PROFIL KECEMASAN ORANGTUA YANG BERTANI UNTUK MELANJUTKAN PENDIDIKAN ANAKNYA
KE PERGURUAN TINGGI
ARTIKEL
Oleh:
REZI RAHMADATUTI NPM: 11060111
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP) PGRI SUMATERA BARAT PADANG
2015
1
PROFIL KECEMASAN ORANGTUA YANG BERTANI UNTUK MELANJUTKAN PENDIDIKAN ANAKNYA
KE PERGURUAN TINGGI
By:
Rezi Rahmadatuti *
Dr. Yuzarion Zubir, S. Ag., S. Psi., M.Si
**
Alfaiz, S. Psi.I., M. Pd
**Student Guidance and Counseling, STKIP PGRI Sumatera Barat
ABSTRACT
This research was based of problem that found about a parents anxiety to their children education. A purpose of this research to describe a level parent anxiety about their chlidren education in university grade that seek from physic, emotional, and cognition. This study to describe parental anxiety levels against the continuation of the education of children to universities seek from the components of physical, emotional, mental or cognitive. The research is a qualitative descriptive approach, with research informants four couple of parents and four children. To collect a data using form of interviews. While the data analyzed using reduction, display and conclusion.
Results from this research are: (1) The parents anxiety is often expertenced in the physical components (2) The problem of anxiety is often expertenced in the emotional component (3) The parents anxiety is often epertenced in the mental or cognitive.
Key word:.. Anxiety, parents farm, hildren's education, to college PENDAHULUAN
Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya dimasa yang akan datang (Hasbullah, 2008:4). Tingkat pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai dan kemauan yang dikembangkan. Tingkat pendidikan berpengaruh terhadap perubahan sikap dan perilaku hidup sehat. Tingginya rata-rata tingkat pendidikan masyarakat sangat penting bagi kesiapan bangsa menghadapi tantangan global di masa depan .
Sehubung dengan ini Menurut Indrajid dan Djokopranoto (2006:3) Perguruan Tinggi adalah pendidikan pada jalur pendidikan sekolah pada jenjang yang lebih tinggi dari pada menengah. Pendidikan Tinggi yang diselenggarakan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik atau profesional, untuk dapat menerapkan sistem
Pendidikan Tinggi diharapkan merupakan suatu sistem yang memudahkan seseorang menuntut pendidikan tinggi sesuai dengan bakat, minat dan tujuannya, meskipun dengan tetap mempertahankan persyaratan- persyaratan pendirian program studi yang bersangkutan.
Orangtua memegang peranan penting bagi pendidikan anaknya yaitu sebagai pendidik yang utama, juga sebagai penyandang dana dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan anaknya tersebut.
Menurut Junaidi (2012:80) kecemasan merupakan suatu respon terhadap stres, seperti putusnya suatu hubungan yang penting atau mengalami peristiwa yang menguncang jiwa, bencana yang mengancam jiwa, dan sebagainya. Kecemasan juga bisa merupakan suatu rekasi terhadap dorongan seksual atau dorongan agresif yang tertekan, yang bisa mengancam pertahanan psikis yang secara normal mengendalikan dorongan tersebut
.
1
Pada masa sekarang banyaknya orangtua yang ingin melanjutkan pendidikan anaknya pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan ada juga orangtua yang tidak ingin melanjutkan pendidikan anak ke Perguruan Tinggi dipengaruhi, faktor ekonomi, rasa khawatir dan kecemasan itu selalu ada, karena dalam menuju pencapaian pada tingkat itu tidak mudah, terlebih dari latar belakang keluarga yang tidak mampu dari jenis pekerjaan yang ada dan hasil yang belum memuaskan, pada dasarnya orangtua adalah tolak ukur pertama pada pencapaian tingkat pendidikan, semua orangtua ingin anaknya bisa duduk dibangku perguruan tinggi tak ada orangtua yang tidak menginginkan anaknya berhasil dan mencapai sekolah yang lebih tinggi.
