DOI : Oktober 2022
KAJIAN PENERAPAN RAGAM HIAS BATIK PADA DESAIN HOTEL HYATT REGENCY BALI
AISHA MIFTAHUL JANAH1 DAN IYUS KUSNAEDI2*
1,2Program Studi Desain Interior FAD Institut Teknologi Nasional Bandung, Indonesia.
Email: [email protected] ABSTRAK
Aplikasi dan perkembangan ornamen batik pada bidang interior sudah banyak dikembangkan. Ragam hias batik sebagai elemen estetis sudah banyak dikembangkan pada konsep ruang publik maupun hunian dengan tema kontemporer. Hal tersebut menunjukkan bahwa masyarakat mulai paham akan nilai yang terkandung pada kebudayaan lokal. Hotel salah satunya dapat menjadi media dalam menampilkan kebudayaan khas suatu daerah. Berlokasi di daerah Bali, salah satu hotel Hyatt Regency memiliki konsep interior kontemporer dengan menerapkan unsur lokal motif batik sebagai elemen estetis interiornya. Metoda yang dilakukan adalah deskriptif kualitatif.
Pengaplikasian motif batik sebagai elemen interior diubah menjadi lebih modern. Dengan adanya jurnal ini diharapkan dapat menginspirasi pembaca untuk dapat mengenal potensi dan keragaman budaya di Indonesia.
Kata kunci: batik, elemen estetis, lokalitas, kontemporer.
ABSTRACT
The application and development of batik ornaments in the interior sector has been widely developed. Batik decoration as an aesthetic element has been widely developed in the concept of public space and with contemporary themes. This shows that the community is starting to understand the values contained in the local culture. One of the hotels can be a madium in the typical culture of a region. Located in Bali area, one of the Hyatt Regency hotels has a contemporary interiorconcept by applying batik motifs as interior element was changed to be more modern. With this journal, it is hoped that it can inspire readers to be able to recognize the potential and diversity of culture in Indonesia.
Keywords:, batik, aestetic element, locality, contemporary.
1. PENDAHULUAN
Keberadaan hotel merupakan salah satu faktor pendukung industri pariwisata yang memiliki tingkat kenaikan yang cukup signifikan setiap tahunnya. Terlepas dari kondisi pandemi yang dialami hampir sebagian besar wilayah, perlahan namun pasti bidang perhotelan mulai menunjukkan geliatnya (Laksitarini, 2021). Perkembangan hotel di Bali cukup pesat, hal ini terlihat oleh banyaknya investor dalam negri maupun asing yang berlomba lomba membangun hotel berbintang di Bali, hal ini cukup signifikan untuk menampung jumlah wisatawan yang tiap tahunnya semakin bertambah pesat.
Pembangunan hotel sendiri perlu memperhatikan beberapa aspek penting yang mendukung terciptanya suatu hotel yang memiliki daya tarik sendiri, guna menarik para wisatawan untuk menginap. Salah satunya adalah lokasi yang strategis, merupakan faktor utama dalam pembangunan agar memiliki prospek yang baik kedepannya. Melihat potensi alam yang dimiliki oleh Bali, dapat digunakan sebagai poin utama tempat pembangunan hotel dibali (Setyabudi, 2013). Maraknya pertumbuhan hotel di Bali menimbulkan persaingan yang cukup tinggi di bidang perhotelan, sehingga membuat pihak pengelola hotel mulai memikirkan upaya untuk dapat menampilkan sesuatu yang berbeda pada interior hotelnya agar dapat menjadi daya tarik pengunjung. Sebagai fasilitas hospitality, hotel harus dapat mewadahi segala aspek kebutuhan pengunjung. Selain itu juga dituntut untuk menjaga kearifan lokalnya dengan memperkenalkan kesenian dan budaya lokal sebagai identitas di mana hotel tersebut berada (Sinangjoyo, 2013:86).
