PENDAHULUAN
Latar Belakang
Menurut Global Cancer Observatory (Globocan), sekitar 1,8 juta orang di seluruh dunia meninggal karena kanker paru-paru pada tahun 2018. Kematian akibat kanker paru juga berhubungan dengan polusi udara, namun dampaknya kecil dibandingkan dengan merokok (Stopler 2010). Kematian akibat kanker paru-paru dua kali lebih tinggi di perkotaan dibandingkan di pedesaan.
Risiko kanker paru-paru di kalangan pekerja yang menangani asbes sepuluh kali lebih besar dibandingkan populasi umum. Penyakit paru-paru seperti tuberkulosis dan penyakit paru obstruktif kronik juga dapat menjadi risiko terjadinya kanker paru. Seseorang dengan penyakit paru obstruktif kronik empat sampai enam kali lebih mungkin terkena kanker paru-paru.
Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, pengobatan kanker paru pada tahun 2017 dibagi berdasarkan klasifikasi.
Tujuan Penelitian
Peran perawat selama kemoterapi adalah memantau tanda-tanda vital, memasang infus, memberikan obat pra perawatan, memberikan obat kemoterapi, memantau tanda ekstravasasi, memberikan obat pasca perawatan, dan memantau kondisi pasien. Sedangkan peran perawat pada masa pasca kemoterapi adalah memantau kondisi umum pasien, mengamati tanda-tanda vital, memantau efek samping kemoterapi dan memberikan penguatan psikologis (Usolin et al., 2018). Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk melakukan asuhan keperawatan pada pasien Ca paru.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien Ca paru di rumah sakit.
Manfaat
TINJAUAN PUSTAKA
Konsep Dasar Medis Ca Paru
- Definisi
- Anatomi Fisiologi Paru
- Etiologi dan Faktor Predisposisi
- Patofisiologi
- Manisfestasi Klinis
- Diagnosis
- Pemeriksaan Penunjang
- Penatalaksanaan
- Konsep Kemoterapi
Kematian akibat kanker paru-paru juga berhubungan dengan polusi udara, namun dampaknya kecil dibandingkan dengan merokok. Beberapa karsinogen seperti asbes, uranium, radon, arsenik, kromium, nikel, hidrokarbon polisiklik dan vinil klorida dapat menyebabkan kanker paru-paru. Sindrom Pancoast adalah kumpulan gejala kanker paru yang tumbuh di sulkus superior menyebabkan invasi ke pleksus brakialis sehingga menimbulkan nyeri pada lengan, sindrom Horner (ptosis, miosis, hemifacial anhidrosis).
Ini adalah metode penelitian kanker paru-paru dengan nilai diagnostik tinggi dan sedikit komplikasi. Pada kanker paru, karsinoma bukan sel kecil (KPKBSK) terdiri dari beberapa jenis, antara lain karsinoma sel skuamosa (KSS), adenokarsinoma, karsinoma bukan sel kecil (KBSK). Pengobatan tergantung pada stadium penyakit, penampilan umum pasien, penyakit penyerta, tujuan pengobatan, dan efektivitas biaya. Radioterapi dalam pengobatan kanker paru bukan sel kecil (KPKBSK) dapat berperan pada seluruh tahapan KPKBSK sebagai terapi kuratif definitif, kuratif neoadjuvan, atau terapi adjuvan atau paliatif.
Penatalaksanaan karsinoma paru sel kecil (SCLC) berbeda dengan SCLC, dan pasien SCLC ditangani berdasarkan stadium, antara lain.
Konsep Masalah Keperawatan Ca Paru
- Pengertian
- Kriteria mayor dan minor
- Pathway
Konsep Asuhan Keperawatan Ca Paru
- Pengkajian Keperawatan
- Diagnosa Keperawatan
- Intervensi Keperawatan
- Implementasi
- Evaluasi
Tingkat pendidikan akan mempengaruhi risiko terjadinya Ca paru, orang dengan pendidikan tinggi mungkin akan lebih berhati-hati dalam menghadapi asap berbahaya. tingginya polusi udara di perkotaan. Beberapa pekerjaan yang meningkatkan risiko Ca paru-paru adalah pekerja asbes, penata rambut, pabrik industri dan lain-lain. Dari pihak pasien biasanya jika pasien tidak mempunyai keluarga, dari keluarga biasanya jika pasien tidak mau bekerja sama, dan dari pihak pasien dan keluarga jika sama-sama mau bekerja sama dalam memberikan informasi.
Seseorang dengan penyakit paru obstruktif kronik empat sampai enam kali lebih mungkin terkena kanker paru b) Alergi: Kaji alergi klien terhadap makanan, obat-obatan, gipsum, dll. dan lain-lain. Kebiasaan yang erat kaitannya dengan Ca paru adalah merokok, menghirup asap rokok, karsinogen dan polusi udara. Pemeriksaan : mukosa bibir lembab, mulut bersih, lidah merah, gigi bersih, tidak ada karies gigi.
