• Tidak ada hasil yang ditemukan

jurnal review KLL Daniel.docx

N/A
N/A
Faisal Rahmad

Academic year: 2025

Membagikan "jurnal review KLL Daniel.docx"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Review:

An Autopsy Study of Road Traffic Accident Cases at Tertiary Care Center, Mandya, Karnataka

Modul:

Kecelakaan Lalu Lintas

Oleh:

Daniel Tristo 130621240001

Pembimbing:

dr. Temmy Mahendra, Sp. FM

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS - I

ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN STUDI MEDIKOLEGAL FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN

RUMAH SAKIT Dr. HASAN SADIKIN BANDUNG 2025

(2)

REVIEW JURNAL

Identitas Jurnal

Judul : An Autopsy Study of Road Traffic Accident Cases at Tertiary Care Center, Mandya, Karnataka

Penulis : Rakshitha B.M., Chinmayi Y., Vijay Kumar, Kumar U.

Tahun : 2023

Jurnal : International Journal of Research in Medical Sciences

ABSTRAK

Latar belakang: Kecelakaan lalu lintas merupakan krisis global yang meluas yang mengakibatkan hilangnya jutaan nyawa dan banyaknya cedera setiap tahunnya. Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO), lebih dari 1,3 juta orang meninggal dalam kecelakaan lalu lintas setiap tahun, dan 20-50 juta lainnya mengalami cedera atau cacat. Tujuannya adalah untuk mempelajari pola demografi dalam kasus KLL di dan sekitar AIMS BG Nagar, India.

Metode: Penelitian ini merupakan studi cross-sectional dari semua nekropsi medikolegal kecelakaan lalu lintas. Data dikumpulkan antara Januari 2022 hingga Juni 2023 di kamar jenazah departemen kedokteran forensik dan toksikologi, AIMS, BG Nagar, dan Karnataka, India. Data yang terkumpul dianalisis.

Hasil: Selama periode penelitian 117 (40,20%) merupakan kecelakaan lalu lintas, menurut penelitian ini kecelakaan lalu lintas lebih banyak 30 (25,64%) pada kelompok usia lanjut dan laki-laki 105 (89,74%) yang paling banyak terkena dampaknya. Mayoritas kecelakaan 41 (35%) terutama terjadi pada sore hingga tengah malam di jalan raya 65 (55,55%), kendaraan ringan (37,61%) paling sering terlibat dalam kecelakaan lalu lintas dan lokasi cedera yang paling umum adalah kepala 98 (83,76%), dan penyebab kematian adalah karena perdarahan intrakranial (49,57%) dan di antara pola perdarahan intrakranial kami mengamati sejumlah besar (32,47%) kombinasi perdarahan subdural dan perdarahan sub-araknoid.

Kesimpulan: Melalui penelitian ini kami ingin menciptakan kesadaran dan menerapkan langkah-langkah keselamatan untuk mencegah KLL.

Kata kunci: Profil demografi, Cedera kepala, Kecelakaan lalu lintas.

1

(3)

PENDAHULUAN

Kecelakaan lalu lintas merupakan krisis global yang meluas yang mengakibatkan hilangnya jutaan nyawa dan banyaknya cedera setiap tahunnya. Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO), lebih dari 1,3 juta orang meninggal dalam kecelakaan lalu lintas setiap tahun, dan 20-50 juta lainnya mengalami cedera atau cacat. Di seluruh dunia, cedera lalu lintas jalan raya merupakan penyebab tingkat kematian akibat cedera tertinggi. Dengan semakin banyaknya kendaraan di jalan raya, sangat penting untuk mengutamakan keselamatan guna mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan ini tidak hanya dapat menyebabkan cedera parah atau bahkan kematian, tetapi juga berdampak pada perekonomian secara keseluruhan. Selama tahun 2021, total kasus pelanggaran lalu lintas tercatat sebanyak 4.03.116 kasus 'kecelakaan lalu lintas' dilaporkan mengakibatkan 3.71.884 orang terluka dan 1.55.622 orang meninggal. Oleh karena itu, Kementerian Jalan Raya dan Jalan Tol telah mengambil berbagai inisiatif termasuk yang terkait dengan teknik kendaraan dan jalan serta langkah-langkah pendidikan untuk meningkatkan kesadaran di bidang keselamatan jalan. Dengan latar belakang ini penelitian ini dilakukan untuk memastikan profil sosio-demografi korban, untuk menilai pola cedera yang menyebabkan kematian akibat kecelakaan lalu lintas, penyebab kematian dan faktor risiko yang bertanggung jawab atas kecelakaan lalu lintas korban dengan mengumpulkan informasi dari kamar mayat departemen kedokteran forensik dan toksikologi, AIMS, BG Nagar, Mandya, Karnataka.

METODE Desain studi:

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, retrospektif dan cross sectional.

Daerah studi:

Institut Ilmu Kedokteran Adichunchanagiri BG Nagara, yang terletak di Nagamangala Taluk, distrik Mandya, negara bagian Karnataka, adalah rumah sakit pendidikan perawatan tersier tempat penelitian saat ini dilakukan.

Periode studi:

Penelitian ini dilakukan sejak tanggal 1 Juni 2023 hingga 31 Oktober 2023.

Kriteria inklusi:

Seluruh otopsi medis legal kasus kecelakaan lalu lintas yang dilakukan pada periode Januari 2022 sampai dengan Juni 2023.

Kriteria eksklusi:

Kasus selain kecelakaan lalu lintas dan catatan kasus kecelakaan lalu lintas yang tidak 2

(4)

lengkap.

Pengumpulan data:

Proforma yang telah diuji coba sebelumnya digunakan. Studi ini merupakan studi cross sectional yang mencakup semua nekropsi KLL yang dilakukan antara Januari 2022 hingga Juni 2023 di kamar jenazah departemen kedokteran forensik dan toksikologi, AIMS, BG Nagar, Mandya, Karnataka. Informasi yang dibutuhkan seperti distribusi usia dan jenis kelamin, waktu terjadinya kecelakaan, profil korban, kendaraan yang terlibat, distribusi fraktur, distribusi cedera eksternal, dan pola trauma kranioserebral dipelajari dari laporan postmortem. Untuk mencatat pengamatan studi ini secara akurat, proforma yang komprehensif dirumuskan.

Persetujuan etis:

Penelitian ini disetujui oleh komite etik institusional AIMS.

Ukuran sampel:

Jumlah total 117 kasus kecelakaan lalu lintas selama periode Januari 2022 sampai dengan Juni 2023.

Analisis statistik:

Data yang terkumpul dimasukkan ke dalam spreadsheet excel. Statistik deskriptif seperti mean, frekuensi dan persentase dihitung menggunakan program SPSS versi 22. Hasil analisis kemudian ditampilkan sebagai Tabel dan Gambar yang relevan.

HASIL

Selama masa penelitian, 291 otopsi medikolegal dilakukan di kamar mayat AIMS, BG Nagar, Mandya, Karnataka, korban yang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas berjumlah 117 kasus atau sebesar 40,20%.

Gambar 1: Distribusi jenis kelamin kasus KLL.

3

(5)

Dari 117 korban diamati bahwa 105 (89,74%) korban adalah laki-laki dan 12 (10,25) adalah perempuan seperti yang ditunjukkan pada (Gambar 1).

Gambar 2: Waktu terjadinya kecelakaan lalu lintas.

