• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEL. 10 10 Segi Kehidupan Keluarga Keamanan Lahir Batin Keluarga IKK

N/A
N/A
Aqilah yasamina

Academic year: 2024

Membagikan "KEL. 10 10 Segi Kehidupan Keluarga Keamanan Lahir Batin Keluarga IKK"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

Mata Kuliah Ilmu Kesejahteraan Keluarga dan Konsumen Keamanan Lahir Batin Keluarga

Dosen Pengampu:

Dr. Rina Febriyana, M.Pd.

Alvina Fadila Maulida, M.Pd

KELOMPOK 10:

1. Syifa Aulia Wildaini - 1514624010 2. Nazrine Yulandia - 1514624012 3. Azmi Hafizhah Mumtaz - 1514624028

4. Tantia Salma Tahera - 1514624031

Pendidikan Tata Boga Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta

2024

(2)

Pembagian Tugas:

KEAMANAN LAHIR BATIN KELUARGA 1. KEBUTUHAN SPIRITUAL ( Tantia)

rasa aman mengerjakan perintah agamanya masing -Beri contoh kasus dan solusi atau penyelesaiannya

2. KEHARMONISAN KEHIDUPAN KELUARGA (Nazrine) perubahan perilaku dapat mempengaruhi keharmonisan keluarga -Beri contoh kasus dan solusi atau penyelesaiannya

faktor yg perlu diperhatikan menjaga keharmonisan keluarga:

1. jangan meninggalkan ibadah

2. menjaga hubungan interpersonal suami-istri 3. menghindari perpisahan2 fisik terlalu lama 4. menghindari salah komunikasi

5. mbangun tresno

6. hindari keterpakuan pada tradisi dan budaya

7. hindari segala hal yang dapat memancing kemarahan istri/suami 8. membiasakan hidup teratur

9. hobi dan kegiatan sosial sebisa mungkin tidak ditinggalkan

3. KETERATURAN ANGGARAN BELANJA KELUARGA (Amy) 1. pengontrolan keuangan

2. rasa aman dan stabil 3. memperkuat konsep diri

4. menciptakan perasaan nyaman dalam keluarga -Kasih contoh kasus dan solusi atau penyelesaiannya

4. MEMAHAMI KERPIBADIAN ANGGOTA KELUARGA( Syifa)

tipe kepribadian usia tua yang perlu dipahami semua anggota keluarga:

1. Tipe kerpibadian konstruktif 2. Tipe kerpibadian Mandiri 3. Tipe kepribadian Tergantung

(3)

4. Tipe Kepribadian Bermusuhan 5. Tipe Kepribadian Kritik Diri

-Kasih contoh kasus dan solusi atau penyelesaiannya

Kata Pengantar: Amy Daftar Isi: Nazrine

BAB 1 PENDAHULUAN, Latar Belakang: Tantia BAB 1 PENDAHULUAN, Rumusan Masalah: Tantia Tujuan: Syifa

Manfaat: Syifa

BAB 2 PEMBAHASAN: sesuai pembagian Kesimpulan: Syifa

Saran: Amy

Penyusun ke word : Syifa

Daftar pustaka: masing- masing Studi kasus Materi:

1. Kronologi - Syifa

2. Latar belakang kasus - Nazrine

3. Hubungan dengan poin kebutuhan Keamanan Lahir Batin:

-Hubungan dengan kebutuhan Spiritualitas Keluarga: Tantia -Hubungan dengan kebutuhan Keharmonisan Keluarga: Nazrine -Hubungan dengan kebutuhan Anggaran Keluarga: Ami

-Hubungan dengan kebutuhan Mengenal Kepribadian Keluarga: Syifa 4. Solusi dari contoh kasus - Tantia

(4)

Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kepada tuhan yang maha esa atas rahmatnya kami dapat menyelesaikan makalah mata kuliah ilmu kesejahteraan keluarga yang berjudul keamanan lahir batin dan perencanaan sehat.

Tidak lupa kami ucapkan terimakasih kepada ibu Dr. Rina Febriyana, M.Pd. dan ibu Alvina Fadila Maulida, M.Pd selaku dosen pengampu mata kuliah ilmu kesejahteraan keluarga. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada teman teman kami yang membantu mengumpulkan data data pembuatan makalah ini. Dalam makalah ini kami menjelaskan tentang keamanan lahir batin dan perencanaan sehat.

Dengan tersusunnya makalah ini kami menyadari masih banyak terdapat kekurangan dalam makalah ini, kami berharap bisa mendapat kritik dan saran yang sifatnya membangun apabila ada kesalahan.

(5)

Daftar Isi

COVER

Kata Pengantar...iii

Daftar Isi... iv

BAB I PENDAHULUAN...1

1.1 Latar Belakang...1

1.2 Rumusan Masalah...1

1.3 Tujuan...1

1.4 Manfaat... 2

BAB II PEMBAHASAN...3

2.1 Pengertian Keamanan Lahir Batin...3

2.2 Macam-macam Kebutuhan Keamanan Lahir Batin Keluarga...3

2.2.1 Kebutuhan Spiritual...3

2.2.2 Keharmonisan Kehidupan Keluarga...5

2.2.3 Keteraturan Anggaran Belanja Keluarga...9

2.2.4 Memahami Kepribadian Anggota Keluarga...11

2.3 Contoh Kasus Permasalahan Keamanan Lahir Batin...17

2.3.1 Kronologi Kasus...17

2.3.2 Latar Belakang Kasus...18

2.3.3 Hubungan Kasus dengan Kebutuhan Keamanan Lahir Batin Keluarga... 19

2.3.4 Solusi Kasus...20

BAB III PENUTUP...22

3.1 Kesimpulan... 22

3.2 Saran...22

DAFTAR PUSTAKA...23

(6)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Keluarga merupakan unit paling kecil dalam kelompok masyarakat, namun peran serta tanggung jawab yang dimiliki amat besar, karena keluarga yang baik akan menciptakan masyarakat yang baik pula hal ini dikarenakan masyarakat terdiri dari keluarga-keluarga. keluarga merupakan suatu instansi Kesejahteraan keluarga merupakan fondasi yang sangat penting dalam pembangunan masyarakat sejahtera.

Salah satu aspeknya adalah tercapainya keamanan lahir batin yang mencakup kesehatan fisik, mental, serta stabilitas emosional dan psikologis setiap anggota keluarga. Keluarga yang sehat akan lebih mampu menghadapi tantangan hidup dalam kehidupan sehari-hari. Keluarga yang sehat juga memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengelola stres dan mencapai kesejahteraan yang berkelanjutan.

keluarga merupakan suatu unit yang paling kecil dalam kelompok masyarakat dan tempat awal bagi anggota keluarga untuk melakukan interaksi sosial serta mengenal budaya dan pribadi baik pribadi diri sendiri maupun orang lain.(Beno, Silen, and Yanti 2022)[1].

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan keamanan lahir batin dalam suatu keluarga?

