• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebijakan, Konflik, dan Perjuangan Agraria Indonesia

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "Kebijakan, Konflik, dan Perjuangan Agraria Indonesia "

Copied!
241
0
0

Teks penuh

Untuk lebih mendalami keterkaitan antara kebijakan, konflik dan perjuangan agraria di Indonesia, kajian Sistematika STPN 2012 mengangkat tema “Kebijakan, konflik dan perjuangan agraria Indonesia di awal abad 21”. Pada masa-masa awal, perjuangan agraria berkisar pada tuntutan penyelesaian atas ketimpangan struktur penguasaan tanah.

PENELITIAN LAPANGAN

PENDAHULUAN

Oleh karena itu, upaya menciptakan reklamasi lahan pascatambang melalui kebijakan yang disusun dan dikonsolidasikan secara cermat menjadi suatu keharusan. Strategi apa yang harus dilakukan oleh pemerintah dan pihak terkait untuk melaksanakan pengelolaan lahan pascatambang di Bangka Belitung.

STUDI TAMBANG TERDAHULU

Kajian lain yang mencoba melihat kondisi pascatambang adalah yang dilakukan oleh Triadi (2005) dengan tema Analisis dampak kegiatan penambangan timah inkonvensional terhadap lingkungan di Kabupaten Bangka Tengah. Yang menitikberatkan pada fungsi Corporate Social Responsibility (CSR), Usaha Kecil Menengah (UKM) dan Masyarakat dalam pelaksanaan pemulihan pascatambang.

METODE PENELITIAN

  • Lokasi penelitian dan teknik pengumpulan data
  • Analisis data

Studi ini menyimpulkan bahwa jumlah dampak negatif dari kegiatan penambangan inkonvensional lebih besar daripada jumlah dampak positif dari kegiatan tersebut. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Bangka Tengah yang merupakan salah satu kabupaten di provinsi kepulauan Bangka Belitung dan memiliki banyak kegiatan penambangan timah.

LAND TENURE SYSTEM DI PROPINSI BANGKA BELITUNG

  • Dasar Penguasaan Atas Tanah Di Propinsi Bangka Belitung
  • Perolehan tanah untuk kegiatan Tambang Timah

Tanah Free State ini berasal dari hak barat yang tidak terdaftar atau tidak memenuhi persyaratan proses konversi/pengakuan hak atas tanah. Di areal yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Kehutanan No. 357 Tahun 2004 sudah dikuasai masyarakat dan di beberapa tempat telah diterbitkan sertifikat hak atas tanah.

TAMBANG TIMAH DI KABUPATEN BANGKA TENGAH

  • Tambang BUMN
  • Perusahaan lokal dan asing
  • Tambang inkonvensional

Ada lebih dari 100 unit TI apung ini di seluruh perairan Bank dan selalu beroperasi sesuai dengan lokasi kapal keruk apung (Laut Premis, Rebo, Tanjung Ular, Penganak dan Romodong) (Amdal PT. Timah, 2008). Sampai dengan tahun 2012, terdapat 14 perusahaan lokal dan 1 perusahaan asing yang mendapatkan izin produksi dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah.4 Pada tahun 2010, produksi bahan galian untuk perusahaan asing (PT. Koba Tin) mencapai 5.058 ton, sedangkan yang lainnya KP mencapai 824.045 ton.

Gambar 2. Penggolongan jenis tambang   Sumber: Amdal PT. Timah Tbk, 2008
Gambar 2. Penggolongan jenis tambang Sumber: Amdal PT. Timah Tbk, 2008

PENGELOLAAN PERTANAHAN PASCA TAMBANG

  • Perusahaan Tambang
  • Pemerintah
  • Pemilik Modal Besar
  • Masyarakat

Pemanfaatan lahan pascatambang yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah ditujukan untuk 2 (dua) jenis lahan pascatambang yaitu bekas tambang dan nontambang dengan model pemanfaatan yang berbeda. Pemerintah Daerah khususnya Kabupaten Bangka Tengah memiliki komitmen yang tinggi terhadap pengelolaan, pemanfaatan dan pemanfaatan lahan pascatambang ini.

