Kegembiraan dan dorongan untuk melengkapi isi buku ini merupakan panggilan untuk menyumbangkan pemikiran tentang pembelajaran ayat, khususnya di kalangan guru dan pendidik. Inspirasi belajar ayat-ayat memberikan kreativitas dan kesadaran baru bagi siswa yang belum mengoptimalkan peran otak dalam pengajaran peserta belajar (peserta didik atau siswa). Dan banyak ayat Alquran yang memberikan inspirasi untuk berpikir rasional, bukan dogmatis.
Buku ini memuat empat bab, bab pertama membahas tentang kriteria pembelajaran ayat, yang didalamnya membahas tentang kriteria pembelajaran ayat dan arah pembelajaran dalam Al-Qur'an. Di dalamnya dijelaskan ayat ajaran antara burung gagak dan qabil serta ayat ajaran antara matahari, bulan dan bintang dengan Nabi Ibrahim. Dalam pembahasan ini ada dua hal yang perlu disampaikan yaitu kriteria pembelajaran ayat dan arah proses pembelajaran.
Selanjutnya ayat-ayat tersebut dikelompokkan menjadi tiga tema pokok pembelajaran berupa ayat tekstual, kontekstual, dan kontekstual-implisit. Dalam hal ini ayat teksnya menggunakan kata allama-yuallimu (belajar-belajar).
Arah Pembelajaran dalam al-Quran
Menurut Qurasih Shihab, kata “ilmu” dalam berbagai bentuknya diulang sebanyak 854 kali.10 Sedangkan menurut Abdus Salam, ada 750 ayat dalam Al-Qur’an. Ahmad, Islam Sebagai Terdakwa, (Bandung: Arasy Mizan, 2004), edisi terjemahan, h. 10M. Qurasih Shihab, Wawasan Al-Qur'an, Tafsir Maudu'i Berbagai Permasalahan Umat, Bandung: Mizan, 1996), cetakan. Secara umum ayat-ayat Al-Quran yang mengandung kata 'ilm pada umumnya berbicara tentang tema sentral ilmu pengetahuan sebagai penyelamat umat manusia dari berbagai kehancuran baik di dunia maupun di akhirat.
Semua ayat-ayat yang memuat proses pengajaran yang disebutkan dalam ayat-ayat pengajaran tersebut dilengkapi dengan media langsung (konkret) yang dapat dilihat secara sederhana, termasuk permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan hal gaib atau ghaib. Tentu saja antara ayat pengajaran dengan ayat pengajaran lainnya, medianya berbeda satu sama lain. Misalnya cara menguburkan orang mati, Allah mengutus seekor burung untuk menunjukkan bagaimana burung gagak mencakar tanah di hadapan Habil.13 Artinya, dalam hal tertentu proses pembelajaran harus didemonstrasikan secara langsung, tanpa ceramah, bahkan tanpa ceramah. dan tampilan langsung sehingga siswa dapat memahaminya secara langsung.
13 Dalam tafsir lain, burung gagak tidak menggaruk tanah, tetapi kedua burung gagak itu berkelahi di depan Habel dan salah satunya mati, sehingga burung yang hidup menggaruk tanah dan menguburkan burung yang mati. Dengan demikian, arahan yang terkandung dalam ayat-ayat pembelajaran sebenarnya adalah mengajak manusia berpikir rasional dengan bantuan media konkrit.
BAB II
Pembelajaran Langsung Allah dengan Nabi Adam
او
Pembelajaran Tidak Langsung Allah - Manusia
- Pembelajaran Allah – Nabi Daud
Pengajaran Allah secara tidak langsung kepada manusia diturunkan melalui dua periode, yaitu ajaran dengan Nabi Daud (saw) dan ajaran dengan Nabi Ibrahim (saw). Dalam beberapa ayat terdapat proses pengajaran yang dilakukan Allah secara tidak langsung kepada manusia lain, namun dalam tulisan ini kita hanya menemukan dua jenis proses pengajaran yaitu pengajaran Allah dengan Nabi Daud dengan menggunakan media besi dan pengajaran Allah dengan Nabi Ibrahim dengan menggunakan burung sebagai medianya. . Adapun ayat yang menjelaskan bagaimana Allah memerintahkan Nabi Daud untuk membuat baju besi sebagai alat perlindungan terhadap perang dengan Jalut, terungkap dalam surat al-Anbiya 'ayat 80 sebagai berikut.
