarakat duduk bersama dalam sebuah forum bernama Dewan Kabupaten untuk melakukan musyawarah guna menentukan keputusan dan kebijakan. Bupati, pejabat, dan perwakilan masyarakat bersatu dalam Dewan Kabupaten, yang berperan dalam mengambil keputusan terkait masalah masyarakat.
Adanya komunikasi langsung dengan perwakilan masyarakat mempermudah Bupati Raden Adipati Aria Wiratanoeningrat untuk memahami dengan pasti masalah-masalah yang dihadapi masyarakat. Dengan pembentukan Dewan Kabupaten ini, solusi bagi masalah masyarakat dapat ditemukan, dan kebijakan yang dihasilkan menjadi tepat sasaran dan bermanfaat. Manfaat ini terlihat dalam setiap pembangunan seperti rumah sakit, koperasi, dan proyek pembangunan lainnya.
Pada masa kepemimpinan Bupati Raden Adipati Aria Wiratanoeningrat, Kabupaten Sukapura mengalami reorganisasi wilayah menjadi 10 distrik pada tahun 1913. Setelah reorganisasi, pada tahun 1914, Bupati Raden Adipati Aria Wiratanoeningrat membuat perubahan signifikan dengan mengubah
nama Kabupaten Sukapura menjadi Kabupaten Tasikmalaya. Keputusan ini menjadi titik bersejarah yang berhasil mengawali pembangunan Kabupaten Tasikmalaya melalui perubahan nama tersebut.
Perubahan tersebut secara simbolis diwujudkan dalam motto "Tasikmalaya, Sukapura Ngadaun Ngora," yang artinya Tasikmalaya adalah Sukapura yang baru. Dengan mencetuskan falsafah atau motto ini, Bupati Raden Adipati Aria Wiratanoeningrat berhasil membangun ikatan kuat antara pemerintahan (bupati) dan masyarakatnya. Pergantian ini menjadi tanda kebangkitan dan semangat pembaharuan di Tasikmalaya. Gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh Bupati Raden Adipati Aria Wiratanoeningrat mampu menjadikan Kabupaten Tasikmalaya mencapai status tradisional-modern melalui pembangunan fisik dan perkembangan pemikiran masyarakatnya. Kepemimpinan beliau, yang berlangsung pada abad ke-20, mencerminkan pergeseran dari sistem feodal menuju sistem yang lebih modern. Meskipun literatur mengenai Bupati Raden Adipati Aria Wiratanoeningrat sudah ada, informasi mengenai gaya kepemimpinan beliau selama menjabat sebagai bupati Kabupaten Tasikmalaya pada abad ke-20 belum banyak dibahas. Oleh karena itu, penelitian dilakukan untuk mengungkap dan merekonstruksi kembali gaya kepemimpinan beliau.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, peneliti memilih judul penelitian "Gaya Kepemimpinan Bupati Tasikmalaya Raden Adipati Aria Wiratanoeningrat tahun 1908-1937." Batasan tahun dalam penelitian ini meliputi periode dari tahun 1908 sebagai awal masa jabatan Raden Adipati Aria Wiratanoeningrat sebagai bupati hingga tahun 1937 sebagai akhir dari kepemimpinannya. Keputusan untuk menentukan batas waktu ini didorong oleh minat dan perhatian peneliti terhadap sejarah lokal Kabupaten Tasikmalaya. Kesadaran penulis sebagai warga Tasikmalaya untuk berkontribusi dalam menghasilkan, menjaga, dan menambahkan catatan sejarah mengenai Tasikmalaya, khususnya pada masa pemerintahan Bupati Wiratanoeningrat, menjadi alasan utama untuk memilih judul penelitian ini.
METODE PENELITIAN
Metode yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari empat tahapan yaitu:
1. Heuristik,
Dilakukan dalam tahap pertama ini adalah mencari sumber-sumber untuk memperoleh informasi dengan studi kepustakaan dan dokumen. Mengumpulkan sumber dengan cara membaca artikel menonton video, atau mendengarkan siniar yang relevan dengan topik yang sedang dicari, melakukan pengujian penampilan sumber dengan memeriksa tanggal terbit, pengarang lembaga penerbit, dan aspek-aspek lain yang berkaitan dengan kredibilitas dari sumber tersebut dan menyimpan daftar sumber yang telah dikumpulkan dalam sebuah direktori atau leman sumber.