KONSTRUKSI HUKUM STATUS TANAH PASCA TAMBAN

Di bidang penggunaan lain, status tanah umumnya terdiri atas tanah negara dan tanah perseorangan. Adapun bekas tanah barat otomatis menjadi tanah negara sesuai aturan konversi.

PENGATURAN PENGUASAAN ATAS TANAH DI LOKASI PASCA TAMBANG TIMA

  • HAMBATAN DALAM MEMBUAT KEBIJAKAN PERTANAHAN PASCA TAMBANG
    • Belum ada Rencana Tata Ruang Wilayah
    • Hak Keperdataan Pemilik Kuasa Pertambangan
    • Status Tanah Pasca Tambang

Karena kewenangan untuk mengatur tanah Negara Bebas terkait dengan kewenangan pengaturan Kepemilikan, penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan tanah terletak pada Landstyrelsen. Hak pengelolaan dalam sistem penguasaan tanah tidak termasuk dalam golongan hak atas tanah.

STRATEGI PEMERINTAH DALAM PENGELOLAAN PERTANAHAN PASCA TAMBANG

  • Pemanfaatan tanah bekas tambang melalui Tambang Inkonvensional (TI)
  • Pemanfaatan lahan bekas KK Koba Tin dengan usaha pertnanian, perikanan, peternakan dan perkebunan
  • Peternakan ikan secara kelompok diatas lahan keluaga
  • Sistem pertanian sela

Selain melalui mekanisme perampingan, pemanfaatan lahan KK PT.Koba Tin oleh masyarakat juga dilakukan melalui kerjasama dengan PT Koba Tin. Masyarakat yang tinggal di tanah KK PT. Koba Tin yang menginginkan pekerjaan yang tidak dieksploitasi dapat mengajukan izin penggunaan lahan.

KESIMPULAN DAN SARAN

Demikian juga tidak ada persaingan antara penggarap dan pemilik lahan karena jenis tanaman yang ditanamnya berbeda. Terkadang penggarap dan pemilik lahan juga bekerja sama untuk melakukan pertanian kelompok di area kebun.

REKOMENDASI

WALHI Jambi mencatat, saat ini izin pengembangan perkebunan kelapa sawit di Jambi seluas 1,3 juta ha. Berikut sebelas konflik pertanian yang terjadi di Sarolangun sejak dibukanya perkebunan kelapa sawit.

Grafik 1. Luas Tanaman Perkebunan Kelapa Sawit di Jambi  2006-2010 (dalam ha)
Grafik 1. Luas Tanaman Perkebunan Kelapa Sawit di Jambi 2006-2010 (dalam ha)

PENELITIAN LITERATUR

Pendahuluan

Achmad Sodiki, Makalah yang dipresentasikan pada Seminar Nasional bertema “Penanganan dan Penyelesaian Konflik Agraria sebagai Kewajiban Konstitusional” yang diselenggarakan oleh Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), Jakarta, 13 Maret 2012. 4 Mahklumat Kementerian Kesejahteraan Rakyat No. 4 tanggal 5 Oktober 1945 tentang “Mengenai perlunya pengawasan Perseroan: (Tahun Baru RI I Nr.1​​s.6 kolom 3). Agrarische Wet” (Staatsblad 1870 no. 55) sebagaimana dimuat dalam pasal 51 "Wet op de Staatsinrichting van Nederlands Indie" (Staatsblad 1925 no. 447) dan ketentuan dalam alinea lain pasal ini;

