• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kelompok 5B Kesehatan Mental Selama Rentang Hidup

N/A
N/A
Nadyatul Umroh

Academic year: 2024

Membagikan "Kelompok 5B Kesehatan Mental Selama Rentang Hidup"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH KESEHATAN MENTAL

KESEHATAN MENTAL SELAMA RENTANG HIDUP

Oleh :

Kelompok 5- Kelas B

Luthfiyah Adriyanti Syahfitri (2210322010) Sarah Nabilah (2210323060) Nadyatul Umroh (2210323061)

Dosen Pengampu:

Siska Oktari, M. Psi., Psikolog Dwi Puspasari, M.Psi., Psikolog Diny Amenike, M.Psi., Psikolog

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS ANDALAS 2023

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul Kesehatan Mental Selama Rentang Hidup ini dengan tepat waktu. Makalah ini dibuat dengan maksud dan tujuan untuk memenuhi kewajiban kami atas tugas kelompok yang diberikan oleh dosen kami pada mata kuliah Kesehatan Mental. Selain itu, tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memperluas wawasan dan pengetahuan mengenai kajian yang terdapat pada kesehatan mental selamat rentang hidup, baik untuk kami sebagai penulis maupun rekan-rekan mahasiswa lainnya.

Kemudian, kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Siska Oktari, M.Psi., Psikolog. Ibu Dwi Puspasari., M.Psi, Psikolog, dan Ibu Diny Amenike, M.Psi., Psikolog selaku dosen yang membimbing kami pada mata kuliah Kesehatan Mental ini, sehingga makalah ini dapat diselesaikan dengan baik. Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi kami dan pembaca.

Diluar itu, kami sebagai manusia biasa menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini, baik dari segi tata bahasa, susunan kalimat, maupun isi. Oleh sebab itu, kami menerima segala kritik dan saran yang membangun dari semua pihak. Demikian apa yang dapat kami sampaikan, semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk pembaca dan untuk kami sendiri khususnya.

Padang, 6 September 2023

Kelompok 5

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... 2

DAFTAR ISI... 3

BAB 1 PENDAHULUAN ... 5

1.1 Latar Belakang ... 5

1.2 Rumusan Masalah ... 5

1.3 Tujuan... 5

BAB II PEMBAHASAN ... 7

2.1 On the Importance of Childhood ... 7

2.1.2 Perspektif Ekologi Pada Perkembangan Anak ... 8

2.2 Perspektif Psikodinamis Tentang Perkembangan Anak ... 9

2.3 Social Learning Theory and Child Development ... 10

2.3.1 Social Learning Theory In Action ... 11

2.3.2 Applying It To Yourself ... 12

2.4 Parenting ... 12

2.4.1 Parenting Styles ... 12

2.4.2 Physical Punishment... 13

2.4.3 Parental Monitoring ... 14

2.4.4 Applying It To Yourself ... 14

2.5 Develepment of Adulthood ... 15

2.5.1 Leaving Home ... 15

2.5.2 Choosing a Career... 16

2.5.3 Starting a Family ... 16

2.5.4 Sexual Change ... 17

2.6 Development of Late Adult ... 17

2.6.1 Ageism ... 17

2.6.2 Psychal Change ... 17

2.6.3 Cognitive Change ... 18

BAB III PENUTUP ... 19

(4)

3.1 Kesimpulan... 19 DAFTAR PUSTAKA ... 20

(5)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kesehatan mental merupakan kondisi kesejahteraan yang disadari individu, yang terdiri dari kemampuan-kemampuan untuk mengelola stres kehidupan yang wajar, untuk bekerja secara produktif dan menghasilkan, serta berperan di komunitasnya. Kesehatan mental merupakan hal yang penting bagi individu karena hal ini dapat mempengaruhi individu dalam menjaga kesehatan fisik, menghindari perilaku yang tidak diinginkan dan membentuk karakter yang lebih baik.

Kesehatan mental sangat penting dalam semua rentang usia, tidak hanya berlaku pada orang dewasa ataupun pada anak-anak. Fase kesehatan mental pada individu dimulai dari fase anak, remaja, sampai dewasa dan lanjut usia sesuai dengan proses perkembangan yang dialaminya. Kesehatan mental dapat mempengaruhi kehidupan sehari-hari individu di setiap tahap perkembangannya oleh karena itu kita harus mengetahui tahapan-tahapan kesehatan mental di semua rentang usia. Seperti kesehatan mental pada anak, yang menjadi fondasi perkembangan kesehatan mental individu, masa kecil yang sehat dapat menciptakan ketahanan yang membantu individu mengatasi masalah dikemudian hari, hal ini juga berlaku pada setiap remaja. Sedangkan pada masa dewasa dan lansia kita juga dapat mencegah terjadinya gangguan mental dan mempertahankan kesehatan mental itu sendiri. Oleh karena itu, perkembangan kesehatan mental di semua usia itu penting dan harus tetap diperhatikan.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam makalah ini sebagai berikut:

1. Bagaimana kesehatan mental pada tahap perkembangan Anak?

2. Bagaimana kesehatan mental pada tahap perkembangan Remaja?

3. Bagaimana kesehatan mental pada tahap perkembangan Dewasa?

4. Bagaimana kesehatan mental pada tahap perkembangan Lanjut Usia?

1.3 Tujuan

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Menjelaskan tahap perkembangan kesehatan mental pada masa Anak-anak.

