MAKALAH TERJEMAH AL-QUR‟AN
“ILMU MANTIQ”
Dosen Pengampu: H. Sazali, M.A
Disusun Oleh:
Yahya Alby Al-Qowi (200601080) Nuraeni (200601066)
PRODI ILMU AL-QUR‟AN DAN TAFSIR FAKULTAS USHULUDDIN DAN STUDI AGAMA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM T.P 2023
ii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan limpahan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga makalah ini dapat diselesaikan dengan baik.
Selanjutnya penulis sampaikan shalawat serta salam semoga dilimpahkan kepada Nabi besar Muhammad SAW. pada keluarganya, sahabatnya, dan kita sebagai umatnya.
Makalah ini bertemakan tentang “Ilmu Mantiq” yang disusun sebagai tugas dari mata kuliah Terjemah Al-Qur‟an sebagai pengetahuan dan penambah wawasan untuk kita semua.
Penulis menyadari bahwasanya makalah ini masih jauh dari sempurna, tetapi mudah- mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dalam mencari ilmu dan untuk para pembaca semua dalam menambah pengetahuan. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun guna menyempurnakan makalah ini.
Mataram, 31 Maret 2023
Kelompok 10
iii DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 1
C. Tujuan Masalah ... 1
BAB II PEMBAHASAN ... 2
A. Definisi Ilmu Mantiq ... 2
B. Pembagian Ilmu ... 2
C. Pembahasan Ilmu Mantiq ... 2
D. Contoh Pengaplikasian Ilmu Mantiq Pada Surah Al-„Alaq ... 6
BAB III PENUTUP ... 8
A. Kesimpulan ... 8
B. Saran ... 8
DAFTAR PUSTAKA ... 9
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Tugas utama ilmu mantiq adalah tentang merumuskan kaidah berpikir, namun dalam materi kali ini ilmu mantiq juga berurusan dengan lafadz atau kata-kata. Karena lafadz merupakan perantara untuk menyampaikan pikiran. Dengan kata lain, lafadz yang kita ucapkan berkaitan erat dengan makna yang kita pikirkan. Melalui lafadz kita bisa berfikir dan melalui lafadz yang kita ucapkan membuat kita mampu menyampaikan pikiran.
Makna yang terkandung dalam suatu lafadz bagaikan sebuah ruh dan lafadz sendiri ibarat jasad. Setiap lafadz yang tidak memiliki makna seperti jasad yang tidak mempunyai ruh. Setiap makna yang tidak mempunyai lafadz seperti ruh tanpa jasad. Tanpa adanya kita tidak mampu menyampaikan pikiran kita pada orang lain dengan jelas. Maka dari itu sebaiknya lafadz masuk dalam pembahasan ilmu yang merumuskan kaidah berpikir.
Kita tidak mampu berpikir dengan benar kecuali lafadz dan tata istilah yang digunakan tepat dan benar. Orang-orang yang berpikiran kacau yaitu orang-orang yang tidak mampu memahami makna atau arti dari lafadz yang mereka gunakan. Berawal dari kesadaran ini para ahli ilmu mantiq memasukkan pembahasan tentang lafadz dan macam-macamnya.
Namun berkofus beda dengan ilmu tata bahasa. Pada makalah ini akan dibahasa mengenai ilmu mantiq beserta contoh pengaplikasiannya dalam al-Qur‟an yang di mana pemakalah mengambil contoh penerapan pada surah al-„Alaq.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana definisi dan pembagian dan juga apa saja pembahasan ilmu mantiq?
2. Bagaimana contoh pengaplikasian ilmu mantiq dalam al-Qur‟an?
C. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui definisi, pembagian serta pembahasan ilmu mantiq.
