• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF Karang Pule Kota Mataram Pule Kota Mataram - poltekkes-malang.ac.id

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "PDF Karang Pule Kota Mataram Pule Kota Mataram - poltekkes-malang.ac.id"

Copied!
59
0
0

Teks penuh

Faktor-faktor penyebab keterlambatan penyampaian rekam medis menurut Sugiarti & Andria (2015) antara lain : 1). Saatnya penyerahan rekam medis kepada pasien rawat jalan jangka panjang yang membawa kartu identitas untuk berobat di RSUD H.

Tabel 1. Jumlah Pasien Lama dan Pasien  Baru
Tabel 1. Jumlah Pasien Lama dan Pasien Baru

Simpulan dan Saran Simpulan

Ucapan Terima Kasih

Daftar Pustaka

65 Analisis Alasan Tidak Digunakannya Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (Simpus) pada saat penerimaan pasien rawat jalan di Puskesmas. Sedangkan sistem informasi yang digunakan untuk menunjang kelancaran pengelolaan informasi kesehatan di Puskesmas adalah sistem.

Metode

Hasil dan pembahasan

Penyelenggaraan penerimaan rawat jalan dan pengelolaan rekam medis di Puskesmas Kalimas belum sepenuhnya dilakukan oleh lulusan D3 Rekam Medis, juga belum sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan No. 55 tidak. 2013 berakhir. Pelaksanaan Pekerjaan Perekam Medis, bahwa perekam medis adalah seseorang yang telah menyelesaikan pelatihan rekam medis dan informasi kesehatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Hal ini diperkuat dengan Keputusan Menteri Kesehatan No. 377 Tahun 2007 tentang Standar Profesi Perekam Medis dan Informasi Kesehatan mengenai kualifikasi pendidikan minimal bagi perekam medis adalah D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan dengan gelar ahli madya.

Sebab ketika entri data pasien berbasis NIK di Simpus yang terintegrasi dengan Disdukcapil akan mengeluarkan nomor rekam medis baru, hal ini karena penomoran rekam medis di Simpus sudah otomatis. Dan jika disinkronkan, jumlah rekam medis di Simpus dan di folder keluarga akan berbeda. Sedangkan Simpus, Simpus terintegrasi dengan Disdukcapil dan ketika petugas memasukkan informasi berdasarkan NIK pasien, Simpus otomatis menampilkan nomor rekam medis baru.

Pemrogram mungkin tidak secara otomatis menghasilkan nomor rekam medis di hub, nomor rekam medis masih menggunakan yang ada di folder keluarga. Analisis Implementasi Penyimpanan dan Pengolahan Rekam Kesehatan Sesuai Standar Akreditasi Nasional di Puskesmas Ungaran Kabupaten Semarang.

Tabel 1 Kualifikasi Petugas Pendaftaran di  Puskesmas Kalimas
Tabel 1 Kualifikasi Petugas Pendaftaran di Puskesmas Kalimas

Pendahuluan

Saran dari penelitian ini adalah agar petugas dapat melengkapi keterangan penyebab kematian secara lengkap dan jelas. Pelayanan Rumah Sakit yang tidak mengeluarkan pernyataan penyebab kematian (cause of death) akan menghadapi kendala jika data kematian menjadi syarat klaim asuransi kesehatan, maka pencantuman data penyebab kematian (cause of death) adalah mutlak untuk keperluan penentuan penyebab kematian. satuan pembayaran klaim pasien, keluarga almarhum dan rinciannya. Data otentik cenderung mengurangi risiko manajemen (Hatta, 2011). Penelitian Menna (2016) yang bertujuan untuk mengetahui kelengkapan pengisian surat keterangan medis penyebab kematian di RS Antam Medika Jakarta untuk 72 surat keterangan penyebab kematian menghasilkan kelengkapan sebesar 87,43% dan ketidaklengkapan sebesar 12,57%.