Jadi, kecemasan orangtua yang bertani Kecemasan orangtua itu muncul dilihat dari banyaknya pengeluaran dari pada penghasilan. Penyelesaian untuk menghilangkan kecemasan orangtua tersebut, kecemasan orangtua itu menyebabkan anak menjadi rendah diri dengan melihat teman- temanya yang berlatar belakang dari keluarga yang mampu untuk melanjut kejenjang yang lebih tinggi, rasa sedih, dan iba pada diri dengan membandingkan keadaan keluarganya dengan keadaan keluarga teman yang mampu, di kenagarian ini untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari orangtua hanya memanfaatkan hasil tani, pada dasarnya orangtua selalu memberikan semangat anak, terkadang anak berfikir bahwa orangtuanya tidak akan mampu, perasaan rendah diri itu selalu muncul pada diri anak disaat orang tua membahas masalah Perguruan Tinggi.
Berdasarkan observasi yang dilakukan di kanagarian Barung-Barung Balantai pada Rabu 4 Februari 2015 bahwa mayoritas di Kanagarian itu bekerja sebagai petani banyak orangtua yang ingin memasukan anaknya ke Perguruan Tinggi, tetapi dilihat dari latar belakang keluarga yang kurang mampu dan dari hasil tani yang dimanfaatkan serta ada sebagian petani yang tidak mempunyai lahan sendiri, yang diolah dari milik orang lain hal itu yang lebih mencemasakn orangtua untuk memasukan anaknya ke Perguruan Tinggi, karena hasil olahan harus dibagi.
Selain itu peneliti juga melakukan wawancara dengan salah satu orangtua yang bekerja sebagai petani di Kanagarian Barung-
Barung Balantai Kecamatan Koto XI Tarusan Pesisir Selatan pada Jumat 6 Februari 2015, bahwa pada dasarnya orangtua disekitar kenagarian itu bekerja sebagai petani, pada pencapaian tingkat kesuksesan anaknya orangtua sangat ingin memasukan anaknya kejenjang yang lebih tinggi, itu semua diimpikan oleh semua orangtua, dari wawancara itu seorang petani juga mengungkapkan bahwa sebagai sebagai petani penghasilannya kadang banyak dan terkadang sedikit, dilihat dari keadaan cuaca dan keadaan subur atau tidaknya jenis tanah dan banyak unggas.
Apabila masalah kecemasan ini tidak dilakukan penyelesaian dengan baik, maka masalah ini akan berlanjut pada setiap diri anak yang ingin melanjutkan pendidikannya begitu juga pada orangtua yang selalu dihantui rasa kecemasan yang begitu tinggi.
Berdasarkan uraian permasalahan di Kanagarian Barung-Barung Balantai di atas peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul yang “Profil kecemasan orangtua yang bertani untuk melanjutkan Pendidikan anaknya ke Perguruan Tinggi.
METODE PENELITIAN
Berdasarkan permasalahan dan tujuan penelitian yang telah ditetapkan, maka dapat ditentukan bahwa penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang menghasilkan data deskriptif. Penulis menggambarkan profil kecemasan orangtua yang bertani untuk melanjutkan pendidikan anaknya ke perguruan tinggi di Kenagarian Barung-Barung Balantai Kecamatan Koto XI Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 31 Agustus- 08 September 2015.
Informan pada penelitian ini yaitu informan kuci sebanyak 4 pasang orangtua yaitu ADT (Bapak), PPS (Ibu), ABM (Bapak), MST (Ibu), AR (Bapak), YT (Ibu), AFY ( Bapak), NHY (Ibu) Sedangkan informan tambahan yaitu 4 orang anak, yaitu IKS, MSR, AW, DSD.
Untuk memperjelas fokus penelitian ini, maka dapat dijelaskan variabel dalam penelitian ini adalah Profil kecemasan orangtua yang bertani untuk melanjutkan pendidikan anaknya ke perguruan tinggi dilihat dari :Komponen fisik, emosional, mental atau kognitif..