2. Menjelaskan tahap perkembangan kesehatan mental pada masa Remaja.

(6)

3. Menjelaskan tahap perkembangan kesehatan mental pada masa Dewasa 4. Menjelaskan tahap perkembangan kesehatan mental pada masa Lanjut Usia.

(7)

BAB II PEMBAHASAN

2.1 On the Importance of Childhood

Secara historis, anak-anak pernah dianggap sebagai versi miniatur orang dewasa.

Artinya anak-anak juga memiliki pikiran, perasaan, dan kemampuan yang sama dengan orang dewasa, perbedaanya hanya mereka lebih lebih kecil dari pada orang dewasa. Ketika anak-anak dan orang dewasa sama dalam segala hal, maka masa kanak-kanak menjadi tidak penting. Saat ini, anak-anak dan orang dewasa tidak hanya dipandang memiliki karakteristik fisik dan psikologis yang berbeda, tetapi masa kanak-kanak juga dipandang sebagai salah satu kontributor terpenting untuk masa dewasa yang sehat.

Psikolog anak mengibaratkan perkembangan anak sebagai bangunan sebuah rumah.

fondasi menjadi tempat bertumpu perkembangan selanjutnya pada masa kanak-kanak, yang mana pada umumnya fondasi rumah yang menjadi penopang seluruh bagian rumah seperti lantai, dinding, atap, dan sebagainya. Jika sebuah rumah memiliki fondasi yang lemah, maka masa depan rumah berada dalam bahaya karena masalah seperti retakan pada dinding yang terjadi ketika fondasi melemah. Namun, jika fondasi rumah kuat, rumah tersebut dapat bertahan dari bencana seperti banjir, dan angin kencang. artinya, masa kecil yang sehat dapat menciptakan ketahanan yang membantu seseorang mengatasi masalah dikemudian hari.

Para psikolog melakukan pendekatan terhadap perkembangan dari berbagai sudut pandang atau perspektif. Setiap perspektif menekankan aspek-aspek tertentu dari perkembangan dan meminimalkan, atau bahkan mengabaikan aspek-aspek lainnya. Jika dilihat secara keseluruhan, gambaran yang lengkap tentang masa kanak-kanak akan muncul.

2.1.1 Perspektif Biologis Tentang Perkembangan Anak

Beberapa psikolog berpendapat bahwa biologi mempengaruhi hampir semua kualitas dan perkembangan pribadi individu. Aspek biologis dan perkembangan meliputi faktor keturunan, aspek sistem saraf yang berkaitan dengan perilaku dan pengaruh hormon. Dalam sebagian besar argumen tentang perkembangan, faktor penentu biologis terpenting tentang siapa kita dan bagaimana kita berkembang adalah keturunan.

(8)

Karakteristik seperti kecerdasan dan kemampuan bersosialisasi mungkin memiliki pengaruh genetik yang nyata. namun, karakteristik bahkan tidak ditentukan oleh satu gen saja, melainkan oleh kombinasi gen yang kompleks yang memunculkan berbagai respon potensial. Namun, seberapa banyak atau sedikit potensi yang dikembangkan oleh individu, juga sangat bergantung pada interaksi dengan lingkungannya.

2.1.2 Perspektif Ekologi Pada Perkembangan Anak

Tidak hanya perspektif biologi yang memiliki pengaruh penting dalam perkembangan, begitu juga dengan lingkungan tempat perkembangan itu berlangsung.

Perspektif ekologi dari Urie Bronfenbrenner (1993) menekankan peran konteks lingkungan terhadap perkembangan anak. Bronfenbrenner mengklasifikasikan lingkungan yang mempengaruhi anak muda kedalam 4 konteks perkembangan yang saling terkait, yaitu sistem mikro, sistem meso, sistem ekosistem, dan sistem makro.

a) Microsystem

Mengacu pada lingkungan dimana anak saat ini berada, seperti rumah, tempat penitipan anak. Biasanya sistem mikro yang pertama kali ditemukan oleh anak- anak adalah rumah sakit tempat mereka dilahirkan. Di dalam setiap sistem mikro, anak muda terlibat dalam kegiatan dan berinteraksi dengan orang lain.

b) Mesosystem

Mesosistem terjadi pada waktu ke waktu, karena anak secara langsung terlibat dalam setiap sistem mikro. Konsep mesosistem sangat penting untuk memahami perkembangan anak, karena konsep ini menyatakan bahwa tidak hanya pengalaman di dalam setiap sistem mikro yang penting bagi anak di lingkungan tertentu, tetapi juga berpotensi di lingkungan lain.

c) Exosystem

Mengacu pada saat anak-anak dan remaja dipengaruhi oleh lingkungan sosial yang tidak mereka ikuti.

d) Macrosystem

Mengacu pada konteks sosial budaya yang lebih luas dimana pembangunan terjadi, termasuk perbedaan budaya, subbudaya dan kelas sosial. pada dasarnya

(9)

sistem makro mengacu pada seperangkat nilai, tujuan, praktik, dan sikap bersama yang menjadi ciri khas sekelompok orang.

