KARYA TULIS ILMIAH
“PENGARUH TINGKAT STRES DENGAN GANGGUAN SIKLUS MENSTRUASI PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR DI
UNIVERSITAS BINAWAN ”
Disusun oleh:
NISA FAUZIAH 051922023
Dikerjakan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Ahli Madya Kebidanan
PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEBIDANAN
FAKULTAS KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN UNIVERSITAS BINAWAN JL. KALIBATA RAYA NO.25-30 JAKARTA
T.A 2020/2021
ii
iii
iv
PENGARUH TINGKAT STRES DENGAN GANGGUAN SIKLUS MENSTRUASI PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR DI UNIVERSITAS
BINAWAN Nisa Fauziah Universitas Binawan Program Studi D3 Kebidanan Email:[email protected]
ABSTRAK
Stres adalah suatu keadaan yang menekan diri individu yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara kemampuan yang dimiliki dengan tuntutan yang ada.
Mahasiswi dapat mengalami stres dalam pengerjaan Tugas Akhir sehingga dapat menimbulakan berbagai penyakit seperti siklus menstruasi yang tidak teratur.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat stres dengan gangguan siklus menstruasi pada mahasiswa tingkat akhir di Universitas Binawan. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional yaitu penelitian terhadap variabel yang independen dan variabel dependen diteliti sekaligus pada saat yang sama yang bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh tingkat stres terhadap gangguan siklus menstruasi pada mahasiswi tingkat akhir di Universitas Binawan. Teknik analisis data menggunakan uji Chi Square dengan program SPSS 22.Dari hasil uji Chi Square didapatkan bahwa sebanyak 44 responden (88%) mengalami Stress, dan siklus menstruasi pada mahasisiwa tingkat akhir sebagaian besar normal yaitu sebanyak 35 mahasiswa (70%). Hasil uji Chi Square diperoleh nilai p value 0,04 (<0,05).
Terdapat pengaruh stres dengan gangguan siklus menstruasi pada mahasiswa tingkat akhir di universitas binawan
Kata kunci : Mahasiswi, Tingkat Stres, Siklus Menstruasi
v
THE EFFECT OF STRESS LEVEL WITH MENSTRUAL CYCLE DISORDERS ON FINAL STUDENTS AT BINAWAN UNIVERSITY
Nisa Fauziah Universitas Binawan Program Studi D3 Kebidanan Email:[email protected]
Stress is a condition that suppresses the individual caused by an imbalance between the abilities possessed and the existing demands. Students can experience stress in working on their final project so that it can cause various diseases such as irregular menstrual cycles. This study aims to determine the effect of stress levels with menstrual cycle disorders in final year students at Binawan University. This study uses a quantitative research type with a cross sectional approach, namely research on the independent variable and the dependent variable studied at the same time which aims to identify the effect of stress levels on menstrual cycle disorders in final year female students at Binawan University. The data analysis technique used the Chi Square test with the SPSS 22 program. From the Chi Square test results, it was found that as many as 44 respondents (88%) experienced stress, and the menstrual cycle in final year students was mostly normal, as many as 35 students (70%). The results of the Chi Square test obtained a p value of 0.04 (<0.05). There is an effect of stress on menstrual cycle disorders in final year students at Binawan University.
Keywords : Student, Stress Level, Menstruation cycle
vi
KATA PENGANTAR
Puji serta syukur Alhamdulillah saya panjatkan kepada Allah SWT, karena atas berkat rahmat dan hidayah-Nya, saya dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini. Sebagai salah satu pemenuhan syarat untuk menyelesaikan Program Pendidikan Diploma III Kebidanan di Universitas Binawan, yang berjudul
“Pengaruh Tingkat Stres Dengan Gangguan Siklus Menstruasi Pada Mahasiswa Tingkat Akhir Di Universitas Binawan”.
Saya menyadari kemampuan dan keterbatasan ilmu pengetahuan yang saya miliki, sehingga penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini jauh dari sempurna.
Namun, Karya Tulis Ilmiah ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi kita semua. Untuk itu, dalam kesempatan ini, saya mengucapkan terimakasih yang tiada terhingga serta penghargaan setinggi-tingginya kepada:
1. Allah SWT, yang telah memberikan kemudahan dan melimpahkan karunia-Nya yang sangat luar biasa sehingga Karya Tulis Ilmiah ini dapat saya selesaikan
2. Ibu Dr. Illah Sailah, MS, selaku Rektor Universitas Binawan
3. Ibu Dinni Randayani Lubis, SST, MKes, selaku Ketua Program Studi Diploma III Kebidanan Universitas Binawan
4. Ibu Legina Anggraeni, SST, MKM, pembimbing I yang telah meluangkan waktu dan pemikirannya untuk membimbing saya menyusun Karya Tulis Ilmiah ini
5. Irwanti Gustina, SST, Mkes, selaku pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan pengarahannya dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini
6. Seluruh Dosen dan Staf Diploma III Kebidanan Universitas Binawan yang telah membekali ilmu yang sangat bermanfaat kepada saya juga memberikan petunjuk dan nasehat selama saya menjalani pendidikan 7. Rumah Ros Budiman/BPM Ami Amalia S, S.Tr.Keb, beserta seluruh
jajarannya yang saya hormati dan saya cintai Kak Amel, Kak Ica, Kak Fia, Kak Leni, Kak Meli, Wa Ita dan rekan-rekan dinas yang saya sayangi dan
vii
selalu saya rindukan Windi, Nita, Caca yang telah memberikan izin dan selalu mendukung saya untuk melakukan penelitian ini
8. Kedua orang tua yang telah memberikan semua kasih sayang, dorongan serta semangat yang tiada batasnya tanpa pamrih, dan selalu mengingatkan saya kepada Allah SWT untuk selalu bersukur, semoga Allah SWT memberikan kebahagiaan di dunia dan akhirat
9. Sahabat serta teman-teman seperjuangan Angkatan 2018 yang saling memberikan do’a, pelajaran, semangat dan motivasi selama masa perkuliahan hingga penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini
Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini saya merasa masih banyak kekurangan. Untuk itu, saya mengharapkan masukan baik kritik maupun saran yang sifatnya membangun. Saya sangat berharap Allah SWT berkenan membalas kebaikan semua pihak yang telah membantu. Semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Jakarta, April 2021
Penulis
viii DAFTAR ISI
LEMBAR PERSETUJUAN... Error! Bookmark not defined.
LEMBAR PENGESAHAN ... Error! Bookmark not defined.
ABSTRAK ... ii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... viii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1LATAR BELAKANG ... 1
1.2Rumusan Masalah ... 5
1.3Pertanyaan Penelitian ... 5
1.4Tujuan Penelitian ... 5
1.5Manfaat Penelitian ... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7
2.1Konsep Menstruasi ... 7
2.2Konsep Stress ... 13
BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPRASIONAL ... 18
3.1Kerangka Konsep Penelitian ... 18
3.2Definisi Operasional ... 19
3.3Hipotesis Penelitian ... 20
BAB IV METODE PENELITIAN ... 21
4.1Desain Penelitian ... 21
4.2Populasi, Sampel dan Teknik Sampling ... 21
4.3Lokasi dan Waktu Penelitian ... 21
4.4Instrumen Penelitian ... 22
4.5Pengolahan dan Penyajian Data ... 23
4.6Analisis Data ... 24
BAB V HASIL PENELITIAN ... 25
5.1Hasil Penelitian ... 25
5.2Analisa Univariat ... 25
5.3Analisa Bivariat ... 28
BAB VI PEMBAHASAN ... 29
6.1Tingkat Stres pada Mahasiswi Tingkat Akhir di Universitas Binawan ... 29
ix
6.2 Siklus Menstruasi pada Mahasiswi Tingkat Akhir di Universitas Binawan 31 6.3 Pengaruh Tingkat Stress Terhadap Gangguan Siklus Menstruasi Pada
Mahasiswi Tingkat Akhir Di Universitas Binawan... 32
BAB VII PENUTUP ... 34
7.1. Kesimpulan ... 34
7.2. Saran ... 34 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Menstruasi adalah perdarahan dari uterus yang terjadi secara periodik dan siklik, hal ini disebabkan karena pelepasan (deskuamasi) endometrium akibat hormon ovarium (estrogen dan progesteron) mengalami penurunan terutama progesteron, pada akhir siklus ovarium, biasanya dimulai sekitar 14 hari setelah ovulasi (Novita, 2018).