2. Apa saja aspek yang terdapat dalam keamanan lahir batin?

1.3 Tujuan

Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Menjelaskan Pengertian Hakikat Hidup Manusia dalam Keluarga dan Masyarakat. Memahami hakikat hidup manusia sebagai makhluk sosial dalam konteks keluarga dan masyarakat, serta bagaimana interaksi di antara keduanya dapat membentuk kesejahteraan bersama.

2. Menganalisis Kemampuan Individu dalam Keluarga untuk Mengembangkan Diri. Mengkaji bagaimana kesanggupan dan kemampuan setiap anggota keluarga dalam mengembangkan diri menjadi individu yang

(7)

efektif dan efisien, sehingga mampu memenuhi kebutuhan diri sendiri serta memberikan kontribusi positif kepada orang-orang di sekitarnya.

3. Menggali Pentingnya Pendidikan dan Kehidupan Agama dalam Keluarga.

Menjelaskan peran pendidikan dan nilai-nilai agama sebagai dasar dalam membentuk kekokohan keluarga, yang mendukung terciptanya keamanan lahir dan batin bagi setiap anggota keluarga.

1.4 Manfaat

Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

1. Manfaat Teoretis, yaitu menambah wawasan dan pengetahuan bagi pembaca mengenai konsep dasar kehidupan dalam keluarga serta pentingnya peran individu dalam menjaga keharmonisan dan kesejahteraan keluarga. Selain itu, dapat menjadi referensi bagi penelitian atau kajian lebih lanjut mengenai aspek-aspek kehidupan keluarga.

2. Manfaat Praktis, diharapkan dapat menjadi panduan bagi setiap individu dalam keluarga untuk lebih memahami peran dan tanggung jawabnya, serta bagaimana mengembangkan diri agar menjadi individu yang lebih efektif dan efisien dalam lingkup keluarga dan masyarakat.

3. Manfaat Sosial, membantu masyarakat dalam memahami pentingnya lembaga sosial yang mendukung kehidupan keluarga, sehingga mampu memanfaatkan layanan yang disediakan oleh lembaga tersebut untuk meningkatkan kesejahteraan dan keamanan keluarga.

4. Manfaat Religius, memberikan pemahaman mengenai pentingnya pendidikan agama dalam keluarga, serta bagaimana nilai-nilai agama dapat menjadi dasar dalam menjaga keharmonisan dan kedamaian dalam kehidupan keluarga.

(8)

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Keamanan Lahir Batin

Keamanan lahir batin merupakan salah satu segi yang ada dalam 10 segi kehidupan keluarga. Dalam kondisi apapun perasaan aman lahir dan batin sangat diperlukan bagi kehidupan seluruh anggota keluarga, karena dengan perasaan aman lahir dan batin semua anggota keluarga dapat bergerak bebas dan berkesempatan untuk berpikir luas, serta merasa gembira dan optimis dalam menjalankan segala aktivitas sesuai kemampuannya. Rasa aman memiliki keterkaitan yang erat dengan hubungan intra keluarga, dan rasa aman selalu tertanam pada keluarga yang harmonis. Perasaan aman yang tercipta dalam keluarga akan sangat membantu dan memberikan ketabahan jika keluarga kebetulan sedang menghadapi persoalan hidup sehari-hari.

Masalah keamanan lahir batin lebih banyak menyangkut masalah kehidupan psikologis dan spiritual. Kehidupan yang diwarnai suasana adanya keamanan lahir batin harus ditunjang oleh kenyataan kehidupan material dan kesediaan serta kehendak untuk menciptakan suasana itu. Misalnya keluarga akan merasa aman lahir dan batin jika kebutuhan makanan dan pakaiannya terpenuhi. Tanpa makanan dan pakaian akan sulit bagi sebuah keluarga untuk memenuhi keamanan lahir dan batin.

2.2 Macam-macam Kebutuhan Keamanan Lahir Batin Keluarga

2.2.1 Kebutuhan Spiritual

Kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan mutlak bagi keluarga, semua anggota keluarga akan merasa aman jika ia dapat melakukan ibadah sesuai dengan keyakinannya, dan keluarga akan merasa tenteram jika ia selalu yakin bahwa rumah dan harta bendanya akan selalu aman jika ditinggalkannya.

Menurut Hamid Spiritual merupakan hal yang dirasakan oleh diri sendiri dengan lingkungan sekitar, hal tersebut berupa sikap empati terhadap anggota keluarga lainnya, tidak sombong, saling menghormati, dan menghargai

(9)

pendapat orang lain agar terjalin hubungan baik antar sesama anggota keluarga.

Menurut Nelson spiritual ialah dalam menjalani kehidupan tidak hanya berdoa, tetapi juga mengenal serta mengimani Tuhan. Mickey dalam Yusuf berpendapat bahwa spiritual mempunyai dua dimensi yakni dimensi eksistensial dan dimensi agama. Dimensi eksistensial mengarah pada makna kehidupan, sedangkan agama lebih fokus terhadap hubungan individu dengan Sang Pencipta.

Menurut Koezier Kebutuhan spiritualitas sebagai sumber internal dalam diri manusia, menjadi sangat penting dalam hubungan antara diri sendiri serta antar anggota keluarga dan Tuhan[2]. Menurut Burkhardt dalam Hamid Kebutuhan spiritual ialah harmonisasi dimensi kehidupan. Dimensi tersebut termasuk menentukan makna, tujuan, penderitaan serta kematian. Kebutuhan akan harapan dan keyakinan hidup, dan kebutuhan terhadap keyakinan pada diri sendiri dan Tuhan.

Dari berbagai pendapat diatas peneliti menyimpulkan bahwa kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan untuk menghadapi penyimpangan berbagai persoalan seperti sosial sampai ketakutan akan kematian.

Adapun aspek menurut Burkhardt dalam Hamid dalam kebutuhan spiritual yaitu[2]:

1) Terdapat hubungan dengan hal yang tidak diketahui dan tidak pasti dengan alam kehidupan.

2) Mencapai makna serta tujuan hidup

3) Mengetahui kemampuan diri sendiri dengan melihat kekuatan dan sumber yang dimiliki

4) Mampu merasakan keterikatan antara diri sendiri dengan pencipta

Seperti contoh pada sebuah keluarga memiliki seorang anak yang merupakan penderita penyakit kronis membutuhkan dukungan baik secara moril maupun spiritual. Dukungan akan kebutuhan spiritual tidak jarang dianggap hal yang kurang penting. Keluarga melaporkan belum terpenuhinya kebutuhan spiritual selama menunggu anak di rumah sakit.

(10)

Menurut Elva Sujana, Sari Fatimah, Nur Oktavia Hidayati tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kebutuhan spiritual manakah yang paling dibutuhkan keluarga dengan anak penderita penyakit kronis di ruang rawat inap anak RS Al Islam Bandung. Penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif. Jumlah sampel 39 responden dengan teknik purposive sampling dengan kuesioner yang dikembangkan dari konsep kebutuhan spiritual keluarga menurut Ruth A. Tanyi.

