P-ISSN: 2722-9270 ejournal.uksw.edu/jms
Parents Empowerment: Seni Mendampingi Anak di Masa Belajar dari Rumah (BDR)
Gamaliel Septian Airlanda Mozes Kurniawan*
Eunice Widyanti Setyaningtyas Elvira Hoesein Radia
Krisma Widi Wardani
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kristen Satya Wacana
A R T I C L E I N F O
Article history:
Received 21-02-2022 Revised 1-03-2022 Accepted 16-03-2022
Key words:
Anak, Belajar dari Rumah, Orang Tua, Parents Empowerment
A B S T R A C T
During this Covid-19 pandemic, learning tends to be done remotely at home. With the increasing involvement of parents in the process of mentoring children Learning from Home, the level of need for assistance to parents also increases to be able to assist children in learning effectively. Some of the symptoms that appear include parental and child boredom, increased parental pressure levels, less conducive parent-child communication, reduced opportunities for strengthening character education and so on. This community service activity is in the form of strengthening the parents of students in: character education, effective communication, reading skills, the art of creativity, and scientific reasoning. The object of the activity is SDN Sumogawe 1, Semarang Regency and SDN Mangunsari 3, Salatiga. The two educational institutions are still struggling to carry out learning during the pandemic so that it can be more integrated (parents, students & teachers), meaningful and fun. This activity is carried out within a period of 12 months from planning activities to reporting the results of activities.
A B S T R A K
Pada masa pandemi Covid-19 ini, pembelajaran cenderung dilakukan jarak jauh di rumah. Dengan meningkatnya keterlibatan orang tua dalam proses pendampingan anak Belajar Dari Rumah (BDR), meningkat pula tingkat kebutuhan pendampingan kepada orang tua untuk dapat mendampingi anak-anak belajar dengan efektif. Beberapa gejala yang muncul seperti kejenuhan orang tua dan anak, tingkat tekanan orang tua yang meningkat, komunikasi orang tua dan anak yang kurang kondusif, berkurangnya peluang penguatan pendidikan karakter dan sebagainya. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat kali ini berbentuk penguatan kepada orang tua peserta didik pada: pendidikan karakter, komunikasi efektif, keterampilan membaca, seni kreativitas, dan penalaran ilmiah. Objek kegiatan yakni SDN Sumogawe 1
*Corresponding author: [email protected]
332
Kabupaten Semarang dan SDN Mangunsari 3 Kota Salatiga.
Kedua lembaga pendidikan tersebut masih berjuang untuk melangsungkan pembelajaran di masa pandemi sehingga bisa lebih terintegrasi (orang tua, siswa & guru), bermakna dan menyenangkan. Kegiatan ini dilangsungkan dalam kurun waktu 12 bulan sejak perencanaan kegiatan hingga pelaporan hasil kegiatan.
PENDAHULUAN
Pada masa pandemi ini, konsep pembelajaran yang biasa dilakukan secara luar jaringan di sekolah masing-masing bergeser menjadi konsep dalam jaringan (daring) untuk mengantisipasi dan memutus penyebaran virus. Dengan dikeluarkannya Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan Dalam Masa Darurat Coronavirus Disease (Covid- 19) dan didukung dengan diterbitkannya Surat Edaran Nomor 15 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar Dari Rumah Dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud, 2020), terjadilah peralihan yang signifikan dan mendesak terhadap model dilaksanakannya pembelajaran. Dengan beralihnya konsep pembelajaran tersebut, terdapat pula pergeseran fungsi dan beban dari yang seyogyanya diterima oleh warga sekolah beralih ke keluarga (orang tua). Titik fokus dari diterbitkannya pedoman tersebut adalah pemenuhan hak peserta didik untuk mendapatkan layanan pendidikan selama masa pandemi dipastikan terpenuhi, warga satuan pendidikan terlindungi dari dampak buruk Covid-19, pencegahan penyebaran dan penularan virus tersebut di satuan pendidikan dan memastikan pemenuhan dukungan psikososial bagi pendidik, peserta didik, dan orang tua.
