• Tidak ada hasil yang ditemukan

kampus merdeka terhadap kompetensi abad 21 untuk

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "kampus merdeka terhadap kompetensi abad 21 untuk"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

IMPLIKASI KEBIJAKAN MERDEKA BELAJAR-

KAMPUS MERDEKA TERHADAP KOMPETENSI ABAD 21 UNTUK MENUNJANG TUJUAN PEMBANGUNAN

BERKELANJUTAN

Novida Waskitaningsih1), Mujio2) , Lilis Sri Mulyawati3), Ifanny Widyana4)

1,2,3,4) Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Pakuan

Jl. Pakuan, Tegallega. Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor. Jawa Barat 16143

[email protected]; [email protected]; [email protected];

[email protected]

Abstrak

Kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) bertujuan untuk mendorong mahasiswa mampu menguasai berbagai keilmuan agar dapat berkompetisi di abad 21 dan berkontribusi pada pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). Artikel ini bertujuan untuk mengetahui menganalisis perspektif mahasiswa Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) terhadap MBKM, implementasi MBKM di Prodi PWK Universitas Pakuan, dampak MBKM terhadap keterampilan abad 21 mahasiswa, serta relevansinya dengan pencapaian poin- poin SDGs. Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data kuesioner dengan metode analisis statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, MBKM memberikan manfaat dalam peningkatan kompetensi tambahan dan soft skill, dan perluasan perspektif. Kedua, Prodi PWK sudah mengimplementasikan 3 skema MBKM, yaitu pertukaran pelajar, magang bersertifikasi, dan membangun desa. Ketiga, terdapat perbedaan capaian kompetensi abad 21 antara mahasiswa yang mengikuti MBKM dan tidak. Mahasiswa yang mengikuti program MBKM memiliki ketrampilan berpikir kritis, kreatif, kolaborasi yang tinggi, namun masih cukup dalam ketrampilan berkomunikasi. Keempat, progam MBKM memiliki relevansi yang tinggi terhadap pencapaian SDGs.

Keywords: Keterampilan Abad 21, Merdeka Belajar Kampus Merdeka, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

1. Pendahuluan

Kebijakan MBKM merupakan kebijakan baru di bidang pendidikan di Indonesia sebagai respon tantangan revolusi industri 4.0 dan society 5.0. Kebijakan ini juga merupakan upaya mewujudkan proses pembelajaran di perguruan tinggi yang fleksibel, agar tercipta budaya belajar yang inovatif dan lebih sesuai dengan kebutuhan mahasiswa (Setyowati, 2020). Oleh karenanya, Perguruan Tinggi dituntut untuk menyusun rancangan proses pembelajaran yang inovatif agar mahasiswa dapat meraih capaian pembelajaran secara optimal sehingga dapat bersaing di dunia kerja (Setyowati, 2020).

Kebijakan MBKM juga merupakan suatu respon adanya kebutuhan kompetensi abad 21. Menurut UNESCO, terdapat tiga keterampilan penting yang harus dikuasai pada abad 21, salah satunya adalah learning skills, yang mencakup ketrampilan berpikir kritis, kreatif, kolaborasi, dan komunikasi (Stauffer, 2020 dalam (Priatmoko &

Dzakiyyah, 2020). Hal yang sama juga diungkapkan oleh US-based Partnership for 21st Century Skills (P21), dimana kompetensi yang diperlukan untuk abad 21 terdiri dari ketrampilan berpikir kritis, berpikir kreatif, berkomunikasi, dan berkolaborasi atau yang bisa disingkat 4C (Sari, Sundari, Jhora, & Hidayati, 2020). Ketrampilan pembelajaran ini menuntut mahasiswa untuk menguasai berbagai kompetensi secara maksimal. Melalui kebijakan MBKM diharapkan mahasiswa lebih dapat mengembangkan keempat ketrampilan tersebut.

Jika dikaitkan dengan pencapaian SDGs, kebijakan MBKM juga dapat menjadi sarana untuk mencapai poin- poin SDGs. Skema-skema dalam MBKM memungkinkan mahasiswa untuk mengungkapkan pengetahuan, bakat dan pengalaman mereka untuk lebih berperan menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab, dalam aspek sosial, ekonomi dan lingkungan.

