• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEBIDANAN-2021-DINA MAULIA.pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "KEBIDANAN-2021-DINA MAULIA.pdf"

Copied!
54
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Ruang Lingkup Penelitian

TINJAUAN PUSTAKA

Konsep Menstruasi

Siklus haid adalah dari hari pertama haid sampai datangnya haid berikutnya, sedangkan lamanya siklus haid adalah jarak antara tanggal mulai haid terakhir dan mulainya haid berikutnya (Setiawati, 2015). Siklus menstruasi merupakan suatu pola yang menggambarkan jarak antara menstruasi dengan hari pertama menstruasi berikutnya (Yudita, Yanis, & Iryani, 2017). Menurut (Wulandari, 2020), fase yang terjadi pada siklus menstruasi terbagi menjadi 2 yaitu siklus endometrium dan siklus ovarium. 1) Siklus ovarium a) Fase menstruasi.

Tingkat stres akan mempengaruhi siklus menstruasi, karena pusat stres di otak sangat dekat dengan pengaturan siklus menstruasi di otak (Hayati, Utami, & Susmini, 2017). a) Stres ringan adalah stres yang tidak merusak aspek fisiologis seseorang yang biasa dirasakan dan dihadapi orang secara rutin, seperti terlalu banyak tidur, lupa, dikritik, macet. Asupan gizi yang berlebihan atau kurang akan menyebabkan buruknya kecukupan gizi yang nantinya akan mempengaruhi perubahan siklus menstruasi. Namun apabila asupan nutrisinya kurang baik maka akan menimbulkan keluhan rasa tidak nyaman pada saat siklus menstruasi (Pebrina, 2016).

Kedua hal tersebut sangat mempengaruhi kondisi tubuh dan sistem produksi hormon sehingga menyebabkan ketidakteraturan siklus menstruasi (Ahmed Body Mass Index (BMI). BMI dapat mempengaruhi siklus menstruasi melalui peran hormon estrogen, kalori berlebih dan lonjakan yang diakibatkannya. pertambahan berat badan yang dapat menyebabkan peningkatan estrogen dalam darah sehingga dapat mengganggu siklus menstruasi (Karlinah & Irianti, 2021) Indeks Massa Tubuh (BMI) merupakan status gizi seseorang dimana seseorang mempunyai cukup lemak yang dibutuhkan selama siklus reproduksinya untuk memiliki siklus menstruasi yang normal, BMI yang rendah menandakan kandungan lemak dalam tubuh rendah sehingga akan menyebabkan ketidakteraturan siklus menstruasi.

Dimana kadar lemak yang berlebih pada tubuh akan menyebabkan seseorang menjadi kelebihan berat badan dan hal ini akan berdampak pada kestabilan hormon yang dihasilkan sehingga akan mempengaruhi keteraturan siklus menstruasi (Sunarsih, 2017). Gangguan haid terdiri dari gangguan panjang dan jumlah darah haid, gangguan siklus haid dan gangguan lain yang berhubungan dengan haid. Karena haid yang tidak teratur akan menjadi tanda tidak adanya ovulasi (anoluvatoir) pada siklus haid.

Gangguan siklus menstruasi jika tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan komplikasi yaitu stres emosional dan gangguan kesuburan pada penderitanya, yang selanjutnya akan memperburuk gangguan menstruasi tersebut. Infertilitas dapat terjadi jika siklus menstruasi tidak teratur sehingga mengakibatkan ovulasi terputus-putus dan ketidakseimbangan hormon yang dapat berdampak besar pada ovulasi. Siklus menstruasi yang tidak teratur juga dapat dipengaruhi oleh status gizi yang berkaitan dengan perubahan kadar hormon steroid.

Dimana hormon-hormon tersebut berperan dalam proses pengaturan siklus menstruasi, tingkat stres dan aktivitas juga mempengaruhi siklus menstruasi (Ilmi & Selasmi, 2019).

Konsep Remaja

Untuk mencegah terjadinya gangguan siklus menstruasi yaitu dengan mengurangi stres dengan menggunakan mekanisme coping yang baik, seperti pola makan dan nutrisi, olahraga, berhenti merokok, istirahat dan tidur, pengaturan berat badan, manajemen waktu yang tepat, menghindari alkohol, terapi somatik, terapi psikofarmasi, dan terapi keagamaan ( Setiawati, Dampak stres terhadap siklus menstruasi pada remaja, 2015). Pada masa remaja awal, perubahan fisik mulai terjadi dan mulai menjadi dewasa dan berkembang. Dimana anak perempuan mengalami menstruasi dan anak laki-laki mengalami mimpi basah.

