• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Sosialisasi - UNM Online Journal Systems

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Jurnal Sosialisasi - UNM Online Journal Systems"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Oktovie Ekgea Sawitri, Imran, Iwan Ramadhan 10

Sosialisasi Keluarga Dalam Membentuk Kepribadian Anak (Studi Pada Keluarga Rumah Tangga Guru Ma Islamiyah)

Oktovie Ekgea Sawitri1, Imran2, Iwan Ramadhan3

1,2,3

Program Studi Pendidikan Sosiologi, Universitas Tanjungpura, Indonesia [email protected]1, [email protected]2, [email protected]3

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Sosialisasi Keluarga Dalam Membentuk Kepribadian Anak (Studi Kasus Pada Keluarga Rumah Tangga Guru MA Islamiyah Pontianak. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun informan dalam penelitian ini berjumlah 8 orang, yaitu terdiri dari 4 orangtua dan 4 anak. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dalam membentuk kepribadian anak diperlukan sosialisasi primer berupa nilai sosial, norma, nilai budaya, dan pendewasaan diri, sedangkan dalam sosialisasi sekunder berupa interaksi dan pembauran dengan lingkungan, penyesuaian diri, dan peran-peran sosial. Orangtua mengajarkan sosialisasi dengan anak seperti bersikap sopan dengan orang lain, berdoa sebelum makan, membantu orangtua, beribadah seperti sholat dan ngaji, bergaul dengan orang lain tanpa memandang suku, bersikap ramah dengan orang lain, mengetahui perannya di rumah dan di lingkungan masyarakat.

Kata Kunci: Sosialisasi, Keluarga, Kepribadian Anak

ABSTRACT

The purpose of this study is to find out the Socialization of Families in Shaping Children's Personalities (Case Study on Household Families of Ma Islamiyah Pontianak Teachers. This study uses case study method with qualitative approach. The data collection techniques in this study use observation, interview, and documentation. The informants in this study numbered 8 people, consisting of 4 parents and 4 children. The results of this study show that in shaping the personality of children, primary socialization is required in the form of social values, norms, cultural values, and self-maturity, while in secondary socialization in the form of interaction and interaction with the environment, self-adjustment, and social roles. Parents teach socialization with children such as being polite with others, praying before meals, helping parents, worshipping such as praying and ngaji, associating with others regardless of ethnicity, being friendly with others, knowing their role at home and in the community.

Keywords: Socialization, Family, Child Personality

PENDAHULUAN

Di era modern ini, keluarga menjadi salah satu media sosialisasi pertama yang diajarkan kepada anaknya. Orang tua akan mengajari anaknya apa yang dianggap baik dan benar dalam kehidupan bermasyarakat agar dapat mempengaruhi kepribadiannya di masa depan. Di dalam lingkungan tertentu, hal yang utama terhadap anak yaitu orang tua, sehingga melalui lingkungan ini diharapkan anak agar dapat memahami dunia sekitar serta pola sosial yang dipakai di dalam kehidupan sehari-hari, dan melalui lingkungan tersebut pula anak diharapkan agar dapat mengalami proses sosialisasi awal (primer). Sosialisasi pada prosesnya dimana seseorang mulai belajar untuk memahami perilaku (Anwar, 2018) terkait yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan di dalam lingkungan masyarakat (Soedarmo & Suryana, 2019).

Teori utama yang mengkaji hal sosialisasi yaitu teori fungsionalisme struktural yang dikemukakan oleh Talcott Parson. Ia percaya bahwa realitas merupakan suatu sistem sosial, di mana setiap bagian-bagian yang terkait dengan keseluruhan serta menafsirkannya

(2)

Oktovie Ekgea Sawitri, Imran, Iwan Ramadhan 11 sesuai dengan fungsi dari keseluruhan sistem (Turama, 2018). Semua tindakan diharuskan berorientasi pada tujuan dan memperhatikan tujuan terhadap individu lain. Melalui sosialisasi, seseorang akan memahami perannya dalam masyarakat sehingga mampu bertindak sesuai dengan peran dan aturan sosial yang ada dalam masyarakat tersebut.

Sesuai dengan norma sosial yang berlaku, setiap individu akan mampu saling berkoordinasi dan menyesuaikan pola tingkah laku di dalam interaksi sosial (Munisa, 2020).

Sosialisasi merupakan suatu proses yang dilakukan di dalam mempelajari suatu nilai, norma, kebiasaan, tingkah laku, serta semua hal yang terkait dengan proses tersebut yang dilakukan secara efektif sehingga individu dapat berpartisipasi secara efektif di dalam menjalani kehidupan sosialnya dalam sehari-hari (Lindriati et al., 2017). Sosialisasi berkembang dari lingkungan kecil seperti keluarga, seperti halnya lingkungan komunitas, keluarga terus berkembang. Seorang anak adalah seseorang ketika dia dilahirkan, dan kemudian tumbuh menjadi seseorang. Anak yang dibiasakan bersosialisasi sejak kecil akan membentuk pribadi yang memahami norma, tingkah laku, nilai dan peran sosial yang ada di lingkungan masyarakat. Sosialisasi memiliki dua jenis bentuk diantaranya yaitu sosialisasi primer dan sosialisasi sekunder (Mubaroka & Harianto, 2016).

Sosialisasi primer diatikan sebagai sosialisasi pertama, dimana sosialisasi ini diterapkan oleh setiap individu pada umumnya semasa masih kecil dan pada tahap ini, keluarga merupakan peran yang sangat penting, karena seorang anak akan melakukan dan meniru pola interaksi yang ada dalam keluarganya, serta menjadikan sosialisasi ini sebagai gerbang dalam menuju lingkungan yang ada di masyarakat (Yudhapramesti, 2016). Selain itu, terdapat juga sosialisasi sekunder, yang diartikan sebagai sosialisasi setelah adanya sosialisasi primer. Dalam sosialisasi ini, merupakan sosialisasi yang dilakukan dengan tujuan memperkenalkan seorang individu ke dalam lingkungan yang lebih luas lagi atau yang disebut dengan masyarakat, ataupun teman-teman, serta disebut juga sebagai proses sosialisasi yang berada di luar lingkungan keluarga (Mubaroka & Harianto, 2016). Dari definisi tersebut, dapat digolongkan bahwa keluarga merupakan salah satu agen sosialisasi primer.

