PENDAHULUAN
Latar Belakang
Rumusan Masalah
Batasan Masalah
Tujuan Penelitian
- Tujuan Penelitian Umum
- Tujuan Penelitian Khusus
Manfaat Penelitian
- Bagi Peneliti
- Bagi Program Studi
- Bagi Masyarakat
TINJAUAN PUSTAKA
Kadar Hemoglobin
- Definisi
- Struktur Hemoglobin
- Pembentukan Hemoglobin
- Katabolisme Hemoglobin
- Fungsi Hemoglobin
- Faktor-faktor yang mempengaruhi Kadar Hemoglobin
- Dampak Penurunan Kadar Hemoglobin
- Cara Mengatasi Kurangnya Hemoglobin
- Cara Pengukuran Kadar Hemoglobin
Hemoglobin mengikat 2 proton untuk setiap 4 molekul oksigen yang dilepaskan sehingga hemoglobin merupakan buffer utama dalam darah (Tartowo, 2010). Hemoglobin mempunyai afinitas (kekuatan kombinasi) terhadap oksigen dan oksigen membentuk oksihemoglobin dalam sel darah merah, melalui fungsi ini oksigen diangkut dari paru-paru ke jaringan (Evelyn, 2011). Hemoglobin adalah suatu zat protein yang terdapat pada sel darah merah (eritrosit) yang memberi warna merah pada darah dan merupakan pembawa oksigen utama dalam tubuh.Hemoglobin terdiri dari dua bagian utama yaitu heme dan globin.
Eritrosit adalah sel darah merah, atau jenis sel darah yang paling umum, berfungsi membawa oksigen ke jaringan tubuh melalui pembuluh darah.Sel ini berbentuk seperti cakram bikomatosa, cekung pada kedua sisinya, sehingga jika dilihat dari samping, mereka tampak seperti dua bulan sabit yang berdiri di atas satu sama lain, saling berhadapan.. Rata-rata terdapat 5.000.000 sel darah dalam setiap milimeter kubik darah (Evelyn, 2011). Jika sel darah merah tua dihancurkan dalam sistem makrofag jaringan, bagian dalam molekul hemoglobin dan heme dipisahkan. Jumlah normal Hb dalam darah adalah sekitar 15 gram per 100 ml darah, dan jumlah ini biasa disebut “100 persen”.
Jika makanan yang dimakan banyak mengandung Fe atau zat besi maka jumlah sel darah yang dihasilkan akan meningkat, sehingga hemoglobin dalam darah akan meningkat. Kelainan sel darah merah dapat berupa ukuran yang sangat kecil dan bentuk bulat, kandungan hemoglobin dalam darah yang tidak normal, dan reaksi antibodi yang tidak normal dalam darah sehingga membuat sel darah merah menjadi rapuh. Kondisi ini dapat menyebabkan anemia berat. Pada pendarahan yang cepat, tubuh akan mencoba mengganti cairan plasma dalam waktu satu hingga tiga hari sehingga menyebabkan konsentrasi sel darah merah turun.
Jika pendarahan tidak berlanjut, konsentrasi sel darah merah akan kembali normal dalam waktu tiga hingga enam minggu. Pada kehilangan darah kronis, tubuh tidak dapat mengeluarkan cukup zat besi dari usus untuk membentuk hemoglobin secepat darah hilang, sehingga terbentuk sel darah merah yang jauh lebih kecil dari biasanya dan mengandung sedikit hemoglobin. Jadi, penurunan kadar hemoglobin dalam darah akan mengakibatkan berkurangnya pasokan oksigen ke organ vital seperti otak dan jantung.
Jika rendahnya hemoglobin dalam darah disebabkan oleh anemia, maka langkah selanjutnya adalah dengan mengonsumsi suplemen nutrisi penambah darah atau bisa juga dengan melakukan transfusi darah. Penelitian ini didasarkan pada warna darah, karena Hb berperan dalam memberi warna pada eritrosit. Konsentrasi Hb dalam darah sebanding dengan warna darah. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan membandingkan warna darah dengan warna standar yang diketahui konsentrasi hemoglobin dalam satuan persentase. Prinsip pemeriksaan strip tes hemoglobin adalah dengan menempelkannya pada alat. Ketika darah memasuki zona reaksi strip tes, katalis hemoglobin akan mengurangi hemoglobin dalam darah. Intensitas elektron yang terbentuk pada strip sama dengan konsentrasi hemoglobin dalam darah.