Penelitian tentang dampak MBKM dalam kaitannya dengan pencapaian kompetensi abad 21 serta poin-poin SDGs belum banyak dilakukan. Yamin dan Syahrir (2020) lebih membahas tentang blended learning sebagai metode pembelajaran yang paling ideal dan direkomendasikan dalam sistem pendidikan merdeka belajar. Fuadi (2020) lebih membahas mengenai penerapan konsep MBKM dalam pendidikan biologi. Adapun penelitian Lestiyani (2020) lebih

(2)

fokus membahas tentang pemahaman konsep merdeka belajar dan revolusi industri 5.0 serta kesiapan dari para pelaku pendidikan dalam menyongsong Era Industri 5.0. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa belum semua pelaku pendidikan memahami konsep merdeka belajar dan belum memahami tentang Era Industri 5.0. Adapun penelitian tentang MBKM dalam kaitannya dengan kebutuhan pembelajaran abad ke-21 sudah dibahas oleh Suwandi (2020), tetapi lebih fokus pada pengembangan kurikulum program studi pendidikan bahasa (dan sastra) Indonesia yang responsif terhadap kedua isu tersebut. Berdasarkan penelitian-penelitian tersebut, kajian tentang dampak MBKM yang dikaitkan dengan pencapaian kompetensi abad 21 dan pencapaian SDGs di Prodi PWK belum pernah dilakukan.

Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini bertujuan untuk menganalisis perspektif mahasiswa Prodi PWK terhadap MBKM, implementasi MBKM di Prodi PWK Universitas Pakuan, dampak MBKM terhadap keterampilan abad 21 mahasiswa, serta relevansinya dengan pencapaian poin-poin SDGs

2. Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Prodi PWK Fakultas Teknik Universitas Pakuan dengan waktu penelitian selama satu bulan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Prodi PWK FT Universitas Pakuan dari angkatan 2018- 2021 yang berjumlah 191 mahasiswa. Dari seluruh populasi tersebut, sampel data yang terkumpul adalah sebanyak 55 responden dengan tingkat partisipasi sebesar 29%. Meskipun demikian, distribusi sampel kurang merata antar angkatannya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 1. berikut:

Sumber: Analisis Penyusun, 2021

Gambar 1. Distribusi Responden Penelitian Berdasarkan Angkatan

Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data berupa instrumen kuesioner yang disebarkan secara daring. Instrumen kuesioner ini terdiri dari dua jenis, yaitu: instrumen survei implementasi MBKM 2021 yang diakses melalui SPADA DIKTI dan kuesioner tertutup yang disusun oleh tim peneliti Universitas Pakuan yang mencakup perspektif mahasiswa terkait MBKM, kuesioner keterampilan abad 21, dan kuesioner tertutup SDGs. Skala pernyataan menggunakan nominal dan ordinal. Skala nominal terkait dengan karakteristik responden, sedangkan skala ordinal terkait variabel yang digunakan terdiri dari 2 jenis yaitu 5 skala dari tidak pernah, jarang, kadang-kadang, sering, dan selalu serta 4 skala likert dari sangat tidak setuju, tidak setuju, setuju dan sangat setuju.

Data yang terkumpul diolah dan dianalisis dengan metode analisis statistik deskriptif. Metode analisis statistik deskriptif digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data tanpa bertujuan untuk membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum (Sugiyono, 2014). Metode ini diaplikasikan untuk semua analisis, yaitu analisis perspektif mahasiswa terhadap kebijakan MBKM, analisis dampak MBKM terhadap keterampilan abad 21 mahasiswa, serta analisis relevansi kebijakan MBKM dengan SDGs.

3. Hasil dan Pembahasan

3.1 Perspektif Mahasiswa PWK terhadap Kebijakan MBKM

Perspektif mahasiswa PWK terhadap program MBKM dapat dilihat dari pemahaman dan manfaat Kebijakan MBKM bagi mahasiswa.

