KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA DALAM KELUARGA PASANGAN CAMPUR ETNIS SUNDA JAWA
Disusun Oleh:
Namira Aminatuzahra 20107030040 Defi Dilalatul Haq 20107030046 Mochammad Ridzky Pratama 20107030065 Erlina Shinta Wati 20107030073
PENDAHULUAN
Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan keanekaragaman budaya, ras, suku bangsa, kepercayaan, agama, dan bahasa. Sesuai dengan semboyan Indonesia yakni Bhineka Tunggal Ika. Badan Pusat Statistik Indonesia dengan Institute of South Asian Studies merumuskan bahwa Indonesia memiliki total sekitar 633 suku yang didapatkan dari hasil pengklasifikasian suku dan sub suku (Pitoyo & Triwahyudi, 2017).
Pada kenyataannya bahasa memegang peranan penting sebagai alat transmisi budaya dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Sistem kultural yang dimiliki oleh suatu masyarakat juga dapat tercermin melalui bahasa, sehingga lahirlah berbagai macam gaya dan pola bahasa yang mencirikan suatu masyarakat tutur. Keragaman bahasa tersebut, sedikit banyaknya, dapat memengaruhi pola komunikasi para penuturnya, khususnya komunikasi interpersonal (antarorang) yang berlatar belakang sosiokultural yang berlainan. Secara praktis, fenomena tersebut dapat berpotensi memunculkan kerumitan dan polemik dalam proses berkomunikasi di tengah-tengah masyarakat (Zein et al., 2022),
Memahami budaya khususnya dalam konteks komunikasi antarpribadi yang berbeda tentu bukan hal yang mudah, oleh karena itu suami istri perlu memahami realitas budaya masing-masing dan memahami adanya keragaman, hal ini sebagai fungsi komunikasi antarbudaya dalam konteks hubungan antarpribadi.
Larry A Samovar mendefinisikan komunikasi antarbudaya sebagai satu bentuk komunikasi yang melibatkan interaksi antara orang-orang yang persepsi budaya dan sistem simbolnya cukup berbeda dalam suatu komunikasi. Menurut pendapat Samovar, komunikasi antar budaya terjadi ketika anggota dari dari suatu budaya tertentu memberikan pesan kepada
anggota dari budaya yang lain. Komunikasi antarbudaya sering melibatkan perbedaan-perbedaan dan etnis, namun komunikasi antarbudaya juga berlangsung ketika muncul perbedaan-perbedaan yang mencolok tanpa harus disertai perbedaan-perbedaan ras dan etnis (Samovar et al., 2013)
Komunikasi antarbudaya akan berlangsung jika sebelumnya ada perpindahan tempat atau migrasi dari satu etnis menuju suatu wilayah yang memiliki etnis yang berlainan. Dalam prosesnya, masyarakat migrasi tersebut kerap kali menghadapi serangkaian kesulitan adaptasi, baik secara kognitif maupun afektif.
Penelitian ini menggunakan studi penelitian kualitatif. Jenis penelitian ini adalah penelitian dasar yang bertujuan untuk mencari pemahaman tentang suatu masalah. Tujuan tersebut dapat dicapai dengan pendekatan interpretatif. Data penelitian diperoleh dengan melakukan wawancara mendalam terhadap informan, yakni pasangan yang berbeda etnis antara Jawa dan Sunda serta melakukan observasi terhadap komunikasi dan interaksi sehari-hari mereka dengan pasangan masing-masing. Wawancara dilakukan melalui media online, guna mencapai keabsahan data yang diinginkan, digunakan sebuah teknik untuk mencari tahu apakah apa yang dikatakan oleh informan adalah keadaan yang sebenarnya, yakni dengan mengajukan pertanyaan yang sama pada kesempatan yang berbeda. Seluruh hasil wawancara dan observasi kemudian dirangkum dalam bentuk transkrip wawancara dan catatan observasi. Kedua data tertulis ini digunakan dalam menganalisis dan mendeskripsikan temuan.
