• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAPABILITAS PASUKAN PERDAMAIAN

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "KAPABILITAS PASUKAN PERDAMAIAN "

Copied!
39
0
0

Teks penuh

Dalam studi ini, digunakan beberapa insiden (multi-case) dalam implementasi pengembangan kapasitas pasukan penjaga perdamaian PBB periode 2018-2018. Kemampuan pasukan perdamaian Indonesia untuk menghadapi ancaman multidimensi dalam misi perdamaian PBB di Republik Demokratik Kongo.

Strategi TNI dalam melaksanakan pembangunan kapabilitas pasukan perdamaian Indonesia

Hal ini juga terkait dengan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif, terutama mengenai syarat-syarat pelaksanaan VII. bab PBB, yang lebih berorientasi pada penggunaan kekuatan dalam rangka penegakan perdamaian, yang tidak sesuai dengan hukum Indonesia. Hal ini harus ditekankan oleh pemerintah Indonesia khususnya dalam forum TKMPP agar tidak ada kesalahan yang dilakukan oleh pasukan perdamaian Indonesia terutama dalam menangani situasi krisis. Hal ini penting dalam rangka pemajuan PMPP TNI sebagai lembaga pelatihan bertaraf internasional PBB dengan memperoleh pengakuan PBB atas penyelenggaraan pelatihan PBB, termasuk pelatihan calon pemimpin/perwira strategis di wilayah misi yaitu Senior Mission Leadership Courses ( SML).

Lebih lanjut, dari aspek material, Viktor Simatupang menjelaskan capacity building dilakukan dengan perolehan material baru dan perbaikan material dengan menggunakan dana reimbursement dan dengan menggunakan material Ex-Satgas lainnya yang dikembalikan ke dalam negeri dan/atau material surplus dari Gugus Tugas di PMPP. TNI. Kebijakan ini dilakukan untuk menyiapkan Satuan Tugas baru yang akan diajukan ke PBB dalam bentuk ikrar di bawah mekanisme UNPCRS maupun untuk Satuan Tugas yang telah diterjunkan secara rutin.

Faktor-faktor yang berpengaruh dalam pembangunan kapabilitas pasukan perdamaian Indonesia

Berbagai ancaman sebagai dampak negatif perkembangan TIK adalah potensi serangan siber berupa spionase siber dan sabotase siber, yang dapat menyerang infrastruktur strategis berbasis informasi dan mengancam sistem keamanan digital global. Serangan dunia maya dapat dijadikan prekursor untuk melumpuhkan negara yang berkonflik dengan meneror informasi penting, melumpuhkan sistem pengawasan elektronik Alutsista atau infrastruktur publik, yang dapat mempengaruhi keselamatan dan keamanan masyarakat secara umum. Motif serangan siber sangat beragam, antara lain masalah ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, teknologi, hukum, serta pertahanan dan keamanan.

Ketiga, kegiatan teroris global masih berlangsung di berbagai belahan dunia, baik secara organisasional maupun individual (lone wolf). Berbagai upaya internasional telah dilakukan untuk mempersempit ruang gerak kegiatan teroris, termasuk menghubungkannya dengan kegiatan kejahatan terorganisir internasional (trans-organized crime - TOC), guna mengganggu aliran pendanaan terorisme dan mendorong upaya internasional untuk memerangi kegiatan teroris. yang terpusat dan berpotensi atau memiliki pengaruh dan/atau dapat mengilhami bangkitnya ideologi terorisme di seluruh dunia melalui penggunaan kekuatan bersenjata, seperti yang terjadi saat ini di Suriah dan Irak melawan ISIS. Di bidang ekonomi, hampir semua negara yang terkena dampak mengalami resesi ekonomi yang cukup parah dalam beberapa dekade terakhir.

Diskusi

Kapabilitas pasukan perdamaian Indonesia menghadapi ancaman multidimensional pada Misi Perdamaian PBB di Republik Demokratik Kongo

Keempat, perkembangan lingkungan strategis saat ini ditandai dengan kejutan-kejutan strategis menyusul merebaknya pandemi Covid-19 di hampir seluruh negara di dunia. Selain menimbulkan kasus dengan 3.735.559 kematian di 222 negara per 6 Juni 2021, pandemi Covid-19 berdampak pada ketidakpastian di segala aspek kehidupan masyarakat global. Beberapa negara penyumbang keuangan terbesar dunia yang mendukung operasi misi PBB juga mengalami resesi ekonomi yang masuk dalam 10 negara paling terdampak seperti Amerika Serikat dengan pertumbuhan ekonomi minus 32,9%, Inggris minus 20,4% dan Jepang minus 7,8%. .