Konsep belajar yang dilakukan di rumah masing-masing peserta didik dikenal dengan Belajar dari Rumah (BDR). Program BDR membuat orang tua menjalankan perannya dengan lebih intensif yakni menjadi pendidik pertama, utama dan terdekat bagi anak (Yulianingsih et al, 2021), yang diharapkan dari konsep pembelajaran ini adalah guru sebagai perancang alur pembelajaran menentukan kisi-kisi umum dari kegiatan belajar di rumah yang sudah sesuai dengan kurikulum untuk jenjang pendidikan tersebut. Guru bekerjasama dengan orang tua sebagai fasilitator lapangan di rumah untuk bisa mendampingi pembelajaran. Orang tua pun dapat dikatakan sebagai pengganti guru dalam proses BDR (Wardani & Ayriza, 2020). Orang tua diijinkan untuk menyesuaikan konten pembelajaran dengan sumber daya yang ada di lingkungan rumah, mengembangkan dan memperkaya pembelajaran.
Namun, harapan tersebut tidak sepenuhnya terpenuhi. hal yang muncul yakni bertambahnya tantangan yang dihadapi guru terlebih orang tua dalam proses BDR ini (gusriani & Fauziddin, 2021). Kegiatan BDR diselenggarakan secara daring, luring
333
dengan pola kegiatan terstruktur yang disiapkan sekolah dan/atau campuran antara daring dan luring. Kegiatan belajar tersebut tentu menjadi tanggung jawab dan perhatian orang tua ketika dilakukan di rumah. Tanggung jawab tersebut bisa saja menjadi berat ketika belum adanya kesiapan belajar dari rumah. Bagaimana orang tua membimbing, memfasilitasi dan mengarahkan anak selama belajar di rumah dengan sarana pembelajaran online dan materi dari sekolah berpengaruh pada bagaimana reaksi, perkembangan dan kemajuan pembelajaran anak. Orang tua harus berkoordinasi dan mengirimkan laporan pembelajaran ke guru dan berbagai jenis komunikasi intensif lainnya (Wardhani & Krisnani, 2021). Tidak semua orang tua siap melaksanakan dua peran yakni menjadi orang tua dan menjadi guru dalam waktu bersamaan ketika BDR (Epstein & Becker, 2018).
Tantangan lain yang juga dirasakan oleh orang tua dalam pendampingan anak di masa BDR yakni keterbatasan kemampuan mereka dalam mengoperasikan gadget (Wardani & Ayriza, 2020). Smatrphone, laptop, tablet merupakan beberapa gadget yang pada dasarnya mendukung pembelajaran BDR, namun keterbatasan penguasaan gadget orang tua menjadi penghambat optimalisasi penggunaan teknologi yang dapat diakses jarak jauh ini (Hutami & Nugraheni, 2020). Selain itu, keterbatasan pengetahuan orang tua dalam mengajar anak tentang tema atau materi yang diberikan sekolah. Hal ini membuat orang tua merasa terbebani karena harus belajar terlebih dahulu dan mengajar anak materi tersebut. Bagi orang tua yang juga merupakan pekerja, tentu waktu dan tenaga untuk melakukan dua proses tersebut menjadi beban tersendiri. Oleh karena itu, tidak jarang orang tua yang seharusnya semakin dekat dan erat dengan anak karena intensitas jumpa yang lebih tinggi menjadi bersitegang dan bertengkar karena kurang mampunya mengatasi berbagai kendala yang muncul (Astuti
& Harun, 2021; Zulfitria, Ansharullah & Pratami, 2020).
Berdasarkan analisa situasi secara umum yang ditangkap, tim pengusul kegiatan pengabdian kepada masyarakat memilih dua sekolah yakni SDN Sumogawe 1 Kabupaten Semarang dan SDN Mangunsari 3 Kota Salatiga yang memiliki keluhan dari tantangan BDR tersebut untuk menjadi objek dilaksanakannya kegiatan penguatan orang tua dalam mendampingi anak di masa BDR. Secara umum selain dijumpainya permasalahan yang sejenis, pemilihan dua sekolah ini didasari dari rencana pelaksanaan metode kegiatan yang menggunakan kekuatan satu pihak untuk menjadi inspirasi bagi pihak lain. SDN Sumogawe 1 menghadapi kondisi pembelajaran daring yang terkendala khususnya perangkat dan jaringan telekomunikasi. Pembelajaran yang dilakukan secara luring oleh sekolah tersebut masih perlu penguatan. Sementara itu, SDN Mangunsari 3 merupakan sekolah mitra FKIP UKSW yang telah beberapa kali bekerjasama dalam peningkatan kualitas pendidikan. Sekolah yang juga mengalami tantangan yang sama khususnya dalam membangun komunikasi dan hubungan mutual antara guru, orang tua dan peserta didik perlu penguatan sehingga tantangan tersebut tidak menurunkan performa dan kualitas
334
proses pembelajaran anak. Terdapat beberapa fokus penguatan antara lain pada area Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), komunikasi efektif, keterampilan membaca &
menulis gaya bahasa media komunikasi (WhatsApp), seni - kreativitas, dan penalaran ilmiah.