Beberapa contoh konflik agraria yang terjadi di berbagai daerah dan menjadi isu nasional dengan berbagai dinamika perjuangan antara lain konflik ganti rugi tanah untuk pembangunan Waduk Gedung Ombo di Jawa Tengah, konflik Badega di Garut Jawa Barat, konflik Pulo Panggung di Lampung, konflik Cimacan, konflik Jenggawa di Jawa Timur dan tanah Jalanan di Deli, Sumatera Utara, konflik tanah ulayat suku Anungme di Irian Jaya (Papua), konflik terminal Daya dan perluasan Bandara Hasanudin di Makassar, Sulawesi Selatan dan konflik tanah Paguyaman di Gorontalo (konflik Fauzi Bachriadi. Dengan melihat beberapa permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis : (1) konflik pertanian di Polongbangkeng Takalar, (2) Potret Perempuan dalam Perjuangan Agraria, ( 3) Perjuangan agraria di mahkamah konstitusi.

KETIKA TEBU TAK MANIS LAGI: Konflik Agraria di Polongbangkeng Takalar

  • Kontrol Terhadap Tanah
  • Kisruh Pembebasan Lahan
  • Perjuangan Agraria Era Reformasi

Rajawali tingkatkan produksi PG Takalar, petani Moncongkomba justru menunjukkan tanda-tanda perlawanan. Konflik agraria antara petani dan Pabrik Gula Takalar terus berlanjut, sehingga penyelesaiannya diserahkan kepada Pemprov Sulsel. Syahrul Yasin Limpo, Gubernur Sulawesi Selatan, mengundang sejumlah tokoh masyarakat Polobangkeng dalam pertemuan segitiga antara Pemprov Sulsel, Pabrik Gula Takalar dan perwakilan petani Polongbangkeng.15 Hasil pertemuan tersebut menghasilkan keputusan yang dapat diterima. solusi antara perwakilan petani dan Pabrik Gula Takalar termasuk lainnya;.

Sistem kerja dari program ini adalah petani secara mandiri mengelola lahan perkebunan yang telah dialokasikan dan kemudian Pabrik Gula Takalar membeli tebu dari petani. Sebagian besar petani Polobangkeng Utara menolak hasil perundingan antara pabrik gula dengan petani pimpinan Gubernur Sulawesi Selatan.

POTRET PEREMPUAN DALAM PERJUANGAN AGRARIA Menelusuri jejak perempuan dalam gerakan agraria, ada baiknya

  • Strategi perjuangan
  • Tonggak perjuangan
  • Dari “Tubuh” Menuju Perubahan
  • Dari Pribadi menuju Perjuangan Bersama
  • Dari Kelompok Sektor Menuju Kepentingan Perempuan

Perempuan tani dan kelompok perempuan yang memperjuangkan haknya menggabungkan strategi konfrontatif dan kooperatif tergantung pada situasi dan lapangan kerja. Sedangkan bagi petani perempuan yang berada di pedesaan, mereka memperjuangkannya dengan menggalang kekuatan dengan cara mengorganisir, mendemonstrasikan, menguasai tanah, berunding dengan pihak yang bertikai dan petani laki-laki untuk menyuarakan kepentingannya. Teknik buka baju yang digunakan perempuan tani dalam demonstrasi berhasil membuat aparat eksekusi menunda penggusuran.

Hanya orang-orang yang tidak memiliki hati nurani yang tidak tergerak oleh nasib perempuan tanpa busana seperti yang dialami petani perempuan di Pasir mandoge, Sumatera Utara saat menghadapi penggusuran yang dilakukan oleh PT Bakrie Sumatera Plantations (PT BSP). Saat itu, Ning Sutiah, seorang aktivis agraria dari Malang, terpilih sebagai presidium nasional pertama dari kelompok kepentingan perempuan tani.

PERJUANGAN AGRARIA DI MAHKAMAH KOSTITUSI Pengujian UU terkait dengan sumber daya alam di MK adalah salah

  • Perjuangan Petani atas hak-hak konstitusional dibidang perkebunan
  • Implikasi Putusan Mahkamah Konstitusi terhadap UU 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan

021/PUU-II/2005 Review UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan yang diubah berdasarkan UU No. 9 tahun 2004 tentang peraturan pengganti UU No. 1 tahun 2004. 54/PUU-VIII/2010 Perpu no. 2004 terkait Pencabutan Pasal 83B Kehutanan 9Hendra Sugiharto (PT. Astra Sedaya Finance), Bahrul Ilmi Yakup, S.H., dkk. 021/PUU-III/2005 Review atas UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan yang diubah berdasarkan UU No. 9 tahun 2004 tentang peraturan pengganti UU No. 1 tahun 2004.

