• Tidak ada hasil yang ditemukan

jurnal morfologi lobster air tawar

N/A
N/A
ADYATMA LATIF KUMARA

Academic year: 2025

Membagikan "jurnal morfologi lobster air tawar"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

quadricarinatus) pada Perairan Rawa Aopa Konawe Selatan

Meristic Morphometric of Freshwater Crayfish in Swamp Aopa Konawe Selatan

Andi Irwan Nur1, Vivi Satia Yanti Engko2, dan Yustika Intan Permatahati1

1)Dosen Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan FPIK UHO

2)Mahasiswa Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan FPIK UHO Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Halu Oleo Jl. H.E.A. Mokodompit Kampus Bumi Tridharma Anduonohu Kendari 93232

Telp/Fax:(0401)3197782 e-mail : [email protected]

Diterima 6 Februari 2023; Disetujui 20 Februari 2023;Diterbitkan28 Februari 2023

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui morfometrik dan meristik lobster air tawar di Perairan Rawa Aopa Desa Puwuta, Kecamatan Angata, Konawe Selatan. Penentuan stasiun penelitian dilakukan dengan metode purposive sampling berdasarkan karakterisitik habitat. Stasiun I terletak 200 m dari daerah pemukiman dengan kecepatan arus rata-rata 0,07 m/det. Stasiun II terletak 800 m dari daerah pemukiman dengan kecepatan arus rata-rata 0,10 m/det. Stasiun III 1,3 km dari daerah pemukiman dengan kecepatan arus rata-rata 0,12 m/det. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode acak sederhana selama dua bulan menggunakan bubu yang dimodifikasi dari gallon air bekas. Analisis data morfometrik dilakukan dengan menggunakan Analysis One Way Anova (ANOVA) dan analisis komponen meristik dianalisis secara deskriptif. Jumlah lobster yang tertangkap selama penelitian berjumlah 104 individu dengan 56 jantan dan 48 betina. Sebaran ukuran lobster jantan dan betina yang tertangkap masing-masing ukuran muda dengan kisaran 2,86-9,90 cm dan 4,41-9,86 cm sampai ukuran dewasa dengan kisaran 10,38-13,48 cm dan 10,55-15,71 cm. Karakteristik morfometrik yang diukur meliputi panjang karapas bagian depan, panjang karapas bagian belakang, panjang abdomen dan panjang ekor (telson). Karakteristik meristik yang dihitung meliputi jumlah duri pada telson, dactilus dan propodus.

Kata Kunci : Cherax quadricarinatus, Lobster air tawar, Meristik, Morfometrik, Rawa Aopa

ABSTRACT

This study aims to determine the morphometrics and meristics of freshwater crayfish in Rawa Aopa Waters, Puwuta Village, Angata District, South Konawe Regency. The research were carried out using a purposive sampling method based on habitat characteristics. Station I is located 200 m from the residential area with an average current speed of 0.07 m/s. Station II is located 800 m from the residential area with an average current speed of 0.10 m/s. Station III 1.3 km from the residential area with an average current speed of 0.12 m/s. Sampling was carried out by simple random method for two months using modified traps from used gallons of water. Morphometric data analysis was performed using Analysis One Way Anova (ANOVA) and meristic component analysis was analyzed descriptively.

The number of lobsters caught during the study amounted to 104 with 56 males and 48 females. The size distribution of the male and female lobsters caught were juveniles with a range of 2.86-9.90 cm and 4.41- 9.86 cm to adults with a range of 10.38-13.48 cm and 10.55-15.71 cm respectively. The morphometric characteristics measured included the length of the carapace at the front, the length of the carapace at the back, the length of the stomach and the length of the tail (telson). The meristic characteristics that are counted include the number of spines on the telson, dactylus and propodus.

Key words: Aopa swamp, Cherax quadricarinatus, Freshwater crayfish, Meristic, Morphometric,

(2)

PENDAHULUAN

Lobster air tawar (freshwater crayfish) merupakan salah satu genus yang termasuk dalam kelompok udang (crustasea) air tawar yang secara alami memiliki ukuran tubuh yang relatif besar dan memiliki siklus hidup hanya di lingkungan air tawar. Penyebaran lobster air tawar tidak pada semua tempat dan terbatas pada wilayah- wilayah tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa lobster air tawar penyebarannya termasuk dalam kisaran sempit (Lekatompessy dan Gretha, 2019).