Secara umum latar belakang dilakukannya kegiatan ini nampak dari kebutuhan kedua mitra kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang tersaji dalam tabel 1.
Tabel 1. Analisis Permasalahan dan Solusi Mitra Kegiatan Parents Empowerment
No Permasalahan Mitra Solusi yang di tawarkan
1 Peran orang tua yang semakin sangat dibutuhkan di masa BDR
Kegiatan PM sebagai wadah untuk meningkatkan kesadaran orang tua terhadap kondisi dan kebutuhan itu
2
Beberapa kendala dari kondisi orang tua yang membuat pendampingan belajar anak
Kegiatan PM sebagai sarana penguatan orang tua pada aspek literasi (membaca/menulis) digital, komunikasi dengan anak, dan pendidikan karakter
3 Minimnya konsep yang dimiliki orang tua dalam ilmu pedagogi dan konten
Dosen dapat memberikan penguatan pemahaman tentang konten seni dan kreativitas, penalaran ilmiah dan tips pengajaran di rumah
4
Anak membutuhkan sosok guru yang tidak bisa ditemui secara fisik di masa BDR, sehingga tergantikan oleh orang tua
Dosen memiliki peluang untuk memberi pendampingan kepada orang tua. Dosen sebagai jembatan komunikasi antara sekolah dan orang tua, yaitu berada di posisi netral yang dapat memediasi dua pihak
METODE PELAKSANAAN
Pengabdian kepada masyarakat ini akan dilakukan di dua sekolah dengan konsep pelatihan tatap muka. Namun, tim akan menyesuaikan jika kondisi mitra kegiatan tidak memungkinkan. Terdapat beberapa tahapan pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat sehingga dapat menjawab kebutuhan mitra kegiatan.
Pertama, inisiasi dan sosialisasi kegiatan penguatan orang tua dilakukan sebagai langkah awal. Pada tahap ini, tim pengabdian kepada masyarakat akan berkoordinasi dengan kedua sekolah mitra kegiatan dalam mempersiapkan kegiatan penguatan seperti sosialisasi konsep kegiatan, target dan luaran yang dapat dilakukan, dan pembagian peran kerja antara tim pengabdian kepada masyarakat dan pihak sekolah mitra. Tim pengabdian kepada masyarakat yang terdiri dari 5 orang dosen FKIP UKSW akan menjadi pengisi kegiatan penguatan sesuai dengan komponen penguatan yang disasar. Pihak mitra kegiatan dari dua sekolah akan menjadi nara hubung dengan orang tua dan pemrakarsa kegiatan parents meeting sebagai puncak kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Kedua, kegiatan dilanjutkan dengan penguatan orang tua siswa secara hybrid (daring dan luring). Dalam kegiatan ini akan disampaikan secara terjadwal beberapa topik penguatan orang tua dalam pendampingan anak. Topik yang disajikan antara lain: 1) Penguatan Pendidikan Karakter (oleh Krisma Widi Wardani, S.Pd., M.Pd.), 2)
335
komunikasi efektif (oleh Mozes Kurniawan, S.Pd., M.Pd., 3) keterampilan membaca dan menulis gaya bahasa media komunikasi (oleh Eunice W. Setyaningtyas, S.Pd., M.Pd.), 4) seni dan kreativitas (Elvira H. Radia, S.Pd., S.Mus., M.Pd.), dan 5) penalaran ilmiah (Gamaliel S. Airlanda, S.Pd., M.Pd.). Kegiatan dilaksanakan selama kisaran dua – tiga bulan secara intensif jika terdapat ketersediaan waktu dari orang tua yang mengikuti kegiatan. Kegiatan penguatan untuk satu sekolah dan sekolah lain dilakukan di waktu yang berbeda maksimal satu atau dua bulan sebelum diselenggarakannya parents meeting di akhir kegiatan penguatan. Metode fasilitasi berbasis pendampingan secara langsung diadaptasi dari pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang sudah pernah terjadi di lokasi kegiatan pada tahun-tahun sebelumnya (Anugraheni, Kurniawan, Radia & Setyaningtyas, 2020).
