• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEL 10 AGAMA ISLAM ENTREPRENEURSHIP DAN ETOS KERJA DALAM ISLAM

N/A
N/A
Bayu saputra

Academic year: 2024

Membagikan "KEL 10 AGAMA ISLAM ENTREPRENEURSHIP DAN ETOS KERJA DALAM ISLAM"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

1 MAKALAH

ENTREPRENEURSHIP DAN ETOS KERJA DALAM ISLAM

Makalah Dibuat Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam Dosen: Komarudin, Dr. S.Ag., MA

Disusun Oleh Kelompok 10 : 1. Rendi Herlandi (41524010058) 2. Farhan Indriyando (43120010486) 3. Bayu Saputra (33123010003) 4. Naufal Arkaan (33123010018)

UNIVERSITAS MERCU BUANA JAKARTA

2024

(2)

2

KATA PENGANTAR

Puji syukur diucapkan kehadirat Allah Swt. atas segala rahmat-Nya sehingga makalah ini dapat tersusun sampai selesai. Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih terhadap bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik pikiran maupun materi.

Penulis sangat berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi pembaca. Bahkan kami berharap lebih jauh lagi agar makalah ini bisa pembaca praktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi kami sebagai penyusun merasa bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman kami.

Untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Jakarta, September 2024

(3)

3 DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... 2

DAFTAR ISI ... 3

BAB I ... 5

PENDAHULUAN ... 5

1.1 Latar Belakang ... 5

1.2 Rumusan Masalah ... 6

1.3 Tujuan Penelitian ... 6

1.4 Manfaat Penelitian ... 7

BAB II ... 8

KONSEP ENTEPRENEURSHIP DALAM ISLAM ... 8

2.1 Definisi Entrepreneurship ... 8

2.2 Unsur Entepreneurship... 8

2.3 Keuntungan dan Kelemahan ... 10

2.4 Manfaat Entepreneurship ... 10

BAB III ... 12

ETOS KERJA DALAM PERSPEKTIF ISLAM ... 12

3.1 Pengertian Etos Kerja ... 12

3.2 Prinsip Etos Kerja ... 12

3.3 Implementasi Etos Kerja ... 14

3.4 Hadist dan Ayat Al- Qur’an Terkait Etos Kerja ... 14

BAB IV ... 18

PEMBAHASAN ... 18

(4)

4

4.1 Apa definisi dan karakteristik entrepreneurship dalam pandangan Islam? ... 18

4.2 Bagaimana nilai-nilai etos kerja dalam Islam dapat mendukung praktik entrepreneurship? ... 20

BAB V ... 22

KESIMPULAN DAN SARAN... 22

5.1 Kesimpulan ... 22

5.2 Saran ... 22

DAFTAR PUSTAKA ... 24

(5)

5 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Dalam era globalisasi dan persaingan ekonomi yang semakin ketat, entrepreneurship atau kewirausahaan menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam meningkatkan kesejahteraan individu dan masyarakat. Wirausaha yang inovatif dan kreatif berperan penting dalam menciptakan lapangan kerja, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan memajukan teknologi. Namun, dalam konteks pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, aspek etis dan moral dalam berwirausaha sering kali terlupakan. Hal ini menimbulkan masalah seperti ketidakadilan, eksploitasi tenaga kerja, dan kesenjangan ekonomi.

Islam, sebagai agama yang holistik, tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya tetapi juga mencakup prinsip-prinsip yang dapat diterapkan dalam kehidupan sosial, termasuk dalam dunia kerja dan kewirausahaan. Islam menekankan pentingnya etos kerja yang baik, kejujuran, keadilan, serta tanggung jawab sosial. Prinsip-prinsip ini sangat relevan dalam konteks entrepreneurship, di mana keberhasilan tidak hanya diukur dari aspek material tetapi juga dari keberkahan dan dampak positif terhadap masyarakat.

Dalam Islam, bekerja dan berwirausaha dipandang sebagai bagian dari ibadah, selama dilakukan dengan cara yang halal dan sesuai dengan syariat. Nabi Muhammad SAW sendiri merupakan seorang wirausahawan yang dikenal karena kejujuran dan integritasnya. Etos kerja yang diajarkan dalam Islam, seperti disiplin, ketekunan, dan kejujuran, merupakan landasan penting bagi setiap wirausahawan muslim dalam menjalankan usahanya.

Oleh karena itu, penting untuk mengkaji lebih dalam mengenai konsep entrepreneurship dan etos kerja dalam perspektif Islam. Dengan memahami hal ini, para pelaku usaha muslim diharapkan mampu menjalankan bisnisnya dengan

(6)

6

tidak hanya mengejar keuntungan semata, tetapi juga membawa manfaat bagi sesama dan menjaga keseimbangan antara kehidupan duniawi dan ukhrawi.

