• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kecenderungan Penokohan pada Buku Kecil-Kecil Punya Karya

N/A
N/A
ELSA SALMA BENANNY

Academic year: 2024

Membagikan "Kecenderungan Penokohan pada Buku Kecil-Kecil Punya Karya"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

SASTRA BANDINGAN

Elsa Salma Benanny 180110210050

Kecenderungan Penokohan pada Buku Kecil-Kecil Punya Karya

Era modern mempengaruhi banyak sektor, karya sastra tak luput tergerus pada perubahan yang bersifat dinamis. Segala hal dapat berubah dan berkembang, dan karya sastra modern dinilai bersifat dinamis mengikuti perkembangan teknologi dan zaman. Sastra kemudian melahirkan sastra anak sebagai salah satu media pendidikan di Indonesia. Pada dasarnya karya sastra bagi anak-anak lebih berfungsi sebagai hiburan, sekalipun fungsi lainnya dapat berimbas pada pembentukan kepribadian dan menuntun kecerdasan emosi anak. Peran sastra anak sebagai media pendidikan salah satunya dengan mengembangkan imajinasi anak dan membentuk kreativitas serta keterampilan anak dalam mengolah imajinasi mereka. Oleh sebab itu, fungsi sastra bagi anak bertambah menjadi media untuk bereskpresi.

Hal tersebut tercermin oleh lahirnya Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK) yang berdiri pada tahun 2003. Terbentuknya KKPK menjadi pelopor media literasi bagi anak untuk menuangkan imajinasinya dalam bentuk cerita. Cerita-cerita yang dihasilkan tentunya cerita anak yang menggambarkan kehidupan anak-anak. Prosesnya seperti menerapkan konsep demokrasi untuk anak-anak, dari anak-anak, oleh anak-anak, dan untuk anak-anak. Hal ini disandarkan pada konsep KKPK yang dimulai dari imajinasi anak-anak, ditulis oleh anak-anak, dan dibuat untuk anak-anak. Jika orang dewasa membaca karya-karya KKPK, maka mereka harus memposisikan diri sebagai anak-anak berusia antara tujuh hingga dua belas tahun.

Karya yang dihasilkan tentunya tidak sepenuhnya imajinasi anak, bisa jadi merupakan kisah nyata seperti catatan sehari-hari yang kemudian dirangkai dan dituangkan dalam bentuk prosa. Akan tetapi, karya-karya yang dihasilkan memang lebih cenderung menuangkan imajinasi seorang anak atau bahkan reaksi terhadap fenomena yang pernah ia alami atau bacaan dan tontonan yang mempengaruhi mereka sehingga karya mereka tergiring sebagai hasil karangan atau imajinasi anak. Oleh sebab itu, penggambaran tokoh pada novel juga akan bergantung pada imajinasi atau pengaruh yang berkaitan dengan dirinya sendiri. Contohnya dapat dilihat dari dua karya KKPK yang berjudul “Circus Girl” karya Salma Syifa’ Setyanto dan “Cyber Adventure” karya Ayunda Nisa Chaira.

Terdapat dua jenis teknik penokohan, deskriftif/analitik dan dramatik. Teknik desktiftif yaitu menggambarkan tokoh dengan cara langsung, pengarang menulis dengan rinci karakter baik dari sifat maupun fisik tokoh, sedangkan teknik dramatik menggunakan dialog untuk menggambarkan sifat dan fisik tokoh, seperti reaksi emotif terhadap lawan bicara. Kedua karya tersebut menggunakan dua teknik ini dalam menggambarkan tokoh. “Circus Gril”

menggambarkan karakter dengan dialog antar tokoh terutama dalam menggambarakan sifat teman-teman sekamar mereka. Novel ini memiliki keleluasaan lebih dalam menggambarkan kareakter karena menggunakan sudut pandang orang ketiga. Sedangkan, “Cyber Adventure”

lebih condong menggunakan teknik langsung dengan menjelaskan karakter sahabatnya dengan deskprisi dari sudut pandang orang pertama yang membuat karakteristik tokoh hanya berpacu

(2)

pada pendapat tokoh utama. Penggambaran karakteristik tersebut dapat terjadi karena lumrahnya, anak senang membicarakan tentang dirinya, mereka akan mendeskripsikan karakternya secara ekspresif dengan cara yang bertele-tele dan panjang. Mereka akan menunjukan emosi secara langsung dengan membicarakan kesukaaan, hobi, dan kebiasaan.