Keluarga didefinisikan dan dapat diartikan sebagai suatu kesatuan yang ada sebagai bagian dari diri individu tersebut dan merupakan suatu bagian dalam lingkungan masyarakat secara keseluruhan (Maknunah, 2017). Dalam lingkungan keluarga, orang tua akan mengenalkan anaknya pada nilai-nilai budaya, norma sosial, dan segala aturan yang ada di masyarakat, disinilah anak mengalami disiplin pertama yang diperkenalkan dalam proses interaksi dan kehidupan sosial.

Interaksi antar anggota keluarga membuat anak menyadari bahwa dirinya adalah individu dan pribadi yang sosial. Keluarga adalah agen sosial utama sebelum seorang anak atau seseorang mengenal dunia yang lebih luas (yaitu masyarakat). Orang tua adalah agen penting dan memainkan peran penting dalam proses sosialisasi dasar ini. Dalam lingkungan keluarga, anak mulai menyadari norma, nilai, dan kebiasaan yang diterapkan di lingkungan masyarakat. Dalam hal ini, sosialisasi juga berperan dalam membentuk kepribadian seseorang. Kepribadian dapat diartikan sebagai suatu sifat yang terdapat dalam seorang individu dalam bentuk naluri, ataupun dorongan dan kecenderungan yang diperoleh melalui pengalaman yang ia temukan pada individu lain, ataupun juga dapat diartikan sebagai sifat dan cara yang unik dalam beradaptasi dengan lingkungan sekitar (Karim, 2020).

Sosialisasi keluarga dilakukan dengan tujuan mendidik seorang anak dimulai dari masa awal hingga terbentuknya kemandirian anak dan dibimbing pada masa

(3)

Oktovie Ekgea Sawitri, Imran, Iwan Ramadhan 12 pertumbuhannya agar anak memiliki cara berperilaku, bersikap, hingga bertindak yang sesuai dengan norma dan nilai yang ada dan berlaku di lingkungan masyarakat (Yulia, 2018). Pada dasarnya, dalam membentuk suatu kepribadian seseorang, sosialisasi dapat memengaruhi proses dalam pembentukan kepribadian, hal ini dikarenakan sosialisasi memegang peranan yang penting, karena setiap individu dapat membentuk kepribadian seseorang melalui proses sosialisasi itu sendiri (Fadli, 2016). Namun pada kenyataannya sosialisasi yang tidak seutuhnya didapat dari orangtua kepada anak dapat menyebabkan kepribadian anak yang tidak baik maka dari itu kita dapat menyimpulkan bagaimana pentingnya dalam membentuk kepribadian anak sehingga dapat mengatur berbagai hal, seperti hal baik dan buruk bagi kehidupan seseorang.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 23 November 2020 peneliti memperoleh informasi dari wawancara bersama salah seorang guru yaitu RW dimana diperoleh diketahui jumlah masing-masing anak dari setiap anggota keluarga, RW yang perkerjaannya sebagai guru SKI dan Akidah akhlak berumur 46 Tahun memiliki 3 orang anak yang beralamatkan di Jalan Tanjung Raya 2 Gang. H. Sulaiman, sedangkan EY yang perkerjaannya sebagai guru TIK berumur 47 Tahun memiliki 2 orang anak yang beralamatkan di Jalan Kom Yos Sudarso Gang. Lamtoro, lalu YI yang perkerjaannya sebagai guru sosiologi berumur 44 Tahun memiliki 2 orang anak yang beralamatkan di Jalan Dr. Wahidin Gang. Sepakat 2A, dan BS yang perkerjaannya sebagai guru fikih berumur 50 Tahun memiliki 4 orang anak yang beralamatkan di Jalan Prof. M. Yamin Gang. Swakarya 3. Sehingga penulis akan melakukan penelitian terkait bagaimana orangtua di dalam suatu keluarga tersebut menerapkan fungsi sosialisasi didalam keluarga.

Dari hal tersebut, penelitian ini akan membahas mengenai bagaimana sosialisasi keluarga dalam membentuk kepribadian anak (studi kasus pada keluarga rumah tangga guru MA Islamiyah Pontianak, baik sosialisasi keluarga secara primer maupun sosialisasi keluarga secara sekunder dalam membentuk kepribadian anak pada keluarga guru MA Islamiyah Pontianak. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui apa saja pelaksanaan sosialisasi keluarga secara primer maupun pelaksanaan sosialisasi keluarga secara sekunder dalam membentuk kepribadian anak pada keluarga guru MA Islamiyah Pontianak.

METODE PENELITIAN

Terkait dengan hal yang akan diteliti, maka di dalam penelitian ini maka metode yang dipakai yaitu dengan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus, dimana metode kualitatif merupakan metode yang digambarkan untuk meneliti pada obyek yang alamiah dan pada metode ini, bahwa peneliti dijadikan sebagai instrumen kunci (Sugiyono, 2016), serta metode ini juga dipakai menjadi prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang maupun perilaku yang dapat diamati oleh panca indera (Moleong, 2019). Penelitian ini juga menggunakan studi kasus. Studi kasus yaitu salah satu jenis penelitian yang dipakai guna menjawab terkait isu atau obyek terhadap suatu fenomena salah satunya fenomena di dalam cabang ilmu sosial dan memberikan penekanan kepada kasus yang akan dianalisis (Nur’aini, 2020). Lokasi peneitian ini terletak di MA Islamiyah di Jl. Imam Bonjol No.88, Bansir Laut, Kec. Pontianak Tenggara, Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78124.

Instrumen utama penelitian sosialisasi keluarga dalam membentuk kepribadian anak ini adalah peneliti sendiri.