Makalah ini disusun untuk mengeksplorasi bagaimana nilai-nilai Islam dapat diterapkan dalam entrepreneurship dan bagaimana etos kerja Islami dapat membantu membangun bisnis yang berkelanjutan, beretika, dan memberikan manfaat sosial yang luas. Melalui kajian ini, diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang pentingnya integritas dan nilai-nilai Islam dalam dunia kewirausahaan modern.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang ada, maka dapat dirumuskan masalah penelitian ini adalah :

1. Apa definisi dan karakteristik entrepreneurship dalam pandangan Islam?

2. Bagaimana nilai-nilai etos kerja dalam Islam dapat mendukung praktik entrepreneurship?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Mengkaji konsep entrepreneurship dalam perspektif Islam.

2. Menganalisis etos kerja Islami yang relevan dalam dunia kewirausahaan.

3. Mengidentifikasi prinsip-prinsip Islami yang dapat diterapkan dalam aktivitas bisnis.

4. Menjelaskan bagaimana etika kerja Islam mendukung keberhasilan usaha yang berkelanjutan.

5. Memberikan panduan bagi wirausahawan muslim untuk menjalankan usaha sesuai dengan nilai-nilai Islam.

(7)

7 1.4 Manfaat Penelitian

1. Menambah wawasan mengenai hubungan antara entrepreneurship dan etos kerja dalam Islam.

2. Memberikan pemahaman kepada wirausahawan muslim tentang penerapan nilai-nilai Islam dalam bisnis.

3. Mendorong pelaku usaha untuk mengedepankan etika kerja Islami dalam aktivitas bisnis.

4. Menginspirasi generasi muda untuk berwirausaha dengan berlandaskan prinsip-prinsip syariat.

5. Menyediakan panduan praktis bagi pengembangan usaha yang beretika dan berkelanjutan.

(8)

8 BAB II

KONSEP ENTEPRENEURSHIP DALAM ISLAM

2.1 Definisi Entrepreneurship

Kewirausahaan (entrepreneurship) merupakan upaya kreatif untuk menciptakan sesuatu yang baru dan memberikan nilai ekonomi. Wirausaha adalah individu yang berani mengambil risiko dan berinovasi guna mencapai keuntungan serta pertumbuhan ekonomi. Dalam Islam, kewirausahaan dipandang positif sebagai cara mencari rezeki dengan tetap mengedepankan prinsip-prinsip syariat.

Kewirausahaan Islam (Islamic entrepreneurship) menggabungkan konsep bisnis dengan nilai-nilai Islam, dimana setiap usaha dilandasi oleh kejujuran, tanggung jawab, serta kepatuhan pada ajaran Allah dan Rasul-Nya.

Islam mendorong umatnya untuk bekerja keras, kreatif, dan inovatif dalam berbisnis. Nabi Muhammad SAW, sebagai contoh wirausahawan, memulai usaha sejak kecil dan menjadi pedagang yang jujur dan sukses. Berwirausaha dalam Islam bukan hanya untuk kepentingan ekonomi, tetapi juga bagian dari ibadah, dengan tujuan mendapatkan ridha Allah dan memberi manfaat bagi orang lain.

Entrepreneur dalam Islam diharapkan tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga mematuhi aturan syariat, seperti larangan riba, penipuan, dan praktek yang merugikan. Bisnis dalam Islam harus beretika, mengutamakan kesejahteraan bersama, dan selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah.

2.2 Unsur Entepreneurship

Menurut Hilyati Milla (2013), kewirausahaan bertujuan menciptakan nilai tambah di pasar dengan cara mengombinasikan sumber daya secara inovatif untuk bersaing. Untuk menjadi wirausaha yang sukses, beberapa unsur penting perlu diperhatikan:

(9)

9 1. Percaya Diri (Confidence)

Wirausaha harus yakin akan kemampuan dirinya, sehingga mampu bekerja secara sistematis dan efektif. Seorang muslim percaya bahwa rezeki sudah diatur Allah SWT, dan berusaha mencarinya dengan tidak melupakan akhirat (QS. Al-Qashash [28]:77).

2. Berorientasi pada Tujuan (Goal-Oriented)

Seorang wirausaha harus fokus pada pencapaian tugas dan hasil sesuai ajaran Islam (QS. At-Taubah [9]: 105).

3. Berani Ambil Risiko (Want to Speculate)

Wirausaha Islam harus berani menghadapi risiko dan bersikap profesional dalam usaha, sebagaimana dianjurkan dalam hadits Nabi Muhammad SAW (HR. Baihaqi).