Dalam kajian ini, ditemukan bahwa kecelakaan lalu lintas jalan raya sebagian besar terjadi pada jam-jam menjelang malam antara pukul 6 petang hingga 12 malam, meliputi 35% dari total kasus yang teramati, diikuti oleh sore hari 29%, pagi hari 17%, malam hari 12% dan tidak diketahui 7% (Gambar 2).

Dalam penelitian ini, bulan April (13,67%) dan Juni (13,67%) mencatat insiden kecelakaan lalu lintas tertinggi, sedangkan bulan Januari (10,25%) dan Maret (10,25%) menyusul dengan angka yang hampir sama. Jumlah kasus terendah, seperti yang diilustrasikan dalam (Gambar 3), tercatat pada bulan November (3,57%).

Gambar 3: Distribusi kasus KLL berdasarkan bulan.

4

(6)

Tabel 1: Distribusi usia dan jenis kelamin kecelakaan lalu lintas . Kelompok umur

(dalam tahun) Jumlah kasus %

10-19 3 2.564

20-29 29 24.78

30-39 21 17.94

40-49 16 13.67

50-59 18 15.38

> 60 30 25.64

Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa jumlah korban KLL tertinggi berada pada kelompok usia >60 tahun dengan 27 kasus (25,64%). Disusul kelompok usia 20-29 tahun dengan 29 kasus (24,78%), 30-39 tahun dengan 21 kasus, 50-59 tahun dengan 18 kasus (15,38%), 40-49 tahun dengan 16 kasus (13,67%), dan 10-19 tahun dengan 3 kasus (2,564%), seperti yang ditunjukkan pada (Tabel 1).

Jumlah kecelakaan lalu lintas tertinggi terjadi pada pemeluk agama Hindu dengan 108 kasus (92,30%), diikuti oleh pemeluk agama Islam dengan 5 kasus (4,273%) dan 4 kasus (3,418%) yang tidak diketahui (Tabel 2). Kendaraan ringan merupakan jenis kendaraan yang paling sering terlibat dalam kecelakaan lalu lintas, yaitu sebanyak 44 insiden (37,61%), dan mayoritas korban tidak mengenakan helm. Kendaraan berat berada pada posisi kedua dengan 23 kejadian (11,97%), diikuti oleh jatuh sendiri dari kendaraan dengan 22 kasus (18,80%), sepeda motor dengan 14 kasus (11,97%), dan kendaraan tak dikenal dengan 14 kasus (11,97%) seperti yang ditunjukkan pada Tabel 2. Pengendara sepeda motor memiliki tingkat kematian tertinggi di antara semua kategori pengguna jalan, yaitu sebanyak 70 kejadian (59,82%), diikuti oleh pejalan kaki dengan 30 kasus (25,64%), pembonceng dengan 16 kasus (13,67%), dan tingkat korban tak dikenal sebesar (0,854%).

Kecelakaan lalu lintas terbanyak terjadi di jalan raya, yakni sebanyak 65 kasus (55,55%), disusul di jalan raya dengan 52 kasus (44,45%). Dari 117 kasus kecelakaan lalu lintas, sebanyak 73 korban meninggal di rumah sakit (62,39%), meninggal di tempat (41 kasus) dan hanya 1 kasus yang meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit (2,564%) seperti yang terlihat pada (Tabel 2).

5

(7)

Tabel 2: Profil kecelakaan lalu lintas jalan.

Distribusi agama Jumlah kasus %

Hindu 108 92.307

Kristen 0 0

Muslim 5 4.273

Tidak dikenal 4 3.418

Total 117 100

Jenis pengguna jalan

Pejalan kaki 30 25.64

Pengendara sepeda motor 70 59.82

Pengendara pembonceng 16 13.67

Tidak dikenal 1 0,85

Total 117 100

Lokasi/tempat terjadinya kecelakaan

Jalan Tol 65 55.55

Jalan Raya 52 44.45

Tidak dikenal 0 0

Total 117 100

Tempat kematian

RSUD 73 62.39

TKP 41 35.04

Dalam perjalanan ke rumah sakit 3 2.564

Total 117 100

Jenis kendaraan yang terlibat

Sepeda motor 14 11.97

Kendaraan berat 23 19.66

Kendaraan ringan 44 37.61

Jatuh dari kendaraan roda 2 22 18.80

Kendaraan tak dikenal 14 12

Total 117 100

6

(8)

Tabel 3: Jenis bagian tubuh yang terlibat dan distribusinya dari fraktur.

Bagian tubuh yang terlibat Jumlah kasus %

Cedera kepala 98 83.76

Cedera dada (thorax) 11 9.401

Cedera panggul 2 1.709

Cedera perut 4 3.418

Cedera anggota tubuh bagian bawah 8 6.837

Cedera anggota tubuh bagian atas 4 3.418

Cedera multiple 4 3.418

Distribusi fraktur

Tengkorak 43 36.75

Tulang belakang 1 0.854

Dada 45 38.46

Panggul 4 3.418

Anggota tubuh bagian bawah 25 21.36

Anggota tubuh bagian atas 16 13.67

Seperti yang tertera pada Tabel 3, cedera kepala terjadi pada 98 kasus (83,76%), diikuti oleh dada (thorax) sebanyak 11 kasus (9,401%), tungkai bawah sebanyak 8 kasus (6,837%), abdomen (3,418%), tungkai atas (3,418%), multiple injury (3,418%), dan pelvis (1,709%).

Fraktur yang diamati pada penelitian ini adalah fraktur thorax sebanyak 45 kasus (38,46%), diikuti fraktur tengkorak sebanyak 43 kasus (36,75%), fraktur tungkai bawah (21,36%), fraktur tungkai atas (13,67%), pelvis (3,418%), dan tulang belakang (0,854%) seperti yang ditunjukkan pada Tabel 3.

Dalam penelitian ini cedera luar seperti abrasi, memar, laserasi paling banyak ditemukan pada tungkai bawah sebanyak 57 kasus (48,71%), diikuti oleh kepala, leher, dan wajah sebanyak 56 kasus, yaitu (47,86%), tungkai atas (47,86%), perut, dan panggul (19,65%) Tabel 4.

7

(9)

Tabel 4: Distribusi cedera eksternal.

Dalam penelitian ini, perdarahan intrakranial yang paling umum terjadi pada korban adalah kombinasi perdarahan subdural dan perdarahan subaraknoid, dengan 38 kasus yang mencakup 32,47% dari kasus. Diikuti oleh perdarahan subdural saja (26,49%) dan perdarahan subaraknoid saja (4,273%), dan kombinasi perdarahan ekstradural + perdarahan subdural mencakup 2,564%, dan kombinasi perdarahan ekstradural+ subdural + subaraknoid, perdarahan subdural + subaraknoid + petekie mencakup 1,709%, dan kombinasi perdarahan subdural + subaraknoid + intraparenkimal mencakup 0,854% (Tabel 5).

Tabel 5: Distribusi pola tekanan intrakranial perdarahan.

8

(10)

Pada kajian ini, mayoritas kasus meninggal dunia akibat perdarahan intrakranial yang mencakup 49,57% dari kasus, diikuti oleh cedera kranioserebral (25,64%) dan perdarahan serta syok akibat cedera multipel (16,23%), serta perdarahan serta syok akibat trauma abdomen (3,418%), insufisiensi koroner, perdarahan dan syok akibat trauma dada, serta sepsis hanya mencakup 0,854% dari kasus (Tabel 6).