Ketiga, kegiatan parents meeting sekolah dikerjakan sebagai penutupan rangkaian kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini. Kegiatan parents meeting ini merupakan puncak kegiatan penguatan orang tua. Kegiatan ini akan diisi oleh pihak sekolah yang akan memberikan simpulan umum dari pelaksanaan kegiatan penguatan, arahan dari pihak sekolah mengenai konsep pembelajaran dan peningkatan keterlibatan semua pihak dalam pembelajaran anak dan pemberian informasi desain pelaksanaan pembelajaran pada semester/tahun ajaran selanjutnya atau diskusi kelembagaan. Kegiatan parents meeting ini diharapkan dapat selaras dengan hasil pelaksanaan kegiatan penguatan yang mewadahi komunikasi formasi sekolah dengan orang tua sehingga kendala yang dihadapi dapat diatasi, aspirasi orang tua dapat dipertimbangkan dan pembelajaran di masa depan akan semakin bermakna.
Kemudian, dilakukanlah evaluasi pelaksanaan kegiatan dan tindak lanjut.
Kegiatan evaluasi kegiatan ini merupakan satu bagian di luar interaksi penguatan dengan orang tua. Kegiatan evaluasi ini dilakukan sebagai sarana penjaminan mutu pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat sehingga dalam praktik pelaksanaan kegiatan ini jika ada aspirasi dari peserta kegiatan dan mitra sekolah dapat menjadi masukan berarti untuk pengembangan kegiatan pengabdian kepada masyarakat serupa di masa depan. Evaluasi dilanjutkan dengan tindak lanjut yaitu melakukan publikasi hasil evaluasi untuk diketahui bersama semua pihak yang terlibat dalam kegiatan dan menjadi inspirasi untuk pengembangan dan pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat lanjutkan (jika diperlukan).
Secara umum, terdapat beberapa target yang berdasarkan rencana akan dicapai dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, yaitu:
1. Dua sekolah dasar mitra sebagai wadah subjek yang dituju oleh tim, yaitu SDN Mangunsari 3 Salatiga dan SDN Sumogawe 1 terlibat dalam kegiatan penguatan orang tua (parents’ empowerment) dan menjadikan kegiatan ini sebagai wadah komunikasi untuk meningkatkan kerjasama dengan orang tua dalam pendampingan anak belajar dari rumah.
336
2. Sekumpulan orang tua siswa di 2 SD mitra yang disebutkan, minimal adalah orang tua dari satu tingkat kelas siswa yang terlibat dalam kegiatan penguatan.
Orang tua semakin memahami dasar pendampingan anak untuk beberapa komponen dan berdiskusi untuk alternative solusi masalah yang dihadapi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Inisiasi dan Sosialisasi Kegiatan Penguatan Pendampingan Orang Tua
Koordinasi untuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini telah terlaksana dengan cara menghubungi kedua kepala sekolah, dilanjutkan dengan penjelasan pembagian peran maupun kerja antara pihak fasilitator yaitu sebagai pemberi dan penyampai bahan / materi penguatan, dengan pihak sekolah yaitu sebagai penyedia sarana tempat pelaksanaan dan koordinasi dengan peserta.
Kegiatan Penguatan Orang Tua Siswa secara Daring
Dalam pelaksanaan kegiatan pendampingan orang tua, terdapat beberapa materi yang perlu disajikan berdasarkan kebutuhan lembaga yang menjadi objek pengabdian kepada masyarakat. Kebutuhan penguatan karakter di masa BDR menjadi salah satu sorotan yang diikuti dengan pola komunikasi dan penggunaan bahasa dalam pendampingan pembelajaran. Selain itu, penguatan keterampilan mendampingi belajar dari sisi pendampingan seni da penalaran juga dinilai dapat menjadi kontribusi baik bagi sekolah. Berikut merupakan tahap-tahap pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat berdasarkan tema materi beserta hasil yang dicapai.
