• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kelompok 1 ANTI-HIPERTENSI

N/A
N/A
Mifta Husna

Academic year: 2023

Membagikan "Kelompok 1 ANTI-HIPERTENSI"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

ANTI-HIPERTENSI

KELOMPOK 1

Mata kuliah : Interaksi Obat

Dosen Pengampu : apt. Sri Wahyuni, S.Farm.,

M.Farm

(2)

Sumayyah damanik 202114011 Aulia Sari 202114024

Miftahul Husna 202114030 Safiratuzzahra 202114044 Ulfa Rahmi 202114053

Fitri Yana Hasibuan 202114068 Nada syafirna 202114086

DISUSUN OLEH

(3)

APA ITU HIPERTENSI ?

• Menurut World Health Organization (WHO)

dan the International Society of Hypertension (ISH), terdapat 600 juta penderita hipertensi di seluruh dunia, dengan 3 juta diantaranya meninggal setiap tahunnya.

• Hipertensi didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah sistolik sedikitnya 140 mmHg atau tekanan diastolik sedikitnya 90 mmHg.

Efendi, H., & Larasati, T. (2017). Dukungan Keluarga dalam Manajemen Penyakit Hipertensi. Jurnal Majority, 6(1), 34–40.

(4)

HIPERTENSI PRIMER

Hipertensi primer merupakan keadaan hipertensi yang

penyebab utamanya bersifat

idiopatik, sedangkan hipertensi sekunder diakibatkan oleh suatu

penyakit lain yang mendasari, misalnya penyakit ginjal.

Efendi, H., & Larasati, T. (2017). Dukungan Keluarga dalam Manajemen Penyakit Hipertensi. Jurnal Majority, 6(1), 34–40.

(5)

HIPERTENSI PRIMER

Hipertensi primer memiliki

faktor risiko yang menyebabkan seseorang lebih mudah terkena hipertensi. Faktor risiko tersebut dibagi menjadi faktor yang tidak

dapat diubah dan faktor yang dapat diubah.

Efendi, H., & Larasati, T. (2017). Dukungan Keluarga dalam Manajemen Penyakit Hipertensi. Jurnal Majority, 6(1), 34–40.

(6)

FAKTOR YANG TIDAK DAPAT DIUBAH

Riwayat Keluarga RAS Jenis Kelamin

Efendi, H., & Larasati, T. (2017). Dukungan Keluarga dalam Manajemen Penyakit Hipertensi. Jurnal Majority, 6(1), 34–40.

(7)

FAKTOR YANG DAPAT DIUBAH

Obesita s

Merokok Stres

s Minuman

Beralkohol

Efendi, H., & Larasati, T. (2017). Dukungan Keluarga dalam Manajemen Penyakit Hipertensi. Jurnal Majority, 6(1), 34–40.

(8)

HIPERTENSI SEKUNDER

Hipertensi sekunder lebih jarang terjadi, hanya sekitar 5% dari

seluruh kasus tekanan darah tinggi.

Hipertensi sekunder dapat

disebabkan oleh penyakit ginjal, reaksi terhadap obat-obatan

tertentu misalnya pil KB, hipertiroid, hiperaldosteronisme, dan lain

sebagainya.

Efendi, H., & Larasati, T. (2017). Dukungan Keluarga dalam Manajemen Penyakit Hipertensi. Jurnal Majority, 6(1), 34–40.

(9)

Target pengobatan pasien hipertensi menurut Eighth Joint National Committee (JNC 8) adalah

<140/90 mmHg untuk usia kurang dari 60 tahun dan <150/90 mmHg untuk usia 60 tahun

keatas. Namun, pada pasien hipertensi yang

disertai penyakit diabetes melitus atau penyakit ginjal kronik, target tekanan darah harus

mencapai <140/90mmHg tanpa memandang usia pasien.

Efendi, H., & Larasati, T. (2017). Dukungan Keluarga dalam Manajemen Penyakit Hipertensi. Jurnal Majority, 6(1), 34–40.