Berdasarkan peninjauan awal yang dilakukan penyidik ​​terhadap 20 formulir akta penyebab kematian, diketahui bahwa tingkat kelengkapan penilaian identifikasi adalah 9 (45%) akta penyebab kematian lengkap dan 11 (55%) akta penyebab kematian tidak lengkap. . Pernyataan penyebab kematian yang tidak lengkap dapat berdampak pada kualitas informasi dan kualitas pelayanan rekam medis di suatu rumah sakit. Menjadi sumber informasi yang berguna bagi rumah sakit tentang pentingnya melengkapi surat keterangan medis penyebab kematian.

Sebagai masukan bagi pelaksana untuk melengkapi keterangan penyebab kematian dengan benar dan lengkap. Dapat dijadikan referensi ilmu pendidikan untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan tentang penyebab akta kematian bagi mahasiswa Program Studi D-III Perekaman dan Informasi Kesehatan.

Metode Jenis Penelitian

Hasil

Berdasarkan hasil tabel 3 diketahui jumlah alat pengisi untuk komponen bagian I (a) sebanyak 63 buah, komponen bagian I (b.c) sebanyak 52 buah, komponen bagian II sebanyak 27 buah, komponen untuk durasi sakit dan kematian adalah 31 , maka komponen tersebut meninggal. Berdasarkan tabel di atas diketahui jumlah kelengkapan berdasarkan penelaahan laporan penting sebesar 28,9% dan ketidaklengkapan sebesar 71,1%. Berdasarkan hasil observasi, hanya ditemukan satu formulir surat keterangan penyebab kematian yang tidak memuat tanda tangan dokter penanggung jawab pasien (DPJP).

Berdasarkan tabel 6 diketahui jumlah isian berdasarkan peninjauan terhadap catatan terbaca dan jelas sebesar 85,5% dan 14,5% tidak terbaca dan jelas.

Tabel 4. Perhitungan review laporan kelengkapan pengisian sertifikat kematian
Tabel 4. Perhitungan review laporan kelengkapan pengisian sertifikat kematian

Pembahasan

Namun apabila dalam hal ini hanya ditemukan satu penyakit yang menjadi penyebab kematian seseorang, maka bagian yang kosong dapat dikosongkan sesuai teori yang ada. Adam Malik Medan terdiri dari dua komponen yaitu nama dan tanda tangan dokter penanggung jawab pasien (DPJP). Berdasarkan hasil observasi, hanya ditemukan satu surat keterangan penyebab kematian yang tidak dilengkapi komponen tanda tangan dokter penanggung jawab pasien (DPJP).

Tinjauan survei berfokus pada penulisan di setiap komponen akta kematian, termasuk bagian identifikasi, laporan penting, dan verifikasi. Berdasarkan hasil yang diperoleh diketahui bahwa kelengkapan pengisian surat keterangan penyebab kematian RS H.Adam Malik Medan paling kecil pada bagian identifikasi dan laporan vital masih jauh dari standar kelengkapan. rekam medis yaitu 100%. Rendahnya persentase kelengkapan reviu laporan kunci dan reviu identifikasi disebabkan oleh petugas tidak mengisi setiap komponen apakah suatu tindakan akan dilakukan atau tidak.

Selain itu, banyaknya komponen yang harus diisi akan memberikan waktu lebih lama bagi petugas untuk menyelesaikan penyebab nyata akta kematian.

Simpulan dan Saran Simpulan

Sebaiknya petugas memperhatikan setiap bagian pernyataan penyebab kematian dan melengkapinya secara lengkap dan jelas sehingga dapat mempersempit atau mengurangi jumlah kesenjangan dalam pernyataan penyebab kematian.

