KECAMATAN 2X 11 KAYU TANAM KABUPATEN PADANG PARIAMAN
ARTIKEL
ROBBY MAHYUDDIN NPM:09070144
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI SUMATERA BARAT
PADANG 2016
HALAM PENGESAHAN ARTIKEL
The Rale Of local Communities In The Development Of Tourism Attractions Pelangi Waterfall In Kenagarian Anduriang Districts Of 2 X 11 Kayu Tanam
Padang Pariaman District
Robby Mahyuddin1
Dian Kurnia Anggreta M.Si
2Ikhsan Maharma Putra M.Si
3SOCIOLOGY OF EDUCATION STUDIES PROGRAM STKIP PGRI PADANG, WEST SUMATRA
ABSTRACT
The problems of this research is the role of local communities in the development and management of tourism Pelangi Waterfall in Nagari Anduriang Districts of 2 X 11 Kayu Tanam Padang Pariaman district and governance is done by communities in tourism development efforts Pelangi Waterfall in Nagari Anduriang the Districts 2 X 11 Padang Pariaman district. The purpose of this study is to describe the role of local communities in the development and management of tourism in Pelangi Waterfall Nagari Anduriang Districts of 2 X 11 Kayu Tanam Padang Pariaman district and describe governance is done by local people in an effort pelangi Falls tourism development in Nagari Anduriang District of 2 X 11 Kayu Tanam Padang Pariaman district.This type of research used in this study is a qualitative research. This research was conducted in Korong Asam Pulau Jorong Sikayan Paku Nagari Anduriang District of 2 X 11 Kayu Tanam. Research techniques informants with purposive sampling technique. Informants in this study were community leaders like niniak mamak, Guardian Korong, youth become tourist guides, and communities around the Rainbow Falls tourism and the tourists who visit Pelangi Rainbow. Data analysis technique in this research is the process of data collection, data reduction, data presentation, drawing conclusions or verification.The results of the research that has been done is the role of the community in providing security to tourists as with their guides, their security posts, and the governance of the community in maintaining cleanliness and sustainability of attraction and their attractions Pelangi Falls a positive impact on society Anduriang namely their employment for the local population in tourism, construction of facilities and better infrastructure for the convenience of tourists, preserve nature, environment and culture of the nation, can eradicate poverty
Keywords: The Rale Communities,Development Tourism Attractions
1 Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat Angkatan 2009.
2 Pembimbing I Dan Dosen STKIP PGRI Sumatera Barat.
3 Pembimbing II Dan Dosen STKIP PGRI Sumatera Barat.
PENDAHULUAN
Negara Indonesia merupakan negara yang terdiri dari pulau-pulau dan terbagi dalam propinsi- propinsi. Salah satunya adalah Propinsi Sumatera Barat. Propinsi Sumatera Barat merupakan wilayah yang sebagian besar daerahnya adalah daerah pesisir yang demikian sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi obyek wisata.
Dari sektor pariwisata tersebut diperoleh dampak positif antara lain menghasilkan devisa Negara, menumbuhkan lapangan kerja, menuntaskan kemiskinan dan perbedayaan masyarakat lokal, melestarikan lingkungan hidup, meningkatkan ketahan budaya serta mempererat persahabatan antar bangsa. Sedangkan sebagai kegiatan ekonomi pariwisata baru berkembang pada abad ke-19 dan sebagai industri internasional, pariwisata dimulai pada tahun 1869. (MacDonal, 2009:32).
Jika pariwisata tidak ditangani secara profesional maka akan menimbulkan dampak buruk antara lain rusaknya nilai seni dan budaya, kehancuran ekosistem dan lingkungan hidup serta pelangaran terhadap norma agama, adat istiadat, dan hak asasi manusia, oleh karenanya pemerintah beserta seluruh pemangku kepentingan pariwisata harus bersama-sama menyelengarakan kepariwisataan dengan memperhatikan aspek-aspek sosial, budaya, lingkungan hidup dan kearifan lokal serta senantiasa menjunjung tinggi norma agama, tradisi, adat istiadat, kesusilaan dan hak asasi manusia sehingga diperoleh nilai tambah yang tinggi.
Selanjutnya dalam aspek ekonomi, kepariwisataan diharapkan mampu untuk memperdayakan masyarakat setempat, menumbuhkan potensi ekonomi daerah tujuan wisata dan memberikan efek menetes ke bawah yang memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat sekitar tujuan wisata.