Siklus menstruasi sangat penting dalam reproduksi wanita karena akan mempengaruhi suatu rangkain perubahan dalam sistem reproduksi wanita, tetapi banyak wanita yang mengalami gangguan siklus menstruasi sehingga akan berdampak pada kesehatan (Siaga, 2017).
Gangguan menstruasi yang banyak ditemukan adalah menstruasi yang tidak normal pada wanita, diantaranya mulai dari usia haid yang datang terlambat, jumlah darah haid yang sangat banyak sampai-sampai harus berulang kali mengganti pembalut, nyeri atau sakit saat menstruasi, gejala pre menstruasi syndrome, dan siklus menstruasi yang tidak teratur. Gangguan siklus menstruasi meliputi polimenorhea, oligomenorhea dan amenorrhea.
(Mawarda Hatmanti, 2018).
Siklus menstruasi yang tidak normal dapat menimbulkan penyakit seperti infertilitas dan mempengaruhi kesuburan. Menurut badan kesehatan dunia (WHO) 8-12 % mengalami infertilitas dan di Indonesia yang mengalami infertilitas berkisar 12-15 %. Umumnya siklus menstruasi normal 21-35 hari dengan lama menstruasi 3-7 hari. Menstruasi yang tidak teratur dapat disebabkan karena kondisi-kondisi seperti stres yang mempengaruhi kerja hipotalamus (Reni & Suci, 2019).
Dalam perkembangan seksualitas remaja, ditandai dengan 2 ciri yaitu ciri seks primer dan ciri seks sekunder. Ciri seks primer pada remaja pria adalah matangnya organ seks, biasanya dapat ditandai dengan mengalami mimpi basah atau mimpi berhubungan seksual. Pada remaja wanita, kematangan organ seks dapat ditandai dengan tumbuhnya rahim, vagina, dan ovarium atau indung telur secara cepat. Ciri seks sekunder pada remaja pria
2
meliputi tumbuh rambut pubik, terjadi perubahan suara, tumbuh kumis dan tumbuh jakun sedangkan ciri seks sekunder pada wanita meliputi tumbuhnya rambut pubik, bertambah besar buah dada, dan bertambah besarnya panggul (Kusmiran E. , 2014).
Salah satu penyebab gangguan menstruasi pada wanita adalah faktor stres, yang merupakan fenomena universal yang setiap orang bisa mengalaminya yang berdampak pada fisik, sosial, emosi, intelektual, dan spiritual. Pada mahasiswa dalam menghadapi atau menjalani perkuliahan yang terlalu padat, praktek klinik yang sangat melelahkan, tugas yang banyak dan proses pembuatan KTI/skripsi merupakan faktor pemicu stres sehingga menyebabkan siklus menstruasi menjadi tidak teratur (Iryani, 2017).
Stres adalah kondisi yang disebabkan oleh interaksi antara individu dengan lingkungan, menimbulkan persepsi jarak antara tuntutan-tuntutan yang berasal dari situasi yang bersumber pada sistem biologis, psikologis dan sosial dari seseorang. Stres juga biasa diartikan sebagai tekanan, ketegangan atau gangguan yang tidak menyenangkan yang berasal dari luar diri seseorang (Azis & Bellinawati, 2015).
Stres adalah tekanan yang terjadi akibat ketidaksesuaian antara situasi yang diinginkan dengan harapan, di mana terdapat kesenjangan antara tuntutan lingkungan dengan kemampuan individu untuk memenuhinya yang dinilai potensial membahayakan, mengancam, mengganggu, dan tidak terkendali atau dengan bahasa lain stres adalah melebihi kemampuan individu untuk melakukan koping (Barseli & Ifdil, 2017).
Stress dapat disebabkan oleh beberapa hal. Lingkungan, kondisi fisik dan sosial merupakan penyebab dari kondisi stres yang biasa disebut stressor.
Ada 3 kategori stressor, salah satunya adalah Cataclysmic events yang merupakan dimana terjadinya fenomena besar yang terjadi secara tiba-tiba dan kejadian penting yang dapat mempengaruhi banyak orang, seperti bencana alam (Priyoto., 2014)
Stres diketahui sebagai faktor-faktor penyebab (etiologi) terjadinya gangguan siklus menstruasi. Kebanyakan wanita mengalami sejumlah perubahan siklus menstruasi selama reproduksi. Dalam pengaruhnya
3
terhadap siklus menstruasi stres melibatkan sistem hormonal sebagian sistem yang berperan besar pada reproduksi wanita (Kartikawati, 2016).
Perbedaan siklus menstruasi yang dialami wanita ditentukan oleh beberapa faktor pemicu, salah satunya yaitu stres. Tanpa disadari stres dapat berpengaruh terhadap gangguan menstruasi. Stres dapat memicu pelepasan hormon kortisol yang merupakan tolak ukur untuk melihat derajat stres seseorang. Hormone kortisol telah diatur oleh kelenjar pituitar dan hipotalamus otak, hipotalamus memulai kerjanya, hormone FSH (Follicle Stimulating Hormone) dikeluarkan oleh hipofisis, dan menstimulasi ovarium sehingga menghasilkan estrogen. Ketidakteraturan siklus menstruasi dipengaruhi oleh produksi estrogen dan progesterone akibat gangguan hormone FSH (Follicle Stimulating Hormone) dan LH (Lutenizing Hormon) (Prawirohardjo S. , 2011)
Ketegangan dapat mempengaruhi produksi hormone kortisol yang dapat meningkatkan jumlah hormone progesterone dalam tubuh. Peningkatan hormone progesterone menyebabkan kekacauan siklus menstruasi. Siklus menstruasi merupakan rentang dari awal mulainya menstruasi sampai pada menstruasi bulan berikutnya (Notoatmodjo, 2012).
Gangguan emosional sebagai rangsangan melalui sistem saraf diteruskan ke susunan saraf pusat yaitu bagian otak yang disebut limbic sistem melalui tranmisi saraf, selanjutnya melalui saraf autonom (simpatis atau parasimpatis) akan diteruskan ke kelenjar-kelenjar hormonal (endokrin) hingga mengeluarkan sekret (cairan) neurohormonal menuju hiphofisis melalui sistem prontal guna mengeluarkan gonadotropin dalam bentuk FSH dan LH. Produksi kedua hormon ini adalah dibawah pengaruh RH (Realezing Hormone) yang disalurkan dari hipotalamus ke hipofisis. Pengeluaran RH sangat dipengaruhi oleh mekanisme umpan balik estrogen terhadap hipotalamus juga pengaruh luar seperti cahaya, bau-bauan dan hal-hal psikologik hingga selanjutnya mempengaruhi terjadinya proses menstruasi atau haid (Prawirohardjo S. , 2009).
Penyebab lain gangguan siklus menstruasi adalah ketidakseimbangan hormonal. Hal ini disebabkan karena adanya gangguan pada organ-organ penghasil hormon di atas, namun kadang kala tidak bisa ditentukan
4
penyebabnya. Untuk mengetahui adanya ketidakseimbangan hormonal ini perlu dilakukan pemeriksaan kadar berbagai jenis hormon di laboratorium (Arsaningtias, 2017)
Upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya gangguan siklus menstruasi yaitu mengurangi stres dengan penggunaan manajemen seperti menyediakan waktu untuk bersantai, serta istirahat yang cukup. Cukup banyak wanita yang mengalami gangguan haid namun diam-diam tanpa menyadari bahwa ada cara meringankannya. Wanita dapat memahami apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhnya dan kemudian mencari upaya untuk melindungi dirinya atau meringankan gangguan yang dialaminya. Jika sudah cukup sering mengalami ketidakteraturan menstruasi, sebaiknya segera temui dokter ahli kandungan atau dokter umum. Dokter akan mendiagnosa apa yang menyebabkan ketidakteraturan itu (Kusmiran E. , 2014).
Berdasarkan penelitian Rosdiana Putri Arsaningtias tahun 2017 dari Universitas Airlangga yang berjudul Analysis of Stressor Factors Connected With Stres Study S1 Study Program Which Implements Thrips In Airlanga University Surabaya dilakukan terhadap 221 mahasiswa, didapatkan hasil mahasiswa mengalami stres dengan berbagai macam level ketika sedang mengerjakan skripsi, sebagian besar mahasiswa mengalami stres berat (25,8%) sedangkan sisanya merasakan stres normal (23,1%), stres ringan (12,7%), stres sedang (15,8%), dan stres sangat berat (22,6%) (Arsaningtias, 2017). Penelitian ini menunjukan banyak mahasiswa yang mengalami stres, stres dapat merangsang hipotalamus-pituitaryadrenal cortex axis sehingga menghasilkan hormon kortisol yang menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan hormonal (Iryani, 2017).