Hotel Hyatt Regency merupakan hotel beachfront bintang 5 yang terletak Jalan Danau Tamblingan No.89, Sanur, Denpasar Selatan, Kota Denpasar, Bali. Hotel tersebut merupakan hotel yang mengusung konsep modern kontemporer pada arsitektur dan interiornya. Kesan elegan dan mewah akan pengunjung rasakan ketika memasuki bagian dalam hotel Hyatt Regency. Terdapat 363 kamar dan suite. Layaknya fasilitas hotel bintang 5 lainnya, Hotel Hyatt Regency memiliki fasilitas seperti restaurant, gym, swimming pool, business service, meeting facilities, spa dan executive lounge.
Sebagai upaya melestarikan hasil budaya, Hotel Hyatt Regency menerapkan elemen interior terinspirasi dari motif batik Indonesia. Penerapan motif batik pada hotel berkonsep kontemporer merupakan perkembangan desain serta pergeseran nilai dari suatu hasil budaya, serta dapat pula diartikan sebagai perwujudan adaptasi budaya yang layak untuk dipertahankan. Dan menurut Iskandar (2017), kini batik bukan hanya sekedar hasil budaya setempat, tetapi sudah menjadi sebuah identitas jati diri bangsa.
Menurut Setyaningrum (2018) penggunaan motif batik pada interior berkonsep kontemporer dapat dikatakan sebagai bentuk dari kembalinya nilai-nilai yang terkandung pada kebudayaan lokal. Hal tersebut mengacu pada anggapan bahwa arus globalisasi dapat menjadi sebuah ancaman dan merusak tatanan suatu kehidupan heterogenitas budaya lokal dengan mengesampingkan keragaman dan kearifan lokal demi tercapainya arah menuju universalitas (Laksitarini, 2021). Di Satu sisi jika kebudayaan lokal tidak melakukan kearah pengembangan maka yang terjadi adalah pemanfaatan budaya etnik nusantara oleh pihak luar yang berkepentingan. Dalam penelitiannya Keller (2006) menyatakan bahwa sebagai bentuk antisipasi dampak negatif dari arus globalisasi, perlu adanya penguatan nilai-nilai tradisional dan lokal yang dapat menjadi sebuah identitas atau perekat, sehingga apabila suatu masyarakat mampu memegang teguh nilai-nilai yang terkandung pada kebudayaan
lokal, masyarakat tersebut tidak akan tergusur oleh dampak globalisasi (Syarifah&Kusuma, 2016).
2. METODE PENELITIAN
Dalam penyusunan penelitian ini, digunakan metode kualitatif yang merupakan metode dengan cara mengumpulkan data dari berbagai sumber berdasarkan latar alamiah. Metode kualitatif dipilih agar dapat menghasilkan penelitian yang natural dengan pengambilan data dari berbagai sumber yang dapat menguatkan analisis pada penelitian ini. Pada penelitian ini, data-data dikumpulkan dari berbagai sumber dengan menggunakan metode pengambilan data dengan studi literatur, studi pustaka, dan studi kasus.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Dr. Wiendu Nuryanti dalam buku Grand Batik Interior menyatakan bahwa penggunaan batik sebagai elemen estetis interior dapat memberikan kontribusi besar dalam menciptakan identitas lokal dari setiap destinasi wisata yang berbeda (Ave, Wuryati, 2007). Hal tersebut yang mendorong desain interior pada hotel di Indonesia memasukan unsur nusantara seperti ragam hias batik yang tentunya dapat menciptakan suasana lokal nusantara pada daerah tersebut yang melekat sebagai identitas dari suatu hotel.
Penerapan dari ragam hias batik selain sebagai unsur penunjang dari segi estetika, hal ini juga diterapkan sebagai sarana edukasi bagi para pengunjung (Laksitarini, 2021).
Dalam perancangan desain interior, ragam hias batik dapat memberikan konsep tertentu yang menggambarkan suasana di daerah tersebut, konsep ini kemudian dapat dikombinasikan dengan konsep kontemporer. Konsep tersebut dapat diuraikan menjadi 5 sub-konsep yaitu konsep bentuk, konsep warna, konsep material, konsep furnitur, dan konsep pencahayaan.
3.1 Konsep Bentuk.
Penerapan ragam hias batik tentunya dapat diterapkan dengan mengambil konsep bentuk yang terinspirasi dari kedinamisan kain batik dan juga corak batik. Dengan mengaplikasikan konsep bentuk yang dimiliki oleh ragam hias batik maka sudut ruangan pada hotel dapat didesain dengan mengikuti kedinamisan kain batik dan juga membentuk pola estetis yang didasari dari batik tersebut. Berdasarkan hasil observasi terdapat beberapa konsep bentuk yang telah dikembangkan oleh perancang desain hotel interior.