Pemerintah Provinsi Sumatra Barat dalam pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2011-2015 di bidang pariwisata akan meningkatkan kompetensi dan profesionalisme Sumber Daya Manusia (SDM) pelaku dunia usaha di daerah tersebut. Menurut pernyataan Gubenur Sumbar Irwan Prayitno (padek, 2013), obyek wisata andalan daerah ini antara lain:
kota wisata Bukittinggi, kota budaya Batusangkar, wisata daerah Padang” Kota Tua” wisata sawahlunto kota sejarah tambang batubara,kabupaten padang pariaman.
Kabupaten Padang Pariaman adalah sebuah Kabupaten yang begitu banyak objek wisata baik wisata di laut maupun di pegunungan.Berdasarkan data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dan Olahraga,
Kabupaten Padang Pariaman, kunjungan wisatawan mengalami kenaikan
Air Terjun Pelangi adalah salah satu objek wisataterletak Nagari Anduriang Kecamatan 2X11 Kayutanam,Kabupaten Padang Pariaman. Sumatera Barat, Objek wisata ini mulai berkembang pada tahun 2013, tetapi pengunjungnya mulai berkembang pada tahun 2016. Pertumbuhan dan perkembangan Objek Wisata tersebut tentu saja akan menimbulkan dampak terhadap peran masyarakat lokal dalam pengembangan objek wisata Air Terjun Pelagi di Kenagarian Anduriang.
Selain memiliki air terjun yang indah, Air Terjun Pelangi juga memiliki air yang bersih dan jernih. Kendati demikian, lokasi wisata ini relatif jarang di kunjungi. Untuk sampai kelokasi, waktu tempuh hingga satu atau dua jam berjalan kaki, untuk mencapai lokasi wisata tersebut.
Pengunjungnya mulai berkembang pada tahun 2016 .Sarana dan prasarana yang terdapat di sekitar lokasi adalah tempat jasa guide dan terdapat pondok- pondok kecil tempat beristirahat dan makan.
Terdapatbeberapa warga setempat yang nantinya bertugas sebagai guide atau penunjuk jalan. Harga yang dipatok untuk jasa guide, hanya Rp 10.000,00.
Perorang.
Menurut salah seorang pemandu wisata di lokasi ini , Iksan, tempat ini dinamai Air Terjun Pelangi karena sering adanya pelangi yang mengiasi air terjun tersebut,” terangnya. Dia menuturkan, lokasi ini mulai ramai dikunjungi sejak Tigatahun terakhir.Apalagi jika libur tiba, pengunjung bisa dua kali lipat dari hari biasa. Kendati demikian , jumlah pengunjung masih sedikit karena masih belumbanyak mengetahuinya.
Perkembangan pariwisata di Air Terjun Pelangi terus ada. Pengelolaan Fasilitas dan tempat wisata ini dari awal ditemukan hingga saat ini di kelola oleh masyarakat setempat, tetapi akibat tidak adanya perhatian atau peran masyarakat setempat akhirnya tempat pariwisata ini sempat terhenti dikarnakan akibat kecemburuan sosial masyarakat setempat yang tidak ingin tanah dan ladang mereka rusak akibat pegunjung. Berdasarkan Informasi dari seorang pemuda Kayu tanam wisata sudah ada sejak tahun 2000. Sejak itulah masyarakat membangun suatu pengelolaan wisata itu sendiri. Mereka mengatur kebutuhan wisatawan mulai dari pakir, guide, keamanan dan fasilitas lain untuk keamanan pengujung.Hal inilah yang membedakan air terjun pelangi dengan objek wisata lainya di Sumatra Barat.
Berdasarkan hal tersebut menarik untuk di teliti tentang“ Peranan masyarakat lokal dalam mengembangkan objek wisata Air Terjun Pelangi
di Nagari Anduriang Kecamatan 2X11Kayu Tanam,KabupatenPadang Pariaman.”
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan selama 2 bulan mulai dari bulan Mei sampai juni. 2016. Penelitian ini dilakukan di kenagarian anduriang kecamatan 2x 11 Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman
Pedekatan penelitian ini adalah kualitatif deskriptif Penelitian kualitatif dimaksud adalah untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh objek. Misalnya perilaku, persepsi motivasi, tindakan dan lain-lain (Moleong, 2010:4). Tipe ini adalah deskriptif analisis yag mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang hubungan-hubunga. Kegiatan- kegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan, proses yang sedang berlangsung dan berpengaruh dari suatu fenomena ( Nazir, 2009:54-55).