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dimensi dengan kebutuhan tertinggi adalah kebutuhan terhadap keyakinan (57,4%), diikuti oleh kebutuhan terhadap kekuatan (57,1%), kebutuhan terhadap family’s preference (52,3%), kebutuhan terhadap spiritual anggota keluarga (41%), kebutuhan terhadap makna dan tujuan (39%), dan kebutuhan terhadap hubungan (37,8%)[3]. Penelitian ini menunjukan bahwa dimensi kebutuhan terhadap keyakinan merupakan dimensi kebutuhan spiritual keluarga yang dirasa paling utama oleh responden.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut disarankan agar perawat dapat meningkatkan pelayanan tentang asuhan keperawatan spiritual dengan memasukan enam dimensi seperti disediakan ruang tunggu yang tenang untuk keluarga dalam beribadah, adanya konseling antara perawat dan keluarga, dan menyediakan bacaan-bacaan tentang kebutuhan spiritual keluarga.

2.2.2 Keharmonisan Kehidupan Keluarga

Keharmonisan keluarga adalah keutuhan keluarga, kecocokan hubungan antara suami dan istri serta adanya ketenangan. Keharmonisan ini ditandai dengan suasana rumah yang teratur, tidak cenderung pada konflik dan peka terhadap kebutuhan keluarga[4].

Kedudukan dan fungsi suatu keluarga dalam kehidupan manusia bersifat primer dan fundamental (Mulyono, 1995). Keluarga pada hakikatnya merupakan wadah pembentukan masing-masing anggota keluarga, terutama anak-anak yang masih berada dalam bimbingan dan tanggung jawab orang tuanya. Hal ini dikuatkan oleh pendapat Ki Hajar Dewantara (dikutip oleh Shochib, 1998) menyatakan bahwa esensi pendidikan merupakan tanggung jawab keluarga, sedangkan sekolah hanya berpartisipasi.

(11)

Hal serupa diungkapkan (Gunarsa dan Gunarsa, 1995) yang mengatakan bahwa lingkungan keluarga adalah lingkungan pertama, di mana anak memperoleh pengalaman-pengalaman pertama yang mempengaruhi hidupnya.

Keluarga sangat penting bagi pembentukan pribadi anak. Menurut Gerungan (2004) menyatakan keharmonisan keluarga akan membentuk berlangsungnya interaksi sosial yang wajar (harmonis) dan tidak ada sikap saling bermusuhan yang disertai tindakan - tindakan agresif[5]. Agresivitas di kalangan remaja cenderung meningkat dan meresahkan warga masyarakat sekitarnya (Saad, 2003). Sebagai contoh perkelahian antar pelajar yang dapat terjadi dimana saja, seperti di jalan-jalan, di sekolah, bahkan di kompleks perumahan. Pelaku- pelaku tindakan aksi tersebut bahkan sudah mulai dilakukan oleh siswa-siswi tingkat SLTP(Mu’tadin, 2002).

Penyebab remaja memiliki sifat agresi karena frustasi (Deaux, Dane, &

Wrightsman, 1993) menyatakan bahwa frustasi dapat menyebabkan munculnya perilaku agresi. Bila seseorang tidak mampu mencapai tujuan yang sudah dekat dengan yang ingin dicapainya maka akan menimbulkan perasaan frustasi meskipun tujuan yang ingin dicapainya masih jauh. Dengan kata lain frustasi adalah hasil dari ketidakmampuan seseorang untuk memenuhi tujuan yang ingin dicapai (Deaux, et al., 1993). Begitu pula remaja yang merasa frustasi dengan keadaan keluarganya, di mana keluarga yang seharusnya menjadi tempat berlindung yang aman, mulai tidak lagi dirasakan oleh anak, maka anak menjadi mudah marah dan berperilaku agresif.

Broken home merupakan salah satu masalah yang berdampak besar bagi keluarga terutama kepada anak remaja, broken home bukanlah masalah sepele yang dapat diabaikan melainkan masalah utama dari akar-akar hancurnya sebuah keluarga dan kehidupan seorang remaja. Kartono(1998) mengatakan bahwa perceraian antara orang tua, membuat anak menjadi sangat bingung dan merasakan ketidakpastian emosional. Dengan rasa cemas, marah, dan risau anak mengikuti pertengkaran antara ayah dengan ibunya. Mereka tidak tahu harus memihak kepada siapa. Batin mereka menjadi sangat tertekan, sangat menderita, dan merasa malu akibat ulah orangtua mereka. Ada perasaan ikut bersalah dan berdosa, serta merasa malu terhadap lingkungan. Cummings dan

(12)

Davies (dikutip oleh Shaffer, 1999) menyatakan bahwa anak menjadi sangat sedih akibat perceraian kedua orangtuanya dan melampiaskan kesedihannya dengan bersikap menyakiti dan berperilaku agresif dalam berinteraksi dengan saudara-saudaranya dan teman temannya.

Oleh karena itu, sangat penting untuk menjaga keharmonisan keluarga dalam pembentukan kepribadian anak. Keharmonisan keluarga berhubungan erat dengan kualitas komunikasi antarpribadi (interpersonal relationships) yang terbangun dalam kehidupan sehari hari di rumah. Kualitas komunikasi antarpribadi ini akan memberi pengaruh yang besar terhadap perilaku individu, terutama anak dan remaja (Saad, 2003). Clark dan Shields (dikutip oleh Lauer

& Lauer, 2000) mengatakan bahwa keluarga yang memelihara komunikasi yang baik antara orangtua dan anak menunjukkan kenakalan yang rendah dan jarang terlibat pada kenakalan yang serius.

Saad (2003) menyatakan bahwa kualitas hubungan dengan orangtua dapat dilihat melalui content (isi) dan affect (akibat). Content atau substansi kualitas hubungan dengan orangtua, meliputi aktualisasi dari sikap percaya (trust), sikap terbuka (openess), dan sikap sportif (supportive), yang mewarnai proses hubungan antara anak dengan orangtuanya. Dilihat dari sisi akibat atau efek, hubungan dengan orangtua dapat menimbulkan intimacy atau keakraban hubungan, dan dorongan untuk mandiri atau bertindak otonom. Rasa cinta dan rasa memiliki merupakan hal yang amat penting dalam membentuk pribadi yang sehat. Menurut Brooks dan Emmert (dikutip oleh Saad, 2003) menyatakan bahwa suatu hubungan interpersonal yang positif, yang meliputi unsur afeksi, penerimaan, cinta, rasa bahagia, sangat dominan dalam membangun suatu hubungan antarpribadi, terutama orangtua dengan anak, maka menurut Brooks, akan cenderung membentuk pribadi yang sehat.

Dan bagi para remaja sendiri, baik remaja yang berasal dari keluarga bercerai maupun keluarga utuh hendaknya perbanyak mengikuti kegiatan positif dan pilihlah teman yang bijak serta membawa ke hal yang positif agar tidak mudah terjerumus pada lingkungan yang negatif dan jauh dari jalan yang lurus.

(13)

Ciri-ciri keluarga harmonis[5]:

1) Saling menghormati: Setiap anggota keluarga memiliki peran dan pendapat yang dihargai.