Masalah kesukubangsaan merupakan satu di antara isu yang sangat menarik untuk terus dikaji karena mayoritas negara-negara yang ada di dunia memiliki kondisi yang multietnis.
Sehingga dari uraian latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai komunikasi lintas budaya antara pasangan Jawa Sunda. Budaya merupakan sistem yang kompleks dan memiliki pengaruh yang kuat dalam kehidupan setiap orang. Budaya yang berbeda memiliki sistem nilai yang berbeda dan dapat menentukan tujuan hidup yang berbeda pula. Cara setiap orang berkomunikasi sangat bergantung pada budaya, baik itu bahasa, aturan, atau norma yang diikuti setiap orang.
Budaya adalah alasan perilaku setiap orang dan makna interaktif. Akibatnya, perilaku interaktif dua orang yang berbeda budaya juga akan berbeda, yang tentunya akan menimbulkan berbagai kesulitan. Dalam hal ini, komunikan dan komunikator sering salah memahami penjelasan pesan, karena setiap orang memiliki latar belakang budaya yang berbeda.
Penyesuaian yang tepat diperlukan untuk mencegah kesalahpahaman selama proses komunikasi,
yang dapat mengakibatkan kegagalan untuk mencapai tujuan komunikasi atau memicu konflik.
Konflik yang akan terjadi berupa pergumulan, perdebatan, keterasingan dan kebencian dalam pernikahan.
Komunikasi lintas budaya dalam konteks suku Jawa dan Sunda mengacu pada interaksi antara dua kelompok etnis yang memiliki budaya dan tradisi yang berbeda, yaitu suku Jawa dan suku Sunda. Baik suku Jawa maupun suku Sunda memiliki sejarah dan warisan budaya yang kaya, dan perbedaan-perbedaan ini mempengaruhi cara mereka berkomunikasi. Suku Jawa dan Sunda memiliki sejarah yang berbeda serta wilayah geografis yang berbeda pula. Suku Jawa berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, sementara suku Sunda berasal dari wilayah Jawa Barat. Perbedaan ini mempengaruhi bahasa, dialek, dan gaya berkomunikasi antara kedua kelompok. Hal ini juga mempengaruhi penggunaan bahasa, Bahasa Jawa dan bahasa Sunda merupakan bahasa yang unik dan berbeda satu sama lain. Meskipun keduanya termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia, perbedaan dialek dan kosakata antara bahasa Jawa dan bahasa Sunda dapat menjadi faktor hambatan dalam komunikasi lintas budaya antara suku Jawa dan suku Sunda.
Suku Jawa dan Sunda memiliki adat istiadat dan tradisi yang berbeda dalam berbagai aspek kehidupan seperti upacara pernikahan, upacara adat, tarian, musik, dan sebagainya.
Perbedaan ini dapat mempengaruhi pola komunikasi antara anggota suku Jawa dan Sunda. Suku Jawa dan Sunda memiliki sistem nilai budaya yang berbeda. Misalnya, dalam budaya Jawa, nilai-nilai seperti kesopanan, hormat kepada orang tua, dan hierarki sosial sangat dijunjung tinggi. Di sisi lain, dalam budaya Sunda, nilai-nilai seperti kemandirian, keramahtamahan, dan persaudaraan sangat dihargai. Perbedaan-nilai ini juga dapat mempengaruhi cara komunikasi antar suku Jawa dan Sunda. Pasangan dari suku Jawa dan Sunda mungkin memiliki harapan dan ekspektasi yang berbeda terkait pernikahan, peran gender, hubungan dengan keluarga besar, dan lain sebagainya. Perbedaan ini dapat mengarah pada kesalahpahaman dan konflik jika tidak ada komunikasi yang efektif dalam menyatukan harapan-harapan tersebut
Dalam komunikasi lintas budaya antara suku Jawa dan Sunda, penting untuk memahami perbedaan-perbedaan budaya dan mencari titik temu untuk membangun pemahaman dan kerjasama yang baik. Penghormatan terhadap budaya dan adat istiadat masing-masing kelompok serta penggunaan bahasa yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak dapat membantu dalam menciptakan komunikasi yang efektif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Teori negosiasi wajah merujuk pada pendekatan dalam memahami dan menganalisis bagaimana orang berinteraksi dan bernegosiasi dengan mempertimbangkan perasaan dan citra diri mereka, yang disebut "wajah." Konsep ini dikembangkan oleh ahli komunikasi Cina bernama Ting-Toomey dan Kurogi pada tahun 1998, berdasarkan pada teori kehormatan Cina dan teori wajah yang ada dalam budaya Asia Timur.
