ISSN (Online) : 2621-1149
EDITORIAL TEAM Ketua Penyunting
Masykur Arif, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep Penyunting Pelaksana:
Syafiqurrahman, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.
Penyunting:
Abd. Warits, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.
Mohammad Takdir, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.
Ach. Maimun, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.
Fathor Rachman, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.
Moh. Wardi, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Nahzatut Thullab, Sampang.
Moh. Dannur, Institut Agama Islam (IAI) ِ◌Al-Khairat, Pamekasan.
IT Support:
Faizy, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep, Indonesia Alamat Redaksi: REDAKSI JPIK
Lembaga Penerbitan, Publikasi dan Dokumentasi (LP2D)
Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA)
Jl. Bukit Lancaran PP.
Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep 69463 Email:
[email protected] Website:
http://jurnal.instika.ac.id/index.php/jpik
Jurnal Pemikiran dan Ilmu Keislaman merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Lembaga Penerbitan, Publikasi dan Dokumentasi (LP2D) Institut Ilmu Keislaman Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, Jawa Timur, Indonesia. Terbit 2 kali dalam setahun yakni pada bulan Maret dan September. Jurnal Pemikiran dan Ilmu Keislaman menerbitkan hasil penelitian, baik penelitian pustaka maupun lapangan, tentang filsafat dan pemikiran serta ilmu-ilmu keislaman meliputi bidang kajian pendidikan Islam, politik, ekonomi syariah, hukum Islam atau fikih, tafsir, dan ilmu dakwah
ISSN (Online) : 2621-1149
1-28 Studi Komparasi Hukum Pencatatan Perkawinan dalam Islam dan di Negara Kontemporer
Dainori
29-56 Pendidikan Islam Inklusif dalam Pemikiran Sayyed Hossein Nasr
Tatik Hidayati dan Ah Mutam Muchtar
57-74 Mengakrabkan Anak dengan Tuhan (Upaya Membangun Kesadaran Beragama Anak-Anak) Abdul Wahid dan Abdul Halim
75-103 Sikap dan Pandangan Tokoh Pesantren Terhadap Kondisi Santri Tahfidzul Qur’an di Pondok Pesantren Nurul Hikmah Putri Bakeong Guluk- Guluk Sumenep
Fairuzah dan Unsilah
104-121 Metode Istinbath Hukum dan Pengaruhnya terhadap Fiqih di Indonesia
Moh Jazuli, A Washil, dan Lisanatul Layyinah 122-144 Zakat Profesi Menurut Pandangan Yusuf Al
Qardhawi
Masyhuri dan Mutmainnah
Zakat Profesi Menurut Pandangan Yusuf Al Qardhawi
Masyhuri
Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Guluk-Guluk Sumenep masyhuri.derajat@gmail.com
Mutmainnah
Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Guluk-Guluk Sumenep [email protected]
Abstrak
Penelitian ini membahas pandangan Dr. Yusuf Al Qordhawi tentang zakat profesi dalam kitabnya fiqih zakat, serta istinbath hukum yang digunakannya. Penelitiaan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pendapat Dr. Yusuf Al Qordhawi mengenai zakat profesi serta istimbat hukum yang digunakannya. Penelitian ini merupakan penelitian pustaka (librarireseach). Metode yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan hasil penyajian dengan bentuk diskriptif yaitu mengumpukkan data-data dan kemudian melaksanakan stud ikepustakaan daribeberap aliteratur tertulis. dalam penelitian ini dapat di simpulkan bahwa Menurut Yusuf Al Qardhawi, harta yang diproleh dari hasil profesi itu juga wajib di keluarkan saat menerima, artinya tanpa menunggu masa satu tahun (haul) asalkan mencapai nishab, dengan pengeluaran sebesar 2,5
% yang di qiyaskan pada zakat emas dan perak bisa juga diqiyaskan pada zakat pertanian. Metode istinbath hukum qiyasi artinya penyamaan/penyerupaan terhadap zakat emas dan perak juga dengan zakat perdagangan.
Kata Kunci: zakat profesi, fikih, istinbath hukum.
Pendahuluan
Islam mempunyai pondasi Rukun Iman dan Islam yang diyakini sebagai tolak ukur bagi ummat yang beragama Islam. Islam juga merupakan agama yang mengajarkan ummatnya tentang keseimbangan dalam menjalin relasi, agama ini tidak hanya mengatur pola hubungan antar manusia dengan Tuhan (Hablum Minallah), melainkan juga manusia dengan sesama (Hablum Minannas),1 oleh karena itu Islam menyatakan bahwa zakat merupakan salah satu bentuk pengabdian (ibadah) kepada yang Maha Kuasa.2 Sehingga zakat merupakan salah satu kewajiban yang yang disyari’atkan Allah kepada ummatnya, juga sebagai salah satu perbuatan ibadah yang setara dengan sholat.
Dalam pandangan Islam, zakat merupakan ibadah kemasyarakatan yang penting dalam Islam karena berkaitan langsung dengan wilayah praksis perekonomian ummat3, oleh karena itu zakat dijadikan instrumin utama dalam ajaran Islam yang berfungsi sebagai media berbagi antara yang kaya dan yang miskin, dengan tujuan menciptakan pemerataan dan keadilan bagi masyarakat.4
Zakat merupakan salah satu perangkat politisi keuangan Islam dalam menghimpun penghasilan untuk mengembangkan harta, yaitu dengan cara mengembangkan hasil produksi dan penghasilan sebagai ganti dari zakat yang diambil. Hal ini menunjukkan bahwa adanya kewajiban zakat mendorong manusia untuk tetap produktif.5
Secara sederhana zakat itu berarti berkembang, bertambah banyak dan berkah.6 Sehingga harta itu bisa dikatakan berbarakah,
1 El-Madani, Fiqih Zakat Lengkap, (Yogyakarta:Diva prees 2013),hlm, 5.
2 Ali Hasan ,Tuntunan Puasa dan Zakat, (Jakarta: PT. Grafindo Persada 2001), 203
3Nur Rianto al-Arif ,Lembaga Keuangan Syariah; Suatu Kajian Teoritis Praktis,(Bandung: CV Pustaka Setia 2012), hlm. 23.
4 Babun Suharto, Zakat Untuk Pendidikan, (Jember: STAIN Jember Prees 2013), hlm. 01.
5 Didin Hafiduddin , Zakat Dalam Perekonomian Modern, (Jakarta:
Gema insan pers, 2006), hlm. 85.
6 Imam Taqiyuddin” Kifayatul Akhyar” (Surabaya:Imarotullah), hlm.172.
berkembang dan bertambah apabila harta itu digunakan pada yang semestinya dan telah dikeluarkan zakatnya untuk kepentingan sosial.
Yusuf Al-Qardhawi menyatakan bahwa zakat itu merupakan poros dan pusat keuangan negara Islam, beliau tidak hanya memberikan tujuan zakat dari segi Agama, melainkan juga dari segi moral sosial dan ekonomi. dalam bidang moral, zakat dapat mengikis habis ketamakan dan keserakahan si kaya, dalam segi sosial, zakat bertindak sebagai alat khas yang diberikan Islam untuk menghapus kemiskinan dari masyarakat dengan menyadarkan si kaya akan tanggung jawab sosial yang mereka miliki, sedangkan dari segi ekonomi, zakat dapat mencegah penumpukan kekayaan untuk disebarkan kepada orang-orang miskin.7 Hal ini dapat dilihat dari segi fungsinya bahwa zakat diberikan kepada orang miskin, dhu’afa, yatim dan lain sebagainya, dari ini menunjukkan bahwa zakat merupakan penyeimbang bagi perekonomian.
Di dalam al-Qur’an lafadz az-zakah disebutkan sebanyak 82 kali, 26 disebutkan beriringan dengan kata As-shalah.8 Hal ini mengisyaratkan bahwa kewajiban melaksanakan zakat sama halnya dengan kewajiban melaksanakan shalat.