19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perubahan atas UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan menjadi UU terhadap UUD 1945. Di bawah ini hanya akan kami uraikan perjuangan para petani untuk memiliki Pasal 21 junto 47 UU No. 19 Tahun 2004 tentang Pembatalan Perkebunan.

KESIMPULAN

Mengidentifikasi akar-akar konflik agraria khususnya pada era reformasi b. Mengidentifikasi pola-pola kebijakan penyelesaian konflik agraria i. Kemudian mencari keberadaan kebijakan atau mekanisme penyelesaian konflik yang berupaya menyelesaikan konflik agraria sebagai antitesis dari kebijakan-kebijakan penyebab konflik tersebut . Umumnya, kelompok masyarakat menempatkan konflik pertanian sebagai akibat/tanggapan atas struktur penguasaan sumber daya pertanian yang tidak seimbang.

Masyarakat melihat konflik agraria sebagai akibat dari ketidakseimbangan struktur penguasaan sumber daya pertanian akibat dominasi dua kubu lainnya. Penghapusan pengadilan khusus agraria pada masa awal Orde Baru berkontribusi pada konflik agraria yang tidak terselesaikan.

Tabel 1. Perbedaan tipologi konflik agraria Era Reformasi dan  sebelumnya
Tabel 1. Perbedaan tipologi konflik agraria Era Reformasi dan sebelumnya

PENELITIAN ANOTASI BIBLIOGRAFI

Konsepsi Konflik dan Perjuangan Agraria Abad XXI

Di sisi lain, istilah abad XXI juga menjadi pertanda kembalinya kajian agraria di dunia akademik, termasuk di Indonesia. Munculnya kembali gagasan mewujudkan keadilan agraria di Indonesia pada abad ke-21 setidaknya didorong oleh 3 (tiga) hal pokok. Selain itu, penjelasan mendasar tentang konsepsi konflik dan perjuangan agraria pada abad XXI sangatlah penting.

Di abad XXI ini, pendukung perjuangan agraria di Indonesia dari pihak agen tidak lagi banyak terlibat. Karena perjuangan agraria di abad XXI, persoalan utamanya bukan lagi penguasaan atas sumber-sumber agraria.

Peta Relasi Kuasa Agraria

Dalam arus kolonialisme, tanah sebagai sumber agraria telah berubah fungsinya dari alat produksi untuk memenuhi kebutuhan hidup massa tani, berubah fungsinya menjadi alat produksi bagi organisasi kapitalis. Relasi kekuatan agraria menjadi semakin kompleks ketika lembaga dan lembaga keuangan internasional mengatur akses ke sumber daya agraria. Negara yang seharusnya berperan dalam mendistribusikan kembali sumber-sumber agraria secara adil direduksi demi kepentingan pembangunan.

Penyalahgunaan distribusi sumber daya pertanian pada paruh kedua abad ke-20 ini tidak hanya menyebabkan ketidakadilan, kemiskinan, dan lingkungan.22 Sementara itu, lembaga keuangan internasional sering melaporkan dalam literatur bahwa sistem pertanian dengan basis kepemilikan tanah yang jelas adalah dianggap memiliki kewajaran dan berpegang pada prinsip efisiensi. Tumbuh dan berkembangnya berbagai usaha yang memanfaatkan sumber daya pertanian, seperti pertambangan, kawasan industri, agribisnis, perusahaan kayu, pariwisata, dan real estate.