4. Kepemimpinan (Leadership)

Wirausaha harus memiliki sifat kepemimpinan, bertanggung jawab sebagai khalifah Allah untuk mengelola dan memelihara bumi (QS. Al-Baqarah [2]:

30).

5. Berorientasi Masa Depan (Future-Oriented)

Wirausaha harus memiliki visi jangka panjang dan selalu mencari peluang, dengan niat tulus hanya untuk ridha Allah SWT (QS. Al-Hasyr [59]: 19).

Nana Herdiana Abdurrahman (2013) menambahkan bahwa ada empat unsur penting yang krusial bagi wirausaha:

1. Daya Pikir: Pengetahuan dan intelektual sebagai modal awal untuk kesuksesan.

2. Keterampilan: Kemampuan melaksanakan kerja yang nyata dan produktif.

(10)

10

3. Sikap Mental Maju Sinergi antara pemikiran, keterampilan, dan sikap mental yang positif.

4. Intuisi: Peran penting dalam memotivasi dan mewujudkan tujuan wirausaha.

2.3 Keuntungan dan Kelemahan

Wirausaha adalah profesi yang menawarkan peluang besar untuk meningkatkan kualitas hidup dan memberikan dampak positif bagi masyarakat, terutama dalam meningkatkan perekonomian dan pembangunan, termasuk di Indonesia. Menurut Buchari Alma (2006), ada banyak keuntungan dalam berwirausaha, antara lain:

1. Peluang terbuka untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

2. Peluang untuk menunjukkan kemampuan dan potensi diri secara maksimal dan bebas.

3. Kesempatan untuk memperoleh keuntungan yang besar dan tak terbatas.

4. Peluang untuk membantu masyarakat melalui usaha-usaha yang nyata.

5. Kesempatan untuk menjadi pemimpin atau bos bagi usaha sendiri.

Namun, terdapat beberapa kelemahan dalam berwirausaha, yaitu:

1. Pendapatan tidak tetap dan menghadapi banyak risiko.

2. Harus bekerja keras dengan jam kerja yang panjang dan tidak teratur.

3. Kualitas hidup bisa menurun hingga usaha berhasil, karena perlu melakukan penghematan.

4. Tanggung jawab besar dalam menjalankan usaha, dengan banyak keputusan yang harus diambil meski terkadang kurang memahami situasi.

2.4 Manfaat Entepreneurship

Wirausaha memiliki peran penting dalam kesejahteraan suatu negara.

Menurut David McClelland, sebuah negara memerlukan minimal 2% wirausaha

(11)

11

dari total penduduk untuk mencapai kesejahteraan. Wirausaha membawa banyak manfaat, antara lain membuka lapangan kerja, menjadi teladan bagi masyarakat, dan menjaga kelestarian lingkungan. Selain itu, wirausaha juga mendorong penggunaan sumber daya secara efektif dan meminimalkan pemborosan, serta memberikan manfaat bagi generasi mendatang.

Dalam Islam, wirausaha sangat dihargai karena menekankan kerja keras, kemandirian, dan menghindari sifat pasrah. Para nabi seperti Nabi Adam, Nuh, Daud, dan Muhammad juga bekerja keras dalam profesi masing-masing. Bagi seorang muslim, berwirausaha memiliki manfaat seperti: 1) sebagai bentuk ketaatan kepada Allah, 2) meningkatkan martabat manusia dengan mencari rezeki halal, 3) menyediakan kebutuhan masyarakat, dan 4) berkontribusi untuk memajukan perekonomian secara sosial dan ekonomi, termasuk berbagi rezeki dengan kaum miskin.

(12)

12 BAB III

ETOS KERJA DALAM PERSPEKTIF ISLAM

3.1 Pengertian Etos Kerja

Secara umum, etos kerja adalah sebuah keyakinan yang dimiliki oleh seseorang dalam melakukan sesuatu hal dengan tekad untuk bekerja keras dan memberikan yang terbaik. Berdasarkan pengertian etos kerja di KBBI, etos kerja merupakan semangat kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau suatu kelompok. Dalam dunia kerja, sikap ini sangat penting karena mencerminkan kualitas diri dari seseorang.

Menurut Nurcholish Madjid, etos kerja dalam Islam adalah hasil suatu kepercayaan seorang Muslim, bahwa kerja mempunyai kaitan dengan tujuan hidupnya, yaitu memperoleh perkenan Allah Swt. Berkaitan dengan ini, penting untuk ditegaskan bahwa pada dasarnya, Islam adalah agama amal atau kerja (praxis).