2.2 Perspektif Psikodinamis Tentang Perkembangan Anak

Perspektif psikodinamika memandang kepribadian dan perilaku sebagai hasil dari kekuatan-kekuatan yang tidak disadari, terutama berasal dari masa kanak-kanak. Meskipun teori sigmund freud memperkenalkan prespektif psikodinamika kepada dunia, dan kemudian merevolusi bidang psikologi, teori ini tidak mencakup pandangan yang realistis tentang perkembangan anak. oleh karena itu, kita akan membahas perspektif psikososial Erikson, yang merinci masalah-masalah utama yang dihadapi orang selama periode perkembangan tertentu.

a. Tahapan Perkembangan Psikososial Erikson

Erikson (1964) memperluas potensi penerapan teori psikodinamika dengan mengubah teori psikoseksual freud menjadi pandangan yang lebih inklusif tentang perkembangan kepribadian. Jika Freud berfokus pada perkembangan psikoseksual anak dengan keluarga, Erikson memperhitungkan hubungan psikososial individu dalam masyarakat yang lebih luas. Dan ketika tahapan freud hanya mencakup tahun-tahun antara kelahiran dan pubertas, tahapan erikson meluas hingga masa dewasa sampai usia tua. Dengan demikian perkembangan manusia dianggap berurutan dan kumulatif, dengan kepribadian seseorang secara keseluruhan terdiri dari kekuatan dan kelemahan yang diperoleh selama setiap tahap psikososial.

Tahap 1 : Kepercayaan vs Ketidakpercayaan

Karena sama sekali tidak berdaya, bayi harus bergantung pada orang lain untuk memenuhi kebutuhan fisiknya akan makan, pakaian, pergantian popok dan lain lain juga hasrat psikososialnya untuk mendapatkan kasih sayang, kepekaan emosional, dan ketanggapan yang tepat waktu terhadap sinyal-sinyal mereka untuk mendapatkan perawatan. Ketika bayi mendapatkan semua kebutuhan fisik dan emosionalnya maka ia akan memandang dunia sebagai tempat yang aman dan mulai untuk mempercayai orang-orang disekitarnya. Namun, jika kebutuhan mereka tidak terpenuhi, bayi menjadi cemas dan tidak percaya, karen dunia terbukti tidak responsif terhadap kebutuhan mereka.

Tahap 2: Otonomi vs Malu dan Ragu

(10)

Tahap ini terjadi pada usia 1 dan 3 tahun, yang berfokus pada meningkatnya keinginan balita untuk menjadi mandiri. Ketika orang tua mendorong anak-anak untuk berjalan, berbicara, dan melakukan sesuatu untuk diri mereka sendiri, anak- anak akan mengembakan kemandirian yang sesuia dengan usianya.

Tahap 3: Inisiatif vs Rasa Bersalah

Pada usia 3 sampai 6 tahun, anak-anak dihadapkan pada krisis inisiatif vs rasa bersalah. selama tahap psikososial ini, anak-anak prasekolah mencoba dengan mudah berkeliaran dan mencoba merencanakan kegiatan baru. Jika pada masa balita mereka cenderung untuk menirukan tindakan orang lain, masa remaja mereka yang memprakarsai tindakan tersebut. Jika hal ini di dukung oleh keluarga mereka, anak akan segan untuk menjelajahi dan mencoba hal baru, yang pada akhirnya akan mengembangkan rasa inisiatif. Namun, jika tindakan tersebut bertentangan dengan tujuan keluarga mereka dan dengan demikian dibatasi dan dihukum, anak-anak akan menjadi pasif dan merasa bersalah untuk mengambil inisiatif.

Tahap 4: Industri vs Inferioritas

Tahap ini berlangsung dari usia 6 hingga 11 tahun, anak-anak ditugaskan untuk menguasai keterampilan akademis dan sosial. Pada tahap ini, kemampuan kognitif yang baru dikembangkanlah membantu mereka dan memungkinkan remaja untuk tidak hanya membandingkan diri mereka sendiri dengan teman sebaya mereka, tetapi juga mempertimbangkan bagaimana teman sebaya mereka menolong mereka.