Inspeksi : ekstremitas biasanya sulit digerakkan karena takut sesak napas Palpasi : ekstremitas dingin, tidak edema, turgor kulit baik. Pasien tampak lemas terbaring di tempat tidur, terpasang ventilator, kesadaran komamentis (sadar penuh). Intervensi keperawatan adalah segala bentuk terapi yang dilakukan oleh perawat yang didasarkan pada pengetahuan dan penilaian klinis untuk mencapai peningkatan, pencegahan dan pemulihan kesehatan individu pasien, keluarga dan masyarakat (PPNI, 2018a)(PPNI, 2018b).
Evaluasi dilakukan berdasarkan kriteria perencanaan yang telah ditetapkan, dengan membandingkan hasil tindakan keperawatan dengan tujuan yang telah ditetapkan dan mengevaluasi efektivitas proses keperawatan mulai dari tahap pengkajian, perencanaan dan pelaksanaan (Mubarak, et al., 2011 ). ). Tugas evaluator adalah melakukan evaluasi, menafsirkan data sesuai kriteria evaluasi, dan menggunakan temuan evaluasi. Masalah terselesaikan jika terjadi perubahan perilaku dan perkembangan kesehatan pasien sesuai dengan kriteria pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
Permasalahan terselesaikan sebagian apabila pasien menunjukkan perubahan dan perkembangan kesehatan yang hanya sebagian dari kriteria pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Masalah tidak akan selesai, jika pasien menunjukkan adanya perubahan perilaku dan perkembangan kesehatan atau bahkan muncul masalah baru.
METODE PENELITIAN
- Pendekatan / Desain penelitian
- Subyek penelitian
- Batasan istilah (definisi operasional)
- Lokasi dan Waktu Penelitian
- Prosedur penelitian
- Metode dan instrumen pengumpulan Data
- Keabsahan data
- Analisis data
Apabila dilakukan pemeriksaan riwayat kesehatan keluhan utama klien 1 dan klien 2 ditemukan adanya kesamaan yaitu nyeri. Data psikososial pada klien 1 klien tampak murung/pendiam, kooperatif dan tidak mengalami gangguan konsep diri. Berdasarkan tabel 4.8, setelah merencanakan tindakan asuhan keperawatan sesuai dengan masing-masing diagnosa yang terdapat pada klien 1 dan klien 2, selanjutnya dilakukan tindakan keperawatan pada klien 1 dan klien 2. d. Tabel 4.9 Implementasi Keperawatan pada Klien 1 dengan Ca Paru.
Pada tabel 4.12 setelah dilakukan tindakan keperawatan pada klien 2 dilakukan evaluasi tindakan keperawatan selama 24 jam. Pada pembahasan kali ini penulis membahas tentang asuhan keperawatan pada 2 klien penyebab paru di ruang kemoterapi sesuai dengan konsep teori yang ada. Berikut ini akan diuraikan pelaksanaan asuhan keperawatan pada klien Long Ca di RSUD Dr.
Penelitian peneliti terhadap klien 1 dan 2 difokuskan pada klien keperawatan dengan paru-paru berlubang di ruang kemoterapi. Pada data pemeriksaan kenyamanan nyeri pada klien 1 dan klien 2 terdapat kesamaan yaitu nyeri. Berdasarkan hal tersebut peneliti mengidentifikasi masalah keperawatan berdasarkan penelitian yang diperoleh pada kasus asuhan keperawatan bangsal penyakit paru.
Rencana tindakan keperawatan klien 1 dan klien 2 disusun setelah semua data yang dikumpulkan dianalisis dan diprioritaskan. Menurut penulis, pelaksanaan intervensi nyeri akut yang disiapkan pada Klien 1 dan Klien 2 belum sesuai dengan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) yang meliputi observasi, terapi, edukasi dan kolaborasi. Pada saat penerapan dan penulisan kriteria, hasil pada Klien 1 tidak sesuai dengan SLKI (Standar Hasil Keperawatan Indonesia).
Berdasarkan hasil penelitian penerapan asuhan keperawatan pada klien 1 dan klien 2 dengan penyebab paru di ruang kemoterapi RSUD dr. Evaluasi dilakukan peneliti pada klien 1 dan klien 2 selama 3 hari perawatan oleh peneliti dan dibuat dalam bentuk SOAP.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Data hasil kajian data penyakit keluarga, baik klien 1 maupun klien 2 menyatakan tidak ada riwayat penyakit Ca paru dalam keluarga. Hidung Posisi septum hidung di tengah, lubang hidung bersih, indera penciuman tajam dan tidak ada kelainan pada hidung. Berdasarkan tabel 4.2 diperoleh data pemeriksaan kenyamanan dan nyeri klien 1 dan klien 2 sama yaitu nyeri datang dan pergi.
Begitu pula hidung klien 1 dan 2 mempunyai posisi septum hidung yang sentral, indera penciuman tajam, dan tidak ada kelainan hidung. Pada pelanggan 1 daun telinga masih utuh dan tidak ada kerusakan, pada pelanggan 2 daun telinga sedang, liang telinga bebas kerusakan. Pada klien 1 ritme pernapasan benar, pernapasan lubang hidung tidak ada, otot bantu pernapasan tidak ada, klien tidak menggunakan alat bantu pernapasan.