Berdasarkan latar belakang diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “PENGARUH TINGKAT STRESS DENGAN GANGGUAN SIKLUS MENSTRUASI PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR DI UNIVERSITAS BINAWAN ”
5 1.2 Rumusan Masalah
Siklus menstruasi merupakan hal yang penting dalam sistem reproduksi wanita. Gangguan siklus menstruasi akan berdampak pada terjadinya berbagai masalah kesehatan. Salah satu faktor yang menyebabkan gangguan siklus menstruasi adalah stres karena stres akan merangsang hypothalamus-pituitary- adrenal cortex sehingga dihasilkan hormone kortisol yang menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan hormonal. Mahasiswa tingkat akhir merupakan kelompok yang rentan terkena stres karena tuntutan dan aktivitas yang tinggi akan membuat mahasiswa tingkat akhir kelelahan fisik maupun mental yang memicu timbulnya stres. Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana Pengaruh tingkat stres dengan gangguan siklus menstruasi pada mahasiswi tingkat akhir di Universitas Binawan.
1.3 Pertanyaan Penelitian
“Bagaimana Pengaruh tingkat stres dengan gangguan siklus menstruasi pada mahasiswi tingkat akhir di Universitas Binawan?”
1.4 Tujuan Penelitian 1.4.1 Tujuan Umum
Mengetahui Pengaruh tingkat stres dengan gangguan siklus menstruasi pada mahasiswi tingkat akhir di Universitas Binawan.
1.4.2 Tujuan Khusus
a. Mengetahui distribusi frekuensi Karakteristik responden (Usia, Riwayat Penyakit, Asal Prodi)
b. Mengetahui distribusi frekuensi tingkat stres pada mahasiswa tingkat akhir di Universitas Binawan.
c. Mengetahui distribusi frekuensi siklus menstruasi pada mahasiswa tingkat akhir di Universitas Binawan.
d. Mengetahui hubungan tingkat stres dengan siklus menstruasi pada Mahasiswa tingkat akhir di Universitas Binawan.
6 1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Bagi Responden
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi responden yang berada pada kondisi stres agar melakukan penanganan pada stres yang dialamai untuk mengembalikan keseimbangan tubuh dengan mengontrol stres dan melakukan manajemen stres sehingga tidak terjadi efek yang lebih buruk.
1.5.2 Bagi Institusi
Bahan kepustakaan untuk penelitian berikutnya terutama mengenai Pengaruh tingkat stres dengan gangguan siklus menstruasi pada mahasiswi tingkat akhir di Universitas Binawan.
1.5.3 Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dan perbandingan dalam melakukan penelitian lebih lanjut tentang penerapan teori Mengetahui Pengaruh tingkat stres dengan gangguan siklus menstruasi pada mahasiswi tingkat akhir di Universitas Binawan.
7 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Menstruasi 2.1.1 Definisi Menstruasi
Menstruasi merupakan perdarahan dari uterus yang terjadi secara periodik dan siklik, hal ini disebabkan karena pelepasan atau deskuamasi endometrium akibat hormon ovarium yaitu hormon estrogen dan progesteron mengalami penurunan terutama progesteron, pada akhir siklus ovarium, dimulai biasanya 14 hari setelah ovulasi hari (Novita, 2018).
Menstruasi adalah salah satu aspek kematangan seksual yang pertama kali terjadi pada masa pubertas seorang wanita. Periode menstruasi penting dalam reproduksi. Menstruasi yang terjadi secara reguler setiap bulan akan membentuk suatu siklus menstruasi (Tombokan, 2017).
Menstruasi ialah bagian dari proses reguler yang mempersiapkan tubuh wanita setiap bulannya untuk kehamilan. Menstruasi atau haid mengacu kepada pengeluaran secara periodik darah dan sel-sel tubuh dari vagina yang berasal dari dinding rahim wanita. Menstruasi dimulai saat pubertas antara umur 10 dan 16 tahun tergantung pada berbagai faktor (Mawarda Hatmanti, 2018).
2.1.2 Mekanisme Terjadinya Menstruasi
Menurut Fauziah, 2017 siklus menstruasi terbagi menjadi tiga fase:
1. Fase poliferasi
Setelah menstruasi selesai, hanya lapisan tipis stroma endometrium tersisa pada basis endometrium asli, dan satu-satunya sel epitel yang tertinggal terletak pada bagian dalam sisa-sisa kelenjar dan kriptis endometrium. Dibawah pengaruh estrogen yang sekresinya ditingkatkan oleh ovarium selama bagian pertama siklus ovarium, sel-sel stroma dan sel-sel epitel dengan cepat berpoliferasi.
8
Permukaan endometrium mengalami repitalisasi dalam tiga sampai tujuh hari setelah permulaan menstruasi. Selama dua minggu pertama siklus seksual (yaitu sampai ovulasi) tebal endometrium sangat bertambah karena peningkatan jumlah sel-sel stroma dan karena pertumbuhan progresif kelenjar-kelenjar endometrium, semua efek ini ditingkatkan oleh estrogen. Pada saat ovulasi tebal endometrium sekitar 2-3 mm.
2. Fase Sekresi
Selama separuh terakhir siklus seksual, progesteron dan estrogen (dominan progesteron) disekresi oleh korpus luteum. Estrogen menyebabkan poliferasi sel tambahan dan progesterone menyebabkan pembengkakan hebat dan pembentukan sekresi endometrium. Kelenjar tambah berkelok-kelok, Zat yang disekresi tertimbun dalam sel epitel kelenjar, dan kelenjarnya menyekresi sedikit cairan endometrium. Sitoplasma sel stroma juga bertambah, lipid dan glikogen banyak mengendap dalam sel stroma, dan suplai darah ke endometrium meningkat lebih lanjut sebanding dengan aktivitas sekresi yang sedang berkembang. Pada fase ini, endometrium mempunyai ketebalan 4-6 mm. Tujuan dari seluruh perubahan endometrium ini adalah untuk menghasilkan endometrium yang banyak menyekresikan dan sangat banyak mengandung cadangan zat gizi yang dapat memberikan keadaan yang sesuai untuk implantasi ovum yang telah dibuahi selama separuh terakhir siklus menstruasi.
3. Fase Menstruasi
Jika ovum tidak dibuahi, korpus luteum pada ovarium menjadi involusi, hormone ovarium (estrogen dan progesterone) akan turun sampai level terendah, dan terjadilah menstruasi. Menstruasi disebakan oleh pengurangan mendadak progesterone dan estrogen pada akhir siklus ovarium. Efek pertama adalah penurunan ransangan sel-sel endometrium oleh kedua hormone tersebut, diikuti
9
dengan cepat oleh involusi endometrium itu sendiri sampai sekitar 65% tebal sebelumnya. Selama 24 jam sebelum mulai menstruasi.
Pembuluh darah yang menuju kelapisan mukosa endometrium menjadi vasopastik, mungkin karena efek involusi, seperti pengeluaran zat vasokontriktor. Vasopasme dan kehilangan rangsang hormonal mulai menimbulkan nekrosis pada endometrium. Sebagai akibatnya, darah merembes dalam lapisan vaskuler fase endometrium area perdarahan mulai terbentuk setelah 24-36 jam. Lapisan luar endometrium yang nekrotik terlepas dari uterus pada tempat pendarahan, pada 48 jam setelah mulainya menstruasi, semua lapisan superfisial endometrium telah deskuamasi. Jaringan deskuamasi dan darah dalam kubah uterus memulai kontraksi uterus yang mengeluarkan isi uterus. Selama menstruasi normal, sekitar 40 ml darah dan 35 ml cairan serosa hilang. Cairan menstruasi ini dalam keadaan normal tidak membeku, karena fibrinolysin dikeluarkan bersama endometrium yang nekrotik. Dalam 3-7 hari setelah menstruasi mulai perdarahan berhenti karena pada saat ini endometrium sudah mengalami epitalisasi penuh.