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode wawancara dan kepada informan penelitian. Pengolahan data dilakukan setelah data terkumpul dan dianalisis dengan menggunakan triangulasi data. Teknik analisis data dilakukan setelah semua data sudah dikumpulkan yaitu dengan 3 tahap yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan terungkap bahwa :
1. Profil kecemasan orangtua yang bertani untuk melanjutkan pendidikan anaknya ke perguruan tinggi dilihat dari komponen fisik
1) Pusing
Bahwa orangtua pusing memikirkan keinginan anak yang terlalu menuntut untuk ingin kuliah di Perguruan Tinggi serta melihat dari hasil tani tidak akan mencukupi rasanya untuk biaya pendidikan anak, dan pusing yang dirasakan ini menyebabkan kepala sakit karena terlalu banyaknya fikiran 2) Tangan Berkeringat
Badan yang tidak stabil dan bergemetar yang membuat tangan berkeringat pada saat duduk tenangpun sering dirasakan, dan keadaan suasana hati yang mengalami kecemasan tinggi apabila anak membahas masalah kelanjutan pendidikan nanti serta keinginan bisa seperti anak-anak lainnya yang dari keluarga kaya
3) Nafsu Makan Berkurang
Terlalu banyak yang difikirkan sehingga hati yang tidak tenang membuat makan pun tidak enak, walaupun pola makan teratur tapi nafsu makan yang banyak seperti biasanya menjadi menurun, serta kecemasan, hati tidak tenang, fikiran banyak, membuat pola makan akan menjadi tidak stabil seperti biasanya
4) Grogi
Berada di sekitar keluarga lain, perasaan itu muncul ketika keluarga yang mampu selalu membahas masalah kelanjutan pendidikan anaknya nanti, keluarga yang mampu menyebutkan anaknya akan dikuliahkan di tempat-tempat yang mewah dengan fasilitas yang cukup,
hal itu yang menimbulkan grogi dekat keluarga lain,
5) Gangguan Tidur
Sebagai orangtua tentunya akan menjadi beban fikiran kalau anak sudah membahas masalah kelanjutan pendidikannya setelah tamat SMA nanti, tidur yang biasanya nyaman dan tenang tanpa ada fikiran yang menganggu, semenjak anak sudah membahas masalah kelanjutan pendidikannya hal tersebut selalu menghantui fikiran dan ketika mau tidur kecemasan mengelilingi isi otak, tidur yang biasanya nyenyak dan cepat sekarang terganggu dan kadang tidur jadi larut malam serta masalah yang dialami sampai terbawa mimpi.
2. Profil Kecemasan Orangtua yang Bertani untuk Melanjutkan Pendidikan Anaknya ke Perguruan Tinggi dari Komponen Emosional
1) Ketegangan
Keteganggan muncul pada badan karena terlalu memikirkan biaya pendidikan dan didorong rasa cemas tidak bisa memasukkan anak ke Perguruan Tinggi, tegang dengan kondisi badan tidak stabil dan perasaan tidak tenang, serta sebagai Bapak ketegangan yang dirasakan apabila dalam bekerja di sawah membuat badan jadi kaku dan tidak stabil hal itu muncul akibat terlalu memikirkan masalah pendidikan anak 2) Takut
Setelah anak tamat SMA nanti kalau sebagai orangtua tidak bisa memasukan anak ke Perguruan Tinggi anak akan menjadi rendah diri dan merasa jengkel kepada orangtua karena tida bisa memasukannya ke Perguruan Tinggi seperti anak-anak yang lain dan takut hasil tani tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari 3. Profil Kecemasan Orangtua yang Bertani
untuk Melanjutkan Pendidikan Anaknya ke Perguruan Tinggi dari Komponen Mental atau Kognitif .