Tahap 5: Identitas vs Kebingungan Peran

Tahap ini terjadi sekitar usia 12 hingga 18 tahun, dimana individu akan mendefinisikan kembali identitas mereka dengan cara menggabungkan berbagai perubahan yang terjadi dalam tubuh, pikiran, dan perkembangan seksual mereka.

2.3 Social Learning Theory and Child Development

Inti dari teori pembelajaran sosial adalah konsep pembelajaran observasional, yaitu proses dimana kita belajar dengan mengamati orang lain, atau 'pola'. Menurut teori pembelajaran sosial, pembelajaran observasional sering dikombinasikan dengan penguatan

(11)

langsung (atau “hadiah”) untuk meningkatkan pembelajaran. Penguatan (reinforcement) adalah penambahan sesuatu yang meningkatkan kemungkinan terjadinya suatu perilaku.

Sebagai contoh nyata, mari kita kembali ke perilaku Sara di kebun binatang. Sebelum berperilaku buruk di depan binatang, Sara biasa mengerang dan menangis untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Akibatnya, setiap kali orang tua menyerah pada amukannya (entah karena kelelahan atau takut malu), hal tersebut justru memperkuat perilaku buruknya, yaitu meningkatkan kemungkinan dia akan mengamuk di masa depan!

Alih-alih mengalami penguatan secara langsung, dalam pembelajaran observasional, pengamat melihat apakah perilaku model diperkuat dan menyesuaikan perilaku mereka sendiri. Misalnya, setelah melihat sepupunya Lisa mencoba berlarian di sekitar rumah untuk mengambil makanan penutup, Sara meniru teriakan Lisa dan menampar tangannya untuk meminta permen sambil menunggu antrean pembayaran di toko. Penyampaian kemarahan Lisa oleh Sara adalah contoh pembelajaran melalui observasi; Menerima permen di toko karena perilaku buruk adalah contoh penguatan (reinforcement).

Selain itu, pembelajaran observasional ditemukan memiliki efek terbesar ketika ada kecocokan yang baik antara pandangan kita dan pesan-pesan yang diamati di lingkungan.

Misalnya, remaja yang ingin menjadi anak paling tangguh di lingkungannya belajar lebih banyak dan lebih terpengaruh oleh perilaku agresif yang mereka saksikan dibandingkan teman sebayanya yang lebih pasif. Namun, ketika suatu sifat atau perilaku tertentu dipelajari, sifat atau perilaku tersebut tidak selalu diungkapkan secara konsisten dalam semua situasi.

Banyak hal bergantung pada sejauh mana perilaku tersebut dihargai atau dihargai di lingkungan. Misalnya, meskipun mendorong dan mendorong dianggap dapat diterima ketika anak-anak bermain kasar saat jam istirahat, perilaku yang sama jelas tidak dapat diterima ketika mereka sedang mengantri makan siang di sekolah. Dengan demikian, perilaku saat ini paling baik dipahami dalam konteks interaksi antara pembelajaran anak sebelumnya dan tuntutan situasi saat ini.

2.3.1 Social Learning Theory In Action

Bahkan anak kecil pun bisa menjadi agresif melalui pembelajaran observasional.

Apakah Anda mempertimbangkan: Setelah menonton video pendek tentang orang dewasa yang meninju, menendang dan meneriaki boneka karet "Bobo". Anak-anak prasekolah paling banyak meniru perilaku ini ketika orang dewasa menerima penguatan atas tindakan

(12)

agresif mereka. Dengan kata lain, anak-anak ini belajar menjadi agresif dengan melihat orang lain bertindak agresif (Bandura, 1965). Ngomong-ngomong, anak-anak lebih cenderung meniru perilaku agresif orang tuanya daripada memperingatkan mereka secara lisan (Bandura, 1973).

2.3.2 Applying It To Yourself

Dari perspektif pembelajaran sosial, sebagian besar kepribadian dan perilaku anak dipelajari melalui interaksi dengan lingkungannya, terutama orang-orang penting dalam hidupnya, dan pesan-pesan yang ditemuinya di media (Kirsh, 2010). Meskipun pengalaman masa lalu dapat mempengaruhi fungsi saat ini, namun tidak serta merta menentukan keseluruhan kehidupan. Dengan kata lain, melalui proses pembelajaran, banyak mekanisme yang terkait dengan masa kanak-kanak juga dapat digunakan untuk meningkatkan kapasitas adaptif di masa dewasa. Misalnya saja, seorang remaja yang mempunyai kebiasaan mengumpat ketika sedang bersemangat, dapat menghentikan kebiasaan tersebut ketika sudah dewasa jika diberi cukup dorongan dan dorongan dari teladan yang positif.

2.4 Parenting

Orang tua memperhatikan kebutuhan anak mereka setiap hari: mengantar mereka ke sekolah, kelas dan kegiatan, memberi pakaian dan memberi makan, membacakan untuk mereka, bermain dan menghabiskan waktu bersama mereka serta merawat mereka ketika mereka sakit. Selain dipengaruhi oleh usaha orang tua tersebut, adaptasi dan perkembangan pribadi seorang anak dipengaruhi oleh tiga faktor: praktik pengasuhan anak, penggunaan hukuman fisik, dan pengawasan orang tua. Masing-masing akan dibahas di bawah ini.

