• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keanekaragaman Hayati

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "Keanekaragaman Hayati"

Copied!
132
0
0

Teks penuh

Konsep Keanekaragaman Hayati

Relevansi Keanekaragaman Hayati

  • Nilai Intrinsik Keanekaragaman Hayati
  • Nilai Antropogenik Keanekaragaman Hayati

Nilai intrinsik keanekaragaman hayati mengacu pada nilai bawaan dari sumber daya hayati untuk hidup berdampingan dengan manusia seperti yang direncanakan oleh penciptanya. Nilai antropogenik keanekaragaman hayati mengacu pada nilai ekonomi yang diperoleh manusia dari sumber daya hayati di alam yang membenarkan hakekat pelestariannya.

Hilangnya Keanekaragaman Hayati

Oleh karena itu, keanekaragaman hayati (biodiversity) mempertimbangkan semua bentuk kehidupan sesuai dengan luasnya organisasi biologis, seperti gen, spesies, dan ekosistem (proses ekologis). Pelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan tanggung jawab dan kewajiban negara dan masyarakat.

Gambar 2.1: Anak Kuda Kurt, Penerus Spesies Kuda Przewalski Melalui  Kloning Pertama (Putri, 2022)
Gambar 2.1: Anak Kuda Kurt, Penerus Spesies Kuda Przewalski Melalui Kloning Pertama (Putri, 2022)

Keanekaragaman Genetik

Variasi Morfologi, Kromosomal, dan Keanekaragaman Genetik

Leksono (2010), mengatakan bahwa keragaman genetik adalah keragaman genetik individu dalam suatu populasi atau keragaman genetik suatu spesies dalam suatu wilayah tertentu. Secara umum dapat dikatakan bahwa keragaman genetik suatu populasi ditentukan oleh proporsi lokus yang memiliki lebih dari satu alel (lokus polimorfik) dalam suatu gen pool, rata-rata heterozigositas individu dalam suatu populasi dan jumlah alel per lokus. .

Gambar 2.2: Struktur dan Variasi Morfologi Caulerpa Sp oleh Zubia dkk  (Kompasiana, 2022)
Gambar 2.2: Struktur dan Variasi Morfologi Caulerpa Sp oleh Zubia dkk (Kompasiana, 2022)

Genetika Populasi

Terjadinya perkawinan sedarah (inbreeding atau antar anggota keluarga) akan menurunkan frekuensi heterozigot tanpa mempengaruhi frekuensi alel. Penyimpangan dapat menyebabkan hilangnya alel sehingga frekuensi alel tetap pada 1,0, sehingga alel yang ada dapat dikatakan tetap.

Gambar 2.3: Bunga Mawar (Rosa hybrid) Dalam Berbagai Warna  (Kresnoadi, 2022)
Gambar 2.3: Bunga Mawar (Rosa hybrid) Dalam Berbagai Warna (Kresnoadi, 2022)

Asal-Usul Keanekaragaman (Variabilitas)

Sehingga pelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan kewajiban mutlak setiap generasi. Kebijakan terkait sumber daya hayati diatur dalam UU No. 5 Tahun 1990 tentang pelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

Keanekaragaman Hayati Tingkat Spesies

Keanekaragaman Hayati Tingkat Spesies

Artinya keanekaragaman jenis (tipe) tidak lebih penting dari keanekaragaman genetik, tetapi keanekaragaman jenis relatif lebih mudah untuk diukur dan diidentifikasi. Keanekaragaman jenis disebut tinggi jika terdiri dari banyak jenis dengan kelimpahan yang sama atau hampir sama. Metode kuantitatif untuk mengukur keanekaragaman spesies meliputi indeks Simpson, indeks Shannon (H) = indikator informasi-teoritis dan kemerataan = kemerataan (Barbour et al.

Keanekaragaman jenis (jenis) dipengaruhi oleh waktu, perbedaan spasial, kompetisi, predasi, stabilitas iklim dan produktivitas (Kreb, 2000).