Demikian pula penyiapan penugasan pelatihan dan pendampingan dalam reformasi sektor keamanan hanya dilakukan sebagai bagian dari pelaksanaan mandat PBB yang harus dilaksanakan oleh seluruh Gugus Tugas dalam misi yang diberikan. Sejauh ini, belum ada upaya konkrit untuk mengembangkan kerja sama pertahanan dalam rangka penyediaan peralatan militer dan bantuan lain yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan wilayah misi yang ditetapkan oleh PBB. Beberapa lembar materi Binter dan CIMIC yang diberikan untuk proses peningkatan kapabilitas pasukan perdamaian Indonesia selama PMPP melalui PDT dan di wilayah misi Kongo dalam bentuk pelatihan induksi telah meningkatkan pemahaman pasukan perdamaian dalam memenangkan hati dan pikiran rakyat Kongo.

Strategi TNI dalam melaksanakan pembangunan kapabilitas pasukan perdamaian Indonesia

Keberhasilan Satuan Tugas Batalyon RDB XXXIX/Monusco Kongo dalam mendamaikan dua suku yang bertikai lebih disebabkan oleh kemampuan staf untuk menjalankan fungsi Binter yang tertanam dalam jiwa personel yang bergabung dengan komando tambah. Selain itu, karena pengerahan operasi penjaga perdamaian PBB merupakan pengerahan angkatan bersenjata yang sangat kompleks dan membutuhkan partisipasi dari tingkat strategis utama hingga tingkat taktis, dapat dikatakan bahwa pengerahan operasi penjaga perdamaian PBB merupakan salah satu upaya kampanye militer yang disiapkan. jika bagian dari jalur Opsgabma dalam skala yang lebih besar, dengan target di bawah mandat yang lebih kompleks menggunakan sumber daya Perserikatan Bangsa-Bangsa dan negara-negara anggota yang terlibat sebagai T/PCC dan pada waktu dan tempat tertentu sesuai dengan analisis dan kebijakan Dewan Keamanan PBB. Strategi pengembangan kapasitas pasukan penjaga perdamaian Indonesia untuk menghadapi ancaman multidimensi dalam misi penjaga perdamaian PBB di Republik Demokratik Kongo juga tidak terlepas dari manfaat yang ditawarkan oleh Freed (2006, p. 20) sebagai alat untuk mengantisipasi perubahan lingkungan, untuk meminimalkan dampak negatif dari perubahan kondisi lingkungan strategis.

Perumusan kebijakan ini harus ditujukan untuk menyelesaikan simpul-simpul masalah yang masih ada dalam pengembangan kapasitas, khususnya pada periode 2018 hingga 2020 bagi pasukan penjaga perdamaian Indonesia yang bertugas di Kongo, terutama terkait dengan kebutuhan untuk menyelaraskan peraturan nasional dengan kebijakan PBB, dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia yang profesional, memenuhi kemampuan dan infrastruktur yang diperlukan untuk penyiapan gugus tugas, serta menciptakan satuan-satuan pasukan siaga yang siap ditempatkan dalam misi penjaga perdamaian global, sekaligus siap dikerahkan untuk mendukung kebutuhan operasi domestik dan operasi kemanusiaan lainnya di kawasan Asia-Pasifik dalam rangka meningkatkan kontribusi pasukan perdamaian PBB dalam rangka memperkuat diplomasi pertahanan Indonesia. Sebuah model ditawarkan untuk mengembangkan kapasitas penjaga perdamaian Indonesia untuk menghadapi ancaman multidimensi dalam misi penjaga perdamaian PBB.

