• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karil Final Mutiara Tina Aprilina

N/A
N/A
Rezta VLOG

Academic year: 2024

Membagikan "Karil Final Mutiara Tina Aprilina"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Penegakan Hukum terkait Penyebaran Ujaran Kebencian di Media Sosial Instagram dalam Tinjauan Undang-Undang Informasi Elektronik

Mutiara Tina Aprilina1), Dian Ratu Ayu Uswatun Khasanah2)

1,2) Program Studi Ilmu Hukum, FHISIP, Universitas Terbuka E-mail: [email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini membahas tentang maraknya perkara ujaran kebencian melalui media sosial.

Dari situ menjadi latar belakang dalam mengambil studi kasus sebagai bahan penelitian.

Kemudian, melakukan implementasi berdasarkan undang-undang yang berlaku. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan hukum yuridis empiris, sehingga penulis mengamati realitas sosial yang terdapat pada akun media sosial Instagram @sscbatam. Hasilnya dapat ditempatkan sebagai proposisi umum berdasarkan data secara langsung di lapangan serta didukung dengan peran dari penegak hukum. Dari penelitian ini dihasilkan tingkat ujaran kebencian yang dilakukan oleh audiens pada sosial media khususnya akun Instagram @sscbatam. Akun Instagram tersebut memuat informasi berita seperti kriminal, pertumbuhan Kota Batam, dan media promosi digital tentang Kota Batam dan memiliki cakupan audiens di Kota Batam. Serta diketahui tingkat interaksi antar audiens di media sosial Instagram.

Kata Kunci : Hukum, Informasi, Kebencian, Media Sosial, Ujaran.

PENDAHULUAN

Perkembangan teknologi saat ini mengalami perkembangan yang sangat signifikan.

Teknologi dan internet saat ini tidak lagi dapat dipisahkan antara satu sama lain. Hal ini juga mempengaruhi kehidupan manusia setiap harinya sehingga manusia menciptakan teknologi agar dapat melakukan interaksi melalui internet sehingga muncul media sosial Instagram yang memiliki dampak positif dan negatif bagi kehidupan manusia. Fungsi media sosial Instagram di tujukan sebagai media untuk menunjukkan eksistensi dari penggunanya. Bersamaan dengan dampak positif, media sosial juga membawa dampak negatif berupa maraknya ujaran kebencian di media sosial. Hal ini sangatlah mengkhawatirkan karena pada media sosial seperti Instagram terdapat banyak cyber bullying dan ujaran kebencian pada media sosial.

Di era saat ini media sosial bisa dikatakan menjadi kebutuhan utama umat manusia.

Meskipun demikian, jumlah ujaran kebencian di media sosial terus meningkat dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan hilang atau diperbaiki. Salah satu alasannya adalah seiring dengan ramainya unggahan yang dibicarakan, semakin banyak pengguna media sosial yang ikut serta dan menyebarkan atau melakukan unggahan yang sama tanpa mengetahui maksud asli, pesan, atau sifat unggahan tersebut.

(2)

Seiring berjalannya waktu, penggunaan Internet semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Berdasarkan data lapangan yang dikumpulkan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tanggal 10 Januari hingga 27 Januari 2023, penelitian ini dilakukan pada tanggal 10 hingga 27 Januari 2023 yang mencakup 38 provinsi. Sebanyak 8.510 responden di Indonesia.

Bekerja sama dengan APJII, dilakukan penelitian di Indonesia yang menunjukkan peningkatan jumlah pengguna Internet di Indonesia sebesar 1,17 persen, studi Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa pada tahun 2023, penetrasi Internet di Indonesia sebesar 78. ,19 persen atau 215.626.156 orang. Dengan jumlah penduduk sebanyak 275.773.901 jiwa, angka ini semakin bertambah dari waktu ke waktu, bahkan semakin tinggi mengingat jumlah penduduk Indonesia juga semakin meningkat setiap tahunnya.

Banyak dijumpai platform media sosial yang menyediakan fitur berbagi informasi. Mulai dari foto, video, hingga cerita seperti salah satunya ialah Instagram. Instagram adalah media sosial yang diluncurkan pada tahun 2010 dan mengalami perkembangan pesat, hingga sekarang dan sudah banyak ditemui akun Instagram yang menyediakan konten seperti berita, informasi, dan hiburan yang banyak digemari oleh masyarakat. Salah satu contohnya adalah @sscbatam yang menyediakan informasi tentang kehidupan yang ada di Kota Batam. Akun @sscbatam memiliki jumlah pengikut sebanyak 52.000 dengan sebagian besar pengikut aktif di Kota Batam.