Tabel 6: Distribusi penyebab kematian.

DISKUSI

Selama periode penelitian dari Januari 2022 hingga Juni 2023, 291 otopsi dilakukan di departemen forensik dan toksikologi di AIMS BG Nagar. Dari 291 kasus, 117 (40,20%) merupakan kecelakaan lalu lintas, dan mayoritas korban yang meninggal dalam kecelakaan lalu lintas adalah laki-laki, dengan 105 kasus (89,74%) dan 12 (10,25%) adalah perempuan.

Demikian pula, dominasi laki-laki terlihat dalam penelitian lain yang dilakukan di India.

Dominasi laki-laki mungkin merupakan hasil dari struktur sosial India, yang memprioritaskan laki-laki untuk mengurus rumah dan pergi bekerja, serta kecenderungan laki-laki untuk mengemudi atau berkendara secara tidak bertanggung jawab, ceroboh, dan melanggar peraturan lalu lintas.

Studi kami mengungkap bahwa jumlah korban KLL tertinggi berada pada kelompok usia >60 tahun (25,64%), orang tua lebih mungkin terkena KLL, temuan serupa diamati dalam studi yang dilakukan oleh Marak et al. Hal ini mungkin disebabkan karena bertambahnya usia menyebabkan menurunnya kemampuan fisik termasuk penglihatan dan

9

(11)

pendengaran, hal ini dapat menyebabkan kecepatan berkendara menjadi kurang maksimal sehingga dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kecelakaan lalu lintas.

Dalam penelitian ini ditemukan bahwa kecelakaan lalu lintas jalan raya sebagian besar terjadi pada petang hari hingga tengah malam antara pukul 6 sore hingga 12 malam.

Hasil serupa ditemukan dalam penelitian yang dilakukan oleh Farooqui et al, Dsouza et al, Marak et al, Swarnkar et al, Neeluri et al, Raja et al, Sonawane et al; Penerangan jalan yang buruk, kurangnya rambu-rambu retroreflektif, marka jalur yang tidak memadai, dan perilaku pengemudi, termasuk mengemudi dalam keadaan mabuk, kurang perhatian mengemudi, dan ngebut, merupakan beberapa penyebab yang menyebabkan tingginya angka kematian pada sore hingga tengah malam.

Dalam penelitian ini, bulan April (13,67%) dan Juni (13,67%) yaitu musim panas mencatat insiden kecelakaan lalu lintas tertinggi. Hasil ini sependapat dengan temuan penelitian lain, Swarnkar et al, tetapi dalam penelitian yang dilakukan oleh Marak et al, lebih banyak kecelakaan lalu lintas terjadi pada bulan Oktober.

Jumlah kecelakaan lalu lintas tertinggi terlihat di kalangan umat Hindu dengan 92,30% kasus. Kesimpulan serupa dibuat dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Marak et al, Neeluri et al, Raja et al. Hindu merupakan agama yang paling banyak dianut di distrik Mandya, diikuti oleh Islam dan Kristen. Hal ini mungkin menjadi penyebab banyaknya korban beragama Hindu.

Kendaraan ringan (mobil, otomotif) paling sering terlibat dalam kecelakaan lalu lintas (37,61%) diikuti oleh kendaraan berat (19,66%) yaitu kendaraan roda empat merupakan kendaraan yang paling sering terlibat, temuan serupa diamati dalam penelitian yang dilakukan oleh Sonawane et al, Swarnkar et al. Pengendara sepeda motor memiliki tingkat kematian tertinggi di antara semua kategori pengguna jalan, yaitu sebanyak 70 kejadian (59,82%), Temuan ini serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh Swarnkar et al, Neeluri et al, Narayan et al, Sonawane et al, dan temuan kami bertentangan dengan temuan Farooqui et al, Mishra et al, Marak et al, dan Garg et al, di mana mereka mengamati pejalan kaki sebagai korban yang paling umum.

Mayoritas kecelakaan lalu lintas terjadi di jalan tol, dengan 65 kasus (55,55%).

Hasil ini mendukung temuan penelitian sebelumnya oleh Marak et al. Menurut hasil studi terkini, batas kecepatan tinggi mungkin menjadi penyebab meningkatnya jumlah kecelakaan di NH 75, atau Jalan Raya Bangalore-Mangalore. Batasan kecepatan yang lebih tinggi di jalan raya nasional dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kecelakaan karena memberikan waktu lebih sedikit bagi pengemudi untuk bereaksi dan menimbulkan lebih

10

(12)

banyak korban saat bertabrakan. Dan pada akhir pekan, jalan raya ini dipadati banyak orang yang bepergian ke Bangalore dari kota lain untuk bekerja atau bersekolah di sana. Ini mungkin penyebab sebagian besar kecelakaan di jalan tol.

Dalam penelitian ini, dari 117 kasus kecelakaan lalu lintas, 73 korban meninggal di rumah sakit (62,39%) dan meninggal di tempat sebanyak 41 kasus (35,04%). Temuan ini konsisten dengan temuan peneliti lain Marak et al. Temuan kami bertentangan dengan temuan Farooqui et al, Sonawane et al, di mana mereka melaporkan jumlah korban terbesar meninggal di lokasi kecelakaan.

Dalam penelitian saat ini cedera luar seperti abrasi, memar, laserasi sebagian besar ditemukan pada tungkai bawah diikuti oleh kepala, leher, dan wajah. Temuan serupa juga ditemukan dalam penelitian yang dilakukan oleh Sonawane et al. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Farooqui et al, kepala, leher dan wajah, diikuti oleh ekstremitas atas dan ekstremitas bawah yang umum terkena.

Menurut penelitian terkini, kepala merupakan bagian tubuh yang paling sering terlibat dalam kecelakaan lalu lintas, diikuti oleh dada (thorax). Temuan serupa juga ditemukan dalam penelitian yang dilakukan oleh Farooqui dkk. dan Prakash dkk. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Dsouza dkk., anggota badan diikuti oleh kepala adalah yang umumnya terkena, dan dalam penelitian yang dilakukan oleh Marak dkk., kepala diikuti oleh toraks dan perut adalah yang terkena. Temuan kami bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Neeluri et al. Akibat kurangnya penggunaan helm oleh pengendara roda dua dan kurangnya penggunaan sabuk pengaman oleh pengendara kendaraan bermotor ringan, maka terjadi frekuensi cedera kepala yang tinggi.

Dalam penelitian ini, mayoritas kasus meninggal karena perdarahan intrakranial yang mencakup 49,57% kasus, diikuti oleh cedera kranioserebral (25,64%), perdarahan intrakranial yang paling umum terjadi pada korban adalah kombinasi perdarahan subdural dan perdarahan subaraknoid, dengan 38 kasus yang mencakup 32,47% kasus, diikuti oleh perdarahan subdural saja (26,49%). Sonawane et al, melaporkan temuan serupa, tetapi dalam penelitian yang dilakukan oleh Marak et al, Narayan et al, mayoritas kasus meninggal karena cedera kranioserebral diikuti oleh perdarahan intrakranial.

Terdapat beberapa keterbatasan dalam penelitian ini. Ukuran sampelnya kecil karena merupakan penelitian retrospektif.