Pemahaman Mahasiswa PWK terhadap Program MBKM

Program MBKM sudah mulai disosialisasikan di Universitas Pakuan sejak trimester kedua tahun 2021 dan diimplementasikan sepenuhnya pada trimester ketiga, seiring dengan telah diterbitkannya Dokumen Kurikulum MBKM Prodi PWK sebagai salah satu panduan pelaksanaan program MBKM 2021. Hal ini menjadikan sebagian

25,5%

9,1%

18,2%

47,3%

0,0%

5,0%

10,0%

15,0%

20,0%

25,0%

30,0%

35,0%

40,0%

45,0%

50,0%

2018 2019 2020 2021

Persentase Responden Berdasarkan Angkatan di Program Studi PWK

(3)

besar mahasiswa sudah mengetahui kebijakan MBKM. Pada Gambar 2 terlihat bahwa 94% responden telah mengetahui kebijakan MBKM, meskipun dengan level pengetahuan yang berbeda, yaitu 2% mengetahui secara keseluruhan, 48% mengetahui sebagian besar isi kebijakan, dan 44% mengetahui sedikit isi kebijakan.

Sumber: Analisis Penyusun, 2021

Gambar 2. Pengetahuan Mahasiswa tentang Kebijakan MBKM

Banyaknya responden yang mengetahui tentang kebijakan MBKM tidak terlepas dari peran perguruan tinggi, termasuk di dalamnya program studi, dan Kemendikbud dalam mensosialisasikan kebijakan MBKM kepada mahasiswa, baik secara luring maupun daring, melalui media sosial maupun laman/website institusi. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada Gambar 3. Dari gambar tersebut terlihat bahwa sumber informasi kebijakan MBKM diperoleh oleh sebagian besar mahasiswa dari kanal daring perguruan tinggi (31%) dan kegiatan sosialisasi luring/ daring yang diadakan oleh Kemendikbud (24%). Sosialisasi tentang kebijakan MBKM ini penting agar semua civitas akademika, termasuk mahasiswa, dapat memperoleh informasi yang menyeluruh tentang kebijakan pendidikan yang berlaku saat ini. Hal ini didukung oleh (Arwildayanto, Suking, & Sumar, 2018) yang menyatakan bahwa sosialisasi kebijakan pendidikan merupakan kunci untuk menilai efektivitas penerapan suatu peraturan yang menjadi produk kebijakan.

Sumber: Analisis Penyusun, 2021

Gambar 3. Sumber Informasi Kebijakan MBKM

Sebagai tindak lanjut dari cukup berhasilnya sosialisasi kebijakan MBKM, mahasiswa PWK tertarik untuk mengikuti hampir seluruh skema program MBKM sebagai pilihan bentuk kegiatan pembelajaran di luar program studi. Tiga skema kegiatan MBKM yang paling banyak diminati mahasiswa adalah kegiatan magang/ praktik kerja (42%), pertukaran pelajar (22%), dan membangun desa atau kuliah kerja nyata (16%). Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada Gambar 4.

2%

48% 44%

6%

0%

10%

20%

30%

40%

50%

60%

Mengetahui kebijakan secara keseluruhan

Mengetahui sebagian besar isi kebijakannya

Mengetahui sedikit Belum mengetahui sama sekali Pengetahuan tentang Kebijakan MBKM

2%

24%

31%

11%

11%

0%

0% 5% 10% 15% 20% 25% 30% 35%

Kanal daring Kemendikbud (laman/website, media sosial)

Kegiatan sosialisasi luring/daring yang diselenggarakan oleh Kemendikbud Kanal daring Perguruan Tinggi (laman/website,

media sosial)

Kegiatan sosialisasi luring/daring yang diselenggarakan oleh Perguruan Tinggi Kanal komunikasi komunitas (misal: komunitas

alumni, komunitas dosen) Media massa

Sumber Informasi Kebijakan MBKM

(4)

Sumber: Analisis Penyusun, 2021

Gambar 1. Ketertarikan Mahasiswa terhadap Program MBKM

Kegiatan magang/ praktik kerja menjadi pilihan bentuk kegiatan pembelajaran di luar program studi yang paling banyak diminati oleh mahasiswa PWK. Terdapat beberapa alasan yang melatarbelakanginya. Pertama, kegiatan ini sudah ada sebelum program MBKM ditetapkan dan menjadi mata kuliah program studi. Hal tersebut menjadikan kegiatan magang/ kerja praktik lebih familiar dan lebih mudah dilaksanakan dibandingkan dengan kegiatan lainnya. Yang membedakannya dengan magang/kerja praktik sebelumnya, magang/ kerja praktik di dalam program MBKM memiliki nilai lebih jika dikonversi ke dalam satuan kredit semester (SKS). Kedua, melalui kegiatan ini bisa memberikan gambaran yang lebih nyata tentang dunia kerja, sehingga mahasiswa dapat membandingkan teori yang diperolehnya di perkuliahan dengan praktiknya di dunia kerja.