Seksio Sesarea
- Defenisi
- Klasifikasi Seksio Sesarea
- Indikasi Seksio Sesarea
- Pemeriksaan yang dilakukan Sebelum Seksio Sesarea
- Prosedur Operatif Seksio Sesarea
- Komplikasi Seksio Sesarea
- Faktor Predisposisi
Operasi caesar dilakukan pada waktu yang disesuaikan dengan keinginan ibu dan kemauan tim ibu. Operasi caesar dilakukan jika persalinan pervaginam tidak dapat dilakukan atau menimbulkan risiko yang tidak perlu bagi ibu atau janin. Dalam beberapa kasus, penilaian yang baik diperlukan untuk menentukan apakah operasi caesar atau persalinan pervaginam lebih tepat (DeCherney et al., 2011).
Operasi caesar dilakukan sesuka hati tanpa ada indikasi dari ibu atau janin untuk melakukan operasi caesar. Beberapa alasan mendasar mengapa ibu ingin melahirkan melalui operasi caesar adalah rasa sakit saat melahirkan, rasa takut menghadapi persalinan pervaginam, keinginan untuk melahirkan pada waktu yang direncanakan, pencegahan rasa sakit ibu berupa Namun operasi caesar yang dilakukan atas permintaan ibu memiliki beberapa risiko, yaitu lama rawat inap yang lebih lama, peningkatan risiko gangguan pernafasan pada bayi, kemungkinan terjadinya komplikasi pada kehamilan selanjutnya lebih besar, antara lain ruptur uteri, masalah implantasi plasenta. dan histerektomi (Kongres Ahli Obstetri dan Ginekologi Amerika, 2013).
Primigravida lanjut adalah suatu kondisi dimana seorang wanita mengalami kehamilan pertamanya pada usia 35 tahun atau lebih (Evelyn 2010). Sehubungan dengan diagnosis janin, rekomendasi dari American Academy of Pediatrics dan American College of Obstetricians and Gynecologists (2010) adalah bahwa operasi caesar harus dimulai dalam waktu 30 menit setelah keputusan dan pelaksanaan operasi. Ketuban pecah dini adalah suatu kondisi dimana selaput ketuban pecah sebelum terjadi tanda-tanda persalinan pada pasien dengan usia kehamilan lebih dari 37 minggu (Jazayeri, 2013).
Plasenta previa adalah suatu kondisi dimana letak plasenta berada pada atau sangat dekat dengan tulang leher rahim bagian dalam (Khrisna dkk, 2010). Persalinan lama didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana persalinan mempunyai permulaan teratur, kontraksi uterus berirama disertai dilatasi serviks, namun lama persalinan lebih dari 24 jam (WHO, 2010). Perdarahan pascakelahiran primer terjadi dalam 24 jam pertama setelah melahirkan dan perdarahan sekunder terjadi antara 24 jam hingga 6-12 minggu.
Ada banyak faktor risiko yang dapat menyebabkan terjadinya perdarahan setelah melahirkan, salah satunya adalah pembedahan.Pembedahan ini melibatkan kerusakan pada rahim yaitu operasi caesar. Ibu hamil yang berusia <20 tahun dan >35 tahun lebih besar kemungkinannya mengalami perdarahan postpartum. Ibu yang berpendidikan rendah mempunyai risiko dua kali lebih besar untuk mengalami perdarahan nifas dibandingkan ibu yang berpendidikan tinggi. Pendidikan diyakini mendahului terjadinya perdarahan postpartum.
Transfusi darah
- Defenisi
- Transfusi Darah Pasca Operasi
METODE PENELITIAN
- Jenis Penelitian
- Waktu dan Tempat Penelitian
- Populasi dan Sampel
- Populasi
- Sampel
- Persiapan Penelitian
- Persiapan Alat
- Persiapan Bahan
- Prosedur Kerja
- Prosedur Pengambilan Darah Vena
- Prosedur Pemeriksaan hemoglobin
- Interpretasi Hasil
- Teknik Pengolahan dan Analisa data
Talib Kerinci pada bulan Maret sampai April 2020 pada 100 pasien sebelum dan sesudah operasi caesar, data diambil secara acak dengan melihat gambaran kadar hemoglobin. Pada Tabel 4.1 di atas terlihat bahwa pasien sebelum dan sesudah operasi caesar sebagian besar berusia antara 31-40 tahun (51%), sebagian besar (77%) berpendidikan SMA. Pada tabel 4.2 di atas terlihat bahwa pasien pra operasi caesar yang tidak mendapat transfusi darah sebagian besar mempunyai kadar hemoglobin normal sebesar 87%, setelah operasi caesar sebagian besar 61% mempunyai kadar hemoglobin rendah.