(10)

Terapi pasien hipertensi diawali dengan intervensi gaya hidup, kemudian pemberian obat-obatan. Modifikasi

gaya hidup dapat menurunkan risiko penyakit lain dan menghindari kebutuhan terapi obat. Menjaga gaya

hidup tetap sehat saja tidak cukup untuk menurunkan tekanan darah, kebanyakan pasien membutuhkan

terapi farmakologi untuk mengontrol tekanan darah mereka.

Efendi, H., & Larasati, T. (2017). Dukungan Keluarga dalam Manajemen Penyakit Hipertensi. Jurnal Majority, 6(1), 34–40.

(11)

Menurut JNC 8, gaya hidup yang dilakukan adalah membatasi merokok, mengontrol diet dengan

mengurangi konsumsi alkohol, membatasi sodium tidak lebih dari 2.400 mg/hari, serta melakukan aktivitas fisik 3-4 hari per minggu dengan rata-rata 40 menit per sesi.

Terapi obat-obatan dibutuhkan jika modifikasi gaya hidup tidak mencapai target tekanan darah secara

adekuat.

Efendi, H., & Larasati, T. (2017). Dukungan Keluarga dalam Manajemen Penyakit Hipertensi. Jurnal Majority, 6(1), 34–40.

(12)

PATOFISIOLOGI

1. Aktivitas Sistem Saraf

Simpatis

Katekolamin (Adrenalin, Non

Adrenalin)

Vasokonstriksi pembuluh darah dan meningkatkan

heart rate

2. Aktivasi Sistem RAA

Renin

Angiotensinogen

AT 1

3. Retensi

Natrium dan air

Peningkatan Volume Darah

4. Disfungsi endotel

5. Genetik

Vasokonstriksi pembuluh darah

Referensi : Klasifikasi AHA 2017 (American Heart Association)

(13)

PENGOBATAN

No Grup/Gol Nama Obat Mekanisme Kerja Dosis &

Frekuensi Efek Samping

1 Diuretic

Thiazide

Loop Diuretik (diuretic kuat

Diuretic hemat kalium

Hydrochlorothiazi de (HCT)

Furosemide

Spironolactone

Diuretic bekerja

meningkatkan ekskresi natrium ,air dan klorida sehingga menurunkan volume darah dan cairan ekstraseluler

• 25-50 mg/hari (diberikan 1x sehari)

Dewasa: dosis 20- 80mg/hari.diberika n 2x sehari

25-100 mg/hari

(diberikan 1x sehari )

Gangguan elektrolit (hiponatremia,hipokal emia,hipomagnesemia ,hiperkalsemia).

Hipotensi,hiperurisemi a,hiperkalemia,hiponat remia,anoreksia.

Gangguan saluran

cerna;impotensi,gineko mastia,menstruasi

tidak teratur

Referensi: Basic Pharmacology & Drug Notes 2023 Notes

(14)

PENGOBATAN

No Grup/Gol Nama Obat Mekanisme Kerja Dosis &

Frekuensi Efek Samping

2 ACEI Inhibitor • Captopril ACEI Inhibitor

menghambat perubahan angiotensin 1 menjadi angiotensin 2 sehingga terjadi vasodilatasi dan penurunan sekresi

aldosteron. Selain itu,

degradasi bradikinin juga dihambat sehingga kadar bradikinin dalam darah meningkat dan berperan menimbulkan vasodilatasi.

Vasodilatasi secara

langsung akan menurunkan tekanan darah sedangkan berkurangnya aldosteron akan menyebabkan

ekskresi air dan natrium dan retensi kalium.

Hipertensi: dosis awal 2x 12,5

mg/hari;bila

dikombinasi dengan diuretic atau pada usia lanjut;dosis awal 2x6,25

mg/hari;

Dosis penunjang lazim: 2x25

mg/hari;maks : 2x50 mg/hari

(jarang 3 kali sehari pada hipertensi

berat )

Hipotensi ,gangguan fungsi ginjal, batuk kering yang

menetap,angioedema, ruam kulit,gangguan pengecapan,gangguan saluran

cerna(mual,muntah,dis pepsia,diare,konstipasi, nyeri abdomen).