11

(13)

KESIMPULAN

Studi ini menunjukkan bahwa kecelakaan lalu lintas lebih banyak terjadi pada kelompok usia lanjut dan laki-laki adalah yang paling banyak terkena dampaknya. Sebagian besar kecelakaan terjadi pada sore hingga tengah malam di jalan raya. Kendaraan ringan paling sering terlibat dalam kecelakaan lalu lintas dan lokasi cedera yang paling umum adalah kepala. Penyebab kematian adalah perdarahan intrakranial dan di antara pola perdarahan intrakranial kami mengamati sejumlah besar kombinasi perdarahan subdural dan perdarahan subaraknoid.

Penggunaan helm oleh pengendara roda dua dan penggunaan sabuk pengaman oleh pengendara kendaraan bermotor ringan baik untuk pembonceng maupun penumpang tanpa memandang usia dan jenis kelamin, adalah dua praktik yang membantu mengurangi kecelakaan lalu lintas. Hal ini mengurangi kemungkinan cedera kepala serius dan secara signifikan menurunkan insiden kematian dalam kecelakaan lalu lintas. Metode lain termasuk menciptakan tempat penyeberangan pejalan kaki dan jalur pejalan kaki yang aman, meningkatkan penyeberangan zebra, meningkatkan penerangan jalan di malam hari, dan menghimbau pengendara untuk bersabar dan memberi waktu tambahan bagi orang lanjut usia untuk menyeberang jalan raya utama yang ramai. Selain itu, mematuhi undang-undang dan peraturan lalu lintas akan secara signifikan mengurangi kecelakaan lalu lintas yang melibatkan kendaraan. Daftar trauma terkomputerisasi harus segera dibuat untuk menyoroti bahaya, ini akan sangat membantu dalam pembuatan kebijakan dan manajemen kesehatan di India.

Pendanaan: Tidak ada sumber pendanaan Conflict of Interest: Tidak ada

Persetujuan etis: Penelitian ini disetujui oleh Komite Etika Institusional

REFERENSI

1. World Health Organization. Global status report on road safety 2020. Available at:

https://www.who..int/news-room/factsheets/detail/road-traffic-injuries. Accessed on 30 August 2023.

2. Ministry of road transport and highways, government of India, report on road accident in India.

2021. Available at: https://morth.nic.in/sites/default/files/RA_2021_Co mpressed.pdf. Accessed on 29 August 2023.

3. Road traffic accidents. National Crime Records Bureau (Ministry of Home Affairs). Available at:

https://ncrb.gov.in/sites/default/files/ADSI2021/adsi2021_Chapter-1A-Traffic-Accidents. Accessed

12

(14)

on 31 August 2023.

4. The injury chart book: a graphical overview of the global burden of injuries. Geneva, World Health Organization, 2002. Available at:

https://www.who.int/publications/i/item/the-injurychart-book-a-graphical-overview-of-the-globalburd en-of-injuries. Accessed on 20 September 2023.

5. Farooqui JM, Chavan KD, Bangal RS, Syed MA, Thacker PJ, Alam S, et al. Pattern of injury in fatal road traffic accidents in a rural area of western Maharashtra, India. Australas Med J.

2013;6(9):476.

6. Badrinarayan Mishra B, Nidhi D Sinha ND, SK Sukhla SK, AK Sinha AK. Epidemiological study of road traffic accident cases from western Nepal. Indian J Community Med. 2010;35(1):115-21.

7. Dsouza C, Rao VV, Kumar A, Diaz E. Epidemiological trends of trauma in tertiary care centre in Dakshina Kannada District of Karnataka, India. J Clin Diagn Res. 2014;8(3):66-8.

8. Marak F, Sangma MM, Kumar G, Priyadarshini M. Pattern of injuries associated with deaths following road traffic accidents as seen in a tertiary care hospital in Puducherry. Indian J Forens Community Med. 2016;3(4):257-62.

9. Swarnkar M, Singh P, Dwivedi S. Pattern of trauma in central India: an epidemiological study with special reference to mode of injury. Internet J Epidemiol. 2009;9(1):1-7.

10. Kalaiselvana G, Dongre AR, Mahalakshmy T. Epidemiology of injury in rural Pondicherry, India.

J Injury Violence Res. 2011;3(2):62.

11. Neeluri R, Anga VS. A study on victims of road traffic accidents attending casualty in a tertiary care hospital, Khammam. Int J Community Med Public Health. 2018;5(7):3034-8.

12. Narayan KA. Study of pattern and distribution of injuries in fatal road traffic accident cases autopsied at MIMS, Mandya. Indian J Forens Med Toxicol. 2020;14(3):357-60.

13. Prakash MJ, Koulapur VV, Hounnugar RS, Bannur V, Jirli PS, Mohite T, et al. Profile and pattern of moKLLlity from road traffic accident- a cross sectional study in tertiary care hospital, Belgaum.

Int J Dent Med Sci Res. 2023;5(2):835-40.

14. Garg N, Hyder AA. Road traffic injuries in India: a review of the literature. Scand J Public Health. 2006;34:100-9.

15. Raja NS, Chandra Sekar CJ, Madeshan A, Narasimha BC. An epidemiological study of road traffic accident cases attending a tertiary care hospital, BG Nagara, Mandya District, Karnataka State, India. Res J Pharm Biol Chem Sci. 2022;13(5):79-89.

16. Sonawane S, Jambure M. Patterns of head injuries in road traffic accidents- an autopsy study. Int J Curr Res. 2015;7(12):23733-7.

13

(15)

CASP Checklist: For Descriptive/Cross-Sectional Studies2

1. Apakah penelitian mempunyai topik permasalah yang jelas?

Ya, penelitian mempunyai topik permasalah yang jelas.

Populasi penelitian adalah jenazah yang diperiksa di AIMS, korban KLL. Mempunyai kriteria inklusi dan eksklusi yang jelas.

Penelitian ini mempunyai manfaat yang jelas, yaitu memberi masukan kepada pemegang kebijakan untuk perbaikan peraturan lalu lintas berdasarkan data yang dihasilkan.

2. Apakah peneliti menggunakan metode yang jelas dalam menjawab rumusan masalah?

Ya, Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif, retrospektif dan cross sectional. Penelitian ini tidak menuliskan rumusan masalah secara eksplisit.

Studi ini merupakan studi cross sectional yang mencakup semua nekropsi KLL yang dilakukan antara Januari 2022 hingga Juni 2023 di kamar jenazah departemen kedokteran forensik dan toksikologi, AIMS, BG Nagar, Mandya, Karnataka.

3. Apakah subyek penelitian dipilih secara layak ?

Ya, pemilihan subyek penelitian dilakukan secara layak, sesuai kriteria inklusi dan eksklusi yang sudah ditetapkan.

Kriteria inklusi:

Seluruh otopsi medis legal kasus kecelakaan lalu lintas yang dilakukan pada periode Januari 2022 sampai dengan Juni 2023.

Kriteria eksklusi:

Kasus selain kecelakaan lalu lintas dan catatan kasus kecelakaan lalu lintas yang tidak lengkap.

4. Apakah pengukuran dilakukan secara akurat untuk mengurangi bias?

Ya, pengukuran dilakukan secara akurat, dengan cara menentukan kriteria variabel yang dilakukan pengukuran.

Informasi yang dibutuhkan seperti distribusi usia dan jenis kelamin, waktu terjadinya kecelakaan, profil korban, kendaraan yang terlibat, distribusi fraktur, distribusi cedera eksternal, dan pola trauma kranioserebral.