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Menurut Zuriah (2009:94) deskriptif data yag diperoleh (berupa gambar kata-kata, gambar, prilaku) tidak dituangkan dalam bentuk bilangan atau angka statistik, melainkan dalam bentuk kualitatif yang memiliki arti lebih kaya dari sekedar angka atau frekwensi. Peneliti segera melakukan analisis data dengan memaparkan gambaran mengenai situasi yang diteliti dalam bentuk uraian naratif. Berdasarkan jenis penelitian diatas, maka peneliti medeskripsikan Peranan Masyarakat Lokal dalam Pengembangan Objek Pariwisata Air Terjun Pelangi di Nagari Anduriang Kecamatan 2 X 11 Kayu Tanam Kabupaten Padang Pariaman.
Informan penelitian adalah orang-orang yang memberikan informasi kepada peneliti yang berhubungan dengan penelitian yang peneliti laksanakan. Pemilihan informan adalah secara porposive sampling merupakan penarikan informasi yang dipilih secara sengaja dengan berdasarkan pertimbangan- pertimbangan atas karakteristik tertentu sesuai dengan penelitian dan keberadaan merek yang sudah diketahui ( Afrizal, 2005:64).
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan dua bentuk jenis data yaitu, Data primer, Data skunder. Teknik pengumpulan data dilakukan secara kualitatif dengan mengadakan, Observasi, Wawancara.
Sebaliknya kalau tidak fungsional maka struktur itu tidak akan ada atau akan hilang dengan sendirinya. Tingkat analisis merton lebih pada institusi, kelompok, masyarakat dan culture. Merton melihat suatu institusi atau pranata tertentu dapat fungsional bagi unit sosial tertentu dan sebaliknya
dis-fungsi manifes dan fungsi laten. Fungsi manifes
adalah fungsi yang diharapkan
(Ritzer.2001:2007).Menurut Merton Fungsional dibagi dua yaitu fungsi nyata (manifes function) dan fungsi sembunyi (latent function). Fungsi disebut nyata apabila konsekuensi tersebut disengaja, dimaksudkan atau setidaknya diketahui. Adapun fungsi tersebut berbunyi, apabila konsekuensi tersebut secara objektif ada tetapi tidak (belum) diketahui. Perbedaan fungsi seperti ini banyak memberi manfaat dalam menelaah kesatuan sosial,(Nazsir,2008:14) sebagai berikut :
1. Dapat membantu orang untuk memahami mengapa pratek-pratek tertentu didalam masyarakat nampak tidak masuk akal dan tidak mencapai tujuanya, tapi masih tetap diteruskan,
2. Kenyataan sosial dan keadaan yang sebenarnya bisa dikenali lebih baik, bila fungsi-fungsi sembunyi dari suatu fenomena sosial,
3. Menemukan fungsi-fungsi sembunyi selalu menambah pengetahuan sosiologi. Orang akan belajar dan mengatakan bahwa kehidupan sosial itu tidak pernah sederhana sebagaimana kelihatan dari luarnya,
4. Kepekaan akan fungsi-fungsi sembunyi dapat membuat orang lebih hati-hati dalam menilai pratek-pratek atau kenyataan sosial.
Studi Dokumen Merupakan penelaahan referensi-referensi yang berhubungan dengan fokus permasalahan penelitia.Dokumen yang dimaksud adalah dokumen pribadi, dokumen resmi, referensi- referensi, foto-foto, rekaman kaset.Data dibawah ini bermanfaat bagi peneliti untuk menguji, menafsirkan bahkan untuk peramalan jawaban dari fokus permasalah penelitian. Dalam penelitian kualitatif studi dokumentasi, peneliti dapat mencari dan mengumpulkan data-data teks atau image (Iskandar, 2009 :219). Pencatatan dokumen perlu dilakukan, supaya data dari suatu sumber atau dokumen bisa dikumpulkan secara terseleksi sesuai dengan keperluan penelitian bersangkutan. Dokumen lain yang digunakan dalam penelitian ini adalah catatan atau rekaman wawancara dengan informa dan foto dari Objek Wisata Air Terjun Pelangi di Kenagarian Anduriang Kecamatan 2 X 11 Kayu Tanam Kabupaten Padang Pariaman.
Unit analisis adalah satuan tertentu yang diperhitungkan sebagai subjek penelitian (Arikunto,2010:121). Unit analisis berguna untuk mengfokuskan kajian yang dilakukan atau dengan pengertian lain objek yang diteliti ditentukan kriterianya. Bahwa menjadi subjek penelitian adalah orang-orang yang dipandang memiliki pemahaman dan keterlibatan langsung terhadap permasalahan
penelitian. Dalam penelitian ini yang menjadi unit analisisnya adalah kelompok masyarakat di Nagari Anduriang Kecamatan 2 X 11 Kayu Tanam Kabupaten Padang Pariaman.