Salah satu pendekatan dalam mempelajari populasi lobster air tawar melalui studi morfometrik yakni perbandingan ukuran-ukuran tertentu pada suatu bagian ke bagian yang lain (Sumiono dan Nuraini, 2007). Informasi keragaman morfologis dan genetik organisme sangat berguna bagi karakterisasi jenis, perkembangan distribusi populasi yang dibutuhkan untuk menentukan langkah konservasi, serta pengelolaan dan pemanfaatan secara kesinambungan (Elfidasari, 2020).

Identifikasi lobster dapat di lakukan dengan beberapa cara, yaitu melihat studi morfometrik serta meristik. Morfometrik adalah suatu studi yang berkenaan dengan varian dan perubahan dalam bentuk dan ukuran serta bentuk tubuh organisme, meliputi

Karakteristik morfologis sangat penting dipelajari dalam disiplin ilmu biologi (Siahainenia, 2009). Metode pengukuran secara mofologis sangat dibutuhkan karena memiliki beberapa keuntungan, yaitu karakter-karakter tersebut dapat dilihat secara langsung, mudah dilakukan tanpa alat bantu yang rumit dan biaya yang relatif lebih murah jika dibandingkan dengan pengukuran karakteristik genotipnya (Nuryadi et al., 2008). Kajian morfometrik pada lobster air tawar telah dilakukan dengan tujuan untuk mencari ciri-ciri morfologi yang dapat dijadikan indikator panduan jenis, serta berat daging lobster hidup dalam seleksi induk (Simon, 2013; Kusmini et al., 2006).

Penelitian mengenai sumberdaya hayati lobster air tawar di Sulawesi Tenggara masih sangat sedikit terlebih lagi penelitian tentang hubungan panjang berat serta karakteristik morfometrik dan meristik. Studi morfometrik tidak hanya untuk memahami taksonomi suatu organisme tetapi variasi dalam pengukuran yang mungkin terkait dengan kebiasaan dan habitat di antara varian di spesies ini.

Pengukuran morfometrik dan jumlah meristik dianggap sebagai metode paling mudah dan otentik untuk identifikasi spesimen yang disebut sebagai sistematika morfologi (Langer et al., 2013). Penelitian ini memiliki

(3)

dengan kecepatan arus rata-rata 0,07 m/det. Stasiun II terletak 800 m dari

km dari daerah pemukiman dengan kecepatan arus rata-rata 0,12 m/det.

Gambar 1. Peta lokasi penelitian

Alat dan bahan yang digunakan selama penelitian, meliputi jangka sorong, mikroskop, bubu, thermometer, kertas lakmus, sechi disch, coolbox, alat bedah, kertas sampel, plastik sampel dan lobster air tawar capit merah sebagai obyek penelitian.

Metode pengambilan sampel dilakukan dengan metode simple random sampling (acak sederhana) dengan interval pengambilan sampel dua kali dalam sebulan selama dua bulan. Pengambilan sampel lobster

menggunakan bubu yang dimodifikasi dengan bekas galon air pada setiap stasiun. Lobster yang terkumpul di dalam bubu kemudian diambil dan dikelompokkan berdasarkan ukuran dan jenis kelamin selanjutnya dianalisis morfometrik (Gambar 2) dan meristiknya (Tabel 1). Sampel lobster yang tertangkap selanjutnya dilakukan pengukuran morfometrik dan dihitung meristiknya di Laboratorium Pengujian Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Halu Oleo Kendari.

(4)

Gambar 3. Karakteristik morfometrik lobster air tawar (Bookstein et al., 1985) Sebanyak 24 karakteristik

morfometrik lobster air tawar yang akan diukur dalam penelitian ini, meliputi 6 karakter karapas bagian depan, 6 karakter karapas bagian belakang, 6 karakter bagian abdomen

dan 6 karakter bagian telson. Adapun karakteristik meristik yang dihitung dalam penelitian ini sebanyak 3 karakter, meliputi jumlah duri pada telson, dactylus dan propodus (Tabel 1).