Teori yang diciptakan oleh Stella Ting-Tommey ini dapat membantu menjelaskan perbedaan-perbedaan budaya dan bagaimana merespon konflik yang ada di dalamnya. alam aspek komunikasi, selain itu teori ini dikembangkan sebagai cara untuk memprediksi bagaimana seseorang akan menyempurnakan identitas mereka (facework) dalam kebudayaan yang berbeda.
Sifat alami yang akan muncul pada tiap orang adalah bagaimana mereka memperlihatkan identitas mereka dan bisa dianggap keberadaanya oleh orang lain. faceworkmerupakan perilaku komunikasi yang bertujuan untuk melindungi pencitraan diri kita di depan orang lain.Facework identik dengan pesan verbal dan nonverbal yang berguna untuk membantu mempertahankan dan mengembalikan yang hilang, serta untuk menegakkan kehormatan seseorang. Ting-Tommey berasumsi bahwa seseorang dalam setiap budayanya selalu menampakkan rupa negosiasi. Cara ini bertujuan sebagai kiasan dalam image publik mereka, yang kita inginkan orang lain untuk melihat perlakuan kita.
Dalam teori ini ada dua inti variabel yang harus diperhatikan, yaitu individualisme dan kolektivisme. Beberapa budaya mungkin akan lebih mengutamakan individualisme dalam bermasyarakat dibanding dengan komunitas atau berkelompok. Setiap orang akan memiliki rasa untuk menjadi seorang yang individualis atau mungkin berkelompok. Akan tetapi, lama kelamaan hal itu akan dipengaruhi oleh faktor luar seperti kebudayaan yang mengikatnya. Selain individualisme dan kolektivisme, ada hal lain yang akan mempengaruhi facework, yaitupower distance atau kekuatan jarak. Di beberapa kebudayaan di dunia, pasti akan terdapat tingkatan hierarki yang memisahkan status seseorang secara kuat. Dengan adanya status ini akan mempengaruhi kekuatan yang dimiliki oleh individu dan mengikat apa yang bisa dilakukan oleh mereka.
Istilah "wajah" dalam teori ini merujuk pada perasaan harga diri, citra positif, dan identitas sosial seseorang. Setiap individu memiliki keinginan untuk mempertahankan dan
melindungi wajah mereka sendiri, serta memberikan pengakuan dan penghargaan pada wajah orang lain. Dalam konteks negosiasi, menjaga wajah adalah penting karena kehilangan wajah dapat merusak hubungan, mempengaruhi kepercayaan, dan menghambat kerjasama. Konsep ini seringkali diterapkan dalam konteks lintas budaya dan dapat membantu dalam memahami dinamika sosial dan emosional dalam negosiasi di berbagai konteks budaya.
Ting-Toomey menjelaskan bahwa budaya memberi bingkai interpretasi yang lebih besar di mana wajah dan konflik dapat diekspresikan. Indonesia merupakan negara yang masuk dalam kultur kolektivistik di mana orang cenderung mempunyai kepedulian dan perhatian pada mutual-face dan other-face, sehingga mereka berusaha memberikan “wajah” kepada orang lain.
Hal ini umumnya termanifestasi dalam tindakan penghindaran, kooperatif atau kompromi.