Sesuai dengan penelitian yaitu penelitian bersifat kualitatif, maka teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif. Data yang terkumpul dianalisis langsung dilapangan dan setelah itu baru dianalisi secara intensif, jika semua data yang dibutuhkan telah terkumpul. Menurut analisis model Milles dan huberman (Iskandar,2009:223), dalam teknik analisis data ini, dapat dilakukan dengan menggunakan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Pengumpulan data, merupakan tahap dimana semua data yang telah diperoleh dari hasil wawancara, observasi, dan pencatatan dokumen yang dikumpul menjadi satu.
2. Reduksi data, merupakan proses diman peneliti memusatkan perhatian pada data yang ada dilapangan yang telah terkumpul. Data lapangan tersebut selanjutnya dipilih dalam arti menentukan derajat relevasinya dengan maksud penelitian. Selanjutnay data yang terpilih disederhanakan, dalam arti mengklafikasikan data atas dasar tema-tema yaitu memadukan yang tersebar, menelusuri tema untuk merekomendasikan data tambahan, kemudian peneliti melakukan abstraksi data kasar tersebut menjadi uraian singkat (Bungin,2011:285) 3. Penyajian data, merupakan proses dimana
peneliti melakukan Penyajian informasi melalui bentuk tes naratif terlebih dahulu. Selanjutnya hasil tes naratif tersebut diringkas dalam bentuk bagian menggambarkan alur proses perubahan kultural dari monokulturalitas ke interkulturalitas. Masing-masing komponen dala bagian merupakan abstraksi dari tek naratif data lapangan, kemudian peneliti menyajikan informasi hasil penelitian berdasar susunan yang telah diabstaksikan dala bagian tersebut (Bungin,2011:285).
4. Verifikasi atau pengambilan kesimpulan proses dimana merupakan suatu upaya dari peneliti untuk mencari kesimpulan atas data-data yang telah direduksi dan juga disajikan. Berlandasakan dari pengertian diatas maka peneliti menarik kesimpulan kesimpulan sebagai jawaban atas permasalahn yang peneliti ajukan.
Pembahas Hasil Penelitan
Teori Robert K. Merton tentang fungsi manifest dan fungsi laten berkaitan dengan penelitian ini dengan adanya peran masyarakat lokal
dalam perkembangan Air Terjun Pelangi. Fungsi manifes yaitu fungsi yang diharapkan pada peran masyarakat dalam mengembangkan pariwisata Air Terjun Pelangi ini, seperti :
1. meningkatkan pendapatan masyarakat dilingkungan masyrakat objek Pariwisata Air Terjun Pelangi.
2. Pemerataan pembengunan daerah pada objek Air Terjun Pelangi
3. Meningkat SDM masyarakat di sekitar Objek Masyarakat Air Terjun Pelangi.
Adapun fungsi laten (tidak diharapkan) pada peran masyarakat lokal dalam mengembangkan objek pariwisata Air Terjun Pelangi yaitu
1. Pencemaran lingkungan pada Objek Pariwisata Air Terjun Pelangi sepeti sampah bertebaran di lingkungan objek wisata.
2. Alkuturasi kebudayan yang disebabkan oleh adanya pengaruh yang datang dari luar yang ikut mempengaruhi kehidupan social- budaya masyarakat setempat.
Pariwisata Air Terjun Pelangi teletak di Korong Asam Pulau Nagari Anduriang Kecamatan 2 X 11 Kayu Tanam. Asam Pulau merupakan kampung paling tua dalam Nagari Anduriang. Luas daerah wisata Air Terjun Pelangi 1800 Ha. Dengan kondisi geografis terdiri dari dataran tinggi, dataran rendah, serta kawasan hutan.Keadaan iklim daerah pariwisata Air Terjun Pelangidi Nagari Anduriang kecamatan 2 X 11 Kayu Tanam Kabupaten Padang Pariaman dengan suhu 20-28 C Serta curah Hujan 2000/3000 mm dengan ketinggian di atas permukaan laut Rata- rata 100-150 M.
Pariwisata Air Terjun Pelangi terdapat di Jorong Sekayan Paku Korong Asam Pulau Kecamatan 2 X 11 Kayu Tanam Kabupaten Padang Pariaman. Untuk mencapai lokasi membutuhkan waktu 45 menit dari jalan raya menuju pakiran Air Terjun Pelangi dengan Kecepatan 60 km jika menggunakan kendaran beroda dua. Kondisi jalan pun sangat sulit di lalui karna banyak lubang-lubang di badan jalan tersebut. sehingga dengan kondisi jalan yang kurang memukinkan. Penduduk disana jika mau ke pasar harus menggunakan motor karna angkutan umum belum ada disana.