Tabel 1. Penentuan karakteristik meristik lobster air tawar (Omar, 2009)

No. Karakter Meristik Keterangan

1. Jumlah duri pada telson Jumlah duri keras pada telson

2. Jumlah duri pada dactylus Jumlah duri keras pada bagian dactylus 3. Jumlah duri pada propodus Jumlah duri pada bagian propodus

Analisis data morfometrik dilakukan dengan menggunakan program SPSS versi 16.0 yang berdasarkan analysis One Way Anova (ANOVA). Analisis ini digunakan untuk menentukan apakah terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik pada beberapa variabel yang

terjadi secara serentak antara dua tingkatan dalam satu variabel.

Sedangkan Analisis komponen meristik dianalisis dengan metode deskriptif yang bertujuan untuk menginterpretasikan sebagian besar informasi yang terdapat dalam suatu organisme.

HASIL DAN PEMBAHASAN

(5)

III

Muda 2,861-8,21 2 J

Dewasa 13,48-12,38 4 J

Muda 9,17 1 B

Dewasa 11,69-13,27 4 B

Lobster air tawar yang lebih dominan ditemukan adalah lobster jantan dibandingkan betina. Menurut Reynolds (2002) distribusi ukuran panjang karapas lobster air tawar jantan yang ditemukan cenderung lebih beragam dibandingkan lobster air tawar betina. Hal ini disebabkan oleh perbedaan aktivitas dan peluang lobster

air tawar pada jumlah lobster air tawar betina yang tertangkap akan menurun saat musim kawin karena perbedaan aktivitas dan kemampuan menangkap lobster air tawar betina pada musim kawin. Sebaran ukuran lobster jantan dan betina yang ditemukan di perairan Rawa Aopa masing-masing didominasi oleh ukuran dewasa pada Stasiun I dengan kondisi arus yang lebih

tenang dibandingkan dengan stasiun laninnya. Sedangkan kelompok ukuran lobster muda dominan ditemukan pada habitat dengan kondisi arus yang lebih deras. Thangaraja dan Radhakrishnan (2012) menyatakan bahwa parameter lingkungan merupakan faktor pembatas dari distribusi setiap spesies lobster.

Rios-Lara et al. (2007) menyatakan bahwa arus sangat memengaruhi distribusi lobster. Lobster yang berukuran muda cenderung berada pada habitat dengan kondisi arus yang deras dibandingkan dengan lobster dewasa.

Adanya kelompok ukuran tertentu pada suatu habitat menunjukkan kecenderungan adanya kebutuhan lobster terhadap habitat tersebut, baik untuk kebutuhan makanan (Wandira et al., 2020) ataupun sebagai bentuk perlindungan diri.

Selain arus, parameter lingkungan yang memengaruhi sebaran ukuran lobster air tawar yaitu suhu, pH, kedalaman dan kecerahan (Tabel 3).

Rata-rata suhu yang diperoleh 28 ºC.

Suhu ini dapat memengaruhi proses pertumbuhan dan proses fisiologi lobster air tawar (Raharjo, 2013).

Iskandar (2013) menyatakan bahwa suhu optimal untuk pertumbuhan lobster antara 26-32oC. Jika suhu lebih dari angka optimum maka metabolisme dalam tubuh lobster akan berlangsung cepat, imbasnya kebutuhan oksigen terlarut meningkat. Pada suhu di bawah 250C nafsu makan lobster berkurang.

Rata-rata nilai pH yang diperoleh 7,3.

Nilai ini merupakan kisaran optimal yang disukai losbter untuk keberlangsungan hidupnya.

Tabel 3. Parameter kualitas perairan

Parameter Satuan Januari Februari

I II III I II III

Suhu ºC 28 28 28 28 29 28

pH 7,3 7,2 7,4 7,2 7,1 7,8

Kecerahan m 103 102 98 97 127 53

Kecepatan arus m/detik 0,10 0,03 1,12 24,75 57,84 53,97

Kedalaman m 260 424 268 221 191 240

Pengukuran morfometrik dan meristik lobster air tawar disajikan

masing-masing pada Tabel 4 dan 5.