1. Penalaran Ilmiah Bagi Orang Tua di Masa BDR
Ilmu pengetahuan yang berkembang hingga saat ini bersifat literatif dan melibatkan pemikiran yang kritis serta logis dari sebuah data empirik. Untuk dapat memiliki model pemikiran yang kritis, kemampuan penalaran ilmiah menjadi sangat penting. Penalaran ilmiah merupakan keterampilan sistematis untuk mendapatkan pengetahuan yang berupa konsep, fakta dan prinsip. Dalam penyelidikan sebuah masalah hingga mendapatkan kesimpulan hingga menjadi sebuah fakta diperlukan proses atau pemahaman dalam permasalahan. Keterampilan penalaran ilmiah sangat diperlukan untuk menyelesaikan masalah terutama pandangan mengenai lingkungan dan alam, berpikir bagaimana sebuah fenomena dapat terjadi dan hal-hal yang perlu dilakukan untuk menjadi sebuah solusi. Keuntungan dari kemampuan penalaran ilmiah adalah kemampuan untuk menjelaskan suatu konsep dengan baik, siswa, membuat suatu argumentasi untuk membantu mengembangkan pemahaman yang kuat dari suatu konten pengetahuan. Artinya, keterampilan penalaran ilmiah sangat diperlukan sebagai bekal bagi dalam memberikan alasan terhadap suatu opini ataupun fakta serta segala fenomena yang terjadi di alam sehingga dapat memberikan kesimpulan dan memutuskan tindakan yang harus dilakukan. Keterampilan penalaran
337
ilmiah memungkinkan individu untuk menangani situasi baru dan merancang penyelidikan serta memecahkan masalah ilmiah, dan sosial di dunia nyata.
Kemampuan penalaran ilmiah dalam sistem pendidikan di Indonesia umumnya diberikan dalam pembelajaran di sekolah yang dituangkan dalam kurikulum. Dengan tujuan untuk memberikan rangsangan kepada peserta didik agar dapat menggunakan penalaran dalam melihat segala fenomena atau situasi yang terjadi. Stimulasi dan pengembangan penalaran ilmiah siswa di sekolah biasanya diberikan oleh guru atau pendidik, namun selama masa BDR guru mengalami kesulitan dalam mengembangkan kemampuan penalaran ilmiah siswa secara langsung. Sedangkan banyak pula dari orang tua yang tidak memiliki kapabilitas dan kesadaran untuk turut mengembangkan kemampuan penalaran ilmiah anak selama masa BDR dengan berbagai alasan seperti orang tua meyakini secara penuh bahwa mendidik anak mengenai materi pembelajaran adalah tugas guru sekolah, orang tua kekurangan media atau bahan ajar, orang tua merasa bahwa ia tidak memiliki kemampuan untuk mendidik anak terkait mata pelajaran. Oleh karena itu salah satu tujuan dilaksanakannya pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk memberikan penguatan kepada orang tua agar orang tua memiliki sedikit banyak konsep dan cara untuk mengembangkan kemampuan berpikir anak selama masa BDR.
Namun pada saat dilakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, kita tengah menjalani masa PPKM. Kita mengira PPKM hanya berlaku untuk beberapa hari saja namun nyatanya PPKM masih terus berlanjut dan diperpanjang hingga terakhir tanggal 7 September 2021 lalu. Sehingga rencana awal terkait pengabdian kepada masyarakat yang hendaknya akan dilakukan secara luring atau tatap muka di sekolah harus diadakan via WhatsApp bersama dengan tim dosen UKSW, Mahasiswa UKSW, guru, dan orang tua siswa.
2. Literasi Membaca Bagi Orang Tua Siswa di Masa BDR
Gambar 1. Peserta Orang Tua Aktif Mengikuti Kegiatan PkM
338
Membaca merupakan kunci untuk mempelajari segala ilmu pengetahuan, termasuk informasi dan petunjuk sehari-hari yang berdampak besar bagi kehidupan.