Sampai di posko atau pakiran Air Terjun Pelangi telah di bantu oleh pemandu ( Guide) petunjuk jalan untuk menuju ke Air Terjun Pelangi waktu tempuh berjalan kaki 40 menit, untuk mengunjung kawasan tersebut, sesorang harus melewati ladang milik warga. Pemandangan sungai yang indah mengiringi perjalanan. Selain perjalanan kita melewati anak sungai yangberbatu yang pemandangannya alami.
Waktu tidak akan terasa selama di air terjun, yang dirasakan adalah rasa senang dan ucap
syukur kepada Maha Kuasa atas ciptaannya.Tidak terlalu sulit untuk menemukan posko objek wisata ini. kalau kita dari Padang, silahkan berhenti setelah pasar Kayu Tanam kecamatan2 X 11, sebelum sampai mesjid ada simpang 3 dan terus lurus. Jarak Dari simpang ke posko kurang lebih 8 - 10 kilo meter dengan waktu tempuh 20 - 30 menit dengan menggunakan Sepeda motor.Dalam perjalanan nanti kita akan menjumpai bendungan, setelah bendungan ikuti terus jalan yang ada sampai masuk ke korong Asam pulau. Kondisi jalan tidak terlalu baik dan naik turun tidak akan jadi rintangan.setiba kita di Korong Asam pulau kita menemukan PLTA.tidak jauh dari sana kita akan menemukan posko tempat air terjun pelangi.setiba di sana kita akan disambut oleh pemandu yang akan membantu kita petunjuk jalan ke objek Air Terjun Pelangi.dari tempat posko tersebut menuju wisata air terjun pelangi membutuhkan jarak tempuh lebih kurang 1 jam untuk sampai ketempat tersebut.dalam perjalan untuk mencapai ke lokasi kita akan menyebrangi 3 kali anak sungai yang kedalaman nya kurang lebih 1 meter.karna tidak ada dana untuk membuat jembatan dari pemerintah maka pengunjung harus melewati anak sungai tersebut dengan pemandunya.setelah peneliti sampai di objek wisata Air Terjun Pelangi rasa lelah dan letih akan terobati dengan keindahan Air Terjun Pelangi tersebut
Adapun Fasilitas yang ada di Objek Wisata Air Terjun Pelangi sebagai berikut :
1. Tempat Pakir Motor
Adapun Fasilitas untuk para wisatawan yang ke wisata Air Terjun Pelangi adalah disediakan tempat pakiran motor,dengan lebar 20 m dan panjang 30 m. Fasilitas tempat pakiran motor ini di sedikan semejak Objek wisata Air Terjun Pelangi telah dibuka dari tahun 2013 sampai sekarang.
2. Posko
Pengelolaan pariwisata perlu ada dukungan dari masyarakat lokal atau masyarakat yang berada di dekat objek wisata tersebut, salah satu dukungan dari masyarakat adalah dengan didirikan sebuah posko untuk para pelayanan yang lebih baik lagi.
3. Pemandu ( Guide)
Pelayanan yang baik disertai dengan keramahtamahan dalam menyambut pengunjung merupakan hal yang terpenting dalam di setiap wisata, karena kenyamanan yang di rasakan pengunjung merupakan nilai jual buat tempat wisata. Pemandu bertugas menjaga keselamatan pengunjung untuk sampai ke lokasi dan pulang kembali. Jasa pemandu tekking dihargai Rp 50.000
sedangakan untuk pemandu camping 100.000.
Pemandu untuk kegiatan wisata minat khusus ke Air Terjun Pelangi terbagi atas dua yang pertama pemandu ahli, pemandu ahli adalah pemandu yang telah menguasai P3K praktis, dapat berkomunikasi dengan baik, tau kondisi hutan Asam Pulau, tau potensi destinasi wisata yang ada perjalan menuju Air Terjun Pelangi dan dapat melakukan resgue jika terjadi kecelakaan dengan berjumlah 7 orang. Kedua pemandu camping bejumlah 3 orang dari 10 pemandu.
4. Tempat istirahat
Untuk mengembang objek wista Air Terjun Pelangi sangat perlu peran masyarakat dalam tata kelola wisata ini. Dan telah di sediakan tempat istirahat untuk pengunjung wisata berupa pondok-pondok kecil tempat beritirahat untuk para pengunjung wisata Air Terjun Pelangi.