Model pembangunan kapabilitas pasukan perdamaian Indonesia menghadapi ancaman multidimensional dalam Misi Perdamaian PBB yang ditawarkan

Model Strategi TNI dalam melaksanakan pembangunan kapabilitas pasukan perdamaian Indonesia pada unsur Ends

Dari sisi tujuan, pengembangan kemampuan pasukan perdamaian Indonesia memang tercermin dari kebijakan pemerintah Indonesia yang telah dituangkan dalam beberapa acara. Komitmen ini juga tercermin dalam mengangkat isu peacekeeping sebagai tema kepresidenan Indonesia di Dewan Keamanan (SC) PBB 2019-2019. Pada kesempatan tersebut, Indonesia mengangkat isu peacekeeping sebagai tema kepresidenan Indonesia pada Mei 2019 sebagai bagian dari prioritas keanggotaan Indonesia untuk berkontribusi dalam penguatan ekosistem/geopolitik perdamaian dan stabilitas dunia.

Presiden Joko Widodo juga menyatakan pada KTT Asia-Afrika 2015 bahwa “Indonesia sebagai kekuatan ekonomi baru yang sedang tumbuh, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, dan sebagai negara demokrasi terbesar ketiga, siap memainkan peran global sebagai kekuatan positif bagi perdamaian dan kesejahteraan. Hal ini penting karena menurut Teori Polri, rumusan kebijakan tersebut di atas diperlukan untuk mencapai tujuan dan cita-cita nasional, terutama terkait dengan partisipasi Indonesia dalam memelihara perdamaian dan ketertiban dunia, sementara tetap mengutamakan kepentingan operasi dalam negeri.Rumusan tujuan sebagai kebijakan yang dapat dijadikan model dalam membangun kapasitas pasukan perdamaian Indonesia menurut pembahasan dalam penelitian ini adalah: “Mewujudkan kapasitas pasukan perdamaian Indonesia berdasarkan UNPCRS dengan sinkronisasi regulasi nasional dengan kebijakan PBB, peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia yang profesional, pemenuhan kemampuan dan infrastruktur yang diperlukan dalam penyiapan Satgas, serta pembentukan Unit Pasukan Siaga yang siap diterjunkan untuk misi penjaga perdamaian global dan siap.

Model Strategi TNI dalam melaksanakan pembangunan kapabilitas pasukan perdamaian Indonesia pada Aspek Means

Evolusi wilayah misi PBB yang sangat dinamis dan potensi ancaman yang semakin kompleks, multidimensi, dan tidak pasti juga membutuhkan posisi sebagai bagian dari jabatan fungsional membantu tugas khusus Panglima TNI PMPP dalam melakukan analisis misi sebagai analis misi. Posisi ini sangat penting untuk memberikan masukan dan kontribusi kepada Panglima TNI PMPP terhadap perkembangan lingkungan global, regional dan nasional negara tuan rumah sebagai wilayah misi PBB, yang akan berimplikasi pada pengerahan pasukan PBB, khususnya penjaga perdamaian PBB. Hasil analisis juga dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam menentukan wilayah misi yang direncanakan untuk pasukan penjaga perdamaian PBB yang ditugaskan.

Materi disampaikan dalam bentuk buku, power point, video ceramah oleh pemateri, pejabat PBB dan gambaran situasi di wilayah misi. Peralatan yang dibutuhkan oleh Statement of Unit Requirements (SUR) yang terdiri dari peralatan utama (ME) dan swasembada (SS) merupakan kunci keberhasilan dalam tahapan membangun kapabilitas pasukan penjaga perdamaian PBB dan dalam melaksanakan penugasan Satgas di daerah misi. Untuk mengurangi beban kerja kegiatan pemeliharaan Satgas di area operasi dan anggaran yang dibutuhkan, maka material yang dikirimkan ke area misi adalah material baru, yang meliputi pemeliharaan selama 7 (tujuh) tahun dalam proses pengadaan.

Model Strategi TNI dalam melaksanakan pembangunan kapabilitas pasukan perdamaian Indonesia pada unsur Ways

Dalam rangka memperluas jaringan serta memperbesar peluang peningkatan kontribusi pasukan perdamaian Indonesia, sesuai dengan tujuan pelaksanaan UNPCRS, perlu dijajaki bentuk-bentuk kerjasama operasional lainnya dengan negara-negara sahabat. Smith berpendapat, dalam praktik kemitraan operasional selama ini, secara umum terdapat 4 (empat) model yang dapat dijajaki pemerintah Indonesia dengan negara sahabat berdasarkan struktur komando organisasi koperasi. Contoh dari pengerahan gabungan tersebut adalah antara pasukan Italia dan pasukan Slovenia yang ditempatkan di UNIFIL, Lebanon.