Maksudnya: Dan Kami telah mengajar Daud membuat baju besi untuk kamu untuk melindungi kamu dalam peperangan kamu; Maka hendaklah kita bersyukur (kepada Allah). 20. Berkaitan dengan baju besi yang dibuat oleh Nabi Daud dalam keadaan genting kerana berhadapan dengan musuh bernama Jalut. Kandungan ayat di atas mengandungi pelbagai unsur proses pembelajaran dari ayat di atas seperti berikut: Pertama, Tuhan sebagai murid.
Dalam ayat ini secara tidak langsung Allah berperan sebagai murid, karena Allah menyampaikan hal tersebut kepada Nabi Daud melalui mimpi atau wahyu yang disampaikan dengan cara lain. Dalam hal ini Nabi Daud belajar cara membuat baju besi dengan bimbingan Tuhan, mulai dari mencari bahan yang mengandung unsur besi, membuat pola, dan menundukkan besi tersebut agar bisa melunak sesuai dengan kehendak nabi Daud.
ديِدَحْلا١٠
Pembelajaran Allah dengan Nabi Ibrahim
ميِكَح ٌزي ِزَع٢٦٠
Pembelajaran Allah dengan Nabi Yusuf dan Zulaikha
ني ِح ىَّتَح ٣٥
Pembelajaran Nabi Khidir – Nabi Musa
ءاَش نِإ يِنُد
Pembelajaran Nabi Musa dengan Fir’aun
Proses pengajaran Firaun dan pegawai-pegawainya kepada Nabi Musa melalui mukjizat tongkatnya yang kemudian berubah menjadi ular adalah kisah benar yang ditunjukkan Allah kepada hamba-Nya yang sangat sombong dan bertaqwa. Kisah ini memberi pengajaran yang besar kepada umat manusia di muka bumi ini agar tidak cuba menyombongkan diri di hadapan Allah SWT.
ني ِرِشاَح
ه ْاوُبِلُغَف ﴾ ١١٨
نيِد ِجاَس
دَمْلا
نوُبِلَقنُم١٢٥
Menurut Abu Ja'far Muhammad ibn Jarir al-Thabari al-Thabari (w. 310 H.), ayat 103-106 menjelaskan kesinambungan makna kinayah, yang mengandungi sebutan nabi-nabi seperti Nuh as., Hud as. . , Salih as., Luth as., Syuaib as., dan Musa ibn 'Imran disebutkan dalam ayat ini. Ini kerana Firaun dan kumpulannya tidak percaya dengan ayat-ayat atau tanda-tanda kekuasaan Allah yang dibawa oleh Musa. 39 Lihat Abu Ja'far Muhammad ibn Jarir al-Thabari, Jami' al-Bayan 'an Ta'wil Ayyi al-Qur'an.
Faktanya, menurut cerita Ibnu 'Abba, ketika Firaun tiba di istana (tempat tidur singa aslinya), dia meminta bantuan Musa (as). Selain itu, dalam ayat ini, beberapa orang, termasuk para petinggi kelompok Fir'aun, meyakini apa yang dilakukan Musa (as). Dalam dua ayat 112-122, al-Tabari menjelaskan bahwa Firaun memerintahkan para pangeran dan rakyatnya untuk mengumpulkan penyihir dari berbagai kota.
Bahkan salah satu riwayat Ibnu Abbas mengatakan: 'Ketika orang Majus mendatangi Firaun dan bertanya kepadanya; dengan apa yang harus kupesona. Firaun pun menjawab; kamu adalah saudaraku dan orang-orang dekatku, dan aku akan berbuat sesukamu. Singkatnya, kesaktian yang dibawa Sahara setelah menjadi ular besar terasa membahagiakan dan membahagiakan, namun kegembiraan itu berakhir tidak lama setelah Musa. Dalam ayat 123-126, al-Tabari menjelaskan bahwa Firaun mengancam kaum Sahara jika mereka beriman kepada Allah.