2.4.1 Parenting Styles

Pola asuh anak dapat digambarkan dalam dua aspek utama:

kehangatan/permusuhan dan sikap permisif/kontrol. Aspek hangat/bermusuhan mengacu pada sejauh mana orang tua berinteraksi dengan anak-anaknya di lingkungan yang hangat atau tidak bersahabat. Orang tua dengan tingkat kehangatan yang tinggi adalah orang yang penuh perhatian, tanggap, dan penuh kasih sayang terhadap anaknya. Sebaliknya, orang tua yang bermusuhan mengkritik, meremehkan, dan bertindak kasar terhadap anak- anak mereka, dan jarang menunjukkan kehangatan. Aspek izin/kontrol mengacu pada tingkat kontrol perilaku yang diberikan kepada anak-anaknya. Orang tua yang sangat permisif hanya mempunyai sedikit peraturan dan peraturan tersebut tidak ditegakkan

(13)

secara konsisten. Lebih jauh lagi, sikap permisif dikaitkan dengan pengawasan yang terbatas terhadap anak-anak dan pengalihan kendali pengambilan keputusan secara implisit kepada anak-anak mereka. Terakhir, orang tua dengan kontrol tinggi mengambil banyak aturan dan menegakkannya secara konsisten. Selain itu, orang tua yang mengontrol secara rutin memeriksa anak-anaknya dan mengambil sebagian besar keputusan untuk mereka.

Dengan menggabungkan aspek kehangatan/kekerabatan dengan aspek izin/kontrol dalam pengasuhan, maka terbentuklah empat gaya pengasuhan yang unik: otoriter, berwibawa, permisif dan tidak terlibat (Baumrind, 1991). Pola asuh otoritatif ditandai dengan tingkat kehangatan yang tinggi dan kontrol yang fleksibel. Orang tua ini sangat peka terhadap kebutuhan anak-anaknya sambil selalu menegakkan aturan-aturan tersebut dan memberikan alasan atas aturan-aturan tersebut.

Orang tua yang sombong cenderung kurang menunjukkan kehangatan, kasih sayang, dan tanggap. Selain itu, orang tua ini melakukan kontrol khusus terhadap anak- anaknya dengan mengikuti perintah orang tuanya secara ketat. Bagi orang tua yang otoriter, aturan dimaksudkan untuk dipatuhi, bukan dijelaskan.

Terakhir, kurangnya kontrol, pengawasan, kasih sayang dan kehangatan serta permusuhan dan ketidakpekaan adalah ciri-ciri pola asuh yang tidak melibatkan anak.

Seringkali, anak-anak dari orang tua yang tidak memiliki hubungan keluarga hanya menerima kebutuhan dasar seperti makanan, pemanas, pakaian dan tempat tinggal. Selain itu, orang tua mereka tidak banyak berhubungan dengan mereka. Orang tua yang santai tidak menghadiri pertemuan orang tua-guru, mengatur waktu istirahat untuk anaknya, atau mendaftarkan anaknya dalam kegiatan ekstrakurikuler. Pada dasarnya, anak-anak dituntut untuk membesarkan diri mereka sendiri. Secara umum, pola asuh otoritatif menghasilkan hasil sosial, emosional, dan kognitif terbaik bagi remaja

2.4.2 Physical Punishment

Kebanyakan pakar pembelajaran dan perilaku menyarankan untuk tidak memberikan hukuman fisik(Durrant, 2008), karena hal ini secara umum tidak mengurangi perilaku menghukum. Faktanya, penelitian baru menunjukkan bahwa hukuman fisik tidak hanya meningkatkan konsekuensi yang tidak diinginkan (termasuk agresi, depresi, masalah perilaku, dan kenakalan) tetapi juga agresi terhadap orang yang

(14)

dicintai (Christie-Mizell, Pryor dan Grossman, 2008; Mulvaney dan Mebert , 2007).

;Taylor, Manganello, Lee dan Beras. 2010).

Para peneliti telah menemukan bahwa dampak positif utama dari hukuman fisik adalah anak-anak dengan cepat mematuhi permintaan orang tua untuk mengakhiri perilaku yang tidak diinginkan (Owen, 2004). Meskipun hukuman fisik tampaknya efektif, sebagian besar psikolog lebih memilih orang tua untuk mencari cara lain untuk memperbaiki perilaku anak mereka karena konsekuensi jangka panjang dari memukul terlalu parah. Sebaliknya, orang tua sebaiknya menggunakan cara lain, seperti memberi jeda, mengalihkan hak istimewa, memberi penghargaan atau memperkuat perilaku positif anak (misalnya, memuji anak atas kerja kerasnya untuk mencapai nilai tinggi di sekolah).