Manfaat Mengikuti MBKM

Program MBKM memiliki banyak manfaat bagi mahasiswa. Hal tersebut terlihat dari mayoritas responden (62,2%) yang menilai bahwa kegiatan MBKM sangat bermanfaat (Gambar 5). Hal senada juga diungkapkan oleh (Fuadi, 2021) yang menyatakan bahwa kegiatan MBKM dapat membawa banyak manfaat bagi pihak-pihak yang terlibat, antara lain mahasiswa, perguruan tinggi asal, dan mitra.

Sumber: Analisis Penyusun, 2021

Gambar 5. Kebermanfaatan Kegiatan MBKM

Manfaat MBKM bagi mahasiswa jika dikaitkan dengan masa studi menunjukkan bahwa sebagian besar responden (69%) meyakini dengan mengikuti program MBKM, mahasiswa tetap dapat lulus tepat waktu. Hal ini menunjukkan bahwa program MBKM membawa manfaat positif, baik dari sisi peningkatan kemampuan mahasiswa, maupun lama studi (Gambar 6).

22%

42%

0%

4%

7%

4%

4%

16%

0% 5% 10% 15% 20% 25% 30% 35% 40% 45%

Pertukaran Pelajar Magang/Praktik Kerja Asistensi Mengajar di Satuan Pendidikan Penelitian/Riset Proyek Kemanusiaan Kegiatan Wirausaha Studi/Proyek Independen Membangun Desa atau Kuliah Kerja Nyata

Tematik (KKNT)

Pilihan Bentuk Kegiatan Pembelajaran di Luar Program Studi

62,2%

35,6%

2,2% 0,0%

0,0%

10,0%

20,0%

30,0%

40,0%

50,0%

60,0%

70,0%

Sangat Bermanfaat Cukup Bermanfaat Kurang Bermanfaat Tidak Bermanfaat Kebermanfaatan Kegiatan MBKM

(5)

Sumber: Analisis Penyusun, 2021

Gambar 6. Implikasi MBKM pada Masa Studi

Manfaat lain kegiatan MBKM dapat dilihat dari peningkatan kompetensi, wawasan, soft skill, serta penyiapan masuk dunia kerja. Secara berturut-turut, sebanyak 78% dan 80% mahasiswa berpendapat bahwa kegiatan MBKM dapat memberikan kompetensi tambahan dan memperluas perspektif (Gambar 7). Selain itu, sebagian besar responden juga menyatakan bahwa terdapat peningkatan soft skill dengan cukup baik (38%) dan baik (47%) setelah mengikuti kegiatan MBKM (Gambar 8). Peningkatan soft skill ini sangat bermanfaat sebagai bekal setelah lulus dan sebagai persiapan untuk memasuki dunia kerja. Oleh karenanya, kegiatan MBKM dinilai penting oleh sebagian besar responden (38%) sebagai sarana untuk menghadapi dunia kerja (Gambar 9). Hasil analisis ini senada dengan tujuan MBKM yang dicanangkan oleh Kemendikbud, yang juga dikutip oleh (Fuadi, 2021): “untuk meningkatkan kompetensi lulusan, baik soft skills maupun hard skills, agar lebih siap dan relevan dengan kebutuhan zaman, menyiapkan lulusan sebagai pemimpin masa depan bangsa yang unggul dan berkepribadian”. Hal yang sama juga diungkapkan oleh (Setyowati, 2020), bahwa kebijakan MBKM juga bertujuan untuk meningkatkan link and match dengan dunia kerja dan mempersiapkan mahasiswa masuk ke dunia kerja.

