• Tidak ada hasil yang ditemukan

KABUPATEN KONAWE SELATAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan " KABUPATEN KONAWE SELATAN "

Copied!
83
0
0

Teks penuh

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendapatan dan kelayakan agroindustri nilam di Desa Lere Kecamatan Basala Kabupaten Konawe Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil analisis kelayakan agroindustri nilam dapat dicapai, dengan total pendapatan usaha yang dihasilkan sebesar Rp. 131.081, dan BEP produksinya 90 kg. Sedangkan nilai produksi pada agroindustri nilam sebanyak 324 kg dengan harga jual Rp.

470,000 thousand rands of BEP and BEP production make the USA agro-industry and no more. This study aims to determine the income and feasibility of patchouli agro-industry in Lere village, Basala district, South Konawe regency. The results showed from the feasibility analysis of patchouli agro-industry was feasible to operate with the total business income generated which was Rp with the average income of each patchouli farmer is Rp and based on the results of calculating the r /c ratio, which is 3.58 > 1 and is said to be feasible, meaning that each expenditure rp.

Sedangkan nilai produksi agroindustri nilam sebanyak 324 kg dengan harga jual Rp 470.000 lebih besar dari harga BEP dan BEP produksi, maka agroindustri nilam dikatakan menguntungkan. Penulis senantiasa memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat, bimbingan dan karunia-Nya yang dilimpahkan kepada penulis dengan penuh ketentraman dan ketentraman jiwa sehingga dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “: Analisis Kelayakan Usahatani Tanaman Nilam di Lere Desa, Kecamatan Basala, Kabupaten Konawe Selatan”.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Analisis kelayakan usaha adalah suatu analisis/penelitian apakah suatu usaha yang biasanya berupa usaha peternakan dapat dilakukan dan menguntungkan atau tidak, maka dengan melakukan analisis kelayakan usaha dapat diketahui sejauh mana keuntungan yang diperoleh. dalam menjalankan suatu kegiatan usaha (Soekartawi, 2006). Selain perlu dilakukan penelitian berdasarkan analisis kelayakan usaha, perlu juga dilakukan perhitungan titik impas (BEP) atau titik impas. Titik impas (BEP) atau titik impas adalah suatu titik yang menunjukkan bahwa total pendapatan yang dihasilkan perusahaan sama dengan total biaya yang dikeluarkan, sehingga perusahaan tidak memperoleh keuntungan dan tidak mengalami kerugian.

Break Even Point (BEP) dapat diartikan sebagai keadaan dimana selama beroperasi perusahaan tidak memperoleh keuntungan dan tidak mengalami kerugian. Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian ini melalui studi empiris dengan judul penelitian “Analisis Kelayakan Usahatani Agroindustri Nilam di Desa Lere Kecamatan Basala Kabupaten Konawe Selatan.

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

TINJAUAN PUSTAKA

  • Usahatani Tanaman Nilam
  • Produksi
  • Harga
  • Pendapatan
  • Biaya
  • Kelayakan
  • Penelitian Terdahulu yang Relevan
  • Kerangka Pikir

Salah satu bagian penting dalam produksi minyak atsiri adalah proses penyulingan yang memerlukan investasi cukup besar untuk pembelian fasilitas mesin penyulingan dan fasilitas penunjang lainnya. Rendemen dan mutu minyak atsiri hasil penyulingan bergantung pada kualitas bahan baku yang disuling serta perlakuan sebelum dan selama proses penyulingan (Nugraha., N, 2008). Komposisi bahan-bahan dalam campuran bahan-bahan dalam minyak atsiri hanya dapat diketahui dengan melakukan analisis, yang biasanya melibatkan penggunaan kromatografi gas, yang dapat memisahkan bahan-bahan yang mudah menguap sehingga dapat diukur.

Produsen tanaman penghasil minyak atsiri sangat menentukan keberagaman rendemen dan mutu produk minyak atsiri yang akan dihasilkannya, sehingga dapat dikatakan bahwa setiap tahapan produksi akan berkaitan erat sehingga berdampak pada keberagaman hasil dan mutu. produk minyak atsiri yang dihasilkan. Harga minyak atsiri dapat berfluktuasi secara drastis tergantung ketersediaan bahan baku minyak atsiri. Selain itu, harga minyak atsiri juga ditentukan oleh kualitas minyak atsiri itu sendiri ditinjau dari negara produksi, tanaman, konsentrasi minyak dalam bahan dan cara pemurnian, serta adanya bahan pengganti. atau bahan pengganti minyak atsiri (Nugraha., N. 2008).