Usia dibagi dalam range yang sudah ditentukan (10-19, 20-29, 30-39,...), jenis kelamin 14

(16)

(laki-laki dan perempuan), waktu menurut range pagi, siang, sore, malam dan tidak diketahui; dan seterusnya.

5. Apakah data dikumpulkan dengan cara yang sesuai dengan rumusan masalah?

Ya, meskipun rumusan masalah tidak disebutkan secara eksplisit, pengumpulan data dilakukan dengan cara yang sudah ditetapkan sebelumnya, dengan kriteria-kriteria yang sudah ditentukan dan diujicoba.

6. Apakah penelitian mempunyai jumlah subyek penelitian yang cukup untuk meminimalisasi kemungkinan penyimpangan?

Tidak jelas, dalam penelitian tidak disebutkan secara jelas jumlah total kecelakaan yang terjadi secara keseluruhan. Hanya disebutkan total jenazah yang diperiksa adalah 117 jenazah korban KLL. Lingkup penerimaan korban juga disebutkan dari sekitar institusi bersangkutan, jadi memberikan gambaran lokal.

7. Bagaimana hasil disajikan dan bagaimana hasil utamanya?

Ya, Hasil disajikan dengan tabel dan grafik, memberikan gambaran distribusi sesuai kriteria yang sudah ditetapkan, nilai maksimal, nilai minimal. Untuk tingkat lokal, data ini dipercaya dapat memberikan gambaran yang diinginkan peneliti sesuai kriteria.

8. Apakah analisis data yang digunakan dapat dipercaya?

Ya, analisis data yang terkumpul dimasukkan ke dalam spreadsheet excel. Statistik deskriptif seperti mean, frekuensi dan persentase dihitung menggunakan program SPSS versi 22

9. Apakah ada pernyataan yang jelas tentang temuan penelitian?.

Ya, Pada kesimpulan ada kalimat:

Studi ini menunjukkan bahwa kecelakaan lalu lintas lebih banyak terjadi pada kelompok usia lanjut dan laki-laki adalah yang paling banyak terkena dampaknya.

Sebagian besar kecelakaan terjadi pada sore hingga tengah malam di jalan raya.

Kendaraan ringan paling sering terlibat dalam kecelakaan lalu lintas dan lokasi cedera yang paling umum adalah kepala. Penyebab kematian adalah perdarahan intrakranial dan di antara pola perdarahan intrakranial kami mengamati sejumlah besar kombinasi perdarahan subdural dan perdarahan subaraknoid.

15

(17)

10. Apakah hasil penelitian ini dapat diterapkan pada tingkat lokal (pada tingkat Propinsi)?

Ya, dapat. Beberapa hasil penelitian ini dapat diterapkan pada tingkat lokal Propinsi Jawa Barat. Mungkin dapat diambil beberapa kesamaan karena AIMS adalah pusat kedokteran forensik tersier pada ibukota Propinsi Karnataka, mungkin setara dengan Unpad posisinya. Selain itu, kondisi lalu lintas India dan Indonesia kurang lebih sama padat dan tidak teraturnya. Juga kepadatan penduduk 60.000.000 jiwa (Karnataka) banding 48.000.000 (Jawa Barat).

11. Seberapa bernilai penelitian ini?

Ya, bernilai. Penelitian ini dapat menginisiasi penelitian lainnya pada tingkat lokal ataupun yang lebih tinggi, apalagi Indonesia masih belum mempunyai data pola luka akibat KLL baik lokal maupun nasional.

KESIMPULAN JURNAL REVIEW

Validity: menurut daftar tilik CASP, Jurnal ini valid karena dari 11 pertanyaan, 10 jawabannya “YA”, 1 “TIDAK JELAS”. Penilaian menggunakan kriteria yang tertera pada CASP.

Importancy: sesuai pertanyaan daftar tilik no 11, Jurnal ini Important/bernilai, karena dapat menginisiasi penelitian lainnya pada tingkat lokal ataupun yang lebih tinggi, apalagi Indonesia masih belum mempunyai data pola luka akibat KLL baik lokal maupun nasional.

Sebagai bahan pertimbangan pengambil kebijakan, mengingat tingginya angka kematian akibat KLL.

Applicability: sesuai pertanyaan daftar tilik no 10, Jurnal ini dapat diterapkan pada tingkat lokal Propinsi Jawa Barat. Mungkin dapat diambil beberapa kesamaan karena AIMS adalah pusat kedokteran forensik tersier pada ibukota Propinsi Karnataka, mungkin setara dengan Unpad posisinya. Selain itu, kondisi lalu lintas India dan Indonesia kurang lebih sama padat dan tidak teraturnya. Juga kepadatan penduduk 60.000.000 jiwa (Karnataka) banding 48.000.000 (Jawa Barat).

16

(18)

PEMBAHASAN

Dalam kajian forensik menurut Bernard Knight, berbagai jenis trauma atau cedera yang terjadi akibat kecelakaan lalu lintas dapat diklasifikasikan berdasarkan mekanisme terjadinya serta patofisiologi yang menyertainya. Berikut adalah beberapa jenis trauma yang umum terjadi:3

1. Trauma Tumpul (Blunt Force Trauma)

Trauma tumpul terjadi akibat benturan dengan objek keras tanpa menyebabkan luka terbuka yang signifikan.

a. Cedera Kepala (Head Trauma)

- Concussion (Gegar Otak): Cedera otak ringan akibat akselerasi dan deselerasi tiba-tiba.

- Contusion (Memar Otak): Perdarahan kecil akibat ruptur kapiler otak.

- Hematoma Epidural/Subdural: Akumulasi darah antara tulang tengkorak dan dura mater atau di bawah dura mater akibat pecahnya pembuluh darah.

- Diffuse Axonal Injury (DAI): Cedera serabut saraf akibat perbedaan percepatan otak dan tengkorak, sering menyebabkan koma atau kematian.

● Patofisiologi:

- Cedera primer terjadi akibat benturan langsung.

- Cedera sekunder muncul akibat edema otak, hipoksia, dan peningkatan tekanan intrakranial.

b. Cedera Toraks (Chest Trauma)

- Fraktur Tulang Rusuk: Akibat tekanan kuat pada dada.

- Pneumothorax/Hemothorax: Udara atau darah masuk ke rongga pleura akibat trauma.

- Kontusio Pulmonal: Kerusakan jaringan paru-paru yang menyebabkan edema dan hipoksia.

● Patofisiologi:

- Gangguan ventilasi-perfusi menyebabkan hipoksia sistemik.

- Perdarahan intrapulmonal dapat menyebabkan sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS).

17

(19)

c. Cedera Abdomen (Abdominal Trauma)

- Ruptur Hati/Lien: Cedera akibat kompresi mendadak pada perut.

- Perforasi Usus: Tekanan kuat menyebabkan pecahnya dinding usus dan kebocoran isi usus.

● Patofisiologi:

- Perdarahan internal menyebabkan syok hemoragik.

- Kontaminasi rongga perut dengan isi usus dapat menyebabkan peritonitis.

d. Cedera Spinal (Spinal Trauma)

- Fraktur Vertebra Servikal (Leher Patah): Bisa menyebabkan tetraplegia atau kematian.

- Cedera Medula Spinalis: Mengakibatkan kehilangan fungsi motorik dan sensorik di bawah area cedera.