Hasil pengukuran morfometrik lobster

(6)

air tawar (C. qadrianatus) diperoleh pada Stasiun I untuk lobster jantan jarak antara karapas terlebar titik kiri ke pangkal mata bagian kiri (A1) tertinggi yaitu 2,54 cm dan terendah 1,09 cm.

Jarak antara titik belakang karapas ke titik bagian karapas terlebar bagian kiri (B1) tertinggi 3,67 cm terendah 1,5 cm.

Jarak antara titik belakang abdomen kiri ketitik abdomen depan kiri (C1) tertimggi 5,13 cm terendah 4,4 cm.

Jarak antara titik belakang telson kanan ke titik telson depan kiri (D1) tertinggi 4,13 cm terendah 7 cm. Selanjutnya jarak antara karapas terlebar titik kiri ke pangkal mata bagian kiri (A1) pada

lobster betina tertinggi yaitu 2,37 cm terendah 4,7 cm. Jarak antara titik belakang karapas ke titik bagian karapas terlebar bagian kiri (B1) tertinggi 7,15 cm terendah 6,7 cm. Jarak antara titik belakang abdomen kiri ke titik abdomen depan kiri (C1) tertinggi 4,97 cm terendah 1,3 cm. Jarak antara titik belakang telson kanan ke titik telson depan kiri (D1) tertinggi 2,07 cm terendah 3,7 cm.

Stasiun II jarak antara karapas terlebar titik kiri ke pangkal mata bagian kiri (A1) pada losbster jantan tertinggi yaitu 3,33 cm dan terendah 1,3

cm. Jarak antara titik

belakang karapas ke titik bagian karapas terlebar bagian kiri (B1) tertinggi 7,32 cm dan terendah 1,56 cm.

Jarak antara titik belakang abdomen kiri ke titik abdomen depan kiri (C1) tertinggi 8,4 cm dan terendah 2,6 cm.

Jarak antara titik belakang telson kanan ketitik telson depan kiri (D1) tertinggi 5,65 cm terendah 2,8 cm. Selanjutnya, jarak antara karapas terlebar titik kiri ke pangkal mata bagian kiri (A1) pada lobster betina didaptkan nilai tertinggi yaitu 3,94 cm terendah 5,6 cm. Jarak antara titik belakang karapas ke titik bagian karapas terlebar bagian kiri (B1) tertinggi 3,77 cm dan terendah 5,5 cm.

Jarak antara titik belakang abdomen kiri ke titik abdomen depan kiri (C1) tertinggi 4,34 cm dan terendah 3,9.

Jarak antara titik belakang telson kanan ke titik telson depan kiri (D1) tertinggi

bagian kiri (A1) pada lobster jantan tertinggi yaitu 6,5 cm terendah 5,6 cm.

Jarak antara titik belakang karapas ke titik bagian karapas terlebar bagian kiri (B1) tertinggi 2,09 cm terendah 1,56 cm. Jarak antara titik belakang abdomen kiri ke titik abdomen depan kiri (C1) tertinggi 2,09 cm terendah 1,67 cm.

Jarak antara titik belakang telson kanan ke titik telson depan kiri (D1) tertinggi 1,59 cm terendah 1,46 cm. Selanjutnya jarak antara karapas terlebar titik kiri ke pangkal mata bagian kiri (A1) pada lobster betina tertinggi yaitu 7 cm terendah 6 cm. Jarak antara titik belakang karapas ke titik bagian karapas terlebar bagian kiri (B1) tertinggi 3,26 cm terendah 25 cm. Jarak antara titik belakang abdomen kiri ke titik abdomen depan kiri (C1) tertinggi 4,62 cm terendah 3,76 cm. Jarak antara titik

(7)

Simbol

Morfometrik Rendah Tinggi Rendah Tinggi Rendah Tinggi Karapas

Bagian Depan

A1 10,9 25,4 13 33,3 5,6 6,5

A2 1,01 21,3 5 23,3 16,1 20,1

A3 5,09 24,2 0,5 59,9 15,6 20,9

A4 9,08 30,1 12,7 67,4 20,8 23,1

A5 10,9 30,1 16,8 67,4 20,8 23,1

A6 10,6 30,1 16,9 67,4 21,9 27,8

Karapas Bagian Belakang

B1 1,5 36,7 15,6 73,2 1,56 20,9

B2 1,6 30,1 12,7 70,8 21,9 27,8

B3 8,09 39,2 9,1 75 16,5 20,9

B4 4,08 30,1 15,8 69,3 16,7 31,3

B5 4,04 56,3 18,3 79,6 27,1 31,3

B6 4,01 56,3 23,1 79,1 27,1 44,2

Badan (Abdomen)