Sumber data yang digunakan yaitu sumber data primer dimana data yang diperoleh langsung kepada pengumpul data. Sumber data primer didapat melalui wawancara dengan

(4)

Oktovie Ekgea Sawitri, Imran, Iwan Ramadhan 13 informan. Adapun informan dalam penelitian ini adalah guru di MA Islamiyah.

Sebaliknya, data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung kepada pengumpul data, seperti bentuk dokumen berupa jurnal sebagai literatur dan bentuk observasi.

Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu teknik obeservasi yang dimana peneliti turut serta berperan aktif dalam melakukan pengamatan di dalam suatu kelompok rumah tangga guru di MA Islamiyah Pontianak. Selain observasi, teknik wawancara juga dipakai dalam penelitian ini, bahwa teknik ini dilakukan dengan cara menyajikan dan mengajukan setiap pertanyaan terstruktur yang terkait dengan hal yang akan diteliti karena peneliti memakai pedoman wawancara yang sudah disusun secara sistematis dan lengkap dalam mengumpulkan data yang akan peneliti cari. Dalam hal ini, wawancara dilakukan dengan anak orangtua dan guru yang mengajar di MA Islamiyah Pontianak. Teknik dokumentasi dilakukan dengan cara mengambil dokumentasi berupa sumber gambar dan foto selama melakukan penelitian.

Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pedoman wawancara, panduan observasi serta dokumentasi. Data yang didapat dari hasil observasi dan wawancara di reduksi oleh peneliti. Pada bagian ini, penyerderhanaan data dilakukan dengan tahap seleksi, pemfokusan dan keabsahan data mentah disederhanakan menjadi informasi yang bermakna, sehingga memudahkan peneliti dalam mengambil suatu kesimpulan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Sosialisasi Keluarga Secara Primer Dalam Membentuk Kepribadian Anak Pada Keluarga Guru MA Islamiyah Pontianak

Berdasarkan hasil observasi tentang sosialisasi secara primer pada tanggal 22 Februari 2021 dengan Ibu RW, 20 Februari 2021 dengan Bapak BS, tanggal 01 Maret 2021 dengan Ibu YI, dan tanggal 04 Maret 2021 dengan Ibu EY. Diperoleh hasil observasi sebagai berikut.

a) Internalisasi nilai-nilai

Pada hasil yang dilakukan peneliti diperoleh data mengenai internalisasi nilai-nilai yang dimana peneliti melakukan observasi di lingkungan rumah Ibu RW yaitu orang tua dari KS. Peneliti mengamati bagaimana orangtua menanamkan nilai-nilai dan norma kepada KS. Terlihat pada gambar di atas merupakan contoh dari internalisasi nilai nilai yang dimana KS anak dari Ibu RW menerapkan salah satu contoh dari norma kesopanan dan kesusilaan yaitu sebelum berangkat KS berpamitan dahulu dengan orangtua nya dan mencium tangan orangtua nya sebelum berangkat pergi. Maka daripada itu internalisasi nilai nilai sosial berjalan dengan baik. Kemudian peneliti melakukan observasi di lingkungan rumah Bapak BS yaitu orang tua dari EL. Peneliti mengamati bagaimana orangtua menanamkan nilai-nilai kepada EL. EL anak dari bapak BS sedang mencium tangan bapak nya selesai sholat dan berpakaian yang baik dan sopan. Ini merupakan salah satu contoh pelaksanaan sosialisasi primer dalam internalisasi nilai nilai berupa norma kesopanan dan norma kebiasaan yang dimana EL berpakaian yang sopan dan kebiasaan mencium tangan orangtua nya selesai sholat. Maka daripada itu internalisasi nilai nilai sosial berjalan dengan baik.

(5)

Oktovie Ekgea Sawitri, Imran, Iwan Ramadhan 14 Peneliti juga melakukan observasi di lingkungan rumah Ibu YI yaitu orang tua dari AZ. Peneliti mengamati bagaimanaorangtua menanamkan nilai-nilai kepada AZ. Contoh dari internalisasi nilai nilai yang dimana AZ anak dari Ibu YI menerapkan salah satu contoh dari norma agama yaitu AZ anak dari ibu YI diajarkan mengaji tujuan dari Ibu YI mengajarkan anaknya mengaji adalah agar anak mengetahui dan memahami apa yang diajarkan. Peneliti melakukan observasi di lingkungan rumah Ibu EY yaitu orang tua dari EF. Peneliti mengamati bagaimana orangtua menanamkan nilai-nilai kepada EF. EF anak dari Ibu EY sedang mengaji. Hal ini merupakan salah satu contoh pelaksanaan sosialisasi primer dalam internalisasi nilai nilai berupa norma keagamaan yang dimana EF diajarkan oleh orangtuanya untuk mengaji selepas EF melakukan sholat magrib. Maka daripada itu internalisasi nilai nilai sosial berjalan dengan baik.

Orangtua sebagai agen sosialisasi primer dalam menanamkan internalisasi nilai- nilai telah terlaksana KS anak Ibu RW menerapkan norma kesopanan dan kesusilaan yang dimana sebelum berangkat pergi ke masjid KS berpamitan dan mencium tangan orangtuanya, dan EL anak dari Bapak BS menerapkan norma kesopanan dan kebiasaan yang dimana EL berpakaian dengan sopan dan mencium tangan orangtuanya selesai sholat yang dimana itu sudah menjadi kebiasaan EL. Hal ini merupakan contoh dari pelaksanaan internalisasi nilai-nilai.