Pengelolaan pariwisata perlu ada dukungan dari masyarakat lokal atau masyarakat yang berada di dekat objek wisata tersebut, berdasarkan hasil penelitianperan masyarakat NagariAnduriang dalam memberikan keamanan pada pengunjung sudah ada yaitu dengan adanya posko yang telah didirikan, di posko ini pengunjung akan didata, kalau ada kecelakaan maka yang menjaga posko mengetahui dengan cepat siapa saja pengunjung yang datang. Lahan yang terdapat di posko adalah milik masyarakat setempat,di posko juga ada memandu pemandu dalam melaporkan perjalanannya
Sistim kepemilikan tanah di Objek wisata Air Terjun Pelangi adalah milik penduduk masyarakat si sekitar Objek Wisata tersebut, dimana dampak negatif dari Objek wisata Air Terjun Pelangi bagi penduduk sekitar adalah rusaknya lahan perkebunan milik penduduk sekitar Objek Wisata Air Terjun Pelangi 2 Hectarsehingga akses perjalan menuju Objek Wisata Air Terjun Pelangiterganggu karna pemilik tanah terkadang kecewa banyaknya wisata lewat lahan miliknya, sehingga para penduduk tanah kecewa atas kerusakan kebun miliknya
.
Peranan masyarakat lokal dalam upaya penegembangan onjek pariwisata
Peranan masyarakat dalam pembangunan pariwisata Air Terjun Pelangi adalah sebagai upaya dalam menciptakan keindahan alam, serta memupuk rasa cinta pada tanah air dan bangsa.Adapun berkaitan dengan teori srtuktural fungsional menurut Robert K. Merton masyarakat merupakan suatu
sistim sosial yang terdiri dari bagian-bagian atau elemen-elemen yang saling berkaitan dan saling menyatu dalam keseimbangan. Besarnya peranan masyarakat dalam pengembangan pariwisata akan menjadikan objek wisata menjadi aman dan nyaman, objek wisata Air Terjun Pelangi dari awalnya sampai sekarang sudah banyak perkembangannya, karena adanya dukungan masyarakat. Sesuai dengan pendapat Nurmawati (2006),pengembangan wisata alam dan wisata budaya dalam perspektif kemandirian lokal merupakan perwujudan interkoneksitas dalam tatanan masyarakat yang dilakukan secara mandiri oleh tatanan itu sendiri guna meningkatkan kualitas tatanan dengan tetap memelihara kelestarian alam dan nilai-nilai budaya lokal, serta obyek wisata alam dan wisata budaya yang ada. Sesuai juga dengan pendapat Nurhayati, (2005) selama ini pengembangan pariwisata daerah ditujukan untuk mengembangkan potensi lokal yang bersumber dari alam, sosial budaya ataupun ekonomi guna memberikan kontribusi bagi pemerintah daerah, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dalam hal ini masyarakat lokal yang akan membangun, memiliki dan mengelola langsung fasilitas wisata serta pelayanannya, sehingga dengan demikian masyarakat diharapkan dapat menerima secara langsung keuntungan ekonomi dan mengurangi urbanisasi.
Dengan adanya Air Terjun Pelangi di Nagari Anduriang maka dapat memberdayakan ekonomi masyarakat, sebab dalam konsep ini masyarakat setempat diikutsertakan dalam perencanaan, pengelolaan, pengembangan, dan pemasarannya.Dengan demikian, masyarakat setempat akan turut merasakan manfaat nyata daripada pengelolaan dan Pengembangan Pariwisata Air Terjun Pelangi. Adapun bentuk peranan masyarakat Nagari Anduriang terhadap pengembangan Air Terjun Pelangi , berdasarkan hasil wawancara peneliti adalah: bergontong royong membangun posko, dan terjun langsung sebagai pemandu wisata. Hal ini sesuai dengan Era otonomi daerah sebagai implikasi dari berlakunya UU No. 32 tahun 2004, memberikan peluang bagi setiap Pemerintah Kabupaten/Kota untuk merencanakan dan mengelola pembangunan daerahnya sendiri, serta tuntutan bagi partisipasi aktif masyarakat dalam proses pembangunan dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Masyarakat sebagai komponen utama dalam pembangunan pariwisata berbasis masyarakat mempunyai peranan penting dalam menunjang pembangunan pariwisata daerah yang ditujukan untuk mengembangkan potensi lokal yang bersumber dari alam, sosial budaya ataupun ekonomi masyarakat. UU No 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan menyatakan bahwa masyarakat
memiliki kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk berperan serta dalam penyelenggaraan kepariwisataan. Peran serta masyarakat dalam memelihara sumber daya alam dan budaya yang dimiliki merupakan andil yang besar dan berpotensi menjadi daya tarik wisata.
Adapun berkaitan dengan teori srtuktural fungsional menurut Robert K. Merton masyarakat merupakan suatu sistim sosial yang terdiri dari bagian-bagian atau elemen-elemen yang saling berkaitan dan saling menyatu dalam keseimbangan.
