BISNIS KIMIA DAN PENDIDIKAN KIMIA
LIDAH BUAYA DAN PRODUK OLAHANNYA
Disusun oleh :
Dewi Sulistyowati (K3317021) Lutfiana Miftahul Jannah (K3317045) Windi Apriliani (K3317075)
Diampu oleh :
Dr. Sri Retno Dwi Ariani, M.Si Dr. Susilaningsih, M.Bus
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
2020
POHON IDE
A. TEORI BAHAN BAKU 1. Sejarah, daerah asal dan penyebaran
Tanaman lidah buaya (Aloe vera L ) berasal dari Afrika. Aloe vera berasal dari kata Alloeh dalam bahasa Arab berarti sangat pahit, Vera berasal dari kata verus yang berarti betul-betul. Menurut Wahyono dan Koesnandar (2002), di Indonesia dikenal sebagai lidah buaya, di Malaysia disebut jadam dan di Prancis, Jerman dan lain-lain disebut Aloe.
Tamanan Lidah Buaya ini telah dikenal dan digunakan sejak ribuan tahun yang lalu karena khasiat dan manfaatnya yang luar biasa. Fakta sejarah yang ada menyebutkan bahwa Bangsa Mesir kuno telah mengetahui manfaat lidah buaya sebagai tanaman kesehatan sejak tahun 1500 SM karena manfaat lidah buaya yang begitu luar biasa, bangsa Mesir kuno menyebut tanaman lidah buaya sebagai tanaman keabadian.
Penyebaran lidah buaya di Indonesia dimulai pada abad ke-17 yang dibawa oleh orang China. Pada awalnya lidah buaya hanya dimanfaatkan sebagai tanaman hias di pekarangan rumah dan obat pencuci rambut. Sejak tahun 1990 mulai dikembangkan secara besar-besaran untuk bahan baku kosmetik, farmasi, minuman dan makanan.
Tanaman lidah buaya (Aloe vera L.) merupakan tanaman yang banyak tumbuh pada iklim tropis ataupun subtropis dan sudah digunakan sejak lama karena fungsi pengobatannya. Lidah buaya dapat tumbuh di daerah beriklim dingin dan juga di daerah kering, seperti Afrika, Asia dan Amerika. Hal ini disebabkan bagian stomata daun lidah buaya dapat tertutup rapat pada musim kemarau karena untuk menghindari hilangnya air daun. Lidah buaya dapat tumbuh pada suhu optimum untuk pertumbuhan berkisar antara 16-330C dengan curah hujan 1000-3000 mm dengan musim kering agak panjang, sehingga lidah buaya termasuk tanaman yang efisien dalam penggunaan air (Furnawanthi, 2002).
2. Taksonomi dan Morfologi
Berikut adalah kedudukan taksonomi dari lidah buaya menurut Furnawanthi (2002).
Kerajaan : Plantae Divisi : Spermatophyta Kelas : Monocotyledoneae Bangsa : Liliflorae
Suku : Liliaceae Marga : Aloe
Jenis : Aloe barbadensis Miller
Tanaman lidah buaya terdiri dari akar, batang, daun dan bunga. Akar lidah buaya merupakan akar serabut yang tumbuh ke samping sepanjang 30 – 40 cm. Akar tersebut keluar dari batang yang tertimbun tanah. Tinggi tanaman lidah buaya bervariasi sesuai jenisnya dengan bentuk batang bulat berserat. Pada waktu masih muda batangnya tidak kelihatan karena tertutup oleh daun yang rapat di sekeliling batang dan sebagian terbenam dalam tanah.
Akan tetapi setelah pelepahnya dipanen beberapa kali batang tanaman ini akan terlihat jelas.( Suryowidodo : 1988)
Daun lidah buaya merupakan daun tunggal berbentuk tombak dengan helaian memanjang berupa pelepah dengan panjang mencapai kisaran 40–60 cm dan lebar pelepah bagian bawah 8–13 cm dan tebal antara 2–3 cm. Daunnya berdaging tebal, tidak bertulang, berwarna hijau keabu- abuan dan mempunyai lapisan lilin di permukaan serta bersifat sukulen, yakni mengandung air, getah dan lendir yang mendominasi daun. Bagian atas daun rata dan bagian bawahnya membulat (cembung). Daun lidah buaya muda memiliki bercak berwarna hijau pucat sampai putih. Bercak ini akan hilang saat daun lidah buaya dewasa (Purbaya : 2003).