Berdasarkan data dari akun @ssbatam rentang usia audiens 25-34 tahun, 70.8% Pria, 29,1%

Wanita. Dalam beberapa postingan yang diunggah oleh @sscbatam dapat ditemui ujaran kebencian. Ujaran kebencian yang terjadi meliputi hujatan bagi pelaku kriminal dan rasisme. Bagi pengguna sosial media aktif yang kerap melakukan aktivitas melalui sosial media seperti yang tertuang pada Undang-undang Pasal 156 KUHP dengan bunyi “Barang siapa di muka umum menyatakan perasaan permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap suatu atau beberapa golongan rakyat Indonesia, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah”.

Penyebaran informasi dan pengetahuan kini cukup mudah berkat perkembangan teknologi dan fitur yang memudahkan pencarian, pengunduhan, dan akuisisi media sosial oleh pengguna yang masih mudah terpengaruh oleh berbagai portal media yang tidak bertanggung jawab. Laman unggahan dibagikan kepada para pengikutnya di platform Instagram. Sebagai negara hukum yang menjamin kebebasan berekspresi tierhadap warga negaranya sesuai dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Indonesia mengatur Pasal 28 E Ayat 3 yang mengamanatkan penjelasan lebih lanjut mmengenai ketentuan terkait ujaran kebencian, dan sudah diatur dalam pasal 28 2 poin No. 11 Tahun 2008. Hal ini menghilangkan pemberantasan

(3)

berekspreswi yang dapat melanggar hak asasi setiap orang yang mempunyai pendapat terhadap fenomena yang terjadi.

TINJAUAN PUSTAKA Ujaran Kebencian

Ujaran kebencian merupakan sebuah tindakan komunikatif yang dilakukan oleh satu individu atau kelompok yang melibatkan provokasi, penghasutan, atau perilaku diskriminatif kehidupan bermasyarakat. Menurut Marpaung (2010) Ujaran kebencian merupakan perkataan, perilaku, tulisan ataupun pertunjukan yang dilarang dikarenakan dalam perbuatannya dapat memicu terjadinya tindakan kekerasan. Selain itu menimbulkan sikap prasangka. Sikap tersebut datang dari pelaku maupun yang menjadi korban dalam tindakan. Sedangkan menurut Kusmanegara (2015: wordpress.com) konsep kesantunan berbahasa sebagai indikator kecerdasan linguistik Timur Laut, Selatan,dan Barat sangat bertentangan dengan ujaran kebencian.

Kata kejahatan mempunyai beberapa arti antara lain kejahatan, tindak pidana berat, pelanggaran ringan, perbuatan hukum, dan pelanggaran ringan. Dari sini dapat disimpulkan kejahatan merupakan suatu perbuatan yang dilakukan oleh seorang perseorangan, dan pelakunya dapat dibenarkan dan dihukum berdasarkan peraturan yang berlaku. Menurut Profesor Van Hamel, “semua persoalan dan aturan dasar yang diterima oleh negara untuk menegakkan ketertiban hukum dan menjatuhkan hukuman (kejahatan) terhadap mereka yang melanggar larangan tersebut”

Instagram

Instagram merupakan platform media sosial yang memanfaatkan kehadiran penggunanya untuk berkomunikasi antar penggunanya dengan berbagi unggahan berupa video, foto, dan story yang dapat dilihat oleh banyak pengguna lainnya. Instagram merupakan salah satu situs media sosial sangat populer di seluruh dunia. Didirikan pada tahun 2010, Instagram awalnya berfokus pada berbagi foto dan kemudian berkembang menjadi platform yang mencakup berbagai konten seperti gambar, video, dan fitur seperti Stories, IGTV, dan Reels. Menurut (Ervianah, 2021), Instagram merupakan media sosial yang banyak digandrungi orang. Bidang penerapannya berkisar dari anak- anak hingga orang tua, pelajar hingga wirausaha. Hingga saat ini, Instagram memiliki 700 juta pengguna dan sekitar 60 juta foto dibagikan setiap hari, dan 1,6 miliar suka.