Pada zaman keemasan Islam zakat telah terbukti berperan sangat besar dalam meningkatkan kesejahteraan ummat, yang mana zakat ini tidak hanya sebagai sebuah kewajiban melainkan zakat itu harus di kelola dengan baik dan didistribusikan secara merata hingga sampai pada tangan-tangan orang yang berhak.
Allah menurunkan perintah zakat pada periode Madinah, yang mana pada saat itu perhatian Ummat banyak mengarah pada soal-soal sosial kemasyarakatan, dengan mengacu pada landasan syari’ah, sistem zakat ini senantiasa mengalami perkembangan dengan tujuan untuk mencapai kejayaan perekonomian Islam masa setelahnya, oleh karena itu mempelajari dinamika pengelolaan zakat itu merupakan bekal penting untuk mewujudkan kembali kegemilangan perekonomian Islam.
7Yusuf Al Qardhawi, Hukum Zakat, Cet. 7. (Jakarta:PT. Pustaka Litera Antar Nusa 2004), hlm. 484.
8Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah,(Mataram: Darul Fath 2013), hlm.84
Pada awal tegaknya Islam, zakat hanya meliputi zakat pertanian, peternakan, perdagangan zakat emas dan perak, juga ada harta yang terpendam, namun seiring dengan berkembangnya zaman, juga semakin meningkatnya tekhnik dan industrilisasi, muncullah yang namanya zakat profesi,9 yang mana kata profesi ini berasal dari kata profession yang mempunyai arti mampu atau ahli dalam satu bentuk pekerjaan, kemudian Salim mengatakan bahwa profesi itu mempunyai arti suatu bidang pekerjaan yang berdasarkan pendidikan keahlian tertentu.10
Sehingga dapat disimpulkan bahwa zakat profesi itu merupakan harta yang wajib dikeluarkan yang diproleh dari hasil profesinya. yang mana pekerjaan yang menghasilkan uang itu ada dua. Ada pekerjaan yang dilakukan secara sendiri tampa bergantung kepada orang lain, seperti dokter itulah yang dinamakan profesional. Kemudian ada pekerjaan yang dilakukan dengan bergantung kepada orang lain untuk memproleh upah/gaji baik pada pemerintah dan pemberi kerja lainnya seperti halnya gaji, hononarium dan lain sebagainya.
Perlu diketahui bahwa meski pada zaman Rasulullah telah ada beragam profesi, kondisinya berbeda dengan sekarang dari segi penghasilan, pada zaman itu penghasilan yang cukup besar dan dapat membuat seseorang menjadi kaya berbeda dengan sekarang, diantaranya adalah pedagang, bertani dan berternak. sebaliknya pada zaman sekarang ini bedagang tidak otomatis membuat pelakunya menjadi kaya, sebagaimana juga bertani dan berternak. bahkan umumnya petani dan peternak termasuk kelompok miskin yang masih kekurangan.
Sebaliknya, profesi-profesi tertentu yang dahulu sudah ada, tapi dari sisi pendapatan saat itu tidaklah merupakan kerja yang mendatangkan materi besar, pada zaman sekarang justru profesi- profesi inilah yang yang mendatangkan sejumlah harta dalam waktu
9Abdullah Zaki,Ekonomi Dalam Perspektif Islam,(Bandung : Cv Pustaka Setia 2002), hlm. 130.
10 Haji Ramayulis, Profesi Dan Etika Keguruan,(Jakarta: Kalam Mulia 2013), hlm. 27.
yang singkat, seperti dokter spesialis yang nilainya bisa ratusan kali lipat dari petani dan peternak miskin di desa-desa.
Perubahan sosial inilah yang mendasari ijtihad ulama’ dewasa ini untuk melihat kembali cara pandang dalam menentukan Zakat Profesi, karena pada zaman dahulu orang kaya identik dengan pedagang, petani dan peternak, namun pada zaman sekarang orang kaya adalah para professional yang bergaji besar, akan tetapi meski zaman berubah, prinsip zakat tidak berubah, yang berubah hanyalah realitas di masyarakat.
Dengan demikian, masalah Zakat Profesi ini merupakan ijtihad para ulama’ masa ini yang tampaknya berangkat dari ijtihad yang cukup memiliki alasan dan dasar yang yang cukup kuat juga. akan tetapi meski demikian tidak semua ulama’ sepakat dengan hal tersebut.
diantara ulama’ kontemporer yang berpendapat tentang masalah Zakat Profesi adalah Syekh Abdur Rahman Hasan, Syekh Muhammad Abu Zahrah, Syekh Abdul Wahab Khalaf dan Yusuf Al Qardhawi, meskipun mereka berbeda pendapat dalam cara pengeluarannya, mereka berlandaskan pada ayat Al Qur’an dan Hadits Nabi.
Memahami Zakat Profesi
Ditinjau dari segi bahasa (etimologi) kata zakat mempunyai beberapa arti, diantaranya: zakat berarti Al-Barakatu (keberkahan), An- Namaa (pertumbuhan atau perkembangan), At-Thaharoh (kesucian) dan As-Salah yang berarti keberesan.11 Dan menurut Hasbiyallah kata zakat berasal dari bentuk masdar Zaka Al-Syaia Idza Namaa Wa Zaada, Wa Zakaa Fulan Idza Shaluha, yang berarti suci, berkembang, berkah, dan terpuji.12 sedangkan menurut Imam Taqiyuddin Abu Bakar Bin Muhammad Al Husaini dalam kitab Kifayatul Akhyar memberikan definisi bahwa zakat mempunyai arti tumbuh dan berkah serta banyaknya kebajikan, dikatakan Zakaa Az Zuru’ apabila tanaman itu tumbuh, dan dikatakan Zakaa Fulanun apabila si fulan itu
11Majma Lughah Al-Arobiyah ,Al-Mu’jam Al-Wasith, (Mesir: Daar Al Ma’arif 1872), juz 1, hal, 396.
12Hasbiyallah, Fiqh Dan Ushul Fiqh: Metode Istimbath Dan Istidlal, (bandung; PT. Remaja rosdakarya 2013), hlm,. 245.
banyak kebajikannya.13 Dan menurut Wahbah Al-Zuhaily zakat itu secara bahasa dapat berarti tumbuh (An Numuww) dan bertambah (Ziyadah). Jika diucapkan Zaka Al Zar’ berarti tanaman itu tumbuh dan bertambah, dan jika diucapkan Zakaa Al-Nafaqah berarti nafkah tumbuh dan bertambah jika diberkati, kata zakat juga sering digunakan untuk makna thaharoh (suci).14
Sedangkan Hasbullah Bakri dalam bukunya yang berjudul Pedoman Islam di Indonesia juga memberikan definisi zakat dari segi bahasa dengan lafadz zakka, tuzakki, tazkiyyan, yang mempunyai arti membersihkan atau menyucikan diri dari harta kita yang lebih dan bukan haknya.15
Sedangkan arti zakat dari segi istilah adalah sedekah wajib yang dikeluarkan menurut syari’at Islam dan merupakan suatu cara untuk menyucikan karunia dan rejeki yang diberikan Tuhan dengan memberikan sebagian dari rezeki tersebut kepada orang miskin dan orang yang membutuhkan.16 sedangkan menurut Asmaji Muchtar mengungkapkan bahwa zakat dari segi istilah adalah memberikan harta tertentu kepada orang yang berhak dengan syarat tertentu. 17 Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqh Sunnah memberi definisi zakat dari segi istilah dengan nama sesuatu /benda yang dikeluarkan manusia dari hak milik Allah untuk kaum fakir, dinamakan zakat karena didalamnya mengandung unsur mengharapkan karunia Allah, mensucikan jiwa dan menumbuhkan berbagai macam kebajikan.