Semakin beragam jenis bacaan yang dibaca, memungkinkan kita untuk mengenal sesuatu yang belum pernah kita ketahui. Hal ini tentu akan memperluas pandangan dan membuka lebih banyak pilihan baik dalam hidup. Gerakan literasi membaca semakin aktif dikembangkan di sekolah-sekolah khususnya. Karena sekolah sebagai tempat menimba ilmu pengetahuan yang diharapkan dapat melahirkan banyak generasi muda yang unggul dan cerdas.
Namun, saat ini di saat sedang gencarnya belajar dengan menggiatkan literasi situasi secara global berubah karena terdapat wabah yang memakan banyak korban.
Wabah pandemi tersebut tidak memungkinkan melakukan aktivitas di luar dengan banyak orang atau dalam bentuk massa. Situasi tersebut membuat kegiatan yang berjalan normal harus berubah mengikuti situasi yang ada seperti sekolah harus tutup sehingga membuat siswa tidak melakukan pembelajaran di sekolah seperti biasanya sama halnya dengan berbagai pihak yang lain. Selama terjadinya masa pandemi maka pemanfaatan digital sangat berperan yaitu semua aktivitas dilakukan secara daring dengan pemanfaatan teknologi.
Pada saat dilakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, kita tengah menjalani masa PPKM. Dikarenakan masa PPKM terus diperpanjang, pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat Parents Empowerment yang semula melibatkan kedua sekolah secara langsung dalam satu waktu dan lokasi harus berubah menjadi pelaksanaan secara hybrid. Orang tua siswa SDN Sumogawe 1 hadir dengan protokol kesehatan di lokasi kegiatan sementara orang tua siswa SDN Magunsari 3 mengikutinya secara daring dengan fasilitas yang disediakan oleh tim pelaksana kegiatan FKIP UKSW.
3. Komunikasi Efektif melalui Metode Asterif bagi Orang Tua
Sebagai makhluk sosial, komunikasi merupakan unsur penting dalam kehidupan manusia. Kegiatan komunikasi akan timbul jika seorang manusia mengadakan
Gambar 2. Pelaksanaan Kegiatan PkM Parents Empowerment
339
interaksi dengan manusia lain, jadi dapat dikatakan bahwa komunikasi timbul sebagai akibat adanya hubungan sosial. Pengertian tersebut mengandung arti bahwa komunikasi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan umat manusia, baik sebagai individu maupun kelompok.
Kata komunikasi atau communication dalam bahasa inggris berasal dari bahasa latin communis yang artinya “sama”, communico, communication, atau communicare yang berarti “membuat sama” (to make common). Istilah pertama (communis) adalah istilah yang paling sering sebagai asal-usul kata komunikasi, yang merupakan akar dari kata-kata Latin lainnya yang mirip. Komunikasi menyarankan bahwa suatu pikiran, suatu makna, atau suatu pesan dianut secara sama. Komunikasi efektif adalah pertukaran informasi, ide, perasaan yang menghasilkan perubahan sikap sehingga terjalin sebuah hubungan baik antara pemberi pesan dan penerima pesan. Pengukuran efektivitas dari suatu proses komunikasi dapat dilihat dari tercapainya tujuan dari pengirim pesan.
Masalah-masalah yang dihadapi orang tua seperti karakter anak dalam berkomunikasi, kurangnya respon anak dalam komunikasi, kebingungan orang tua mengenai cara komunikasi yang terbaik dapat dijembatani dengan komunikasi efektif khususnya strategi komunikasi asertif dimana orang tua tetap tegas sementara tidak melupakan aspek memahami lawan bicaranya. Komunikasi ini diusulkan untuk dapat diaplikasikan sehingga orang tua tahu kebutuhan anak sembari tetap memandu anak dengan kejelasan arahan.
4. Penguatan Pendidikan Karakter Anak di Rumah
Karakter yang baik lahir dari pendidikan yang baik. Setiap anak tentunya memiliki karakter yang berbeda-beda dan cara untuk mendidiknya juga tentu berbeda.
Pendidikan karakter merupakan hal yang begitu penting ditanamkan sejak anak usia dini. Penanaman karakter yang baik sejak anak usia dini akan berpengaruh dan berdampak untuk kehidupan mereka kelak. Penanaman karakter yang baik dimulai dari keluarga.