● Patofisiologi:

- Kompresi atau transeksi medula spinalis menyebabkan paralisis dan disfungsi organ.

- Cedera sekunder akibat iskemia dan edema spinal.

2. Trauma Tajam (Sharp Force Trauma)

Trauma ini biasanya lebih jarang terjadi dalam kecelakaan lalu lintas, tetapi dapat ditemukan jika ada benda tajam seperti kaca pecah atau bagian kendaraan yang merobek tubuh korban.

- Luka Sayat (Incised Wound): Luka panjang dengan tepi halus akibat benda tajam.

- Luka Tusuk (Stab Wound): Luka dalam dengan area masuk kecil.

- Luka Robek (Laceration): Luka dengan tepi tidak beraturan akibat benda tajam dengan tekanan tinggi.

● Patofisiologi:

- Perdarahan masif jika mengenai pembuluh darah besar.

- Infeksi sekunder akibat kontaminasi luka terbuka.

3. Trauma Kombinasi (Combination Trauma)

Dalam kecelakaan lalu lintas, sering ditemukan kombinasi dari trauma tumpul dan trauma tajam, terutama pada pejalan kaki atau pengendara sepeda motor yang terlindas atau terlempar.

18

(20)

- Multiple trauma: Kombinasi dari beberapa cedera berat di berbagai organ.

- Amputasi Traumatik: Pemutusan anggota tubuh akibat benturan keras atau tekanan tinggi.

● Patofisiologi:

- Syok hemoragik akibat kehilangan darah besar.

- Respon inflamasi sistemik yang dapat menyebabkan kegagalan organ multipel.

Kecelakaan Lalu Lintas di Indonesia

Kecelakaan lalu lintas merupakan salah satu penyebab utama kematian di Indonesia. Dari sudut pandang forensik, analisis kecelakaan tidak hanya menilai jumlah kejadian, tetapi juga karakteristik korban, pola luka, dan jenis kendaraan yang terlibat. Studi forensik membantu dalam memahami faktor-faktor risiko yang berkontribusi terhadap kecelakaan serta memperbaiki sistem keselamatan di jalan. Berikut beberapa data kecelakaan lalu lintas yang tersedia di Indonesia.

1. Karakteristik Korban Kecelakaan Lalu Lintas4 a. Berdasarkan Umur

- Anak-anak (0-14 tahun): Lebih rentan mengalami kecelakaan sebagai pejalan kaki atau penumpang kendaraan. Cedera utama yang sering terjadi adalah trauma kepala dan patah tulang.

- Remaja (15-24 tahun): Kelompok usia ini memiliki risiko tinggi, terutama sebagai pengendara sepeda motor. Faktor utama meliputi kecepatan tinggi dan kurangnya pengalaman berkendara. Cedera yang sering ditemukan adalah luka di kepala, fraktur ekstremitas, dan luka dalam.

- Dewasa (25-59 tahun): Sering terlibat dalam kecelakaan akibat faktor kelelahan, penggunaan alkohol/narkoba, atau kurangnya kepatuhan terhadap aturan lalu lintas.

- Lansia (>60 tahun): Cenderung mengalami cedera lebih parah karena kondisi fisik yang lebih rentan. Fraktur panggul dan cedera kepala sering ditemukan pada korban lansia.

b. Berdasarkan Jenis Kelamin

- Laki-laki: Lebih sering menjadi korban dibandingkan perempuan, terutama dalam

19

(21)

kecelakaan sepeda motor dan mobil. Hal ini dikaitkan dengan kecenderungan mengemudi lebih agresif dan sering menggunakan kendaraan bermotor.

- Perempuan: Umumnya mengalami kecelakaan sebagai penumpang atau pejalan kaki.

Cedera yang dialami sering lebih fatal akibat postur tubuh yang lebih kecil dan kekuatan otot yang lebih rendah.

2. Pola Luka pada Korban Kecelakaan5

Jenis luka yang dialami korban kecelakaan lalu lintas bervariasi tergantung pada jenis kendaraan, posisi korban saat kecelakaan, dan mekanisme tabrakan.

- Trauma Kepala: Paling sering terjadi dan menjadi penyebab utama kematian. Dapat berupa fraktur tengkorak, cedera otak traumatis, atau hematoma intrakranial.

- Fraktur Ekstremitas: Sering ditemukan pada pengendara sepeda motor yang jatuh dari kendaraan. Fraktur pada kaki lebih umum dibandingkan tangan.

- Luka Dalam: Cedera pada organ dalam seperti ruptur hati, limpa, atau cedera paru-paru sering terjadi akibat benturan keras.

- Cedera Spinal: Bisa menyebabkan kelumpuhan permanen terutama jika terjadi trauma di leher atau punggung bagian bawah.

3. Jenis Kendaraan dan Risiko Kecelakaan4

- Sepeda Motor: Menyumbang angka kecelakaan tertinggi di Indonesia. Pengendara sering mengalami trauma kepala dan fraktur ekstremitas akibat minimnya perlindungan fisik.

- Mobil Penumpang: Korban sering mengalami luka pada kepala, dada, dan ekstremitas akibat benturan dalam kabin.

- Truk dan Bus: Kecelakaan yang melibatkan kendaraan besar sering menyebabkan cedera fatal terutama bagi pejalan kaki dan pengguna kendaraan lebih kecil.

- Sepeda dan Pejalan Kaki: Berisiko tinggi mengalami cedera fatal karena kurangnya perlindungan saat bertabrakan dengan kendaraan bermotor.

Berikut adalah data kecelakaan lalu lintas di Indonesia berdasarkan karakteristik korban, disajikan dalam bentuk tabel:

20

(22)

1. Jumlah Kecelakaan dan Korban (2022)6

Kategori Jumlah

Jumlah Kecelakaan 139.258 kasus

Korban Meninggal Dunia 28.131 orang

Korban Luka Berat 13.364 orang

Korban Luka Ringan 160.449 orang

Kerugian Materiil Rp 280.009 juta

Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS)

2. Karakteristik Korban Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin 4

Kelompok Usia Persentase Korban

0-14 tahun 15%

15-24 tahun 35%

25-59 tahun 40%

>60 tahun 10%

Jenis Kelamin Persentase Korban

Laki-laki 69%

Perempuan 31%

Sumber: Data Korlantas Polri 2024

21

(23)

3. Pola Luka pada Korban Kecelakaan5

Jenis Luka Persentase

Luka Lecet 50%

Luka Memar 30%

Luka Robek 15%

Fraktur 5%

Sumber: Penelitian di Bagian Ilmu Kedokteran Forensik RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou

4. Distribusi Korban Kecelakaan Berdasarkan Tingkat Keparahan Luka (2023)7 Tingkat Keparahan Jumlah

Korban

Persentase

Luka Ringan 164.548 83%

Luka Berat 13.878 7%

Meninggal Dunia 19.825 10%

Catatan: Data di atas berdasarkan laporan Polri yang dihimpun sepanjang tahun 2023.

5. Jenis Kendaraan yang Terlibat dalam Kecelakaan4

Jenis Kendaraan Persentase Keterlibatan

Sepeda Motor 76,42%

Mobil Penumpang 15%

Truk 5%

Bus 3%

Lainnya 0,58%

22

(24)

Sumber: Korlantas Polri 2024

Data mengenai kecelakaan lalu lintas di Indonesia berdasarkan waktu kejadian menunjukkan bahwa periode tertentu memiliki tingkat kecelakaan yang lebih tinggi. Berikut adalah rincian berdasarkan data yang tersedia:

1. Distribusi Kecelakaan Berdasarkan Jam Kejadian8

Berdasarkan penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Warta Penelitian Perhubungan, kecelakaan lalu lintas jalan paling sering terjadi pada rentang waktu berikut:

● Pukul 12:00 - 19:00: Menyumbang 44% dari total kecelakaan.