Referensi: Basic Pharmacology & Drug Notes 2023 Notes

(15)

PENGOBATAN

No Grup/Gol Nama Obat Mekanisme Kerja Dosis &

Frekuensi Efek Samping

2 ACEI Inhibitor • Lisinopril

• Enalapril

ACEI Inhibitor

menghambat perubahan angiotensin 1 menjadi angiotensin 2 sehingga terjadi vasodilatasi dan penurunan sekresi

aldosteron. Selain itu,

degradasi bradikinin juga dihambat sehingga kadar bradikinin dalam darah meningkat dan berperan menimbulkan vasodilatasi.

Vasodilatasi secara

langsung akan menurunkan tekanan darah sedangkan berkurangnya aldosteron akan menyebabkan

ekskresi air dan natrium dan retensi kalium.

dosis awal: 1x10 mg sehari;dosis penunjang lazim:

1x20 mg

sehari;dosis

maksimal:40 mg/

hari

dosis awal: 1x5

mg/hari;jika kombinasi dengan diuretic,pada usia lanjut,atau pada gangguan ginjal,dosis awal 1x2,5 mg/hari;

dosis penunjang:1x10- 20 mg/hari; pada

hipertensi berat dapat ditingkatkan sampai maks 1x40 mg/hari

Hipotensi ,gangguan fungsi ginjal, batuk kering yang

menetap,angioedema, ruam kulit,gangguan pengecapan,ganggua n saluran

cerna(mual,muntah,d ispepsia,diare,konstip asi,nyeri abdomen), Hiperkalemia,hipogli kemia.

Referensi: Basic Pharmacology & Drug Notes 2023 Notes

(16)

PENGOBATAN

No Grup/Gol Nama Obat Mekanisme Kerja Dosis &

Frekuensi Efek Samping

2 ACEI Inhibitor • Ramipril

• Imidapril

ACEI Inhibitor

menghambat perubahan angiotensin 1 menjadi angiotensin 2 sehingga terjadi vasodilatasi dan penurunan sekresi

aldosteron. Selain itu,

degradasi bradikinin juga dihambat sehingga kadar bradikinin dalam darah meningkat dan berperan menimbulkan vasodilatasi.

Vasodilatasi secara

langsung akan menurunkan tekanan darah sedangkan berkurangnya aldosteron akan menyebabkan

ekskresi air dan natrium dan retensi kalium.

dosis awal:1x2,5 mg/hari. Dosis

pemeliharaan : 2,5-5 mg/hari. Dosis

maksimal: 10 mg/hari

dosis awal 1x5 mg sehari; maks 20 mg/hari

jika pasien menggunakan diuretic,pasien

lansia,pasien gagal jantung,angina atau penyakit

serebrovaskular, atau pada gangguan fungsi ginjal atau hati,dosis awal 1x2,5 mg/hari

Hipotensi ,gangguan fungsi ginjal, batuk kering yang

menetap,angioedema, ruam kulit,gangguan pengecapan,ganggua n saluran

cerna(mual,muntah,d ispepsia,diare,konstip asi,nyeri abdomen), Hiperkalemia,hipogli kemia.

Referensi: Basic Pharmacology & Drug Notes 2023 Notes

(17)

PENGOBATAN

No Grup/Gol Nama Obat Mekanisme Kerja Dosis &

Frekuensi Efek Samping

3 Angiotensin

Reseptor Blocker (ARB)

• Losartan

• Candesartan

ARB akan bersaing dengan All untuk berikatan dengan reseptor AT

sehingga akan

menghambat efek dari All,dan akan menurunkan

tekanan darah pada pasien dengan

hipertensi

Dosis umum: 1x50 mg sehari,dapat

ditingkatkan hingga

1x100 mg sehari. Untuk pasien usia lanjut (>75 tahun ),pasien dengan gangguan fungsi ginjal sedang-

berat,dialysis,deplesi cairan:dosis awal 1x25 mg/hari.

Dosis awal 1x8

mg/hari,dosis dapat ditingkatkan sesuai respon pasien. Dosis

maks 32 mg/hari. Pasien dengan deplesi volume intravascular dosis awal 1x4 mg/ hari.

Hipotensi,hiper kalemia,pusing, gangguan

gastrointrestinal (diare,nyeri

perut,mual,disp epsia),ruam

.