Tindak Pidana

Tindak pidana merupakan hal yang sering kita melihat dan mendengar di kehidupan kita sehari-hari ketika bermasyarakat. Tindak pidana (strafbaar feit), secara literlijk, kata “straf”

(4)

artinya pidana, “baar” artinya dapat atau boleh dan “feit” adalah perbuatan. Tindakan kita sehari-hari dipengaruhi oleh banyak norma yang ditetapkan oleh hukum, norma hukum adalah norma yang mengatur kehidupan manusia, yaitu : yang pembentuk undang-undang dimasukkan dalam ketentuan undang-undang dan diterapkan oleh hakim dalam persengketaan (Schaffmeister, Keijzer dan Sutorius, 1995: 248-256). Terdapat 2 unsur tindak pidana diantaranya subjektif yaitu unsur yang secara langsung melekat pada diri si pelaku dan lakukan seperti ada maksud tertentu atau telah direncanakan terlebih dahulu sedangkan unsur objektif yang berhubungan dengan keadaan si pelaku dimana sebuah keadaan yang membuat keterlibatan pada diri seseorang.

Kejahatan adalah perbuatan seseorang yang melanggar hukum dan dikenakan hukuman.

Kejahatan timbul dari suatu bentuk hukum pidana yang pengertiannya merupakan bagian dari hukum umum negara. Siapapun yang melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku dapat dianggap pidana. Kejahatan dapat diartikan sebagai perilaku atau tindakan yang melanggar hukum atau norma dalam masyarakat. Ini mencakup berbagai kegiatan yang dianggap merugikan atau merugikan individu, kelompok, atau masyarakat pada umumnya. Sistem hukum biasanya memiliki aturan dan prosedur tertentu untuk menangani berbagai jenis kejahatan. Kejahatan yang berkaitan dengan pengguna teknologi informasi juga terjadi di media sosial, kejahatan di media sosial antara lain pencurian identitas, kejahatan siber, ujaran kebencian siber, penipuan siber, dan pelanggaran privasi.

Penyelesaian hukum dalam mengatasi kendala penegakan hukum mengenai ujaran kebencian di Media Sosial Instagram

Penyelesaian hukum untuk mengatasi hambatan ujaran kebencian di jejaring sosial, penegakan hukum harus sesuai dengan undang-undang yang berlaku saat iniberdasarkan Pasal 2 ayat 2 UU ITE 11 Tahun 2008. Proses kepolisian, aparat penegak hukum seperti kejaksaan, polisi. dan aparat penegak hukum harus mengedepankan keadilan, kemanfaatan, dan kepastian hukum untuk

menghindari ketimpangan dan hambatan hukum. Peran polisi dalam penegakan hukum diatur dalam Pasal 2 Undang-Undang Kepolisian Negara Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002. Berdasarkan penjelasan Pasal 2, tugas polisi adalah memperhatikan hak asasi manusia. hukum hak asasi manusia dan administrasi peradilan. Sebagaimana disetujui dalam Pasal 1 UU Nomor 5.2 Tahun 2002 yang menegaskan peran kepolisian.

Menegakkan ujaran kebencian di media sosial Instagram memerlukan upaya bersama antara pemerintah, otoritas hukum, dan penyedia platform. Peraturan dan undang-undang yang jelas harus diterapkan untuk memberikan landasan hukum yang kuat dan tegas terhadap pelanggaran tersebut.

(5)

Kerjasama yang erat antara pihak berwenang dan Instagram menjadi kunci, dengan peningkatan akses dan pertukaran informasi yang efektif. Mekanisme pelaporan yang mudah diakses perlu dikembangkan, sementara sanksi yang tegas dapat menjadi faktor penghambat.

METODE

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian hukum empiris, termasuk dalam penelitian non doktrinal. Metode penelitian hukum empiris merupakan suatu pendekatan yang mengkaji tentang penerapan ketentuan-ketentuan hukum pada suatu peristiwa yang berkaitan langsung dengan hukum dalam suatu lingkungan masyarakat. Dengan menggunakan metode penelitian hukum empiris, peneliti memperoleh pemahaman yang lebih konkrit dan kontekstual tentang bagaimana hukum bekerja dalam praktik sehari-hari dan bagaimana pengaruhnya terhadap masyarakat.

Metodologi dalam penelitian dimana objek hukum diperlakukan sebagai realitas bermakna yang ada dalam bidang subjektif. Kelompok teori yang tergabung dalam aliran aktivitas dan interaksi ini berpendapat bahwa realitas kehidupan tidak tampak berpola dan terstruktur secara objektif. Menurut (Herbert Blumer, 1969), orang bertindak atas sesuatu berdasarkan makna yang dimiliki sesuatu itu bagi mereka, sehingga makna-makna tersebut diperkuat selama interaksi sosial. Dalam penelitian ini penulis bertujuan untuk mengetahui respon yang jelas terhadap ujaran kebencian melalui media sosial @sscbatam yang dapat ditemukan pada media sosial Instagram.