C1 4,04 51,3 2,6 84 16,7 20,9

C2 2,14 36,1 1,2 68,2 36,4 44,2

C3 4,05 47,5 11,3 82,5 14,6 15,9

C4 0,04 38,7 8,8 62,8 39,3 46,6

C5 1,11 50,7 11 86,5 15,3 43,9

C6 0,02 49,9 11 90,5 13,5 15,3

Ekor (Telson) D1 7,17 41,3 2,8 56,5 14,6 15,9

D2 6,07 38,3 6,8 58,8 13,5 41,2

D3 7,05 41,3 4,3 57,2 9,9 11,4

D4 3,01 24,7 4,3 63,2 17,6 20,2

D5 8,11 21,6 6,2 66,4 17,6 20,2

D6 6,09 21,9 6,2 66,4

Hasil analisis meristik didapatkan jumlah duri telson berjumlah 75 pasang, duri pada dactylus 90 pasang

dan duri pada propodus berjumlah 101 pasang.

Tabel 5. Perhitungan meristik lobster air tawar

Karakteristik Meristik Jumlah

Total duri pada telson 75 pasang duri pada telson Total duri pada dactilus 90 pasang duri pada dactylus Total duri pada propodus 101 pasang duri pada propodus

Karakteristik meristik yang dihitung meliputi, jumlah duri pada telson, dactilus dan propodus yang berjumlah masing-masing 75, 90 dan 101 pasang. Morfologi yang dapat diamati dari C. quadricarinatus adalah mata menonjol karena memiliki tangkai mata, tanduk agak melengkung dengan corak selang seling hitam kehujauan.

Karapas dilengkapi dengan spina (duri) yang besar atau kecil yang agak tajam.

Pada lempeng antena terdapat 4 buah spina dengan 2 spina bagian depan lebih panjang dibandingkan 2 spina belakang yang dekat dengan mata. Antenulla birami, memiliki corak belang-belang hitam. Letak antenulla pada segmen ke-

(8)

3. Spina pada telson agak tumpul, bentuk telson membulat.

Pada pengamatan abdomen secara ventral didapatkan bahwa diantara kaki jalan ke-2 (pereiopod ke- 5) tidak terdapat duri. Lateral pleopod terdapat white spot pada sisi kiri dan kanannya. Pada bagian abdomen ventral terlihat pada somit ke-1 dan ke-2 terdapat corak kehitaman, sedangkan somit yang lain hanya terdapat pada bagian tepi saja. Periopod tidak memiliki corak apa-apa, hanya warna polos kehijauan. Lobster ini berjenis kelamin jantan, terlihat pada Periopod ke-3 terdapat lubang genital dan hanya

eksopleopod yang berkembang. Secara morfometrik didapatkan bahwa panjang total tubuh 7,74 mm, dengan panjang karapas 10,9 mm, dengan panjang abdomen (lempeng abdomen panjang ekor) 4,4 mm, sehingga didapatkan perbandingan panjang karapas dengan abdomen yaitu 1 mm. Secara morfometri didapatkan bahwa panjang total tubuh 2,81 mm dengan panjang karapas 2,14 mm dengan panjang abdomen (lempeng abdomen + panjang ekor) 3,76 mm, sehingga didapatkan perbandingan panjang karapas dengan abdomen yaitu 3,76 mm.

SIMPULAN

Simpulan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Morfometrik lobster air tawar jantan dan betina memiliki perbedaan karakter yang dapat dibedakan.

2. Meristik lobster air tawar jantan dan betina tidak ditemukan perbedaan pada jumlah tiap karakter yang dihitung.

UCAPAN TERIMAKASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada nelayan dan masyarakat lokal di sekitar perairan Rawa Aopa atas kerjasama dan kesediannya membantu kelancaran penelitian ini.