Referensi: Basic Pharmacology & Drug Notes 2023 Notes

(18)

PENGOBATAN

No Grup/Gol Nama Obat Mekanisme Kerja Dosis &

Frekuensi Efek Samping

3 Angiotensin

Reseptor Blocker (ARB)

• Valsartan

• Telmisartan

ARB akan bersaing dengan All untuk berikatan dengan reseptor AT

sehingga akan

menghambat efek dari All,dan akan menurunkan

tekanan darah pada pasien dengan

hipertensi

80 mg 1x/hari, dapat ditingkatkan s/d 160 mg/hari atau dapat ditambah diuretic jika TD belum dapat

dikontrol secara adekuat

Dosis awal 1x40 mg/

hari. Dapat diberikan 1x20 mg/hari jika

tidak sudah

memberikan efek. Jika target tekanan darah belum tercapai,dosis dapat ditingkatkan hingga maksimum 1x80 mg/hari

Hipotensi,hiper kalemia,pusing, gangguan

gastrointrestinal (diare,nyeri

perut,mual,disp epsia),ruam

.

Referensi: Basic Pharmacology & Drug Notes 2023 Notes

(19)

PENGOBATAN

No Grup/Gol Nama Obat Mekanisme Kerja Dosis &

Frekuensi Efek Samping

3 Angiotensin

Reseptor Blocker (ARB)

• Olmesartan

• Irbisartan

ARB akan bersaing dengan All untuk berikatan dengan reseptor AT

sehingga akan

menghambat efek dari All,dan akan menurunkan

tekanan darah pada pasien dengan

hipertensi

Dosis awal 10-20 mg diberikan sekali

sehari. Dosis dapat ditingkatkan bila perlu hingga

maksimum 40 mg/hari

Dosis awal 1x150 mg/hari,jika perlu dapat ditingkatkan hingga 1x300

mg/hari. Pada pasien dengan deplesi

volume intravascular atau usia lanjut (>75 tahun),dosis awal 1x75 mg/hari.

Hipotensi,hiper kalemia,pusing, gangguan

gastrointrestinal (diare,nyeri

perut,mual,disp epsia),ruam

.

Referensi: Basic Pharmacology & Drug Notes 2023 Notes

(20)

PENGOBATAN

No Grup/Gol Nama Obat Mekanisme Kerja Dosis &

Frekuensi Efek Samping

4

Calcium Channel Blocker (CCB)

• Nifedipine

• Amlodipine

• Diltiazem

Menghambat kalsium masuk kedalam sel

sehingga salah satu efeknya adalah

mennyebabkan vasodilatasi,

memperlambat laju jantung, dan

menurunkan

kontraktilitas miokard sehingga menurunkan darah

Dosis awal: nifedipine sediaan lepas lambat:

30mg 1x/hari. Maks:

60 mg 1x/hari.

Dosis awal: 1x5

mg/hari; dosis maks:

10mg/hari

Dosis diltiazem hipertensi sesuai pedoman hipertensi 2021:

Diltiazem SR: 180-360 mg/hari (dalam 2 dosis terbagi)

Diltiazem CD: 100- 200 mg/hari (dalam 1 dosis)

Edema

perifer,palpitasi, sakit kepala,edema dan

vasodilatasi.

Sakit kepala, edema perifer,lelah,somnolen, mual.

Bradikardia,hipotensi, pusing,blok AV,edema perifer, rasa panas dan kemerahan pada wajah

Referensi: Basic Pharmacology & Drug Notes 2023 Notes

(21)

PENGOBATAN

No Grup/Gol Nama Obat Mekanisme Kerja Dosis &

Frekuensi Efek Samping

4

Calcium Channel Blocker (CCB)

• Nicardipine

Menghambat kalsium masuk kedalam sel

sehingga salah satu efeknya adalah

mennyebabkan vasodilatasi,

memperlambat laju jantung, dan

menurunkan

kontraktilitas miokard sehingga menurunkan darah

Untuk krisis

hipertensi akut selama oprasi,secara

intravena(drips): dosis 2-10 mcg/kgBB/menit sampai tekanan darah yang diinginkan, dosis kemudian disesuaikan sambil memantau

tekanan darah.

Hipertensi emergensi:

dosis 0,5-6

mcg/kgBB/menit,dosi s kemudian

disesuaikan sambil memantau tekanan darah.