Tanggung jawab sebagai orang tua tentunya tidaklah mudah apalagi menghadapi anak-anak pada zaman ini. Dengan adanya Covid-19 saat ini membuat orang tua semakin tertantang, dimana orang tua harus mendampingi anak-anak 24 jam termasuk saat anak-anak sekolah daring. Mendampingi anak-anak belajar dari rumah menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua dan mengharuskan orang tua untuk belajar banyak hal. Tidak bisa dipungkiri pastinya orang tua menemukan dan mengalami banyak kesulitan dalam menumbuhkan karakter yang baik.
340
Namun dengan kita mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, sejenak kita diajak bermenung bagaimana cara kita/orang tua mengajari, mendampingi, mendidik anak-anak selama belajar dari rumah. Pun juga orang tua semakin menyadari nilai-nilai karakter baik yang dimiliki anak dan juga sikap/karakter tidak baik yang ditemukan dari diri anak.
Analisis Permasalahan Mitra, Solusi dan Dampak Kegiatan Parents Empowerment
Berdasarkan uraian pelaksanaan kegiatan dan materi di atas, maka program pengabdian kepada masyarakat yang telah dilakukan ini menjawab persoalan seperti yang telah diobservasi. Tabel 2 menyajikan analisis permasalahan mitra hingga dampak kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Tabel 2. Analisis Permasalahan Mitra dan Dampak Kegiatan
No Permasalahan Mitra Solusi yang ditawarkan Dampak Kegiatan (Kebermanfaatan)
1
Peran orang tua yang semakin sangat dibutuhkan di masa BDR
Meningkatkan kesadaran orang tua terhadap kondisi dan kebutuhan itu
Orang tua, setelah mengikuti kegiatan penguatan merasa lebih memahami bahwa peran di masa BDR perlu dikerjakan dengan serius dan terfokus
2
Ada kendala kurangnya pengetahuan dari kondisi orang tua yang membuat pendampingan belajar anak kurang
Kegiatan PM sebagai sarana penguatan orang tua pada aspek literasi (membaca/menulis) digital, komunikasi dengan anak, dan pendidikan karakter
Orang tua mengikuti diskusi dan menyatakan peningkatan pemahaman mengenai berbagai topik seperti karakteristik anak, komunikasi, penalaran dan seni mendampingi belajar di rumah
3
Minimnya konsep yang dimiliki orang tua dalam ilmu pedagogi dan konten
Dosen dapat memberikan penguatan pemahaman tentang konten seni dan kreativitas, penalaran
Orang tua telah dibekali dengan pengetahuan model komunikasi, literasi membaca, dan penalaran ilmiah sehingga menambah Gambar 3. Penyampaian Materi dalam Kegiatan PkM
341 ilmiah dan tips pengajaran
di rumah
pengetahuan orang tua dalam mendidik dan membimbing anaknya.
4
Anak membutuhkan sosok guru yang tidak bisa ditemui secara fisik di masa BDR, sehingga tergantikan oleh orang tua
Dosen memiliki peluang
untuk memberi
pendampingan kepada orang tua. Dosen sebagai jembatan komunikasi antara sekolah dan orang tua, yaitu berada
Telah dilakukan sesi pendampingan berkala melalui media yang disepakati dan terjadi komunikasi termasuk sesi berbagi konsep materi dan pembahasan permasalahan yang dihadapi orang tua. Orang tua semakin mengerti akar permasalahan dan dapat mulai melakukan penanganan
SIMPULAN
Berdasarkan kondisi awal sekolah mitra SDN Sumogawe 1 Kabupaten Semarang dan SDN Mangunsari 3 Salatiga, nampak bahwa terdapat kendala yang dihadapi pada saat pembelajaran jarak jauh di rumah-masing-masing melalui mode Belajar dari Rumah (BDR). Kegiatan BDR diselenggarakan secara daring, luring dengan pola kegiatan terstruktur yang disiapkan sekolah dan/atau campuran antara daring dan luring. Kegiatan belajar tersebut tentu menjadi tanggung jawab dan perhatian orang tua ketika dilakukan di rumah. Tanggung jawab tersebut bisa saja menjadi berat ketika belum adanya kesiapan belajar dari rumah. Bagaimana orang tua membimbing, memfasilitasi dan mengarahkan anak selama belajar di rumah dengan sarana pembelajaran online dan materi dari sekolah berpengaruh pada bagaimana reaksi, perkembangan dan kemajuan pembelajaran anak.