Pesan yang dapat diambil dari penelitian ini jelas: Untuk menjadikan anak lebih bijak, tidak agresif, hindari hukuman fisik (Durrant & Smith, 2011).

2.4.3 Parental Monitoring

Pengawasan orang tua mengacu pada sejauh mana orang tua mengetahui keberadaan anak, aktivitas sehari-hari, dan pasangan aktivitasnya. Penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa kurangnya pengawasan orang tua dikaitkan dengan tingginya tingkat masalah perilaku, kenakalan, dan perilaku antisosial, termasuk kekerasan fisik dan seks (Miller, Gorman-Smith. Sullivan, Orpinas dkk. Simon, 2009).

Perlu dicatat bahwa orang tua Eric Harris, salah satu pembunuh Columbine, tidak mengetahui bahwa putra mereka telah menyimpan senjata, amunisi, dan bom di kamar tidurnya sebagai persiapan pembantaian (Bartels. 2004). Untuk tumbuh kembang anak yang optimal, terhadap pertanyaan “Tahukah Anda dimana anak Anda berada dan apa yang dilakukannya”, jawabannya adalah “ya”

2.4.4 Applying It To Yourself

Apakah Anda orang yang santai atau biasanya waspada terhadap orang lain sampai Anda mengenalnya? Saat Anda bercermin, apa yang Anda lihat? Jika Anda harus mendeskripsikan diri Anda sendiri, kualitas apa yang akan Anda identifikasi sebagai ciri khas Anda? Apakah Anda puas dengan siapa diri Anda atau apakah Anda memiliki gagasan berbeda tentang siapa diri Anda sebenarnya? Apakah Anda merasa aman dalam hubungan Anda dengan teman dan kekasih, atau apakah Anda terkadang merasa dikhianati atau ragu dengan tindakan atau niat mereka? Jawaban atas pertanyaan-

(15)

pertanyaan ini berasal dari beberapa konsep kunci yang dipelajari oleh psikolog perkembangan di masa kanak-kanak. Dan seperti yang telah ditunjukkan dalam penelitian sebelumnya, beberapa dampak ini berkaitan dengan karakteristik anak, sementara dampak lainnya berkaitan dengan jenis pengasuhan yang diterima.

2.5 Develepment of Adulthood

Tahapan perkembangan dewasa ini di mulai dari kira-kira akhir remaja atau awal 20-an hingga berlangsung sampai usia 30-an. Transisi dari masa dewasa awal seseorang akan dihadapkan pada banyak hal baru sehingga kesempatan untuk berkembang menjadi lebih besar. Mulai dari meninggalkan rumah, pemilihan karir, berinteraksi dengan orang lain hingga membentuk sebuah keluarga sendiri. Melalui sebuah teori yang dikembangkan oleh (Erikson, 1964), ia menyatakan bahwa tahapan ini menentukan bagaimana seseorang berhasil atau tidaknya dalam menjalin suatu hubungan. Apabila berhasil, maka akan terbentuklah suatu hubungan yang memuaskan, dekat, dan intim dengan orang lain. Sebaliknya, jika tidak berhasil dalam menjalin suatu hubungan, seseorang akan mengalami loneliness. Teori inilah yang disebut keintiman versus isolasi.

Tahap perkembangan dewasa awal akan membentuk hubungan yang lebih dekat atau intim dengan orang tua. Berbagai banyak hal yang harus dihadapi di masa ini membutuh pembuatn keputusan tak hanya dari diri indivu. Orang tua memberikan kontribusi yang cukup besar dalam pengambilan keputusan kita akan meninggalkan rumah, memilih dan menetapkan tujuan karir kemana hingga membentuk suatu hubungan pernikahan dengan pasangan depan (Masche, 2008; Whitbourne, Whitbourne, &

Whitbourne, 2011). Keputusan kaum muda akan memengaruhi mereka hingga selama 50 tahun kedepan atau lebih, maka tugas dari perkembangan dewasa awal bisa menjadi begitu menegangkan.

2.5.1 Leaving Home

Meninggalkan rumah tak hanya dimaknai dengan mengemasi barang kemudian pindah ke tempat yang baru. Meninggalkan rumah bisa menjadi suatu hal yang simbolis dalam mencapai kemandirian secara emosional dan finansial. Rata-rata seseorang akan meninggalkan rumah sewaktu akan menempuh jenjang perkuliahan kemudian kembali selah menyelesaikan kuliah untuk tinggal di rumah. Selanjutnya ketika mereka telah

(16)

mandiri secara finansial ada dua tipe orang. Pertama, seseorang akan meninggalkan rumahnya untuk memulai di tempat yang baru ketika finansialnya sudah cukup. Hal tersebut bisa disebabkan oleh ia yang ingin berkembang lebih luas atau karena memang ingin meninggalkan rumah sebagai pelarian diri. Kedua, orang memelih meninggalkan rumah ketika nantinya sudah mempunyai pasangan.