Contoh Keanekaragaman Hayati Tingkat Spesies

Sumber daya alam merupakan kekayaan yang digunakan sebagai tempat berlindung bagi makhluk hidup, baik tumbuhan maupun hewan yang perlu dilestarikan. 39/2014 tentang Perkebunan, dimana fokus undang-undang ini adalah pada keanekaragaman hayati sumber daya genetik tanaman perkebunan. Upaya pemanfaatan secara lestari sebagai salah satu aspek pelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya belum sepenuhnya berkembang sesuai dengan kebutuhan.

Program Doktor pada Program Studi Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

Gambar 3.1: Keanekaragaman Spesies Dari Family Leguminosae  Keterangan: Kacang Tanah (a), Kacang Kapri (b), Kacang Buncis (c), Kacang
Gambar 3.1: Keanekaragaman Spesies Dari Family Leguminosae Keterangan: Kacang Tanah (a), Kacang Kapri (b), Kacang Buncis (c), Kacang

Keanekaragaman Ekosistem

Satuan Makhluk Hidup dalam Ekosistem

Dalam suatu ekosistem, populasi adalah sekumpulan individu yang hidup bersama dalam suatu kelompok di suatu tempat (ekosistem). Populasi makhluk hidup dari satu tempat ke tempat lain memiliki kepadatan yang berbeda. Semua makhluk hidup yang hidup di sekitar tanaman padi disebut makhluk hidup (ada rerumputan, azolla, katak, ulat bulu, bekicot dan lain-lain disebut lingkungan hidup/biotik.

Selain komponen hidup, makhluk hidup membutuhkan komponen tak hidup seperti tanah, air, udara, sinar matahari dan lain-lain yang sering disebut lingkungan abiotik.

Macam-Macam Ekosistem

  • Berdasarkan Sejarah Terbentuknya Ekosistem
  • Berdasarkan Jenisnya Ekosistem

Ekosistem perairan dengan beberapa komponen penyusunnya yang saling berinteraksi/berkaitan membentuk satu kesatuan fungsional. Ekosistem air tawar menempati area yang relatif kecil dibandingkan lautan, tetapi manusia memiliki kepentingan yang lebih signifikan. Beberapa contoh ekosistem air tawar antara lain ekosistem sungai, ekosistem danau, ekosistem waduk, dan lain-lain.

Beberapa contoh ekosistem air tawar adalah: Ekosistem Sungai; lebih banyak ekosistem; ekosistem waduk, ekosistem rawa, ekosistem tambak, ekosistem persawahan dan lain-lain.

Gambar 4.2: Hutan Tropis  2. Ekosistem buatan
Gambar 4.2: Hutan Tropis 2. Ekosistem buatan

Komponen Ekosistem

  • Komponen Biotik
  • Komponen Abiotik

Biotik berasal dari kata “bio” yang berarti “kehidupan” atau “kehidupan”. Komponen biotik dalam suatu ekosistem terdiri dari semua makhluk hidup yang hidup bersama dalam suatu lingkungan/tempat tertentu. Komponen autotrof adalah organisme yang mampu menyediakan atau mensintesis makanannya sendiri berupa bahan organik yang diperoleh dari bahan anorganik yang diolah menjadi klorofil (bahan hijau) dengan bantuan energi sinar matahari. Sekelompok pengurai terdiri dari sekelompok mikroorganisme yang mampu menguraikan/menguraikan mayat/makhluk hidup (misalnya: sampah atau mayat).

Keanekaragaman komponen abiotik akan diikuti dengan kehidupan bersama berbagai makhluk hidup yang saling berinteraksi sehingga tercipta ekosistem yang semakin beragam.