2) Komunikasi terbuka: Masalah dibicarakan secara terbuka dan jujur.

3) Kasih sayang: Ada rasa cinta dan kasih sayang yang tulus di antara anggota keluarga.

4) Dukungan: Setiap anggota keluarga saling mendukung dalam mencapai tujuannya.

5) Kerjasama: Anggota keluarga bekerja sama dalam menyelesaikan tugas dan masalah.

6) Waktu bersama: Keluarga meluangkan waktu bersama untuk bersenang- senang dan mempererat hubungan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi keharmonisan keluarga:

1) Komunikasi yang efektif: Kemampuan untuk menyampaikan pikiran dan perasaan dengan jelas dan terbuka.

2) Resolusi konflik yang sehat: Cara menyelesaikan masalah tanpa menyalahkan atau menyakiti satu sama lain.

3) Kualitas waktu bersama: Meluangkan waktu berkualitas untuk berinteraksi dan beraktivitas bersama.

4) Dukungan emosional: Memberikan dukungan emosional kepada anggota keluarga yang sedang mengalami kesulitan.

5) Disiplin yang konsisten: Menetapkan aturan yang jelas dan konsisten untuk seluruh anggota keluarga.

6) Contoh yang baik: Orang tua menjadi role model bagi anak-anak dengan menunjukkan perilaku yang positif.

Manfaat memiliki keluarga harmonis:

1) Kesejahteraan emosional: Anggota keluarga merasa lebih bahagia dan puas.

2) Perkembangan yang sehat: Anak-anak tumbuh menjadi individu yang percaya diri dan mandiri.

3) Dukungan sosial: Keluarga menjadi sumber dukungan yang kuat dalam menghadapi tantangan hidup.

(14)

4) Peningkatan kualitas hidup: Keharmonisan keluarga menciptakan lingkungan yang positif dan mendukung.

Cara membangun keluarga harmonis[5]:

1) Prioritaskan keluarga: Luangkan waktu untuk keluarga dan buat momen- momen yang berkesan bersama.

2) Komunikasikan dengan baik: Berbicara dengan terbuka dan jujur tentang perasaan dan pikiran Anda.

3) Dengarkan dengan aktif: Berikan perhatian penuh ketika anggota keluarga lain berbicara.

4) Selesaikan konflik secara konstruktif: Cari solusi yang saling menguntungkan.

5) Tunjukkan kasih sayang: Peluk, cium, dan ucapkan kata-kata sayang kepada anggota keluarga Anda.

6) Apresiasi satu sama lain: Sampaikan ucapan terima kasih dan pujian atas hal-hal positif yang dilakukan anggota keluarga.

2.2.3 Keteraturan Anggaran Belanja Keluarga

Sidiq et al. (2022) menjelaskan bahwa perilaku manajemen keuangan adalah kemampuan seseorang dalam mengatur, merencanakan, dan mengelola serta mengembalikan dana keuangan dalam kehidupan sehari hari[6]. Anggaran keluarga adalah rencana untuk pengelolaan uang di keluarga[7]. Rencana bagaimana dan kemana uang datang dan pergi dengan berfokus kepada pendapatan dan pengeluaran.Perencanaan keuangan dapat dilakukan dalam bisnis maupun pribadi, perencanaan anggaran keuangan merupakan salah satu langka dalam pengelolaan keuangan, dalam keluarga perencanaan anggaran keuangan dibutuhkan untuk mencapai tujuan finansial di masa kini dan masa depan, seperti dana kelahiran dan pendidikan anak[8].

Pengaturan anggaran belanja ini bertujuan agar dapat membina suasana aman dalam keluarga. pengelolaan anggara keluarga sangat penting dilakukan,di karenakan banyak sekali permasalahan yang terjadi karena tidak merancang anggaran keluarga dengan baik dan bijak, yang menyebabkan ketidaseimbangan pengeluaran dan penghasilan, akibatnya hanya menimbulan perselisihan antara

(15)

pasangan dalam keluarga[4]. Anggaran pendapatan dan belanja keluarga sangatlah penting. Karena hal tersebut merupakan sebuah perencanaan yang baik dan efektif. Bila anggaran diperhitungkan secara benar akan memaksimalkan tujuan keuangan jangka panjang di tengah keterbatasan pendapatan.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan anggota keluarga dalam pengaturan anggaran belanja keluarga, yaitu[4]:

1) Pengontrolan pengeluaran. dalam hal ini anggota keluarga harus mengetahui kondisi ekonomi keluarga secara nyata, karena anggaran adalah jaminan bahwa pengeluaran harus selalu di usahakan tidak lebih dari pemasukan atau penghasilan.

2) Rasa aman dan stabil. anggaran yang sudah dibuat secara bijak dan matang matang untuk sepanjang bulan atau tahun, dapat membuat keluarga terhindar dari berhutang yang tidak terencana, maupun hidup gali lubang tutup lubang atau yang dimaksud dengan berhutang untuk membayar hutang lainya. Jika anggaran keluarga tertata dengan baik dan bijak maka dapat tercipta rasa aman dan stabil dalam keluarga.

3) Memperkuat konsep diri. Dengan mengawasi pengeluaran diri dan menjadi lebih disiplin, hal ini dapat membuat pengeluaran dari anggaran sesuai dengan yang sebelumnya telah disusun. Kekuatan konsep diri sangat penting untuk mengontrol dan menahan diri dari keinginan yang tidak terkendali seperti pemborosan, belanja berlebihan, dan pengeluaran yang tidak diperlukan. Sebaliknya, memperkuat konsep diri dan membantu keluarga untuk mengontrol pembelian barang yang memang dibutuhkan daripada barang barang yang tampaknya berguna dan diinginkan akan tetapi sebenarnya tidak diperlukan.

4) Menciptakan perasaan nyaman dalam keluarga. Kestabilan ekonomi keluarga adalah salah satu faktor yang dapat mengurangi atau bahkan menghindari masalah masalah perselisihan terutama masalah yang berkaitan dengan ekonomi yang ada dalam keluarga. Karena anggaran sudah disesuaikan dengan penghasilan keluarga anggota keluarga dapat menghindari kesalahpahaman dan pertengkaran dalam keluarga.

(16)

contoh kasus nyata dari masalah anggaran belanja keluarga adalah pada tahun 2022 diberitakan sepanjang tahun, terdapat 1.850 angka perceraian di ponorogo dengan alasan yang didominasi oleh masalah ekonomi. penyebab perceraian masalah ekonomi, bervariasi alasanya. Ada yang diakibatkan suami bekerja namun tidak memberikan nafkah yang cukup dan layak kepada istri, ada pula yang diakibatkan karena kan sang suami malas atau tidak memiliki pekerjaan.banyak istri yang mengajukan menggugat cerai karena tidak tahan dengan kondisi ekonomi keluarga mereka[9].

2.2.4 Memahami Kepribadian Anggota Keluarga

Keluarga merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan setiap orang.

Setiap orang memiliki sifat-sifat yang unik, begitu juga dengan anggota keluarga.