Pada tabel 4.3 diatas terlihat bahwa sebagian besar dari 51% pasien pre operasi caesar memiliki kadar hemoglobin normal pada usia 31-40 tahun dengan rata-rata kadar hemoglobin 10,51 gr/dl, sedangkan pasca operasi mayoritas pada usia 31-40 tahun. berusia 20-30 tahun (21%) dengan rata-rata kadar hemoglobin 10,51 gr/dl. Pada tabel 4.4 diatas, pasien bagian sebelum dan sesudah operasi mayoritas mempunyai pendidikan SMA dengan rata-rata kadar hemoglobin sebelum operasi 11,78 gr/dl dan pasca operasi 10,15 gr/dl. Hal ini sesuai dengan Tia dkk (2016) yang menemukan bahwa 87% mengalami penurunan kadar hemoglobin, dengan rerata hemoglobin pra operasi sebesar 12,4 gr/dl dan rerata pasca operasi sebesar 11,3 gr/dl dengan selisih 1,1 gr/dl.
Hal ini didukung oleh teori Tarwoto (2012) yang menyatakan bahwa setiap perempuan melahirkan akan terjadi pendarahan, jika darah keluar maka akan terjadi penurunan kadar hemoglobin. Hasil penelitian berdasarkan umur diketahui kelompok umur 21-30 tahun sebanyak 49 orang (49%) dengan rata-rata kadar hemoglobin sebelum operasi 11,83 dan sesudah operasi 10,51. Berdasarkan pendidikan diketahui kelompok pendidikan menengah atas berjumlah 23 orang (23%) dengan rata-rata kadar hemoglobin sebelum operasi 11,73 gr/dl dan setelah operasi 10,25 gr/dl.
Pasien berpendidikan SMA sebanyak 77 orang (77%) dengan rata-rata kadar hemoglobin sebelum operasi 11,78 gr/dl dan pasca operasi 10,15 gr/dl. Menurut WHO, kadar hemoglobin normal pada ibu hamil adalah 11 gr/dl, ibu hamil berisiko lebih besar terkena anemia (kadar Hb rendah) karena ibu hamil yang kekurangan zat besi tidak memiliki cukup sel darah merah yang sehat untuk membawa cukup oksigen ke darah. setiap sel dalam jaringan tubuh Selama kehamilan, kadar hemoglobin sering kali ditemukan menurun daripada meningkat. Berdasarkan temuan penelitian, gambaran kadar hemoglobin pada pasien sebelum dan sesudah operasi caesar yang tidak mendapat transfusi darah di Rumah Sakit Daerah Mayjen H.
Pasien sebelum dan sesudah operasi caesar yang tidak mendapat transfusi darah sebagian besar mengalami penurunan, rata-rata kadar Hb sebelum operasi adalah 11,9 gr/dl dan pasca operasi 10,2 gr/dl dengan selisih 1,7 gr/dl. Peneliti masa depan harus mewaspadai faktor-faktor yang mempengaruhi naik turunnya kadar hemoglobin, seperti riwayat penyakit saat ini, tempat tinggal, dan asupan makanan. Gambaran penurunan kadar hemoglobin saat operasi caesar pada pasien obesitas, operasi caesar berulang dan usia >35 tahun di RS Prikasih tahun 2014.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Pemeriksaan hemoglobin menggunakan metode Hematology Analyzer, datanya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Pembahasan
Hal ini berbeda dengan teori yang menyatakan bahwa ibu yang berpendidikan rendah mempunyai kemungkinan dua kali lebih besar untuk mengalami perdarahan postpartum dibandingkan ibu yang berpendidikan tinggi.Pendidikan diduga mendahului terjadinya perdarahan postpartum. Suaratin (2010) mendukung teori bahwa kehamilan akan lebih aman karena tingkat pendidikan yang tinggi. Ibu yang berpendidikan cenderung menikah pada usia lebih tua, menunda kehamilan, ingin mengikuti keluarga berencana (KB), dan mencari layanan kehamilan dan persalinan.
Selain itu, ibu yang berpendidikan rendah cenderung mencari pengobatan tradisional saat hamil/melahirkan, serta memilih makanan yang kurang bergizi. Hal ini disebabkan karena pada masa kehamilan kebutuhan zat gizi meningkat dan terjadi perubahan pada darah yaitu peningkatan volume plasma yang relatif lebih besar dibandingkan dengan peningkatan massa hemoglobin dan volume sel darah merah. Oleh karena itu, faktor-faktor tersebut membuat operasi caesar lebih mungkin menyebabkan perdarahan pasca melahirkan dibandingkan persalinan normal melalui vagina.
Karakteristik ibu yang melahirkan secara sesar dan dirawat di RSUD Sidikalang pada tahun 2015.
PENUTUP
Kesimpulan
Saran