Gambar 4.7: Komponen Biotik (Wn.com, 2014)
Gambar 4.7: Komponen Biotik (Wn.com, 2014)

Pendahuluan

Penggunaan teknologi modern seperti mekanisasi, penggunaan varietas unggul dengan hasil tinggi, penggunaan pupuk kimia sintetik, herbisida dan pestisida adalah beberapa input produksi tersebut. Meskipun sistem ini telah terbukti memberikan peningkatan produksi pertanian yang luar biasa, beberapa laporan menunjukkan bahwa peningkatan produksi yang diharapkan justru berdampak negatif pada kerusakan lingkungan dan degradasi sumber daya hayati yang terus berlanjut. Jika Anda tidak mengelola situasi ini, itu akan berdampak sangat besar pada kehidupan Anda di masa depan.

Dalam bab ini akan diuraikan tentang nilai/potensi keanekaragaman hayati sebagai aset nasional yang berharga dan setelah kita memahami hal tersebut barulah kita akan membahas beberapa ancaman yang menyebabkan kerusakan sumber daya hayati tersebut.

Nilai Penting Dari Keanekaragaman Hayati

Nilai intrinsik adalah nilai yang ada pada dirinya sendiri dan lebih menitikberatkan pada konsep filosofis keanekaragaman hayati itu sendiri. Sedangkan nilai eksternal adalah nilai manfaat langsung atau tidak langsung dari keanekaragaman hayati bagi manusia. 2002) membagi keanekaragaman hayati menjadi: (1) nilai guna, yaitu nilai guna langsung (barang) dan tidak langsung (jasa) dan 2) nilai bukan guna. Agregasi nilai Pearce akan digunakan karena lebih mudah digunakan untuk menilai manfaat keanekaragaman hayati.

Untuk lebih memahami nilai penting keanekaragaman hayati, beberapa contoh dapat dilihat pada Tabel 5.1.

Ancaman Terhadap Sumber Daya Hayati

  • Kehilangan/Kerusakan Habitat (Deforestasi)
  • Invasive Alien Species/Spesies Pendatang
  • Eksploitasi Berlebihan Spesies Tanaman dan Hewan
  • Pencemaran Lingkungan
  • Perubahan Iklim Global

Undang-undang ini merupakan aturan terpenting dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup akibat kegiatan manusia dalam upaya mengeksploitasi sumber daya alam. Perlindungan sumber daya genetik baik secara in situ maupun ex situ bertujuan untuk melestarikan keanekaragaman (keanekaragaman) genetik suatu spesies. Eksplorasi dan pengumpulan sumber daya genetik harus didasarkan pada penerapan prinsip ilmiah (Ford Lloyd dan Jackson, 1986).

2012) "Kemungkinan Penelitian dan Koleksi Plasma Nutfah Tumbuhan Obat Khas Kalimantan Tengah", Prosiding Seminar Nasional Sumber Daya Genetik dan Pemuliaan.

Gambar 5.1: Aktivitas Yang Menyebabkan Deforestasi Hutan Di Indonesia  (https://www2.cifor.org, https://aprobi.or.id, https://www.dw.com,
Gambar 5.1: Aktivitas Yang Menyebabkan Deforestasi Hutan Di Indonesia (https://www2.cifor.org, https://aprobi.or.id, https://www.dw.com,

Konservasi Keanekaragaman Hayati

Konservasi Keanekaragaman Hayati di Indonesia

Dalam pelaksanaan perlindungan sumber daya hayati di Indonesia telah diatur beberapa peraturan dan undang-undang. Pada tingkat genetik, manfaat keanekaragaman genetik berupa penyediaan sumber plasma nutfah untuk menjaga dan meningkatkan ketahanan pangan, kesehatan dan pengembangan industri berbasis sumber daya alam hayati. Perlu dipahami bahwa tujuan pengumpulan kolektor tumbuhan dan kolektor sumber daya genetik tanaman tidaklah sama (Hayati et al., 2018).

Kresnoadi (2022) Keanekaragaman hayati: tingkat genetik, individu dan ekosistem, ruangguru.com. 2004) “Pengelolaan Sumber Daya Genetik Tumbuhan Obat Tertentu di Kalimantan Tengah”, Buletin Plasma Nutfah 12(1):16.