Mahmud Syaltut yang merupakan ‘ulama’ kontemporer Mesir memberikan definisi zakat secara istilah dengan ibadah kebendaan yang diwajibkan oleh Allah agar orang kaya menolong orang miskin
13Imam Taqiyuddin Abu Bakar Bin Muhammad Al Husaini, Kifayatul Akhyar,(terj), (Surabaya: Bina Iman 2003), cet. VI, hal. 386.
14Wahbah Al- Zuhaily, Zakat: Kajian Berbagai Madzhab, (Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya 2005), hlm. 82.
15Hasbullah Bakri, Pedoman Islam Di Indonesia, ( Jakarta: UI Press 1988), hlm. 243.
16Muhammad, Aspek Hukum Dalam Muamalat, (yogyakarta: graha ilmu 2007), hlm. 153.
17Asmaji Muchtar, Dialog Lintas Madzhab: Fiqh Ibadah Dan Muamalah, (Jakarta: Amzah 2016), hlm, 361.
berupa sesuatu yang dapat menutupi kebutuhan pokoknya,18 Demikian juga Imam Taqiyuddin dalam kitab Kifayatul Akhyar memberi pemahaman bahwa zakat dari segi istilah merupakan nama dari sejumlah harta tertentu yang diberikan kepada golongan tertentu dengan syarat-syarat tertentu.19sedangkan para ulama’ memberikan arti berbeda akan tetapi meskipun definisinya berbeda redaksinya tetap sama yaitu harta yang wajib dikeluarkan pada nisabnya dan pembagiannyapun diatur kepada orang-orang yang berhak menerimanya, yang semua itu telah diatur oleh syari’at Islam.
Adapun Zakat Profesi berasal dari dua suku kata yaitu zakat dan profesi, pertama arti dari zakat itu sendiri sebagaimana yang telah di jabarkan di atas, sedangkan arti profesi berasal dari kata “profession”
yang berarti pekerjaan (echols dan hasan shadily 1995:449) dan dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) mempunyai arti bidang pekerjaan yang dilandasi keahlian (keterampilan, kejuruan dsb)20 sedangkan Ahmad Zahro mengartikan profesi sebagai suatu pekerjaan yang terkait erat dengan kemampuan dan keterampilan individu, baik dilakukan secara personal maupun institusional, seperti dokter, arsitek, pengacara dsb.21
Sedangkan Syarifuddin Abdullah menyatakan bahwa arti profesi itu ada dua kategori yaitu Al Mihnah dan Al Hirfah, Al Mihnah merupakan teks yang sering dipakai untuk menunjuk pekerjaan yang lebih mengandalkan pekerjaan otak, oleh karena itu kalangan profesional dikatakan Al Minhiyyun/ Ashab Al Mihnah seperti pengacara, penulis, dokter, kesultanan dsb, sedangkan kata Al Hirfah merupakan teks yang sering dipakai untuk menunjuk jenis pekerjaan yang mengandalkan tangan atau tenaga otot, seperti pengrajin, tukang
18 Mujar Ibnu Syarif Dan Khamami Zada, Fiqih Siyasah: Doktrin Dan Pemikiran Politik Islam, (Jogjakarta: PT. Gelora Aksara Pertama), Hlm.
326.
19Imam Taqiyuddin Abu Bakar Bin Muhammad Al Husaini, Kifayatul Akhyar (terj), (Surabaya: Bina Iman 2003) cet. VI, hal. 386
20Departemin Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka 2007), hlm. 897.
21Ahmad Zahro, Fiqh Kontemporer, Cet. 1 Menjawab 111 Masalah Aktual Hukum Islam Di Zaman kita,(PT. Qof media kreativa 2016), hlm. 27.
las, tukang jahit, buruh dan sejenisnya.22 Sehingga zakat profesi dapat diartikan sebagai zakat yang dikenakan pada setiap pekerjaan atau keahlian profesional tertentu, baik yang dilakukan sendiri maupun bersama orang atau lembaga lain, yang mendatangkan penghasilan (uang) yang memenuhi nishab. Oleh karena itu zakat profesi dikenal dengan istilah Zakah Rowatib Al Muwadzaffin (zakat gaji pegawai) atau Zakah Kasb Al ‘Amal Wa Al Mihan Al Hurrah (zakat hasil pekerjaan dan profesi swasta).
Yusuf Al Qordhawi memberikan arti Zakat Profesi dengan zakat yang diperoleh dari penghasilan dan pendapatan yang diusahakan melalui keahliannya, baik keahlian itu dilakukan secara sendiri maupun bersama-sama atau juga berklompok dan sebagainya melalui sistem upah atau gaji yang sampai nisabnya wajib dikeluarkan.23
Menurut beliau pekerjaan yang menghasilkan uang ada dua macam. Pertama, pekerjaan yang yang dikerjakan sendiri tampa tergantung kepada orang lain, karena berkat kecekatan tangan ataupun otak. Penghasilan yang diperoleh dengan cara ini merupakan hasil profesional seperti penghasilan seorang Dokter, Insinyur, Advokat, Penjahit dan lain sebagainya. Kedua, yaitu pekerjaan yang dilakukan seseorang buat pihak-pihak pemerintah, perusahaan, maupun perorangan dengan memproleh upah yang diberikan, dengan tangan, otak, ataupun kedua-duanya, pekerjaan seperti ini berupa gaji, upah atau hononarium.
Zakat Profesi Menurut Yusuf Qardhawi
Seiring dengan berkembangnya zaman dalam kehidupan ummat manusia, khususnya dalam bidang ekonomi, kegiatan penghasilan melalui keahlian dan profesi ini juga akan semakin berkembang dari waktu ke waktu, dan bahkan akan menjadi kegiatan ekonomi yang paling utama, dalam hal ini akan menjadi titik fokus pembahasan kami,
22Syarifuddin Abdullah, Zakat Profesi, (Jakarta: Moyo Segoro Agung, 2003), hlm. 38.
23Didin Hafiduddin , Zakat Dalam Perekonomian Modern, (Jakarta:
Gema Insan Pers, 2006), hlm. 90.
yang mana harta yang diproleh dari hasil usaha dan profesi itu juga wajib dikeluarkan zakatnya.
Namun tidak semua ulama sepakat atas wajibnya zakat profesi, ada ulama’ yang tidak mewajibkan dan ada juga ulama’ yang mewajibkannya, diantara ulama- ulama yang mewajibkan adanya zakat profesi itu adalah ulama’-ulama’ kontemporer seperti Abdur Rahman Hasan, Muhammad Abu Zahroh, Abdul Wahab Khalaf, Dan Yusuf Al Qordhawi, yang mana mereka telah mengadakan penelitian dan memunaqosyahkan argumen-argumen yang dikemukakan oleh kedua belah pihak antara pihak ulama yang mewajibkan dan pihak ulama yang tidak mewajibkan, sehingga mereka lebih memilih wajibnya zakat profesi.
Kaidah yang digunakan oleh ulama’ kontemporer dalam memperluas kategori harta wajib zakat adalah bersandar pada dalil- dalil umum, disamping berpegang pada syarat harta wajib zakat, yaitu tumbuh dan berkembang, baik tumbuh dan berkembang melalui usaha atau berdasarkan pada zat harta tersebut yang berkembang.
Diantara ulama’ yang sepakat tentang wajibnya zakat profesi ini, hal ini karena berlandaskan pada keumuman makna Al Qur’an yang terkandung dalam surat Al-Baqarah ayat 267, juga berlandaskan pada prinsip keadilan, yang secara logika bagaimana mungkin Islam mewajibkan zakat kepada para petani yang pendapatannya tidak seberapa dan membiarkan para pengusaha kaya, pengacara, dokter, dan profesional menimbun hartanya. Namun di sini terdapat perselisihan mengenai adanya masa satu satu tahun (haul).