2.1.3 Gangguan dan Siklus Menstruasi
(Bull et al., 2019) mengatakan bahwa gangguan menstruasi dan siklus menstruasi dibagi menjadi:
a. Polimenorea
Polmenorea merupakan panjang siklus menstruasi yang memendek dari siklus menstruasi klasik, yaitu kurang dari 21 hari per siklusnya, sementara volume perdarahannya kurang lebih sama atau bahkan lebih banyak dari volume perdarahan menstruasi biasanya.
b. Oligomenorea
Oligomenorea merupakan siklus menstruasi yang memanjang dari panjang siklus menstruasi klasik, yaitu lebih dari 35 hari persiklusnya. Pada umumnya volume perdarahan lebih sedikit dari volume perdarahan menstruasi pada umumnya. Siklus menstruasi
10
biasanya bersifat ovulatory dengan fase proliferasi yang lebih panjang disbanding fase proliferasi siklus menstruasi klasik.
c. Amenorea
Amenorea merupakan panjangnya siklus menstruasi dari panjang siklus menstruasi klasik (oligomenorea) atau tidak terjadinya perdarahan menstruasi, minimal 3 bulan berturut-turut. Amenorea dibedakan menjadi 2 jenis yaitu:
1) Amenoria Primer
Amenorea primer merupakan tidak terjadinya menstruasi sekalipun pada perempuan yang mengalami amenorea.
2) Amenorea Sekunder
Amenorea sekunder merupakan tidak terjadinya menstruasi yang diselingi dengan perdarahan menstruasi sesekali pada perempuan yang mengalami amenorea.
d. Hipermenorea (menoragia)
Hipermenorea merupakanterjadinya perdarahan pada menstruasi yang terlalu banyak dari normalnya dan lebih lama dari normalnya (lebih dari 8 hari).
e. Hipomenorea
Hipomenorea merupakan perdarahan menstruasi yang lebih sedikit dari menstruasi pada biasanya tetapi tidak mengganggu fertilitasnya.
2.1.4 Faktor yang Mempengaruhi Siklus Menstruasi
(Kusmiran E. , 2012) penelitian dari faktor risiko dari variabilitas siklus menstruasi adalah sebagai berikut:
a. Berat Badan
Berat badan dan perubahan berat badan dapan mempengaruhi fungsi menstruasi. Penurunan berat badan secara akut dan sedang dapat menyebabkan gangguan pada fungsi ovarium, tergantung pada derajat tekanan pada ovarium dan lamanya penurunan berat badan.
Kondisi patologis seperti berat badan yang kurang atau kurus dan
11
anorexia nervosa yang menyebabkan penurunan berat badan yang berat dapat menimbulkan amenorea.
b. Aktivitas fisik
Tingkat aktivitas fisik yang sedang dan berat dapat membatasi fungsi menstruasi.
c. Stres
Perubahan sistemik dalam tubuh disebabkan oleh stres, khususnya system persarafan dalam hipotalamus melalui perubahan prolactin atau endogen opiate yang dapat mempengaruhi elevasi kortisol basal dan menurunkan hormon lutein (LH) yang menyebabkan amenorea.
d. Diet
Diet dapat berpengaruh terhadap siklus menstruasi. Vegetarian berhubungan dengan anovulasi, penurunan respons hormon pituitary, fase folikel yang pendek, tidak normalnya silkus menstruasi (kurang dari 10 kali dalam setahun). Diet rendah lemak berhubungan dengan panjangnya siklus menstruasi dan periode perdarahan. Diet rendah kalori seperti daging merah dan rendah lemak berhubungan dengan amenorea.
e. Paparan Lingkungan dan Kondisi Kerja
Beban kerja yang berat berhubungan dengan jarak menstruasi yang panjang dinbandingkan dengan beban kerja yang ringan.
f. Gangguan endokrin
Penyakit pada system endokrin seperti diabetes, hipotiroid, serta hipertiroid yang berhubungan dengan gangguan menstruasi.
Prevalensi amenorea dan oligomenorea lebih tinggi pada pasien diabetes. Penyakit polystic ovarium berhubungan dengan obesitas, resistensi insulin, dan oligomenorea. Amenorea dan oligomenorea pada perempuan dengan penyakit polystic ovarium berhubungan dengan insensitivitas hormon insulin dan menjadikan perempuan tersebut obesitas. Hipertiroid berhubungan dengan oligomenorea dan lebih lanjut menjadi amenorea. Hipertiroid berhubungan dengan polymenorea dan menoragia.
g. Gangguan pendarahan
12
Gangguan perdarahan dibagi menjadi 3, yaitu perdarahan yang berlebihan, perdarahan yang panjang, dan perdarahan yang sering.
Dysfungsional Uterin Bleding (DUB) merupakan gangguan perdarahan dalam siklus menstruasi yang tidak berhubungan dengan kondisi patologis. DUB akan meningkat selama proses transisi menopause.
2.1.5 Kategori Siklus Menstruasi
Rata-rata satu siklus menstruasi adalah 28 hari, namun panjang siklusnya 24-35 hari masih dalam kategori normal. Normal perdarahan menstruasi berlangsung kurang lebih 4-7 hari (Wahyuni & Dewi, 2018).
Kategori siklus menstruasi:
0: tidak normal: apabila jarak menstruasi berikutnya <28 hari dan >35 hari.
1: Nomal: apabila jarak menstruasi berikutnya 28- 35 hari
2.1.6 Alat Ukur Siklus Menstruasi
Kuisioner siklus menstruasi terdiri dari 3 pertanyaan yaitu 1.
Berapa lama siklus menstruasi berlangsung, 2. Berapa hari menstruasi anda berlangsung, 3. Berapa jumlah pembalut yang digunakan. Hal ini akan mengklasifikasi jawaban dari responden menjadi 2 kategori yaitu normal dan tidak normal. Di mana dikatakan normal yaitu jika siklus menstruasi berada pada rentang 21-35 hari, lama menstruasi berada pada rentang 3-7 hari dan jumlah pembalut yang digunakan 2-5 pembalut. Sedangkan dikatakan tidak normal jika jawaban responden di luar kriteria pengukuran normal yaitu kurang dari 21 hari dan lebih dari 35 hari dengan lama menstruasi kurang dari 3 hari dan lebih dari 7 hari dan jumlah pembalut kurang dari 2 dan lebih dari 5. Kuesioner ini dimodifikasi dari kuesioner (Banjarnahor, 2013).
13 2.2 Konsep Stress
2.2.1 Pengertian Stres
Stres merupakan suatu reaksi fisik maupun psikis terhadap setiap tuntutan yang disebabkan karena adanya ketegangan yang mengganggu stabilitas kehidupan sehari hari (Priyoto., 2014).
Stres adalah kondisi yang disebabkan oleh interaksi antara individu dengan lingkungan, menimbulkan persepsi jarak antara tuntutan-tuntutan yang berasal dari situasi yang bersumber pada sistem biologis, psikologis dan sosial dari seseorang. Stres juga biasa diartikan sebagai tekanan, ketegangan atau gangguan yang tidak menyenangkan yang berasal dari luar diri seseorang (Azis &
Bellinawati, 2015).
Stres adalah tekanan yang terjadi akibat ketidaksesuaian antara situasi yang diinginkan dengan harapan, di mana terdapat kesenjangan antara tuntutan lingkungan dengan kemampuan individu untuk memenuhinya yang dinilai potensial membahayakan, mengancam, mengganggu, dan tidak terkendali atau dengan bahasa lain stres adalah melebihi kemampuan individu untuk melakukan koping (Barseli &
Ifdil, 2017).
2.2.2 Klasifikasi Stres
Menurut (Priyoto., 2014) tingkatan stress dibagi menjadi 3, yaitu:
a. Stres Ringan
Setiap orang pada umumnya merasakan stres, misalnya banyak tidur, kemacetan, dikritik. Situasi seperti ini akan berlangsung selama beberapa menit atau jam, biasanya stress ringan tidak ditandai dengan gejala yang spesifik.
b. Stres Sedang
Stres sedang biasanya berlangsung lebih lama dari beberapa jam bahkan beberapa hari. Seperti perselisihan dengan teman yang tak
14
terselesaikan, atau ditinggalkan oleh anggota keluarga. Ciri-ciri dari stres sedang biasanya berupa sakit perut, mules, otot-otot terasa tegang, perasaan tegang dan gangguan tidur.
c. Stres Berat
Stres berat adalah situasi yang lama dirasakan oleh seseorang dapat berlangsung beberapa minggu sampai beberapa bulan bahkan tahun, misalnya seperti mempunyai penyakit kronis, hubungan keluarga yang tidak harmonis, berpisah dengan keluarga, perubahan fisik, psikologis, sosial pada usia lanjut. Stres yang berlangsung panjang dapat mempengaruhi kemampuan untuk menyelesaikan tugas perkembangan. Ciri-cirinya yaitu sulit beraktivitas, gangguan hubungan sosial, sulit tidur, penurunan konsentrasi, keletihan meningkat, tidak mampu melakukan pekerjaan sederhana, gangguan system meningkat, perasaan takut yang meningkat.