Sumber: Analisis Penyusun, 2021

Gambar 7. Dampak Kegiatan Pembelajaran di Luar Kampus

Sumber: Analisis Penyusun, 2021

Gambar 8. Peningkatan Soft-skill yang Diperoleh setelah Mengikuti Kegiatan MBKM

11%

69%

20%

0%

10%

20%

30%

40%

50%

60%

70%

80%

Masa studi menjadi lama Tetap tepat waktu Tidak Tahu Implikasi MBKM Pada Masa Studi

78% 80%

20% 18%

2% 2%

0%

10%

20%

30%

40%

50%

60%

70%

80%

90%

Memberikan kompetensi tambahan Memperluas perspektif

Dampak Kegiatan pembelajaran di luar kampus

Ya Mungkin Tidak Tahu

0%

7%

38%

47%

9%

0%

5%

10%

15%

20%

25%

30%

35%

40%

45%

50%

Tidak ada peningkatan sama

sekali

Ada peningkatan tapi kurang baik

Ada peningkatan cukup baik

Ada peningkatan dengan baik

Ada peningkatan dengan sangat baik Peningkatan soft-skill yang diperoleh setelah mengikuti kegiatan

MBKM sebagai bekal bekerja setelah lulus

(6)

Sumber: Analisis Penyusun, 2021

Gambar 9. Tingkat Kepentingan Kegiatan MBKM untuk Persiapan Menghadapi Masa Pasca Kampus

3.2 Implementasi Kebijakan MBKM di Prodi PWK

Prodi PWK Fakultas Teknik Universitas Pakuan telah memiliki dokumen kurikulum MBKM 2021 yang mulai diimplementasikan pada semester ganjil 2021/2022. Skema MBKM yang sudah berjalan antara lain pertukaran pelajar, magang/ kerja praktik bersertifikat, serta membangun desa/ KKN tematik yang diutamakan bagi mahasiswa semester 5-7. Pertama, skema pertukaran pelajar dilakukan dengan bekerja sama dengan prodi yang sama di universitas berbeda, yaitu Prodi PWK Universitas Esa Unggul. Dalam program ini, mahasiswa Prodi PWK Universitas Pakuan mengikuti Mata Kuliah Spatial Big Data di Prodi PWK Universitas Esa Unggul, dan sebaliknya mahasiswa Prodi PWK Universitas Esa Unggul mengikuti Mata Kuliah Peremajaan Kota di Prodi PWK Universitas Pakuan. Kedua, skema magang/ kerja praktik bersertifikat dilaksanakan di Kementerian ATR/BPN sebagai salah satu kementerian/lembaga yang paling awal menerapkan program MBKM di bidang perencanaan wilayah kota. Dalam magang/ kerja praktik bersertifikat ini, mahasiswa dilibatkan dalam penyusunan rencana detail tata ruang (RDTR) di Provinsi DKI Jakarta, Kota Depok, dan Kabupaten Bogor.

Kegiatan magang/kerja praktik ini diawali dengan pembekalan/ pelatihan dan uji kompetensi penyusunan RDTR sehingga mahasiswa memiliki bekal yang memadai untuk melakukan magang. Adapun skema ketiga, yaitu membangun desa dilaksanakan melalui Program Holistik Pembinaan dan Pemberdayaan Desa (PHP2D) dengan mitra Pemerintah Desa Tajurhalang, Desa Cijeruk, Kabupaten Bogor. Kegiatan ini dilaksanakan selama 5 bulan dengan pendanaan dari Kemendikbud. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Kegiatan MBKM di Perencanaan Wilayah dan Kota

No Kegiatan Mitra

1 Pertukaran pelajar Prodi PWK Universitas Esa Unggul 2 Magang bersertifikat Kementerian ATR/BPN

3 Membangun Desa Pemerintah Desa Tajurhalang, Kec. Cijeruk, Kabupaten Bogor Sumber: Prodi PWK, 2021

Jika dilihat dari sebaran angkatannya, peserta kegiatan MBKM di Prodi PWK Universitas Pakuan ini terdiri dari setiap angkatan 2018-2021, dengan persentase terbesar yaitu mahasiswa angkatan 2018 (57,1%) (Gambar 10).

Angkatan 2018 ini melaksanakan skema magang/ kerja praktik yang menjadi mata kuliah wajib di semester 7.

Adanya penawaran magang bersertifikat di Kementerian ATR/ BPN menjadi peluang yang dimanfaatkan oleh mahasiswa PWK Universitas Pakuan. Adapun skema lainnya, meskipun diutamakan bagi mahasiswa semester 5-7, tetapi lebih fleksibel dalam implementasinya dan terbuka bagi mahasiswa semester 1-4 dengan beberapa penyesuaian kebijakan. Adanya nilai manfaat yang lebih besar dari kegiatan MBKM menjadi salah satu pertimbangan fleksibilitas kebijakan ini.