Orang yang memiliki etos kerja biasanya akan lebih dihargai karena bertanggung jawab dalam setiap pekerjaan yang dilakukannya. Di samping itu, tekad dan dedikasi terhadap pekerjaan yang dilakukan membuat mereka mendapatkan nilai lebih dari yang lain. Hal ini dapat meningkatkan kesempatan untuk sukses dalam karier seseorang.

3.2 Prinsip Etos Kerja

Dalam Islam, terdapat beberapa prinsip penting yang melanjadi adanya etos kerja ini. Pertama, Kejujuran dan Integritas, Seorang Muslim harus selalu jujur dan berintegritas dalam bekerja. Kejujuran adalah nilai utama yang diajarkan dalam Islam. Dalam Surah Al-Isra ayat 34, Allah mengingatkan agar tidak mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang terbaik hingga mereka

(13)

13

dewasa. Ini menunjukkan pentingnya menjaga kejujuran dan amanah dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam pekerjaan.

Kedua, Kerja Keras dan Ketekunan. Kerja keras adalah salah satu pilar utama etos kerja Muslim. Islam mendorong umatnya untuk bekerja keras dan tekun dalam menjalankan tugas. Nabi Muhammad SAW adalah teladan terbaik dalam hal ini. Beliau bekerja keras dalam menyebarkan ajaran Islam dan menjalankan berbagai aktivitas ekonomi. Kisah-kisah para sahabat juga penuh dengan contoh-contoh kerja keras dan dedikasi.

Ketiga, Kedisiplinan dan Tanggung Jawab. Disiplin dan tanggung jawab adalah aspek penting dalam etos kerja seorang Muslim. Seorang Muslim harus tepat waktu, disiplin, dan bertanggung jawab dalam menyelesaikan pekerjaannya.

Dalam sebuah hadis disebutkan, “Sesungguhnya Allah mencintai orang yang jika melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan itqan (profesional dan sempurna).” (HR. Thabrani).

Keempat, Kerja Sama dan Kepedulian Sosial. Islam mengajarkan pentingnya bekerja sama dan peduli terhadap sesama. Dalam bekerja, seorang Muslim harus mampu bekerja sama dengan baik dengan rekan kerja dan memiliki kepedulian sosial. Zakat dan sedekah adalah contoh konkret dari ajaran Islam yang mendorong kepedulian terhadap orang lain dan kontribusi positif terhadap masyarakat.

Kelima, Keseimbangan antara Kehidupan Dunia dan Akhirat. Seorang Muslim dituntut untuk menjaga keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat.

Pekerjaan harus dilakukan dengan niat yang baik dan tidak boleh mengabaikan kewajiban ibadah. Dalam Surah Al-Qasas ayat 77, Allah berfirman, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi.”

(14)

14 3.3 Implementasi Etos Kerja

Mengimplementasikan etos kerja dalam kehidupan sehari-hari memerlukan komitmen yang kuat. Seorang Muslim harus selalu berusaha meningkatkan kualitas kerja dan memberikan kontribusi terbaik dalam profesinya.

Mengedepankan nilai-nilai kejujuran, kerja keras, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepedulian sosial dalam setiap aktivitas akan menjadikan pekerjaan sebagai ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah.

Etos kerja yang baik akan membawa keberkahan tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi lingkungan kerja dan masyarakat luas. Oleh karena itu, seorang Muslim harus senantiasa memelihara dan mengembangkan etos kerja yang baik sesuai dengan ajaran Islam, sehingga setiap langkah dalam bekerja menjadi sarana untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

3.4 Hadist dan Ayat Al- Qur’an Terkait Etos Kerja Firman Allah terkait etos kerja :

1. Ayat tentang Etos Kerja Berupa Orang yang Mengerjakan Amal Saleh Akan Dirahmati Allah SWT

اَّمَأَف َنيِذَّلا اوُنَماَء اوُل ِمَع َو ِتاَحِلاَّصلا ْمُهُل ِخْدُيَف

ْمُهُّب َر ِهِتَمْح َريِف َكِلَذ َوُه ُز ْوَفْلا ُنيِبُمْلا

Artinya, “Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka Tuhan mereka memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya. Itulah kemenangan yang nyata.” (QS. al-Jatsiah, 45:30)

2. Ayat tentang Etos Kerja Berupa Orang yang Bekerja dengan Baik adalah Sebaik-baik Makhluk

َّنِإ َنيِذَّلا اوُنَماَء اوُل ِمَع َو ِتاَحِلاَّصلا َكِئَلوُأ

ْمُه ُرْيَخ ِةَّي ِرَبْلا

(15)

15

Artinya, “ Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan melakukan pekerjaan yang baik, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (QS.

al-Bayyinah, 98:7)