2. Untuk mengetahui bagaimana contoh pengaplikasian atau penerapa ilmu mantiq pada al- Qur‟an.
2 BAB II PEMBAHASAN A. Definisi Ilmu Mantiq
Mantiq merupakan terjemahan dari kata logika yang berasal dari bahasa Arab yaitu al- Mantiq. Kata al-Mantiq dalam bahasa Arab adalah bentuk al-ism al-alat yakni kata benda yang digunakan sebagai alat. Kata tersebut merupakan serivasi dari kata kerja nataqa (berpikir), natiq (yang berpikir), kemudian menjadi mantiq yang artinya adalah alat berpikir. Nataqa sendiri selain berrati berpikir ia juga dapat diartikan berbicara (kalam). Dalam al-qur‟an misalnya kata mantiq dipakai dalam pengertian perkataan. Bentuk kata kerja ini juga disebut dalam al-Qur‟an dengan pengertian yang sama.1
B. Pembagian Ilmu
1. Tashawur, ialah hasil yang diusahakan oleh akal pikiran, yang dengan akalm pikiran itu dapat diperoleh atau diketahui hakikat-hakikat yang tunggal (mufrad).
2. Tashdiq, ialah mengetahui hubungan yang sempurna antara kedua mufrad, baik hgubungan itu menetapkan atau meniadakan.
C. Pembahasan Ilmu Mantiq 1. Dilalah
Dilalah dari segi bahasa berasal dari bahasa Arab, yakni daala-yadulu-dilalah artinya petunjuk atau yang menunjukkan. Dalam ilmu mantiq berarti, satu pemahaman yang dihasilkan dari sesuatu atau hal yang lain. Dilalah terbagi dua:
1) Dilalah Lafdziyah, yaitu apabilayng menunjuki itu merupakan lafadz atau suara. Ada tiga macam dilalah lafdziyah yaitu:
a. Dilalah lafdziyah aqliyah, yakni dilalah yang dibentuk akal.
1Muhammad Nur, Islam dan Logika menurut Pemikiran Abu Hamid Al-Ghazali, Jurnal al-ulum, Vol. 11 No. 1, lampung. 2011
3
b. Dilalah lafdziyah Thabi‟iyah, yakni dilalah bentuk lafadz yang dibentuk atau terbentuk secara alami atau merupakan gejala alam.
c. Dilalah lafdziyah wadh‟iyah, yakni dilalah bentuk lafadz yang dibentuk atau dibuat oleh manusia atau merupakan bikinan atau istilah.
2. Lafadz
Lafadz adalah satu nama yang diberikan pada huruf-huruf yang tersusun aatau susunan beberapa huruf, yang mengandung arti. Lafadz ada dua macam: Pertama, Lafadz Mufrod, kedua lafadz Murokkab.
Bagi ahli mantiq, semua lafadz-lafazd yang ada ini, mereka melihat pada makna, bukan pada jumlah lafadznya, maka mereka tetap menamakan mufrod sekalipun lafadz-lafadznya tersusun dari beberapa kata. Sedang ahli nahwu adalah sebaliknya yakni lebih melihat pada lafazd, atau bentuk kata, karenanya mereka menamakan murokkab.
Lafadz mufrod berarti satu kata atau kata yang bermakna tunggal. Ahli mantiq mendefinisikan lafadz mufrod adalah suatu lafadz yang tidak mempunyai kandungan atau bagian yang menunjukkan suatu pengertian atas bagian makna yang dimaksudkan.2 Adapun macam- macam lafadz Mufrod dilihat dari bentuknya ada tiga:
a) Lafadz mufrod yang menunjukkan suatu makna yang tidak mengandung waktu, seperti pohon, Jakarta dan lain-lain. Lafadz-lafadz tersebut adalah nama sesuatu. Nama itu disebut dengan isim. Isim dari segi bentuknya terbagi dua. Pertama, disebut kulli dan kedua disebut dengan juz’i. Kulli adalah satu lafadz yang menunjukkan pada semua kandungan maknanya. Juz’i adalah satu lafadz yang menetapkan suatu ketentuan hukum atas sebagian dari semua jus‟iyah suatu benda.
b) Lafadz Mufrad yang menunjukkan pada pengertian dalam waktu tertentu, di mana subjeknya tidak tertentu. Seperti membaca, duduk, dan lain-lain. Lafadz-lafadz tersebut dinamakan fi’il.
2 Drs. H. A. Basiq Djalil, Logika (ilmu Mantiq), (Jakarta: Kencana Prenadamedia, 2010) hlm. 15.
4
c) Lafadz mufrad yang menunjukkan pada satu makna, di mana tidak terpahami tanpa ada lafadz lain, seperti dengan, agar, dan lain-lain. Lafadz-lafadz tersebut dinamakan dengan huruf.
