• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Universitas Muhammadiyah Jakarta

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Jurnal Universitas Muhammadiyah Jakarta"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

KEJADIAN DIABETES MELLITUS TIPE II PADA LANSIA DI INDONESIA (ANALISIS RISKESDAS 2018)

1Fibra Milita 1, 2Sarah Handayani 1,

Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat, Sekolah Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Prof.Dr HAMKA

Alamat Jl. Warung Jati Barat, Blok Darul Muslimin No.17 RT.2/RW, RT.2/RW.5, Kalibata, Kec. Pancoran, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12740

Email : [email protected]

Diterima : DD MM YYY Direvisi : DD MM YYY Disetujui : DD MM YYY

ABSTRAK

Diabetes mellitus adalah kelompok penyakit metabolik dengan ciri khas hiperglikemi yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, ataupun keduanya. Diabetes tipe 2 merupakan 90%

dari seluruh kategori diabetes mellitus. Populasi lansia diprediksi terus mengalami peningkatan.

Lansia secara alami juga akan menghadapi masalah yaitu penurunan kesehatan. Salah satu penyakit yang menyertai lansia adalah Diabetes Mellitus. Tujuan dari penelitian ini mengetahui faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian DM tipe 2 pada lansia di Indonesia.

Penelitian ini bersifat analitik dengan disain studi cross sectional. Penelitian ini merupakan analisis data sekunder dengan menggunakan data Riset Kesehatan Dasar 2018. Hasil uji statistik menunjukan variabel-variabel yang berhubungan dengan kejadian DM tipe 2 pada lansia di Indonesia antara lain karakteristik responden yang terdiri dari pendidikan (OR = 0,403, nilai p = 0,000) dan pekerjaan (OR = 3,010, nilai p = 0,000) kemudian aktivitas fisik (OR = 1,466, nilai p

= 0,000), kebiasaan merokok (OR = 0,764, nilai p = 0,000), konsumsi buah dan sayur (OR = 0,797, nilai p = 0,000) obesitas (OR = 1,896, nilai p= 0,000) dan riwayat hipertensi (OR = 1,960, nilai p = 0,000). Sedangkan untuk variabel makanan/minuman yang berisiko yang berhubungan dengan kejadian DM tipe 2 pada lansia di Indonesia antara lain makanan manis (OR = 0,374, nilai p = 0,000), minuman manis (OR = 0,217, nilai p = 0,000), makanan asin (OR = 0,744, nilai p = 0,000), makanan berlemak (OR = 0,909, nilai p = 0,013), bumbu penyedap (OR = 0,744, nilai p = 0,000), soft drink (OR = 0,804, nilai p = 0,021), minuman berenergi (OR = 0,728, nilai p=0,004) dan mie instant (OR = 0,686, nilai p = 0,000)

.

Kata kunci:

Diabetes Melitus, Lansia, Makan/minum Berisiko, Perilaku Sehat

ABSTRACT

(2)

Diabetes mellitus is a group of metabolic diseases with symptomatic hyperglycemia that occurs due to abnormalities in insulin secretion, insulin action, or both. Type 2 diabetes is 90% of all categories of diabetes mellitus. The elderly population is predicted to continue to increase. The Elderly will also naturally face a problem that is a decrease in health. One of the diseases that accompany the elderly is Diabetes Mellitus. The purpose of this study is to determine the risk factors associated with the incidence of type 2 diabetes in the elderly in Indonesia. This research is analytic with a cross-sectional study design. This study is a secondary data analysis using the 2018 Basic Health Research data. The results of statistical tests show variables related to the incidence of type 2 diabetes in the elderly in Indonesia, including the characteristics of respondents consisting of education (OR=0,403 and p-value=0,000) and employment (OR=3,010 and p-value=0,000) and then physical activity (OR=1,466 and p-value=0,000), smoking habits (OR=0,764 and p-value=0,000), fruit and vegetables consumption (OR=0,797 and p-value=0,000), obesity (OR=1,896 and p-value=0,000), and history of hypertension (OR=1,960 and p-value=0,000). Meanwhile, food and beverage intake at risk with type 2 diabetes mellitus in the elderly in Indonesia, among others, sweety foods (OR=0,374, p- value=0,000), sweety drinks (OR=0,217, p-value=0.000), salty foods (OR=0,744, p- value=0,000), fatty foods (OR=0,909, p-value=0,013), seasonings (OR=0,744, p-value=0,000), soft drinks (OR=0,804, p-value=0,021), drinks energized (OR=0,728, p-value = 0,004) and instant noodles (OR,=0.686, p-value = 0,000.