2.2.3 Faktor-faktor Penyebab Stres
Menurut (Musradinur, 2016) beberapa faktor yang mempengaruhi stres antara lain:
a. Lingkungan
Stres muncul akibat adanya suatu stimulus menjadi semakin berat dan berkepanjangan sehingga seorang individu tidak dapat menghadapinya. Tipe konflik ada 3 yaitu mendekat-mendekat (approach-approach), menghindar-menghindar (avoidance- avoidance) dan mendekat-menghindar (approach-avoidance).
Frustasi dapat terjadi pada individu yang tidak dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Stress dapat muncul akibat adanya kejadian besar dalam hidup maupun gangguan sehari-hari dalam kehidupan individu.
b. Kognitif
Stres pada individu tergantung bagaimana individu tersebut membuat penilaian secara kognitif dan menginterprestasikan suatu kejadian. Penilaian kognitif merupakan istilah yang biasa digunakan
15
untuk menggambarkan interpretasi seorang individu terhadap kejadian-kejadian dalam hidup mereka sebagai suatu yang berbahaya, mengancam, atau menantang dan keyakinan mereka apakah mereka memiliki kemampuan untuk menghadapi suatu kejadian dengan efektif.
c. Kepribadian
Penilaian strategi untuk mengatasi suatu masalah yang digunakan individu yang dipengaruhi oleh karakteristik kepribadian seperti optimis dan pesimis. Individu yang memiliki kepribadian optimis cenderung menggunakan strategi untuk mengatasi suatu masalah yang berorientasi pada masalah yang dihadapi. Individu yang memiliki rasa optimis yang tinggi lebih mensosialkan dengan penggunaan strategi coping yang efektif. Namun pada individu yang pesimis cenderung bereaksi dengan perasaan negative terhadap situasi dengan cara menjauhkan diri dari masalah dan cenderung lebih menyalahkan diri sendiri.
d. Sosial-Budaya
Akulturasi mengacu pada perubahan kebudayaan yang merupakan akibat dari kontak yang sifatnya terus menerus antara dua kelompok budaya yang berbeda. Stress akulturasi merupakan konsekuensi negative dari akulturasi. Anggota kelompok etnis minoritas sepanjang sejarah telah mengalami sikap permusuhan, prasangka, dan tidak adanya dukungan yang efektif selama krisis, yang dapat memicu pengucilan, isolasi sosial dan peningkatan stres. Keadaan ekonomi merupakan stresor yang kuat dalam kehidupan warga yang miskin.
2.2.4 Tinjauan Hubungan Tingkat Stres dengan Siklus Menstruasi
Seseorang mempunyai respon yang berbeda terhadap stres. Respon stress dapat dilihat dari beberapa aspek seperti respon fisiologis, adaptif, maupun psikologis. Respon fisiologis berupa interpretasi otak dan respon neuroendokrin, respon adaptif berupa tahapan General Adaption Syndromen(GAS) dan Local Adaption Syndrome (LAS).
16
Respon psikologis dapat berupa perilaku konstruktif maupun dekstruktif.
Respon fisiologis terhadap stressor yang merupakan mekanisme proktektif dan adatif untuk memelihara keseimbangan homeostatis tubuh.dalam respon stres, impuls aferen akan ditangkap oleh organ pengindra dan internal ke pusat saraf otak selanjutnya di teruskan ke hipotalamus.kemudian dikoordinasikan dengan respon yang diperlukan untuk mengembalikan dalam keadaan homeostatis. Apabila tubuh tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut, maka bisa berakibat pada gangguan keseimbangan tubuh (Sunaryo., 2013).
Menstruasi yang tidak teratur bisa diakibatkan dari stres. Stress dapat merangsang system saraf yang diteruskan ke susunan saraf pusat yaitu Limbic system melalui transmisi saraf, melalui saraf otonom dan diteruskan ke kelenjar-kelenjar hormonal hingga mengeluarkan cairan neurohormonal menuju hipofisis melalui system prontal guna mengeluarkan gonadotropin dalam bentuk FSH dan LH, produksi kedua hormon tersebut dipengaruhi oleh Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH) dan disalurkan dari hipotalamus ke hipofisis. Pengeluaran GnRH dipengaruhi oleh mekanisme umpan balik estrogen terhadap hipotalamus sehingga selanjutnya mempengaruhi proses menstruasi.
2.2.5 Alat Ukur Tingkat Stres
Pengukuran tingkat stres dinilai dari 10 pertanyaan Kessler Psychological Distress Scale (KPDS) yang diajukan kepada responden dengan skor 1 untuk jawaban dimana responden tidak pernah mengalami stres, 2 untuk jawaban dimana responden jarang mengalami stres, 3 untuk jawaban dimana responden kadang - kadang mengalami stres, 4 untuk jawaban dimana responden sering mengalami stres, dan 5 untuk jawaban dimana responden selalu mengalami stres dalam 30 hari terakhir. Skala pengukuran yang digunakan adalah skala ordinal. Tingkat stres dikategorikan sebagai berikut:
a. Skor di bawah 20 : tidak mengalami stres
17 b. Skor 20 - 24 : stres ringan
c. Skor 25 - 29 : stres sedang
d. Skor 30 dan di atas 30 : stres berat
2.2.6 Kerangka Teori
Gambar 2.2 Kerangaka Teori
STRES SIKLUS MENSTRUASI
Klasifikasi stress Mekanisme menstruasi
- Stres ringan - Siklus hipofisis
- Stres sedang - Siklus sekresi
- Stres berat - Siklus menstruasi
Faktor yang mempengaruhi
- Lingkungan Gangguan siklus menstruasi
- Kognitif - Polimenorea
- Kepribadian - Oligomenorea
- Sosial budaya - amenorea
Faktor yang mempengaruhi
- Berat badan
- Aktivitas fisik
- Stress
- Diet
- Paparan lingkungan
dan kondisi kerja
- Gangguan endokrin
- Gangguan
pendarahan
Sumber : (Arikunto, 2013); (Habeeb, 2010); (Kusmiran E. , 2012); (Priyoto., 2014);
(Sunaryo., 2013); (Verawaty, 2012)).
18 - Tingkat Stres
- Usia
- Riwayat Penyakit - Prodi
Siklus Menstruasi BAB III
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPRASIONAL
3.1 Kerangka Konsep Penelitian
Kerangka penelitian yang dilakukan pada penelitian ini menggambarkan pengaruh tingkat stres terhadap gangguan siklus menstruasi pada mahasiswi tingkat akhir di Universitas Binawan. Pengaruh tingkat stres dalam penelitian ini menjadi variabel bebas sedangkan siklus menstrusi menjadi variabel terikat.
Secara skematis kerangka penelitian tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :
Skema 1. Kerangka penelitian pengaruh tingkat stress terhadap gangguan siklus menstruasi pada mahasiswi tingkat akhir di Universitas Binawan
Gambar 2.2
Variabel Independent Variabel Dependent
Sumber: (Kusmiran E. , 2012)
Variabel Bebas (Independent) : Tingkat Stres, usia, riwayat penyakit, prodi
Variabel Terikat (Dependent) : Siklus menstruasi
19 3.2 Definisi Operasional
Variabel Definisi Operasional
Alat Ukur Cara Ukur
Hasil Ukur Segala Ukur VARIABEL DEPENDENT
Tingkat Stress
Stres adalah suatu keadaan yang menekan diri individu
yang disebabkan oleh
ketidakseimbanga n
antara kemampuan yang dimiliki dengan
tuntutan yang ada serta beban dan tanggung jawab mahasiswa tingkat akhir untuk menyelesaikan KTI
dan
menyelesailkan Akademiknya.