2. Kritik sumber,
Proses memilah sumber yang akan disajikan, disini kami menggunakan kritik eksternal untuk mengkaji keaslian dan kredibilitas sumber-sumber yang akan dijadikan bahan dalam penyusunan materi. Kritik sumber juga biasanya berkaitan dengan penilaian terhadap tujuan, kejelasan dan ketentuan informasi dalam sumber tersebut. Beberapa aspek kritik eksternal yang dapat dilakukan di dalam memilih sumber antara lain:
a. Sumber yang terpecaya dan kredibel tinggi
Sumber yang dapat dipercaya dan memilki kredibilitas tinggi menjadi salah satu kriteria penting dalam memilih sumber karena dapat informasi yang disajikan dengan benar. Beberapa sumber yang umum dipertimbangkan terpecaya antara lain journal, buku teks dan publikasi resmi dari lembaga pemerintah atau organisasi terkait.
b. Penulis atau penerbit yang kompeten
Penulis atau penerbit yang kompeten dan memiliki reputasi dalam bidang yang relevan juga harus dipertimbangkan dalam memilih sumber, Hal ini dapat memberikan jaminan terhadap kualitas informasi dan ke data yang disajikan
c. Kesesuaian dengan topik atau masalah yang sedang dibahas
Memilih sumber yang sesuai dengan topik atau masalah yang sedang dibahas d. Keterbukaan dan transparensi informasi
Keterbukaan dan transparansi informasi yang disajikan dalam sumber juga menjadi pertimbangan, ini juga berperan penting dalamnya memilih sumber yang baik harus dapat memberi dan menjelaskan tanpa menyembunyikan fakta penting atau menghilangkan informasi yang tidak sesual -Sudut pandang yang beragam. Pilihan sumber dalam mempertimbangkan sudut pandang yang beragam juga perlu diperhatikan. Sumber yang hanya menyajikan satu sudut pandang tanpa adanya pemaparan sudut pandang lain Jadi dalam melakukan kritik eksternal harus tetap tenang, kritis dan tidak mudah percaya terhadap informasi yang disajikan tanpa menganalisisnya terlebih dahulu dahulu.
3. Interpretasi
Merupakan proses dimana kami melakukan analisis data yang diperoleh dari studi pustaka dan dokumen. Interpretasi juga bertujuan untuk memberikan pernahaman yang lebih dalam, makna, dan interpretasi pada hasil yang diperoleh. Dalam interpretasi ini kami berusaha untuk menghubungkan hati pencarian data-data ini, setelah diuj kredibilitasnya maka selanjutnya kami akan mengaitkan sumber- sumber yang telah dikumpulkan kemudian dijadikan satu kesatuan. Interpretasi sangat penting, karena dapat membantu kami untuk mengambil kesimpulan dari hasil kritik sumber yang telah kami kumpulkan
4.Historiografi,
Tahap akhir yaitu penulisan atau penyusunan penelitian menjadi suatu karya tulis. Dalam menyusun historiografi ini adalah proses jangka panjang yang memerlukan keakuratannya, analisis yang hati- hati,naskah dan kritik yang efektif. Jadi, dalam tahap historiografi harus memenuhi standar akademik yang ketat untuk mendukung pengetahuan yang akurat tentang sejarah.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pemaparan hasil secara runut dan komprehensif yang mengarah pada penjelasan hasil, temuan dan pembahasan penelitian yang dilakukan. [Time New Roman,11, Normal].
Tabel
Dalam penulisan tabel, pastikan setiap tabel mempunyai nomor urut dan judul. Tabel dibuat rata kiri.
Jangan gunakan format yang ‘aneh-aneh’. Pastikan Anda buat tabel dengan benar, melalui menu Table|
Insert|Table... dengan Table Style dipilih ‘Table Grid’ dari tombol AutoFormat... pada window ‘Insert Table’. Tabel harus diacu dalam teks dengan menuliskan seperti, ‘...perhatikan juga font yang digunakan pada Tabel 1’ (tabel ditulis dengan ‘T’ besar).
Tabel 1. Judul tabel, gunakan sentence case (huruf awalnya besar)
N o
Baris ini Italic
1 isi tabel, jika tidak mencukup, Anda bisa mengecilkan ukuran huruf sampai 8 points.