Keywords: Diabetes mellitus, the elderly, high risk food and drink, healthy lifestyle

(3)

Pendahuluan

Diabetes mellitus adalah kelompok penyakit metabolik dengan ciri khas hiperglikemi yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, ataupun keduanya.(1) Diabetes mellitus adalah masalah kesehatan yang penting karena termasuk salah satu dari empat penyakit tidak menular yang menjadi target tindak lanjut oleh para pemipin negara. Jumlah kasus dan dan prevelansi dibetes mellitus terus meningkat sampai beberapa tahun yang akan datang.(2)

Jumlah penderita Diabetes Mellitus di dunia semakin bertambah setiap tahunnya, hal ini disebabkan peningkatan jumlah populasi, usia, prevalensi obesitas dan penurunan aktivitas fisik.(3) Diperkirakan 422 juta penduduk dewasa hidup dengan diabetes pada tahun 2014 dibandingkan 108 juta pada tahun 1980 dan pada tahun 2040 jumlahnya akan meningkat menjadi 642 juta.(4) Prevalensi diabetes di dunia meningkat hampir dua kali lipat. Hal ini menandakan peningkatan faktor risiko seperti kelebihan berat badan atau obesitas. Selama dekade terakhir, prevalensi diabetes meningkat cepat di negara berpenghasilan rendah dan menengah dibandingan negara berpenghasilan tinggi.(5)

WHO memprediksi kenaikan jumlah penderita diabetes mellitus di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta

pada tahun 2030. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan jumlah penderita DM sebanyak 2-3 kali lipat pada tahun 2035.(2) Menurut International Diabetes Federation (IDF) diperkirakan adanya peningkatan jumlah penderita DM di Indonesia dari 9,1 juta pada tahun 2014 menjadi 14,1 juta pada tahun 2035.

Laporan Riset Kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukan bahwa prevalensi DM di Indonesia berdasarkan diagnosis dokter pada penduduk umur ≥ 15 tahun adalah 2%. Hal ini menunjukkan bahwa ada peningkatan prevalensi DM di Indonesia dibandingkan hasil Riskesdas 2013 yaitu 1,5%. Berdasarkan kategori usia, penderita DM terbanyak berada pada rentang usia 55-64 tahun dan 65-74 tahun.

Lanjut usia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas.(6) Populasi lansia diprediksi terus mengalami peningkatan.

Peningkatan jumlah lansia dapat berdampak positif, jika lansia indonesia berada dalam keadaan mandiri, sehat, dan produktif.

Sedangkan dampak negatif dari peningkatan jumlah lansia adalah meningkatnya beban penduduk usia produktif terhadap penduduk usia nonproduktif, khususnya lansia.(7) Lansia secara alami juga akan menghadapi masalah yaitu penurunan kesehatan. Salah satu penyakit yang menyertai lansia adalah Diabetes Mellitus.

Diabetes mellitus merupakan silent killer disease, karena banyak tidak disadari oleh

(4)

penderitanya dan saat sudah diketahui sudah terjadi komplikasi. Terdapat dua kategori diabetes mellitus antara lain diabetes mellitus tipe 1 dan tipe 2. Pada penelitian ini kategori yang akan dibahas adalah diabetes tipe 2.

Diabetes tipe 2 adalah disebut juga non-insulin dependent yang disebabkan penggunaan insulin yang kurang efektif. Diabetes tipe 2 merupakan 90% dari seluruh kategori diabetes mellitus.

Komplikasi yang dapat terjadi antara lain gangguan sistem kardiovaskular seperti atherosklerosis, retinopati, gangguan fungsi ginjal dan kerusakan saraf. Diabetes dengan komplikasi merupakan penyebab kematian tertinggi ketiga di Indonesia sebesar 6,7%.

Peningkatan prevalensi diabetes mellitus tipe 2 di Indonesia perlu dicegah. Salah satu cara untuk mencegahnya adalah dengan mengetahui faktor-faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya diabetes mellitus dimasyarakat. Berdasarkan penelitian-penelitian terdahulu bahwa faktor perilaku, sosiodemografi dan gaya hidup serta keadaan klinis atau mental dapat mempengaruhi kejadian diabetes mellitus.

Faktor sosiodemografi antara lain, umur, jenis kelamin, status perkawinan, tingkat pendidikan dan pekerjaan. Faktor-faktor perilaku antara lain konsumsi sayur dan buah, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol dan aktivitas fisik.

Lansia yang menderita DM yang cukup lama pada umumnya memiliki kualitas hidup yang kurang baik karena memiliki pengaruh negatif terhadap fisik dan psikologis para penderita. Penderita DM ini biasanya sudah

tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari dan tidak dapat beraktifitas sosial.(8)

Berdasarkan latar belakang diatas peneliti ingin meneliti tentang Kejadian Diabetes Mellitus Tipe II Pada Lansia di Indonesia.

Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan analisis data sekunder dengan menggunakan data Riset Kesehatan Dasar 2018 (Riskesdas/RKD18).