Faktor lain yang dapat mempengaruhi harga minyak atsiri adalah umur simpan atau umur minyak atsiri tersebut tanpa mengalami penurunan kualitas minyak atsiri. Banyak dari para agen pengumpul besar atau di tingkat eksportir secara sadar atau tidak sengaja menyimpan cadangan minyak atsiri dalam jumlah besar dengan tujuan untuk menjamin kecukupan pasokan, namun hal ini juga mempengaruhi fluktuasi harga komoditas tersebut (Nugraha., N. 2008).

Tabel   1. Penelitian Terdahulu yang Relevan
Tabel 1. Penelitian Terdahulu yang Relevan

METODE PENELITIAN

  • Lokasi dan Waktu Penelitian
  • Teknik Penentuan Sampel
  • Teknik Pengumpulan Data
  • Teknik Analisis Data
  • Definisi Operasional

Wawancara, yaitu teknik pengumpulan data dan informasi dengan cara mewawancarai petani nilam secara langsung. Kuesioner, yaitu suatu teknik atau alat pengumpulan data dengan cara menanyakan kepada informan daftar pertanyaan tentang masalah yang akan diteliti untuk dijawab. Observasi lapangan yaitu melakukan observasi langsung terhadap petani nilam dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan petani nilam.

Perhitungan BEP berdasarkan satuan produksi menggambarkan output minimal yang harus dihasilkan suatu usaha agar tidak mengalami kerugian, dapat dilakukan dengan menggunakan rumus. Petani nilam adalah setiap orang yang membudidayakan nilam di Desa Lere, Kecamatan Basala, Kabupaten Konawe Selatan. Kelayakan budidaya nilam merupakan suatu kegiatan analisis, pengkajian dan penelitian untuk menilai sejauh mana manfaat yang dapat diperoleh dari pelaksanaan suatu kegiatan usaha.

Pendapatan usahatani nilam merupakan perkalian antara produk yang dihasilkan dan harga jual (Rp). Biaya produksi merupakan penjumlahan antara biaya tetap dan biaya variabel yang digunakan dalam proses produksi. Biaya variabel merupakan besarnya biaya marjinal yang dikeluarkan petani akibat penggunaan faktor-faktor produksi, dimana besarnya biaya tersebut berubah seiring dengan perubahan jumlah produk yang dihasilkan dalam jangka pendek.

Biaya tetap merupakan biaya yang secara rutin dikeluarkan oleh petani, yang besarnya tidak dipengaruhi oleh tingkat output. Tanaman ini menyukai suasana yang teduh, hangat dan lembab, selain itu tanaman nilam juga mudah layu jika terkena sinar matahari langsung atau jika tanaman kekurangan air.

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

Letak Geografis

Luas wilayah Kabupaten Konawe Selatan adalah 451.420 Ha atau 11,83 persen dari luas wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara. Sedangkan luas permukaan air (laut) ± 9.368 km2 dan total panjang pantai termasuk pulau-pulau kecil ± 200 km. Desa Lere merupakan salah satu desa di Kecamatan Basala yang terletak pada jarak 5,0 km dari ibu kota kabupaten.

Desa Lere merupakan desa yang terdiri dari 3 desa antara lain Desa Samendre, Desa Sinjai Baru, Desa Wajo Baru, dengan jumlah penduduk 557 jiwa dengan 137 kepala keluarga (data per 31 Desember 2020). Sebelah utara berbatasan dengan desa Tombekuku - sebelah utara berbatasan dengan desa Mokupa - sebelah barat berbatasan dengan desa Lambandia - sebelah timur berbatasan dengan desa Punangga 4.2 Kondisi demografi. Dari Tabel 4 di atas terlihat jumlah penduduk laki-laki sebanyak 291 orang, sedangkan jumlah penduduk berjenis kelamin laki-laki sebanyak 291 orang.

Tabel 2. Wilayah Administrasi Kab. Konawe Selatan Tahun 2017
Tabel 2. Wilayah Administrasi Kab. Konawe Selatan Tahun 2017

Kondisi Pertanian

HASIL DAN PEMBAHASAN

  • Karakteristik Responden
    • Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Umur
    • Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
    • Karakteristik Responden Berdasarkan Pengalaman Usaha
    • Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah Tanggungan Keluarga Jumlah tanggungan keluarga meliputi banyaknya anggota keluarga yang Jumlah tanggungan keluarga meliputi banyaknya anggota keluarga yang
  • Analisis Biaya Produksi
    • Biaya Tetap
    • Biaya Variabel
    • Total Biaya
  • Analisis Penerimaan Pada Usaha Agroindustri Tanaman Nilam
  • Analisis Pendapatan Usaha Agroindustri Tanaman Nilam
  • Analisis Kelayakan Break Event Point (BEP)

Dengan persentase sebesar 37% yaitu pada tingkat umur 35 – 39 tahun menunjukkan bahwa petani nilam di Desa Lere Kecamatan Basala Kabupaten Konawe Selatan termasuk dalam usia produktif. Menjelaskan tingkat pendidikan petani nilam sebagai responden penelitian di Desa Lere Kecamatan Basala Kabupaten Konawe Selatan sangat berpengaruh dalam proses bisnis agroindustri nilam. Karakteristik Responden Petani Nilam Berdasarkan Pengalaman Usaha di Desa Lere Kecamatan Basalama Kabupaten Konawe Selatan.