Internalisasi dapat diartikan sebagai proses di dalam menanamkan suatu nilai kepada individu ataupun dapat disebut juga dengan membina individu tersebut dan tujuan dari internalisasi tersebut yaitu dapat membentuk pola pikir individu tersebut di dalam melihat makna realitas suatu pengalaman (Hamid, 2016). Hal ini juga diperkuat dengan hasil wawancara yang peneliti lakukan, dimana orangtua menanamkan internalisasi kepada anak dan anak tersebut juga menerapkan atau melaksanakan apa yang diajarkan orangtuanya.

b) Enkulturasi

Pada hasil observasi yang dilakukan peneliti diperoleh data mengenai enkulturasi yang dimana peneliti melakukan observasi dengan Ibu EY. Peneliti mengamati bagaimana Ibu EY mengajari EF tentang enkulturasi.Ibu EY sedang mengajari EF tentang enkulturasi yang dimana anak diajarkan pembiasaan yang baik seperti pendampingan secara agama sehingga sikap tersebut menjadi pola yang mantap untuk mengatur tindakkan nya. Maka daripada itu enkulturasi berjalan dengan baik. Kemudian peneliti melakukan observasi di lingkungan rumah Bapak BS yaitu orang tua dari EL. Peneliti mengamati bagaimana bapak BS mengajarkan enkulturasi kepada EL. Dari hasil observasi yang didapatkan EL anak bapak BS sering berada di pesantren sehingga bapak BS mengajarkan enkulturasi kepada EL hanya dengan ucapan mengenai budaya melayu.

Selanjunya pada hasil observasi yang dilakukan peneliti diperoleh data mengenai enkulturasi yang dimana peneliti melakukan observasi dengan Ibu YI. Peneliti mengamati bagaimana Ibu YI mengajari AZ tentang enkulturasi. Ibu YI sedang mengajari AZ tentang enkulturasi yang dimana anak diajarkan pembiasaan yang baik contohnya seperti anak diajarkan untuk bersalaman dengan orangtuanya selesai sholat. Dari pembiasaan tersebut maka dapat membentuk pribadi anak. Maka daripada itu enkulturasi berjalan dengan baik.

Pada hasil observasi yang dilakukan peneliti diperoleh data mengenai enkulturasi yang dimana peneliti melakukan observasi dengan Ibu RW. Peneliti mengamati bagaimana Ibu RW mengajari KS tentang enkulturasi. KS anak dari Ibu RW sedang menerapkan enkulturasi yang diajarkan oleh orangtuanya, yang dimana KS diajarkan oleh Ibu RW untuk belajar tanggung jawab yaitu berupa menjaga mainan yang telah diberikan oleh

(6)

Oktovie Ekgea Sawitri, Imran, Iwan Ramadhan 15 orangtuanya dan selepas bermain tidak lupa KS mengemaskan mainannya kembali agar mainan tersebut tidak rusak. Maka daripada itu enkulturasi berjalan dengan baik.

Dalam proses membudayakan seorang individu, bahwa individu harus dapat mempelajari hingga menyesuaikan pikirannya serta sikapnya dengan adat, sistem norma dan nilai yang hidup dalam kebudayaannya, serta ditransmisikan dari satu generasi kepada generasi berikutnya (Latuheru & Muskita, 2020). Oleh karena itu, proses pelatihan sudah dimulai di benak warga sosial. Pertama, orang-orang di lingkungannya bermain, kemudian teman-temannya bermain. Keluarga sebagai agen sosialisasi primer, bahwa peran orang tua dalam mendidik anak merupakan hal yang sangat penting (Nurjayanti et al., n.d.).

Orangtua sebagai lembaga yang memiliki peran penting dalam enkulturasi telah terlaksana yang dimana Ibu EY sedang mengajari EF tentang enkulturasi seperti pembiasaan yang baik contohnya pendampingan secara agama, hasil observasi juga diperkuat dengan wawancara yang dilakukan peneliti dengan informan EY dan EF.

c) Pendewasaan Diri

Pada hasil observasi yang dilakukan peneliti diperoleh data mengenai pendewasaan diri yang dimana peneliti melakukan observasi dengan Ibu YI. Peneliti mengamati bagaimana Ibu YI mengajari AZ tentang pendewasaan diri. Ibu YI yang sedang menemani AZ makan. Ini merupakan salah satu bentuk pendewasaan diri yang diajarkan Ibu YI kepada AZ. Maka daripada itu pendewasaan diri berjalan dengan baik. Kemudian pada hasil observasi yang dilakukan peneliti diperoleh data mengenai pendewasaan diri yang dimana peneliti melakukan observasi dengan Ibu RW. Peneliti mengamati bagaimana Ibu RW mengajari KS tentang pendewasaan diri. KS anak dari Ibu RW yang sedang mandi sendiri, hal ini merupakan salah satu bentuk pendewasaan diri yang diajarkan oleh Ibu RW kepada anaknya agar anak kedepannya bisa belajar untuk bersikap mandiri. Maka daripada itu pendewasaan diri berjalan dengan baik.

Selanjutnya pada hasil observasi yang dilakukan peneliti diperoleh data mengenai pendewasaan diri yang dimana peneliti melakukan observasi dengan Ibu EY. Peneliti mengamati bagaimana Ibu EY mengajari EF tentang pendewasaan diri. EF anak dari Ibu EY yang sedang merapikan tempat tidurnya, hal ini diajarkan oleh orangtua untuk merapikan tempat tidur selesai tidur dan hal ini juga diterapkan oleh EF setiap harinya. Hal ini dilakukan agar anak kedepannya bisa belajar untuk bersikap mandiri. Maka daripada itu pendewasaan diri berjalan dengan baik. Pada hasil observasi yang dilakukan peneliti diperoleh data mengenai pendewasaan diri yang dimana peneliti melakukan observasi dengan Bapak BS. Peneliti mengamati bagaimana Bapak BS mengajari EL tentang pendewasaan diri. Dari hasil yang didapat Bapak BS mengajarkan anaknya tentang pendewasaan diri yaitu melalui pesantren. Jadi EL dimasukkan kepesantren sehingga EL bisa belajar untuk mandiri sehingga EL bisa bersikap dewasa untuk dirinya sendiri. Dalam menerapkan sosialisasi primer di dalam keluarga, orangtua mengajarkan anak untuk bersikap sesuai dengan nilai sosial dan norma sosial. Anak juga diajarkan oleh orangtuanya berupa enkulturasi, internalisasi dan pendewasaan diri. Maka dapat disimpulkan dalam observasi pelaksanaan sosialisasi secara primer ini sudah berjalan dengan baik.

