Aktivitas antioksidan dengan metode DPPH menunjukkan nilai IC50 ekstrak kulit manggis sebesar 5,545 ppm yang menunjukkan aktivitas antioksidan sangat kuat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan formulasi nanoemulgel yang stabil dari ekstrak kulit manggis yang memiliki aktivitas antioksidan. Pengamatan organoleptik dilakukan dengan mengamati perubahan konsistensi warna dan bau nanoemulgel ekstrak kulit manggis dengan konsentrasi yang berbeda.
Berdasarkan hasil analisis aktivitas penangkal radikal bebas, ekstrak kulit manggis DPPH memiliki nilai % penghambatan paling rendah yaitu 38,939%, sehingga nilai IC50 sebesar 5,545 mikrogram/ml sedangkan pembandingnya yaitu vitamin C. Diphenylhydrazylpicryl) memiliki nilai IC50. Ekstrak kulit manggis menunjukkan aktivitas antioksidan yang sangat kuat, yaitu 5,545 mikrogram/ml dan pembanding vitamin C, yaitu 5,526 mikrogram/ml.
ISOLASI DAN UJI AKTIVITAS DAYA HAMBAT EKSTRAK ETANOL BIJI PINANG (Areca catechu L.)
TERHADAP BAKTERI PADA LIDAH
ISOLATION AND INHIBITION ACTIVITY OF ETHANOL EXTRACT OF BETEL NUT (ARECA CATECHU L.) ON BACTERIA OF THE.
ISOLATION AND INHIBITION ACTIVITY OF ETHANOL EXTRACT OF BETEL NUT (ARECA CATECHU L.) TO BACTERIA OF THE
TONGUE
Metabolit sekunder yang terkandung dalam ekstrak biji pinang (Areca catechu L.) antara lain flavonoid, tanin, dan saponin. Hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol buah pinang (Areca catechu L.) dengan konsentrasi berbeda dan kontrol positif klorheksidin 0,2%. Jika dilihat rata-rata diameter zona hambat pada bakteri Branhamella catarrhalis berhubungan dengan diameter zona hambat pada ekstrak etanol buah pinang (Areca catechu L.) dengan konsentrasi 10%, 20% dan 30%. .
Uji ANOVA aktivitas ekstrak etanol buah pinang (Areca catechu L.), berdasarkan variabel bakteri yang diuji dan konsentrasi masing-masing diperoleh nilai signifikansi p=0,000 (p<0,05). Ekstrak etanol Areca catechu L. paling baik dalam menghambat pertumbuhan Staphylococcus epidermidis dan Staphylococcus aureus dibandingkan dengan Branhamella catarrhalis.
PENENTUAN NILAI SPF EKSTRAK DAN LOSIO TABIR SURYA EKSTRAK ETANOL DAUN KERSEN (Muntingia calabura L.)
DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS
DETERMINATION OF SPF VALUE OF EXTRACT AND LOSIO OF SOLAR TREATMENT OF KERSEN LEAF ETHANOL
EXTRACT (Muntingia calabura L.) USING UV-VIS SPECTROPHOTOMETRY METHODE
- Pembuatan Ekstrak Etanol Daun Kersen
- Pembuatan Losio Ekstrak Etanol Daun Kersen
- Penentuan Nilai SPF, %Te dan %Tp Ekstrak Etanol
- Penentuan Nilai SPF, %Te dan %Tp Losio Ekstrak
- Analisis Data
Karena mengandung flavonoid dan fenol, daun kersen dapat digunakan tidak hanya sebagai antioksidan, tetapi juga sebagai tabir surya (Puspitasari dan Setyowati, 2018). Penentuan potensi tabir surya yang baik dapat dilihat dari kemampuannya menyerap atau memantulkan sinar ultraviolet dengan menentukan nilai SPF dan persentase eritema dan pigmentasi. Untuk melihat potensi tabir surya dalam menyerap sinar ultraviolet dapat ditentukan dengan menentukan nilai SPF dan persentase transmisi eritema (%Te) dan persentase transmisi pigmentasi (%Tp) dari sediaan yang akan diukur.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai SPF, persentase transmisi eritema (%Te) dan persentase transmisi pigmen (%Tp) ekstrak dan lotion etanol daun kersen secara in vitro menggunakan spektrofotometer UV-Vis. dikategorikan berdasarkan Tabel 1 dan. Lotion ekstrak etanol daun kersen dibuat menggunakan kombinasi dua pengemulsi yaitu asam stearat dan trietanolamin. Atas dasar tersebut, terlihat bahwa efektivitas ekstrak etanol daun kersen tampak pada sinar matahari dari ekstrak dengan konsentrasi yang memiliki nilai SPF tinggi.