(Sukadiyanto, 2010)
Kuesioner Kessler Psychologica l Distress Scale
(KPDS) 10 pernyataan Dengan kriteria 1 = Tidak pernah 2 = Jarang (1-2
kali) 3=kadang- kadang (3-4 kali)
4= Sering (5- 6 kali) 5= Sangat sering (>6 kali)
Pengesia n
kuesioner
0: tidak
mengalami stress (Skala < 20) 1: ringan (Skala 20-24)
2: sedang (Skala 25-29)
3: stress berat (Skala >30)
Ordinal
VARIABEL INDEPENDENT
Siklus Menstruas i
Siklus menstruasi adalah periode awal
dimulainya menstruasi sampai menstruasi berikutnya yang dialami oleh mahasiswi tingkat akhir di Universitas Binawan (Iryani, 2017)
Kuesioner pola siklus menstruasi
Pengisian Kuesione r
0:Normal(Siklu s Menstruasi 28-35 hari) 1:Tidak Normal (Siklus
Menstruasi < 28 hari atau > 35 hari)
Ordinal
Usia Lama hidup
responden dari lahir sampai saat penelitian
(Nursalam,2003)
Kuesioner Pengisian kuesioner
0= Usia <20 tahun 1= Usia >20 tahun
Nomina l
Riwayat Penyakit
Penyakit yang diderita oleh Responden
Kuesioner Pengisian kuesioner
a= Ada Riwayat Penyakit b= Tidak Ada Riwayat Penyakit
Nomina l
Prodi Patokan proses pendidikan secara akademik yang disajikan sesuai
Kuesioner Pengisian kuesioner
a= Kebidanan b= Keperawatan c= K3
d= Gizi
Nomina l
20 kurikulum yang
ditetapkan.
e= TLM f= Fisioterapi
3.3 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kerangka konsep dan hubungan antar variabel dalam penelitian ini, maka hipotesis penelitian adalah sebagai berikut:
1. Ada Hubungan Antara Tingkat Stres dengan Siklus Menstruasi Pada Mahasiswa Tingkat Akhir Di Universitas Binawan
21 BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional yaitu penelitian terhadap variabel yang independen dan variabel dependen diteliti sekaligus pada saat yang sama yang bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh tingkat stres terhadap gangguan siklus menstruasi pada mahasiswi tingkat akhir di Universitas Binawan
4.2 Populasi, Sampel dan Teknik Sampling 4.2.1 Populasi
Populasi diartikan sebagai generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik kesimpulannya (Sugiyono, 2017).
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswi tingkat akhir di Universitas Binawan
4.2.2 Sampel
Sampling adalah proses menyeleksi porsi dari populasi untuk dapat mewakili populasi (Nursalam, 2013). Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah mahasiswi tingkat akhir di Universitas Binawan
4.2.3 Teknik Sampling
Teknik sampling adalah cara yang digunakan untuk pengambilan sampel, teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah total sampling yaitu teknik pengambilan sampel dimana jumlah sampel sama dengan populasi (Sugiyono., 2017)
4.3 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.3.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Universitas Binawan yang berlokasi di Jl.
Kalibata Raya No.25-30 Jakarta Timur. Adapun alasan pemilihan tempat ini
22
yaitu belum pernah dilakukannya penelitian tentang pengaruh tingkat stres terhadap siklus menstruasi pada mahasiswi tingkat akhir di Universitas Binawan. Penelitian ini tidak dilakukan secara langsung ke Fakulas Keperawatan Universitas Binawan untuk mencegah penyebaran COVID- 19 sehingga pengambilan data dilakukan dengan menggunakan google form.
4.3.2 Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli 2021- Agustus 2021, dan pengambilan data dilaksanakan pada bulan September 2021. Proses pengambilan data tidak dapat dilakukan secara langsung akibat pandemi COVID-19, sehingga kuesioner dibagikan secara online dengan menggunakan google form.
4.4 Instrumen Penelitian
Instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner yang terdapat beberapa pernyataan dalam bentuk angket dan diberikan langsung kepada responden.
4.4.1 Kuesioner Data Demografi
Kuesioner data demografi digunakan untuk mengkaji data demografi mahasiswi tingkat akhir di Universitas Binawan yang meliputi nama, usia, tinggal sama orang tua atau kos, riwayat penyakit, program studi.
4.4.2 Kuesioner Tingkat Stres
Pengukuran tingkat stres dinilai dari 10 pertanyaan Kessler Psychological Distress Scale (KPDS) yang diajukan kepada responden dengan skor 1 untuk jawaban dimana responden tidak pernah mengalami stres, 2 untuk jawaban dimana responden jarang mengalami stres, 3 untuk jawaban dimana responden kadang - kadang mengalami stres, 4 untuk jawaban dimana responden sering mengalami stres, dan 5 untuk jawaban dimana responden selalu mengalami stres
23
dalam 30 hari terakhir. Skala pengukuran yang digunakan adalah skala ordinal. Tingkat stres dikategorikan sebagai berikut:
a. Skor di bawah 20 : tidak mengalami stres b. Skor 20 - 24 : stres ringan
c. Skor 25 - 29 : stres sedang
d. Skor 30 dan di atas 30 : stres berat
4.4.3 Kuesioner Siklus Menstruasi
Kuisioner siklus menstruasi terdiri dari 3 pertanyaan yaitu 1. Berapa lama siklus menstruasi berlangsung, 2. Berapa hari menstruasi anda berlangsung, 3. Berapa jumlah pembalut yang digunakan. Hal ini akan mengklasifikasi jawaban dari responden menjadi 2 kategori yaitu normal dan tidak normal. Di mana dikatakan normal yaitu jika siklus menstruasi berada pada rentang 21-35 hari, lama menstruasi berada pada rentang 3-7 hari dan jumlah pembalut yang digunakan 2-5 pembalut. Sedangkan dikatakan tidak normal jika jawaban responden di luar kriteria pengukuran normal yaitu kurang dari 21 hari dan lebih dari 35 hari dengan lama menstruasi kurang dari 3 hari dan lebih dari 7 hari dan jumlah pembalut kurang dari 2 dan lebih dari 5. Kuesioner ini dimodifikasi dari kuesioner (Banjarnahor, 2013).
4.5 Pengolahan dan Penyajian Data
Setelah seluruh data terkumpul, maka analisis data dilakukan melalui tahap:
a. Editing
Memeriksa data yang telah diperoleh, dilakukan pembetulan data yang salah dan melengkapi data yang kurang.
b. Coding
Coding adalah pemberian atau pembuatan kode-kode pada tiap-tiap data yang termasuk dalam kategori yang sama. Pemberian kode dapat diberikan sebelum atau sesudah pengumpulan dilaksanakan.
24 c. Processing
Proses memasukkan data dari kuesioner ke dalam program komputer dengan menggunakan program SPSS versi 22.
d. Tabulating
Tabulating adalah membuat tabel-tabel yang berisikan data yang telah diberi kode, sesuai dengan analisis yang dibutuhkan.
4.6 Analisis Data a. Analisa Univariat
Analisa univariat bertujuan untuk menjelaskan atau mendekripsikan karakteristik setiap variabel penelitian (Notoatmodjo, 2012). Analisis ini digunakan untuk menguraikan karakteristik dari setiap variabel yang diteliti, baik variabel bebas maupun variabel terikat. Analisis univariat penelitian ini meliputi distribusi frekuensi data demografi seperti: nama, usia, riwayat penyakit responden, kelas dan distribusi frekuensi dari variabel tingkat stress dan siklus menstruasi.
b. Analisis bivariat
Analisa Bivariat adalah analisa yang dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan (Notoatmodjo, 2012). Uji yang di pakai adalah chi square dengan tingkat kemaknaan yaitu 95% α = 0,05. Apabila hasil perhitungan menunjukan nilai P value < 0,05 maka Ho ditolak, artinya kedua variabel secara statistik terdapat perbedaan yang bermakna. Apabila P value
> 0,05 maka Ho gagal ditolak, artinya kedua variabel secara statistik tidak ada perbedaan. Untuk mengetahui keeratan hubungan atau perbedaan digunakan Odds Ratio (OR). Analisa dilakukan secara komputerisasi untuk melihat pengaruh tingkat stres terhadap siklus menstruasi pada mahasiswi Tingkat Akhir di Universitas Binawan dengan cara melihat pengaruh antara subskor tingkat stres dan subskor gambaran siklus menstruasi.
25 BAB V
HASIL PENELITIAN
5.1 Hasil Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Universitas Binawan yang berlokasi di Jl.
Kalibata Raya No.25-30 Jakarta Timur. Adapun besar sampel pada penelitian ini sebanyak 50 Responden.