Secara khusus terima kasih kepada Balai Taman Nasional Rawa Aopa yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian.

Bookstein, F.L., Chernoff, B., Elder, R.

L., Humphries, J.M., Smith, G.

R., & Strauss, R.E. 1985.

Morphometric in Evaluationary Biology. Braun–Braumfield Inc.

Ann. Arbor, Michigan. 277 pp.

Elfidasari, D. 2020. Yuk Mengenal Ikan Sungai Ciliwung. Pusaka Rumah Cinta Mangkit.

Hartono R, Wiyanto RH. 2016. Lobster Air Tawar Pembenihan dan Pembesaran. Jakarta : Penebar

(9)

Langer, S., Tripathi. & Khajuria. 2013.

Morphometric and Meristic Study of Jhajjar Stream India.

Jurnal of Animal, Veterinary and Fishery Sciences. 1(7): 1-4.

Lekatompessy, H.S., & Gretha, W.D.C.

2019. Inventarisasi Jenis-Jenis Lobster Air Tawar (Cherax quadricarinatus) di Danau Tiga Kampung Wedimei Kabupaten Deiyai Kabupaten Asmat Propinsi Papua. Jurnal Perikanan dan Kelautan. 2(2):

155-156.

Nuryadi, H., Harifin, O.Z., Gustiono, R.

& Mulyasari. 2008.

Karakterisasi 17 Famili (Oreochromis niloticus) Generasi Ketiga Berdasarkan Metode Truss Morphometris.

Berita Biologi. 9(1): 81-89.

Omar, S.B.A. 2009. Modul Pratikum Biologi Perikanan Universitas Hasanuddin Makassar.

Putri, I.G.A.M., Dirgayusa, I.G.N.P., &

Elok, F. 2018. Perbandingan Morfometrik dan Meristik Lamun Halophila ovalis di Perairan Pulau Serangan dan Tanjung Benoa, Bali. Journal Marine and Aquatic Sciences.

4(2): 213-224.

Raharjo, D.K. 2013. Pemberian Ekstrak Bayam (Amaranthus tricolor) melalui Metode Injeksi sebagai Stimulasi Molting dan Pertumbuhan Lobster Air Tawar (Cherax quadricarinatus).

[Skripsi]. Jurusan Biologi.

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Sebelas Maret. Surakarta.

Rios-Lara, V., Salas, S., Javier, B.P., &

Irene Ayora, P. 2007.

Distribution Patterns of Spiny Lobster (Panulirus argus) at Alacranes Reef, Yucatan: Spatial Analysis and Inference of Preferential Habitat. Fisheries Research. 87: 35-45.

Siahainenia, L. 2009. Struktur Morfologi Kepiting Bakau.

Jurnal Triton. 5(1): 11-21.

Simon & Patty. 2013. Distribusi Suhu, Salinitas dan Oksigen Terlarut di Perairan Kema. Sulawesi Utara.

Jurnal Ilmiah Paralax. 1(3).

Sumiono, B., & Nuraini, S. 2007 Beberapa Parameter Biologi Ikan Kuniran (Upeneus sulphurreus) Hasil Tangkapan Catrang yang Didaratkan di Berondong Jawa timur. Jurnal Iktiologi Indonesia. 7(2): 83-88.

Thangaraja, R., & Radhakrishnan, E.V.

2012. Fishery and Ecology of the Spiny Lobster Panulirus homarus (Linnaeus, 1758) at Khadiyapatanam in the Southwest Coast of India. J.

Mar. Biol. Ass. India. 54(2): 69- 79.

Wandira, A., Ramli, M., & Halili. Jenis dan Kelimpahan Benih Lobster (Panulirus spp.) berdasarkan Kedalaman di Perairan Desa Ranooha Raya, Kecamatan Moramo, Kabupaten Konawe Selatan. Sapa Laut. 5(2): 163- 172.

Widigdo, B. 2020. Comparison of Morphological Character of Freshwater Crayfish (Cherax quadricarinatus) from Different Ecosystems in Indonesia. Jurnal Biologi Tropis. 20(3): 507-513.

Referensi

Dokumen terkait