Penentuan % Nilai Transmitansi Pigmentasi Ekstrak TP Persentase adalah perbandingan jumlah energi sinar UV yang diteruskan oleh sediaan tabir surya pada spektrum pigmentasi terhadap faktor efikasi eritema total pada setiap panjang gelombang dalam rentang 322,5 nm-372,5 nm. Dari nilai tersebut berarti semua konsentrasi ekstrak etanol daun kersen yang diuji memiliki efektivitas tabir surya sebagai tabir surya atau total blocker karena nilai %Tp yang diperoleh dari ketiga konsentrasi ekstrak tersebut berkisar antara 3-40%. Penentuan potensi tabir surya ini dilakukan dengan menghitung nilai SPF (Sun Protection Factor), nilai transmisi eritema energi UV (%Te) yang diperlukan untuk menunjukkan efektivitas tabir surya terhadap sinar UVB, dan nilai transmisi pigmentasi (%Tp ) untuk melihat efektivitas tabir surya terhadap sinar UVB. sinar UV a.
Suatu sediaan tabir surya dikatakan memiliki efektivitas yang baik jika memiliki nilai SPF yang tinggi dan memiliki tingkat penularan eritema dan pigmentasi yang rendah (Sharif, 2017). Hasil tabir surya ekstrak etanol daun kersen yang memiliki aktivitas paling besar adalah pada konsentrasi 2000 ppm dengan nilai SPF 22,01 (ultra protection), % Te 0,05 (total block) dan % Tp 0,49 (total block). Hasil efektivitas tabir surya dengan ekstrak etanol daun kersen yang memiliki aktivitas paling besar terdapat pada formula 3 dengan nilai SPF 10,3 (perlindungan maksimal), %, Te 0,99 (total blok) dan %Tp 2,80 (total blok).
ANTIBACTERIAL ACTIVITY TEST AGAINST Staphylococus epidermidid
Langkah-langkah pembuatan ekstrak kloroform daun belimbing pada penelitian ini adalah wuluh untuk membuat sediaan gel dan 1. Bahan yang digunakan untuk daun belimbing kemudian diserbukkan setelah dikeringkan dan ekstrak daun kloroform menggunakan blender daun belimbing wuluh dengan konsentrasi (Verawati, 2016). Uji aktivitas antibakteri dengan mengukur luas gel bening ekstrak kloroform daun bintang terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis (Sukandar, EY, 2014; Verawaty, 2016).
Daun belimbende wuluh (Averrhoa bilimbi L.) dicuci dengan air mengalir untuk menghilangkan kotoran pada daun kemudian daun dicacah. Simplisia dari potongan daun wuluh kemudian dimaserasi dengan bantuan pelarut kloroform, setelah didapatkan hasil maserasi kemudian hasil maserasi. Warna yang dihasilkan pada gel berubah, semakin besar konsentrasi pada formula maka semakin pekat warna pada sediaan gel karena semakin banyak penambahan ekstrak daun belimbing wuluh pada sediaan gel.
Ekstrak kloroform daun belimbing wuluh dapat diformulasikan menjadi sediaan gel berdasarkan hasil evaluasi gel yang dapat memenuhi persyaratan sebagai sediaan gel. Sediaan gel ekstrak daun belimbing wuluh dengan konsentrasi 30% memiliki zona hambat terbesar dan merupakan konsentrasi yang efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis. Formulasi gel Ekstrak Etanol Buah Belimbing (Averrhoa bilimbi Linn) sebagai anti jerawat. Skripsi.