Takikardia,kemerah an,dan rasa panas pada wajah, ileus paralitik,toksemia,h ipoksemia,nyeri

angina,

trombositopenia,ga ngguan fungsi hati dan ikterus.

Referensi: Basic Pharmacology & Drug Notes 2023 Notes

(22)

PENGOBATAN

No Grup/Gol Nama Obat Mekanisme Kerja Dosis &

Frekuensi Efek Samping

5

Penghambat adrenergic

• Clonidine

• Methyldopa

Bekerja

menurunkan aktivitas saraf simpatis.

Dosis Clonidine untuk hipertensi: 0,1-0,8

mg/hari (terbagi dalam 2 dosis)

Dosis Clonidine untuk krisis hipertensi: 150- 300 mcg diberikan secara IV lambat dalam 5-10 menit

Oral: 2-3x 250 mg/hari, secara bertahap

dinaikan dengan selang waktu 2 hari atau lebih, dosis

maksimum sehari 3 gr;

pasien usia lanjut:dosis awal 2x125 mg/hari, dinaikkan secara

bertahap; dosis maks 2 gr.

Hipotensi,bradikardia,s edasi,depresi,gangguan ereksi. Efek samping tersering adalah

rebound hypertension

Gangguan saluran cerna,stomatis,mulut kering,sodasi,depresi, mengantuk,diare,retens i cairan

Referensi: Basic Pharmacology & Drug Notes 2023 Notes

(23)

PENGOBATAN

No Grup/Gol Nama Obat Mekanisme Kerja Dosis &

Frekuensi Efek Samping

6

 Blocker

Doxasozin

• Terasozin

Bekerja dengan cara memblokade adreno reseptor  pada otot polos

pembuluh darah sehingga

menyebabkan

vasodilatasi,menuru nkan resistensi

perifer,dan menurunkan tekanan darah.

Hipertensi: 1

mg/hari,dosis dapat ditingkatkan 1-2 minggu bila perlu.

Pemeliharaan: hingga 4 mg/hari.maks 16 mg/hari.

Awal 1 mg/hari menjelang tidur.

Dapat ditingkatkan secara bertahap

tergantung respon pasien.

Pemeliharaan 2-10 mg/hari, maks 20 mg/hari dalam 1

atau 2 dosis terbagi.

Hipotensi

ortostatik,intraoperativ e floppy iris syndrome (ifis) selama oprasi

katarak.

Asthenia,sakit

kepala,palpitasi,hipote nsi pastural,

sinkop,mual,edema perifer

Referensi: Basic Pharmacology & Drug Notes 2023 Notes

(24)

PENGOBATAN

No Grup/Gol Nama Obat Mekanisme Kerja Dosis &

Frekuensi Efek Samping

7

 Blocker

Propanolol

• Atenolol

• Bisoprolol

 blocker bekerja memberikan

hambatan terhadap adrenoreseptor .

2x40-80 mg/hari.

Dosis dapat ditingkatkan

dengan interval 1 minggu bergantung pada respon pasien.

50 mg/hari dapat ditingkatkan hingga 100 mg/hari

1x2,5-10 mg/hari pada pagi hari

Bradikardia,gagal

jantung,hipotensi,gang guan konduksi.

Bradikardi,gagal

jantung,hipotensi,gang guan konduksi

Rasa dingin atau kebas pada

ektremitas;mual,munta h,diare,konstipasi

Referensi: Basic Pharmacology & Drug Notes 2023 Notes

(25)

PENGOBATAN

No Grup/Gol Nama Obat Mekanisme Kerja Dosis &

Frekuensi Efek Samping

7

 Blocker

Metoprolol

• Nebivolol

 blocker bekerja memberikan

hambatan terhadap adrenoreseptor .

Dosis awal 50 mg sehari, dosis

penunjang 50-100 mg sehari dalam 1- 2 dosis terbagi.

Tab lepas lambat:

dosis awal 25-100 mg/hari, dapat

ditingkatkan sesuai respon pasien

maksimal: 400 mg/hari

5 mg diberikan 1x/

hari. Dosis maksimal 40 mg/hari.