3. Ayat tentang Etos Kerja Berupa Orang yang Beramal Saleh akan Dijanjikan Surga yang Mengalir di Bawahnya Sungai-sungai

َّنِإ َنيِذَّلا اوُنَماَء اوُل ِمَع َو ِتاَحِلاَّصلا ْمُهَل

تاَّنَج ي ِرْجَت ْن ِم اَهِتْحَت ُراَهْنَ ْلْا َكِلذ ُز ْوَفْلا ُريِبَكْلا

Artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar.” (QS. al-Buruj, 85:11) 4. Ayat tentang Etos Kerja Berupa Allah SWT Maha Melihat yang Dikerjakan

Umat-Nya

ْدَقَل َو اَنْيَتاَء َد ُواَد اَّن ِم ًلْضَف ُلاَب ِجاَي يِبِ وَأ ُهَعَم َرْيَّطلا َو اَّنَلَأ َو ُهَل َديِدَحْلا ِنَأ(*) ْلَمْعا تاَغِباَس ْرِ دَق َو يِف ِد ْرَّسلا

اوُلَمْعا َو اًحِلاَص يِ نِإ اَمِب َنوُلَمْعَت ري ِصَب

Artinya, “Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud karunia dari Kami. (Kami berfirman): “ Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud”, dan Kami telah melunakkan besi untuknya, (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang saleh. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Saba`, 34:10-11)

Hadits terkait etos kerja :

1. Hadits tentang Etos Kerja Berupa Allah Mencintai Seseorang yang Bekerja dengan Profesional

ْنَع َةَشِئاَع َي ِضَر ُالل اَهْنَع ْتَلاَق : َلاَق ُل ْوُس َر ِالل ىَّلَص ُالل ِهْيَلَع َمَّلَس َو نِإ : ََّاللَ

ىلاَعَت ب ِحُي اَذِإ َل ِمَع ْمُكُدَحَأ

ًلَمَع ْنَأ ُهَنِقْتُي ) هاور ينربطلا يقهيبلاو

Artinya, “Dari Aisyah r.a., sesungguhnya Rasulullah s.a.w. bersabda: “ Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja,

(16)

16

mengerjakannya secara profesional””. (HR. Thabrani, No: 891, Baihaqi, No: 334).

2. Hadits tentang Etos Kerja Berupa Larangan Meminta-Minta Kepada Orang Lain

اَّنُك َدْنِع ِلوُس َر َِّاللَ

ىَّلَص َُّاللَ

ِهْيَلَع َمَّلَس َو ًةَعْسِت ْوَأ ًةَيِناَمَث ْوَأ ،ًةَعْبَس َلاَقَف : َلَأ َنوُعِياَبُت َلوُس َر َِّاللَ

،؟

اَّنُك َو

َثيِدَح دْهَع ةَعْيَبِب اَنْلُقَف : ْدَق َكاَنْعَياَب اَي َلوُس َر

،ِ َّاللَ

َّمُث َلاَق : َلَأ َنوُعِياَبُت َلوُس َر

،؟ َّاللَ

اَنْلُقَف ْدَق َكاَنْعَياَب اَي

َلوُس َر

،ِ َّاللَ

َّمُث َلاَق : َلَأ َنوُعِياَبُت َلوُس َر

،؟ َّاللَ

َلاَق اَنْطَسَبَف اَنَيِدْيَأ اَنْلُق َو : ْدَق َكاَنْعَياَب اَي َلوُس َر َِّاللَ

ىَلَعَف اَم

؟ َكُعِياَبُن َلاَق ىَلَع : ْنَأ اوُدُبْعَت ََّاللَ

َل َو اوُك ِرْشُت ِهِب اًئْيَش ِتا َوَلَّصلا َو ِسْمَخْلا

،اوُعيِطُت َو َّرَسَأ َو

ًةَمِلَك ًةَّيِفَخ َل َو

اوُلَأْسَت َساَّنلا اًئْيَش . ْدَقَلَف ُتْيَأ َر َضْعَب َكِئَلوُأ ِرَفَّنلا ُطُقْسَي ُط ْوَس ْمِهِدَحَأ اَمَف ُلَأْسَي اًدَحَأ ُهُلِواَنُي ُهاَّيِإ ) هاور ملسم)

Artinya, “Ketika kami sedang duduk bersama beberapa orang sahabat, jumlah kami kira-kira tujuh, delapan atau sembilah orang, datang pada kami Rasulullah saw seraya bersabda, “ Tidakkah kamu berbaiat kepada Rasulullah?”. Saat itu kami baru saja berbaiat kepadanya. Maka kami menjawab, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami telah berbaiat kepadamu.