Formulasi dan Uji Antijerawat Gel dengan Ekstrak Etanol 70% Buah Belimbing (Averrhoa bilimbi Linn.) terhadap bakteri Propionibacterium acnes. Uji aktivitas antimikroba ekstrak etanol buah Belimbing (Averrhoa bilimbi L.) terhadap Propionibacterium acnes, Staphylococcus epidermidis, MRSA dan MRCNS. Ekstrak Etanol Antibakteri Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi. L.) terhadap Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis, Skripsi, Fakultas Farmasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
EVALUASI TINGKAT KEPUASAN PASIEN TERHADAP PELAYANAN KEFARMASIAN DI KLINIK X MENGGUNAKAN
APLIKASI E-SERVQUAL BERBASIS WEB
EVALUATION OF PATIENT SATISFACTION LEVELS ON PHARMACEUTICAL SERVICES IN
USING WEB-BASED E-SERVQUAL APPLICATIONS
Untuk mengukur kepuasan pasien di klinik X sebagai upaya peningkatan mutu pelayanan, kepuasan pasien dapat diukur dengan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian di klinik X. Dimensi Sikap dan Penampilan Berdasarkan analisis data yang diperoleh aplikasi e-servqual dapat diketahui bahwa kepuasan pasien berada pada dimensi sikap dan penampilan, dengan nilai rata-rata kepuasan pasien sebesar 217.
Berdasarkan hasil analisis data, nilai dimensi reliabilitas dan harapan pasien sebesar 92,06%, sehingga hasil yang diperoleh melalui aplikasi e-servqual menunjukkan kepuasan pasien pada dimensi reliabilitas sebesar 78,9%. Dimensi waktu tunggu resep Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh melalui aplikasi e-servqual dapat diketahui kepuasan pasien pada dimensi waktu tunggu resep dengan nilai rata-rata kepuasan pasien dalam jumlah. 71,30%, dan nilai harapan pasien sebesar 92,13%, sehingga diperoleh hasil tingkat kepuasan pasien pada dimensi waktu tunggu resep sebesar 77,3% dalam kategori cukup puas.
Dimensi penjaminan adalah nilai harapan pasien sebesar 87,92%, berdasarkan hasil analisis data, maka hasil level yang diperoleh melalui aplikasi e-servqual kepuasan pasien pada dimensi menunjukkan bahwa kepuasan pasien atas jaminan adalah 82,8%% dengan jaminan . dimensi, dengan nilai rata-rata kategori kepuasan tinggi. Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh melalui aplikasi e-servqual dapat diketahui bahwa kepuasan pasien terletak pada dimensi empati, dengan rata-rata nilai kepuasan pasien sebesar 70,33% dan. Dimensi fasilitas dan amenitas Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh melalui aplikasi e-servqual dapat diketahui bahwa kepuasan pasien terletak pada dimensi fasilitas dan amenitas, dengan nilai rata-rata kepuasan pasien sebesar Rp.
72,20% dan nilai harapan pasien 81,13%, sehingga diperoleh hasil tingkat kepuasan pasien pada dimensi fasilitas dan amenitas sebesar 88,9% dengan kategori kepuasan tinggi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian dilihat dalam enam dimensi dengan menggunakan aplikasi e-servqual yang dirancang khusus untuk dapat menerima dan menangkap kembali tanggapan dari kuesioner yang diisi. per pasien, diperoleh hasil dimensi kehandalan, waktu tunggu resep, empati serta sarana dan fasilitas dianggap penting untuk diperhatikan. Analisis pengaruh kualitas pelayanan, harga dan fasilitas terhadap kepuasan pasien rawat jalan di RS Kariadi Semarang.
OPTIMASI FORMULA SEDIAAN KRIM M/A DARI EKSTRAK KULIT PISANG KEPOK (Musa acuminata
Salah satu polimer yang digunakan sebagai basa dalam sediaan krim adalah TEE dan asam stearat. Berdasarkan penelitian Cahyati, dkk (2015) menunjukkan bahwa krim yang menggunakan asam stearat dan trietanolamin stabil selama penyimpanan. Berdasarkan hal tersebut di atas maka dilakukan penelitian pembuatan sediaan krim dari ekstrak kulit pisang kepok menggunakan kombinasi asam stearat dan TEA dengan Simplex Lattice Design menggunakan Software Design Expert10.0.3.1 untuk mencari rasio asam stearat dan TEE yang paling optimal terhadap menghasilkan sediaan krim.