Ting-Toomey mengidentifikasikan 5 respons yang berbeda pada berbagai situasi, yaituAvoiding, Menghindari diskusi dengan anggota kelompok lain mengenai perbedaan yang dimiliki yaitu Obliging, Memberikan harapan kepada anggota kelompok. Compromising, Menggunakan give-and-take untuk kesepakatan yang dapat dibuat. Dominating,Teguh dalam mempertahankan pendapat pribadi demi kepentingan pribadi. Integrating, Menukar ketepatan informasi dengan anggota kelompok untuk memecahkan masalah bersama. Tujuan utama yang hendak dicapai oleh teori milik Ting-Toomey ini adalah mengidentifikasi bagaimana orang-orang dengan budaya yang berbeda dapat bernegosiasi (negotiate face) atau menangani konflik.
Menurutnya, ada tiga syarat keterampilan yang harus dipenuhi agar komunikasi antarbudaya bisa efektif, yaitu: Knowledge atau pengetahuan, untuk dapat berkomunikasi dengan orang baru, kita perlu mengetahui hal-hal yang berbeda antara kita dengan orang tersebut. Dari hal tersebut, kita akan lebih mudah untuk mengatur strategi apa yang bisa kita gunakan untuk berkomunikasi dengannya. Mindfulness atau waspada, terutama pada asumsi, sudut pandang, dan kecenderungan etnik kita sendiri ketika kita memasuki situasi yang tidak biasa. Mindfulness adalah memperhatikan perspektif dan interpretasi orang lain yang asing bagi kita dengan memandang intercultural episode. Interaction skill yaitu kemampuan untuk berkomunikasi secara tepat, efektif, dan adaptif dalam setiap situasi yang kita alami.
PROSES PENERAPAN KOMUNIKASI
Kabupaten Purworejo merupakan sebuah kabupaten yang terletak di Jawa Tengah.
Kabupaten ini terletak dibagian selatan Pulau Jawa. Hal ini menjadikan masyarakat dan warga
baik di kabupaten ini maupun di kabupaten sekitar menggunakan Bahasa daerah yaitu Bahasa Jawa dalam komunikasi dengan keluarga sehari-harinya. Namun, tak menutup kemungkinan adanya warga luar jawa yang menetap dan tinggal di kabupaten ini bahkan menjalin pernikahan dengan warga lokal, salah satunya ialah orang-orang sunda yang menikah dengan orang jawa di Kabupaten Purworejo tepatnya yaitu di Kecamatan Banyuurip.
Di Kecamatan Banyuurip terdapat salah satu keluarga yang mana didalamnya terdapat anggota keluarga yang berbeda asal muasal adatnya yaitu sunda-jawa. Dalam keluarga yang berisikan campuran orang sunda-jawa ini telah terlihat adanya penerapan teori negosiasi wajah atau face negotiation theory. Teori yang dikemukakan oleh Brown dan Levinson (1978) ini menjelaskan bagaimana orang-orang dari berbagai budaya yang berbeda-beda dalam mengelola hubungan dan merespon berbagai konflik yang sedang dihadapi. Teori yang juga dikembangkan oleh Stella Ting-Toomey (1988) ini juga memberikan dasar untuk memperkirakan bagaimana manusia menyelesaikan citra diri sebagai fenomena universal dalam sebuah kebudayaan yang berbeda. Salah satu konflik yang ada ialah penggunaan bahasa sehari-hari dimana orang sunda biasa menggunakan Bahasa Sunda dan orang jawa biasa menggunakan Bahasa Jawa.
Dalam sebuah keluarga di Kabupaten Purworejo yang terdiri dari Ayah yang berasal dari Suku Jawa dan Ibu yang berasal dari Suku Sunda, budaya kolektivitas/ kolektivis diterapkan dalam proses komunikasi mereka yang mana anggota keluarga mereka saling mengidentifikasi satu sama lain dan sering membuat keputusan untuk keluarga secara keseluruhan daripada diri sendiri. Hal itu juga didasari dari sifat-sifat orang Indonesia yang mana Indonesia merupakan negara yang orang-orangnya cenderung mempunyai kepedulian dan perhatian terhadap citra diri atau “wajah” khususnya kepada anggota keluarga mereka.