Dalam pendekatannya, penelitian ini mempertimbangkan perilaku umum masyarakat sebagai pengguna media sosial yang melanggar Pasal 28(2) UU tersebut. Ujaran kebencian UU ITE 11/2008 ditemukan di media sosial Instagram. Pendekatan hukum, sosial dan teknis dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai permasalahan ini. Oleh karena itu, penelitian ini dapat memberikan dampak positif dalam memahami dinamika perilaku manusia di era digital dan tantangan menjaga keamanan dan toleransi dalam lingkungan online.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh penulis, dapat disimpulkan bahwa Undang- Undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau UU ITE diatur sebagai ancaman hukuman bagi pelaku kejahatan pada media internet dan menjamin masyarakat Indonesia dan mengatur kebebasan, keamanan, dan ketertiban umum terkhususnya media sosial dimana media sosial merupakan wadah yang digunakan oleh manusia untuk melakukan interaksi dengan sesama manusia. beberapa kasus ujaran kebencian yang terdapat pada akun media sosial @sscbatam yang

(6)

sesuai dengan Pasal 156 KUHP pada akun media sosial Instagram @sscbatan. Penyalahgunaan media sosial juga sudah ditetapkan dalam Undang-Undang ITE. Undang-Undang ITE adalah ketentuan yang berlaku bagi setiap orang yang telah melakukan perbuatan hukum pada wilayah hukum Indonesia maupun luar wilayah Indonesia yang mengakibatkan kerugian terhadap kepentingan Indonesia, kerugian tersebut terbagi atas penghinaan atau pencemaran nama baik, melanggar kesusilaan, menyebarkan berita bohong dan menyesatkan, serta ujaran kebencian kebencian atau permusuhan individu dan kelompok masyarakat tertentu berdasarkan suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) seperti yang terdapat pada UU ITE.

Data pelanggaran ujaran kebencian melalui media sosial terhitung dari tahun 2018 yang dikumpulkan dari berbagai sumber portal media online

Tahun Jumlah kasus dan Sumber Data

2018 1.731 Kasus (Sumber : Kompas.com)

2019 3.668(Sumber: AIS KOMINFO)

2020 443 Kasus (Sumber : news.detik.com)

2021 1.742 (Sumber AIS KOMINFO)

2022 1.539 (Sumber: AIS KOMINFO)

Tabel 1. Data jumlah Kasus dan Sumber data tentang ujaran Kebencian 2019-2022 Pada penelitian ini ditemukan beberapa unggahan komentar dari pengikut akun Instagram

@sscbatam pada unggahan tanggal 25 November 2023 tentang kecelakaan yang terjadi di Simpang Kara, banyak ditemukan komentar yang mencela perbuatan yang melanggar hukum lalu lintas yang berlaku. Unggahan pada tanggal 30 November 2023 tentang berita pipa saluran air di Kecamatan Baloi yang pecah diakibatkan tertimpa alat berat juga terdapat komentar yang berisikan ujaran kebencian yang dilakukan oleh pengguna instagram di Kota Batam. Tindakan ujaran kebencian yang terdapat pada kolom komentar @sscbatam tidak hanya dilakukan oleh pengikut akan tetapi juga dilakukan oleh pengguna instagram yang melihat unggahan tersebut.

Dalam artikel ini, penulis juga ingin mengingatkan para pengguna media sosial untuk berhati- hati dalam mengambil keputusan dalam menggunakan media sosial, karena UU ITE yang diatur oleh pemerintah dapat memberikan efek bumerang bagi kita, pengguna media sosial, sehingga kedepannya bisa menjadi bumerang. kita bisa lebih berhati-hati dalam menyikapi laporan untuk

(7)

menghindari hasutan pidana sebagaimana diatur dalam pasal 45A(2) UU ITE dan pasal 27(3) UU ITE. Menurut mantan pakar hukum Kementerian Komunikasi dan Informatika. , Situs Aptika Cominfo menemukan kedua pasal tersebut diubah dan dibuat dengan mempertimbangkan hak asasi manusia. “Kebebasan berekspresi tidak bersifat mutlak, oleh karena itu dapat diatur agar tidak menyinggung atau menyinggung orang lain.” Dalam pengertian pengadilan atau lembaga hak asasi manusia, konsep tersebut merupakan “ambang batas” yang berarti bahwa negara dapat dimintai pertanggungjawaban secara nasional atas kewajiban hak asasi manusianya. Namun, hak ini seringkali dibatasi untuk menjamin kebebasan berekspresi.