Lafadz murokkab ialah lafadz yang juznya mengandung pengertian, dan pengertian itu memang dimaksudkan atas bagian dari makna yang dimaksud.3
Lafadz Kulli adalah suatu lafaz yang mengandung beberapa afrad. Seperti lafadz rumah artinya mencakup segala atau semua jenis rumah.4 Lafadz kulli memiliki dua pengertian:
1) Sisi pengertian (Mafhum) 2) Sisi kenyataan (Mashodaq)
Contoh: Manusia dari sisi pengertian adalah binatang yang berfikir. Sedangkan manusia dari sisi kenyataannya adalah Ali, Muhammad, Umar, dan lain-lain.
Taqsim berasal dari bahasa Arab, artinya membuat menjadi bagian. Taqsim menurut bahasa adalah sesuatu yang dipecah menjadi bagian-bagian.
3. Al-Qadhiyah
Qadhiyah adalah kata-kata yang tersusun yang mempunyaimkana atau sarti. Dalam bahasa Indonesinya disebut dengan kalimat. Suatu Qadhiyah bisa tiga kemungkinan. Pertama, nisa nemar, karena sesuai aturan logika; kedua bisa salah, karena tidak sesuai dengan aturan logika;
dan ketiga bisa kebetulan benar, padahal tidak sesuai dengan aturan logika. Yakni ia dikatakan benar bila sesuai dengan kenyataan dan sesuai aturan logika. Pada setiap qadhiyah ada hukum pembenaran atau tidak, yang disebut tasdik. Tiap qadhiyah memiliki tiga unsur:5
a) Lafadz yang diberi hukum (mahkum alaihi) b) Lafadz yang memberi hukum (mahkum bih).
c) Lafadz penghubung antar keduanya.
3Drs. H. A. Chaerudji Abdulchalik dan Dr. Hj. Oom Mukarromah, ILMU MANTIQ Undang-Undang berpikir valid, Cet. 1, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2013) hlm. 23
4Drs. H. A. Basiq Djalil, Logika (ilmu Mantiq), (Jakarta: Kencana Prenadamedia, 2010), hlm. 21
5Ibid., hlm. 39.
5
Adapun macam-macam Qadhiyah dalam ilmu mantiq dibagi menjadi dua, yaitu:
1) Qadhiyah Hamiliyah, adalah susunan kata atau lafadz yang mengandung pengertian tanpa lafadz syarat. Contoh Ali menulis, Aisyah mencuci. Yang demikian digolongkan dalam qadhiyah hamiliyah karena tidak terdapat lafadz syarat di sana.
2) Qadhiyah syarthiyah adalah susunan kata yang mengandung pengertian yang menggunakan lafadz syarat. Seperti jika, kalau, andai kata, apabila dan lain sebagainya.
Contoh jika saya makan, saya kenyang.
4. Istidlal dan Qiyas
Kata istidlal berasal dari bahasa Arab dari akar kata “daal” yang berarti menunjuk, mengambil dalil atau kesimpulan yang diambil dari petunjuk yang ada. Istidlal adalah sesuatu yang dapat dipakai untuk membangun argumentasi untuk menyampaikan kita pada suatu kesimpulan.
Sedangkan kata qiyas berasal dari bahasa Arab yang berarti ukuran. Qiyas dalam ilmu mantiq adalah ucapan atau kata yang tersusun dari dua atau beberapa qadhiyah, manakala qadhiyah-qadhiyah tersebut benar, maka akan muncul daripadanya dengan sendirinya qadhiyah benar yang yang dinamakan natijah. Ada pula yang mendinidikan qiyas sebagai suatu pengambilan kesimpulan di mana kita menarik dari dua macam keputusan yang mengandung unsur bersamaan dan salah satunya harus universal, suatu keputusan ketika yang kebenarannya sama dengan kebenaran yang ada pada keputusan sebelumnya.6
5. Natijah
Kata natijah berasal dari bahasa Arab yang berati hasil atau inti kesimpulan. Maksudnya adalah hasil dari dua pernyataan yang terkait antara mukadimah pertama dan kedua. 7
6Ibid., hlm. 80-81.