Hal ini menunjukkan bahwa petani nilam di Desa Lere Kecamatan Basala Kabupaten Konawe Utara biasanya menggunakan anggota keluarga sebagai tenaga kerja sehingga dapat menekan biaya tenaga kerja dalam proses usaha agroindustri nilam. Total rata-rata biaya tetap yang dikeluarkan Petanni Nilam di Desa Lere Kecamatan Basala Kabupaten Konawe Selatan. Berdasarkan data diatas dapat diketahui bahwa rata-rata pemanfaatan biaya tetap yang dikeluarkan oleh petani nilam pada agroindustri nilam di Desa Lere Kecamatan Basala Kabupaten Konawe Selatan adalah sebesar Rp.

dan diperoleh rata-rata total biaya tetap dari total biaya yang digunakan oleh 16 perusahaan agroindustri nilam di Desa Lere Kecamatan Basala Kabupaten Konawe Selatan yaitu sebesar Rp. Total rata-rata biaya variabel yang dikeluarkan petani nilam di Desa Lere Kecamatan Basala Kabupaten Konawe Selatan. Subyek penelitian ini adalah agroindustri nilam di Desa Lere Kecamatan Basala Kabupaten Konawe Selatan.

Total biaya yang dikeluarkan petani nilam di Desa Lere Kecamatan Basala Kabupaten Konawe Selatan. Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa total biaya yang digunakan pada agroindustri nilam di Desa Lere Kecamatan Basala Kabupaten Konawe Selatan adalah sebesar Rp. Pendapatan rata-rata usaha agroindustri petani nilam di Desa Lere Kecamatan Basala Kabupaten Konawe Selatan dengan unit yang terjual rata-rata 324 kg dengan harga jual Rp.

Pendapatan tersebut merupakan pengurang total pendapatan dari biaya-biaya yang dikeluarkan dalam usaha agroindustri nilam. Total pendapatan yang diperoleh dari usaha agroindustri nilam di Desa Lere Kecamatan Basala Kabupaten Konawe Selatan adalah sebesar Rp dengan dikurangi Total Pendapatan (TC) sebesar Rp dikurangi Total Biaya (TC) sebesar Rp. 470.000 dapat disimpulkan bahwa jumlah tersebut lebih besar dibandingkan BEP produk dan harga BEP, sehingga usaha agroindustri nilam di Desa Lere Kecamatan Basala Kabupaten Konawe Selatan dikatakan menguntungkan.

Tabel 6 menunjukan bahwa petani nilam  yang ada du Desa Lere Kecamatan  Basala  Kabupaten  Konawe  Selatan  berumur  35  –  39  tahun  sebanyak  6  orang  dengna  persentase  tertinggi  yaitu  sebesar  37%,  selanjutnya  petani  nilam  yang  berumur 40 –
Tabel 6 menunjukan bahwa petani nilam yang ada du Desa Lere Kecamatan Basala Kabupaten Konawe Selatan berumur 35 – 39 tahun sebanyak 6 orang dengna persentase tertinggi yaitu sebesar 37%, selanjutnya petani nilam yang berumur 40 –

PENUTUP

Kesimpulan

Saran

DAFTAR PUSTAKA

Analisis Biaya Tetap No Uraian Jumlah

Analisis Biaya Variabel 1. Bibit

Daftar Pertanyaan Isian Petani Lada Putih

RIWAYAT HIDUP

Gambar

Tabel   1. Penelitian Terdahulu yang Relevan
Gambar  1.  Kelayakan  Usaha  Agroindustri  Tanaman  Nilam  di  Desa  Lere           Kecamtan Basala Kabupaten Konawe Selatan
Tabel 2. Wilayah Administrasi Kab. Konawe Selatan Tahun 2017
Tabel 3. Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat  Umur di Desa Lere Kecamatan  Basala Kabupaten Konawe Selatan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tabel 2 menunjukkan bahwa total biaya penyusutan pada usaha pengolahan gula aren bapak Robert di Desa Agotey yaitu sebesar Rp.27.166,66 biaya penyusutan alat