Riskesdas 2018 adalah sebuah survei yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia Riskesdas 2018 adalah survey yang dilakukan dengan menggunakan desain cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh penduduk lanjut usia (≥60 tahun) di Indonesia berdasarkan data Riskesdas tahun 2018 oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Sampel pada penelitian ini adalah penduduk lanjut usia (≥ 60 tahun) yang tercatat pada data Riskesdas 2018 dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Adapun kriteria yang dimaksud adalah sebagai berikut.

(1) Kriteria inklusi yaitu mereka yang berada yang usia nya > 60 tahun dan dilibatkan dalam wawancara langsung;

(2) Kriteria eksklusi yaitu mereka yang memiliki data hasil kuesioner dan wawancara yang tidak lengkap pada semua variabel penelitian.

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah umur, jenis kelamin, pendidikan, status

(5)

pekerjaan, riwayat hipertensi, makanan/minuman berisiko, konsumsi buah dan sayur, kebiasaan merokok, aktifitas fisik, kebiasaan minum alkohol dan status gizi.

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kejadian Diabetes Mellitus Tipe 2.

Hasil

Tabel 1. Distribusi frekuensi karakteristik responden.

Karakteristik Responden

Frekuens i (n)

Persentas e (%) Umur

a. Usia Lanjut Berisiko Tinggi (≥ 65 tahun) b. Usia Lanjut Dini

(60-64 tahun)

38695 19098

67 33 Jenis Kelamin

a. Laki-Laki b. Perempuan

25795 31998

44,6 55,4 Pendidikan Tertinggi

a. Rendah (tamat SD – SMP)

b. Tinggi (tamat SMA–

Perguruan tinggi)

48824 8969

84,5 15,5 Jenis Pekerjaan

a. Ringan - Sedang b. Berat

37554 20239

65 35 Tabel 1 menunjukkan bahwa mayoritas responden pada penelitian ini, berusia di atas 65 tahun (usia lanjut berisiko tinggi) yaitu sebanyak 67%. Adapun untuk jenis kelamin mayoritas responden adalah perempuan (55,4%).

Berdasarkan tingkat pendidikan tertinggi, sebagian besar responden adalah lulusan SD hingga SMP (pendidikan rendah) yaitu sebanyak 84,5%.

Sedangkan jika dilihat dari jenis pekerjaan,

mayoritas responden yaitu sebanyak 65%

memiliki pekerjaan dengan derajat ringan-sedang.

Jenis-jenis pekerjaan dengan derajat ringan antara lain tidak bekerja, ibu rumah tangga, pegawai negeri sipil, pegawai BUMN dan swasta. Jenis pekerjaan dengan derajat sedang antara lain TNI, Polri, wiraswasta, pedagang dan pelayanan jasa.

Gambaran Riwayat Hipertensi

Gambar 1. Gambaran riwayat hipertensi Gambar 1. Menunjukkan bahwa mayoritas responden yaitu sebanyak 68,4% tidak memiliki riwayat hipertensi.

Tabel 2 menunjukkan mayoritas responden mengkonsumsi makanan/minuman berisiko dengan frekuensi ≥ 1 kali/hari atau 1-6 kali/minggu (makanan manis, minuman manis, makanan asin, makanan lemak dan bumbu penyedap). Sedangkan untuk jenis makanan bakar, makanan pengawet, soft drink, minuman berenergi dan mie instant responden mengkonsumsi dengan frekuensi ≤ 3 kali/bulan.

(6)

Tabel 2. Gambaran pola makan berisiko Konsumsi

Makanan/Minuman Berisiko

Frekuens i (n)