Contoh penugasan bersama tersebut adalah antara pasukan Argentina dan pasukan Paraguay yang ditempatkan di UNFICYP, Siprus. Contoh penugasan kerja sama ini adalah antara pasukan Finlandia dan pasukan Irlandia yang ditempatkan di UNIFIL, Lebanon. Contoh penugasan bersama tersebut adalah antara pasukan Slovakia dan pasukan Hongaria yang ditempatkan di UNFICYP, Siprus.

Kesimpulan. Dari hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan terhadap

TKMPP merumuskan kebijakan sebagai sasaran dalam strategi peningkatan kapasitas pasukan perdamaian Indonesia menuju terwujudnya kapabilitas pasukan perdamaian Indonesia berdasarkan UNPCRS dengan menyelaraskan regulasi nasional dengan kebijakan PBB, meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia yang profesional, pemenuhan sarana dan prasarana yang diperlukan di penyiapan Satgas, dan pembentukan Unit Assistance Force, yang siap diterjunkan pada misi pemeliharaan perdamaian global dan siap diterjunkan untuk memenuhi kebutuhan operasi domestik dan operasi kemanusiaan lainnya di kawasan Asia-Pasifik untuk mem-back up kawasan dalam rangka meningkatkan kontribusi pasukan perdamaian PBB dalam rangka memperkuat diplomasi pertahanan Indonesia. Pertama, Kementerian Pertahanan, Mabes TNI, dan Mabes TNI melaksanakan penyiapan skala prioritas dalam pemenuhan sarana dan prasarana, termasuk Alutsista/Alutsista yang dibutuhkan oleh Satgas TNI Kontingen Garuda sesuai dengan manual SUR dan COE. yang bersinkronisasi dengan Probang kuatnya pemenuhan alutsista TNI, sehingga selain untuk memenuhi kebutuhan Satgas TNI Kontingen Garuda juga dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan operasi dalam negeri dengan dukungan sarana dan prasarana berstandar internasional. infrastruktur untuk mendukung efektivitas operasi, dengan tetap mengutamakan keselamatan prajurit yang bertugas di wilayah operasi dalam negeri. Pertama, melalui mekanisme yang ada, TKMPP mengusulkan peninjauan kembali Peraturan Presiden Nomor 86 Tahun 2016 tentang Pengiriman Misi Pemeliharaan Perdamaian melalui mekanisme yang sesuai, agar dapat dilaksanakannya pengembangan kemampuan pasukan perdamaian Indonesia yang baru melalui sistem dan kebijakan lainnya. sebagaimana ditentukan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, dengan tetap berorientasi pada kebutuhan operasi dalam negeri berupa pasukan bantuan serta menyelenggarakan kerjasama dengan T/PCC lain dalam bentuk kemitraan operasional dan TPP guna mencapai kepentingan nasional di forum internasional.

Grand design dan rencana yang telah disusun harus dirumuskan secara valid, akurat, bertanggung jawab dan layak dengan memperhatikan kebutuhan operasi domestik. Ketiga, Mabes TNI melakukan validasi organisasi PMPP TNI untuk memasang jabatan Penasihat Gender dan membentuk pasukan cadangan yang siap memproyeksikan tugas-tugas OPPD dan siap dimobilisasi untuk mendukung kebutuhan operasional dalam negeri sambil menunggu keputusan PBB tentang penempatan ke wilayah misi. Memperkuat Kekuatan Operasi Pemeliharaan Perdamaian untuk Mempromosikan Produksi Domestik (Studi Lebanon dan Kongo)”.

Referensi

Dokumen terkait

Diakses melalui https://jdih.bumn.go.id/lihat/UU%20Nomor%203%20Tahun%202002 Kedutaan Besar Republik Indonesia di Beirut, Republik Lebanon.. Lebanon Bersyukur Miliki Pasukan