Kebahagiaan, Pembangunan dan Ke-Islaman
Muchdie1
Pada April 2012 untuk pertama kali diluncurkan Laporan Kebahagiaan Dunia (World Happiness Report) bersamaan dengan pertemuan tingkat tinggi Persyarikatan Bangsa-Bangsa tentang Kebahagiaan dan Kesejahteraan yang dipimpin oleh Perdana Menteri Bhutan.
Laporan tersebut berisi tentang kondisi kebahagiaan dunia, penyebab dan implikasi kebijakan.
Tahun 2013 Laporan ke-dua diterbitkan, yang selanjutnya terbit setiap tahun. Berbarengan dengan Hari Kebahagiaan Dunia (World Happiness Day), pada 20 Maret 2016 diluncurkan Laporan Kebahagiaan Dunia Tahun 2016. Indonesia menempati urutan ke-79 dari 157 negara.
Kira-kira, tingkat kebahagiaan masyarakat Indonesia ada di tengah-tengah di antara tingkat kebahagiaan masyarakat dunia.
Untuk Indonesia, dari Survei Badan Pusat Statistik 2014, Indeks Kebahagiaan Indonesia tahun 2013 adalah 65,11 pada skala 0 –100. Indeks kebahagiaan merupakan rata-rata dari angka indeks yang dimiliki oleh setiap individu di Indonesia pada tahun 2013. Nilai indeks 100 merefleksikan kondisi sangat bahagia. Sebaliknya, angka indeks 0 menggambarkan kehidupan individu yang sangat tidak bahagia. Indeks ini adalah indeks komposit yang diukur secara tertimbang dan mencakup indikator kepuasan terhadap 10 domain kehidupan yang esensial, meliputi : (1) pekerjaan, (2) pendapatan rumah tangga, (3) kondisi rumah dan aset, (4) pendidikan, (5) kesehatan, (6) keharmonisan keluarga, (7) hubungan sosial, (8) ketersediaan waktu luang,(9) kondisi lingkungan, dan (10) kondisi keamanan.
Hasil survei tersebut juga menarik untuk disimak, misalnya mereka yang tinggal di pedesaan memiliki indeks kebahagiaan yang lebih tinggi dibanding yang tinggal di kota. Wanita
1 Penulis adalah dosen PNS dpk pada Sekolah Pascasarjana UHAMKA dengan tugas tambahan sebagai Wakil Rektor Bidang-2: Manajemen Sumberdaya Insani, Keuangan dan Sarana-Prasarana. Penulis mantan Direktur Pusat Pengkajian Kebijakan Dayasaing di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.
lebih bahagia katimbang laki-laki. Makin tinggi pendapatan rumah tangga semakin bahagia.
Semakin tinggi pendidikan semakin tinggi pula indeks kebahagiaannya. Status pernikahan, ternyata, tidak menjadi pembeda kebahagiaan; menikah atau tidak menikah indeks kebahagiaannya sama saja. Justru yang bercerai akan mempunyai indeks kebahagiaan yang lebih rendah; cerai hidup lebih rendah indeksnya dibanding dengan cerai mati.
Pembangunan Ekonomi dan Kebahagiaan
Studi antar negara yang dilakukan oleh Muchdie dan Bambang D. Hartono (2016) menganalisis hubungan (dengan menghitung koefisien korelasi) dan pengaruh (dengan menghitung koefisien Jalur, path coefficients) pembangunan ekonomi dengan kebahagiaan. Ada 123 data pertumbuhan ekonomi (economic growth), indeks pembangunan manusia (human development index) dan indeks daya saing global (global competitiveness index) antar-negara (cross-nations) yang memenuhi syarat untuk “diregresikan” dengan indeks kebahagiaan;
koefisien jalur kemudian dihitung menggunakan persamaan jalur.
Perumbuhan ekonomi ternyata mempunyai korelasi negative yang lemah terhadap kebahagiaan. Bisa juga dibilang bahwa pertumbuhan ekonomi tidak menyebabkan meningkatnya kebahagiaan. Meski hubungan ini lemah dan bisa jadi secara statistik tidak signifikan, pertumbuhan ekonomi akan berkorelasi negative dengan tingkat kebahagiaan. Daya saing global yang ditunjukkan oleh indeks daya saing global ternyata mempunyai korelasi positive yang kuat terhadap kebahagiaan. Semakin tinggi indeks daya saing global akan semakin tinggi indeks kebahagiaan. Begitu juga sebaliknya, semakin rendah indeks daya saing global akan semakin tinggi indeks kebahagiaan. Pembangunan manusia, pembangunan yang berfokus pada manusia yang diukur dengan indeks pembangunan manusia, sangat dikenal dengan IPM, berkorelasi positive yang sangat kuat dengan kebahagiaan. Semakin tinggi indeks pembangunan manusia,
akan semakin tinggi juga indeks kebahagiaannya. Sebaliknya, negara-negara dengan IPM yang rendah akan rendah juga indeks kebahagiaanya.
Analisis jalur (path analysis) menghasilkan koefisien jalur yang dapat menyimpulkan apakah dimensi pembangunan ekonomi berpengaruh secara signifikan terhadap kebahagiaan.