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 9 Januari – 4 Maret 2021. Bahwa secara umum peneliti dapat mengatakan bahwa sosialisasi di dalam keluarga sudah dapat berjalan dengan baik, hal ini terbukti dengan terlaksananya sosialisasi secara primer dan sekunder.

Pada pelaksanaan sosialisasi primer yaitu dengan menekankan pada nilai dan norma norma yang ada seperti menghormati yang lebih tua, menjaga sopan santun, bersikap

(7)

Oktovie Ekgea Sawitri, Imran, Iwan Ramadhan 16 teladan, beribadah, bersikap mandiri, membantu orang lain, menasehati anak, mengajarkan anak untuk bersikap tanggung jawab, menabung, jujur dalm berbicara, terbuka tentang apapun, mencuci tangan sebelum makan, berdoa sesudah dan sbeelum makan, dan pamit ketika ingin berpergian. Hasil observasi dan wawancara terhadap anak yaitu KS, EF, AZ, dan EL diperoleh data bagaimana orangtua melaksanakan sosialisasi primer terhadap kepribadian anak yaitu dengan mengajarkan anak untuk bersikap sesuai aturan dan norma yang ada di keluarga ataupun lingkungan sekitarnya, kemudian orangtua juga menanamkan nilai nilai social seperti nilai agama, nilai social, nilai keluarga, nilai ekonomi, nilai kejujuran dan nilai kerja sama yang harmonis dan juga norma seperti norma kesopanan, norma kesusilaan dan norma kebiasaan. Pada pelaksanaan sosialisasi sekunder yaitu dengan mengajarkan anak untuk berinteraksi dengan lingkungan disekitarnya seperti bermain dengan teman, berbaur dengan keluarga dan lingkungan luar, mengikuti organisasi yang ada di lingkungan rumah, membiarkan anak bermain dengan teman-temannya, anak diajarkan agar dapat bersikap dengan sopan, ramah dan tidak boleh berkelahi dengan temannya dan juga mengajarkan anak untuk mengerti perannya di keluarga dan di lingkungan luar. Pada hasil observasi dan wawancara terhadap anak yaitu KS, EF, AZ, dan EL diperoleh data bagaimana orangtua melaksanakan sosialisasi sekunder terhadap kepribadian anak yaitu dengan mengajak anak untuk berkenalan dengan lingkungan nya, membebaskan anak bermain dengan teman sebaya nya, dan anak juga mengetahui perannya sebagai anak,abang, dan adik dikeluarganya dan juga anak juga tau perannya disekolah

Orangtua sebagai pembentuk kepribadian anak dalam mengajarkan anak tentang pendewasaan diri telah terlaksana yang dimana Ibu YI yang membiasakan anaknya untuk bersikap mandiri seperti pada gambar AZ yang sedang makan sendiri tanpa harus dibantu oleh orangtua. Ini merupakan salah satu contoh bentuk kemandirian anak yang bisa mendewasakan anak. Gambarannya, ketika seseorang telah mencapai keseimbangan mental dan pola pikir dalam setiap perkataan dan perbuatannya”. Hasil observasi juga diperkuat dengan hasil wawancara peneliti dengan informan yaitu Ibu YI dan anaknya AZ.

Dari hal tersebut, peneliti dapat menyimpulkan bahwa orangtua berperan sebagai agen sosialisasi, yang dimana dari hasil penelitian saya orangtua mengajarkan anaknya tentang internalisasi nilai-nilai, enkulturasi dan pendewasaan diri. Internalisasi nilai nilai seperti nilai sosial, norma sosial, dan nilai budaya. Enkulturasi seperti nilai dan norma kebudayaan yang dialami individu selama hidupnya dan pendewasaan diri seperti mengajarkan anak untuk bersikap dewasa.

2. Pelaksanaan sosialisasi keluarga secara sekunder dalam membentuk kepribadian anak pada keluarga guru MA Islamiyah Pontianak

Berdasarkan hasil observasi tentang sosialisasi secara sekunder pada tanggal 22 Februari 2021 dengan Ibu RW, 20 Februari 2021 dengan Bapak BS, tanggal 01 Maret 2021 dengan Ibu YI, dan tanggal 04 Maret 2021 dengan Ibu EY. Diperoleh hasil observasi sebagai berikut.

a) Interaksi dan Pembauran

Berdasarkan hasil observasi sosialisasi secara sekunder yang dilakukan peneliti diperoleh data mengenai interaksi dan pembauran yang dimana peneliti melakukan observasi di lingkungan rumah Ibu YI. Peneliti mengamati bagaimana AZ anak Ibu YI menerapakan sosialisasi secara sekunder. AZ sedang bermain dengan teman temannya yang dimana ini merupakan salah satu contoh dari interaksi dan pembauran dengan

(8)

Oktovie Ekgea Sawitri, Imran, Iwan Ramadhan 17 lingkungan. Dimana AZ sedang berbicara dengan temannya dan mulai berbauran dan beradaptasi dengan lingkungan sebayanya. Maka daripada itu sosialisasi secara sekunder pada keluarga Ibu YI sudah berjalan dengan baik. Kemudian pada hasil observasi yang dilakukan peneliti diperoleh data mengenai interaksi dan pembauran yang dimana peneliti melakukan observasi dengan Ibu RW. Peneliti mengamati bagaimana Ibu RW mengajari KS tentang interaksi dan pembauran. KS anak dari Ibu RW yang sedang berinteraksi dengan orang yang lebih tua darinya, hal ini diajarkan oleh Ibu RW terkait interaksi dan pembauran, yang dimana interaksi tersebut KS berbicara dengan yang lebih tua darinya dan pembauran KS ikut bermain didalam kolam dengan yang lebih tua darinya. Maka daripada itu interaksi dan pembauran berjalan dengan baik.