Optimasi formula krim menggunakan metode Simplex Lattice Design dengan dua variabel yaitu asam stearat dan trietanolamin. Pada Gambar 2 terlihat kurva linier yang menunjukkan bahwa semakin banyak trietanolamina yang ditambahkan dan semakin sedikit asam stearat yang ditambahkan maka viskositas krim semakin rendah. Grafik kelengketan pada Gambar 3 berbentuk linier, menunjukkan bahwa semakin banyak trietanolamina yang ditambahkan dan semakin sedikit asam stearat yang ditambahkan, semakin rendah kelengketan krim.
Variasi konsentrasi trietanolamina dan asam stearat mempengaruhi daya sebar sediaan krim yang dihasilkan. Semakin tinggi konsentrasi asam stearat, semakin tinggi viskositas krim, yang mengurangi pelumasan. Grafik daya sebar pada Gambar 4 menunjukkan bahwa semakin banyak trietanolamin yang ditambahkan dan semakin sedikit asam stearat yang ditambahkan maka daya sebar krim semakin tinggi.
Persamaan kombinasi asam stearat dan trietanolamina untuk dispersi menurut pendekatan Simplex Lattice Design dapat dilihat pada persamaan 4. Persamaan kombinasi asam stearat dan trietanolamina untuk proteksi (hari ke-0) menurut pendekatan Simplex Lattice Design adalah sebagai berikut. Campuran trietanolamin dan asam stearat dapat menurunkan daya proteksi ini, diketahui dari nilai yang dihasilkan.
KEMAMPUAN DAYA HAMBAT ANTIBAKTERI ANTARA EKSTRAK AKAR BELUNTAS DENGAN KULIT BUAH
MAHKOTA DEWA TERHADAP Eschericia coli
INHIBITORY POWER BETWEEN BELUNTAS ROOT WITH MAHKOTA DEWA FRUIT LEATHER EXTRACT ON THE
Flavonoid, saponin, alkaloid dan tanin yang terkandung dalam mahkota dewa diyakini bermanfaat. Setelah dikeringkan hingga kadar air 10%, akar beluntas dan mahkota dewa diekstraksi dengan pelarut etanol 96%. Berdasarkan hasil penelitian, ekstrak kental yang diperoleh dari ekstrak kental etanol 96% akar beluntas dan cangkang kerang (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl) ditunjukkan pada Tabel 2 berikut.
Hasil skrining senyawa fitokimia pada akar dan kulit belunta Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl) mengandung alkaloid, saponin dan flavonoid. Pada penelitian ini sampel akar dan kulit Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl diekstraksi dengan metode maserasi. Hasil tersebut menunjukkan bahwa ekstrak akar beluntas dan Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl) dapat menghambat pertumbuhan Escherichia coli.
Zona hambat dapat terbentuk karena sifat antibakteri yang terdapat pada akar belunta dan kulit mahkota dewa. Berdasarkan Gambar IV terlihat bahwa konsentrasi hambat minimum untuk ekstrak akar belutha adalah 6%, sedangkan ekstrak kulit buah Mahkota Dewa memiliki konsentrasi hambat minimum 12%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah: Ekstrak akar belunta memiliki aktivitas penghambatan yang lebih tinggi terhadap bakteri Escherichia coli dibandingkan ekstrak kulit buah mahkota dewa pada konsentrasi minimal 6%, sedangkan ekstrak kulit buah mahkota terlihat hanya pada konsentrasi 12%.
Berdasarkan uji t-berpasangan diketahui bahwa terdapat perbedaan aktivitas antibakteri yang signifikan antara ekstrak akar belunta dan kulit buah mahkota dewa. Pengujian Bahan Baku Antibakteri Buah Mahkota Dewa (Phaleria Macrocarpa (Scheff) Boerl.) Hasil Iradiasi Gamma dan Antibiotik Terhadap Bakteri Patogen. Pengujian aktivitas antibakteri fraksi etanol 70% dari ekstrak daun Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff) Boerl.) terhadap Stretococcus mutans.