Yusuf Al Qordhawi menegaskan bahwa zakat yang diproleh dari hasil profesi itu wajib dikeluarkan zakatnya dengan tanpa menunggu masa satu tahun, alasan beliau adalah nash-nash umum yang meagacu pada kewajiban zakat profesi itu baik Al-Qur’an maupun hadits tidak ada ketentuan masa satu tahun seperti yang tedapat dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 267, hal ini juga disetujui oleh Wahbah Al-Zuhaili yang mengacu pada pendapat sebagian sahabat, yaitu Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud Dan Mu’awiyah, dan juga sebagian tabi’in yaitu Al-Zuhri, Al-Hasan Al Basri Dan Makhul,
juga pendapat Umar Bin Abdul Aziz dan beberapa ulama fiqih lainnya.
Alasan Yusuf Al Qordhawi dalam mentiadakan persyaratan masa satu tahun juga adalah jika dalam pengeluaran zakat profesi itu mensyaratkan masa satu tahun, maka berarti hal ini memberikan kebebasan kepada para pekerja profesi dalam kewajiban membayar zakat atas pendapatan mereka yang begitu besar, karena bisa saja mereka akan menginvestasikan pendapatannya terlebih dahulu atau mereka akan berfoya-foya dulu atau bahkan menghambur-hamburkan pendapatannya (hartanya) agar tidak mencapai masa satu tahun, ketika sudah seperti ini berarti zakat profesi ini hanya dibebankan kepada orang yang hemat saja yang hanya membelanjakan hartanya seperlunya saja, hal ini telah jauh dari tujuan kedatangan Islam yang mempunyai prinsip keadilan dan kebijakan, yaitu meringankan beban orang-orang pemboros dan memperbuat beban orang-orang yang hemat.
Hal ini juga berdasarkan pada hadits yang di riwayatkan oleh Turmidzi juga dari Ayyub Bin Nafi’ Dari Ibnu Umar, yang artinya:
“siapa yang memproleh kekayaan maka tidak ada kewajiban zakat atasnya dan seterusnya,” tanpa dihubungkan kepada Nabi S.A.W.
Turmidzi mengatakan bahwa hadits ini lebih shahih dari pada hadits yang diriwayatkan oleh Abdurrahman Bin Zaid Bin Aslam dari bapaknya ibnu ‘Umar. Yang berbunyi:
ِﻦَﻣ َدﺎَﻔَﺘْﺳا ًﻻﺎَﻣ َﻼَﻓ َةﺎَﻛ َز ِﮫْﯿَﻠَﻋ ﻲَﺘَﺣ ُل ْﻮُﺤَﯾ ِﮫْﯿَﻠَﻋ ُل ْﻮَﺤْﻟا َﺪْﻨِﻋ ِﮫِﺑَر
24
Artinya: siapa yang memproleh kekayaan maka tidak ada kewajiban zakatnya sampai lewat dari satu tahun disisi tuhannya.
Hadits ini dianggap lemah oleh Ahmad Bin Hambal, Ali Al Madini juga ahli hadits lainnya dan terlalu banyak salahnya, juga Daruquthni dalam Gharaibu Malik meriwayatkan dari Ishaq Bin Ibrahim Hunaini Dari Nafi’ Dari Ibnu ‘Umar juga mengatakannya bahwa hadits itu lemah, dan yang shahih menurut Malik adalah yang mauquf, Baihaqi meriwayatkan dari Abu Bakar Ali dan Aisyah secara
24 Ali Jumu’ah Muhammad, Muhammad Ahmad Siraj, Dan Ahmad Jabir Badrani, Mausu’ah Fatawa AlMu’amalati Al Maliyati, (Darussalam:
2009), 22.
mauquf, begitu juga dari Ibnu Umar mengatakan bahwa yang menjadi pegangan dalam masalah tersebut adalah hadits-hadits shahih dari Abu Bakar As Shiddiq, Usman Bin Affan, Abdullah Bin Umar dan lain- lainnya, Dari hadits ini telah jelas bahwa ketentuan adanya masa satu tahun tidak dapat dibenarkan, dan tidak berdasar pada hadits yang shahih dan tidak berasal dari Nabi SAW.
Yusuf Al Qordhawi juga menyatakan bahwa dalam zakat profesi itu tidak ada ketentuan masa satu tahun karena menqiyaskan pada zakat uang, baik sudah mencapai satu tahun atau ketika waktu menerimanya, jika seseorang sudah mengeluarkan zakat pada saat menerimanya maka ia tidak usah mengeluarkan zakat lagi di akhir tahun, dengan demikian ada titik kesamaan antara pegawai yang menerima gaji secara rutin dengan petani yang yang wajib mengeluarkan zakatnya pada saat panen, tanpa ada perhitungan haul.
Oleh karena itu besar zakat profesi ini adalah senilai 85 gram emas dengan jumlah zakat yang wajib dikeluarkan 2,5 %.
Dalam penentuan masa satu tahun dalam pengeluaran zakat profesi ini para sahabat dan tabi’in telah berbeda pendapat, ada yang mensyaratkannya dan bahkan ada yang tidak, artinya langsung di keluarkan zakatnya saat menerimanya. Jika terjadi demikian maka tidak ada pendapat yang lebih utama dari salah satunya, sehingga tidak ada yang mengharuskan untuk mengikuti pendapat salah satunya, semuanya harus dikembalikan pada otoritas nas, artinya apabila kamu berselisih maka kembalikanla kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasulnya (Al Hadits).
Sementara Majlis ulama’ indonesia (MUI) termasuk kedalam barisan pendukung zakat profesi, yang mana dalam fatwa MUI no 7 juni tahun 2003 disebutkan bahwa:
1. Zakat penghasilan dapat dikeluarkan pada saat menerima jika sudah mencapai nishab.
2. Jika tidak mencapai nishab, maka semua penghasilan dikumpulkan selama 1 tahun, kemudian dikeluarkan jika penghasilan bersihnya sudah cukup nishab.25
25 Ichwan, Sam Dkk, Himpunan Fatwa Majlis Ulama’ Indonesia Sejak 1975, (Erlangga: T.T), Hlm. 197-198
Dari pernyataan ini dapat difahami bahwa majlis ulama’
Indonesia (MUI) tidak mensyaratkan harus ada kepemilikan selama 1 tahun, pokoknya kalau jumlah dari penghasilan profesi itu sudah mencapai nishab maka langsung dikeluarkan zakatnya.
Madzhab yang empat menyatakan bahwa zakat dari hasil profesi itu pengelurannya harus menunggu masa satu tahun, hal ini karena berdasar pada hadits yang berbunyi
َتﺎَﻛ َز َﻻ ٍلﺎَﻣﻲِﻓ
ﻲَﺘَﺣ ُل ْﻮُﺤَﯾ ِﮫْﯿَﻠَﻋ ُل ْﻮَﺤْﻟَا
Artinya: tidak ada zakat dalam harta kecuali sudah berlalu satu tahun,26 hadits ini memang dijadikan landasan dalam syarat batas pengeluaran zakat, tapi ada beberapa hal yang tidak disyaratkan haul seperti: zakat pertanian, rikaz, keuntungan berdagang, dan anak binatang ternak, jika diteliti secara seksama, zakat profesi ini tidak diwajibkan adanya syarat haul karena waktu pengeluarannya ketika menerima gaji, Yusuf Al Qordhawi juga menyatakan bahwa hadits ini tidak bisa di jadikan landasan karena dari segi periwayatannya saja, sang periwayat di anggap tidak benar karena menggunakan nama ayahnya yaitu Harits bin muhammad, dia tidak menggunaka nama aslinya yang terkenal yaitu Harits bin Abu Rijal, hal ini sudah menunjukkan ketidakbenaran perawi.