Dengan dilaksanakannya kegiatan parents empowerment dalam upaya penguatan keterampilan mendampingi anak di masa BDR, nampak bahwa orang tua merespon kegiatan dengan baik. Tidak hanya respon baik yang muncul, orang tua yang dalam proses pelatihan mengimplementasikan berbagai pengetahuan dalam mendampingi anak merasakan manfaat dan dampak baik keikutsertaan kegiatan ini.
Orang tua semakin paham cara menilai karakter yang dapat berbuah pada respon yang disesuaikan karakter anak. Mereka juga memperoleh berbagai tips berkomunikasi efektif dan pengembangan penalaran dan kegiatan seni bagi anak di rumah. Terlepas dari keterbatasan yang ada dalam kegiatan ini seperti waktu dan intensitas pendampingan orang tua yang masih kurang, secara umum kegiatan ini memiliki dampak yang dinilai baik bagi penguatan keterampilan mendampingi anak belajar di rumah.
DAFTAR PUSTAKA
Agusriani, A. & Fauziddin, M. (2021). Strategi Orang tua Mengatasi Kejenuhan Anak Belajar dari Rumah Selama Pandemi Covid-19. Jurnal Obsesi: Jurnal
342
Pendidikan Anak Usia Dini, 5(2), 2021.
https://doi.org/10.31004/obsesi.v5i2.961
Anugraheni, I., Kurniawan, M., Radia, E. H., & Setyaningtyas, E. W. (2020).
Pendidikan dan Pelatihan Pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran berbasis Bahasa Nasional dan Internasional Baku bagi Guru PAUD dan SD di Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian
Masyarakat, 3(4).
https://jurnalfkip.unram.ac.id/index.php/JPPM/article/view/2294
Astuti, I.Y., Harun. (2021). Tantangan Guru dan Orang Tua dalam Kegiatan Belajar Dari Rumah Anak Usia Dini pada Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Obsesi:
Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5(2), 1441-1463.
Epstein, J. L., & Becker, H. J. (2018). Teachers’ Reported Practices of Parent Involvement: Problems and Possibilities. School, Family, and Community Partnerships, Student https://doi.org/10.4324/9780429493133
Hutami, M. S., & Nugraheni, A. S. (2020). Metode Pembelajaran Melalui Whatsapp Group Sebagai Antisipasi Penyebaran Covid-19 pada AUD di TK ABA Kleco Kotagede. Paudia: Jurnal Penelitian Dalam Bidang Pendidikan Anak Usia Dini, 9(1), 126–130.
Kemendikbud. (2020). Kemendikbud Terbitkan Pedoman Penyelenggaraan Belajar
dari Rumah. Diakses dari:
https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2020/05/kemendikbud-terbitkan- pedoman-penyelenggaraan-belajar-dari-rumah
Wardani, A. & Ayriza, Y. (2020). Analisis Kendala Orang Tua dalam Mendampingi Anak Belajar di Rumah Pada Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Obsesi : Jurnal
Pendidikan Anak Usia Dini, 5(1), 2021.
https://doi.org/10.31004/obsesi.v5i1.705
Wardani, A., & Ayriza, Y. (2020). Analisis Kendala Orang Tua dalam Mendampingi Anak Belajar di Rumah Pada Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5(1), 772.
Wardhani, T.Z.Y & Krisnani, K. (2020). Optimalisasi Peran Pengawasan Orang Tua dalam Pelaksanaan Sekolah Online di Masa Pandemi Covid-19. Prosiding Penelitian & Pengabdian Kepada Masyarakat, 7(1), 2020.
https://jurnal.unpad.ac.id/prosiding/article/download/28256/pdf
Yulianingsih, W., Suhanadji, Nugroho, & R., Mustakim. (2021). Keterlibatan Orang tua dalam Pendampingan Belajar Anak selama Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5(2), 1138-1150
Zulfitria, Ansharullah, Pratami, C.A. (2020). Pentingnya Peran Orang Tua dalam Pendampingan Pembelajaran Daring di Masa Pandemi Covid-19. Prosiding
Seminar Nasional Penelitian LPPM UMJ.
http://jurnal.umj.ac.id/index.php/semnaslit.