Daftar Pustaka

Hak Cipta ©2019 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan e-ISSN Review keakuratan pengkodean gastroenteritis pada pasien rawat jalan BPJS. Peneliti mengambil sampel secara acak, dari 8 rekam medis pasien rawat inap BPJS dengan penyakit gastroenteritis, terdapat 6 rekam medis yang menunjukkan kesalahan pengkodean diagnosis dengan persentase 75% salah kode dan terdapat perbedaan penulisan diagnosis gastroenteritis pada saat masuk dan keluar. bentuk ringkasan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan keakuratan pengkodean gastroenteritis. Hasil penelitian menunjukkan persentase kesesuaian penulisan diagnosa di DOI: http://dx.doi.org/10.31983/jrmik.v2i2.5350 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan.

Hak Cipta ©2019 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan e-ISSN lembar formulir ringkasan masuk dan keluar dan ringkasan keluar 93,9%, persentase keakuratan pengkodean gastroenteritis 91,5% dan persentase kesesuaian penulisan diagnosis dengan hasil pemeriksaan laboratorium 89. Akurasi penyakit pengkodean dan Tindakan medis penting dalam rekam medis pasien Selain rekam medis yang lengkap dan berkualitas, diagnosis juga diperlukan dalam pelayanan medis lainnya. Hak Cipta ©2019 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan e-ISSN dilakukan oleh peneliti di UPTD RSUD Kota.

Peneliti mengambil sampel secara acak, dari 8 rekam medis pasien rawat inap BPJS dengan penyakit gastroenteritis, terdapat 6 rekam medis yang menunjukkan pengkodean diagnosis yang tidak akurat dengan persentase kesalahan kode sebesar 75%, misalnya gastroenteritis akut dengan kode ICD-10 (A09). ) saja, selain itu, diagnosis gastroenteritis tidak lengkap dan catatan diagnosis yang berbeda ditulis pada formulir masuk dan keluar serta pada formulir keluar. Penelitian dilakukan pada bulan Januari sampai Mei 2018 di UPTD Fasilitas Rekam Medis RSUD Kota Salatiga dengan sampel rekam medis pasien BPJS sebanyak 82 orang, pasien rawat inap kasus GE, dan wawancara terhadap 2 orang petugas rekam medis bagian coding.

Hasil dan Pembahasan

Salatiga, ditemukan hasil observasi sebagai berikut: Hasil pengkodean gastroenteritis pada rekam medis pasien rawat inap BPJS ditemukan tidak akurat/kurang spesifik karena tidak ada tanda keempat yang menjelaskan patologi gastroenteritis menular atau tidak menular dan ada kodenya. ketentuan yang tidak sesuai dengan hasil uji laboratorium. Berdasarkan uraian di atas maka peneliti tertarik untuk mengambil judul “Gambaran Keakuratan Coding Gastroenteritis pada Pasien BPJS Rawat Inap di UPTD RSUD Kota Salatiga”. Hasil analisis perbedaan formulir ringkasan masuk dan keluar dengan ringkasan keluar menunjukkan bahwa diagnosis yang paling tidak konsisten tercatat pada rekam medis pasien berusia ≥ 15 tahun yang diagnosisnya ditulis oleh dokter penyakit dalam. .

Ketidaksesuaian penulisan diagnosa terjadi karena pencatatan diagnosa yang tidak lengkap dan tidak konsisten antara masuk dan keluar, serta tidak konsistennya pencatatan singkatan diagnosis juga pada diagnosis gastroenteritis pasien. Hasil penelitian di UPTD RSUD Kota Salatiga diperoleh dari 82 sampel rekam medis pasien RSUD BPJS dengan penyakit gastroenteritis pada tahun 2017, terdapat 73 diagnosa pasien kasus gastroenteritis yang sesuai (sempurna) dengan hasil pemeriksaan laboratorium, 4 Diagnosis pasien gastroenteritis tidak terdiagnosis sebagai pasien kasus gastroenteritis, pemeriksaan laboratorium yang dilakukan menunjukkan hasil bakteri amoeba histolytica. 269 ​​Tahun 2008 tentang rekam medis mengatur bahwa indikator mutu rekam medis meliputi beberapa indikator, salah satunya adalah indikator kelengkapan pengisian rekam medis dalam penunjang medis dan diagnosa.

Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil gastroenteritis Pengkodean evaluasi dan peninjauan rekam medis pasien gastroenteritis. Berdasarkan Tabel 4.7 terlihat ketidaktepatan pemberian kode disebabkan adanya ketidaksesuaian penulisan diagnosis dengan hasil pemeriksaan laboratorium.

Tabel 4 Distribusi Usia Pasien dengan  Perbedaan Penulisan Diagnosis  Gastroenteritis pada Formulir Ringkasan
Tabel 4 Distribusi Usia Pasien dengan Perbedaan Penulisan Diagnosis Gastroenteritis pada Formulir Ringkasan

Simpulan dan Saran a. Simpulan

Hasil tersebut diperoleh, setelah dilakukan pengolahan data, persentase kesesuaian hasil pemeriksaan laboratorium dengan diagnosis kasus gastroenteritis adalah sebagai berikut. Misalnya menurut Pedoman Praktek Klinis Bagi Dokter, untuk pemeriksaan gastroenteritis, penunjang atau pemeriksaan laboratorium antara lain: Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 269 Tahun 2008 tentang Rekam Medis disebutkan bahwa indikator mutu rekam medis antara lain: beberapa indikator, salah satunya adalah indikator kelengkapan pengisian rekam medis untuk penunjang medis dan diagnosa. D.

Faktor kedua yang mempengaruhi hasil pengkodean penyakit yang dilakukan oleh para pengkode adalah tidak melihat hasil pemeriksaan penunjang untuk menentukan kode yang benar. Faktor ketiga yang mempengaruhi hasil pengkodean penyakit yang dilakukan oleh para pengkode adalah kurangnya pemutakhiran panduan pengkodean WHO. Dalam penyusunan makalah ilmiah ini, penulis banyak menerima saran, kritik, dorongan, bimbingan dan informasi dari berbagai pihak, sehingga penulis dapat menyusun makalah ini dengan baik dan bertanggung jawab.

Oleh karena itu, dengan segala hormat dan kerendahan hati, izinkan penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam penyusunan artikel ilmiah ini.

Daftar Pusataka

Tinjauan aspek keselamatan dan gaya hidup rekam medis di RS Setia Mitra Jakarta Selatan.

Dea Ayu Dindasari 2)

  • Metode Penelitian Ruang Lingkup Penelitian
  • Hasil Penelitian
  • Kesimpulan
  • Saran
  • Simpulan dan Saran a. Simpulan
  • Ucapan Terima Kasih
  • Hasil dan Pembahasan Hasil
  • Simpulan dan Saran Simpulan

Menjaga kerahasiaan rekam medis pasien memerlukan penyimpanan rekam medis yang memenuhi persyaratan untuk menjaga keamanan dan kerahasiaan. Memberikan tanya jawab langsung kepada responden mengenai aspek keamanan dan kerahasiaan rekam medis di fasilitas penyimpanan. Harus ada prosedur mengenai keamanan pada tempat penyimpanan rekam medis di SPO.

Kebijakan keamanan dan kerahasiaan fasilitas penyimpanan rekam medis di RS Setia Mitra telah dirumuskan namun belum dilaksanakan sepenuhnya. Kerahasiaan rekam medis yang ada di gudang tidak terjaga dengan baik karena tidak sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. Analisis akurasi kode diagnosis penyakit berbasis ICD-10 pada rekam medis rawat jalan di Puskesmas Tlogosari Kulon Kota Semarang.

Tabel  1.  Hasil  pengamatan  petugas  yang  tidak  memiliki  hak  akses  masuk  keruang penyimpanan rekam medis
Tabel 1. Hasil pengamatan petugas yang tidak memiliki hak akses masuk keruang penyimpanan rekam medis

Referensi

Dokumen terkait