Orang-orang yang mempunyai pekerjaan profesi itu dalam memproleh atau menerima gaji tidak mungkin semuanya sama, karena memang pekerjaan berbeda, ada yang menerimanya setiap hari seperti seorang dokter, ada juga yang perminggu atau dua minggu seperti penerima upah ada juga yang perbulan seperti pegawai atau bahkan tidak tentu seperti halnya advokat, penjahit, kontraktor dan lain sebagainya, dalam hali ini Yusuf Al Qordhawi memungkinkan terjadinya dua hal, yaitu:
Yang pertama Memberlakukan nishab dalam setiap jumlah pendapatan atau penghasilan yang diterima, dengan demikian penghasilan yang mencapai nishab itu seperti gaji yang tinggi dan hononarium yang besar bagi seorang pegawai harus di keluarkan zakatnya, sedangkan yang tidak mencapai nishab tidak wajib. Hal ini
26 Abu Al-Walid Ibnu Rushd, Bidayah Al Mujtahid, (Beirut: Dar Al- Fikr, 1996), Hlm. 197.
dapat dibenarkan karena dapat membebaskan orang-orang yang mempunyai gaji kecil dari kewajiban zakat dan membatasi kewajiban zakat hanya atas pegawai yang tergolong tinggi saja, ketentuan ini lebih mendekati kesamaan dan keadilan sosial, juga merupakan realisasi pendapat sahabat dan para ulama fiqih yang mengatakan bahwa penghasilan itu wajib zakat pada saat menerima jika sudah mencapai nishab.
Yang kedua, mengumpulkan gaji atau penghasilan yang diterima berkali-kali itu dalam waktu tertentu sampai mencapai nishab, hal ini dapat ditemukan dalam kasus pertambangan, dimana ulama fiqih berpendapat bahwa hasil yang diproleh dari waktu ke waktu yang tidak pernah terputus ditengah akan melengkapi untuk mencapai nishab, maka dari itu dapat ditentukan bahwa masa satu tahun merupakan suatu kesatuan menurut pandangan pembuat syari’ah juga pandangan ahli perpajakan modern, oleh karena itu ketentuan setahun diberlakukan dalam zakat, maka zakat penghasilan bersih dari seorang pegawai dan golongan profesi dapat diambil dalam setahun penuh jika sudah mencapai nishab.
Jadi kesimpulannya, dalam pengeluaran zakat profesi ini ada dua jenis pelaksanaan sesuai dengan pendapatan manusia, yaitu: untuk orang yang bergaji bulanan maka pendekatannya dengan hasil pertanian dengan jumlah nishab 5 wasaq yang senilai dengan 653 kg gabah kering giling dan zakatnya 2,5%, yang dikeluarkan ketika menerima hasil (gaji) dan tidak ada haul. Kemudian yang kedua penghasilannnya tidak bulanan, seperti penjahit, kontraktor, pengacara, dokter, dan lainnya dapat menggunakan pendekatan zakat harta. Yaitu nishabnya senilai 85 gr emas, setelah penghasilannya diakumulasikan dalam setahun dikurangi hutang konsumtif, besar zakatnya adalah 2,5 persen.
Metode Istinbath Hukum Yusuf Qardhawi tentang Zakat Profesi Mengenai istinbath hukum yang di lakukan oleh Yusuf Al Qordhawi dalam hal kewajiban membayar zakat perofesi adalah terlebih dahulu mencari landasan hukum mengenai kewajiban hal tersebut, yang dalam hal ini Yusuf Al Qordhawi mendasarkan hukum
tersebut pada ayat Al-Qur’an yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 267 yang berbunyi:
َﻦِّﻣ ﻢُﻜَﻟ ﺎَﻨ ۡﺟ َﺮ ۡﺧَأ ٓﺎﱠﻤِﻣ َو ۡﻢُﺘۡﺒَﺴَﻛ ﺎَﻣ ِﺖَٰﺒِّﯿَط ﻦِﻣ ْاﻮُﻘِﻔﻧَأ ْا ٓﻮُﻨَﻣاَء َﻦﯾِﺬﱠﻟٱ ﺎَﮭﱡﯾَﺄَٰٓﯾ ِب ﻢُﺘ ۡﺴَﻟ َو َنﻮُﻘِﻔﻨُﺗ ُﮫۡﻨِﻣ َﺚﯿِﺒَﺨۡﻟٱ ْاﻮُﻤﱠﻤَﯿَﺗ َﻻ َو ِۖض ۡرَ ۡﻷٱ ِۚﮫﯿِﻓ ْاﻮُﻀِﻤۡﻐُﺗ نَأ ٓ ﱠﻻِإ ِﮫﯾِﺬ ِﺧا َ◌ ٴ◌
ﱠنَأ ْا ٓﻮُﻤَﻠۡﻋٱ َو ٌﺪﯿِﻤَﺣ ﱞﻲِﻨَﻏ َ ﱠ�ٱ
۲٦۷
Artinya: . Wahai orang-orang Yang beriman! belanjakanlah (pada jalan Allah) sebahagian dari hasil usaha kamu Yang baik-baik, dan sebahagian dari apa Yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu.
dan janganlah kamu sengaja memilih Yang buruk daripadanya (lalu kamu dermakan atau kamu jadikan pemberian zakat), padahal kamu sendiri tidak sekali-kali akan mengambil Yang buruk itu (kalau diberikan kepada kamu), kecuali Dengan memejamkan mata padanya.
dan ketahuilah, Sesungguhnya Allah Maha Kaya, lagi sentiasa Terpuji (Q.S. al-Baqarah: 267).27
Yusuf Al Qordhawi menafsirkan lafadz “maa kasabtum” dalam ayat di atas dengan mencakup segala macam usaha baik perdagangan atau pekerjaan dan profesi, sedangkan jumhur ulama fiqih mengambil keutamaan maksud surat Al-Baqarah ayat 267 tersebut selain sebagai landasan wajibnya zakat perdagangan juga menjadikan wajibnya zakat atas usaha profesi. Sesuai dengan lafadz “Anfiqu” hal ini menfaidahkan wajib, karena bentuk dari lafadz tesebut adalah fi’il amar yang menunjukkan perintah dari kata kerja masa lalu (fi’il madhi)
“Anfaqaa”, maka hal ini juga sesuai dengan kaidah ushul fiqih “ Al Ashlu Fil Amri Al Wujubu” yang artinya pada asalnya perintah itu adalah berfaidah wajib. sesuai dengan ibaroh yang beliau utarakan:
ْﻮَـﻗ ُﻪُﻟ َﱄﺎَﻌَـﺗ َ�) ﺎَﻬُـﻳَا َﻦْﻳِﺬَﻟا اْﻮُﻘِﻔْﻧَااْﻮُـﻨَﻣَا ْﻦِﻣ ِتﺎَﺒِﻴَﻃ ﺎَﻣ ْﻢُﺘْـﺒَﺴَﻛ )(
ﻘﺒﻟا ةﺮ : 267 ُﻪُﻟْﻮَﻘَـﻓ( ﺎَﻣ ْﻢُﺘْـﺒَﺴَﻛ
ٌﻆْﻔَﻟ ٌمﺎَﻋ ُﻞِﻤْﺸَﻳ ِﻞُﻛ ٍﺐْﺴَﻛ َﻦِﻣ ٍةرَﺎَِﲡ ْوَا ٍﺔَﻔْـﻴِﻇَو ِﺪَﻘَـﻓٍﺔَﻨْﻬِﻣْوَا َلَﺪَﺘْﺳا ﺎَِﺑﻬُءﺎَﻬَﻘُﻔْﻟا ﻲَﻠَﻋ ةِﺎَﻛَز ِةَرﺎَﺠﺘِﻟا َﻼَﻓ
َوْﺮَﻏ ْنَا َلِﺪَﺘْﺴَﻧ ﺎَِﺑﻬ ﻲَﻠَﻋ ُةﺎَﻛَز ِﺐْﺴَﻛ ِﻞَﻤَﻌْﻟا ِﺔَﻨْﻬِﳌْاَو اَذِاَو َنﺎَﻛ اْﻮُﻃََﱰْﺷاِﺪَﻗُءﺎَﻬَﻘُﻔْﻟا َلْﻮَْﳊَا
ِﰲ ةِﺎَﻛَز
َﻚِﻟاَﺬَﻓِةَرﺎَﺠﺘِﻟا ِرُﺬَﻌَـﺘِﻟ
ِﻞْﺼَﻔْﻟا َْﲔَﺑ ِﻞْﺻَا ِلﺎَﻤْﻟا ِﺢْﻳﺮِﻟاَو دِﺎَﻔَـﺘْﺴﻤُﻟْا ُﻪْﻨِﻣ ْﺪَﻘَـﻓ ُﻞَﺼَﺤَﺘَـﻳ ُﺢْﻳِﺮﻟا ﺎًﻣْﻮَـﻳ َوﺎًﻣﻮَﻳ