Pada akhir masa remaja, mereka telah mengalami perkembangan fisik secara penuh dan menjadi seperti orang dewasa. Remaja kurang berpengalaman dalam menghadapi masalah karena sebagian besar masalah pada masa kanak-kanak diselesaikan oleh guru dan orang tua. Yang membuat orang dewasa perlu membimbing dan mengawasi adalah karena adanya stereotip budaya bahwa remaja adalah anak-anak yang tidak bisa dipercaya, cenderung destruktif, dan tidak baik.

Karena remaja memandang diri mereka sendiri dan orang lain sebagaimana yang mereka inginkan, bukan sebagaimana adanya. Dapat disimpulkan bahwa masa remaja mempunyai ciri-ciri masa penting yaitu masa transisi, masa perubahan, masa pencarian jati diri, masa bermasalah, masa yang menimbulkan ketakutan, masa yang tidak realistis dan ambang batas kedewasaan.

Kerangka Teori

KERANGKA KONSEP

Kerangka Konsep

Definisi Oprasional

Hipotesis Penelitian

Desain penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi siklus menstruasi pada remaja. Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh nilai probabilitas (p-value) sebesar 0,441 yang berarti P < 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara aktivitas fisik dan siklus menstruasi dengan siklus menstruasi pada remaja putri. Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh nilai probabilitas (p-value) sebesar 0,185 yang berarti P > 0,05. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat stres dengan siklus menstruasi pada remaja putri.

Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh nilai probabilitas (p-value) sebesar 0,377 yang berarti P < 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara status gizi dengan siklus menstruasi pada remaja putri. Berdasarkan hasil pengujian diperoleh nilai probabilitas (p-value) sebesar 0,441 yang berarti P < 0,05. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara aktivitas fisik dengan siklus menstruasi pada remaja. Berdasarkan hasil pengujian diperoleh nilai probabilitas (p-value) sebesar 0,185 yang berarti P < 0,05. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat stres dengan siklus menstruasi pada remaja.

Berdasarkan hasil diperoleh nilai probabilitas (p-value) sebesar 0,377 yang berarti P < 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara Indeks Massa Tubuh (BMI) dengan siklus menstruasi pada remaja. Pada variabel aktivitas fisik penelitian ini diperoleh hasil bahwa tidak terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan siklus menstruasi pada remaja dengan nilai p-value sebesar 0,441. Pada variabel Indeks Massa Tubuh (IMT) penelitian ini ditemukan hasil bahwa tidak ada hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan siklus menstruasi pada remaja dengan nilai p-value sebesar 0,377.

Diharapkan bagi peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian lebih mendalam mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi siklus menstruasi remaja putri. Hubungan sikap dan perilaku dalam penatalaksanaan gangguan siklus menstruasi pada mahasiswi (Studi pada Universitas Terbuka Kabupaten Bangkalan). Hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan siklus menstruasi pada remaja putri di SMPN 17 Kota Jambi Tahun 2012.

Pengaruh Indeks Massa Tubuh (IMT) terhadap siklus menstruasi pada siswi SMA Negeri 1 Kampar Kiri Hilir. Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Siklus Menstruasi pada Remaja Putri di SMA Negeri 1 Tigapanah Kabupaten Karo Tahun 2018.

METODELOGI PENELITIAN

Desain Penelitian

Tempat dan Waktu Penelitian

Populasi dan Sampel

Berdasarkan pernyataan di atas maka penelitian ini mempunyai 2 kriteria yaitu kriteria inklusi dan eksklusi yang antara lain akan diujikan pada sampel.

Pengolahan Data dan Analisis Data

Setelah seluruh kuesioner telah diedit atau diedit, langkah selanjutnya adalah melakukan “coding”, yaitu dengan mengubah data yang berupa kalimat atau huruf menjadi data numerik atau angka. Data merupakan tanggapan setiap responden yang berupa “kode-kode” berupa angka atau huruf yang dimasukkan ke dalam program komputer atau “software”. Salah satu paket perangkat lunak yang paling umum digunakan untuk penelitian "entri data" adalah paket perangkat lunak SPPS untuk Windows.

Analisis Data

Pada penelitian ini pengolahan datanya menggunakan program software untuk pengolahan data statistik yang nantinya akan diperoleh p-value. Ho ditolak jika p > α (0,05) maka tidak ada hubungan antara usia menarche, siklus menstruasi, lama menstruasi, aktivitas fisik, tingkat stres dan status gizi dengan perubahan siklus menstruasi.