33%

38%

29%

0% 0%

0%

5%

10%

15%

20%

25%

30%

35%

40%

Sangat Penting Penting Cukup Penting Kurang Penting Tidak Penting Tingkat Kepentingan kegiatan MBKM untuk persiapan menghadapi

masa paska kampu

(7)

Sumber: Prodi PWK, 2021

Gambar 10. Mahasiswa yang Mengikuti Kegiatan MBKM di Prodi PWK Universitas Pakuan

3.3 Implikasi Kebijakan MBKM terhadap Kompetensi Abad 21

Berdasarkan analisis implementasi program MBKM di Prodi PWK, analisis implikasi MBKM terhadap kompetensi abad 21 mahasiswa dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu secara agregat dan komparasi antara mahasiswa yang mengikuti MBKM dan tidak mengikuti MBKM. Analisis ini dilakukan dengan mengukur mean rank variabel ketrampilan sebagai tuntutan kompetensi abad 21 mahasiswa. Variabel ketrampilan tersebut mencakup ketrampilan berpikir kritis, berkolaborasi, komunikasi, dan kreativitas dan inovasi.

Implikasi Kompetensi Mahasiswa PWK secara Agregat terhadap Kompetensi Abad 21

Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner, diperoleh hasil bahwa secara agregat mahasiswa Prodi PWK memiliki nilai rata-rata ketrampilan yang tinggi terkait kompetensi abad 21. Jika diperinci, nilai rata-rata ketrampilan berkolaborasi 3,8; ketrampilan berpikir kritis 3,74; ketrampilan kreativitas dan inovasi 3,48; serta ketrampilan komunikasi 3,44. Tingginya nilai ketrampilan mahasiswa Prodi PWK yang terkait dengan kompetensi abad 21 ini tidak terlepas dari tuntutan kompetensi lulusan Prodi PWK untuk dapat bekerja sama dan berkomunikasi dengan berbagai pihak, berpikir kritis terhadap isu-isu dan dinamika permasalahan yang terjadi di lapangan untuk kemudian merumuskan solusi-solusi yang inovatif dan kreatif untuk merespon isu-isu tersebut. Hal tersebut tercermin dari tugas-tugas mata kuliah dan metode perkuliahan, dimana mahasiswa dituntut untuk mengerjakan tugas secara berkelompok, serta mempresentasikan dan mendiskusikan hasilnya di hampir setiap mata kuliah.

Sumber: Analisis Penyusun, 2021

Gambar 11. Nilai Rata-rata Kompetensi Abad 21 Mahasiswa PWK

Tuntutan kompetensi abad 21 mahasiswa dan lulusan Prodi PWK ini juga terakomodasi dalam keterampilan khusus yang telah ditetapkan oleh Asosiasi Sekolah Perencanaan Indonesia (ASPI), yang dijadikan panduan bagi penyusunan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) Prodi PWK. Keterampilan khusus tersebut antara lain (ASPI, 2017):

• mampu menerapkan konsep umum maupun teoretis untuk menyelesaikan masalah dalam bidang perencanaan wilayah dan kota;

57,1%

9,5% 9,5%

23,8%

0,0%

10,0%

20,0%

30,0%

40,0%

50,0%

60,0%

2018 2019 2020 2021

Persentase Mahasiswa yang terlibat MBKM Berdasarkan Angkatan di Program Studi PWK

3,74

3,80

3,44 3,48

1,00 1,50 2,00 2,50 3,00 3,50 4,00 Keterampilan Berfi kir Kritis

Keterampilan Berkolaborasi

Keterampilan Komunikasi Keterampilan Kreativitas dan

Inovasi

Nilai Rataan Keterampilan

(8)

• mampu menerapkan prinsip dan proses dalam bidang perencanaan wilayah dan kota;

• mampu menganalisis potensi dan permasalahan konteks keruangan maupun non keruangan dalam permasalahan perencanaan wilayah dan kota;

• mampu menerapkan teknik-teknik formulasi rencana;

• mampu menjelaskan pemanfaatan, pengendalian, dan evaluasi hasil perencanaan;

• mampu memformulasikan alternatif solusi dalam perencanaan wilayah dan kota;

• mampu mendokumentasikan dan mengkomunikasikan hasil perencanaan wilayah dan kota;

• mampu menerapkan norma dan nilai di Indonesia dalam praktek perencanaan wilayah dan kota.