ﺎَﺳﺎََﲟُر ًﺔَﻋ ﺎَﺳ ًﺔَﻋ ِف َﻼِِﲞ َﺎَ�ِﺎَﻓﺎَﻫِﻮَْﳓَﻮِﺒِﺗاَوﺮَﻟا ِﰐْءَﺗﺎ
ًﺔَﻠِﻘَﺘْﺴُﻣ َو ًةَرَﺪَﻘُﻣ
27 Departemen Agama RI, Al-Qur’an Tajwid Dan Terjemahannya, (Bandung: PT. Syaamil Cipta Media, 2006), Hlm. 45.
Artinya: firman Allah “wahai orang-orang yang beriman keluarkanlah sebagian harta usaha kalian” (al-baqorah: 267), lafadz maa kasabtum merupakan kata umum yang meliputi segala macam usaha:perdagangan, atau pekerjaan dan profesi. Para ulama’ fiqih berpegang kepada keumuman maksud dari ayat tersebutsebagai landasan zakat perdagangan, oleh karena itu kita tidak perlu ragu lagi untuk memakainya sebagai landasan zakat penghasilan dan profesi, bila ulama’ fiqih telah menetapkan setahun sebagai syarat wajib zakat perdagangan, maka itu berarti bahwa antara pokok harta dengan laba yang dihasilkan tidak boleh di pisahkan karena laba dihasilkandari hari kehari bahkan dari jam ke jam lain halnya dengan gaji atau yang sebangsanya yang diproleh secara utuh,ter tentu dan pasti.28
Dari pemaparan di atas telah jelas bahwa Yusuf Al Qordhawi menetapkan zakat profesi pada Al Qur’an surah Al-Baqarah ayat 267, yang secara umum ayat tersebut juga digunakan oleh fuqaha’ dalam menetapkan zakat perdagangan. Selain melalui ayat tersebut, Yusuf Al- Qardhawi juga menggunakan dasar keumuman makna hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari , sebagaimana berikut:
ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ ُمَدآ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ ُﺔَﺒْﻌُﺷ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ ُﺪﻴِﻌَﺳ ُﻦْﺑ ِﰊَأ َةَدْﺮُـﺑ ِﻦْﺑ ِﰊَأ ﻰَﺳﻮُﻣ ِّيِﺮَﻌْﺷَْﻷا ْﻦَﻋ ِﻪﻴِﺑَأ ْﻦَﻋ
ِﻩِّﺪَﺟ َلﺎَﻗ َلﺎَﻗ ﱡِﱯﱠﻨﻟا ﻰﱠﻠَﺻ ُﱠﻟﻠﻪا ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢﱠﻠَﺳَو ﻰَﻠَﻋ ِّﻞُﻛ ٍﻢِﻠْﺴُﻣ ٌﺔَﻗَﺪَﺻ اﻮُﻟﺎَﻗ ْنِﺈَﻓ َْﱂ ْﺪَِﳚ َلﺎَﻗ ُﻞَﻤْﻌَـﻴَـﻓ ِﻪْﻳَﺪَﻴِﺑ
ُﻊَﻔْـﻨَـﻴَـﻓ َﺴْﻔَـﻧ ُﻪ ُقﱠﺪَﺼَﺘَـﻳَو اﻮُﻟﺎَﻗ ْنِﺈَﻓ َْﱂ ْﻊِﻄَﺘْﺴَﻳ ْوَأ َْﱂ ْﻞَﻌْﻔَـﻳ َلﺎَﻗ ُﲔِﻌُﻴَـﻓ اَذ ِﺔَﺟﺎَْﳊا َفﻮُﻬْﻠَﻤْﻟا اﻮُﻟﺎَﻗ ْنِﺈَﻓ َْﱂ ْﻞَﻌْﻔَـﻳ
َلﺎَﻗ ُﺮُﻣْﺄَﻴَـﻓ ِْﲑَْﳋِﺑﺎ ْوَأ َلﺎَﻗ ِفوُﺮْﻌَﻤْﻟِﺑﺎ َلﺎَﻗ ْنِﺈَﻓ َْﱂ ْﻞَﻌْﻔَـﻳ َلﺎَﻗ ُﻚِﺴْﻤُﻴَـﻓ ْﻦَﻋ ِّﺮﱠﺸﻟا ُﻪﱠﻧِﺈَﻓ ُﻪَﻟ ٌﺔَﻗَﺪَﺻ ) ﻩاور
يرﺎﺨﺒﻟا (.
Artinya: setiap muslim wajib bersedekah , mereka bertanya wahai nabi allah, bagaimana yang tidak punya? Nabi menjawab bekerjalah untuk mendapat sesuatu untuk dirinya, lalu bersedekah, mereka bertanya kembali, kalau tidak menemuka pekerjaan ya nabi allah? nabi menjawab menolong orang yang membutuhkan dan orang yang terdzalimi, mereka bertanya kembali, kalau tidak dapat
28 Yusuf Qordhawi, Fiqih zakat Li Ahkamiha Wa Filsafatiha Fi Dhauil Qur’an Wa Assunnah,( Surabaya: Muassasah Risalah Beirut, 1991), Hlm. 507
melakukan itu ya nabi allah? nabi menjawab, kerjakan kebaikan dan tinggalkan keburukan hal itu merupakan sedekah (H.R. Bukhari)29
Yusuf Al Qordhawi menafsirkan keumuman dari hadits tersebut bahwa zakat wajib atas penghasilan sesuai dengan tuntutan Islam yang menanamkan nilai-nilai kebaikan, kemauan, berkorban, belas kasihan dan suka memberi dalam jiwa seorang muslim, untuk itu Nabi mewajibkan pada setiap muslim untuk mengorbankan sebagian hartanya atau apa saja yang bisa ia korbankan.
Jika dilihat secara kasab mata hadits tersebut sangat umum sekali untuk dijadikan landasan hukum zakat profesi, namun dalam hadits tersebut terdapat kata kunci yang bisa dijadikan landasan normatif atas di syari’atkannya zakat profesi yaitu dalam lafadz:
ُﻞَﻤْﻌَـﺑ ِﻩِﺪَﻴِﺑ ُﻊَﻔْـﻨَـﻴَـﻓ ُﻪَﺴْﻔَـﻧ َو ُقَﺪَﺼَﺘَـﻳ
Artinya: bekerjalah untuk mendapatka sesuatu untuk dirinya sendiri, lalu bersedekah.30
Maksud dari hadits tersebut menunjukkan atas adanya suatu keharusan bagi setiap orang muslim untuk memiliki aktfitas/pekerjaan yang dapat memberikan kemanfaatan pada dirinya sendiri (keluarga atau orang yang menjadi tanggungannya) baru kemudian melaksanakan bentuk diwajibkannya zakat (profesi) bila harta yang dihasilkan itu melebihi dari kebutuhan pokoknya. Karena zakat itu hanya diwajibkan atas harta yang sudah mencapai nishab dan sudah melebihi dari kebutuhan pokok hidupnya, dengan tujuan agar supaya muzakki bisa membayar utangnya dan menafkahi kebutuhan pokok orang-orang yang menjadi tanggungannya.