● Pukul 05:00 - 12:00: Menyumbang 43% dari total kecelakaan.

● Pukul 19:00 - 24:00: Menyumbang 13% dari total kecelakaan.

Sumber: Studi Tingkat Kecelakaan Lalu Lintas Jalan di Indonesia Berdasarkan Data KNKT

2. Distribusi Kecelakaan Berdasarkan Bulan4

Data dari Korlantas Polri menunjukkan bahwa pada tahun 2024, jumlah kecelakaan lalu lintas mengalami fluktuasi setiap bulannya. Berikut adalah jumlah kecelakaan yang tercatat hingga 5 Agustus 2024:

● Januari: 12.000 kasus

● Februari: 10.500 kasus

● Maret: 11.000 kasus

● April: 11.924 kasus (tertinggi)

● Mei: 11.500 kasus

● Juni: 10.800 kasus

● Juli: 10.496 kasus

● Agustus (hingga 5 Agustus): 5.000 kasus Sumber: Korlantas Polri

Data ini menunjukkan bahwa periode siang hingga sore hari (12:00 - 19:00) merupakan waktu dengan risiko kecelakaan tertinggi. Selain itu, bulan April mencatat jumlah kecelakaan tertinggi pada tahun 2024.

23

(25)

Berikut adalah hasil penelitian dari jurnal-jurnal yang membahas aspek forensik dalam kecelakaan lalu lintas di Indonesia dalam bentuk tabel:9-18

Judul Jurnal Hasil Penelitian

1 Cedera Akibat Kecelakaan Lalu Lintas di Kota Manado

- 77,7% korban meninggal akibat cedera kepala, 22,2% akibat cedera dada.

- Mayoritas korban laki-laki, usia 15-44 tahun.

- Sepeda motor menjadi kendaraan yang paling sering terlibat kecelakaan.

- Kecepatan tinggi menjadi faktor utama kecelakaan fatal.

2 Penentuan Kriteria Derajat Luka dalam Visum et Repertum dan Analisis Medikolegal pada Korban Kecelakaan Lalu Lintas

- Luka dikategorikan dalam ringan, sedang, berat, hingga fatal.

- Luka lecet & memar = luka ringan, patah tulang &

cedera organ dalam = luka berat.

- Kesalahan dalam menentukan derajat luka dapat memengaruhi keputusan hukum.

3 Pola Luka pada Kasus Kecelakaan Lalu Lintas di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado (2017)

- Korban terbanyak usia 26-35 tahun.

- Jenis luka terbanyak: lecet pada tangan dan kaki, luka robek, patah tulang.

- Penyebab utama cedera: benturan dengan aspal atau kendaraan lain.

- Helm & sabuk pengaman dapat mengurangi

24

(26)

tingkat fatalitas luka.

4 Penanganan Tindak Pidana Kecelakaan Lalu Lintas yang Mengakibatkan Korban Meninggal Dunia di Satlantas Polres Sukoharjo

- Penyebab utama kecelakaan: kelalaian pengendara (melanggar rambu, mabuk, dll.).

- Proses penyelidikan: olah TKP, pemeriksaan saksi, visum et repertum, rekonstruksi kejadian.

- Kendala utama: kurangnya saksi mata &

keterbatasan alat bukti.

5 Analisis Perbedaan Topografi Perlukaan antara Korban Kecelakaan Lalu Lintas dengan Korban Tindak Kriminal

- Korban kecelakaan lalu lintas lebih sering mengalami luka robek (laserasi) pada kepala dan ekstremitas.

- Korban tindak kriminal cenderung mengalami memar (kontusio) & luka tusuk di dada dan perut.

- Analisis luka dapat membantu membedakan kecelakaan lalu lintas dengan kasus kriminal.

6 Pola Cedera Kecelakaan Lalu Lintas pada Kendaraan Bermotor Roda Dua

- Mayoritas korban adalah pengendara sepeda motor.

- Cedera kepala merupakan jenis cedera paling umum.

- Faktor risiko meliputi usia muda, jenis kelamin laki-laki, dan tidak menggunakan helm.

25

(27)

7 Jenis Kekerasan dan Pola Luka pada Korban Mati Kecelakaan Lalu Lintas di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru

- Cedera kepala berat ditemukan pada 60% korban meninggal.

- Luka lecet dan memar paling sering terjadi pada ekstremitas.

- Laki-laki usia produktif (20-40 tahun) paling banyak menjadi korban.

8 Pola Luka pada Kasus Kecelakaan Lalu Lintas di BLU RSU Prof. Dr. R. D. Kandou Manado (2010-2011)

- Peningkatan kasus kematian akibat kecelakaan lalu lintas dari 2010 ke 2011.

- Laki-laki lebih dominan sebagai korban.

- Cedera kepala dan luka pada ekstremitas paling sering ditemukan.

9 Pola dan Determinan Sosiodemografi Cedera Akibat Kecelakaan Lalu Lintas di Indonesia

- 27% dari semua cedera disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas.

- Laki-laki usia 15-29 tahun paling rentan mengalami cedera.

- Pengendara sepeda motor memiliki risiko cedera tertinggi.

10 Analisis Kasus Kecelakaan Lalu Lintas di RSUP Prof. Dr.

R. D. Kandou Manado (2021)

- 85 kasus kecelakaan tercatat selama periode penelitian.

- Laki-laki mendominasi kasus dengan 77,6%.

- Usia 12-25 tahun paling banyak terlibat dalam kecelakaan.

26

(28)

KESIMPULAN

Analisis trauma dalam kecelakaan lalu lintas dari sudut pandang forensik membantu dalam menentukan mekanisme cedera, penyebab kematian, dan aspek hukum terkait. Pemahaman patofisiologi dari tiap jenis cedera juga penting dalam memberikan pertolongan medis yang tepat serta merancang sistem keselamatan jalan yang lebih baik.

Analisis forensik terhadap data kecelakaan lalu lintas di Indonesia menunjukkan bahwa remaja dan dewasa muda menjadi kelompok paling rentan. Trauma kepala merupakan penyebab utama kematian akibat kecelakaan, terutama pada pengendara sepeda motor. Studi forensik ini dapat digunakan untuk merancang kebijakan keselamatan lalu lintas yang lebih efektif, termasuk peningkatan edukasi berkendara, penggunaan helm yang lebih ketat, dan penegakan hukum yang lebih ketat terhadap pelanggaran lalu lintas.

Data di Indonesia belum selengkap negara lain, khususnya hasil pemeriksaan forensik yang terintegrasi dan dapat diakses oleh masyarakat. Misalnya data pola luka, apakah lokasi luka nya pada korban ataupun penyebab kematian pada korban KLL. Data ini sebenarnya dapat memberikan gambaran mengenai karakteristik korban kecelakaan lalu lintas di Indonesia berdasarkan usia, jenis kelamin, pola luka, dan jenis kendaraan yang terlibat. Informasi ini diharapkan dapat membantu dalam upaya pencegahan dan penanganan kecelakaan lalu lintas di masa mendatang.