Peran Penyedia Media Sosial dalam Melawan Ujaran Kebencian Melalui Media Sosial Penyedia media sosial Instagram selaku pemilik dan pengembang aplikasi dan media sosial juga turut memiliki andil dalam mencegah terjadinya penyebaran ujaran kebencian yang dilakukan oleh pengguna media sosial Instagram dimana pada media sosial Instagram terdapat syarat dan ketentuan dari penggunaan media sosial Instagram dimana terdapat ketentuan dan larangan bagi penggunanya untuk menyebarluaskan unggahan yang mengandung ujaran kebencian, perundungan, dan juga berita palsu yang dapat mengakibatkan tindakan berupa penghilangan akun Instagram pengunggah ujaran kebencian dan hal-hal yang dilarang oleh hukum negara pengguna media sosial Instagram agar penggunanya dapat menyaksikan unggahan yang memiliki nilai edukasi dan sesuai dengan norma yang berlaku.

Instagram sebagai penyedia platform media sosial juga berperan aktif dalam melawan ujaran kebencian. Instagram sudah mengatur dalam kebijakan pribadi penggunanya, dengan menggunakan filter komentar dan pembatasan terhadap unggahan yang terdapat tindakan ujaran kebencian. Instagram, sebagai salah satu platform media sosial terkemuka, telah menggunakan teknologi Augmented Intelligence (AI) sehingga dapat langsung membaca indikasi dan membatasi unggahan yang mengandung ujaran kebencian. Penerapan teknologi AI ini di Instagram bertujuan untuk meningkatkan pengalaman pengguna, meningkatkan keamanan, dan memberikan layanan yang lebih personal dan relevan. Penting untuk memperhatikan tantangan terkait privasi dan etika yang dapat muncul seiring dengan penggunaan teknologi ini.

Penyedia media sosial memiliki peran yang signifikan dalam melawan ujaran kebencian melalui platform mereka Peran penyedia media sosial dalam melawan ujaran kebencian melibatkan serangkaian fungsi strategis yang mendukung menciptakan lingkungan daring yang lebih aman dan positif. Pertama-tama, dalam mendefinisikan batas etika dan norma di platform Instagram, penyedia media sosial memegang peran kunci dalam merumuskan kebijakan dan

(8)

pedoman yang jelas terkait ujaran kebencian dan perilaku tidak pantas. Dengan kebijakan ini, pengguna diberikan panduan yang eksplisit mengenai jenis konten yang dilarang, menciptakan kerangka kerja yang jelas untuk berinteraksi di platform tersebut.

Tanggung jawab penyedia media sosial melibatkan pengawasan dan moderasi konten.

Melalui penerapan algoritma otomatis dan keterlibatan tim moderator manusia, penyedia media sosial dapat secara proaktif mengidentifikasi dan menghapus konten yang melanggar kebijakan, menjaga kebersihan dan keamanan platform. Pendidikan pengguna menjadi kunci penting dalam membentuk perilaku positif, dan penyedia media sosial berperan dalam menyediakan informasi dan sumber daya pendidikan. Kampanye seperti tutorial, infografis, dan video membantu meningkatkan kesadaran pengguna mengenai dampak negatif ujaran kebencian, memperkuat pemahaman etika bermedia sosial.

Pelaporan dan respons cepat memainkan peran sentral dalam menanggapi pelanggaran kebijakan. Mekanisme pelaporan yang mudah diakses memberikan kemampuan kepada pengguna untuk melaporkan konten yang dianggap melanggar, sementara respons cepat dari penyedia media sosial membantu mengurangi penyebaran ujaran kebencian. Sementara itu, pengembangan algoritma pendeteksi yang canggih menjadi langkah proaktif dalam mengidentifikasi dan menanggapi konten berbahaya secara otomatis.

Kerja sama dengan pihak eksternal, termasuk organisasi non-pemerintah, kelompok advokasi, dan pihak berwenang, memperkuat upaya penyedia media sosial dalam mengatasi ujaran kebencian. Sinergi dengan pihak-pihak ini membantu dalam identifikasi, penanganan, dan pencegahan konten yang melanggar hukum. Transparansi dan pertanggungjawaban di dalam kebijakan dan tindakan moderasi adalah kunci untuk membangun kepercayaan pengguna.

Penyedia media sosial perlu terbuka dan siap mempertanggungjawabkan keputusan moderasi mereka serta memberikan penjelasan ketika diperlukan.

Penyedia media sosial dapat memainkan peran penting dalam memberdayakan pengguna untuk berkontribusi aktif dalam melawan ujaran kebencian. Melalui seminar kesadaran, edukasi, dan kolaborasi aktif dengan pengguna, penyedia media sosial menciptakan lingkungan yang berfokus pada nilai-nilai positif dan saling mendukung. Dengan mengintegrasikan semua peran ini secara holistik, penyedia media sosial dapat menjadi agen perubahan dalam membangun komunitas daring yang inklusif dan beretika.