Segala sesuatu dalam rumah tangga memiliki tempatnya masing-masing dan setiap orang memiliki miliknya masing-masing. Pemahaman psikologis sangat diperlukan untuk menyatukan keluarga. Penelitian menunjukkan bahwa keharmonisan dalam sebuah keluarga dapat dicapai dengan memahami keragaman anggota keluarga dan fungsi serta kebutuhan emosional masing-masing anggota keluarga dalam unit keluarga serta hubungan interpersonal mereka satu sama lain. Dalam keadaan seperti ini, komunikasi akan meningkat sehingga kegagalan untuk berkomunikasi secara efisien akan merusak hubungan. Sehat bagi semua anggota keluarga untuk sesekali mengungkapkan apa yang mereka rasakan[10].

Sifat-sifat tersebut disistematisasi ke dalam pola-pola yang dapat menjadi berulang dari waktu ke waktu, mendefinisikan kepribadian. Kepribadian dikatakan sebagai sekumpulan perilaku dan tindakan individu dalam konteks interaksi dengan diri sendiri dan lingkungannya (Zaenuddin, 2002)[4].

Memahami anggota keluarga juga penting dalam rumah tangga untuk menumbuhkan hubungan serta menghargai perbedaan individu dan kebutuhan hubungan spesifik yang ada di antara anggota keluarga. Dengan adanya pemahaman ini, komunikasi menjadi lebih efektif dan konflik yang timbul akibat

miskomunikasi dapat diminimalisir[11].

Memahami Kepribadian dalam Kelompok Keluarga memiliki tujuan agar

(17)

setiap anggota kelompok keluarga menyadari dan menerima kekurangannya dengan baik. Secara khusus, salah satu hal yang dapat membantu orang tua dalam memahami kepribadian ini adalah memberikan motivasi yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu. Sebagai contoh, seorang anak yang pendiam akan membutuhkan ruang dan waktu sendiri untuk menyesuaikan diri, sementara anak yang lain dapat berkembang dengan baik jika mereka terlibat secara aktif dengan lingkungannya[4].

a. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hubungan dalam Keluarga:

1) Karakteristik Pribadi: Sifat dan karakter setiap individu dalam keluarga dapat mempengaruhi dinamika hubungan keluarga. Sebagai contoh, meskipun beberapa orang tua memiliki harapan mereka sendiri terhadap anak-anak mereka, mereka harus selalu mengetahui kemampuan anak-anak mereka untuk menghindari konflik di keluarga. Sebagai contoh, Anak dengan kepribadian yang rentan terhadap stres membutuhkan pendekatan yang berbeda untuk berinteraksi antar anggota keluarga[4].

2) Dinamika Internal Keluarga: Struktur keluarga, keterlibatan orang tua, serta interaksi antar anggota keluarga memainkan peran penting dalam hubungan sehari-hari. Tingkat keterbukaan orang tua dengan anak-anak mereka cenderung memperlihatkan kedekatan hubungan keduanya.

Mengingat sebagian besar orang tua memiliki sedikit waktu interaksi dengan anak-anak mereka, keserasian hubungan keluarga keluarga membutuhkan usaha[10].

3) Pengaruh Eksternal: Unsur-unsur eksternal, yang meliputi prospek ekonomi, hubungan dengan keluarga besar, dan hal-hal yang dialami setiap hari, juga berkontribusi secara signifikan. Di Indonesia yang merupakan masyarakat kolektivistik, keluarga besar merupakan sumber penting bagi kesejahteraan sosial dan emosional individu. Selain itu, bantuan ini sangat penting dalam membina perdamaian dan stabilitas dalam keluarga[4].

(18)

b. Tipe kepribadian yang perlu dipahami semua anggota keluarga menurut Zaenuddin, yakni[4]:

1) Tipe Kepribadian Konstruktif (Constructive Personality) a) Kepribadian Konstruktif di usia muda. Kepribadian Konstruktif tidak memiliki masalah dalam menyesuaikan diri dengan perubahan dan sifat- sifat yang menyertai perkembangan kepribadiannya. Perubahan perkembangan ini hampir tidak menimbulkan masalah sama sekali.

b) Kepribadian Konstruktif Dewasa dan di Lingkup Keluarga. Tipe kepribadian yang dapat menerima, bersikap tenang, responsif, energik, dan kompeten. Oleh karena itu, kepribadian konstruktif dewasa dapat bekerja dengan sedikit atau tanpa resiko stres yang tidak dapat diatasi dengan tenang. Sedangkan untuk keluarga, orang seperti ini adalah orang yang mampu menciptakan, memelihara, dan melindungi lingkungan lahir dan batin sehingga tetap sehat dan harmonis. Orang seperti ini memiliki toleransi yang tinggi, kesabaran, tanggung jawab, dan kemampuan beradaptasi sehingga mereka dapat menghadapi masalah-masalah dalam kehidupan keluarga tanpa kehilangan ketenangan.

c) Kepribadian Konstruktif di Masa Tua. Kepribadian konstruktif tidak menolak proses penuaan dan bahkan dapat mempersiapkan diri untuk menghadapinya, misalnya dengan menjalani masa pensiun, orang ini akan tetap hidup dan terlibat. Tidak menderita power post syndrom yang berarti ia menyesuaikan diri dengan rutinitas di mana ia tidak memegang otoritas formal lagi dan tidak aktif terlibat dalam kegiatan sehari-hari[12]. Banyak orang menderita post power syndrome setelah sepenuhnya terlibat dalam rutinitas kerja dan kemudian tiba-tiba pensiun atau bahkan berganti pekerjaan. Orang-orang seperti itu mungkin merasa ada kekosongan dalam hidup mereka, berkurangnya rasa harga diri serta ketidakmampuan untuk menghadapi serangkaian kegiatan yang berbeda. Mereka yang mengalami kondisi ini sering kali mengalami kesulitan untuk memisahkan rasa diri mereka dari identitas mereka dalam peran yang pernah mereka jalani dan penghentiannya.

(19)

2) Tipe Kepribadian Mandiri (Independent Personality) a) Kepribadian Mandiri di usia muda. Pada tipe kepribadian mandiri, individu ini cenderung aktif dan dinamis dalam interaksi sosial sejak usia dini. Mereka mampu beradaptasi dengan baik dan memiliki banyak teman dekat. Meskipun sering menolak bantuan dari orang lain, mereka memiliki

sifat yang suka menolong orang lain.

b) Kepribadian Mandiri Dewasa dan di Lingkup Keluarga. Tipe kepribadian ini kemungkinan besar ingin mengendalikan segala sesuatu yang menyangkut dirinya, mulai dari pendidikan, pakaian, pekerjaan, bahkan pilihan pasangan. Mereka sangat mandiri sehingga kebanyakan diberikan posisi kepemimpinan karena sifat percaya diri dan tegas yang mereka miliki. Tipe ini juga berorientasi aktif, yang pada gilirannya mendorong pertumbuhan karir mereka serta memungkinkan mereka untuk bekerja dalam kondisi yang lebih baik karena mereka tidak menunggu imbalan apa pun. Mereka berpendidikan tinggi dan, dengan demikian, mampu menjadi pengikut yang tangguh dan suportif.