” Kemudian Nabi saw bersabda lagi, “Tidakkah kamu berbaiat kepada Rasulullah?”. Maka kami pun kembali menjawab, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami telah berbaiat kepadamu.” Lalu beliau bersabda lagi, “ Tidakkah kamu berbaiat kepada Rasulullah? ” . Maka kami segera mengulurkan tangan untuk berbaiat sambil berkata, “Kami telah berbaiat, wahai Rasulullah, maka baiat apa lagi yang harus kami sampaikan?”. Nabi menjawab, “Berbaiat untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, kemudian shalat lima waktu serta taat kepada Allah.”

Kemudian Nabi saw merendahkan suaranya sambil bersabda, “Dan jangan meminta-minta suatu apapun kepada orang lain.” Betapa kesungguhan para sahabat menerima baiat Nabi tadi, perawi hadits meriwayatkan bahwa ia melihat sebagian dari mereka yang ada di situ, cambuk kendaraannya jatuh,

(17)

17

dan ia tidak meminta pertolongan kepada siapa pun untuk mengembalikannya.

(HR. Muslim: No.1729)

3. Hadits Tentang Etos Kerja Berupa Mukanya Tidak Berdaging Jika Tidak Henti-Hentinya Meminta-Minta

ْنَع ِدْبَع َِّاللَ

ِنْب َرَمُع َلاَق ُلوُس َر َِّاللَ

ىَّلَص َُّاللَ

ِهْيَلَع َمَّلَس َو اَم ُلا َزَي ُلُج َّرلا ُلَأْسَي َساَّنلا ىَّتَح َيِتْأَي َم ْوَي

ِةَماَيِقْلا َسْيَل َو ِهِهْج َويِف

ُةَع ْزُم مْحَل ) هاور يراخبلا ملسمو

(

Artinya, “Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, Rasulullah saw bersabda,

“Seorang tidak henti-hentinya meminta belas kasihan kepada orang lain, hingga nanti ia akan datang pada hari kiamat dengan bentuk muka yang tidak berdaging (seperti tengkorak).” (HR. Bukhari: No. 1381 dan Muslim: No.

1725)

(18)

18 BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Apa definisi dan karakteristik entrepreneurship dalam pandangan Islam?

Dalam pandangan Islam, entrepreneurship atau kewirausahaan adalah kegiatan berbisnis yang menerapkan nilai-nilai (Karakteristik) Islam sebagai landasan dan acuan.

Dalam berwirausaha, Rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya mengenai sikap-sikap yang diperlukan dalam menunjang kegiatan kewirausahaan sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT. Sikap-sikap tersebut antara lain yaitu jujur (siddiq), dapat dipercaya (amanah), komunikatif (tabligh), serta cerdas/bijaksana (fathonah).

1. Siddiq (Jujur)

Siddiq dalam berwirausaha berarti jujur dalam menjalankan usaha, dan merupakan salah satu sifat yang sangat penting dimiliki oleh seorang wirausahawan. Bukan hanya dalam perkataannya yang benar, tetapi dari perbuatannya juga.

Sifat siddiq dalam berwirausaha dapat diimplementasikan dengan tidak merugikan konsumen, tidak menipu, tidak menutup-nutupi kesalahan karyawan, tidak menutupi cacat barang.

Kejujuran dalam berbisnis dapat membawa dampak yang baik, seperti meningkatkan kepercayaan pelanggan dan karyawan, memperkuat reputasi perusahaan.

2. Amanah (Dapat Dipercaya)

Amanah merupakan kebalikan dari hianat yakni dapat dipercaya, bertanggung jawab, juga bermakna keinginan untuk memenuhi sesuatu sesui

(19)

19

dengan ketentuan. Menyelaraskan nilai yang terkait dengan kejujuran dan melengkapinya. Seorang wirausahawan harus bertanggung jawab atas usaha dan pekerjaan dan atau jabatan. Tanggung jawab di sini artinya, mau dan mampu menjaga amanah (kepercayaan) masyarakat yang memang secara otomatis terbeban di pundaknya.

Berikut beberapa keuntungan yang didapatkan pengusaha yang memiliki sifat amanah dalam berwirausaha yaitu meningkatkan reputasi bisnis, menciptakan lingkungan kerja yang positif, mendapatkan dukungan dari investor dan pihak keuangan, menghadapi tantangan dengan bijaksana, meraih kepuasan pribadi.

Beberapa contoh perilaku amanah dalam kehidupan sehari-hari adalah menyampaikan informasi dengan benar, menepati janji, tidak mengambil milik orang lain, menghargai privasi orang lain, teliti dalam pekerjaan.