(9)

Melalui kombinasi dari peran-peran ini, penyedia media sosial dapat membantu menciptakan lingkungan online yang lebih aman, positif, dan mendukung bagi pengguna mereka. Penyedia media sosial memiliki peran kunci dalam menciptakan lingkungan yang aman dan positif bagi pengguna. Penerapan kebijakan yang jelas, algoritma pendeteksi ujaran kebencian, dan respons cepat terhadap pelaporan menjadi faktor-faktor kunci yang dapat mengurangi prevalensi ujaran kebencian di Instagram.

Pengaturan mengenai ujaran kebencian menurut pasal 28 ayat (2) UU ITE No 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik

Menurut ketentuan UU ITE Nomor 28. 11 Tahun 2008 mengatakan bahwa barangsiapa dengan sengaja menerapkan atau menyebarkan informasi yang dapat menimbulkan kebencian atau permusuhan dapat menjadi korban tindak pidana. ITE Pasal 28 ayat 2 UU No. Pasal 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Peristiwa Elektronik merupakan salah satu pasal yang mengatur ujaran kebencian dalam kaitannya dengan penyampaian informasi melalui media elektronik. Penafsiran dan penerapan Pasal 28(2) UU ITE telah menjadi bahan perdebatan dan konflik di Indonesia, dan beberapa kelompok telah menyatakan keprihatinannya mengenai kemungkinan penyalahgunaan undang-undang kebebasan berekspresi ini. Perkembangan peraturan dan penafsiran hukum terkait harus dipertimbangkan dalam konteks yang lebih luas.

Terkait ujaran kebencian di media sosial, khususnya Instagram, pasal ini memuat larangan menyebarkan informasi yang mengandung konten menyinggung atau memfitnah. Ujaran kebencian dapat mencakup bahasa yang merendahkan, menghasut kebencian, atau merugikan individu atau kelompok berdasarkan faktor seperti Suku, Agama, Ras, atau Antargolongan (SARA). Tujuan pasal ini adalah untuk melindungi individu atau kelompok dari tindakan yang dapat merugikan reputasi atau kesejahteraan mereka. Sanksi pelanggaran Pasal 28 ayat (2) UU ITE dapat berupa tuntutan seperti denda dan/atau penjara.

Menurut Fransiskus Sebastian Situmorangi (2017), pengaturan tentang perasaan marah masih menimbulkan banyak penafsiran, hal ini tercermin dari kasus-kasus penyebaran kemarahan yang secara realita terjadi di masyarakat masih sulit untuk diatasi. Misalnya saja kasus I Gede Ari Astina atau Jerinx yang digugat pencemaran nama baik Ikatan Dokter Indonesia karena kekhawatirannya terhadap keharusan tes cepat Covid-19 bagi pasien yang ingin mendapat layanan kesehatan di rumah sakit. Perlu diketahui bahwa implementasi dan penegakan UU ITE di dunia maya seringkali melibatkan kerja sama antara penyedia media sosial, otoritas, dan masyarakat.

(10)

Pihak berwenang dapat menerapkan sanksi atau tindakan hukum setelah proses investigasi menyeluruh.

Penegakan hukum bergantung pada lembaga seperti polisi dan lembaga penegak hukum lainnya. Selain Pasal 28(2), UU ITE memuat beberapa ketentuan penting lainnya, termasuk larangan menyebarkan informasi yang mengancam ketakutan, kekhawatiran, atau keamanan. Oleh karena itu, dalam menyikapi ujaran kebencian di Instagram, penyidikan dan penegakan hukum bisa saja melibatkan beberapa aspek UU ITE dan peraturan perundang-undangan terkait lainnya.

Peran pengguna media Sosial dalam penegakan hukum mengenai ujaran kebencian menurut Undang-undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-undang No.

1 1 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik di Media Sosial Instagram Peran pengguna media sosial sebagai masyarakat yang turut serta dalam penegakan hukum di Indonesia telah diatur pada Undang-undang No. 19 Tahun 2016 yang berbunyi “setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam transaksi elektronik” dapat disimpulkan disini konsumen yang dimaksud adalah pengguna media sosial perlu memperhatikan etika dalam media sosial agar tidak menimbulkan atau menyebarkan informasi mengenai ujaran kebencian terhadap individu maupun antar golongan seperti yang terjadi pada kolom komentar yang terdapat pada unggahan akun Instagram @sscbatam pada tanggal 25 November 2023 yang mengunggah informasi tentang kecelakaan lalu lintas akibat pelaku balapan liar di simpang kara Batam.