Meninggalkan rumah membuat seseorang yang awalnya selalu bergantung pada orang tua, dituntut untuk tidak lagi bergantung pada orang tua. Mampu mengatur pengelolaan manajemen secara finansial, memiliki peran, dan tanggung jawab baru yang lebih mirip dengan orang dewasa.

2.5.2 Choosing a Career

Tahap ini adalah tahap yang cukup menegangkan sehingga cukup menjadi stressor yang kuat bagi individu pada tahap transisi menjadi dewasa awal. Pemilihan tujuan karir tidak hanya mempertimbangkan keinginan, minat atau passion diri.

Pemilihan karir membuat seseorang mengeksplor berbagai kemungkinan di dunia orang dewasa. Penetapan ingin mengambil studi apa dan bagaimana prospek untuk dunia kerja selanjutnya adalah masa yangbenar-benar menegangkan. Pada masa ini seseorang bisa saja dituntut oleh orang tua untuk di arahkan pada pilihan studi dan karir yang diinginkan orang tua. Apabila seseorang mempunyai gaya parenting otoriter yang mengekang arah dan tujuan anaknya, masa ini mungkin menjadi masa yang paling sulit baginya.

2.5.3 Starting a Family

Memulai sebuah keluarga didominasi oleh masa-masa pengambilan keputusan apakah ingin memiliki seorang anak atau menundanya, kemudia ada infertility, dan dampak setelah memiliki anak. Memiliki seorang anak menjadi pertimbangan bagi seseorang karena ia seolah dituntut harus bisa survive karirnya dan bagaimana pengasuhan sang anak. Mmepunyai anak selain berdampak pada bagaimana cara pengasuhannya juga berdampak pada karir seseorang, misalnya terkait besar gaji yang ditanyakan oleh HRD. Selanjutnya, ada yang memang ingin memutuskan memiliki anak, akan tetapi mengakami infertility. Hampir 7,3 juta wanita di Amerika Serikat mengalami permasalahan terkait ketidaksuburan sehingga tidak memiliki anak bukalah pilihan.

Terakhir dampak yang dirasakan setelah mempunyai anak terbagi menjadi dua, yaitu

(17)

seseorang setelah mempunyai anak menjadi orang tua yang lebih bertanggung jawab atau mengasuh anak kecil menjadi beban dalam suatu pernikahan.

2.5.4 Sexual Change

Perubahan fisik yang dirasakan ketika memasuka masa dewasa akhir yang paling signifikan adalah peristiwa menopause pada wanita. Menopause adalah berhentinya siklus menstruasi bulanan yang menandakan hilangnya kemampuan untuk melahirkan anak. Beberapa menganggap menopause sebagai pengalaman yang negatif dikarenakan merugikan wanita dari sisi fisik, emosinonal hingga seksual mereka. Akan tetapi, juga sebagian besar menganggap menopause sebagai hal yang positif. Hilangnya kemampuan untuk melahirkan anak membuat mereka merasakan sedikit kebebasan dari tanggung jawab pengasuhan anak.

2.6 Development of Late Adult

Tahap ini merupakan tahap akhir dari perkembangan orang dewasa. Diperkirakan di mulai dari usia 60-an hingga kematian. Masa ini ditandai dengan perubahan pada masalah kesehatan, pendapatan, dan peran sosial.

2.6.1 Ageism

Ageisme adalah semacam steriotipe dan bentuk diskriminasi tehadap suatu kelompok karena usianya. Pada masa dewasa akhir, orang tua disteriotipekan sebagai sosok yang lemah tak berdaya. Sebagai contoh banyak lansia sering kali diperlakukan seperti bayi, misalnya orang dewas mencoba berkomunikasi dengan mereka seperti bahasa bayi. Bahkan yang lebih parahnya, beberapa lansia berujung pada panti jompo.

Faktanya masih banyak orang tuan atau lansia tidak membutuhkan perawatan di panti jompo. Hal tersebut berdampak pada mereka, seperti terbatasnya kesempatan mereka untuk beraktivitas, martabat atau harga diri menjadi rendah, dan terasa seperti pengasingan mereka dari masyarakat yang lebih besar.

2.6.2 Psychal Change

Seiring bertambanya usia, tentunya terjadi penurunan fungsi indera atau perubahan terkait fisik seseorang. Perubahan fisik pada lansia nampak mulai dari kulit yang mulai berkerut dan menipis, rambut mulai memutih dan surut, ketajaman

(18)

oenglihatan dan pendengaran semakin menurun, serta refleks yang kian melambat (Wingfield, Tun, & McCoy, 2005). Sebagai contoh beberapa lansia memiliki porsi makan yang kurang atau sedikit diakibatkan fungsi indra pengecap mulai menurun. Kemudian ada banyak contoh lansia yang sampai berujung pada kematian akibat jatuh dari tangga, kamar mandi, dan sebagainya disebabkan oleh penurunan fungsi penglihatan. Akan tetapi, gaya hidup yang sehat dan olahraga yang teratur dapat meminimalisir terjadinya hal ini. Perlu diingat perubahan negatif banyak terjadi bukan disebabkan oleh proses penuaan, akan tetapi stres, penyakit, dan gaya hidup yang salah membuat merek merasakan hal tersebut.