7Ibid., hlm.100
6
D. Contoh Pengaplikasian Ilmu Mantiq pada Surah Al-„Alaq Pengaplikasian Ilmu Mantiq dalam Al-Qur‟an
Mantiq Surah Al-Alaq
Term/Lafadz Lafadz Berikut Ini :
يىقتلا برك
Lafadz Berikut ini susunan :
ةيصاىلاب اػفسيل
Qodiyah/Proposisi - Qodiyah Hamliyah
َقَل َخ ا ْال ا َسْو ًْ ام َن ق َلَغ
َمَّل َغ ا ْال ا َسْو َن ا َم ْم ل َ ْمَلْػٌَ
ع ْدَى َس اَبَّزلا َةَياه
- Qodiyah Syartiyah
َّلّ َك ْنائ ل َ ْمَّل اهَت ْيًَ
ۙ اًػ َف ْسَي ل َ اا ب اَّىل اةَي اص
Taqsim/Klasifikasi - Sifat Allah : Menciptakan, Maha Mulia
- Cara Menjadi Orang yang taat kepada Allah Sujud, Mendekatkan diri.
- Sikap Manusia : Orang Melarang (Meski seandainya yang dilarang itu benar/hidayah)
Orang Menyuruh (Meski seandainya yang diperintah itu sesuatu yang dusta).
Definisi Definisi secara sifat :
ةَيِصاَن ةَبِذاَك ةَئِطاَخ
Istidlal Qiyas :
َتًْ َء َزَا ْي ار َّلا ى ٰهْىًَ
ى َّل َص ا َذاإ ا ًدْبَغ َتًْ َء َزَا ْن اا اَك َن ى َلَغ ي ٰٰۤد هْلا
ْوَا َس َمَا ااب ي ٰى ْقَّتل
َتًْ َء َزَا
ْن اا
َب َّر َك
ىّٰل َىَت َو
7 Kesimpulan
Manusia harus Belajar
Ayat : 1 dan 3
Ilmu Pengetahuan Ayat : 5
Surah Al-Alaq Ayat : 1-19
Orang melarang pada sesuatu yang mungkin saja benar. Dan sebaliknya, orang menyuruh padahal mungkin saja sesuatu itu dusta.
Ayat 8-12 Ayat : 1 dan 3
ةللاد
زىصت
ظفل
Objek/realitas
8 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan
Dalam al-qur‟an misalnya kata mantiq dipakai dalam pengertian perkataan. Bentuk kata kerja ini juga disebut dalam al-Qur‟an dengan pengertian yang sama. Kaidah-kaidah logika merupakan aturan-aturan berpikir yang terpatri daklam hati manusia untuk menjaga dari kesalahan dalam menyampaikan sesuatu (istidlal). Ilmu dibagai menjadi dua yaitu tashawur dan juga tashdiq.
Dalam ilmu mantiq banyak sekali objek menjadi pembahasannya, antara lain:
1. Dilalah
2. Lafadz Mufrad dan Murokkab 3. Lafadz kulli dan juz‟i
4. Qadhiyah
5. Mafhum dan mashodaq 6. Taqsim
7. Istidlal dan qiyas
8. Natijah, dan lain sebagainya
Kemudian dari pembahasan ilmu mantiq tersebut pemakalah coba memberikan contoh pengaplikasian ilmu Mantiq dalam al-Qur‟an yaitu pada surah al-„Alaq.
B. Saran
Makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Maka dari itu kami mengaharapkan kepada pembaca untuk membaca lebih banyak lagi sumber-sumber ilmu tentang qira‟at lainnya agar wawasan menjadi lebih luas.
9
DAFTAR PUSTAKA
Drs. H. A. Chaerudji Abdulchalik dan Dr. Hj. Oom Mukarromah, 2013. ILMU MANTIQ Undang-Undang berpikir valid, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Drs. H. A. Basiq Djalil, Logika (ilmu Mantiq), Jakarta: Kencana Prenadamedia.
Muhammad Nur, 2011. Islam dan Logika menurut Pemikiran Abu Hamid Al-Ghazali, Jurnal al- ulum, Vol. 11, lampung.