Data yang dikumpulkan adalah data yang berupa kusioner semua datanya telah disesuaikan dengan tujuan penelitian yang mengacu pada kerangka konsep dan teori yang telah dibuat. Kuesioner yang dibuat diberikan secara langsung kepada responden dengan menggunakan metode Google Form untuk diisi tanpa melalui proses wawancara.
5.2 Analisa Univariat
Analisa Univariat bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik setiap variable penelitian.
Tabel 5.2.1
Distribusi Frekuensi Usia Pada Mahasiswi Tingkat Akhir di Universitas Binawan Tahun 2021
VARIABEL FREKUENSI
(N)
PRESENTASE (%)
USIA
Kurang <21 Tahun 28 56%
Lebih >21 Tahun 22 44%
Total 50 100%
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan mahasiswi berdasarkan usia terhadap pengaruh tingkat stres terhadap siklus menstruasi pada mahasiswi Tingkat Akhir di Universitas Binawan Tahun 2021. Didapatkan sebanyak 28 orang (56%) usia <21 Tahun dan 22 orang (44%) usia >21 Tahun.
26 Tabel 5.2.2
Distribusi Frekuensi Riwayat Penyakit Pada Mahasiswi Tingkat Akhir di Universitas Binawan Tahun 2021
VARIABEL FREKUENSI
(N)
PRESENTASE (%) RIWAYAT
PENYAKIT
Tidak Ada Riwayat Penyakit
34 68%
Ada Riwayat Penyakit 16 32%
Total 50 100%
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan mahasiswi berdasarkan Riwayat Penyakit terhadap pengaruh tingkat stres terhadap siklus menstruasi pada mahasiswi Tingkat Akhir di Universitas Binawan Tahun 2021. Didapatkan sebanyak 34 orang (68%) Tidak ada riwayat penyakit dan 16 orang (32%) Ada riwayat penyakit.
Tabel 5.2.3
Distribusi Frekuensi Prodi Pada Mahasiswi Tingkat Akhir di Universitas Binawan Tahun 2021
VARIABEL FREKUENSI
(N)
PRESENTASE (%) PRODI
Kebidanan 25 50%
Keperawatan 8 16%
K3 3 6%
Gizi 4 8%
TLM 5 10%
Fisioterapi 5 10%
Total 50 100%
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan mahasiswi berdasarkan Prodi terhadap pengaruh tingkat stres terhadap siklus menstruasi pada mahasiswi Tingkat Akhir di Universitas Binawan Tahun 2021. Didapatkan sebanyak 25 orang (50%) Prodi Kebidanan, 8 orang (16%) Prodi Keperawatan, 3 orang (6%) Prodi K3, 4 orang (8%) Prodi Gizi, 5 orang (10%) Prodi TLM, dan 5 orang (10%) Prodi Fisioterapi.
27 Tabel 5.2.4
Distribusi Frekuensi Tingkat Stres Pada Mahasiswi Tingkat Akhir di Universitas Binawan Tahun 2021
VARIABEL FREKUENSI
(N)
PRESENTASE (%) TINGKAT
STRESS
Tidak Stress 3 6%
Stress Ringan 11 22%
Stress Sedang 9 18%
Stress Berat 27 54%
Total 50 100%
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan mahasiswi berdasarkan Tingkat Stress terhadap pengaruh tingkat stres terhadap siklus menstruasi pada mahasiswi Tingkat Akhir di Universitas Binawan Tahun 2021. Didapatkan sebanyak 3 orang (6%) Tidak Stress, 11 orang (22%) Stress Ringan, 9 orang (18%) Stress Sedang, dan 27 orang (54%) Stress Berat.
Tabel 5.2.5
Distribusi Frekuensi Siklus Menstruasi Pada Mahasiswi Tingkat Akhir di Universitas Binawan Tahun 2021
VARIABEL FREKUENSI
(N)
PRESENTASE (%) SIKLUS
MENSTRUASI
Normal 35 70%
Tidak Normal 15 30%
Total 50 100%
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan mahasiswi berdasarkan Siklus Menstrusi terhadap pengaruh tingkat stres terhadap siklus menstruasi pada mahasiswi Tingkat Akhir di Universitas Binawan Tahun 2021. Didapatkan sebanyak 35 orang (70%) Normal, dan 15 orang (30%) Tidak Normal.
28 5.3 Analisa Bivariat
5.3.1 Pengaruh Tingkat Stres Terhadap Siklus Menstruasi Pada Mahasiswi Tingkat Akhir Di Universitas Binawan Tahun 2021
Tabel 5.3.1
Pengaruh Tingkat Stres Terhadap Siklus Menstruasi Pada Mahasiswi Tingkat Akhir Di Universitas Binawan Tahun 2021
Tingkat Stress SIKLUS MENSTRUASI TOTAL P VALUE NORMAL TIDAK
NORMAL
N % N % N %
TIDAK STRESS 4 8,0% 2 4,0% 6 12,0% 0,036 STRESS 31 62,0% 13 26,0% 44 88,0%
TOTAL 25 70,0% 15 30,0% 50 100,0%
Berdasarkan hasil uji statistik didapatkan nilai probabilitas (p-value) sebesar 0,036 artinya P < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh tingkat stres terhadap siklus menstruasi pada mahasiswi Tingkat Akhir di Universitas Binawan Tahun 2021.
29 BAB VI PEMBAHASAN
6.1 Karakteristik Responden
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan mahasiswi berdasarkan usia terhadap pengaruh tingkat stres terhadap siklus menstruasi pada mahasiswi Tingkat Akhir di Universitas Binawan Tahun 2021. Didapatkan sebanyak 28 orang (56%) usia
<21 Tahun dan 22 orang (44%) usia >21 Tahun.
Masa remaja adalah masa transisi yang ditandai oleh adanya perubahan fisik, emosi dan psikis dimana masa ini adalah suatu periode pematangan organ reproduksi manusia, dan sering di sebut masa pubertas (Widyastuti, 2009).
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan mahasiswi berdasarkan Riwayat Penyakit terhadap pengaruh tingkat stres terhadap siklus menstruasi pada mahasiswi Tingkat Akhir di Universitas Binawan Tahun 2021. Didapatkan sebanyak 34 orang (68%) Tidak ada riwayat penyakit dan 16 orang (32%) Ada riwayat penyakit.
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan mahasiswi berdasarkan Prodi terhadap pengaruh tingkat stres terhadap siklus menstruasi pada mahasiswi Tingkat Akhir di Universitas Binawan Tahun 2021. Didapatkan sebanyak 25 orang (50%) Prodi Kebidanan, 8 orang (16%) Prodi Keperawatan, 3 orang (6%) Prodi K3, 4 orang (8%) Prodi Gizi, 5 orang (10%) Prodi TLM, dan 5 orang (10%) Prodi Fisioterapi.
6.2 Tingkat Stres pada Mahasiswi Tingkat Akhir di Universitas Binawan Berdasarkan hasil penelitian mengenai tingkat stres mahasiswi tingkat akhir, diketahui bahwa sebagian besar mahasiswi berada dalam kategori tidak stres sebanyak 6,0% (3 mahasiswi) kemudian di tingkat stress ringan sebanyak 22,0 % (11 mahasiswi) kemudian mahasiswi yang mengalami stres sedang sebanyak 18,0 % (9 mahasiswi) dan mahasiswi yang mengalami stres berat sebanyak 54,0 % (27 mahasiswa). Salah satu reaksi emosional yang ditimbulkan dari stres adalah kemarahan yang merupakan perasaan jengkel sebagai respon
30
terhadap situasi stres yang mungkin dapat menyebabkan agresi, hal ini sejalan dengan pendapat (IqbalWahit, 2015).
(Pasaribu, 2017) mengungkapkan reaksi terhadap stresor yaitu perasaan, respon yang terlihat dari perasaan adalah : cemas, mudah marah, tersinggung, murung dan merasa takut. Hal ini didukung oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh (Pasaribu, 2017), dimana hasil penelitian menunjukan bahwa stres yang paling banyak dialami oleh mahasiswi tingkat akhir di Universitas Binawan adalah stres berat sebanyak 54,0 % (27 mahasiswa).
Hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa mayoritas mahasiswa mengalami stres berat pada saat menyusun Tugas Akhir. Menurut (Priyoto., 2014) bahwa tingkat Stres berat adalah situasi yang lama dirasakan oleh seseorang dapat berlangsung beberapa minggu sampai beberapa bulan bahkan tahun, misalnya seperti mempunyai penyakit kronis, hubungan keluarga yang tidak harmonis, berpisah dengan keluarga, perubahan fisik, psikologis, sosial pada usia lanjut.