Bronkospasme (lebih jarang dibandingkan  Blocker non selektif), bradikardia, dyspnea.

Sakit kepala, pusing, parestesia; dispnea;

konstsipasi, mual, diare, kelelahan, edema.

Referensi: Basic Pharmacology & Drug Notes 2023 Notes

(26)

INTERAKSI OBAT

No Nama Obat Yang

Berinteraksi Fase Intraksi Hal Yang Terjadi Solusi

1 Furosemid

dengan Ramipril

Interaksi yang terjadi antara furosemid dan ramipril yaitu

farmakodinamik sinergis.

Kombinasi ramipril (ACE Inhibitor) dan furosemid (Loop

Diuretic) umumnya

aman dan efektif, tetapi

“first dose hypotension”

• (pusing hingga pingsan) dapat terjadi

• menyebabkan

hypokalemia (mual dan muntah, hilang nafsu

makan, konstipasi, tubuh terasa lemas, kram otot dan jantung berdebar)

Ramipril sebaiknya di

konsumsi saat menjelang tidur

Furosemide di konsumsi pagi hari saat bangun

tidur dan sore hari

sebelum makan malam melakukan pemantauan tekanan darah, diuresis, elektrolit, dan fungsi

ginjal selama pemberian kedua obat tersebut, serta dapat diberikannya

suplemen kalium

.

Aliya Rahmah Adriani, Suwendar, & Fetri Lestari. (2022). Kajian Interaksi Obat Antihipertensi pada Pasien Geriatri Rawat Inap di Rumah Sakit Al-Mulk Kota Sukabumi. Bandung Conference Series: Pharmacy, 2(2). https://doi.org/10.29313/bcsp.v2i2.43280

(27)

INTERAKSI OBAT

No Nama Obat Yang

Berinteraksi Fase Intraksi Hal Yang Terjadi Solusi

2 Amlodipin dengan Atorvastatin

amlodipin dengan atorvastatin terjadi interaksi

farmakokinetik amlodipin secara signifikan

meningkatkan penghambatan

reduktase HMG-CoA setelah pemberian obat golongan statin.

Ketika kerja statin

meningkat maka akan meningkatkan toksisitas dari statin tersebut yaitu muskoloskeletal berupa miopati.

gangguan otot di dalam tubuh

gejala berupa lemah dan nyeri otot.

Beri jeda 1-2 jam melakukan

pemantauan

kadar lipid, dan menggunakan dosis statin

efektif terendah

Aliya Rahmah Adriani, Suwendar, & Fetri Lestari. (2022). Kajian Interaksi Obat Antihipertensi pada Pasien Geriatri Rawat Inap di Rumah Sakit Al-Mulk Kota Sukabumi. Bandung Conference Series: Pharmacy, 2(2). https://doi.org/10.29313/bcsp.v2i2.4328

(28)

INTERAKSI OBAT

No Nama Obat Yang

Berinteraksi Fase Intraksi Hal Yang Terjadi Solusi

3 Furosemide dengan Lansoprazole

furosemid dengan lansoprazole terjadi interaksi obat dengan mekanisme

farmakodinamik.

Interaksi kedua obat ini dikarenakan pada

penggunaan obat

golongan Proton Pump Inhibitor (PPI) dapat menyebabkan

hipomagnesemia.

furosemid dengan lansoprazole ini

merupakan interaksi obat dengan tingkat keparahan moderate

Hipomagnesemia

kadar magnesium dalam darah dapat terus menurun dan menjadi sangat rendah

Lansoprazole di konsumsi pagi hari sebelum makan

Furosemide pagi dan sore hari bersamaan makan

melakukan pemantauan kadar magnesium

sebelum mulai terapi dan secara berkala selama

pengobatan, penggunaan suplemen magnesium, dan penghentian

penggunaan obat golongan PPI

Aliya Rahmah Adriani, Suwendar, & Fetri Lestari. (2022). Kajian Interaksi Obat Antihipertensi pada Pasien Geriatri Rawat Inap di Rumah Sakit Al-Mulk Kota Sukabumi. Bandung Conference Series: Pharmacy, 2(2). https://doi.org/10.29313/bcsp.v2i2.4328

(29)

INTERAKSI OBAT

No Nama Obat Yang

Berinteraksi Fase Intraksi Hal Yang Terjadi Solusi

4 Spironolakton dengan Aspirin

terjadi interaksi obat

sinergis farmakodinamik.