Bagi wanita dengan tipe kepribadian ini, mereka biasanya memegang kendali atas setiap kegiatan dan keputusan keluarga. Mereka cenderung mengarahkan dan mendelegasikan tindakan dengan tepat sebagai figur

“keibuan” atau “kebapakan” untuk anak mereka.

c) Kepribadian Mandiri di Masa Tua. Seiring bertambahnya usia individu dengan tipe kepribadian ini, mereka sering kali cenderung menunjukkan kecemasan terkait pergaulan kelompok, pembantu, dan juga posisi yang mereka tempati di lingkungan kerja. Mereka takut akan kenyataan pensiun dan keadaan yang sebenarnya terkait masa pensiun. Selain itu, karena alasan ini, setelah pensiun, beberapa orang mengalami fenomena yang disebut sebagai sindrom pasca-pensiun. Oleh karena itu, mereka disarankan untuk menyusun strategi mental dan jadwal tentang bagaimana mereka akan menghabiskan waktu setelah pensiun.

3) Tipe Kepribadian Tergantung (Dependent Personality) a) Kepribadian Tergantung di Usia Muda. Kebanyakan individu yang

(20)

menunjukkan tipe kepribadian dependen cenderung memiliki harga diri yang rendah dan tinggi dalam hal mencari persetujuan; sehingga mereka tidak aktif dan ambisius serta selalu menunggu orang lain untuk mengajak mereka beraktivitas. Mereka cenderung berbaur dengan lingkungan sekitar tanpa berusaha untuk diperhatikan, baik di sekolah atau bahkan di perguruan tinggi, dan hal ini memperpanjang masa studi atau bahkan

membuat mereka putus sekolah.

b) Kepribadian Tergantung Dewasa dan di Lingkup Keluarga. Individu dengan tipe ini sering bergantung pada orang lain untuk membantu mereka mendapatkan pekerjaan. Mereka tidak suka mengambil inisiatif dan mereka berharap untuk diberikan instruksi oleh atasan mereka dan jika otoritas seperti itu tidak tersedia, mereka menjadi tidak aktif dan tidak yakin dengan tindakan yang harus diambil. Dalam banyak kasus, mereka tidak menghadapi banyak tantangan dalam lingkungan keluarga karena mereka akan mengikuti orang yang bertanggung jawab. Mereka cenderung tidak menegaskan diri mereka sendiri atau terlalu banyak menolak, mereka lebih sering akan lebih memilih apa yang diinginkan oleh suami atau istri.

c) Kepribadian Tergantung di Usia Tua. Menjelang pensiun, mereka umumnya merasa bahagia dan menikmati masa tua tanpa beban, menerima keadaan dengan lapang dada. Namun, kehilangan pasangan hidup sebelum waktu mereka adalah masalah besar yang dapat menjadi beban berat.

Situasi ini sering kali memicu stres berat dan penderitaan yang mendalam.

4) Tipe Kepribadian Bermusuhan (Hostility Personality) a) Kepribadian Bermusuhan di Usia Muda, Sejak kecil kepribadian bermusuhan menunjukkan perilaku antisosial. seperti di sekolah, mereka seringkali memiliki masalah seperti pindah sekolah atau dikucilkan oleh teman sebaya yang mengarah ke citra tidak baik, sikap yang sama terlihat di sekolah perguruan tinggi yang mengakibatkan kekerasan di kampus, kinerja yang buruk dalam studi, dan masalah perilaku.

b) Kepribadian Bermusuhan Dewasa dan di Lingkup Keluarg.

Kepribadian ini seringkali tidak tenang dan cenderung berpindah-pindah

(21)

pekerjaan, sehingga membuat perjalanan karir mereka tidak memiliki tujuan. Dalam banyak kasus, ketika mereka berada di posisi kepemimpinan, mereka akan melakukan segala cara, sebagian besar tidak bermoral, untuk mencapai tujuan mereka, dan tidak akan menerima kesalahan apa pun, dan justru mengalihkannya kepada orang lain.

c) Kepribadian Bermusuhan di Usia Tua. Orang yang pada dasarnya memiliki sifat bermusuhan, lebih sering tidak siap menghadapi masa tua.

Mereka umumnya enggan mendekati masa pensiun di mana mereka cenderung menjadi tidak berdaya atau meninggal, dan setelah itu, akhirnya tidak puas dengan cara hidup mereka.

5) Kepribadian Kritik Diri (Self Hate Personality) a) Kepribadian Kritik Diri di Masa Muda. Mereka sering menyesali dan mengkritik diri mereka , seseorang yang tidak akan puas dengan sifat-sifat seperti kecerdasan atau kebugaran fisik. Mereka menyerah pada kecenderungan seperti motivasi untuk berprestasi sejak di sekolah.

b) Kepribadian Kritik Diri Dewasa dan di Lingkup Keluarga. Tipe kepribadian yang kritis terhadap diri sendiri bertindak dalam mencari pekerjaan setelah mencapai usia dewasa; ia tidak memiliki keinginan untuk bekerja. Tidak adanya kemauan untuk berjuang ini berdampak pada ekonomi rumah tangga yang selalu di bawah standar. Mereka melakukan pencelaan diri sendiri bahkan di dalam rumah tangga yang berdampak buruk pada hubungan antara suami dan istri. Pertengkaran keluarga akan semakin sering terjadi, tidak hanya mempengaruhi kerukunan dalam rumah

tangga, tetapi juga keharmonisan.

c) Kepribadian Kritik Diri di Masa Tua. Orang tua dengan karakter ini membawa lebih banyak konflik. Hal ini dikarenakan mereka lebih memperhatikan kebutuhan mereka daripada kebutuhan orang lain, meskipun mereka tinggal dalam satu rumah.

(22)

c. Contoh Kasus Nyata dari Masalah Ketidakpahaman Kepribadian Antar Anggota Keluarga

Contoh konkret dari pentingnya pemahaman kepribadian dapat terlihat pada perseteruan keluarga Nikita Mirzani khususnya permasalahan hubungan ibu dan anak. Nikita Mirzani memiliki anak yang sering dikenal sebagai Lolly, pada kasus ini Lolly melakukan pemberontakan seperti melanggar peraturan yang dikenakan oleh ibunya atau intitusi sekolahnya, melakukan hubungan tidak sehat dengan seorang lelaki hingga rumornya dikabarkan melakukan perbuatan tercela diluar adat istiadat dan agama. Kedua belah pihak yaitu ibu dan anak tidak bisa menyatukan visi mereka untuk membentuk hubungan yang baik, hal ini dilatarbelakangi juga karena kondisi psikologis keduanya yang belum mencapai tingkat kesempurnaan.

Melalui pemahaman terhadap kepribadian setiap anggota keluarga, dapat tercipta suasana yang lebih saling mendukung dan harmonis. Hal ini tidak hanya membantu setiap individu dalam keluarga merasa lebih dihargai, tetapi juga mendukung pertumbuhan emosional dan psikologis mereka secara optimal. Dengan demikian, keluarga dapat menjalani kehidupan yang lebih seimbang dan damai[13].