Berdasarkan hal ini, maka sisa gaji gaji dan pendapatan selama satu tahun wajib dizakatkan bila sudah mencapai nishab, akan tetapi apabila gaji atau upah setahun itu tidak mencapai nishab setelah
29 Muhammad Bin Isma’il Abu Abdillah Al-Bukhari, Shahih Bukhari (Damaskus: Dar Thuq Al-Nuhat, 1422 H), Cet 1, Juz 2, Hadits ke-5563, hlm, 115.
30 Muhammad Bin Isma’il Abu Abdillah Al-Bukhari, Shahih Bukhari, hlm. 115.
mengeluarkan semua biaya-biaya yang telah dikeluarkan sebelumnya, maka orang itu tidak wajib zakat.
Jika seseorang itu sudah mengeluarkan zakat gaji atau penghasilan pada saat menerimanya, maka orang itu tidak wajib mengeluarkan zakat tahunan, agar supaya tidak terjadi dua zakat atas satu kekayaan dalam waktu satu tahun, oleh karena itu dalam pembahasan mengenai harta penghasilan, maka dapat difahami bahwa seseorang yang mempunyai penghasilan dan dia tidak khawatir penghasilannya itu akan terbelanjakan sebelum tempo zakatnya jatuh, maka orang itu harus menangguhkan pengeluaran zakatnya sampai zakat kekayaannya yang lain jatuh tempo, sehingga seluruh zakat dapat dikeluarkan secara bersamaan.
Seperti contoh, ada seseorang yang mempunyai harta kekayaan yang di keluarkan zakatnya pada setiap tahun tepat pada awal bulan muharram, dan ketika orang itu memproleh gaji pada bulan safar atau bulan-bulan sesudahnya dan orang itu sudah mengeluarkan pada saat menerima gaji, maka orang itu tidak wajib lagi mengeluarkan zakat penghasilannya pada akhir tempo (muharram) bersama dengan kekayaannya yang lain, atau dia bisa mengeluarkan zakat penghasilannya pada pada tempo berikutnya, karena Allah telah menegakkan syari’atnya atas dasar kemudahan, akan tetapi sebaiknya zakat itu dikeluarkan dari hasil penerimaan kotor sebelum dikurangi kebutuhan yang lain, hal ini lebih diutamakan karena khawatir harta yang seharusnya dikeluarkan zakatnya tidak dikeluarkan hal ini pasti akan mendapat adzab Allah baik di dunia maupun di akhirat.
Namun jika dilihat dari dzahirnya makna hadits tersebut menganjurkan kepada setiap muslim agar bersedekah (zakat) melalui berbagai bentuk aktifitas dan kreatifitas yang ditekuninya, namun dari segi manakah lafadz ُﺔَﻗَﺪَﺼﻟَا itu bisa bermakna zakat profesi? Nah disini jika di fahami secara gamblang hadits tersebut akan menghasilkan kesalah fahaman, oleh karena itu akan dijelaskan bahwa lafadz yang digunakan pada hadits tersebut memang lafadz ُﺔَﻗَﺪَﺼﻟَا akan tetapi menghasilkan makna zakat profesi, hal ini dikarenakan adanya anjuran dari nabi SAW sebagai perwakilan dari syari’ yang memerintahkan kepada setiap muslim untuk bersedekah (zakat) sehingga implikasinya
dari kata sedekah itu menjadi suatu kewajiban bagi setiap muslim, padahal secara syar’i sedekah itu tidak berdemensi ijab dalam kategori tuntutan, hanya saja dalam tingkatan sunnah, maka walaupun menggunakan lafadz ُﺔَﻗَﺪَﺼﻟَا mengandung makna zakat profesi. 30F31
Dari beberapa redaksi diatas, secara implisit telah jelas bahwa metode yang digunakan Yusuf Al Qordhawi mengenai kewajiban zakat profesi adalah qiyas, selain itu juga prinsip keadilan, hal ini nampak karena dalam penetapan zakat profesi beliau selalu membandingkan dengan zakat lainnya, seperti padi tanaman dan lain sebagainya.
Didin hafiduddin juga merupakan orang yang menggunakan qiyas dalam penetapan adanya zakat profesi, namun qiyas yang digunakannya adalah qiyas syabah (mempersamakan satu furu’ dengan dua al ashlu), hal ini berarti nisab zakat profesi itu disamakan dengan zakat pertanian , sedangkan kadarnya disamakan dengan zakat emas dan perak, sehingga ukuran nisabnya adalah 524 kg beras dengan persentase zakatnya 2,5% karena disamakan dengan zakat pertanian, waktu pengeluaran zakat profesi ini langsung ketika menerima tanpa menunggu satu tahun.
Akan tetapi meskipun sama sama menggunakan metode qiyas dalam istimbat hukumnya, Al Qordhawi berbeda dengan Didin Hafiduddin, beliau menggunakan qiyas maqis ‘alayh (sesuatu yang dijadikan sandaran dalam qiyas/ al ashlu), berikut beberapa qiyas yang di gunakannya dalam penetapan kewajiban zakat profesi, diantaranya:
Alasan yusuf Al Qordhawi menggunakan metode qiyas karena tidak ditemukan hukum yang pas baik di dalam Al Qur’an maupun Al Hadits, sedangkan qiyas masih termasuk sumber hukum yang ketiga setelah Al Qur’an, Hadits Dan Ijma’, sebagaimana yang tedapat dalam ilmu Ushul Fiqh bahwa ulama’ yang menggunakan qiyas sebagai sumber hukum harus memiliki alasan yang kuat baik dari nash maupun
31Muhammad Aziz Dan Sholikhah, Metode Istimbat Hukum Zakat Profesi Perspektif Yusuf AlQordhawi dan ImplikasinyaTerhadapPengembanganObjek Zakat Di Indonesia, Dan Ulul Albab, Vol.16,No 1 Tahun 2015, di akses pada 21 maret 2018. Hlm. 107.
dari akal, didalam definisi qiyas ada tiga poin penting yang harus ada yaitu:
1) Ada dua kasus yang mempunyai ‘illat sama 2) Kasus yang lama sudah ada hukumnya berdasarkan nash adapun hukum yang baru belum ada nashnya
3) Antara hukum yang lama denga hukum yang baru masing-masing mempunyai sebab yang sama.32
Selaras dengan tiga poin diatas metode qiyas yang digunakan Yusuf Al Qordhawi adalah dengan meneliti alasan logis ('illat) dari rumusan hukum, dan setelah diteliti ternyata terdapat ‘illat yang sama pada perkara yang tidak termaktub dalam Al Qur’an dan As-sunnah, dalam hal ini jika terbukti ada kesamaan ‘illat maka hukumnya juga sama dengan alasan ini, dalam masalah zakat profesi ini ditemukan kesamaan yang sesuai denga rukun-rukun qiyas yaitu:
Pertama, Al Ashlu/Al Maqis ‘Alayh (sandaran), yang mempunyai arti sesuatu yang dijadikan sandaran dalam mengqiyaskan sesuatu maka dalam hal ini dapat di fahami bahwa yang dimaksud Al Ashlu disini adalah Emas dan Perak.
Kedua, Al Far’u/Maqis (cabang), sesuatu yang yang diqiyaskan, atau dengan kata lain suatu masalah yang akan disamakan dengan al ashlu, maka dalam hal ini far’u nya adalah Zakat Profesi.
Ketiga, ‘Illat, yaitu sebab yang menghubungkan antara asal dan cabangnya, atau dengan kata lain sifat yang berpengaruh terhadap hukum, bukan karena dzatnya akan tetapi memang ketentuan dari syari’, dalam hal ini ‘illat dari zakat profesi ini adalah adanya kewajiban bagi ummat Islam karena sama-sama mempunyai arti berkembang, sama saja dengan objek diwajibkannya zakat lainnya dalam fiqih konvensional.