Politik Agraria dan Perjuangan Agraria

Upaya mewujudkan politik agraria yang mendapat peluang politik dalam upaya merenovasi sistem kolonial menjadi nasional, tentu saja berbeda bentuk dan strategi perjuangannya dengan masa kebangkitan organisasi rakyat pada tahun 1960-an. Terbentuknya organisasi rakyat kerakyatan pada tahun 1990-an merupakan wujud kebangkitan kembali gagasan reforma agraria di Indonesia. Organisasi rakyat yang lahir pada tahun 1990-an tidak memiliki kaitan ideologi dan keterkaitan dengan organisasi rakyat pada masa awal kemerdekaan Republik Indonesia.

Padahal ormas pada saat itu memiliki posisi politik yang luar biasa dan memiliki kontribusi yang besar terhadap lahirnya BAL pada tahun 1960. Selain itu, ormas pada tahun 1990-an juga tidak ada hubungannya dengan ormas pasca kampanye kemanusiaan 1965. -1966. sebuah tragedi.

Tipologi Konflik dan Perjuangan Agraria

28 Terdapat beberapa organisasi perjuangan agraria nasional, seperti: Aliansi Petani Indonesia (API), Federasi Serikat Petani Indonesia (FSPI) yang kemudian menjadi Serikat Petani Indonesia (SPI), Serikat Tani Nasional (STN). Legitimasi teologis ini tidak hanya hadir dalam setiap gerakan perjuangan agraria yang belum pernah kita temukan sebelumnya. Oleh karena itu, perjuangan agraria di Indonesia pasca tahun 1965-1966 selalu dilekati makna yang bertentangan dengan nilai-nilai agama.

Tidak diketahui berapa lama teologi telah ada. baru', yang melegitimasi perjuangan agraria di Indonesia. Legitimasi teologis ini tidak hanya hadir dalam setiap gerakan perjuangan agraria yang sebelumnya tidak kita temukan.

Sumatera Barat dan Proses Penguasaan Lahan

Kehadiran Belanda di Minangkabau pada tahun 1819 merupakan hasil dari perkembangan politik di Eropa (Mansoer dkk. Pemerintah Hindia Belanda di Minangkabau menginginkan bantuan personel (tentara) dari Batavia untuk menambah pasukan. Salah satu tantangan yang dihadapi Belanda Timur .Pemerintahan India adalah masalah status tanah di Minangkabau.

42 Sistem tanam paksa kopi yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Belanda di Sumatera Barat dari tahun 1847 sampai 1908. Kebijakan di atas yang diterapkan oleh pemerintah Belanda daratan di Minangkabau berujung pada pemberontakan komunis tahun 1927.

Kebijakan Politik yang Sentralistik

Hukum adat Minangkabau selama ini dipandang sebagai kendala dalam pembebasan tanah oleh pemerintah, karena di Minangkabau tidak ada tanah kosong. Kebijakan-kebijakan yang dilakukan pemerintah Belanda mengenai tanah di Minangkabau tersebut di atas berujung pada pemberontakan komunis pada pertengahan tahun 1920-an. Kedua, adanya konflik antara hukum adat Minangkabau dengan kebijakan kolonial Belanda mengenai masalah pertanahan di Minangkabau.

Ketiga, selain konflik tanah, khususnya tanah warisan di Minangkabau tidak lepas dari perkembangan ekonomi uang dan pendatang. Laporan penelitian ini merupakan desk research study tentang kecenderungan perampasan tanah di abad 21 yang biasa disebut perampasan tanah.

Gambar

Gambar 1. Arus Informasi Kebijakan  (Sumber: Abidin, 2005: 71)
Gambar 2. Penggolongan jenis tambang   Sumber: Amdal PT. Timah Tbk, 2008
Tabel 1. Perusahaan timah lokal dan asing sebagai Exportir Terdaftar
Gb.3. Diagram Alir Konstruksi Hukum Status Tanah Pasca Tambang.
+7

Referensi

Dokumen terkait

The Distribution of TB Based on Time Figure 5 shows that tuberculosis that occurred in the working area of Arjasa Primary Healthcare in 2019-2022 based on time characteristics was