Gambar 6.2: Harimau Sumatera Yang Harus Dilestarikan (Gusti, 2022)  Konservasi organisme dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu, konservasi yang  dilakukan  pada  habitat  organisme  dan  konservasi  yang  dilakukan  pada  luar  habitat  organisme
Gambar 6.2: Harimau Sumatera Yang Harus Dilestarikan (Gusti, 2022) Konservasi organisme dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu, konservasi yang dilakukan pada habitat organisme dan konservasi yang dilakukan pada luar habitat organisme

Peraturan Perundangan Sumber Daya Alam Hayati

Konvensi Keanekaragaman Hayati Internasional

Konvensi Keanekaragaman Hayati adalah perjanjian multilateral antara negara-negara anggota Konvensi untuk mengatasi masalah keanekaragaman hayati global. Hal ini dapat dicapai dengan membangun kawasan konservasi, memulihkan ekosistem yang rusak dan mengendalikan spesies asing. Konvensi ini menyepakati pelaksanaan konservasi in situ melalui kegiatan sistem kawasan dan menetapkan pedoman pengelolaan konservasi keanekaragaman hayati, mempromosikan perlindungan ekosistem habitat alami dan konservasi populasi spesies di lingkungan alam, ramah lingkungan dan pembangunan berkelanjutan di kawasan sekitar kawasan konservasi, rehabilitasi dan pemulihan ekosistem yang rusak dan mendukung pemulihan spesies yang terancam punah, pengendalian risiko organisme hasil rekayasa genetika, pengendalian spesies yang mengancam ekosistem, habitat atau spesies, memastikan kondisi yang diperlukan untuk menjaga keanekaragaman hayati dan kelestariannya, menghormati lokal kearifan dalam konservasi, berpartisipasi dalam penyediaan dana dan dukungan untuk konservasi in situ.

Konvensi Ramsar tentang Lahan Basah dengan Kepentingan Internasional, terutama sebagai Habitat Unggas Air, atau Konvensi Ramsar bertujuan untuk konservasi dan pemanfaatan lahan basah secara bijaksana melalui tindakan nasional untuk mencapai pembangunan berkelanjutan di seluruh dunia.

Hukum Perlindungan Sumber Daya Alam Hayati Indonesia

Dalam rangka melestarikan dan memanfaatkan lahan basah, serta untuk meratifikasi Konvensi Ramsar, Negara Indonesia mendeklarasikannya dalam Perpres No. Juga mengatur keanekaragaman hayati, dimana hutan merupakan salah satu ekosistem yang kompleks, dan undang-undang ini mengatur pengelolaan hutan berdasarkan fungsinya. UU No.

Kawasan lindung di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil merupakan ekosistem yang terjamin keberadaan, ketersediaan dan kelestariannya.

Kebijakan Sumber Daya Alam Hayati

  • UU Nomor 5 Tahun 1990 Terkait Sumber Daya Alam Hayati
  • UU Nomor 5 Tahun 1994 Terkait Ratifikasi Konvensi

Namun UU No. 5 Tahun 1990 sama sekali tidak mengatur hal tersebut, sehingga banyak sumber daya genetik Indonesia yang diduga telah “dibajak”. 5 Tahun 1994 tentang Pengesahan Konvensi Keanekaragaman Hayati, menyatakan bahwa “Yang dimaksud dengan sumber daya genetik adalah bahan genetik yang mempunyai nilai aktual atau potensial. Peternak, peneliti dan pengguna sumber daya genetik harus berperan dalam melestarikan dan mengumpulkan plasma nutfah yang ada dengan cara mengidentifikasi berbagai jenis tumbuhan.

2015) “Inventarisasi, Eksplorasi dan Upaya Pengumpulan Sumber Daya Genetik Tanaman Pangan di Jawa Tengah,” Prosiding Seminar Nasional Sumber Daya Genetik Pertanian.