Pada kedua karya, tokoh utama adalah tokoh protagonis dengan karakter yang memiliki kepintaran khusus. Pada karya “Circus Girl,” tokoh utama memiliki kelebihan dapat mempelajari sesuatu dengan mudah, bahkan dalam satu kali baca dia dapat memahami isi bacaannya. Kepintaran ini juga digambarkan pada karya “Cyber Adventure” dengan kemampuan menguasai teknologi juga menguasai banyak bahasa. Sifat pintar dapat mendominasi karena sifat alamiah anak yang dipuji (diapresiasi), diandalkan teman, bahkan menjadi pusat perhatian adalah kesukaan banyak anak. Pintar dapat melahirkan banyak keuntungan selain prestasi untuk mereka.

Tokoh utama memiliki teman dekat/sahabat (tokoh pendukung) yang siifatnya melengkapi tokoh utama. Seperti pada “Circus Girl,” tokoh Chira memiliki kepribadian yang ceria sehingga bisa mengimbangi dan membantu Alison yang notabenya baru mengenal dunia sekolah. Pada karya “Cyber Adventure” teman dekat Alyssa juga memiliki kepribadian yang ceria dan pintar. Keduanya memiliki kesamaan yang membuat mereka terhubung.

Sederhananya mereka memiliki frekuensi yang sama dalam segi karakter. Anak-anak cenderung memiliki keinginan untuk berteman dengan orang yang mereka sukai dan akan mengikuti serta menurut pada nasihat-nasihat yang dikemukakan temannya. Pada dasarnya anak-anak suka berceloteh dan membicarakan banyak hal, maka teman mereka adalah wadah yang paling pas untuk mendengar cerita-cerita mereka. Itu pula yang tergambar dalam penggambaran karater pada kedua karya tersebut. Kedua karya tersebut juga menggambarkan sifat anak-anak yang mudah bergaul dan berteman, bahkan pada pertemuan pertama mereka atau bersama orang yang tempat tinggalnya berjauhan.

Selanjutnya, latar belakang karakter dominan berasal dari keluarga yang berada. Alison pada novel “Circus Girl” berasal dari sirkus dan memiliki nenek yang memiliki rumah dua tingkat di kota. Ia dibelikan banyak barang penunjang sekolah dalam satu waktu dan disekolahkan di sekolah asrama yang mewah. Di sirkus, pamannya memberikannya seekor kuda. Pada “Cyber Adventure” juga digambarkan dengan pesta ulang tahun yang mewah dan meriah serta liburan pasca ulang tahun ke Bali. Kemudian, pemilihan nama pada tokoh-tokoh kedua novel tersebut cenderung kebarat-baratan seperti Alison Holmes, Chira, Lareina, Kathleen, Jac, Alyssa, Michaela karena pemilihan latar tempat asal tokoh. Tentunya hal ini tidak akan murni berasal dari imajinasi anak, tetapi dipengaruhi oleh faktor eksternal yang menjadi pengalaman mereka (baik itu membaca, menonton, dan sejenisnya). Kisah yang sempurna dimiliki oleh orang-orang yang berasal dari golongan ekonomi menengah ke atas.

Logika sederhana yang dapat dipahami anak adalah semua bisa didapatkan atau orang tua akan memenuhi kebutuhan dan keinginan anak apapun yang terjadi. Oleh sebab itu, anggota keluarga yang baik dan harmonis seringkali menjadi imajinasi yang baik bagi anak-anak.

Dilihat dari sudut pandang anak-anak, kedua kisah ini dapat dikatakan memiliki imajinasi yang tinggi. Bacaan ini dapat membuat pembaca ikut berimajinasi tentang sesuatu yang sulit ditemukan pada realitas sosial di Indonesia. Lalu pembaca akan menjadikan ini

(3)

bagian dari dongeng. Berdasarkan penokohan, anak-anak cenderung memiliki imajinasi yang positif terhadap lingkungan sekitarnya. Penggambaran karakteristik yang pintar, ceria, saling memahami, dan saling menghibur dan membantu menjadi salah satu bentuk penggambaran reaksi emotif anak terhadap lingkungan sosialnya. Secara teknis, karya-karya ini menjadi media ekspresi untuk mereka dan menjadi langkah awal mereka untuk menjadi bagian dari kesusastraan di Indonesia dan penulis di masa depan.

Daftar Pustaka

Amidong, H. H. (2018, November 9). PENOKOHAN DALAM KARYA FIKSI.

https://doi.org/10.31227/osf.io/qf4ed

Referensi

Dokumen terkait