Penilaian keamanan lingkungan pada klien 1 dengan menggunakan skala Morse memperoleh total skor sebesar 35 (rata-rata), sedangkan pada klien 2 penilaian keamanan lingkungan dengan menggunakan skala Morse memperoleh total skor sebesar 30 (rata-rata). Berdasarkan Tabel 4.4 diperoleh data penatalaksanaan terapi obat pada klien 1 yaitu tablet ondancentrone, neurodex, dan lodia. Penerapan tindakan keperawatan pada klien 1 dilakukan selama 3 hari perawatan yaitu pada tanggal 16 September 2019 sampai dengan tanggal 18 September 2019.
Pelaksanaan tindakan keperawatan pada klien 2 dilakukan selama 3 hari perawatan yaitu pada tanggal 31 Oktober 2019 sampai dengan tanggal 2 November 2019. Pada tabel 4.11 setelah pelaksanaan tindakan keperawatan pada klien 1 dilakukan evaluasi tindakan keperawatan selama 24 jam. dibuat. Pada klien 1, ketika setiap diagnosa keperawatan dievaluasi, nyeri akut teratasi pada 17 September 2019 defisit.
Pembahasan
Pada klien 1 diagnosis nyeri akut berhubungan dengan agen penyebab cedera fisiologis, menurut penulis tanda-tanda utama yang diperoleh memenuhi validasi diagnosis dalam Standar Keperawatan Indonesia (SDKI) yaitu kurang lebih 80 sampai 100 persen. Para peneliti tidak memasukkan perubahan pola pernapasan klien, yang merupakan kriteria objektif minor pada nyeri akut. Pada klien 1 diagnosis defisiensi gizi berhubungan dengan kurangnya asupan makanan, menurut penulis tanda-tanda utama yang didapat tidak memenuhi penegasan diagnosis pada SDKI (Standar Keperawatan Indonesia) yaitu sekitar 80 sampai 100 persen . .
Pada klien 2 diagnosis pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penyakit kronis, menurut peneliti tanda terpenting yang didapat tidak memenuhi validasi penegakan diagnosis dalam Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI) yaitu sekitar 80 persen sampai 100 persen. Pada klien 1 diagnosis diare berkaitan dengan program pengobatan, menurut penulis tanda terpenting yang diperoleh memenuhi validasi penegakan diagnosis dalam SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia) yaitu sekitar 80 persen hingga 100 persen. Selama pengkajian menurut peneliti pada klien 2 diperoleh data subjektif, klien mengatakan sulit tidur dan data objektif tidak tersedia.
Pada klien 2 diagnosis gangguan pola tidur berhubungan dengan kurangnya kontrol tidur, menurut penulis tanda utama yang didapat tidak sesuai dengan penegasan diagnosis. Sedangkan pada klien 2, peneliti menyatakan tujuan melakukan tindakan keperawatan dalam kurun waktu tertentu, dengan harapan nyeri akut dapat teratasi dengan hasil pengukuran: melaporkan nyeri berkurang, kemampuan duduk normal, dan skala nyeri antara 1-2. . Pada kasus klien 1 menurut penulis hasilnya setelah dilakukan tindakan keperawatan 1 x 8 jam nyeri akutnya berkurang sesuai kriteria peneliti.
Menurut penulis kekurangan dalam pelaksanaan intervensi diare yang telah disiapkan pada klien 1 belum sesuai dengan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) yang meliputi observasi, terapi, edukasi dan kerjasama. 3) Pola tidur terganggu. Diagnosa ketiga ini merupakan diagnosis kedua klien 2 yaitu gangguan pola tidur berhubungan dengan kurangnya kontrol tidur. Menurut peneliti kelemahan pelaksanaan intervensi tindakan diagnosis gangguan pola tidur yang telah disiapkan pada klien 2 ini belum sesuai dengan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) yang meliputi observasi, terapi, edukasi dan kerjasama.
Diagnosa keempat ini merupakan diagnosis ketiga pada klien 2 yaitu pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penyakit kronis. Pada klien 2 peneliti menyatakan tujuannya setelah melakukan tindakan keperawatan dalam waktu yang telah ditentukan diharapkan pola nafas tidak efektif dapat teratasi dengan kriteria hasil : sesak nafas berkurang, tidak ada suara nafas tambahan, tidak ada penggunaan alat bantu. otot pernafasan dan TTV dalam batas normal. Menurut peneliti kelemahan pelaksanaan intervensi pola nafas tidak efektif yang telah disiapkan pada klien 2 adalah tidak sesuai dengan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) yaitu meliputi observasi, terapi, edukasi dan kerjasama. 5) Defisit gizi.
Sedangkan keluhan yang muncul hanya pada klien 2 adalah keluhan sesak nafas, gelisah dan tidak dapat tidur.
KESIMPULAN DAN SARAN