• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEL 2 DINAMIKA PEMBANGUNAN DESA

N/A
N/A
Maria Lingga

Academic year: 2025

Membagikan "KEL 2 DINAMIKA PEMBANGUNAN DESA"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

ORGANISASI DAN PARA PESERTANYA , INDIVIDU DAN PEMBENTUKAN KOALISI, KEADAAN CITA-CITA DALAM

ORGANISASIPRESTAS I CITA-CITA, USAHA MEMPERBESAR YANG BERLAWANAN DENGAN USAHA PEMUASAN, DAN

MANAJEMEN TUJUAN

Dosen Pengampu: Pera Nurfathiyah, S.P., M.Si. Oleh:

Maria Bella Lingga (D1B022090)

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS JAMBI

2025

(2)

Organisasi merupakan wadah bagi sekelompok individu untuk mencapai tujuan bersama. Dalam konteks agribisnis pertanian, organisasi seperti kelompok tani, koperasi, atau asosiasi petani memainkan peran penting dalam meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan anggotanya. Namun, keberhasilan organisasi tidak hanya bergantung pada struktur formalnya, tetapi juga pada dinamika internal seperti hubungan antarindividu, pembentukan koalisi, dan manajemen tujuan.

Cita-cita organisasi seringkali menjadi pendorong utama bagi para anggotanya untuk bekerja sama dan berprestasi. Namun, dalam praktiknya, terdapat tantangan seperti usaha memperbesar organisasi yang mungkin berlawanan dengan usaha pemuasan kebutuhan individu. Oleh karena itu, memahami konsep-konsep seperti pembentukan koalisi, manajemen tujuan, dan keseimbangan antara kepentingan individu dan organisasi menjadi penting untuk menciptakan organisasi yang efektif dan berkelanjutan.

PENDAHULUAN

(3)

 

1. Organisasi dan Para Pesertanya

Organisasi adalah sekumpulan individu yang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Dalam konteks agribisnis, organisasi seperti kelompok tani atau koperasi bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan anggotanya. Para peserta organisasi memiliki peran yang berbeda-beda, mulai dari pemimpin hingga anggota biasa, yang saling melengkapi untuk mencapai tujuan organisasi.

Pemimpin bertanggung jawab untuk mengarahkan dan memotivasi anggota, sementara anggota biasa berkontribusi melalui partisipasi aktif dalam kegiatan organisasi. Peran-peran ini saling melengkapi dan menciptakan sinergi yang diperlukan untuk mencapai tujuan organisasi.

Misalnya, dalam kelompok tani, pemimpin mungkin bertugas untuk

mengkoordinasikan kegiatan pertanian, sementara anggota bertanggung

jawab untuk melaksanakan tugas-tugas operasional seperti penanaman,

pemeliharaan, dan panen.

(4)

2. Individu dan

Pembentukan Koalisi

Koalisi merupakan sebuah kelompok informal yang bergabung bersama-sama, menghadapi segala masalah dan saling memberi kekuatan secara bersamasama, bentuk dari pembentukan koalisi adalah adanya kekuatan dalam jumlah orang yang bersatu untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan.

Individu dalam organisasi memiliki kepentingan dan tujuan pribadi yang mungkin berbeda dengan tujuan organisasi. pembentukan koalisi sering terjadi ketika ada ketidakseimbangan dalam distribusi sumber daya. Misalnya, petani dengan lahan kecil mungkin membentuk koalisi untuk memperjuangkan akses yang lebih adil terhadap bibit, pupuk, atau pasar. Koalisi ini dapat menjadi kekuatan yang signifikan dalam memengaruhi kebijakan organisasi, terutama jika mereka mampu menggalang dukungan dari anggota lain.

Pembentukan koalisi juga dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kesamaan latar belakang, kepentingan ekonomi, atau bahkan hubungan personal. Namun, koalisi yang terlalu kuat atau dominan dapat menimbulkan konflik internal jika kepentingan mereka bertentangan dengan tujuan organisasi secara keseluruhan.

(5)

3. Keadaan Cita-Cita dalam Organisasi Prestasi Cita-

Cita

Cita-cita organisasi adalah visi atau tujuan jangka panjang yang ingin dicapai.

Keadaan cita-cita ini dapat memengaruhi motivasi dan kinerja anggota organisasi.

Jika cita-cita organisasi jelas dan disepakati oleh semua anggota, maka prestasi cita- cita tersebut lebih mudah dicapai. Sebaliknya, jika cita-cita tidak jelas atau tidak disepakati, organisasi dapat mengalami konflik internal dan ketidakstabilan. Prestasi cita-cita organisasi bergantung pada sejauh mana anggota organisasi bekerja sama dan berkomitmen untuk mencapainya. Organisasi yang mampu beradaptasi dengan cepat dan efektif lebih mungkin untuk mencapai cita-cita mereka.

Misalnya, jika cita-cita kelompok tani adalah meningkatkan pendapatan anggota melalui peningkatan produktivitas, maka prestasi cita-cita ini dapat diukur melalui peningkatan hasil panen, penurunan biaya produksi, atau peningkatan harga jual produk. Untuk mencapai prestasi ini, organisasi perlu mengelola sumber daya secara efektif, termasuk sumber daya manusia, finansial, dan material.

(6)

4. Usaha Memperbesar yang Berlawanan dengan Usaha

Pemuasan

Usaha memperbesar organisasi, seperti meningkatkan jumlah anggota atau memperluas cakupan kegiatan, seringkali berlawanan dengan usaha pemuasan kebutuhan individu. Ketegangan antara usaha memperbesar organisasi dan usaha pemuasan individu dapat menimbulkan konflik internal.

Misalnya, anggota mungkin merasa bahwa kepentingan mereka diabaikan demi kepentingan organisasi yang lebih besar. Untuk mengatasi hal ini, organisasi perlu menciptakan mekanisme yang memungkinkan keseimbangan antara kepentingan individu dan organisasi.

Salah satu cara untuk mencapai keseimbangan ini adalah melalui sistem insentif yang adil. Misalnya, organisasi dapat memberikan insentif finansial atau non-finansial kepada anggota yang berkontribusi secara signifikan terhadap usaha memperbesar organisasi. Selain itu, organisasi juga perlu memastikan bahwa keputusan yang diambil bersifat inklusif dan memperhatikan suara semua anggota.

(7)

Organisasi dalam agribisnis pertanian memainkan peran penting dalam meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan anggotanya. Namun, keberhasilan organisasi bergantung pada dinamika internal seperti hubungan antarindividu, pembentukan koalisi, dan manajemen tujuan. Cita- cita organisasi dapat menjadi pendorong utama bagi prestasi, tetapi usaha memperbesar organisasi seringkali berlawanan dengan usaha pemuasan kebutuhan individu. Oleh karena itu, manajemen tujuan yang efektif diperlukan untuk menciptakan keseimbangan antara kepentingan individu dan organisasi.

KESIMPULA

N

(8)

 DILA¹, Batriatul Alfa (2020). Bentuk Solidaritas Sosial dalam Kepemimpinan Transaksional.

 

 Simbolon, S. (2022). Analisis pengaruh kepemimpinan transformasional, motivasi kerja, kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan pada PT. Mega Bintang Mas Indonesia Medan. Jurnal Manajemen dan Bisnis, 69-84.

 Burhanudin. 2018. Kepemimpinan dalam budaya organisasi. Jurnal politik dan sosial kemasyarakatan.

Vol. 10, No. 1, 1-11

Referensi Sumber

(9)

Terima Kasih

Referensi

Dokumen terkait