Dalam keluarga ini juga masih terdapat selisih atau jarak berupa budayapower distance.
Budaya power distancemenurut Hofstede (1980) merupakan suatu paham atau kepercayaan atau penerimaan dari adanya suatu kekuatan yang menyebabkan ketidak seimbangan diantara orang-orang/masyarakat. Dalam kasus keluarga Sunda-Jawa di Kabupaten Purworejo ini kedudukan Ayah dan Ibu Alia setara, namun tentunya masih terdapat ketimpangan atau tidak adanya kesetaraan. Hal itu bisa dilihat dari peran seorang Ayah selaku kepala keluarga yang mendominasi (dominating). Ayah Alia lebih sering mengambil keputusan berdasarkan rasionalisasinya. Hal itu tentunya berlawanan dari sifat seorang Ibu yang lebih mengedepankan
perasaan daripada rasionalitas, namun peran dari kepala keluarga sangat terlihat jelas pada kasus ini. Namun, alhasil keputusan tetap berada di tangan Ayah Alia yang merupakan kepala keluarga meskipun, hasil keputusan tersebut diambil setelah melalui musyawarah di keluarga Alia.
Pada komunikasi sehari-harinya, keluarga ini tentunya tak luput dari adanya miss communication atau miskonsepsi atau salah penerimaan pesan informasi. Hal itu tentunya didasari dari adanya perbedaan etnis atau suku dalam keluarga ini. Tentunya, dalam setiap suku pasti memiliki perbedaan dengan suku lainnya, salah satunya ialah penggunaan bahasa.
Miscommunication pada keluarga ini didasari oleh adanya penggunaan bahasa daerah yang berbeda yang mana Ayah Alia yang merupakan orang Jawa dan Ibu Alia yang merupakan orang Sunda. Kedua etnis dan suku tersebut memiliki cara berkomunikasi yang berbeda. Bahkan penggunaan dialek, makna dan ekspresi juga ikut berbeda antar suku.
Dalam keluarga ini, Ayah Alia lebih sering menggunakan Bahasa Jawa “Ngoko” atau Bahasa Jawa kasar yang mana penggunaan Bahasa Jawa “Ngoko” ini sedikit sulit dipahami oleh Ibu Alia yang notabene merupakan Suku Sunda. Contoh perbedaan bahasa yang kerap terjadi ialah penggunaan kata “meneh” dalam Bahasa Jawa yang berarti “lagi” yang kerap disalah persepsikan oleh Ibu Alia yang mana menjadi “maneh” dalam Bahasa Sunda yang berarti
“anda/kamu”. Lalu, terdapat kata “arep” yang sama-sama dimiliki di 2 bahasa ini namun beda arti. Dalam Bahasa Jawa, kata “arep” berarti “akan” sedangkan dalam Bahasa Sunda, kata “arep”
memiliki makna “berharap”. Tak hanya itu, terdapat juga kata “atos” dalam kedua bahasa tersebut yang dalam Bahasa Jawa Ngoko kata “atos” berarti “keras” sedangkan dalam Bahasa Sunda memiliki arti “sudah”. Perbedaan makna dalam bahasa ini tentu menjadi penghambat dalam komunikasi.
Namun, dalam menyikapi perbedaan bahasa, dalam berinteraksi mereka sehari-hari menggunakan bahasa Indonesia yang lebih mudah dipahami. Meminimalisir penggunaan bahasa daerah dan lebih menggunakan bahasa Indonesia merupakan salah satu bentuk dari avoiding akan perbedaan bahasa yang dimiliki. Meskipun begitu, masing-masing orang tua Alia baik Ayah dan Ibunya juga belajar bahasa daerah satu sama lain guna menghindari kesalahan persepsi.
Tak hanya itu, kerap kali keluarga ini menemukan permasalahan yaitu perbedaan pendapat, khususnya pendapat dari kedua orang tua Alia. Sebagai contoh, ketika di rumahnya.