2.3 Contoh Kasus Permasalahan Keamanan Lahir Batin

Permasalahan Keamanan Lahir Batin Keluarga sering terjadi di kehidupan bermasyarakat, salah satu contohnya yaitu kasus bunuh diri sekeluarga dengan melibatkan 2 anak di bawah umur dengan cara menjatuhkan diri dari lantai 22 apartemen.

2.3.1 Kronologi Kasus

Satu keluarga yang terdiri ayah, ibu dan dua anak meninggal dunia diduga bunuh diri dengan meloncat dari sebuah apartemen di Jakarta Utara, pada 9 Maret 2024, 16.15 sore hari. Berdasarkan keterangan saksi-saksi, para korban bunuh diri merupakan anggota-anggota keluarga yang terdiri dari suami EA (50), istri AIL (52) dan dua anaknya, yaitu JWA (13) serta JL (15)[14]. Keempat jenazah ditemukan dengan tali yang terpasang di 2 pasang yaitu ayah dengan

(23)

anak perempuan serta ibu dengan anak laki-laki. Kasus ini masih melakukan penyelidikan latar belakang apakah murni bunuh diri atau ada paksaan seseorang dibaliknya, dilakukan pengecekan DNA oleh pihak polisi. Sebelum ditemukan tewas keluarga ini sempat mengunjungi sebuah restoran untuk makan bersama, diantar taksi. Kemudian keluarga naik menggunakan lift hingga ke lantai 21, di dalam lift suami mencium kening istri dan anak-anaknya, terlihat dari rekaman cctv apartemen. Kemudian dari lantai 21 keluarga naik menggunakan tangga darurat sampai lantai 22, yang mana terdapat Kelenteng dan taman rooftop. Istri terlihat sempat melakukan sembahyang sebelum akhirnya mereka berempat memutuskan untuk meregang nyawa secara bersamaan[14].

2.3.2 Latar Belakang Kasus

1) Masalah ekonomi, sebab sang ayah tidak bekerja karena sering sakit - sakitan, lalu mereka berhutang kesana kemari yang akhirnya membuat mereka terlilit hutang sampai anaknya terpaksa putus sekolah, sang ayah pun merasa dirinya tidak berguna dan hanya bisa menyusahkan keluarga hingga sang ayah memutuskan untuk bunuh diri dan mengajak sang istri.

2) Kekerasan dalam rumah tangga, karena stress yang cukup berat dan mengakibatkan depresi berkepanjangan yang membuat keluarga ini tidak harmonis dan melampiaskan amarahnya dengan kekerasan fisik dan mental.

3) Tidak adanya bantuan sosial/bantuan dari keluarga besar, karena kepribadian mereka yang tertutup, menyebabkan orang sekitarnya tidak mengetahui masalah apa yang sedang mereka alami dan tekanan apa yang mereka rasakan.

4) Mengajak sang anak bunuh diri, mereka memutuskan untuk bunuh diri dengan anak nya, karena merasa khawatir nantinya siapa yg akan merawat anak²nya. “Sebenarnya dia juga ingin melindungi anaknya supaya jangan sampai ketika masalah ini dia “selesaikan”, anaknya malah jadi kebawa.

Juga, biasanya ibu-ibu, mereka khawatir tidak ada orang yang mau memperhatikan anaknya setelah ia meninggal,” katanya[15].

(24)

2.3.3 Hubungan Kasus dengan Kebutuhan Keamanan Lahir Batin Keluarga a. Hubungan Kasus dengan Kebutuhan Spiritual

Kehadiran agama menjadi faktor menurunnya usaha bunuh dan pengaruh spiritualitas tetap penting terhadap pengurangan usaha bunuh diri.

Spiritualitas membuat orang memiliki tujuan yang lebih besar atau makna hidup yang mendalam sehingga menambah dorongan. Kebutuhan spiritual juga meningkatkan ketahanan kita terhadap stres atau rasa putus asa. Hal ini dapat melalui doa, meditasi sehingga seseorang mendapatkan kekuatan.

b. Hubungan Kasus dengan Keharmonisan Keluarga

Dari kasus tersebut menjelaskan bahwa berkomunikasi dan berdiskusi antar individu di dalam keluarga itu penting untuk menjaga keharmonisan kehidupan keluarga, agar tidak terjadi stress/tekanan batin bahkan sampai depresi berkepanjangan yang menyebabkan meluapnya emosi, sehingga memicu kekerasan secara fisik maupun mental.

c. Hubungan Kasus dengan Anggaran Belanja Keluarga

Dari kasus tersebut menjelaskan bahwa anggaran ekonomi keluarga yang cukup itu penting dalam keluarga untuk menciptakan rasa stabil serta rasa aman dan nyaman dalam keluarga, jika sang ayah berusaha dan bekerja keras maka anggaran pemasukan keluarga akan tetap berjalan , sehingga keluarga tidak perlu terlilit hutang dan anak anak tidak perlu putus sekolah.

d. Hubungan Kasus dengan Mengenal Kepribadian Anggota Keluarga Dari kasus tersebut pemahaman kepribadian anggota keluarga bukan hanya penting diketahui untuk sesama keluarga inti, namun peran keluarga besar, saudara, bahkan tetangga juga sangat penting. Sebagai penyambung tali silaturahmi sebaiknya keluarga berfungsi untuk wadah menampung cerita, saling membantu, dan tempat terbuka untuk mengulurkan tangan pertolongan. Sebagai keluarga sebaiknya memiliki sifat peka terhadap pribadi atau keluarga lainnya, mengetahui perbedaan sikap yang sedang dialami oleh pribadi atau keluarga lain sangat dibutuhkan dalam kasus ini.

(25)

2.3.4 Solusi Kasus

Penyikapan terhadap kasus-kasus bunuh diri tidak memadai jika akhirnya hanya menghasilkan rekomendasi terapi atau penanganan individual.

Melainkan, perlu ada pendalaman lebih terkait kegagalan pemerintah dalam menjamin adanya pengamanan sosial bagi anak-anak dari keluarga yang sedang kesulitan dalam menghadapi berbagai situasi.

Sylvia Adriana, founder Yayasan Pendidikan Kesehatan Mental, mengatakan orang yang kehilangan akibat keluarganya bunuh diri disebut sebagai suicide loss survivor. Ia mengatakan bahwa langkah awal untuk membantu anak pulih dari trauma itu adalah dengan memberikan dampingan psikologis lewat konseling. Selain itu, adanya support group juga dapat membantu penyintas memroses trauma itu. “Ketika dia ada di kelompok yang sama, sama-sama menghadapi peristiwa yang sama jadi mereka tidak merasa sendiri. Untuk hampir semua kasus seperti itu, dan itu cukup membantu bagi suicide loss survivor ternyata,” ungkapnya[15].