Gambar 1. Implementasi bentuk dinamis kain batik pada desain interior hotel Sumber: https://thebatik.co.id.; http://id.hereisfree.com; https://www.cnnindonesia.com
Gambar 2. Implementasi bentuk motif batik terhadap interior hotel Sumber: https://www.motifbatik.web.id ;. https://www.tiket.com
3.2 Konsep Warna.
Warna merupakan salah satu aspek yang diterapkan pada perancangan desain interior suatu hotel, penggunaan warna diharapkan dapat mendukung konsep ruangan secara menyeluruh. Pengambilan referensi warna tentunya didasari pada tema desain interior dan juga ornamen- ornamen yang akan diterapkan pada perancangan desain interior. Setiap batik identik dengan warna tertentu dan biasanya diterapkan pada perancangan desain interiornya dan memberikan suasana tertentu bagi pengunjung.
Gambar 3. Konsep warna yang dihasilkan pada suatu bangunan interior Sumber: https://id.pinterest.com
Dalam penerapan konsep warna ragam hias batik terdapat beberapa contoh penerapan warna pada hotel sebagai berikut.
Gambar 4. Implementasi konsep warna batik megamendung pada desain interior hotel
Sumber: Foto f. https://finunu.wordpress.com Foto g. https://annienugraha.com
Gambar 5. Implementasi konsep warna batik gorga pada desain interior hotel Sumber: https://merahputih.com ; https://www.dearwidha.com
Gambar 6. Implementasi konsep warna batik gedog pada desain interior hotel.
Sumber: https://dansmedia.net ; ; https://travelingyuk.com
3.3 Konsep Material.
Pada penerapan ragam hias batik terdapat beberapa unsur konsep material diantaranya adalah emosinal sebagai rangsangan untuk menciptakan suasana dan kenyamanan, kemudian efektifitas di mana material yang digunakan harus bisa bertahan lama dan mudah dirawat, konseptual di mana penggunaan material harus disesuaikan dengan konsep yang digunakan, serta keamanan dimana material yang digunakan harus memiliki permukaan yang tidak membahayakan pengunjung.
Gambar 7. Implementasi konsep material kayu pada desain interior.
Sumber: https://www.rumah.com https://media.neliti.com
Gambar 8. Implementasi konsep material granit pada desain interior.
Sumber: https://tokopedia.com ; https://homify.co.id
Gambar 9. Implementasi konsep material marmer pada desain interior.
Sumber:. https://tokopedia.com ; http://sinaralammarmer.blogspot.com
3.4 Konsep Furnitur.
Konsep furnitur pada hotel berkonsep kontemporer pada umumnya menggunakan furnitur customized, di mana pada furnitur tersebut diterapkan aksen dari ragam motif hias batik ataupun mengimplementasikan konsep warna dari ragam hias batik.
3.5 Konsep Pencahayaan.
Konsep pencahayaan yang diterapkan pada hotel memberikan suasana lokal bagi para pengunjung, meskipun merupakan hotel dengan konsep kontemporer, identitas hotel yang ditimbulkan dari penerapan ragam hias batik akan memberikan suasana yang hangat dan elegan.
Berdasarkan konsep yang dikembangkan menjadi konsep bentuk, warna, material, furnitur, dan pencahayaan. Didapatkan studi kasus pada Hotel Hyatt Regency yang merupakan hotel bintang 5 berkonsep modern kontemporer. Didominasi oleh warna netral dan penggayaan furnitur yang minimalis memberikan kesan mewah dan elegan pada setiap penyelesaian desainnya. Berikut merupakan elemen interior dengan motif batik yang diterapkan di Hotel Grand Hyatt.
Granit
Marmer
Gambar 10. Elemen Eatetis dari alat cap batik Hotel Hyatt Regency.
Sumber : Foto https://www.marketeers.com/warna-baru-hyatt-regency-bali-usai-lima- tahun-renovasi
Gambar 11. Motif Batik pada Kamar Hotel Hyatt Regency.