Interaksi ini terjadi pada proses ekskresi, dimana aspirin dapat menurunkan sekresi natrium, sehingga natrium dalam darah

meningkat, akibatnya efek spironolakton menurun, tetapi aspirin dalam dosis kecil tidak

mempengaruhi.

Interaksi obat antara spironolakton dengan aspirin ini merupakan interaksi obat dengan tingkat keparahan minor

Efek terapi spirono lacton gagal

Sehingga darah semakin naik dan terjadi hipertensi Sakit kepala

Spironolakton di

konsumsi sesudah makan dipagi hari

Aspirin di konsumsi

sesudah makan siang dan sebelum tidur

melakukan pemantauan tekanan darah agar selalu berada diambang batas normal

Aliya Rahmah Adriani, Suwendar, & Fetri Lestari. (2022). Kajian Interaksi Obat Antihipertensi pada Pasien Geriatri Rawat Inap di Rumah Sakit Al-Mulk Kota Sukabumi. Bandung Conference Series: Pharmacy, 2(2). https://doi.org/10.29313/bcsp.v2i2.4328

(30)

INTERAKSI OBAT

No Nama Obat Yang

Berinteraksi Fase Intraksi Hal Yang Terjadi Solusi

5 Spironolakton dengan Digoksin

Pada penggunaan bersama antara

spironolakton dengan digoksin terjadi

interaksi obat dengan mekanisme

farmakokinetik.

Interaksi ini terjadi karena spironolakton dapat mengurangi

sekresi tubulus digoksin.

Spironolakton akan meningkatkan waktu paruh dari digoksin dan toksisitasnya.

Mual muntah, diare, nyeri

abdomen, gangguan penglihatan, sakit kepala, rasa capai,

mengantuk, bingung, pusing;

depresi; delirium, halusinasi;

aritmia, blok jantung; rash yang jarang; iskemi usus;

ginekomastia pada pemakaian jangka panjang;

trombositopenia.

Spironolakton di konsumsi sesudah makan dipagi hari dengan melakukan pemantauan kadar kalium pada pasien

Aliya Rahmah Adriani, Suwendar, & Fetri Lestari. (2022). Kajian Interaksi Obat Antihipertensi pada Pasien Geriatri Rawat Inap di Rumah Sakit Al-Mulk Kota Sukabumi. Bandung Conference Series: Pharmacy, 2(2). https://doi.org/10.29313/bcsp.v2i2.4328

(31)

INTERAKSI OBAT

No Nama Obat Yang

Berinteraksi Fase Intraksi Hal Yang Terjadi Solusi

6 Furosemide Dengan Cefadroxil

Pada penggunaan bersama antara furosemid dan

cefadroxil terjadi interaksi obat dengan mekanisme farmakodinamik sinergis Obat golongan diuretik loop ini terbukti dapat

meningkatkan konsentrasi plasma dan/atau

mengurangi clearance dari obat golongan

sefalosporin. Interaksi obat antara furosemid dengan cefadroxil ini merupakan interaksi obat dengan

tingkat keparahan moderate

Interaksi obat terjadi

karena furosemid dapat meningkatkan risiko

kerusakan ginjal.

Melakukan

pemantauan fungsi ginjal terutama jika menggunakan dosis tinggi atau

penggunaannya

diberikan pada pasien geriatri atau pasien

dengan gangguan ginjal

Aliya Rahmah Adriani, Suwendar, & Fetri Lestari. (2022). Kajian Interaksi Obat Antihipertensi pada Pasien Geriatri Rawat Inap di Rumah Sakit Al-Mulk Kota Sukabumi. Bandung Conference Series: Pharmacy, 2(2). https://doi.org/10.29313/bcsp.v2i2.4328

(32)

INTERAKSI OBAT

No Nama Obat Yang

Berinteraksi Fase Intraksi Hal Yang Terjadi Solusi

7

8

Amlodipine dengan Ibu profen

Furosemide dengan Keterolac

Interaksi yang terjadi antara amlodipin dan ibuprofen yaitu interaksi

farmakodinamik antagonis.