Persentase (%) Makanan Manis

a. ≥ 1 kali/hari atau 1-6 kali/minggu b. ≤ 3 kali/bulan

atau tidak pernah

45758 12035

79,2 20,8 Minuman Manis

a. ≥ 1 kali/hari atau 1-6 kali/minggu b. ≤ 3 kali/bulan

atau tidak pernah

49433 8360

85,5 14,5 Makanan Asin

a. ≥ 1 kali/hari atau 1-6 kali/minggu b. ≤ 3 kali/bulan

atau tidak pernah

34172 23621

59,1 40,9 Makanan Lemak

a. ≥ 1 kali/hari atau 1-6 kali/minggu b. ≤ 3 kali/bulan

atau tidak pernah

44584 13209

77,1 22,9 Makanan Bakar

a. ≥ 1 kali/hari atau 1-6 kali/minggu b. ≤ 3 kali/bulan

atau tidak pernah

19534 38259

33,8 66,2 Makanan Pengawet

a. ≥ 1 kali/hari atau 1-6 kali/minggu b. ≤ 3 kali/bulan

atau tidak pernah

7085 50708

12,3 87,7 Bumbu Penyedap

a. ≥ 1 kali/hari atau 1-6 kali/minggu b. ≤ 3 kali/bulan

atau tidak pernah

46276 11517

80,1 19,9 Soft Drink

a. ≥ 1 kali/hari atau 1-6 kali/minggu b. ≤ 3 kali/bulan

atau tidak pernah

2244 55549

3,9 96,1 Minuman

Berenergi

a. ≥ 1 kali/hari atau 1-6 kali/minggu b. ≤ 3 kali/bulan

atau tidak pernah

1178 56015

3,1 96,9

Mie Instant

a. ≥ 1 kali/hari atau 1-6 kali/minggu b. ≤ 3 kali/bulan

atau tidak pernah

22011 35782

38,1 61,9

Total 100

Tabel 3 menggambarkan tentang perilaku responden tentang konsumsi makan buah dan sayur, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, status gizi dan aktivitas fisiknya. Mayoritas responden sebanyak 86,8% kurang mengkonsumsi buah dan sayur setiap harinya, yaitu hanya mampu mengkonsumsi buah dan sayur < 5 porsi per hari. Sebagian besar responden yaitu sebanyak 65,8% memiliki kebiasaan merokok atau riwayat merokok.

Responden pada penelitian ini hanya sebagian kecil yang memiliki kebiasaan minum alkohol yaitu sebanyak 2%. Berdasarkan status gizi, hanya 27,8%

responden yang mengalami kelebihan berat badan, sedangkan 72,2% responden tidak mengalami kelebihan berat badan.

Tabel 3. Distribusi perilaku hidup sehat

Konsumsi Buah dan

Sayur Frekuensi (n) Persentase

(%) a. Kurang (< 5 porsi

perhari)

b. Cukup (≥ 5 porsi perhari)

50185 7608

86,8 13,2 Kebiasaan Merokok

a. Tidak Pernah

Merokok b. Pernah Merokok

19756 38037

34,2 65,8 Alkohol

a. Ya

b. Tidak 1154

56639 2

98 Status Gizi

a. Kelebihan BB b. Tidak Kelebihan BB

16039 41754

27,8 72,2 Aktivitas Fisik

a. Kurang (< 150 menit per minggu)

b. Cukup (≥ 150 menit per minggu)

43535 14258

75,3 24,7

Total 57793 100

(7)

Hasil analisis bivariat pada tabel 4 menunjukkan bahwa dari responden yang berumur 60-64 tahun, 8% diantaranya mengalami DM tipe 2. Dari responden yang berumur ≥ 65 tahun, 6,2% diantaranya mengalami DM tipe 2. Nilai p menunjukkan 0,000 (p>0,05). Hal tersebut menunjukkan bahwa umur memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian DM tipe 2 pada lansia di Indonesia.

Tabel 4. Menunjukkan bahwa dari 25795 responden yang berjenis kelamin laki-laki, 6,2%

diantaranya mengalami DM tipe 2. Dari 31998 responden yang berjenis kelamin perempuan, 7,4% diantaranya mengalami DM tipe 2. Nilai p menunjukkan nilai sebesar 0,000 (p>0,05). Hal tersebut menunjukkan bahwa jenis kelamin memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian DM tipe 2 pada lansia di Indonesia.

Dari 48824 responden yang tergolong tergolong pendidikan rendah, 5,7% diantaranya mengalami DM tipe 2. Dari 8969 responden yang tergolong pendidikan tinggi, 13% diantaranya mengalami DM tipe 2. Nilai p sebesar 0,000 (p< 0,05). Hal tersebut menunjukkan bahwa pendidikan memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian DM tipe 2 pada lansia di Indonesia.

Toal responden dengan jenis pekerjaan ringan-sedang, 8,8% diantaranya mengalami DM tipe 2. Sedangkan dari responden dengan jenis

pekerjaan berat hanya 3,1% yang mengalami DM tipe 2. Nilai p menunjukkan nilai 0,000 (p<0,05).

Artinya bahwa pekerjaan memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian DM tipe 2 pada lansia di Indonesia. Responden dengan pekerjaan ringan-sedang memiliki peluang tiga kali untuk terkena DM tipe 2 dibandingkan dengan responden dengan derajat pekerjaan berat (OR=3,010, 95% CI:2,759-3,283)

Tabel 4 menunjukkan dari 18262 responden yang memiliki riwayat hipertensi, 10%

diantaranya mengalami DM tipe 2. Selanjutnya dari 39531 responden yang tidak memiliki riwayat hipertensi, 5,4% diantaranya mengalami DM tipe 2. Nilai p sebesar 0,000 (p<0,05). Hal tersebut menunjukkan bahwa riwayat hipertensi memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian DM tipe 2 pada lansia di Indonesia.