Sumber : Foto https://ramayanatabikobo.com/hotel/hyatt-regency-bali/
Gambar 12. Lobi Hotel Hyatt Regency.
Sumber : Foto https://en.jsi.co.id/portfolio/hotel?id=30
Dari beberapa gambar di atas dapat dilihat bahwa Hotel Hyatt Regency menerapkan ragam hias batik dengan memberikan konsep bentuk yang berupa motif batik dari berbagai jenis batik yang diterapkan pada furnitur yang terdapat pada gambar 12.1, kemudian dari ragam hias batik tersebut konsep warna diterapkan pada ruangan- ruangan di hotel tersebut yang menghasilkan konsep warna yang didominasi oleh
warna coklat, konsep material yang digunakan beragam mulai dari kayu, granit, dan juga marmer pada bagian lantai yang mendukung suasana nyaman dan elegan yang diberikan oleh Hotel Hyatt Regency, konsep furnitur yang diterapkan pada Hotel Hyatt Regency menggunakan furnitur customized dengan memberikan beberapa aksen pada furnitur seperti yang terdapat pada gambar 12.2, kemudian konsep pencahayaan pada hotel diterapkan untuk memberikan suasana yang berbeda dengan adanya sentuhan ragam hias batik sehingga memberikan kesan yang hangat dan elegan seperti yang digambarkan pada gambar 12.3.
4. KESIMPULAN
Penerapan ragam hias batik pada interior hotel dapat diuraikan menjadi 5 sub-konsep yaitu, konsep bentuk, konsep warna, konsep material, konsep furnitur, dan konsep pencahayaan. Penerapan motif batik pada Hotel Hyatt Regency merupakan salah satu upaya pihak pengelola hotel dalam memperkenalkan kebudayaan lokal Nusantara.
Berdasarkan pada hal tersebut itulah yang mendasari pihak pengelola hotel untuk mengangkat batik sebagai representasi identitas lokal. Hotel sebagai sarana edukasi dan promosi tentang keragaman budaya Nusantara dapat menjadi pendukung industri pariwisata. Sarana efektif agar wisatawan / tamu hotel untuk lebih mengenal kearifan lokal setempat dengan menerapkan ornamen batik pada elemen-elemen desain interiornya.
DAFTAR PUSTAKA
Ave. J., Hitchcock., M, Wuryanti. W. (2007).Grand Batik Interior. 2007. Jakarta.
Bygrave, William D. (1995). The Portable MBA In Entrepreneurship. New Jersey: John Wiley & Sons Inc
Endik S. (1986). Seni Membatik. Jakarta: PT Safir Alam.
Iskandar, Kustiyah E. (2017). Batik Sebagai Identitas Kultural Bangsa Indonesia Di Era Globalisasi. Gema Thn XXX/52. p.1
Keller, Suzanne, (2006). Globalization and Local Identity. Ekistic; Jan-Dec 2006; 73, 436-441; ProQuest Research Library pg.41
Laksitarini, Niken. (2021). Penerapan Ragam Hias Batik Pecah Kopi pada Interior Hotel Berkonsep Modern sebagai Representasi Identitas Budaya Lokal Jawa Barat. Bandung: Universitas Telkom
Nuantika, Ilhamia.(2012). Implementasi Ragam Hias Nusantara Pada Desain Interior Hotel Transit Bandara Soekarno-Hatta. Bandung: Institut Teknologi Bandung
Syarifah, S., Kusuma,A., (2016). Globalisasi Sebagai Tantangan Identitas Nasional Bagi Mahasiswa Surabaya. Global & Policy Vol.4, No.2, Juli-Desember. p. 61- 72.
Sinangjoyo. Nikasius Jonet. (2013). Green Hotel Sebagai Daya Saing Suatu Destinasi.
Jurnal Nasional Pariwisata, vol 5 (2), Agustus, pp. 83-93.
Setyabudi, Ignatus I. (2013). Hotel Di Seminyak, Bali. Semarang: Universitas Diponegoro
Setyaningrum. NDB. (2018). Budaya Lokal Di Era Globall. EKSPRESI SENI Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni. PadangPanjang, pp. 102-112.