Font isi tabel Regular
Usahakan tabel jangan terpotong pada halaman yang berbeda, kecuali jika besarnya melebihi satu halaman. Jika harus terpotong, jangan lupa tulis ulang header row untuk setiap kolomnya, diberi nomor urut tabel yang sama, dan judul diganti dengan Lanjutan. Judul tabel tidak diakhiri dengan titik. Untuk tabel dengan lebar lebih dari 1 kolom harus diletakkan di awal atau akhir halaman, sedangkan tabel dengan lebar kurang dari 1 kolom penempatannya bebas asalkan ditempatkan sesudah kalimat yang merujuknya.
Gambar
Seperti halnya tabel, pastikan setiap gambar mempunyai nomor urut dan judul. Buatlah gambar yang Anda gunakan nampak seperti buatan profesional dan tidak perlu diberi bingkai. Gunakan style Judul_Gambar untuk format ini. Gambar dibuat rata tengah. Judul gambar tidak diakhiri dengan titik.
Gambar 1. Judul Gambar, juga menggunakan sentence case (huruf awalnya besar)
KESIMPULAN
Kesimpulan ditulis singkat,jelas dan sistematik sesuai runtutan paparan dalam Hasil dan Pembahasan dan menjawab masalah yang dikaji. Kesimpulan dapat juga dibuat tidak dalam bentuk paragraf, melainkan dalam bentuk poin-poin menggunakan penomoran [Time New Roman, 11, Normal]
DAFTAR PUSTAKA
Daftar pustaka disusun secara alfabetis. Semua penulisan daftar pustaka (bibliography) dan kutipan (citation) menggunakan style APA (American Psychological Association) 6
thedition.
Untuk mengelola daftar pustaka atau referensi sebaiknya menggunakan aplikasi manajemen referensi seperti Mendeley (https://www.mendeley.com/). Zotero (https://www.zotero.org), dan Apabila menggunakan MS Word dapat memanfaatkan menu Reference. Jumlah pustaka disarankan berjumlah setidaknya 15 buah dan 75% diantaranya berasal dari artikel jurnal/buku/artikel prosiding dalam 10 tahun terakhir.
Contoh:
Buku:
Hasan, S. H. 2012. Pendidikan Sejarah Indonesia: Isu dalam Ide dan Pembelajaran. Bandung: Rizqi Press.
Buku kumpulan artikel:
Saukah, A. & Waseno, M.G. (Eds.). 2002. Menulis Artikel untuk Jurnal Ilmiah (Edisi ke-4, cetakan ke- 1). Malang: UM Press.
Artikel dalam buku kumpulan artikel:
Kozma, R.B. & Russell, J. 2007. Students becoming chemists: Developing representational competence. Dalam J. Gilbert (Eds.), Visualization in science education. Netherlands: Springer.
Artikel dalam jurnal atau majalah:
Rahman, Khadijah Abdul. 2010. The Effectiveness of Learning Management System (LMS) Case Study at Open University Malaysia (OUM), Kota Bharu Campus. Journal of Emerging Trends in Computing and Information Sciences, 2 (2), hlm. 73-79.
Artikel dalam koran:
Fauzi, A. 2011, 22 Februari. Revitalisasi Pendidikan Agama. Kompas, hlm. 6.
Dokumen resmi:
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1978. Pedoman Penulisan Laporan Penelitian. Jakarta:
Depdikbud.
Buku terjemahan:
Brown, G. & Yule, G. 1983. Analisis Wacana. Diterjemahkan oleh I. Soetikno. 1996. Jakarta:
Gramedia.
Skripsi, Tesis, Disertasi, Laporan Penelitian:
Supardan, D. 2004. Pembelajaran Sejarah Berbasis Pendekatan Multikultural dan Perspektif Sejarah Lokal, Nasional, Global untuk Integrasi Bangsa. (Disertasi). Bandung: SPS UPI.
Makalah, seminar, lokakarya, penataran:
Rahman, B. 2010. Manajemen Mutu Akademik Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan untuk Meningkatkan Produktivitas Kelembagaan. Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Revitalisasi LPTK untuk Menghasilkan Guru Profesional, Universitas Lampung, Bandar Lampung, 9 Juni.
Internet (karya individual):
Mulyana, A. 2009. Mengembangkan Keraifan Lokal Dalam Pembelajaran Sejarah. [Online].
Diakses Dari
http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR.PEND.SEJARA H /196608081991031-AGU S_MULYANA/Makalah_Garut. pdf