Responden dengan riwayat hipertensi memiliki peluang hampir dua kali untuk terkena DM tipe 2 dibandingkan dengan responden dengan derajat pekerjaan berat (OR=1,960, 95%

CI:1,837-2,092).

(8)

Tabel 4. Hubungan karakteristik responden dan riwayat hipertensi dengan kejadian DM tipe 2

Variabel

Kejadian DMT2

Nilai p Ya

n (%)

Tidak n (%)

OR (95%

CI) Umur

a. ≥ 65 tahun (usia lanjut berisiko tinggi)

b. 60-64 tahun (usia lanjut dini) Jenis Kelamin a. Laki-Laki b. Perempuan Pendidikan a. Rendah (tidak

sekolah, tamat SD – SMP)

b. Tinggi (tamat SMA–Perguruan tinggi)

Pekerjaan a. Ringan-Sedang b. Berat Riw.Hipertensi a. Ya

b. Tidak

2420 (6,3) 1533 (8) 1598 (6,2) 2355 (7,4) 2783 (5,7) 1170 (13)

3321 (8,8) 632 (3,1) 1829 (10) 2124 (5,4)

36275 (93,7) 17565 (92) 24197 (93,8) 29643 (92,6) 46041 (94,3) 7799 (87)

34233 (91,2) 19607 (96,9) 16433 (90) 37407 (94,6)

0,000

0,000

0,000

0,000

0,000

0,764

0,831

0,403

3,010

1,960

Tabel 5 menunjukkan bahwa jenis makanan/minuman yang berisiko yang memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian DM tipe 2 antara lain makanan manis, minuman manis, makanan asin, makanan lemak, bumbu penyedap, soft drink, minuman berenergi dan mie instant. Sedangkan jenis makanan bakar dan makanan pengawet tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian DM tipe 2.

Tabel 5. Hubungan makanan berisiko dengan kejadian DM tipe 2

Makanan/Minuman Berisiko

Kejadian

DMT2 Nilai

p OR (95%

Ya CI) n (%)

Tidak n (%) Makanan Manis

a. ≥ 1 kali/hari atau 1-6 kali/minggu b. ≤ 3 kali/bulan

2402 (5,2) 1551

43356 (94,8) 10484

0,000 0,374

atau tidak pernah (12,9) (87,1) Minuman Manis

a. ≥ 1 kali/hari atau 1-6 kali/minggu b. ≤ 3 kali/bulan

atau tidak pernah 2377 (4,8) 1576 (18,9)

47056 (95,2) 6784 (81,1)

0,000 0,217

Makanan Asin a. ≥ 1 kali/hari atau

1-6 kali/minggu b. ≤ 3 kali/bulan

atau tidak pernah 2069 (6,1) 1884 (8)

32103 (93,9) 21737 (92)

0,000 0,744

Makanan Lemak a. ≥ 1 kali/hari atau

1-6 kali/minggu b. ≤ 3 kali/bulan

atau tidak pernah 2986 (6,7) 967 (7,3)

41598 (93,3) 12242 (92,7)

0,013 0,909

Makanan Bakar a. ≥ 1 kali/hari atau

1-6 kali/minggu b. ≤ 3 kali/bulan

atau tidak pernah 1355 (6,9) 2598 (6,8)

18179 (93,1) 35661 (93,2)

0,522 1,023

Makanan Pengawet a. ≥ 1 kali/hari atau 1-6 kali/minggu

b. ≤ 3 kali/bulan atau tidak pernah

473 (6,7) 3480 (6,9)

6612 (93,3) 47228 (93,1)

0,577 0,971

Bumbu Penyedap a. ≥ 1 kali/hari atau

1-6 kali/minggu b. ≤ 3 kali/bulan

atau tidak pernah 2978 (6,4) 975 (8,5)

43298 (93,6) 10542 (91,5)

0,000 0,744

Drink

a. ≥ 1 kali/hari atau 1-6 kali/minggu b. ≤ 3 kali/bulan

atau tidak pernah 126 (5,6) 3827 (6,9)

2118 (94,4) 51722 (93,1)

0,021 0,804

Min.Berenergi a. ≥ 1 kali/hari atau

1-6 kali/minggu b. ≤ 3 kali/bulan

atau tidak

pernah

91 (5,1) 3862 (6,9)

1687 (94,9) 52153 (93,1)

0,004 0,728

Mie Instant a. ≥ 1 kali/hari atau

1-6 kali/minggu b. ≤ 3 kali/bulan

atau tidak

pernah

1193 (5,4) 2760 (7,7)

20818 (94,6) 33022 (92,3)

0,000 0,686

Berdasarkan tabel 6 diketahui bahwa dari 50185 responden yang mengkonsumsi buah dan sayur sebanyak < 5 porsi per hari (kurang), 6,6%

diantaranya mengalami DM tipe 2. Dari 7608 responden yang mengkonsumsi buah dan sayur sebanyak ≥ 5 porsi per hari (cukup), 8,2%

diantaranya mengalami DM tipe 2. Nilai p

(9)

sebesar 0,000 (p>0,05). Hal tersebut menunjukkan bahwa konsumsi buah dan sayur memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian DM tipe 2 pada lansia di Indonesia.