27

(29)

DAFTAR PUSTAKA

1. Rakshitha B.M., Chinmayi Y., Vijay Kumar, Kumar U., An Autopsy Study of Road Traffic Accident Cases at Tertiary Care Center, Mandya, Karnataka, International Journal of Research in Medical Sciences, 2024 https://www.msjonline.org/index.php/ijrms/article/view/12922 2. JBI Critical Appraisal Checklist for Analytical Cross Sectional Studies. 2020. JBI.

3. Saunders SL, Knight B. Knight’s Forensic Pathology. 4th ed. Boca Raton: CRC Press; 2016.

4. Korlantas Polri. Kecelakaan lalu lintas di Indonesia didominasi oleh kendaraan roda dua [Internet]. Korlantas Polri; 2024 [dikutip 2025 Mar 9]. Tersedia dari:

https://korlantas.polri.go.id/index.php/2024/10/10/kecelakaan-lalulintas-di-indonesia-didominasi- oleh-kendaraan-roda-dua

5. Mawuntu JR, Umboh JML, Kandou GD. Pola luka pada kasus kecelakaan lalu lintas di Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal BLU RSU Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode 2010-2011 [Internet]. Jurnal e-Biomedik (eBM); 2013 [dikutip 2025 Mar 9]. Tersedia dari:

https://media.neliti.com/media/publications/60346-ID-pola-luka-pada-kasus-kecelakaan-lalu-lin.p df

6. Badan Pusat Statistik (BPS). Jumlah kecelakaan, korban mati, luka berat, luka ringan, dan kerugian materi [Internet]. BPS; [dikutip 2025 Mar 9]. Tersedia dari:

https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/NTEzIzI%3D/jumlah-kecelakaan-korban-mati-luka-ber at-luka-ringan-dan-kerugian-materi.html

7. Pusat Informasi Kriminal Nasional (PUSIKNAS). Jumlah korban kecelakaan lalu lintas 2022 [Internet]. Data GoodStats; 2023 [dikutip 2025 Mar 9]. Tersedia dari:

https://data.goodstats.id/statistic/jumlah-korban-kecelakaan-lalu-lintas-2022-Q7rwT

8. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Statistik [Internet]. KNKT; [dikutip 2025 Mar 9]. Tersedia dari: https://knkt.go.id/statistik

9. Cedera Akibat Kecelakaan Lalu Lintas di Kota Manado. Jurnal Biomedik (JBM).

2008;1(2):45-52. Available from:

https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/biomedik/article/view/833

10. Penentuan Kriteria Derajat Luka dalam Visum et Repertum dan Analisis Medikolegal pada Korban Kecelakaan Lalu Lintas. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala. 2022;22(1):35-42. Available from: https://jurnal.usk.ac.id/JKS/article/view/23463

11. Pola Luka pada Kasus Kecelakaan Lalu Lintas di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado (2017).

Jurnal Biomedik (JBM). 2018;10(3):120-30. Available from:

https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/biomedik/article/view/23207

12. Penanganan Tindak Pidana Kecelakaan Lalu Lintas yang Mengakibatkan Korban Meninggal Dunia di Satlantas Polres Sukoharjo. Dinamika Hukum. 2020;10(2):75-85. Available from:

https://ejurnal.unisri.ac.id/index.php/Dinamika_Hukum/article/view/4272

13. Analisis Perbedaan Topografi Perlukaan antara Korban Kecelakaan Lalu Lintas dengan Korban Tindak Kriminal. Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences. 2023;5(1):55-65. Available from: https://ojs.unud.ac.id/index.php/ijlfs/article/view/97097

14. Pola Cedera Kecelakaan Lalu Lintas pada Kendaraan Bermotor Roda Dua. Universitas Indonesia;

2015. Available from: https://lib.ui.ac.id/detail?id=125891

15. Jenis Kekerasan dan Pola Luka pada Korban Mati Kecelakaan Lalu Lintas di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru. Universitas Riau; 2018. Available from:

https://repository.unri.ac.id/bitstream/handle/123456789/2223/Pratiwi%20Rukmana%200908151 673.pdf

16. Pola Luka pada Kasus Kecelakaan Lalu Lintas di BLU RSU Prof. Dr. R. D. Kandou Manado (2010-2011). Jurnal Ilmu Kedokteran Forensik. 2012;4(1):30-40. Available from:

https://media.neliti.com/media/publications/60346-ID-pola-luka-pada-kasus-kecelakaan-lalu-lin.p df

17. Pola dan Determinan Sosiodemografi Cedera Akibat Kecelakaan Lalu Lintas di Indonesia.

Fakultas Kesehatan Masyarakat UI; 2021. Available from: https://lib.fkm.ui.ac.id/detail?id=74311 18. Analisis Kasus Kecelakaan Lalu Lintas di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado (2021).

E-Clinic Journal. 2022;12(3):112-25. Available from:

28

(30)

https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/eclinic/article/view/45230

19. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Buku statistik investigasi kecelakaan transportasi tahun 2023 [Internet]. KNKT; 2023 [dikutip 2025 Mar 9]. Tersedia dari:

https://www.knkt.go.id/news/read/buku-statistik-investigasi-kecelakaan-transportasi-tahun-2023 20. GoodStats. Jumlah laka lantas di Indonesia mencapai 288.494, apa penyebabnya? [Internet].

GoodStats; 2024 [dikutip 2025 Mar 9]. Tersedia dari:

https://goodstats.id/article/jumlah-laka-lantas-di-indonesia-mencapai-288494-apa-penyebabnya-n pB1K

21. Kompas. Sepanjang 2024, angka kecelakaan lalu lintas di Indonesia tembus 220.647 [Internet].

Kompas Otomotif; 2024 [dikutip 2025 Mar 9]. Tersedia dari:

https://otomotif.kompas.com/read/2024/11/22/171200115/sepanjang-2024-angka-kecelakaan-lalu -lintas-di-indonesia-tembus-220.647

22. Kandou GD, Umboh JML, Mewengkang M. Pola luka pada kasus kecelakaan lalu lintas di Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari 2014-Juni 2015 [Internet]. Jurnal Biomedik (JBM); 2019 [dikutip 2025 Mar 9].

Tersedia dari: https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/biomedik/article/view/23207

23. Sari Y, Sari SP. Angka kejadian korban kecelakaan lalu lintas berdasarkan hasil pemeriksaan luar visum et repertum di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang periode Januari 2011-Desember 2013 [Internet]. Jurnal Kedokteran dan Kesehatan; 2015 [dikutip 2025 Mar 9]. Tersedia dari:

https://media.neliti.com/media/publications/181831-ID-angka-kejadian-korban-kecelakaan-lalu-li.

pdf

24. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Laporan kegiatan KNKT PKT Laut [Internet]. KNKT; 2023 [dikutip 2025 Mar 9]. Tersedia dari:

[https://knkt.go.id/dokumen/downloadfilebyname?Extension=.pdf&FileName=LAPORAN+SEM ESTER+I+TAHUN+2023.pdf&ID=cd912031-3c7e-4a75-9ec9-3e6acc7a91c8](https://knkt.go.id/

dokumen/downloadfilebyname?Extension=.pdf&FileName=LAPORAN+SEMESTER+I+TAHU N+2023.pdf&ID=cd912

29

Referensi

Dokumen terkait