OAINS menghambat

sintesis prostaglandin ginjal sehingga menyebabkan

retensi garam dan air.

Pada penggunaan bersama antara furosemide dan

ketorolak (NSAID) terjadi interaksi obat dengan

mekanisme farmakodinamik Interaksi obat antara

furosemide dengan

ketorolak ini merupakan interaksi obat dengan

tingkat keparahan moderate

Hal ini dapat meningkatkan tekanan

darah dan mempengaruhi terapi antihipertensi

Mempengaruhi fungsi ginjal karena keduanya memberikan efek penghambatan pada

prostaglandin sehingga dapat terjadi peningkatan tekanan darah.

Beri jeda 1-2 jam melakukan

pemantauan tekanan darah agar selalu

berada diambang batas normal

Memantau fungsi ginjal dan tekanan darah pasien, serta pemberian

suplemen untuk

menyeimbangkan kadar elektrolit tubuh

Aliya Rahmah Adriani, Suwendar, & Fetri Lestari. (2022). Kajian Interaksi Obat Antihipertensi pada Pasien Geriatri Rawat Inap di Rumah Sakit Al-Mulk Kota Sukabumi. Bandung Conference Series: Pharmacy, 2(2). https://doi.org/10.29313/bcsp.v2i2.4328

(33)

INTERAKSI OBAT

No Nama Obat Yang

Berinteraksi Fase Intraksi Hal Yang Terjadi Solusi

9

10

Captopril dengan Pisang

Lisinopril dengan Pisang

Mekanisme kerja obat ini yaitu

meningkatkan kadar kalium dalam tubuh

Jika dikonsumsi bersamaan dengan pisang, efeknya bisa terjadi hiperkalemia.

Dengan tingginya kadar kalium dalam darah akan berefek pada kerja

jantung dan berisiko

terhadap seseorang yang memiliki riwayat

hipertensi.

Sebaiknya konsultasikan dengan dokter atau

apoteker Anda sebelum mengonsumsi captopril atau lisinopril bersamaan dengan pisang. Dokter dapat memberikan

panduan yang sesuai

dengan kondisi kesehatan Anda dan menyesuaikan dosis obat jika diperlukan untuk mengurangi risiko hiperkalemia.

Olivia, Z., & Suryana, A. L. (2018). Effect of Antihipertensive Drugs And Banana (Musa Sp.) To Potassium Serum Levels of Hypertensive Wistar Rats Model. Journal of Agromedicine and Medical Sciences, 4(3), 121. https://doi.org/10.19184/ams.v4i3.8672

(34)

REFERENSI

Aliya Rahmah Adriani, Suwendar, & Fetri Lestari. (2022). Kajian Interaksi Obat Antihipertensi pada Pasien Geriatri Rawat Inap di Rumah Sakit Al-Mulk Kota Sukabumi. Bandung Conference Series: Pharmacy, 2(2).

https://doi.org/10.29313/bcsp.v2i2.4328

Basic Pharmacology & Drug Notes 2023 Notes

Efendi, H., & Larasati, T. (2017). Dukungan Keluarga dalam Manajemen Penyakit Hipertensi. Jurnal Majority, 6(1), 34–40

Gitawati, R. (2008). Interaksi Obat Dan Beberapaimplikasinya. 175–184.

Klasifikasi AHA 2017 (American Heart Association)

Mahamudu, Y. S., Citraningtyas, G., & Rotinsulu, H. (2017). Kajian Potensi Interaksi Obat Antihipertensi Pada Pasien Hipertensi Primer Di Instalasi Rawat Jalan Rsud Luwuk Periode Januari – Maret 2016. Jurnal Ilmiah Farmasi, 6(3), 1–9..

Olivia, Z., & Suryana, A. L. (2018). Effect of Antihipertensive Drugs And Banana (Musa Sp.) To Potassium Serum Levels of Hypertensive Wistar Rats Model. Journal of Agromedicine and Medical Sciences, 4(3), 121.

https://doi.org/10.19184/ams.v4i3.8672.

(35)

THANK YOU!

Referensi

Dokumen terkait