2.6.3 Cognitive Change

Perubahan fungsi kognitif di usia dini bukanlah suatu hal yang tak terelakkan.

Perubahan ini dimulai dari sulitnya mengingat informasi, urutan waktu kejadian atau sebera baru kejadian tersebut terjadi (Hartman & Warren, 2005). Tak hanya kemampuan mengingat, kemampuan proses mencerna informasi juga mengalami penurunan (Phillips, 2005). Gangguan kogniti di usia lansia banyak dikaitkan dengan penyakit Alzheimer, yaitu bentuk progersif dari demensia. Namun, meskipun usia lansia mengalami perubahan kognitif, hal tersebut tidak mengahmbat mereka mempertahkan kreativitasnya.

Bahkan, peningkatan stabil akan kreativitas ditunjukkan pada usia tua, seperti seniman yang mencapai puncaknya di usia 40-an, ilmuvan hingga 60-an, dan mereka yang berkecimpung di bidang humaniora usia 70-an.

(19)

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Kesehatan mental sangat penting dalam semua rentang usia, tidak hanya berlaku pada orang dewasa ataupun pada anak-anak. Fase kesehatan mental pada individu dimulai dari fase anak, remaja, sampai dewasa dan lanjut usia sesuai dengan proses perkembangan yang dialaminya. Para psikolog melakukan pendekatan terhadap perkembangan dari berbagai sudut pandang atau perspektif seperti dari sudut pandang perspektif biologi, ekologi, dan psikodinamik pada tahap perkembangan anak. Untuk menunjang kesehatan mental pada perkembangan suatu individu bisa dilakukan dengan menggunakan teori belajar dan parenting style yang tepat. Sedangkan pada tahap dewasa bisa meninggalkan rumah tak hanya dimaknai dengan mengemasi barang kemudian pindah ke tempat yang baru. Meninggalkan rumah bisa menjadi suatu hal yang simbolis dalam mencapai kemandirian secara emosional dan finansial. Terakhir tahan lansia yang berusia sekitar diatas 60 tahun akan mengalami perubahan fisik, kognitif, dan ageism.

(20)

DAFTAR PUSTAKA

Erikson, E.H. (1964). Childhood and society (2nd ed.). W. W. Norton.

Hartman, M., & Warren, L.H. (2005). Explaining age differences in temporal working memory.

Psychology and Aging. Special Issue: Emotion-Cognition Interactions and the Aging Mind, 20, 645–656.

Krish, S. J., & Duffy, K. G. (2014). Psychology for Living (11th ed.). Eastword Atwater.

Masche, J.G. (2008). Reciprocal influences between developmental transitions and parent-child relationships in young adulthood. International Journal of Behavioral Development, 32, 401–411.

Phillips, L. (2005). Both specific functions and general ability can be useful: But it depends on what type of research question you ask. Cortex, 41, 236–237.

Whitbourne, S.K., Whitbourne, S.B., & Whitbourne, S.K. (2011). Adult development and aging:

Biopsychosocial perspectives. Wiley.

Referensi

Dokumen terkait

Untuk menjaga kesehatan mental di masa pandemi, salah satu jenis kegiatan yang dapat dilakukan adalah dengan terapi lingkungan atau palnt therapy untuk individu dengan stress

Layanan Bimbingan kelompok dianggap suatu layanan yang dapat membantu meningkatkan kesehatan mental siswa, menurut Bennett (dalam romlah, 2001) yang

Untuk mengetahui sehat dan tidaknya mental seseorang, pada tahun 1959, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO, 1959) merumuskan kriteria jiwa atau mental yang

Dukungan sosial yang kuat dapat membantu individu merasa didukung, dipahami, dan diterima tanpa adanya stigma terkait dengan gangguan kesehatan mental.15 Dengan demikian dapat

World Health Organization  kesehatan mental merupakan kondisi dari kesejahteraan yang disadari individu, yang di dalamnya terdapat kemampuan-kemampuan untuk mengelola stres

Dokumen ini membahas bagaimana kesehatan mental memengaruhi perilaku individu, termasuk perilaku siswa dan pasien gangguan jiwa

Aktivitas Kampanye Public Relations #BraveTogether komunitas Universitas Indonesia sehat mental mengenai perubahan stigma Kesehatan mental remaja Indonesia ....

Pengetahuan remaja yang kurang tentang kesehatan mental dapat mempengaruhi sikap negatif remaja terhadap gangguan kesehatan mental.18 Pengetahuan masa remaja tentang kesehatan mental