Selanjutnya pada hasil observasi yang dilakukan peneliti diperoleh data mengenai interaksi dan pembauran yang dimana peneliti melakukan observasi dengan Ibu EY.

Peneliti mengamati bagaimana Ibu EY mengajari EF tentang interaksi dan pembauran. EF anak dari Ibu EY sedang bermain dengan teman-temannya didekat rumah, terlihat EF yang sedang berbicara dengan temannya dan bergabung didalam kelompok teman sepermainnya, hal ini diterapkan EY atas apa yang telah diajarkan Ibu EY dirumah yang mengajarkan anaknya untuk berinteraksi dan berbau dengan orang lain. Maka daripada interaksi dan pembauran dapat berjalan dengan baik. Selanjutnya pada hasil observasi yang dilakukan peneliti diperoleh data mengenai interaksi dan pembauran yang dimana peneliti melakukan observasi dengan Bapak BS. Peneliti mengamati bagaimana Bapak BS mengajari EL tentang interaksi dan pembauran. Dari hasil observasi yang didapat dengan bapak BS yaitu anak lebih banyak berinteraksi dan berbaur dengan lingkungan yang ada dipesantren karena EL setiap harinya bertemu dengan teman teman yang ada dipesantren, maka dari itu peneliti tidak mendapatkan hasil dokumentasi.

Orangtua sebagai pembentuk kepribadian anak dalam interaksi dan pemaburan telah terlaksana dengan baik yang dimana AZ anak dari Ibu YI sedang bermain dengan teman sebayanya. Terlihat pada gambar AZ sedang berinteraksi dan berbaur dengan temannya untuk ikut bermain. Dalam hal ini, interaksi dapat terjadi dikarenakan adanya hubungan terkait satu pihak dan pihak lainnya yang saling mempengaruhi.

Pada anak, interaksi yang terjadi dapat berupa tingkah laku yang diwujudkan kepada individu lain dalam hubungan sosial antara anak dengan orang yang terdapat di sekitarnya. Melalui interaksi, seorang anak akan belajar bagaimana cara memahami perasaan satu sama lain dan menghargai sesama yang ada di sekitarnya dan dengan adanya interaksi juga anak anak dapat berbaur dengan lingkungan nya sehingga terjalinnya suatu hubungan sosial. Hasil obervasi juga diperkuat dengan wawancara peneliti dengan informan yaitu Ibu YI dan anaknya AZ.

b) Penyesuaian Diri

Berdasarkan hasil observasi sosialisasi secara sekunder yang dilakukan peneliti diperoleh data mengenai penyesuaian diri yang dimana peneliti melakukan observasi di lingkungan rumah Ibu YI. Peneliti mengamati bagaimana AZ anak Ibu YI menerapakan sosialisasi secara sekunder. AZ sedang berbaur dengan teman sebayanya, ia melibatkan diri dalam relasi dengan orang lain dengan mencoba ikut bermain dengan temannya yang dimana ini merupakan salah satu contoh dari penyesuaian diri. Maka daripada itu sosialisasi secara sekunder pada keluarga Ibu YI sudah berjalan dengan baik. Kemudian pada hasil observasi yang dilakukan peneliti diperoleh data mengenai penyesuaian diri yang dimana peneliti melakukan observasi dengan Ibu RW. Peneliti mengamati bagaimana Ibu RW mengajari KS tentang penyesuaian diri. KS anak dari Ibu RW sedang bermain

(9)

Oktovie Ekgea Sawitri, Imran, Iwan Ramadhan 18 mainan yang dimana mainan tersebut dimainkan bersama. Pada saat temannya memegang mainan mobil-mobilan KS menghargai temannya untuk bermain bersama ini merupakan salah satu contoh sikap dari pembauran. Maka daripada itu penyesuaian diri berjalan dengan baik.

Selanjutnya pada hasil observasi yang dilakukan peneliti diperoleh data mengenai penyesuaian diri yang dimana peneliti melakukan observasi dengan Ibu EY. Peneliti mengamati bagaimana Ibu EY mengajari EF tentang penyesuaian diri. EF anak dari Ibu EY sedang berkumpul dengan temannya yang dimana pada saat datang EF mencoba menyesuaian apa yang ada dilingkungan tempatnya bermain dengan mengikuti apa yang temannya bermain ini merupakan salah satu contoh sikap dari pembauran. Maka daripada itu interaksi dan pembauran berjalan dengan baik. Pada hasil observasi yang dilakukan peneliti diperoleh data mengenai penyesuaian diri yang dimana peneliti melakukan observasi dengan Bapak BS. Peneliti mengamati bagaimana Bapak BS mengajari EL tentang penyesuaian diri. Dari hasil observasi yang diperoleh bapak BS menitipkan annaknya ke pesantren sehingga bentuk penyesuaian diri yang EL lakukan adalah beradaptasi dengan lingkungan yang ada dipesantren contoh seperti menyesuaiakan diri dengan teman sekamarnya.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti mengenai penyesuaian diri, AZ anak dari Ibu YI telah melaksanakan sosialisasi sekunder dengan baik. Hal ini selaras yang dimana AZ ikut bergabung dengan teman dan mencoba untuk mulai menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan temannya.

c) Peran Sosial

Berdasarkan hasil observasi sosialisasi secara sekunder yang dilakukan oleh peneliti diperoleh data mengenai peran-peran sosial yang dimana peneliti melakukan observasi di lingkungan rumah Ibu RW. Salah satu contoh dari sosialisasi secara sekunder yang dimana KS anak dari Ibu RW yang sedang menjalankan perannya sebagai anak dalam membantu orangtuanya di dalam rumah. Maka daripada itu pelaksanaan peran peran sosial pada keluarga Ibu RW sudah berjalan dengan baik. Selanjutnya peneliti melakukan observasi di rumah Bapak BS yaitu orangtua dari EL, peneliti mengamati bagaimana EL anak Bapak BS menerapkan sosialisasi sekunder. Salah satu contoh pelaksanaan sosialisasi secara sekunder yang berupa peran sosial. Bapak BS yang membuka warung di depan rumahnya dimana EL anak dari Bapak BS yang sedang membantu menjalankan perannya sebagai anak yaitu membantu orangtuanya diwarung. Maka daripada itu pelaksanaan peran peran sosial dalam sosialisasi secara sekunder sudah berjalan dengan baik.