3. Tabligh (Komunikatif)

Dalam konteks berwirausaha, pemahaman tabligh bisa mencakup argumentasi dan komunikasi. Seorang pengusaha hendaknya mampu mengomunikasikan produknya dengan strategi yang tepat dalam memilih media promosi, mampu menyampaikan keunggulan produk dengan menarik dan tepat sasaran tanpa meninggalkan kejujuran dan kebenaran, serta dapat memahami keinginan dan kebutuhan pelanggan. Sehingga pembeli atau konsumen dapat memahami serta yakin dengan barang atau sesuatu yang di tawarkan oleh wirausahawan tersebut.

4. Fathonah (Cerdas)

Fathonah adalah salah satu sifat yang dapat diterapkan dalam berwirausaha, yaitu sifat cerdas, intelektual, atau kebijaksanaan. Artinya dalam berwirausaha sifat fathanah adalah bahwa semua kegiatan-kegiatan dalam suatu perusahaan

(20)

20

harus dilakukan dengan kecerdasan, dengan memanfaatkan potensi akal pikiran yang ada untuk mencapai tujuan.

Berikut beberapa hal yang dapat diterapkan dalam berwirausaha dengan sifat fathonah, yaitu menjadikan proses mencari rezeki sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, mematuhi syariat Islam dalam menjalankan kegiatan, meningkatkan semangat untuk menimba ilmu.

4.2 Bagaimana nilai-nilai etos kerja dalam Islam dapat mendukung praktik entrepreneurship?

Impelementasi etos kerja islam adalah setiap pribadi muslim mampu dan memiliki etos kerja yang sesuai dengan tuntunan al quran dan al hadist, sehingga ia menjadi pribadi yang profesional, handal dan produktif. Pada hakikatnya setiap muslim diminta untuk bekerja meskipun hasil pekerjaannya belum dapat dimanfaatkan olehnya, oleh keluarganya atau oleh masyarakat, juga meskipun tidak satu pun dari makhluk Allah, termasuk hewan dapat memanfaatkannya. Ia tetap wajib bekerja karena bekerja merupakan hak Allah dan salah satu cara mendekatkan diri kepada-Nya. Bekerja diminta dan dibutuhkan, walaupun hasil kerja itu tidak bisa dimanfaatkan oleh seorang pun. Islam tidak meminta penganutnya sekedar bekerja, tetapi juga meminta agar mereka bekerja dengan tekun dan baik yakni dapat menyelesaikannya dengan sempurna. Untuk mencapai ketekunan dalam bekerja, salah satu pondasinya adalah amanah dan ikhlas dan berusaha semaksimal mungkin dengan prinsip melakukan yang terbaik dan bertawakkal serta dibentengi oleh etika mulia dan hanya berharap mendapatkan keberkahan Allah swt. atas usaha yang dilakukannya di dunia dan kelak di akhirat mendapat ganjaran pahala. (Yusuf Qardawi, 1997:164)Dalam bekerja seorang muslim harus mempunyai etos kerja islami yang antara lain adalah:

1. Profesional, Setiap pekerjaan yang dilakukan seorang muslim harus dilakukan dengan sungguh-sungguh untuk memperoleh hasil yang terbaik. Tentu saja

(21)

21

untuk mencapai profesionalisme harus didukung dengan sarana yang ilmiah, modern dan canggih.

2. Tekun. Seorang muslim tidak hanya sekedar bekerja, tetapi juga menekankan agar bekerja dengan tekun dan baik yaitu dapat menyelesaikannya dengan sempurna karena itu merupakan kewajiban setiap muslim.

3. Jujur dalam bekerja bukan hanya merupakan tuntutan melainkan juga ibadah.

Seorang muslim yang dekat dengan Allah akan bekerja dengan baik untuk dunia danm akhirat.

4. Amanah dalam bekerja adalah suatu perbuatan yang sangat mulia dan utama.

5. Kreatif. Orang yang hari ini sama dengan hari kemarin dianggap merugi, karena tidak ada kemajuan dan tertinggal oleh perubahan. Terlebih lagi orang yang hari ini lebih buruk dari kemarin dianggap orang yang celaka, karena berarti akan tertinggal jauh dan sulit lagi mengejar. Orang yang beruntung hanyalah orang yang hari ini lebih baik dari kemarin, berarti selalu ada penambahan. Inilah sikapperubahan yang diharapkan selalu terjadi pada setiap muslim, sehingga tidak akan pernah tertinggal, dia selalu antisaifatif terhadap perubahan, dan selalu siap menyikapi perubahan. (Didin, 2000:34)

(22)

22 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Entrepreneurship dalam Islam adalah aktivitas bisnis yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT. Rasulullah SAW mengajarkan sifat-sifat penting yang harus dimiliki seorang pengusaha Muslim, yaitu jujur (siddiq), dapat dipercaya (amanah), komunikatif (tabligh), dan cerdas/bijaksana (fathonah).