Total responden yang tidak memiliki kebiasaan merokok, 5,7% diantaranya mengalami DM tipe 2. Dari 38037 responden yang memiliki kebiasaan merokok, 7,4% diantaranya mengalami DM tipe 2. Nilai p menunjukkan nilai sebesar 0,000 (p<0,05). Hal tersebut menunjukkan bahwa kebiasaan merokok memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian DM tipe 2 pada lansia di Indonesia.

Berdasarkan tabel 6 . diketahui bahwa dari 43535 responden yang memiliki aktivitas fisik kurang yaitu < 150 menit per minggu, 7,4%

diantaranya mengalami DM tipe 2. Dari 14258 responden yang memiliki aktivitas fisik cukup yaitu ≥ 150 menit per minggu, 5,2% di antaranya mengalami DM tipe 2. Nilai p menunjukkan nilai sebesar 0,000 (p<0,05). Hal tersebut menunjukkan bahwa aktifitas fisik memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian DM tipe 2 pada lansia di Indonesia. Responden dengan aktifitas fisik kurang memiliki peluang hampir 1,4 kali untuk terkena DM tipe 2 dibandingkan dengan responden dengan aktifitas fisik cukup (OR=1,466, 95% CI:1,350-1,592).

Berdasarkan tabel 6. diketahui bahwa dari 1154 responden yang memiliki kebiasaan minum alkohol, 3,6% diantaranya mengalami DM tipe 2.

Dari 56639 responden yang tidak memiliki kebiasaan minum alkohol, 6,9% diantaranya mengalami DM tipe 2. Nilai p menunjukkan nilai sebesar 0,000 (p>0,05). Hal tersebut menunjukkan bahwa kebiasaan minum alkohol memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian DM tipe 2 pada lansia di Indonesia.

Tabel 6 Hubungan perilaku dengan kejadian DM tipe 2

Variabel

Kejadian DMT2 OR (95%

CI) Sig.

Ya n (%)

Tidak n (%) Konsumsi

sayur dan buah a. Kurang (< 5 porsi per hari) b. Cukup (≥ 5 porsi per hari)

3330 (6,6) 623 (8,2)

46855 (93,4) 6985 (91,8)

0,797 0,000

Riw. Merokok a. Merokok /

pernah merokok b. Tidak

pernah merokok

1137 (5,8) 2816 (7,4)

18619 (94,2) 35221 (92,6)

0,764 0,000

Aktifitas Fisik a. Kurang b. Cukup

3217 (7,4) 736 (5,2)

40318 (92,6) 13522 (94,8)

1,466 0,000

Konsumsi Alkohol a. Ya b. Tidak

41 (3,6) 3912 (6,9)

1113 (96,4) 52727 (93,1)

0,497 0,000

Status Gizi a. Kelebihan

BB b. Tidak

kelebihan BB

1619 (10,1) 2334 (5,6)

14420 (89,9) 39420 (94,4)

1,896 0,000

Berdasarkan tabel 6. diketahui bahwa dari 16309 responden yang tidak mengalami kelebihan berat badan, 10,1% diantaranya mengalami DM tipe 2. Dari 41754 responden yang mengalami kelebihan berat badan, 5,6% diantaranya

(10)

mengalami DM tipe 2. Nilai p menunjukkan nilai sebesar 0,000 (p<0,05). Hal tersebut menunjukkan bahwa kelebihan berat badan memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian DM tipe 2 pada lansia di Indonesia.

Pembahasan

Manusia mengalami perubahan secara fisiologis secara drastis menurun setelah mencapai usia 40 tahun. Diabetes mellitus sering muncul setelah seseorang memasuki rentang usia tersebut.

Hasil penelitian menyatakan dari 3953 responden yang menderita DM tipe 2 didapatkan rentang usia 60-64 tahun sebesar 1533 responden (8%) sedangkan rentang usia ≥ 65 tahun sebesar 2420 responden (6,3%). Ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Amalia (2014), umur lansia awal memiliki risiko sebesar 2,28 kali lebih besar terkena DM tipe 2 dibandingkan umur manula.