Besarnya peranan masyarakat dalam pengembangan pariwisata akan menjadikan objek wisata menjadi aman dan nyaman, objek wisata Air Terjun Pelangi dari awalnya sampai sekarang sudah banyak perkembangannya, karena adanya dukungan masyarakat. Sesuai dengan pendapat Nurmawati (2006),pengembangan wisata alam dan wisata budaya dalam perspektif kemandirian lokal merupakan perwujudan interkoneksitas dalam tatanan masyarakat yang dilakukan secara mandiri oleh tatanan itu sendiri guna meningkatkan kualitas tatanan dengan tetap memelihara kelestarian alam dan nilai-nilai budaya lokal, serta obyek wisata alam dan wisata budaya yang ada. Sesuai juga dengan pendapat Nurhayati, (2005) selama ini pengembangan pariwisata daerah ditujukan untuk mengembangkan potensi lokal yang bersumber dari alam, sosial budaya ataupun ekonomi guna memberikan kontribusi bagi pemerintah daerah, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dalam hal ini masyarakat lokal yang akan membangun, memiliki dan mengelola langsung fasilitas wisata serta pelayanannya, sehingga dengan demikian masyarakat diharapkan dapat menerima secara langsung keuntungan ekonomi dan mengurangi urbanisasi.
Pengelolaan pariwisata perlu ada dukungan dari masyarakat lokal atau masyarakat yang berada di dekat objek wisata tersebut, berdasarkan hasil penelitianperan masyarakat NagariAnduriang dalam memberikan keamanan pada pengunjung sudah ada yaitu dengan adanya posko yang telah didirikan, di posko ini pengunjung akan didata, kalau ada kecelakaan maka yang menjaga posko mengetahui dengan cepat siapa saja pengunjung yang datang.
Lahan yang terdapat di posko adalah milik masyarakat setempat,di posko juga ada memandu pemandu dalam melaporkan perjalanannya.
Dari wawancara dan observasi yang telah peneliti lakukan maka dapat disimpulkan bahwa masyarakat sangat mendukung adanya objek wisata Air Terjun Pelangi kerena mereka senang daerah mereka dikunjungi banyak masyarakat luar
1. Peran masyarakat dalam menjaga kebersihan dan kelestarian objek wisata.
Menjaga kebersihan dan kelestarian objek wisata sangat dibutuhkan kerjasama masyarakat berserta pengunjung, agar kelestarian objek wisata selalu terjaga. Dari pengamatan peneliti sudah ada peran masyarakat lokal akan kebersihan
.
Disampin itu berdasarkan observasi peneliti kelapangan maka sudah tampak peran masyarakat dalam menjaga kebersihan, jalan masuk dan sepanjang perjalanan serta di Air Terjun Pelangi ada yang terbuat dari Semen, kayu, bambu. Sudah adanya spanduk tentang peraturan pengunjung dan adanya spanduk menjaga lingkungan2. Peran masyarakat dalam memberikan pelayanan yang baik dan ramah pada pengunjung wisata.
Pelayanan yang baik disertai keramahtamahan dalam menyambut pengunjung merupakan hal yang ada di setiap daerah wisata, karena kenyaman yang didapat pengunjung merupakan nilai jual buat tempat wisata. Apabila masyarakat telah memberikan kesan ramah maka pengunjung akan sering datang ke tempat wisata.
Berdasarkan observasi peneliti ke lapangan maka di dapat data bahwa sudah adanya peran masyarakat lokal dalam memberikan pelayanan yang ramah dan baik terhadap pengunjung yaitu dengan diberikan kepada pemandu seperti pelatihan menanggani kecelakaan, dan pertolongan pertama pada pengunjung.
Tata kelolah yang dilakukan oleh masyarakat, pemandu, dan pihak pemerintah nagari dalam upaya pengembangan dan pengelolaan Air Terjun Pelangi
1. Tata Kelola yang Dilakukan Masyarakat Pengelolaan pariwisata perlu ada dukungan dari masyarakat lokal atau masyarakat yang berada di dekat objek wisata tersebut, berdasarkan hasil penelitiantata kelola yang di lakukan masyarakat Nagari Anduriang dalam upaya pengembangan dan pengelolaan Air Terjun Pelangimemberikan keamanan pada pengunjung sudah ada yaitu dengan adanya posko yang telah didirikan, di posko ini pengunjung akan didata, kalau ada kecelakaan maka yang menjaga posko mengetahui dengan cepat siapa sajapengunjung yang datang. Lahan yang terdapat di posko adalah milik masyarakat setempat,di posko juga ada memandu pemandu dalam melaporkan perjalanannya
.