Etika Penulisan

Berdasarkan hasil survei diketahui bahwa berdasarkan tingkat stres terkait siklus menstruasi, 11 responden (15,9%) mengalami stres ringan, 52 responden (75,4%) mengalami stres sedang, dan 6 responden (8,7%) mengalami stres berat. . Berdasarkan hasil survei diketahui bahwa 51 responden (73,9%) memiliki indeks massa tubuh (BMI) normal berdasarkan status gizi mengenai siklus menstruasi, 18 responden (26,1%) memiliki indeks massa tubuh (BMI) tidak normal). Pada variabel tingkat stres penelitian ini ditemukan hasil tidak adanya hubungan antara tingkat stres dengan siklus menstruasi pada remaja dengan nilai p-value sebesar 0,185.

HASIL PENELITIAN

Hasil Penelitian

Penelitian ini dilakukan di beberapa RW 01, RW 02, RW 07 di Kelurahan Warnasari, Kecamatan Citangkil, Kota Cilegon, Provinsi Banten. Besar sampel dalam penelitian ini adalah 69 remaja putri yang pernah mengalami menstruasi di beberapa RW di Desa Warnasari. Data yang dikumpulkan merupakan data berupa angket, seluruh data disesuaikan dengan tujuan penelitian, yang mengacu pada kerangka konseptual dan teori yang telah dibuat.

Analisa Univariat

Kuesioner yang dibuat diberikan langsung kepada responden, beberapa responden dimonitor untuk pengisiannya menggunakan metode Google Form untuk pengisiannya tanpa melalui proses wawancara. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa menurut aktivitas fisik per siklus menstruasi, terdapat 53 responden (76,6%) yang aktif secara fisik, dan 16 responden (23,2%) yang tidak aktif secara fisik.

Analisa Bivariat

Hal ini tidak sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Yoladiani, Fajria, & Putri, Faktor yang mempengaruhi ketidakteraturan siklus menstruasi pada remaja, 2021), dalam penelitiannya ditemukan adanya hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan siklus menstruasi. hal ini dapat diartikan bahwa siklus menstruasi tidak mempengaruhi perubahan siklus menstruasi pada remaja putri. Hal ini tidak sesuai dengan teori (Sunarsih, 2017) yang menyatakan bahwa aktivitas fisik dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan gangguan siklus menstruasi. Hal ini tidak sesuai dengan teori (Yoladiani, Fajria, & Putri, Faktor yang mempengaruhi ketidakteraturan siklus menstruasi pada remaja, 2021) yang menyatakan bahwa aktivitas fisik dengan intensitas tinggi atau rendah dapat mempengaruhi ketidakteraturan siklus menstruasi.

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Anindita, Darwin, & Arfiwardi, 2016) bahwa hasil tes tidak menemukan hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan siklus menstruasi. Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Hayati, Utami, & Susmini, 2017) yang menyatakan bahwa tingkat stres akan mempengaruhi siklus menstruasi. Namun hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Yudita, Yanis, & Iryani, 2017) terhadap 112 mahasiswa pendidikan kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Andalas angkatan 2011 Sumatera Barat yang menemukan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan hubungan antara tingkat stres dan siklus menstruasi.

Penelitian diatas tidak sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Sunarsih, 2017) yang menyatakan bahwa indeks massa tubuh (BMI) yang rendah menunjukkan rendahnya kadar lemak dalam tubuh sehingga akan menyebabkan ketidakteraturan siklus menstruasi. Remaja putri yang mengalami siklus menstruasi normal berjumlah 36 responden (52,2%) dan yang mengalami siklus menstruasi tidak normal sebanyak 33 responden (47,8%). Hubungan status gizi dan aktivitas fisik terhadap keteraturan siklus menstruasi pada mahasiswa program studi kebidanan Universitas Malahayati tahun 2017.

PEMBAHASAN

PENUTUP

Kesimpulan

Saran

Hubungan pola makan dan status gizi dengan keteraturan menstruasi pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara Tahun 2017.

Gambar

Gambar 2.1 Faktor – faktor yang mempengaruhi siklus menstruasi  pada remaja menurut (Ilmi &amp; Selasmi, 2019), (Fahmi &amp; dkk, 2020), dan
Gambar 3.1 Kerangka Konsep Faktor – faktor yang mempengaruhi siklus  menstruasi pada remaja
Tabel 3.2.1  (Definisi Operasional)  Varia

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Zayed University Zayed University ZU Scholars ZU Scholars All Works 12-1-2022 Association between depression, happiness, and sleep duration: Association between depression,