Hasil uji statistik didapatkan ada hubungan yang signifikan antara umur dan kejadian DM tipe 2 (p value = 0,000).(9)

Berdasarkan hasil penelitian penderita DM tipe 2 pada lansia laki-laki sebesar 1598 responden dan pada perempuan sebesar 2355 responden. Dari hasil uji statistik didapatkan p value = 0,000 artinya ada hubungan signifikan antara jenis kelamin dengan kejadian DM tipe 2. Hal ini sejalan dengan penelitian Allolerung (2018) yang menyatakan bahwa ada hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian DM tipe 2 dengan nilai p=0,044 dan OR= 2,777 hal ini menunjukkan bahwa responden dengan jenis kelamin perempuan memiliki risiko untuk terkena DM tipe

2 2,777 kali lebih besar dibandingkan dengan responden yang berjenis kelamin laki-laki.

Tingginya kejadian diabetes melitus pada perempuan dapat disebabkan oleh adanya perbedaan komposisi tubuh dan perbedaan kadar hormon seksual antara perempuan dan laki-laki dewasa. Perempuan memiliki jaringan adiposa lebih banyak dibandingkan laki-laki. Hal ini dapat diketahui dari perbedaan kadar lemak normal antara laki-laki dan perempuan dewasa, dimana pada laki-laki berkisar antara 15–20% sedangkan pada perempuan berkisar antara 20–25% dari berat badan. Penurunan konsentrasi hormon estrogen pada perempuan menopause menyebabkan peningkatan cadangan lemak tubuh terutama di daerah abdomen yang akan meningkatkan pengeluaran asam lemak bebas Kedua kondisi ini menyebabkan resistensi insulin.

Berdasarkan hasil peneltian, lansia yang berpendidikan rendah sebesar 2783 responden dan yang berpendidikan tinggi sebesar 1170 responden. Dari hasil uji statistik didapatkan p value 0,000 artinya ada hubungan signifikan antara pendidikan dengan kejadian DM tipe 2 pada lansia di Indonesia, dengan nilai OR sebesar 0,403. Artinya bahwa responden yang memiliki tingkat pendidikan hingga tinggi memiliki risiko 0,403 kali lipat mengalami DM tipe 2 lebih besar dibandingkan dengan pendidikan rendah. Hal ini sejalan dengan penelitian Ramadhan (2017) yaitu ada hubungan signifikan antara tingkat pendidikan terhadap kejadian DM tipe 2 pada lansia di indonesia dengan nilai p value 0,003.(10)

Pendidikan berkaitan dengan kesadaran

(11)

khususnya dalam masalah kesehatan. Semakin rendahnya tingkat pendidikan maka cenderung tidak mengetahui gejala-gejala terkait penyakit diabetes melitus tipe 2 .(11)

Berdasarkan hasil penelitian, DM tipe 2 yang respondennya di kategorikan menjadi 2 yaitu, ringan – sedang sebesar 3321 responden dan 632 responden dengan status pekerjaan berat. Data dari hasil uji statistik didapatkan nilai p sebesar 0,000 yang artinya pada hubungan signifikan antara status pekerjaan dan kejadian DM tipe 2 pada lansia di Indonesia dengan nilai OR sebesar 3,010. Artinya bahwa responden yang memiliki pekerjaan ringan hingga sedang memiliki risiko 3,010 kali lipat lebih besar mengalami DM tipe 2 dibandingkan responden yang memiliki pekerjaan berat. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Isnaini (2018) yaitu tidak ada hubungan yang signifikan antara pekerjaan dengan kejadian DM (p value = 0,558).(12)

Hasil analisis hubungan aktifitas fisik dengan kejadian DM tipe 2 pada lansia diperoleh bahwa responden dengan aktifitas fisik kurang yang mengalami DM tipe 2 sebesar 7,4% sedangkan responden dengan aktifitas fisik cukup yang mengalami DM tipe 2 sebesar 5,2%. Hasil uji bivariat menunjukan bahwa ada hubungan aktifitas fisik dengan kejadian DM tipe 2 pada lansia dimana nilai p=0,000 dengan nilai OR=

1,466 (95% CI : 1,350-1.592). Artinya lansia dengan aktifitas fisik kurang memiliki peluang

1,466 kali mengalami DM tipe 2 dibandingkan dengan lansia dengan aktifitas fisik cukup. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Sembiring (2018) yaitu ada hubungan antara aktifitas fisik dengan kejadian DM tipe 2. (13)

Pada waktu melakukan aktivitas fisik, otot-otot akan memakai lebih banyak glukosa daripada waktu tidak melakukan aktivitas fisik, dengan demikian konsentrasi glukosa darah akan menurun. Melalui aktivitas fisik, insulin akan bekerja lebih baik sehingga glukosa dapat masuk ke dalam sel untuk dibakar menjadi tenaga.

