BENCANA
Epidemiologi Covid-19
Virus corona yang pertama kali diidentifikasi di Wuhan, Tiongkok, telah menyebabkan wabah parah di banyak kota di Tiongkok dan menyebar dengan cepat serta berdampak global di banyak negara di dunia, termasuk Thailand, Republik Korea, Jepang, Amerika Serikat, Filipina, Vietnam dan negara-negara lain pada akhir tahun 2019, termasuk Indonesia. Dengan jumlah penduduk sekitar 270 juta jiwa, lebih dari 300 etnis yang tersebar di 34 provinsi, angka kesakitan dan kematian terkait dengan Covid-19 di Indonesia. Selain India dan Sri Lanka, india terus melaporkan sejumlah besar kasus baru dan kematian hingga saat ini (Wahyuhadi dkk, 2022; Hikmawati & Setiyabudi, 2021).
Virus Penyebab Covid-19
Penularan Covid-19
Namun, SARS-CoV-2 tetap utuh dan menular dalam bentuk tetesan (diameter < 5 mikron) dan dapat melayang di udara hingga 3 jam (Lofti dkk, 2020). Johansson dkk (2021) menyebutkan sekitar 59% dari seluruh penularan berasal dari penularan tanpa gejala, yaitu 35% dari orang tanpa gejala (yang menular sebelum gejala muncul) dan 24% dari orang tanpa gejala (tidak menunjukkan gejala). Penelitian Janowski dkk (2022) menunjukkan bahwa di lingkungan sekolah, termasuk siswa sekolah menengah pertama atau mahasiswa, memiliki risiko lebih tinggi untuk menularkan SARS-CoV-2 dibandingkan siswa sekolah dasar dan taman kanak-kanak (usia <5 tahun).
Penularan dapat terjadi di ruang kelas universitas, terutama jika tidak ada kewajiban penggunaan masker, penjarakan sosial, atau kebersihan tangan yang buruk.
Pengaruh Fisik pada Penderita Covid-19
Pengaruh Psikologis pada Penderita Covid-19 . 6
Faktor risiko yang terkait dengan kesehatan mental yang buruk selama pandemi Covid-19 antara lain usia <30 tahun, latar belakang pendidikan yang tinggi, status lajang atau bercerai, diskriminasi oleh negara lain, kontak dengan pengidap Covid-19, dan kekhawatiran terhadap Covid-19. Faktor pelindung kesehatan mental di masa pandemi Covid-19 antara lain jenis kelamin laki-laki, tinggal bersama anak, tinggal bersama 6 orang atau lebih, mempunyai pekerjaan, percaya pada dokter swasta yang mendiagnosis Covid-19, keyakinan bahwa Anda akan sembuh dari Covid-19. .19, menghabiskan lebih sedikit waktu untuk informasi kesehatan, praktik kebersihan tangan, dan penggunaan masker (Hossain dkk, 2020).
Definisi Kecemasan
Etiologi
Disfungsi modulasi sistem neurotransmitter GABA merupakan salah satu penyebab stres yang menimbulkan kecemasan dan depresi. Penggunaan obat benzodiazepin yang merupakan salah satu obat anticemas terbukti dapat meredakan gejala kecemasan dengan meningkatkan aktivitas GABA yang menghambat aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA). Beberapa penelitian melaporkan bahwa pemberian obat dengan mekanisme pelepasan serotonin pada penderita gangguan kecemasan mengakibatkan peningkatan kecemasan (Sadock & Sadock, 2015).
Dopamin merupakan salah satu neurotransmitter yang terlibat dalam respons perilaku terhadap rangsangan kecemasan, yang berperan penting dalam depresi, ketakutan, dan kecemasan. Penderita gangguan kecemasan cenderung melebih-lebihkan tingkat bahaya dalam suatu situasi dan tidak percaya diri pada kemampuannya dalam mengatasi ancaman tersebut (Mu'arifah, 2012). Jika represi tidak berhasil sebagai tindakan defensif, mekanisme pertahanan lain seperti regresi dan gangguan cenderung membentuk gejala dan menampilkan gangguan seperti gangguan fobia, histeris, dan obsesif-kompulsif (Mu'arifah, 2012).
Impuls dalam bentuk konflik luaran dan dalaman boleh menghantar isyarat kepada CNS untuk mengawal selia pelepasan hormon tertentu sehingga berlaku gejala biologi dan psikologi (Mu'arifah, 2012). Seseorang mempunyai peluang yang lebih tinggi untuk mengalami gangguan kecemasan apabila terdapat keturunan yang turut mengalami gangguan kecemasan (Rektor et al, 2016).
Gejala dan Tanda
Mekanisme
Di perifer, sistem saraf otonom, terutama sistem saraf simpatis, memediasi banyak gejala kecemasan (Freitas-Ferrari et al, 2010).
Klasifikasi dan Tingkatan
Ketakutan ini mempersempit persepsi seseorang sehingga mengabaikan hal lain namun bisa fokus pada sesuatu yang spesifik. Ketakutan ini cenderung berfokus pada hal-hal yang spesifik dan detail serta mengabaikan hal-hal lainnya.