2. Tata Kelola yang Dilakukan Pemandu Pengelolaan pariwisata perlu ada dukungan dari pemandu objek wisata tersebut, berdasarkan penelitian di Nagari Anduriang dalam upaya pengembangan dan pengelolaan Air Terjun Pelangi memberikan keamanan pada pengunjung karna
pemandu khusus Air Terjun Pelangi terbagi dua ahli, pemandu ahli adalah pemandu yang telah menguasai P3K praktis, dapat berkomunikasi dengan baik, tahu kondisi hutan Anduriang, tahu potensi destinasi wisata yang ada di perjalanan menuju ke Air Terjun Pelangi dan dapat melakukan resque jika terjadi kecelakaan. Selanjutnya yang kedua pemandu yang ahli yang bisa memandu.
3. Tata Kelola yang Dilakukan Pihak Pemerintah Nagari.
Pengelolaan pariwisata perlu ada dukungan dari pihak pemerintah nagari objek wisata tersebut, berdasarkan hasil penelitiantata kelola yang di lakukanpemerintah Nagari Anduriang dalam upaya pengembangan dan pengelolaan Air Terjun Pelangi memberikan keamanan pada pengunjung karna pemerintah Nagari.
PENUTUP Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitan yang telah peneliti lakukan maka dapat disimpulkan:
a. Ada perana Masyarakat blokal dalam upaya pengembangan dan pengelolaan pariwisata Air Terjun Pelangi.
b. Ada tata kelola yang dilakukan oleh masyarakat lokal dalam upaya pengembangan pariwisata Air Terjun Pelangi.
SARAN
Diharapkan semua masyarakat 2 X 11 Kayu Tanam Khususnya Nagari Anduriangselalu menjaga pengembangkan kemajuan pariwisata Air TerjunPelangi
Bagi peneliti selanjutnya diharapkan penelitian ini bermanfaat untuk landasan atau bahkan pertimbangan bagi peneliti selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
A, J. Muljadi. 2009. Kepariwisataan dan Perjalan.
PT Grafindo Persada : Jakarta
Arifin, Zainal, dkk, 2005. Antropologi Ekologi.
Padang. Laboratium Antropologi FISIP UNAND Padang.
Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Pratek. Jakarta : Rineka Cipta
Asrid S. Susanto. Pengaruh Pariwisata Terhadap Kebudayaan. Makalah Dalam Seminar Bakarudin. 2009. Perkembangan dan Permasalahan
Kepariwisataan. Padang : UNP Pres.
Bintarto. 2008. Interaksi Desa-Kota dan Permasalahanya. Ghalia Indonesia Jakarta Budiman, Arief. 2000. Teori Pembangunan Dunia
Ketiga. Gramedia : Jakarta.
Bugin, Burhan. 2001. Metode Penelitian Kualitatif.
Jakarta : Rajagrafindo Persada.
Damsar, edisi revisi 2012. Pengantar Sosiologi Politik, Jakarta : Kencana.
D, Samsuridjal dan Kaelany HD. Peluang di Bidang Pariwisata. Jakarta. Mutiara Sumber
Gatut Murniatmo. 1993. Dampak Pengembangan Pariwisata. Yogyakarta : Departemen Pendidikan dan Pariwisata
Linberg.2002. economic of Sign and Space. London : Sage
Karyono, M. 2007. Kepariwisataan. Jakarta. IKAPI Khairuddin, 2006. Pembangunan Masyarakat, Tinjauan Aspek Sosiologi,Ekonomi, Dan Perencanaan, Jakarta : Liberty.
MacDonal. 2009. “ Politcal an Social Analysysis Cambridge, MA : Schenkman
Mulyadin dan Nurhayati 2004. Pengertian Pariwisata.Kursus Tertulis Pariwisata Tingkat Dasar
Moleong. 2010. Metode Penelitian Kualitatif.
Bandung : Remaja Rosdakarya.
Moleong. 2006. Metode Penelitian Kualitatif.
Bandung : Remaja Rosdakarya.
Pabundu, M. Tika. 2005. Metode Penelitian. Jakarta : Bumi Aksara.
Pendit, Nyoman S. 2006. Ilmu Pariwisata. Jakarta : PT Pradnya Paramata.
Mahyuddin.robby.2016.Peranan Masyarakat local Dalam pengembangan Objek Pariwisata Air terjun Pelangi Nagari Anduriang Kecamata 2x 11 kayu Tanam Kabupaten Padang Pariaman. (non publikasi)STKIP PGRI Padang.