Lembaga Penelitian Indonesia (LSI) menemukan pada Februari-Maret 2022, 31% responden melaporkan bahwa kepolisian Indonesia saat ini buruk. Alhasil, tak jarang masyarakat memviralkan pemberitaannya untuk memantau pemberitaannya, seperti ungkapan “No Viral No Justice” (Waspada.id, 2022). Namun, viralitas media sosial tidak selalu mencerminkan kebenaran atau keadilan dalam suatu hal. Oleh karena itu, penting untuk mengedepankan prinsip keadilan, kebenaran, dan proses hukum yang transparan dalam menangani setiap perkara.

Terdapat kendala dalam proses implementasi undang-undang ujaran kebencian, antara lain kendala terkait ujaran kebencian yaitu kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai penggunaan layanan online, karena saat ini informasi yang diterima melalui media sosial cukup sering dan sebagian besar tersebar. dikelola oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab sehingga banyak pemberitaan yang menimbulkan posisi rentan bagi individu dan kelompok, sehingga tingkat

(11)

pengetahuan masyarakat juga ikut terpengaruh. Proses penegakan hukum membuat alat bukti yaitu pesan-pesan ujaran kebencian yang disebarluaskan dengan mudah dihilangkan.

Simpulan

Dari hasil dan pembahasan yang telah penulis uraikan tersebut, maka dapat diambil kesimpulan bahwa penegak hukum sangat berperan penting terkait penyebaran ujaran kebencian di media sosial Instagram yang dirangkum dalam beberapa poin yaitu:

Ujaran kebencian merupakan sebuah tindakan dalam komunikasi yang dilakukan oleh satu individu atau kelompok yang berisikan provokasi, hasutan, maupun tindakan diskriminatif yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat. Ujaran kebencian memiliki beberapa bentuk yaitu penghinaan, pencemaran nama baik, penistaan, penghasutan, memprovokasi, perbuatan tidak menyenangkan, dan menyebarkan berita bohong (hoax). Ujaran kebencian ialah suatu bentuk tindak pidana yang telah diatur dalam Undang-undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Hukum pidana yang dapat dijatuhkan kepada pelaku ujaran kebencian diatur pada Pasal 156 KUHP, Pasal 27 ayat 3 UU ITE, Pasal 28, Pasal 45, Pasal 45A, Pasal 45B Undang-undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Solusi hukum untuk mengatasi kendala penegakan hukum terhadap ujaran kebencian pada kehidupan sehari-hari di masyarakat. Penegak hukum di Indonesia dapat melakukan beberapa strategi seperti memberikan edukasi kepada masyarakat melalui iklan di media sosial, billboard, poster dengan memuat tulisan yang menguraikan sanksi atau hukuman yang akan diterima bagi pelaku tindak pidana ujaran kebencian yang sesuai dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Dengan menggabungkan pendekatan edukasi, penguatan hukum, dan kerjasama lintas sektor, diharapkan penegakan hukum terhadap ujaran kebencian dapat menjadi lebih efektif dan dapat mengurangi dampak negatifnya dalam masyarakat.

Sebagai pengguna sosial media Instagram kita dapat mengatasi ujaran kebencian dengan memblokir atau mereport akun yang memprovokasi, menghasut, menghina seseorang atau kelompok, seperti dengan hal yang dilakukan oleh pengelola akun @sscbatam dalam menanggapi ujaran kebencian yang terdapat pada akun @sscbatam yaitu membalas komentar yang mengandung ujaran kebencian dengan data dan fakta yang valid dan juga memblokir akun yang melakukan tindak ujaran kebencian tersebut.

(12)

Melalui tiga aspek yang telah dibahas, penelitian ini memberikan pemahaman mendalam tentang kompleksitas isu ujaran kebencian di media sosial Instagram. Implikasi hukum, peran penyedia media sosial, dan partisipasi pengguna menjadi elemen-elemen kunci yang saling terkait dalam upaya pencegahan dan penanganan ujaran kebencian di era digital. Temuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam mengembangkan strategi holistik untuk menciptakan lingkungan daring yang lebih aman dan positif.

Saran

Saran yang dapat penulis sampaikan terkait perkembangan dalam mengatur kemerdekaan berekspresi, khususnya terkait ujaran kebencian online di Indonesia, adalah sebagai berikut:

1. Penyempurnaan Perundang-undangan dengan melakukan evaluasi berkala terhadap peraturan yang ada untuk menyesuaikan dengan perkembangan teknologi sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dengan menyediakan peraturan yang lebih tegas dan spesifik terkait ujaran kebencian.