Alia tidak diperkenankan pulang lebih dari jam 10 malam oleh Ibunya. Namun, Ayah Alia mengizinkan hal tersebut dan tidak mempermasalahkan itu karena Alia dianggap sudah dewasa.
Disini terdapat perbedaan pendapat yang berbeda satu sama lain.Mengatasi perbedaan pendapat dalam keluarga merupakan hal yang penting untuk membangun hubungan yang sehat dan harmonis. Dalam menyikapi hal ini, Ayah Alia, Ibu Alia dan Alia akan berkumpul bersama untuk saling menukar pikiran dan pendapat mereka masing-masing, disini terjadi prosescompromising dan integrating. Alhasil, dalam keputusan tersebut diperoleh hasil bahwasanya Alia diizinkan pulang lebih dari jam 10 malam namun tidak boleh lebih dari jam 12 dan harus memberi kabar kepada kedua orang tua Alia. Padahal sebelumnya, Ibu Alia hanya mengizinkan Alia pulang maksimal pukul 10 malam. Disini terdapat pengaruh dari adanya sifat dan watak. Dalam sebuah artikel Kompas edisi 2 Maret 2006, Dr. Nina Herlina Lubis selaku sejarawan Sunda menjelaskan bahwasanya orang Suku Sunda dikenal sebagai pribadi yang kurang suka menonjolkan diri dan kemampuannya. Sehingga mereka dikenal memiliki kepribadian yang low profile. Hal itu menunjukkan orang dari Suku Sunda tidak terlalu mementingkan pencapaian kesuksesan dan ambisi dalam hidupnya.
Selain itu hambatan yang biasanya terjadi dalam pernikahan antar suku Jawa dan Sunda adalah terjadinya culture shock, karena perbedaan bahasa, nilai, kebiasaan, dan norma yang diterima. Hal ini tentu membuat mereka sebagai pasangan suami istri campuran mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungan keluarga yang baru. Apalagi di setiap suku dan budaya, selalu memiliki stereotip tersendiri. Pada temuan penelitian, perkawinan dalam budaya Jawa cenderung mengikuti adat istiadat yang lebih formal dan memiliki proses yang rumit.
Misalnya, upacara siraman, midodareni, pengajian, dan akad nikah yang melibatkan banyak prosesi dan tata cara khusus. Sementara itu, budaya Sunda memiliki adat istiadat perkawinan yang lebih sederhana dan cenderung lebih santai. Beberapa tradisi Sunda yang umum termasuk tarian jaipong, tata cara ijab kabul, dan upacara pernikahan di rumah dengan mengundang kerabat dekat. Untuk menghadapi culture shock dalam perkawinan antara budaya Jawa dan Sunda, penting bagi kedua pihak untuk saling terbuka, menghormati, dan berkomunikasi dengan baik. Memahami perbedaan budaya dan saling mencoba memahami tradisi masing-masing dapat membantu membangun pengertian dan toleransi antar budaya dalam hubungan tersebut.
KESIMPULAN
Berdasarkan pada temuan penelitian yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa komunikasi antar budaya suku Jawa-Sunda merupakan proses yang kompleks karena melibatkan perbedaan bahasa, norma, nilai, dan keyakinan antara kelompok suku yang berbeda. Memahami budaya khususnya dalam konteks komunikasi antarpribadi yang berbeda tentu bukan hal yang mudah, oleh karena itu suami istri perlu memahami realitas budaya masing-masing dan memahami adanya keragaman.
Dalam komunikasi antarbudaya, kebudayaan akan memberikan sebuah pengaruh besar dalam aspek pengalaman setiap manusia ketika melakukan kegiatan komunikasi. Karena seseorang akan melakukan komunikasi dengan berbagai cara sebagaimana dilakukan oleh budayanya. Tentunya hal ini juga dirasakan oleh pasangan pernikahan Jawa dan Sunda di Kabupaten Purworejo.