Kemudian peneliti melakukan observasi di rumah Ibu EY yaitu orangtua dari EF, peneliti mengamati bagaimana EF anak ibu EY menerapkan sosialisasi sekunder. EF anak dari Ibu EY yang sedang menerapkan sosialisasi secara sekunder yang diaman EF sedang merapikan mainan di rumahnya ini merupakan salah satu contoh peran sosial karena EF sadar akan perannya sebagai anak. Maka daripada itu pelaksanaan peran-peran sosial dapat berjalan dengan baik. Peneliti melakukan observasi di rumah Ibu YI yaitu orangtua dari AZ, peneliti mengamati bagaimana AZ anak ibu YI menerapkan sosialisasi sekunder. AZ anak dari Ibu YI sedang mencuci piring, ini merupakan salah satu peran AZ dirumah yaitu setelah makan ia mencuci piringnya dirumah. Maka daripada itu pelaksanaan peran-peran sosial dapat berjalan dengan baik. Dalam menerapkan sosialisasi sekunder di dalam keluarga adalah orangtua mengajarkan anak tentang peran-peran sosialnya baik itu di rumah. Dan disini juga dapat disimpulkan apa yang diajarkan oleh orangtua dalam

(10)

Oktovie Ekgea Sawitri, Imran, Iwan Ramadhan 19 sosialisasi sekunder di rumah dapat diterapkan anak di lingkungan luar rumah seperti berinteraksi dengan temannya dan berbaur serta menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 9 Januari – 4 Maret 2021 tentang Sosialisasi Keluarga Dalam Membentuk Kepribadian Anak (Studi Kasus Pada Keluarga Rumah Tangga Guru MA Islamiyah Pontianak). Secara umum peneliti dapat mengatakan bahwa sosialisasi di dalam keluarga sudah dapat berjalan dengan baik, hal ini terbukti dengan terlaksananya sosialisasi secara primer dan sekunder.

Pada pelaksanaan sosialisasi primer yaitu dengan menekankan pada nilai dan norma norma yang ada seperti menghormati yang lebih tua, menjaga sopan santun, bersikap teladan, beribadah, bersikap mandiri, membantu orang lain, menasehati anak, mengajarkan anak untuk bersikap tanggung jawab, menabung, jujur dalm berbicara, terbuka tentang apapun, mencuci tangan sebelum makan, berdoa sesudah dan sbeelum makan, dan pamit ketika ingin berpergian.

Dan untuk hasil observasi dan wawancara terhadap anak yaitu KS, EF, AZ, dan EL diperoleh data bagaimana orangtua melaksanakan sosialisasi primer terhadap kepribadian anak yaitu dengan mengajarkan anak untuk bersikap sesuai aturan dan norma yang ada di keluarga ataupun lingkungan sekitarnya, kemudian orangtua juga menanamkan nilai nilai social seperti nilai agama, nilai social, nilai keluarga, nilai ekonomi, nilai kejujuran dan nilai kerja sama yang harmonis dan juga norma seperti norma kesopanan, norma kesusilaan dan norma kebiasaan.

Pelaksanaan sosialisasi sekunder yaitu dengan mengajarkan anak untuk berinteraksi dengan lingkungan disekitarnya seperti bermain dengan teman, berbaur dengan keluarga dan lingkungan luar, mengikuti organisasi yang ada dilingkungan rumah, membiarkan anak bermain dengan teman-temannya, anak diajarkan untuk bersikap sopan, ramah dan tidak boleh berkelahi dengan temannya dan juga mengajarkan anak untuk mengerti perannya di keluarga dan dilingkungan luar.

Hasil observasi dan wawancara terhadap anak yaitu KS, EF, AZ, dan EL diperoleh data bagaimana orangtua melaksanakan sosialisasi sekunder terhadap kepribadian anak yaitu dengan mengajak anak untuk berkenalan dengan lingkungan nya, membebaskan anak bermain dengan teman sebaya nya, dan anak juga mengetahui perannya sebagai anak,abang, dan adik dikeluarganya dan juga anak juga tau perannya disekolah.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti mengenai peran-peran sosial didapatkan kesamaan antar teori dengan hasil penelitian yang peneliti lakukan yang dimana anak menjalankan hak-hak dan kewajibannya sesuai kedudukan nya seperti KS anak dari Ibu RW yang sedang membantu orangtuanya dirumah seperti menyapu rumah, KS sadar akan perannya dirumah yaitu sebagai anak. Kemudian EL anak dari Bapak BS yang sedang membantu orangtuanya berjualan diwarung ini merupakan salah satu peran EL yaitu sebagai anak membantu orangtuanya diwarung, dan yang terakhir terlihat pada gambar 4.9 EF anak dari Ibu EY sedang memrapikan mainan nya, yang dimana EF sadar akan perannya sebagai anak dan abang dirumah yaitu membantu orangtuanya.

Maka daripada itu pelaksanaan peran-peran sosial dapat berjalan dengan baik. Hasil observasi juga diperkuat dengan hasil wawancara yaitu dengan Ibu RW, Bapak BS, Ibu EY, KS, EL dan EF. Dari hal tersebut, bahwa yang menjadi agen sosialisasi di dalam sosialisasi sekunder ini adalah lingkungan, yang dimana anak diajarkan oleh orangtua nya untuk berinteraksi dan berbaur dengan lingkungan, menyesuaikan diri dengan lingkungan dan mengetahui peran peran sosialnya.Contohnya seperti anak dibiarkan bermain dengan

(11)

Oktovie Ekgea Sawitri, Imran, Iwan Ramadhan 20 teman sebayanya dilingkungan rumah tetapi anak juga masih dalam tetap pengawasan orangtua.