2. Kolaborasi dengan platform online untuk meningkatkan efektifitas dan mendorong platform untuk lebih proaktif dalam menanggapi dan mengatasi konten berbahaya

3. Penguatan penegakan hukum dengan memberikan pelatihan khusus kepada aparat penegak hukum dan meningkatkan koordinasi antarlembaga penegak hukum untuk penanganan kasus yang lebih terpadu agar dapat mengidentifikasi dan menangani kasus ujaran kebenian dengan lebih efisien.

4. Memberikan pendidikan dan membangun kesadaran masyarakat melalui pelatihan atau seminar edukasi, pengembangan literasi media, dan fokus pada Pendidikan digital untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap dampak ujaran kebenian online.

5. Perlindungan privasi dan kebebesan berpendapat dengan mengembangkan kebijakan yang seimbang antara melindungi indiidu dari ujaran kebencian dan menjaga kebebasan berpendapat.

(13)

Daftar Pustaka

Andrisman, T. 2. (2009). Hukum Pidana Asas-Asas dan Aturan Umum Hukum Pidana Indonesia.

Lampung: Universitas Lampung.

Elsam. (2013). Buku Saku Kebebasan Berekspresi di Internet. Jakarta: Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat.

Ervianah, E. Strategi Marketing Melalui Media Sosial Instagram (Analisis Digital Social Media Marketing). Jurnal Ekonomi dan Bisnis Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, 2021 https://www.google.com/url?

sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=&cad=rja&uact=8&ved=2 ahUKEwjZo_X6u- 2CAxXHUGwGHb3TAPYQFnoECAkQAQ&url=http%3A%2F%2Frepository. untag- sby.ac.id%2F7385%2F&usg=AOvVaw183Ri7x4am7rbPj1Vt-az0&opi=89978449

Fransiskus Sebastian Situmorang, Tinjauan Yuridis Terhadap Ketentuan Pasal 28 ayat 2 Undang- Undang Informasi dan Transaksi Elektronik Studi Kasus Buni Yani, Jurnal Hukum Universitas Udayana, 2017

https://ojs.unud.ac.id/index.php/kerthawicara/article/view/35324

Febriayani, M. (2018). Analisis Faktor Penyebab Pelaku Melakukan Ujaran Kebencian (Hate Speech) dalam Media Sosial. Jurnal Hukum Universitas Lampun

https://ejournal.unib.ac.id/korpus/article/view/6779/3378

Hartiwiningsih, L. K. (2019). Buku Materi Pokok Metode Penelitian Hukum. Tanggerang Selatan: Universitas Terbuka.

Hiariej, E. O. (2014). Buku Materi Pokok HKUM4203 Hukum Pidana. Tanggerang Selatan: Universitas Terbuka.

Lamintang, P. (1997). Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia. Bandung : Citra Aditya Bakti.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan tindak pidana ujaran kebencian (hate speech) di media sosial dalam prespektif hukum pidana dan menganalisa

PENGARUH LITERASI MEDIA PENGGEMAR IDOL K-POP DI INDONESIA DALAM MERESPON UJARAN KEBENCIAN (HATE SPEECH ) DI MEDIA SOSIAL merupakan hasil karya saya sendiri bukan plagiat

di media sosial, portal online serta penerbitan-penerbitan berbasis Islam yang memang bertujuan mempropagandakan ideologi kekerasan, ujaran kebencian, pendirian Negara Islam

mendengarnya dan tidak yakin bahwa produk itu berguna untuknya, maka konsumen tidak akan pernah membelinya (Tjipto, 2001). Peran media sosial instagram turut

Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa penerapan hukum pidana dalam tindak pidana ujaran kebencian di media sosial menggunakan peraturan perundang-undangan yang

Mengingat tingginya perilaku menggunakan media sosial masyarakat Indonesia, maka dikhawatirkan bahwa akan banyak masyarakat yang terpapar oleh ujaran kebencian konspirasi COVID-19,

Menyikapi permasalahan diatas, maka yang menjadi rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana ujaran kebencian hate speech di media sosial dalam konteks hukum dan perubahan sosial

UPAYA KEPOLISIAN REPUBLIK INDONESIA DALAM PENANGGULANGAN TINDAK PIDANA UJARAN KEBENCIAN HATE SPEECH MELALUI MEDIA SOSIAL DI SUMATERA UTARA Studi Penelitian Kepolisian Daerah