Hukuman atau hukuman yang diberikan Firaun kepada mereka adalah memotong kaki dan tangan mereka secara bergantian dan kemudian mereka semua disalib secara fisik. Pada penilaian akhir Firaun gagal atau gagal karena tidak mau mengakui kemenangan Musa alias Firaun tetap kafir. 41 Lihat Abu Ja'far Muhammad ibn Jarir al-Tabari, Jami' al-Bayan 'an Ta'wil Ayyi al-Qur'an., hal.
Proses belajar Nabi Musa dengan Firaun mengingatkan kita semua bahwa manusia tidak bisa memposisikan dirinya sebagai Tuhan, baik secara sembunyi-sembunyi maupun di depan umum, apalagi secara terang-terangan. Bahkan Allah menunjukkan dengan kekuasaannya bahwa jenazah Fir'aun yang mengaku sebagai Tuhan itu masih utuh hingga saat ini. Namun di dalam diri Nabi Musa mampu mengatasinya dengan ilmu dan kekuasaan yang jauh lebih besar dan kuat dibandingkan ilmu dan kehebatan serta kekuasaan Fir'aun.
BAB IV
Pembelajaran antara Burung dengan Qabil
فىىْيَك
Pembelajaran Matahari, Bulan, dan Bintang dengan Nabi Ibrahim
Pengalaman Nabi Ibrahim ketika mula-mula mencari Tuhan yang benar (sebenarnya) tercatat dalam Surat al-An'am ayat 74 hingga 83. Inilah hikmah yang berkaitan dengan kekufuran sebahagian kaum kerabat Nabi yang rapat dengannya, seperti cth. kekufuran ibu bapa Ibrahim, yang sangat diungkapkan Al-Qur'an 47, kisah anak Nabi Nuh. Dalam ayat 75-78, menurut pandangan Muhammad Rasyid Ridha, Allah SWT memberikan berita kebenaran kepada Nabi Ibrahim.
Allah SWT juga memberitahu Nabi Ibrahim tentang proses memerhati dan menghayati apa yang terhasil daripada kerajaan langit dan bumi (seperti bintang, matahari, bulan dan kaum Ibrahim yang menyembah berhala, matahari dan sebagainya). 48 Lihat Muhammad Rashid Ridha, Tafsir Al-Qur'an al-Hakim al-Syahir at Tafsir al-Mannar. Istilah kerajaan yang disebut dalam al-Quran al-Malakut atau al-Mulk al-'Azhim wa al-'Izz wa al-Sulthan menurut konsep tasawuf ialah alam ghaib dari segi istilah.
49 Lihat Muhamed Rasyid Ridha, Tefsir El-Kur’an el-Hakim el-Syahir bi Tefsir el-Mannar. 50 Lihat Muhamed Rasyid Ridha, Tefsir El-Kur’an el-Hakim el-Syahir bi Tefsir el-Mannar. 51 Lihat Muhamed Rasyid Ridha, Tefsir El-Kur’an el-Hakim el-Syahir bi Tefsir el-Mannar.
Nabi Ibrahim mencari Tuhan yang sebenar, bukan Tuhan yang simbolik seperti berhala atau batu besar atau tempat suci. Sebagai medium konkrit dalam belajar tentang Tuhan, Nabi Ibrahim menggunakan media matahari, bulan dan bintang. Kelima, kaedahnya ialah pemerhatian langsung, di mana nabi Ibrahim sentiasa memerhatikan tiga benda langit, tetapi tidak ada yang memuaskannya dan meyakinkannya bahawa perkara-perkara itu tidak boleh dan tidak layak untuk Tuhan.
Hasil evaluasi akhir menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim as (berhasil) menemukan dan meyakini dirinya bahwa Tuhan yang hakiki (esensial) adalah Tuhan yang menciptakan matahari, bulan dan bintang yaitu Allah SWT. Dengan menemukan Tuhan yang sebenarnya di balik matahari, bulan dan bintang, Nabi Ibrahim terhindar dari penyembahan kesyirikan atau penyekutuan dengan Tuhan. Dalam hal ini Nabi Ibrahim selamat dari dosa syirik yang sangat besar dan tidak terampuni di sisi Allah.