Hasil penelitian ini juga didukung dengan adanya penelitian yang mengemukakan bahwa faktor eksternal yang paling dominan mempengaruhi stres dalam penyusunan Tugas Akhir adalah lingkungan sosial, seperti lingkungan keluarga ataupun di lingkungan kampus, dan faktor internal yang paling dominan mempengaruhi stres dalam penyusunan skripsi adalah kemampuan intelektual (Sudarya I. Wayan., 2014)
Dalam periode ini terjadi perubahan yang sangat pesat dalam dimensi fisik, mental dan sosial. Masa ini juga merupakan periode pencarian identitas diri, sehingga remaja sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan. Umumnya proses pematangan fisik lebih cepat dari pematangan psikososialnya. Karena itu seringkali terjadi ketidakseimbangan yang menyebabkan remaja sangat sensitif dan rawan terhadap stres. Tugas-tugas perkembangan pada masa remaja yang disertai oleh berkembangnya kapasitas intelektual, stres dan harapan harapan baru yang dialami remaja membuat remaja mudah mengalami gangguan baik berupa gangguan pikiran, perasaan maupun gangguan perilaku (Asrinah, 2011).
Stres merupakan suatu respon fisiologis, psikologis dan perilaku dari manusia yang mencoba untuk mengadaptasi dan mengatur baik tekanan internal dan eksternal (stresor). Stresor dapat mempengaruhi semua bagian dari kehidupan seseorang, menyebabkan stres mental, perubahan perilaku, masalah-
31
masalah dalam interaksi dengan orang lain dan keluhan-keluhan fisik salah satunya gangguan siklus menstruasi. Dalam pengaruhnya terhadap pola menstruasi, stres melibatkan sistem neuroendokrinologi sebagai sistem yang besar peranannya dalam reproduksi wanita (Asrinah, 2011).
Menurut (Rohan, 2017) dampak yang timbul dari ketidakteraturan siklus menstruasi yang tidak ditangani segera dan secara benar adalah terdapatnya gangguan kesuburan, tubuh terlalu kehilangan banyak darah sehingga memicu terjadinya anemia yang ditandai dengan mudah lelah, pucat, kurang konsentrasi, dan tanda – tanda anemia lainnya. Ketidakteraturan siklus menstruasi juga merupakan indikator penting untuk menunjukkan adanya gangguan sistem reproduksi yang nantinya dapat dikaitkan dengan peningkatan resiko berbagai penyakit dalam sistem reproduksi, diantaranya kanker rahim, dan infertilitas.
Perubahan siklus menstruasi ini harus lebih diperhatikan, karena dapat mempengaruhi kualitas hidup remaja kedepannya (Sharma, 2014).
6.3 Siklus Menstruasi pada Mahasiswi Tingkat Akhir di Universitas Binawan Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 35 mahasiswi (70,0%) yang mengalami menstruasi normal dan 15 mahasiswi (30,0%) yang mengalami menstruasi tidak normal. Hal ini di dukung oleh penelitian (Banjarnahor, 2013) yang menunjukkan hasil mayoritas responden mendapatkan siklus menstruasi normal yaitu sebanyak 35 orang (70,0%).
Menurut peneliti siklus menstruasi mahasiswi Universitas Binawan Tahun 2021 menunjukkan bahwa sebanyak 35 orang (70,0%) mengalami siklus menstruasi normal dan hanya 15 orang (30,0%) yang mengalami siklus menstruasi tidak normal. Pada penelitian ini, usia responden berkisar antara 20- 22 tahun, di mana usia tersebut termasuk dalam masa reproduksi. Menurut Wiknjosastro, masa reproduksi yaitu masa sekitar usia 20-40 tahun. Selama masa reproduksi, secara umum siklus menstruasi teratur normal dan tidak banyak mengalami perubahan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Yamamoto et al terhadap 221 orang mahasiswi Universitas Fukuoka di Jepang dengan hasil sebanyak 161 orang (72,9%) mengalami siklus menstruasi normal dan hanya 60 orang (27,1%) yang mengalami siklus menstruasi tidak normal.
32
Menurut (Felicia, 2015) yang menjadi regulitas siklus menstruasi yang paling berpengaruh adalah hormon. Pengaturan hormone terganggu diakibatkan oleh banyak faktor , diantaranya stres, penyakit, perubahan rutinitas, gaya hidup dan berat badan. Selain itu faktor lain yang berpengaruh terhadap siklus menstruasi yaitu status gizi, kelainan uterus, kondisi fisik, penyakit ginekologi dan umur (Felicia, 2015. Siklus menstruasi yang tidak normal polimenorea siklus yang lebih pendek kurang dari 21 hari, oligomenorea siklus yang lebih panjang lebih dari 35 hari, amenorae dibagi menjadi 2 primer dan skunder.
Primer apabila 18 tahun ke atas tetapi belum mengalami menstruasi dan skunder pernah mengalami menstruasi tapi sedikitnya 3 bulan berturut-turut tidak mendapatkannya lagi.
6.4 Pengaruh Tingkat Stress Terhadap Gangguan Siklus Menstruasi Pada Mahasiswi Tingkat Akhir Di Universitas Binawan
Berdasarkan hasil uji Chi Square didapatkan nilai probabilitas (pvalue) sebesar 0,036 artinya P < 0,05, sehingga dapat disimpulkan terdapat Pengaruh Tingkat Stress Terhadap Gangguan Siklus Menstruasi Pada Mahasiswi Tingkat Akhir Di Universitas Binawan hal ini sejalan dengan penelitian yang dikalukan oleh (Iryani, 2017) dengan judul Hubungan antara Stres dengan Pola Siklus Menstruasi Mahasiswa Fakultas Kedokteran Andalas yaitu 36 dari 39 responden mengalami stres ringan, sedang, berat mengalami siklus menstruasi normal sebanyak 92,3 %.
Stres akan memicu pelepasan hormon kortisol dimana hormon kortisol ini dijadikan tolak ukur untuk melihat derajat stres seseorang. Hormon kortisol di atur oleh hipotalamus otak dan kelenjar pituitari, dengan di mulainya aktivitas hipotalamus, hipofisis mengeluarkan hormon FSH (Follicle Stimulating Hormone), dan proses stimulus ovarium akan menghasilkan estrogen. Jika terjadi gangguan pada hormon FSH (Follicle Stimulating Hormone), dan LH (Lutenizing Hormon), maka akan mempengaruhi produksi estrogen dan progesteron yang menyebabkan ketidak teraturan siklus menstruasi. (Iryani, 2017).
Pada studi yang telah ditelaah ditemukan empat dari tujuh studi membahas stres sebagai faktor ketidakteraturan siklus menstruasi. Dari artikel yang telah
33
ditelaah pada hasil penelitian Lim et al (2018) menyatakan bahwa di antara semua remaja Korea yang diperiksa, 19,4% melaporkan ketidakteraturan siklus menstruasi. Ada hubungan stres dengan ketidakteraturan siklus menstruasi.
Dalam pengaruhnya terhadap siklus menstruasi, stres melibatkan system neuroendokrinologi sebagai sistem yang besar peranannya dalam reproduksi wanita. Gangguan pada siklus menstruasi ini melibatkan mekanismeregulasi intergratif yang mempengaruhi proses biokimia dan seluler seluruh tubuh termasuk otak dan psikologis. (Kusmiran E. , 2014)
Pada penelitian yang dilakukan Yu et al (2017) yang menyatakan bahwa tingkat stres tinggi, suasana hati depresi, dan konseling psikologis dikaitkan dengan peningkatan risiko ketidakteraturan siklus menstruasi. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kurniasari et al ( 2018) mengatakan sebanyak 75,3% siswa perempuan menderita siklus haid tidak teratur, 65,2%
mengalami stres ringan dan siklus menstruasi tidak teratur, secara statistik diperoleh nilai p-value sebesar 0,004 (p< 0,05) sampai tingkat stress. Ada hubungan antara stress dengan ketidakteraturan siklus menstruasi. Didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Hidayatul et al (2020) yang menyatakan bahwa sebesar 89,7% siswi dengan stres berat mengalami ketidakteraturan siklus menstruasi sehingga didapatkan adanya hubungan antara stres dengan ketidakteraturan siklus menstruasi.