Perbandingan Kompetensi Abad 21 Mahasiswa yang Mengikuti MBKM dan Tidak Mengikuti MBKM Untuk mengetahui signifikansi implikasi MBKM dalam pencapaian kompetensi abad 21 mahasiswa, dilakukan komparasi keterampilan antara mahasiswa yang mengikuti program MBKM dan tidak. Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner, diketahui bahwa 38,2% responden yang mengikuti kegiatan MBKM, sedangkan 60,7%

sisanya tidak/belum terlibat kegiatan MBKM.

Tabel 2. Perbedaan Capaian Kompetensi Abad 21 Mahasiswa PWK yang Mengikuti MBKM dan Tidak Mengikuti MBKM

No. Jenis Keterampilan Mengikuti MBKM Tidak Mengikuti MBKM Mean Keterangan Mean Keterangan

1 Keterampilan Berpikir Kritis 3,39 Cukup 2,94 Cukup

2 Keterampilan Berkolaborasi 4,05 Tinggi 3,51 Tinggi

3 Keterampilan Komunikasi 3,80 Tinggi 3,08 Cukup

4 Keterampilan Kreativitas dan Inovasi 3,69 Tinggi 3,22 Cukup

Total 3,79 Tinggi 3,22 Cukup

Sumber: Analisis Penyusun, 2021

Sumber: Analisis Penyusun, 2021

Gambar 12. Perbandingan Kompetensi Abad 21 Mahasiswa yang Mengikuti MBKM dan Tidak Mengikuti MBKM

Dari penghitungan mean rank kedua kelompok berdasarkan empat variabel keterampilan di atas, terlihat bahwa secara umum nilai mean rank mahasiswa yang mengikuti kegiatan MBKM lebih tinggi (3,79) dibandingkan yang tidak terlibat kegiatan MBKM (3,22). Jika diperinci, mahasiswa yang mengikuti kegiatan MBKM memiliki ketrampilan yang tinggi dalam berkolaborasi, berkomunikasi, serta berkreativitas dan berinovasi dan ketrampilan yang cukup dalam berpikir kritis. Sementara itu, mahasiswa yang tidak/ belum mengikuti MBKM hanya memiliki ketrampilan yang tinggi dalam berkolaborasi, sementara tidak lainnya hanya memiliki ketrampilan yang cukup. Relatif baiknya pencapaian kompetensi abad 21 mahasiswa MBKM tersebut selaras dengan tujuan program MBKM serta pernyataan (Priatmoko & Dzakiyyah, 2020) bahwa gagasan Kampus Merdeka selaras dengan dengan tuntutan kompetensi yang harus dikuasai di abad 21 dan di era revolusi industri 4.0.

3.4 Relevansi MBKM dengan SDGS

Proses pendidikan di perguruan tinggi perlu diselaraskan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs).

Pendekatan akademik seperti MBKM memungkinkan mahasiswa untuk mengungkapkan pengetahuan, bakat dan

(9)

pengalaman mereka untuk lebih berperan menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab. Program MBKM sangat berperan dalam pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), antara lain dalam hal pendidikan yang berkualitas, akses energi terjangkau, mengurangi ketimpangan, perubahan iklim, menjaga ekosistem darat, revitalisas kemitraan global.

Melalui penghitungan mean rank dari responden yang pernah mengikuti kegiatan MBKM, diperoleh hasil bahwa dari 6 aspek penilaian SDGs, semua mendapat nilai cukup tinggi, dengan rerata 3-3,5 (Tabel 3 dan Gambar 13).

Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan MBKM ini sangat berkontribusi pada pencapaian SDGs serta memberikan mahasiswa kesempatan untuk berdiskusi, memfasilitasi ide atau pendapat, dan meningkatkan kesadaran mahasiwa tentang pentingnya pembangunan berkelanjutan.