Hubungan antara obesitas dengan kejadian DM tipe 2 lansia di Indonesia memiliki hubungan yang bermakna (p=0,000). Hal ini sejalan dengan penelitian Maharani dkk (2018) yaitu ada hubungan yang bermakna antara obesitas dengan kejadian DM tipe 2 (nilai p= 0,001).(14) Semakin banyak jaringan lemak, jaringan tubuh dan otot akan semakin resisten terhadap kerja insulin (insulin resistance), terutama bila lemak tubuh atau kelebihan berat badan terkumpul di daerah sentral atau perut (central obesity). Lemak ini akan memblokir kerja insulin sehingga glukosa tidak dapat diangkut ke dalam sel dan menumpuk dalam peredaran darah. Tubuh yang cenderung gemuk lebih banyak menyimpan lemak tubuh dan lemak tidak terbakar, terjadi kekurangan hormon insulin untuk pembakaran karbohidrat, sehingga lebih berpeluang besar terjadinya DM tipe 2.

(12)

Kesimpulan dan Saran

Dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ini yang menjadi faktor risiko kejadian Diabetes Melitus Tipe 2 pada lansia di Indonesia, di antaranya adalah karakteristik responden yang terdiri dari pendidikan dan pekerjaan, kemudian aktivitas fisik, kebiasaan merokok, obesitas, konsumsi alkohol, konsumsi buah dan sayur dan riwayat hipertensi, sedangkan faktor konsumsi makanan/minuman berisiko seperti makanan bakar dan makanan pengawet bukan menjadi faktor risiko kejadian DM tipe 2 pada lansia di Indonesia

Ucapan Terimakasih

Terima kasih atas bantuan Lembaga Pengembangan dan Penelitian Universitas Muhammadiyah Prof Dr HAMKA atas dukungan pendanaan untuk penelitian dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Republik Indonesia atas ijin penggunaan data untuk penulisan manuskrip ini.

Daftar Pustaka

1. PERKENI. Konsensus Pengelolaan Dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 Di Indonesia 2015. 2015.

2. World Health Organization. Global Report on Diabetes. Isbn [Internet]. 2016;978:88.

Available from:

http://www.who.int/about/licensing/

%5Cnhttp://apps.who.int/iris/bitstream/10 665/204871/1/9789241565257_eng.pdf

3. Artanti P, Masdar H, Rosdiana D.

Microsoft Word - Angka Kejadian Diabetes Melitus Tidak Terdiagnosis pada Masyarakat Kota Pekanbaru.doc. Jom FK Vol 2 No 2 Oktober 2015. 2015;

4. IDF. IDF Diabetes Atlas 2015. Int Diabetes Fed. 2015;

5. Kementerian Kesehatan RI. Hari Diabetes Sedunia Tahun 2018. Pus Data dan Inf Kementrian Kesehat RI. 2018;1–8.

6. UNDANG-UNDANG REPUBLIK

INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 1998

TENTANG KESEJAHTERAAN

LANJUT USIA. 2013;

7. Badan Pusat Statistik. Statistik Penduduk Lanjut Usia 2018. 2018;286.

8. Anis C, Sekeon SA., D.Kandou G.

Hubungan Antara Diabetes Melitus (Hiperglikemia) Dengan Kualitas Hidup Pada Lansia Di Kelurahan Kolongan.

2017;(June 2017):1–8.

9. Amalia RF. Faktor Risiko Kejadian Diabetes Melitus Pada Lansia di Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan Jakarta Selatan Tahun 2014. Naskah Publ Univ Indones [Internet]. 2014;2:1–9.

Available from: lib.ui.ac.id

10. Ramadhan M. Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Diabetes Mellitus Di RSUP dr.Wahidin Sudirohusodo dan RS Universitas Hasanuddin Makasar Tahun 2017. 2017;1–113.

11. Brown, K.W. & Ryan RM. Mindful Attention Awereness Scale. J Pers Soc

(13)

Psychol. 2003;

12. Isnaini N, Ratnasari R. Faktor risiko mempengaruhi kejadian Diabetes mellitus tipe dua. J Kebidanan dan Keperawatan Aisyiyah. 2018;14(1):59–68.

13. Nindya AS. Hubungan Faktor yang Dapat Dimodifikasi dan Tidak Dapat Dimodifikasi dengan Kejadian Diabetes Melitus Tipe II pada Wanita Lanjut Usia di Puskesmas Sering Kecamatan Tembung Medan Tahun 2017. Univ Sumatera Utara.

2018;(X):1–5.

14. Ardiyanto NEMSBF. Hubungan obesitas dan aktivitas fisik dengan kejadian Diabetes Mellitus tipe 2 di Puskesmas Wonogiri 1. J Manaj Inf dan Adm Kesehat. 2018;1(1):40–8.

Referensi

Dokumen terkait

Tidak ada hubungan antara pendidikan dengan lama penyembuhan luka perineum.Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Susi Rahmawati

KESIMPULAN DAN SARAN Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara usia dengan kejadian kecelakaan, ada hubungan yang signifikan antara jenis