Komunikasi merupakan hal yang penting untuk dijaga dalam suatu keluarga, melalui komunikasi suatu keluarga dapat menyampaikan tujuan dan maksud pribadi kepada anggota keluarga, komunikasi yang baik dan dimengerti oleh setiap anggota keluarga juga merupakan peranan penting untuk terus menjaga keharmonisan keluarga. Pada aspek perbedaan budaya, diperlukan upaya untuk menyatukan perbedaan ketika membangun sebuah keluarga. Pasalnya perbedaan budaya tentu saja dapat menjadi pengaruh adanya hambatan maupun warna baru dalam hubungan keluarga. Dalam hal ini ketiga pasangan yang memiliki perbedaan budaya dalam kehidupannya selama berumah tangga menyatakan bahwa hal tersebut memang bukan suatu perkara besar dan berpengaruh pada kelangsungan rumah tangganya.
Melalui perbedaan budaya ini, narasumber tetap menikmati perbedaan tersebut dan tidak menjadikan perbedaan budaya sebagai topik utama dari permasalahan rumah tangga. Dengan adanya perbedaan budaya justru dapat memberikan pasangan suami istri ini informasi baru mengenai perbedaan budaya satu sama lain, mereka saling bertukar informasi juga tetap saling menghargai perbedaan yang ada. Tidak menghakimi satu sama lain dan memojokkan salah satu pihak keluarga atas perbedaan budaya yang dialami. Dengan tetap saling menghargai dirasa
cukup untuk menjadi suatu upaya membiasakan diri dengan pasangan yang memiliki kebudayaan yang berbeda.
DAFTAR PUSTAKA
Abraham, R. H. (2020). Pola Komunikasi Keluarga Pernikahan Beda Etnis Rote dan Timor Di Kelurahan Naikoten Satu.Cakrawala Jurnal Penelitian Sosial,9(2), 205-230.
https://ejournal.uksw.edu/cakrawala/article/view/4548
Fatika, S. A. (2016).Komunikasi Antarbudaya dalam Keluarga Etnis Jawa-Bali (Studi
Fenomenologi Pada Keluarga Etnis Jawa – Bali di Dau Kabupaten Malang). Universitas Muhammadiyah Malang.
Fatoni, R. (2020).Pesan Dakwah Dalam Upacara Ngayun Suku Sunda di Desa Cibanten
Kecamatan Cijulang Kabupaten Pangandaran. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Hofstede, G. (1984).Culture's Consequences: International Differences in Work-Related Values.
SAGE Publications.
Malik, A. A., & Rahardjo, T. (2019, September). Interaksi Etnis Jawa dan Etnis Sunda di Kampung Pasir Leutik.Interaksi Online,7(4), 330-338.
Pitoyo, A. J., & Triwahyudi, H. (2017). Dinamika Perkembangan Etnis Di Indonesia Dalam Konteks Persatuan Negara.Populasi,25(1), 64-81.
Pranc, F. D., & Suherman, M. (2022). Komunikasi antar Budaya Pernikahan Minangkabau dan Jawa.Bandung Conference Series: Public Relations,2(1), 557-567.
https://doi.org/10.29313/bcspr.v2i1.2301
Pratamawaty, B. B. (2017, Januari-Juni). Potensi Konflik Perkawinan Lintas Budaya Perempuan Indonesia dan Laki-Laki Bule.Kafa'ah Journal,7(1), 1-14.
Rintangan Komunikasi Antar Budaya Dalam Perkawinan dan Perceraian Etnis Jawa Dengan Papua di Kota Jayapura (Suatu Strategi Manajemen Konflik Dalam Hubungan Interpersonal Pasangan Suami Istri). (2016, Juli - Desember).Jurnal Komunikasi KAREBA,5(2).
Samovar, L. A., Porter, R. E., McDaniel, E. R., & Roy, C. S. (2013).Communication Between Cultures. Wadsworth.
Zein, D., Darmayanti, N., & Wagiati2. (2022). Pola komunikasi pasangan antar etnis Sunda-Jawa di Kabupaten Ciamis.Jurnal Manajemen Komunikasi,6(2), 246-262.