PENUTUP

Berdasarkan hasil penyajian data dan pembahasan yang telah dipaparkan dan dijelaskan oleh peneliti, maka dapat disimpulkan bahwa orangtua dalam melaksanakan sosialisasi secara primer dan sekunder dapat berjalan dengan baik hal ini dibuktikan bahwa dengan keterlibatan orangtua dalam menanamkan sosialisasi kepada anak seperti mengajarkan anak tentang norma sosial, nilai sosial, nilai budaya, enkulturasi, internalisasi, pendewasaan diri, interaksi, pembauran dengan lingkungan, penyesuaian diri dan peran- peran sosial. Sosialisasi keluarga secara primer dalam membentuk kepribadian anak pada keluarga guru MA Islamiyah Pontianak sudah terlaksana hal ini telah dibuktikan bahwa orangtua telah mengajarkan anak tentang internalisasi nilai-nilai seperti norma kesopanan, norma kesusilaan, norma kebiasaan, nilai sosial, dan nilai budaya, enkulturasi seperti pembiasaan yang baik contohnya pembiasaan dalam hal ibadah atau agama, dan pendewasaan diri seperti anak diajarkan untuk bersikap mandiri. Selain itu, pelaksanaan sosialisasi keluarga secara sekunder dalam membentuk kepribadian anak pada keluarga guru MA Islamiyah Pontianak telah berjalan dengan baik hal ini dibuktikan bahwa orangtua telah mengajarkan anak dalam sosialisasi sekunder untuk mengenal lingkungan luar seperti anak diajarkan bagaimana berinteraksi dengan orang lain seperti berteman dengan siapa saja, membaur dan penyesuaian dengan lingkungan seperti bergaul dengan teman teman dan beradaptasi dilingkungan dimana ia berada dan mengenal perannya baik itu dilingkungan rumah maupun lingkungan masyarakat seperti jika dilingkungan rumah anak membantu orangtuanya dan jika dilingkungan luar anak berperan sebagai pelajar.

Dengan adanya sosialisasi secara sekunder ini yang di ajarkan oleh orangtua nya anak mampu menerapkan di lingkungan luar rumah sehingga anak dengan mudah dapat beradaptasi dengan lingkungan nya.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar. (2018). Paradigma sosialisasi dan kontribusinya terhadap pengembangan jiwa beragama anak. Jurnal Al-Maiyyah, 11(1), 65–79.

Fadli, M. (2016). Peran agen sosialisasi dalam pembentukan perilaku Remaja di Desa Putik Kecamatan Palmatak Kabupaten Anambas. Jurnal Elektronik Tugas Akhir Mahasiswa.

Hamid, A. (2016). Metode internalisasi nilai-nilai akhlak dalam pembelajaran pendidikan agama Islam di SMP Negeri 17 kota Palu. Jurnal Pendidikan Agama Islam - Ta’lim, 14(2), 195–206.

Karim, B. A. (2020). Teori kepribadian dan perbedaan individu. Education and Learning Journal, 1(1), 40–49.

Latuheru, R. D., & Muskita, M. (2020). Enkulturasi budaya pamana. Jurnal Badati, 2(1), 107–113.

Lindriati, S., Suntoro, I., & Pitoewas, B. (2017). Pengaruh sosialisasi dan tingkat pemahaman masyarakat terhadap minat pembuatan akta kematian di Desa Purworejo.

Jurnal Kultur Demokrasi, 5(6).

(12)

Oktovie Ekgea Sawitri, Imran, Iwan Ramadhan 21 Maknunah, A. (2017). Pelaksanaan fungsi keluarga (studi kasus pelaksanaan fungsi keluarga pada suami pelaku poligami di Kecamatan Kerumutan Kabupaten Pelalawan). JOM FISIP, 4(2), 1–12.

Moleong, L. J. (2019). Metodologi Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). PT. Remaja Rosda Karya.

Mubaroka, K. U., & Harianto, S. (2016). Sosialisasi primer keluarga pemulung (Kajian Konstruksi Sosial di Pemakaman Rangkah Kecamatan Simokerto Surabaya). Jurnal Paradigma, 4(3), 1–7.

Munisa. (2020). Pengaruh Sosialisasi Dan Tingkat Pemahaman Masyarakat Terhadap Minat Pembuatan Akta Kematian di Desa Purworejo. Jurnal Ilmiah Online, 13(1), 102–114.

Nur’aini, R. D. (2020). Penerapan metode studi kasus YIN dalam penelitian arsitektur dan perilaku. Jurnal Inersia, 16(1), 92–104.

Nurjayanti, A. M., Syarifuddin, R. T. U., Awaru, A. O. T., & Equatora, M. A. (n.d.). Social Competence and Compensation for Employee Performance through Public Services in the Office of Women’s Empowerment, Child Protection, Population Control, and Family Planning.

Soedarmo, U. R., & Suryana, A. (2019). Peran keluarga dalam sosialisasi adat istiadat komunitas Dusun Kuta. Jurnal Artefak, 6(2), 85–98.

Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Alfabeta.

Turama, A. R. (2018). Formulasi teori fungsionalisme struktural Talcott Parsons. Jurnal Eufoni, 2(2), 58–69.

Yudhapramesti, P. (2016). Dunia Bentukan Orang Tua: Kajian Fenomenologi tentang Isolasi Sosial terhadap Anak dan Pembentukan Konsep Diri Serta Karakter Anak.

Avant Garde: Jurnal Ilmu Komunikasi, 4(1).

Yulia, F. (2018). Peran keluarga bekerja dalam mensosialisasikan nilai agama pada anak di RT 02 RW 02 desa Tarai Bangun kecamatan Tambang kabupaten Kampar. JOM FISIP, 5(1), 1–14.

Referensi

Dokumen terkait