Eksplorasi dan Koleksi Sumber Daya Hayati

Eksplorasi Sumber Daya Hayati

Pada setiap eksplorasi diharapkan akan diperoleh alel-alel baru yang belum ada dalam koleksi plasma nutfah. Alel baru ini mungkin berasal dari tanaman yang belum terwakili dalam koleksi plasma nutfah atau berasal dari mutan baru yang muncul dari kultivar yang telah dilepas ke petani. Salah satu ciri tumbuhan liar yang tidak dimiliki tumbuhan budidaya adalah kemampuannya beradaptasi dengan lingkungan.

Jika eksplorasi ini dilakukan oleh pusat koleksi plasma nutfah, maka akan membandingkan gen-gen tersebut dengan gen-gen yang ada pada material yang sudah ada pada hasil koleksi jika eksplorasi tersebut menghasilkan gen baru.

Koleksi Sumber Daya Hayati

Selain itu, survei pendahuluan dapat dilakukan dengan mengumpulkan data keberadaan populasi tumbuhan di kawasan dari pemilik tumbuhan, warga, tokoh masyarakat setempat, PPL (petugas penyuluh lapangan) atau berupa penelusuran lapangan langsung. Selain itu, GPS memungkinkan Anda untuk menentukan koordinat pohon atau populasi tanaman yang menjadi akuisisi. Apabila pengusahaan dilakukan terhadap tanaman penghasil benih, maka benih tersebut harus dipanen, diolah dan disimpan sedemikian rupa untuk menjaga viabilitas dan vigor benih.

Jika penelitian dilakukan pada tanaman yang dapat diperbanyak secara vegetatif maka bagian vegetatif tanaman tersebut (daun, batang, umbi) diambil dan ditanam di kebun koleksi (Hayati et al., 2018).

Contoh Eksplorasi dan Koleksi Beberapa Tumbuhan

2022) 'Aktivitas Atagonisme Bakteri Pelarut Fosfat Terhadap Ganoderma philippii dan Fusarium oxysporum Tumbuhan Akasia', Jurnal Ilmu Pengetahuan Alam Terapan Multidisiplin, 2(2), hlm. 2021) 'Kajian Kelarutan Fosfat dan Produksi Asam Indol Asetat Bakteri Pelarut Fosfat yang Diisolasi dari Tanah Masam, Lampung, Indonesia', Prosiding ke-3. Ekosistem perairan laut: pengertian ciri dan jenis. https://ilmugeography.com/ilmu-bumi/laut/ekosisstem-air-laut. Pusat Habitat Asli Pulau Komodo Nusa Tenggara Timur. https://Wisataaroundmu.Blogspot.Com/2017/01/Pulau-Komodo-Nusa-Tenggara-Timur-Pusat.Html. 1992) 'Budaya dan persepsi terhadap lingkungan', dalam Croll, E. Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia.

LIPI (2014) “Data Perkembangan Jenis Ikan di DAS Ciliwung dan Cisadane”, https://www.lipi.go.id.

Gambar

Gambar 2.1: Anak Kuda Kurt, Penerus Spesies Kuda Przewalski Melalui  Kloning Pertama (Putri, 2022)
Gambar 2.2: Struktur dan Variasi Morfologi Caulerpa Sp oleh Zubia dkk  (Kompasiana, 2022)
Gambar 2.3: Bunga Mawar (Rosa hybrid) Dalam Berbagai Warna  (Kresnoadi, 2022)
Gambar 3.1: Keanekaragaman Spesies Dari Family Leguminosae  Keterangan: Kacang Tanah (a), Kacang Kapri (b), Kacang Buncis (c), Kacang
+7

Referensi

Dokumen terkait

(Note: You will find a useful turnaround model sheet of Arnie in the Appendix section at the back of this book. Accompanying that you will find additional exercises on how to