Tabel 3. Relevansi MBKM terhadap Pencapaian SDGs

Sumber: Analisis Penyusun, 2021

Sumber: Analisis Penyusun, 2021

Gambar 13. Relevansi MBKM dalam Pencapaian SDGs

4. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis, diperoleh kesimpulan sebagai berikut: (1) Mahasiswa prodi PWK sudah terlibat dalam kegiatan MBKM melalui skema pertukaran pelajar, magang bersertifikasi, dan membangun desa; (2) Mahasiswa merasa MBKM bermanfaat bagi mereka untuk persiapan masuk ke dunia kerja; (3) Terdapat perbedaan capaian kompetensi mahasiswa yang mengikuti MBKM dan tidak. Hal ini menjadi bukti bahwa MBKM bermanfaat untuk peningkatan kompetensi mahasiswa; (4) Ketrampilan berkomunikasi masih dalam level cukup; serta (5) Kebijakan MBKM di Prodi PWK memberikan kontribusi pada pencapaian SDGs melalui 6 aspek.

Berdasarkan kesimpulan tersebut, maka ada ada beberapa hal yang pelru ditindaklanjuti, antara lain: (1) Perlu peningkatan sosialisasi kebijakan MBKM oleh Prodi; (2)Perlu pengembangan kerjasama dengan berbagai mitra

(10)

dan perluasan lebih banyak skema MBKM; serta (3) Perlu upaya peningkatan ketrampilan berkomunikasi mahasiswa, misalkan melalui bekerja sama dengan FISIB.

Acknowledgements

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ditjen Dikti Tahun 2021 untuk program Penelitian Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan Pengabdian Kepada Masyarkat berbasis hasil penelitian dan Purwarupa PTS Kerjasama Universitas Pakuan dengan Ditjen Dikti Tahun 2021

Referensi

Arwildayanto, Suking, A., & Sumar, W. T. (2018). Analisis Kebijakan Pendidikan. Kajian Teoririts, Eksploratif, dan Aplikatif. Bandung, Jawa Barat: CV Cendekia Press.

ASPI. (2017, 12). Hasil Kesepakatan Capaian Pembelajaran Lulusan Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota.

Retrieved from aspi.or.id: https://aspi.or.id/?page_id=32

Fuadi, T. M. (2021). Konsep Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM): Aplikasinya dalam Pendidikan Biologi.

Seminar Nasional Biotik (pp. Vol. 9, No. 1 pp. 183-200). Banda Aceh: Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry.

Lestiyani, P. (2020). Analisis Persepsi Civita Akademika terhadap Konsep Merdeka Belajar Menyongsong Era Industri 5.0. Jurnal Kependidikan, Vol. 6 No. 3 pp 365-372.

Priatmoko, S., & Dzakiyyah, N. I. (2020). Relevansi Kampus Merdeka terhadap Komptensi Guru Era 4.0 dalam Perspektif Experiental Learning Theory. At-Thullab: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Vol. 4 No. 1 pp.

1-15.

Sari, S. Y., Sundari, P. D., Jhora, F. U., & Hidayati. (2020). Studi Hasil Bimbingan Teknis Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis Ketrampilan Abad-21 dalam Rangka Penerapan Program Merdeka Belajar. Jurnal Eksakta Pendidikan, Vol. 4 No. 2 pp. 189-196.

Setyowati, R. N. (2020). Pembelajaran Emansipatoris bagi Mahasiswa di Perguruan Tinggi Berbasis Literasi Digital di Era Merdeka Belajar. Prosiding Seminar Nasional "Penguatan Pendidikan Karakter pada Era Merdeka Belajar" (pp.

63-68). Surabaya: Universitas Negersi Surabaya.

Sugiyono. (2014). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Suwandi, S. (2020). Pengembangan Kurikulum Program Studi Pendidikan Bahasa (dan Sastra) Indonesia yang Responsif terhadap Kebijakan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka dan Kebutuhan Pembelajaran Abad ke-21.

Prosiding Seminar Daring Nasional: Pengembangan Kurikulum Merdeka Belajar Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia (pp. 1-12). Bengkulu: Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas Bengkulu.

Yamin, M., & Syahrir. (2020). Pembangunan Pendidikan Merdeka Belajar (Telaah Metode Pembelajaran). Jurnal Ilmiah Manda Education, Vol. 6 No.1 pp.126-136.

Referensi

Dokumen terkait

Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), merupakan kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, yang bertujuan mendorong mahasiswa untuk menguasai berbagai keilmuan yang