1) Gangguan memori
Gangguan memori atau ingatan terjadi apabila fikiran terganggu, dan mental tidak stabil karena terlalu banyaknya yang difikirkan terkadang sulit untuk mengingat apa yang akan
dikerjakannya sehari-hari yang ada difikirannya hanya masalah pendidikan anak
2) Kekhawatiran
kekhawatiran hasil tani yang sedikit walaupun lahan milik sendiri tapi hasil tetap sedikit yang didapatkan, kekhawatiran nanti akankah bisa melanjutkan pendidikan anak dan anak bisa sekolah di Perguruan Tinggi seperti anak yang lain
3) Ketidakteraturan dalam Berfikir Perasaan campur baur yang difikirkan tidak tentu arah dan tidak tenang kadang berfikir aneh-aneh saja, dan terkadang seperti orang bingung, serta sebagai seorang Bapak, fikiran tidak teratur dilihat campur baur masalah biaya sehari-hari yang harus dipenuhi dengan masalah pendidikan anak yang banyak tuntutan dan orangtua sering fikirannya tidak teratur dan bercampur baur dan berfikir kadang aneh-aneh saja
4) Bingung
Bingung ini dalam hal pendidikan anak, bingung mencarikan biaya untuk pendidikan saat ini, sedangkan tuntutan anak sangat tinggi pada masalah kelanjutan pendidikannya, perasaan bingung muncul kemana akan mendapatkan tambahan biaya nantinya, padahal dibangku SMA saja orangtua sudah banyak meminjam uang kepada orang lain
Pembahasan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Profil Kecemasan Orangtua yang Bertani untuk Melanjutkan Pendidikan Anaknya ke Perguruan Tinggi dari Komponen Fisik Berdasarkan temuan yang peneliti dapatkan maka pembahasannya yaitu faktor yang membuat pusing orangtua bertani didasari dari tuntutan anak yang tinggi pada orangtua mengenai masalah kelanjutan pendidikannya ke perguruan tinggi, situasi itu terjadi saat masalah sudah menjadi beban fikiran orangtua dan pada saat anak membahas masalah tersebut didepan orangtua karena untuk memenuhi biaya sehari-hari susah apalagi untuk
melanjutkan ke Perguruan Tinggi akan membutuhkan biaya yang sangat banyak,
Sebagai Bapak dan Ibu yang dilakukannya hanya menyemangatkan diri walaupun terkadang sering termenung dan pusing yang menyebabkan kepala sakit serta hal yang dirasakan Ibu pusing pada saat mengelola uang karena susah mengatur keuangan kalau penghasilan sedikit sedangkan pengeluaran banyak.
Anak sebagai masalah utama yang membuat orangtua mengalami hal tersebut karena anak selalu menuntut dan ingin sekali merasakan bisa duduk di Perguruan Tinggi.
Tangan berkeringat dirasakan disaat fisik sudah tidak stabil dan badan bergemetar saat masalah datang serta tangan berkeringat yang dirasakan orangtua tersebut muncul ketika suasana hati tidak tenang dan mengalami kecemasan tinggi, dimana apabila anak membahas masalah kelanjutan pendidikannya nanti serta keinginan bisa seperti anak-anak yang lain dari golongan kaya salah satu faktor tangan berkeringat akan muncul pada situasi tersebut. Pada saat masalah muncul dan kecemasan yang terjadi pada diri dapat juga dirasakan orangtua pada masalah nafsu makan yang bisa turun cepat tidak seperti biasa lagi, serta pada saat bekerja sehari-hari pemikiran yang tidak stabil dapat menganggu nafsu makan.
Perasaan grogi dipengaruhi oleh faktor yang mendorong dari dalam dan luar, faktor dari dalam yaitu dari anak sendiri bahwa ketika berada pada saat posisi bersama anak grogi itu muncul karena yang ada difikirannya apabila duduk dekat anak pasti anak akan membahas pendidikan dan biaya kelanjutan pendidikannya ke Perguruan Tinggi dan adanya perasaan tidak nyaman dan merasa tidak sanggup untuk membahagiakan anak nantinya.
Faktor dari luar dari keluarga lain yang golongan kaya bahwa grogi duduk dekat mereka pada saat dicemoohkan dan menganggap keluarga bertani tidak bisa memasukan anaknya ke perguruan Tinggi seperti mereka yang berkehidupan punya uang banyak, hal itu yang menjadi grogi dekat keluarga lain. Sedangkan gangguan tidur yang dirasakan orangtua, gangguan
tidur yang membuat gelisah, tidak tenang yang dapat mendatangkan mimpi tidur menjadi tidak nyenyak seperti biasanya dan selalu tidur larut malam semenjak masalah menganggu fikiran.