Alat Ukur Kecemasan
Tatalaksana
Meski sudah dinyatakan sembuh, para penyintas Covid-19 mungkin masih memiliki kekhawatiran terhadap kondisi fisiknya, apakah sudah sembuh total atau belum (Wulan & Keliat, 2021). Penyintas Covid-19 mudah mengalami gangguan kesehatan mental seperti gangguan kecemasan, depresi, gangguan stres pasca trauma (PTSD) hingga bunuh diri. Gangguan kesehatan mental ini terjadi akibat berbagai perubahan gaya hidup pada masa pandemi Covid-19 (Wulan & Keliat, 2021).
Salah satu dampak yang sangat signifikan yang dialami oleh para penyintas Covid-19 adalah dampak sosial dari suatu penyakit menular. Bahkan banyak penyintas Covid-19 yang melaporkan adanya diskriminasi, stereotip, dan kehilangan pekerjaan karena orang mengaitkan mereka sebagai penyebab penyakit ini (Dahono, 2020; Syarief, 2021; Wahyuhadi dkk, 2022). Banyaknya stigma sosial bahkan diskriminasi yang muncul di kalangan penyintas Covid-19 juga menjadi faktor memberatkan yang dapat menimbulkan kecemasan.
Kecemasan umumnya terjadi karena terpapar peristiwa yang membuat stres atau karena adanya perubahan dalam hidup, seperti pandemi Covid-19 (Suryningrum, 2021). Penyintas Covid-19 mudah mengalami masalah psikologis seperti kecemasan, depresi, gangguan stres pasca trauma (PTSD), bahkan bunuh diri. Gangguan jiwa ini muncul akibat berbagai perubahan gaya hidup pada masa pandemi Covid-19 (Wulan & Keliat, 2021).
Banyaknya stigma sosial bahkan diskriminasi yang muncul di kalangan penyintas Covid-19 juga menjadi faktor memberatkan yang dapat menimbulkan kecemasan yang tidak lepas dari kalangan pelajar. Meski sudah dinyatakan sembuh, para penyintas Covid-19 mungkin masih mempunyai kekhawatiran tersendiri terhadap kondisi fisiknya, apakah sudah sembuh total atau belum (Wulan & Keliat, 2021). Para penyintas Covid-19 khawatir akan menulari anggota keluarganya dan lingkungan sosial tempat mereka berkumpul.
Bahkan banyak penyintas Covid-19 yang melaporkan adanya diskriminasi, stereotip, dan kehilangan pekerjaan karena orang mengaitkan mereka sebagai penyebab penyakit ini (Mengapauhadi dkk, 2022). Kalimantan Selatan merupakan salah satu daerah dengan kasus Covid-19 yang masuk dalam kategori tinggi di Indonesia. Castellana dkk (2021) menunjukkan adanya peningkatan kebiasaan minum teh pada masa pandemi Covid-19 dibandingkan sebelumnya.
Analisis Pengaruh Konsumsi Teh (Camellia Sinensis) Terhadap Gangguan Kecemasan Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Penyintas Covid-19. Munculnya infeksi Covid-19 akan memberikan tekanan pada seluruh lapisan masyarakat, termasuk remaja, sehingga dapat menimbulkan gangguan kecemasan. Dampak COVID-19 terhadap kesehatan mental mahasiswa di Amerika Serikat: Studi survei wawancara.
GANGGUAN KECEMASAN PADA
TEH
Klasifikasi Tanaman Teh
Teh (Camellia sinensis) merupakan minuman penyegar yang terbuat dari tanaman C. sinensis yang telah lama populer dan dikenal dalam kehidupan masyarakat Indarti, 2015; William dkk, 2020).
Habitat dan Morfologi
Jenis dan Pengolahan
Buahnya memiliki tiga ruang berbentuk bulat dan memiliki biji seukuran kacang polong di setiap ruangnya (Mahmood et al, 2010). Teh yang baik berasal dari daun muda yang belum berbunga atau berada di bagian atas tanaman. Teh hitam diproses melalui fermentasi lengkap atau paling lama, sedangkan teh oolong atau teh merah paling cepat difermentasi (semi fermentasi).
Teh putih merupakan salah satu jenis teh yang belum difermentasi yang pengolahannya melibatkan pemanenan daun teh yang masih berbentuk pucuk dan mempunyai bulu-bulu halus. Proses ini terbukti dapat menjaga kadar nutrisi tertentu pada daun teh hijau dibandingkan teh merah atau teh hitam (Rahmanisa & Wulandari, 2016; Bulo & Sanchez, 2014).
Kandungan Kimia dan Khasiat
Berbagai penelitian menunjukkan dampak pandemi Covid-19 terhadap aspek psikologis mahasiswa, khususnya kecemasan pada perguruan tinggi, termasuk mahasiswa kedokteran. Son et al (2020), dalam penelitiannya yang melibatkan pelajar di Amerika Serikat, menemukan bahwa sekitar 71% pelajar menyatakan tingkat stres dan kecemasan mereka meningkat akibat pandemi Covid-19. Dampak pandemi COVID-19 terhadap kesehatan fisik dan mental masyarakat Asia: Sebuah studi terhadap tujuh negara berpendapatan menengah di Asia.
Pusat sumber daya COVID-19 terletak di Elsevier Connect, berita dan informasi publik perusahaan. Penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dilakukan terkait perilaku merokok, Covid-19 dan promosi kesehatan pada situasi bencana.
Potensi teh dan Mengatasi Kecemasan
TEH UNTUK MENGATASI KECEMASAN
PENUTUP