Keempat, Al Hukmu (hukum), yaitu hukum yang melekat pada al ashlu/maqis ‘alayh, yang merupakan sandaran hukum dalam aktifitas penggunaan qiyas, maka dalam hal ini dapat difahami bahwa hukum muncul karena adanya kewajiban atas terlaksananya zakat emas dan perak bagi setiap muslim dengan ketentuan dan syarat
32Sapiuddin Shidiq, Ushul Fiqh, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011), hlm. 71.
tertentu, sehingga hukum ini juga berlaku pada kewajiban terlaksananya zakat profesi bagi setiap profesional.
Sedangkan dalam hal ijtihadnya, ulama’ memiliki corak tersendiri, Yusuf Al-Qordhawi menggunakan ijtihad Insya’i yaitu pengambilan konkulasi hukum baru dari suatu persoalan, dan hal ini belum ditemukan ketentuan hukumnya, sedangkan Didin Hafiduddin menggunakan ijtihad Ishtilahi yaitu suatu karya ijtihad untuk menggali hukum syar’i dengan cara menetapkan hukum kulli yang mana dalam kasus zakat profesi ini belum ditemukan dalam sebuah nash demi menciptakan kemashlahatan.33
Simpulan
Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa: Pertama, zakat profesi merupakan zakat yang dikenakan pada setiap pekerjaan atau keahlian profesi tertentu, baik dilakukan sendiri maupun dilakukan bersama orang lain atau lembaga lain, dengan syarat mencapai nishab dengan tampa menunggu masa haul (1 tahun), Yusuf Al-Qordhawi membagi pekerjaan atau keahlian yang dapat menghasilkan uang kepada dua bagian, yaitu pekerjaan yang dilakukan sendiri tampa tergantung kepada orang lain, karena sebab kecekatan tangan ataupun otak seperti dokter, insinyur, advokad, seniman, penjahit dan lain sebagainya, hal ini merupakan hasil profesional, dan pekerjaan yang dikerjakan seseorang untuk pihak lain, baik pemerintah, perusahaan, maupun perorangan, dengan memproleh upah dengan tangan ataupun kedua duanya, penghasilan ini berupa gaji, upah, dan hononarium.
Kedua, istinbath hukum yang dilakukan oleh Yusuf Al Qordhawi dalam penetapan zakat profesi adalah metode Qiyas yaitu perumpamaan dengan di analogikan pada zakat pertanian dan zakat emas dan perak.
33 Fuad Readi, Kontrofersi Zakat Profesi Perspektif Ulama Kontemporer, N0. 1, vol, 2,( Juni 2015), Hal , 110.
Daftar Pustaka
Abdullah,Syarifuddin, 2003,Zakat Profesi, Jakarta: Moyo Segoro Agung.
Abdullathif, Abi Al’abbas Zainuddin Ahmad Bin Ahmad Bin, At Tajridus Sharih Li Hadits Aljami’us Sharih, Al Haramain.
Abul ‘Abbas Zainuddin Ahmad Bin Ahmad Bin Abdu Al-Lathif, Al- Tajridus Sharih Li Ahadits Al-Jami’us Sharih, (Al-Haramain.t.t), An-Nawawi ,Abu Zakariya Yahya Bin Syarif, 1997, Riyadu Al-
Sholihin, Terj. Mahrus Ali, Jilid, 2. Surabaya: Al-Hidayah Al Husaini, Imam Taqiyuddin Abu Bakar Bin Muhammad,2003,
Kifayatul Akhyar,(terj), Surabaya: Bina Iman .
Al-Arif NurRianto, 2012, Lembaga KeuanganSyariahSuatuKajianTeoritisPraktis, Bandung, CV.
PustakaSetia
Ali Jumu’ah Muhammad, Muhammad Ahmad Siraj, Dan Ahmad Jabir Badrani, 2009,Mausu’ah Fatawa Al Mu’amalati Al Maliyati, Darussalam.
Alkaaf, Abdullah Zaki. 2002, Ekonomi dalam Perspektif Islam.
Bandung: CV. Pustaka Setia Al-Qur’an, Ter.
Arikunto, Suharismi, 1982, Prosedur Penelitian, suatu pendekatan praktik. PT Bina Aksara
Al-Zuhaily, Wahbah, 2005, Zakat: Kajian Berbagai Madzhab, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Azzam, Abdul Aziz Muhammad, 2013, Al Wasithu Fi Fiqhil Ibadah, Jakarta: Amzah.
Bakri, Hasbullah, 1988,Pedoman Islam Di Indonesia, Jakarta: UI Press.
El madani, 2013, Fiqh Zakat Lengkap, Yogyakarta, Diva Press
Fuad Readi, Kontrofersi Zakat Profesi Perspektif Ulama Kontemporer, N0. 1, vol, 2,( Juni 2015)
Hadi,Muhammad , 2010, Problematika Zakat Profesi Dan Solusinya:
Sebuah Tinjauan Sosiologi HukumIslam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2010
Hafiduddin, Didin. 2002, Zakat dalam Perekonomian Modern. Jakarta:
Gema Insani
Hasan Ali, 2001, Tuntunan Puasa dan Zakat, Jakarta, PT.
GrafindoPersada
Hasbiyallah,2013, Fiqh Dan Ushul Fiqh: Metode Istimbath Dan Istidlal, bandung; PT. Remaja rosdakarya.
Hasyim, Farid, Fiqih Realitas, Jogjakarta: Prima Shopi
Ibnu Rushd, Abu Al-Walid,1996, Bidayah Al Mujtahid, Beirut: Dar Al-Fikr
Majma Lughah Al-Arobiyah, 1872 ,Al-Mu’jam Al-Wasith, Mesir:
Daar Al Ma’arif
Muchtar, Asmaji, 2016, Dialog Lintas Madzhab: Fiqh Ibadah Dan Muamalah, Jakarta: Amzah .
Muhammad Aziz Dan Sholikhah, 2015, Metode Istimbat Hukum Zakat Profesi Perspektif Yusuf AlQordhawi dan ImplikasinyaTerhadapPengembangan Objek Zakat Di Indonesia, Dan Ulul Albab, Vol.16,No 1 tahun 15.
Muhammad, 2007, Aspek Hukum Mu’amalat, Yogyakarta: Graha Ilmu.
Nur Hayati, Sri. 2014, Akuntansi Syaria’ah di Indonesia. Jakarta Salemba Empat.
Qardhawi, Yusuf. 2004, Hukum Zakat cet 7. Jakarta: PT. Pustaka Litera Antar Nusa
Ramayulis, Haji. Profesi dan Etika Keguruan. Jakarta: Kalam Mulia 2013
Sabiq, Sayyid. 2013, Fiqih Sunnah jilid 2. Mataram: Darul Fath Sam,Ichwan, dkk, Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Sejak
1975, erlangga:t.t.
Sapiuddin Shidiq, 2011, Ushul Fiqh, Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Shihab, Quraish, 2000,Tafsir Al-Misbah: Pesan,Kesan Dan Keserasian Al-Qur’an, cet.1,Lentera Hati.
Suharto, Babun. 2013, Zakat untuk Pendidikan. Jember; STAIN Jember prees.
Syahatin, Syauqi Ismail, 1986, Penerapan Zakat Di Dunia Modern, Jakarta: Pustaka Dian Antar Kota.
Syihab, Quraisy,2008, Menjawab 1001 Soal Keislaman Yang Patut Anda Ketahui, Jakarta: Lentera Hati.
Taqiyuddin, Imam, Kifayatul Akhyar. Surabaya: Amarotillah.
Tim emir,2016, panduan zakat terlengkap, penerbit erlangga .
Utomo, Setiawan Budi. 2009, Metode Praktis penetapan Nisab Zakat.
Bandung: PT. Mizan Pustaka.
Zahro, Ahmad, 2016,Fiqh Kontemporer, Cet. 1 Menjawab 111 Masalah Aktual Hukum Islam Di Zamankita,PT. Qof media kreativa.
Zaki, Abdullah, 2002, Ekonomi Dalam Perspektif Islam,Bandung: Cv Pustaka Setia.