Oleh karena itu, ia menyarankan agar pemerintah serta masyarakat untuk memfokuskan upaya pencegahan bunuh diri lewat pendekatan religius atau komunitas agar masyarakat yang merasa putus asa atau kehilangan harapan tidak memandang bunuh diri sebagai opsi.

Penelitiannya menghimpun data dari lima sumber dari tahun 2016 hingga 2021, yakni data kepolisian, data pencatatan kematian, data survei provinsi, sistem pencatatan sampel, dan data Observatorium Kesehatan Global WHO (WHO GHO).

Dengan data tersebut, Sandy dan timnya mampu memperkirakan angka bunuh diri yang tidak dilaporkan, mengidentifikasi provinsi dengan tingkat bunuh diri dan sarana percobaan bunuh diri tertinggi.

Sandy mengatakan bahwa pencegahan bunuh diri tidak hanya dapat dilakukan dari segi kesehatan mental, melainkan juga dari segi kesejahteraan sosial, layanan masyarakat dan penerimaan sosial.

Salah satu langkah pencegahan dapat berupa keberanian masyarakat untuk membahasnya serta pembaruan sistem data yang lebih akurat. “Bunuh diri tidak mencerminkan kesehatan mental seseorang, namun mencerminkan

(26)

kehidupan seseorang. Ini bukan hanya tentang apa yang ada di dalamnya, tapi juga tentang lingkungan dan segala sesuatu di sekitarnya,” ungkap Sandy[15].

(27)

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Makalah ini memperjelas bahwa keamanan emosional dari setiap anggota keluarga sangat berkontribusi pada penciptaan lingkungan yang aman dan memelihara kesejahteraan anggota keluarga baik dari segi fisik maupun emosional. Artinya, ini berarti memperluas kepedulian emosional kepada anggota keluarga lainnya dan interaksi antar anggota yang aktif, di samping hal-hal dasar seperti akomodasi yang memadai dan kesehatan untuk semua orang di dalam unit keluarga. Dalam konteks rasa aman inilah setiap anggota keluarga mulai tumbuh dan berkembang secara positif, yang menghasilkan kebahagiaan dan kepuasan dalam sebuah unit.

3.2 Saran

Diharapkan keluarga dapat berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi keluarga dan menjaga kesejahteraan serta keharmonisan keluarga dari segi fisik maupun batin, dengan menjaga kesejahteraan dan keharmonisan keluarga dapat menciptakan keamanan lahir maupun batin dalam keluarga.

(28)

DAFTAR PUSTAKA

[1] J. Maghfirah, N. 160402075 Mahasiswi, F. Dakwah, D. Komunikasi, J.

Bimbingan, and K. Islam, “KRITERIA KELUARGA HARMONIS MENURUT MASYARAKAT DESA BAMBEL GABUNGAN KECAMATAN BAMBEL KABUPATEN ACEH TENGGARA SKRIPSI Diajukan oleh.”

[2] Anonim, “BAB II LANDASAN TEORI.”

[3] E. Sujana et al., “KEBUTUHAN SPIRITUAL KELUARGA DENGAN ANAK PENDERITA PENYAKIT KRONIS,” 2017.

[4] Asih Kuswardinah, “Buku Referensi Imu Kesejahteraan Keluarga,” Semarang, 2017.

[5] “makalah”.

[6] U. Khasanah, R. Vitriya, N. Mufarokhah, S. Tinggi, I. Ekonomi, and N. T. Gresik,

“Manajemen Keuangan Rumah Tangga: Pengenalan Pengelolaan Keuangan Pada Ibu-ibu Peserta Program Keluarga Harapan (PKH) di Kelurahan Kroman,

Kecamatan Gresik, Kabupaten Gresik,” Dec. 2023.

[7] K. C. Susena, S. Nasution, N. R. Hidayah, V. Yustanti, Y. Ariantara, and P. Buku,

“Pengenalan Buku Kas Sebagai Upaya Pengaturan Keuangan Keluarga Kepada Para Ibu Rukun Tetangga 29 Kelurahan Sawah Lebar Kota Bengkulu,” Bengkulu, Mar. 2022.

[8] P. Ayuning Puri, S. R. Nurhasanah Universitas Siber Asia Jl Harsono, and P.

Minggu Jakarta Selatan, “Pengelolaan Keuangan Keluarga Pada Ibu Rumah Tangga Di Kel. Jatiwarna,” Jakarta, Dec. 2022. [Online]. Available:

https://jurnal.unsia.ac.id/index.php/jms/index

[9] C. Pebrianti -Detikjatim, .“850 Pasutri di Ponorogo Pilih Cerai, Mayoritas karena Masalah Ekonomi,” Jan. 2023. Accessed: Oct. 13, 2024. [Online]. Available:

https://www.detik.com/jatim/berita/d-6501036/1-850-pasutri-di-ponorogo-pilih- cerai-mayoritas-karena-masalah-ekonomi

[10] K. S. Dewi and A. Soekandar Ginanjar, “PERANAN FAKTOR-FAKTOR INTERAKSIONAL DALAM PERSPEKTIF TEORI SISTEM KELUARGA TERHADAP KESEJAHTERAAN KELUARGA,” 2019.

[11] Sugito, “Interaksi Dalam Keluarga Sebagai Dasar Pengembangan Kepribadian Anak,” Cakrawala Pendidikan, no. 2, pp. 49–58, Jun. 1994, Accessed: Oct. 10, 2024. [Online]. Available:

https://journal.uny.ac.id/index.php/cp/article/viewFile/9118/pdf

[12] M. Nareza, “Post Power Syndrome atau Sindrom Pascakekuasaan, Ini Cara Mendampingi Penderitanya,” ALODOKTER, -, Mar. 23, 2021. Accessed: Oct. 13, 2024. [Online]. Available: https://www.alodokter.com/post-power-syndrome- atau-sindrom-pascakekuasaan-ini-cara-mendampingi-penderitanya

[13] A. Latifah, “Inilah Analisis Psikologis dari Kasus Lolly dan Nikita Mirzani, Lihat Penjelasannya di Sini!,” POSKOTA, Jakarta, Sep. 26, 2024. Accessed: Oct. 13, 2024. [Online]. Available: https://poskota.co.id/2024/09/26/inilah-analisis-

(29)

psikologis-dari-kasus-lolly-dan-nikita-mirzani-lihat-penjelasannya-di-sini?

view=all

[14] R. Syahrial, “Kasus ‘bunuh diri’ satu keluarga di apartemen Jakarta Utara - Dari bisnis kapal yang bangkrut, tali pengikat tangan, hingga ,” BBC News Indonesia, Mar. 2024, Accessed: Oct. 13, 2024. [Online]. Available:

https://www.bbc.com/indonesia/articles/cv2yq6m6d11o

[15] T. Husada, “Kasus bunuh diri_ Mengapa orang tua bunuh diri bersama anak_ - BBC News Indonesia,” BBC News Indonesia, Mar. 2024, Accessed: Oct. 13, 2024. [Online]. Available: https://www.bbc.com/indonesia/articles/c884p285k9do  

Referensi

Dokumen terkait