Hal ini sejalan dengan pendapat ahli menurut Hawari (2001:26) bahwa keluhan- keluhan yang sering dikemukakan oleh orang yang mengalami gangguan kecemasan adalah:
1. Cemas, khawatir, firasat buruk, takut akan fikirannya sendiri, mudah tersinggung
2. Merasa tegang, tidak teang, gelisah 3. Takut pada keramaian banyak-banyak
orang
4. Gangguan pola tidur dan mimpi 5. Ganguan konsentrasi dan daya ingat 2. Profil Kecemasan Orangtua yang Bertani
untuk Melanjutkan Pendidikan Anaknya ke Perguruan Tinggi dari Komponen Emosional
Berdasarkan temuan yang peneliti dapatkan maka pembahasannya bahwa ketegangan yang dirasakan orangtua ketika berada pada situasi yang mengancam fikiran, hal itu terjadi apabila ketika duduk dekat dengan anak dan juga keluarga lain yang kaya, pada saat membahas masalah kelanjutan pendidikan tersebut serta ketegangan akan muncul pada kondisi badan tidak stabil dan ketegangan akan muncul apabila berada didekat anak dan keluarga lain. Perasaan tegang yang dirasakan adalah reaksi normal terhadap stres.
Perasaan takut yang dirasakan orangtua bertani diantaranya takut harapan tidak sesuai kenyataan, takut anak akan menjadi rendah diri karena perasaan tersebut suatu beban berat bagi orangtua, kemudian orangtua takut nanti kalau dalam pendidikan perguruan tinggi akan membutuhkan biaya banyak, perasaan takut nanti anak tidak bisa duduk dibangku perkuliahan akan membuat anak menjadi rendah diri dan merasa jengkel terhadap orangtuanya, dilihat zaman sekarang anak- anak sudah banyak yang kuliah dan berkemampuan tinggi.
Hal di atas didukung oleh Aqib (2013:61) sebagian besar dari kita merasa cemas dan tegang jika menghadapi situasi yang mengancam atau stres. Perasaan tersebut adalah reaksi normal terhadap
stres. Kecemasan dianggap abnormal hanya jika terjadi dalam situasi yang sebagian besar orang dapat mengatasinya tanpa kesulitan
3. Profil Kecemasan Orangtua yang Bertani untuk Melanjutkan Pendidikan Anaknya ke Perguruan Tinggi dari Komponen Mental atau Kognitif
Berdasarkan temuan yang peneliti dapatkan maka diberikan pembahasan bahwa pada komponen mental ini adanya gangguan memori yang dirasakan orangtua, gangguan memori ini seperti ingatan yang tidak stabil, terkadang seperti orang yang tidak tentu arah saja. Dalam penelitian ini ditemukan adanya orangtua dalam mengingat sesuatu yang akan dikerjakannya sering mudah lupa, untuk memulihkannya terkadang mencoba memberikan situasi tenang, ingatan terganggu lebih dirasakan Ibu, karena yang menghadapi situasi dirumah yaitu Ibu. Hal tersebut didasari anak yang selalu menyampaikan masalah kelanjutan pendidikannya kepada orangtua dengan meminta tuntutan lebih membuat orangtua kehilangan akal dan ingatan berfikir tidak seperti biasanya.
Kekhawatiran yang dirasakan orangtua yang bertani, hasil yang peneliti temukan kecemasan akan hasil tani yang tidak stabil, sedangkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya keluarga yang bertani ini hanya mengharapkan hasil tani, kekhawatiran akan anak tidak bisa duduk dibangku perkuliahan seperti anak-anak lainnya, dan rasa rendah diri dan minder anak yang sangat dikhawatirkan oleh orangtua. Serta dilihat hasil pengolahan tani ada dari milik sendiri dan ada dari milik orang lain, pada dasarnya hasil yang didapatkan tetap sedikit karena yang dari milik sendiri tidak diolah semua menjadi hasil dan yang milik orang lain harus dibagi.
Ketidakteraturan dalam berfikir suatu perasaan bercampur baur dan tidak teratur, karena terlalu banyaknya fikiran yang menjadikan dirinya tidak tentu arah dalam mengerjakan sesuatu. Sedangkan orangtua masalah ketidakteraturan berfikir yang dirasakan karena masalah kehidupan sehari-hari yang harus dipenuhi dan masalah pendidikan anak yang banyak tuntutan.