Hasil analisis menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi berpengaruhi negative dan signifikan terhadap kebahagiaan. Artinya, negara-negara dengan indeks kebahagiaan yang tinggi adalah negara-negara yang pertumbuhan ekonominya rendah. Kajian ini sebenarnya belum bisa menyimpulkan bahwa negara-negara yang penduduknya bahagia adalah negara-negara yang penduduknya miskin. Koefisien jalur yang lain menunjukkan bahwa daya saing global berpengaruh positive dan signifikan terhadap kebahagiaan. Negara-negara dengan indeks daya saing global yang tinggi adalah juga negara-negara dengan indeks kebahagiaan yang tinggi.
Sebaliknya, negara-negara dengan indeks daya saing global yang rendah akan menyebabkan tingkat kebahagiaan warganya juga rendah. Terakhir, pembangunan manusia berpengaruh positive dan signifikan terhadap kebahagiaan. Artinya, semakin tinggi indeks pembangunan manusia, akan semakin tinggi juga indeks kebahagiaan. Negara-negara dengan indeks pembangunan manusia yang tinggi, mempunyai indeks kebahagiaan yang juga tinggi.
Analisis jalur memperlihatkan bahwa secara langsung, pertumbuhan ekonomi berpengaruh negative dan signifikan terhadap kebahagiaan. Secara tidak langsung, pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap kebahagiaan tergantung pada jalur yang dilaluinya. Jika hanya melalui variabel daya saing global, pengaruhnya akan positive dan signifikan. Tetapi, jika melalui jalur pembangunan manusia, pengaruhnya akan negative karena pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap pembangunan manusia adalah negative, tetapi secara statistik tidak signifikan.
Alhasil, kesimpulannya apa ? Pertumbuhan ekonomi bukanlah satu-satunya faktor yang penting dalam mencapai daya saing global dan meraih kebahagiaan. Pembangunan manusia, dengan tiga indikatornya: pendidikan, kesehatan dan daya beli merupakan prasyarat penting bagi keunggulan bersaing secara global dan memperoleh serta mempertahankan kebahagiaan.
Ke-Islaman dan Kebahagiaan
Terdapat sejumlah kajian yang mengkaitkan kebahagiaan dengan keberagamaan, misalnya, antara lain: Baetz, M & Toews, J, (2009); Strawbridge, W. J., et al, (2001); Burris, C.T., 1999) dan Ellison, C. G. & George, L.K., (1994). Muchdie dan Zamahsari mengkorelasikan tingkat ke-Islaman dengan kebahagiaan. Kajian tentang tingkat ke-Islaman pertama kali dilakukan oleh Rehman, S. S., dan Askari, H., (2010) yang mengembangkan indeks ke_Islaman dari 208 negara yang mengukur penerapan prinsip-prinsip ajaran Islam terkait dengan ekonomi, hukum dan pemerintahan, hak-hak kemanusiaan dan politik serta hubungan internasional. Jadi lebih mengukur hal-hal terkait dengan muamalah, bukan aqidah. Askari, H., et.al (2016) melanjutkan pengukuran indeks ke-Islaman untuk data tahun 2015. Ada 153 negara yang diukur indeks ke-Islamannya, tetapi karena disesuaikan dengan data lain, hanya data dari 123 negara yang digunakan dalam analisis.
Korelasi antara ke-Islaman dan kebahagiaan adalah positive sangat kuat. Artinya, semakin tinggi indeks ke-Islaman, semakin tinggi juga indeks kebahagiaan. Semakin rendah indeks ke-Islaman semakin rendah juga indeks kebahagiaan. Dengan kata lain, bisa juga dibilang begini: negara-negara yang warganya merasa sangat bahagia adalah negara-negara yang secara muamalah mempraktekan ajaran-ajaran Islam secara intens. Korelasi antara ke-Islaman dengan daya saing global, juga positive dan sangat kuat. Negara-negara yang indeks daya saing globalnya tinggi adaah juga negara-negara yang tingkat ke-Islamannya tinggi. Selanjutnya,
korelasi antara tingkat ke-Islaman dengan indeks pembangunan manusia, juga positive dan sangat kuat. Negara-negara dengan tingkat ke-Islaman yang tinggi adalah juga negara-negara yang indeks pembangunan manusianya tinggi; dan sebaliknya.
Pengaruh ke-Islaman terhadap kebahagiaan, berdasarkan koefisien jalur, adalah positive dan signifikan. Kenaikan indeks ke-Islaman akan menaikkan indeks kebahagiaan. Begitu juga pengaruh ke-Islaman terhadap daya saing global, positive dan signifikan. Artinya, kenaikan indeks ke-Islaman akan menaikkan indeks daya saing global. Juga, pengaruh tingkat ke-Islaman terhadap pembangunan manusia adalah positive dan signifikan.
Model analisis jalur memperlihatkan bahwa secara langsung, tingkat ke-Islaman berpengaruh positive dan signifikan terhadap kebahagiaan. Secara tidak langsung, pada semua jalur baik yang hanya melalui daya saing global, daya saing global dan pembangunan manusia, maupun hanya melalui pembangunan manusia, tingkat ke-Islaman berpengaruh positive dan signifikan terhadap tingkat kebahagiaan.
Jadi, pertumbuhan ekonomi bukanlah satu-satunya faktor untuk mencapai daya saing global. Pertumbuhan ekonomi juga tidak meningkatkan kebahagiaan. Menjalankan muamalah ajaran-ajaran Islam akan membuat masyarakat mempunyai daya saing global. Menjalankan prinsip-prinsip ajaran Islam menghantarkan masyarakat pada kebahagiaan. Semoga kita selalu Bahagia. “Ya Allah berikanlah kebahagiaan kepada kami selama hidup di dunia, juga kebahagiaan di akherat”.