Kejujuran membangun kepercayaan dan reputasi bisnis yang baik, sementara amanah berarti tanggung jawab dalam menjaga kepercayaan orang lain. Tabligh mencakup kemampuan berkomunikasi yang jujur dan efektif untuk memahami serta meyakinkan konsumen. Fathonah berarti cerdas dalam mengambil keputusan dan menjalankan bisnis sesuai syariah.

Etos kerja Islam yang mengutamakan profesionalisme, ketekunan, kejujuran, dan kreativitas mendukung kesuksesan bisnis. Bekerja dalam Islam adalah sarana ibadah, sehingga pengusaha Muslim harus bekerja dengan tekun dan penuh tanggung jawab untuk mendapatkan keberkahan di dunia dan akhirat.

5.2 Saran

Saran berdasarkan kesimpulan di atas adalah bahwa para pengusaha Muslim hendaknya menjadikan nilai-nilai Islam sebagai landasan utama dalam menjalankan bisnis. Kejujuran, amanah, dan kecerdasan harus menjadi pedoman dalam setiap keputusan bisnis. Penting juga untuk selalu mengutamakan komunikasi yang jujur dan tepat, baik kepada konsumen maupun rekan bisnis.

Selain itu, para pengusaha harus terus meningkatkan etos kerja Islami dengan tekun, kreatif, dan profesional dalam mengelola usaha mereka. Berusaha sungguh-sungguh untuk memberikan yang terbaik tidak hanya akan membawa

(23)

23

kesuksesan material, tetapi juga mendatangkan keberkahan. Akhirnya, dalam setiap usaha, tujuan spiritual harus tetap dijaga, yaitu mendekatkan diri kepada Allah dan mencapai ridha-Nya.

(24)

24

DAFTAR PUSTAKA

https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/64999/1/Islamic%20Entrep reneurship.pdf

Dr. Kabul Wahyu Utomo, M.Si Rizqon Halal Syah Aji, Ph.D Havis Aravik, M.SI, MM (2021). Islamic Enterpreneurship Konsep Berwirausaha Ilahiyah

https://journal.iainkudus.ac.id/index.php/tawazun/article/download/4697/3035

Cihwanul Kirom (2018). Etos Kerja Dalam Islam

https://journal.iainkudus.ac.id/index.php/tawazun/article/download/4697/3035

Gulman Azkiya (2024). SkillAcademy.com [online]. Diakse https://blog.skillacademy.com/etos-kerja-adalah

https://fpsi.uin-suska.ac.id/2024/05/22/etos-kerja-seorang-muslim/

https://jurnalpertanianumpar.com/index.php/economos/article/view/912/461

https://ojs.polmed.ac.id/index.php/Bilal/article/download/362/291/1600

http://download.garuda.kemdikbud.go.id/article.php?article=2418081&val=23089&tit le=Konsep%20Berwirausaha%20dengan%20Metode%20Dimensi%20Hablumminalla h%20dan%20Dimensi%20Hablumminnas

Referensi

Dokumen terkait

Makna bekerja bagi seorang muslim adalah suatu upaya yang sungguh-sungguh, dengan mengerahkan seluruh aset, fikir, dan dzikirnya untuk mengaktualisasikan

Semestinya, dengan sejumlah potensi yang diberikan oleh Allah pada diri kita dan kesediaan kita untuk selalu berlatih untuk menjadi yang terbaik, setiap Muslim — dengan

Kontribusi Implementasi Etos Kerja Islam dalam Meningkatkan Kinerja Karyawan Kop BCAA Jawa Timur Cabang Panceng Gresik. Untuk memperoleh kinerja yang maksimal, seorang

Ketika digabungkan dengan kata “kerja” yang kemudian menjadi “etos kerja” maka artinya adalah refleksi sikap hidup yang mendasar dalam menghadapi kerja sebagai

Skripsi yang berjudul “Etos Kerja Islam dalam Meningkatkan Keberhasilan Usaha (Studi Kasus Pedagang Muslim Arab di Pasar Ampel Surabaya” ini bertujuan untuk

Dengan demikian dapat berarti bahwa hipotesis H3 motivasi dan etos kerja islam mempunyai pengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan. Motivasi dan etos kerja Islam

Yaitu, bahwa pengembangan ilmu pengetahuan di negara-negara Muslim adalah mutlak, baik ditinjau dari segi ajaran Islam, dari fakta bahwa Muslim sempat menjadi pelopor pengembangan

Berdasarkan hasil penelitian, kesesuaian etos kerja pedagang ayam potong ditinjau dari etika bisnis Islam secara keseluruhan berdasarkan indikas-indikasi etos kerja yang telah dimiliki