Aqib (2013:45) mengemukakan kecemasan itu manifestasi dari berbagai emosi yang bercampur baur, yang terjadi ketika orang sedang mengalami tekanan perasaan (frustasi) dan pertentangan batin (konflik). Kecemasan itu mempunyai segi yang disadari seperti rasa takut, terkejut, tidak berdaya, rasa berdosa/bersalah, terancam, dan sebagainya
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan temuan hasil penelitian maka disimpulkan bahwa profil kecemasan orangtua yang bertani untuk melanjutkan pendidikan anak ke perguruan tinggi di Kanagarian Barung-Barung Balantai kecematan Koto XI Tarusan Kabupataen Pesisir Selatan secara umum dideskripsikan bahwa orangtua yang bertani mengalami masalah yang dilihat dari 3 komponen kecemasan secara rinci dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Komponen Fisik
Kecemasan yang dialami orangtua bertani di Kanagarian Barung-Barung Belantai Barat masalah kecemasan dalam kategori fisik memang dirasakan, dilihat dari 4 pasang orangtua yang mengalami masalah dari pusing yang dirasakan, tangan yang berkeringat apabila kecemasan muncul, nafsu makan berkurang dan terganggu, serta grogi dan gangguan tidur yang menganggu kehidupan sehari-hari, masalah ini dapat dikatakan dalam kategori sering .
1. Komponen Emosional
Kecemasan yang dialami orangtua bertani di Kanagarian Barung-Barung Balantai Barat, masalah kecemasan dilihat dari emosional memang dialami oleh 4 pasang orangtua yang bertani tersebut, mulai dari rasa ketegangan dan perasaan takut, dapat dikatakan dalam kategori sering.
2. Komponen Mental atau Kognitif
Kecemasan yang dialami orangtua bertani di Kanagarian Barung-Barung Balantai Barat, masalah kecemasan dilihat dari komponen mental memang dialami oleh 4 pasang orangtua yang bertani tersebut, mulai dari gangguan memori, kekhawatiran terhadap kelanjutan pendidikan anak, ketidakteraturan dalam
berfikir serta rasa binggung, dapat dikatakan dalam kategori sering
Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan, maka penulis menyarankan kepada berbagai pihak yang terkait, sebagai berikut:
1. Orangtua
Hasil penelitian diharapkan dapat memotivasi diri dan mengurangi kecemasan-kecemasan yang dirasakan terhadap kelanjutan pendidikan anak, bahwa ekonomi keluarga bukan salah satu penghambat pendidikan ke Perguruan Tinggi
2. Anak
Agar anak bisa menjadi pribadi yang baik dan menghilangkan sikap rendah diri dan keinginan yang menuntut orangtua, serta lebih bisa menempatkan keinginan sesuai dengan keadaan orangtua
3. Wali Nagari Kampung
Diharapkan lebih memperhatikan masyarakatnya terlebih pada orang tua yang berkeinginan melanjutkan pendidikan anaknya.
4. Pengelola Program Studi Bimbingan dan Konseling
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan dalam rangka mempersiapkan calon guru BK yang memiliki WPKNS (Wawasan, Pengetahuan, Keterampilan, Nilai dan Sikap) serta terampil dalam menangani berbagai permasalahan yang dialami orangtua yang bertani.
5. peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat dijadikan pedoman untuk melakukan penelitian yang relevan.
KEPUSTAKAAN
Hasbullah. (2008). Psikologi Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
Junaidi, Iskandar. (2012) . Anomali Jiwa.Yogyakarta:C.V Andi Ofseet
Indrajit Richardus Eko dan Richardus Djokopranoto. (2006). Manajemen Perguruan Tinggi Modren.
Yogyakarta: C.V Andi OFFSET.
Aqib, Zainal. (2013). Kesehatan Mental.
Jakarta: Yrama widya
Hawari, Dadang (2001). Manajemen Stres, Cemas dan Depresi.
Jakarta:Balai FKUI