Bunga lidah buaya tersusun melingkar di ujung tangkai yang menjulang vertikal. Warna bunga bervariasi tergantung jenisnya, ada yang kuning, ungu, dan merah tua.
B. SYARAT TUMBUH 1. Iklim
Tanaman lidah buaya tahan terhadap segala unsur iklim, yaitu suhu, curah hujan, dan sinar matahari. Tanaman ini juga tahan kekeringan, dapat menyimpan air pada daunnya yang tebal, mulut daunnya tertutup rapat sehingga dapat mengurangi penguapan pada musim kering. Suhu optimum untuk pertumbuhan tanaman lidah buaya antara 28°C-32°C. Lidah buaya termasuk tanaman yang efektif penggunaan air, sehingga dapat tumbuh di daerah basah maupun kering. Namun, lidah buaya yang tumbuh di daerah basah rentan terserang cendawan.
2. Ketinggian tempat
Lidah buaya dapat tumbuh baik pada daerah dataran tinggi sampai daerah dataran rendah dengan ketinggian 1.500 mdpl, tetapi untuk mendapatkan hasil terbaik sebaiknya lidah buaya dibudidayakan pada daerah yang ketinggiannya kurang dari 1.000 m dpl.
Gambar 1. Tanaman Lidah Buaya
3. Tanah
Tanah yang dikehendaki lidah buaya adalah tanah subur, kaya bahan organik, dan gembur. Apabila tanaman ditanam di daerah yang bertanah mineral maupun tanah organik, agar dapat tumbuh dengan baik diperlukan tambahan pupuk. Derajat keasaman atau pH ideal untuk tanaman lidah buaya adalah 5,5 - 6. Tanah yang terlalu asam dapat mengakibatkan tanaman lidah buaya keracunan logam berat, sehingga ujung-ujung daun menjadi kuning seperti terbakar, pertumbuhan terhambat, dan jumlah akan berkurang. sirkulasi air dan udara selalu dalam keadaan baik sangat diperlukan untuk pertumbuhan tanaman.
C. JENIS DAN VARIETAS Karakteristik
Tanaman Lidah Buaya
Aloe barbadensis Miller
Aloe ferox
Miller
Aloe perry
Baker
Batang Tidak terlihat
jelas
Terlihat jelas (tinggi 3-5 m atau lebih)
Tidak terlihat jelas (lebih kurang 0,5 m) Bentuk daun Lebar dibagian
bawah, dengan pelepah bagian atas cembung
Lebar di bagian bawah
Lebar di bagian bawah
Lebar daun 6-13 cm 10-15 cm 5-8 cm
Lapisan lilin Pada daun
Tebal Tebal Tipis
Duri Di bagian pinggir
daun
Di bagian
pinggir dan bawah daun
Di bagian
pinggir daun Tinggi bunga
(mm)
25-30 (tinggi tangkai bunga 60- 100 cm)
35-40 25-30
Warna bunga Kuning Merah tua
hingga jingga
Merah terang
D. KANDUNGAN GIZI
Senyawa-senyawa kimia lidah buaya disintesis di kulit pelepahnya. Kulit lidah buaya tersusun atas 15-18 lapisan sel yang terletak di antara kloroplas. Lapisan- lapisan tersebut mengandung kristal kalsium oksalat dan magnesium laktat.
Kandungan senyawa kimia pelepah lidah buaya lebih dari 200 jenis. Bagian terbesar kandungan jel lidah buaya adalah air (98,5 %) dan kandungan karbohidratnya sebesar 0,3 %. Karbohidrat yang terkandung di dalam jel lidah buaya berupa pektin, hemiselulosa, glukomanan, asemanan, dan derivat manosa. Selain senyawa-senyawa tersebut, jel lidah buaya juga mengandung asam-amino, lipid, sterol (lupeol, camperterol, b-sitoserol), tanin, dan beberapa enzim.
Dari beberapa jenis lidah buaya yang dibudidayakan, jenis Aloe barbadensis-lah yang dianggap paling kaya gizi, sehingga jenis tersebut dijuluki Aloe vera sejati.
Salah satu indikator penting zat gizi dalam bahan makanan adalah kandungan asam amino. Kandungan asam amino A.v. barbadensis dan A.v. chinensis dapat dilihat dalam Tabel berikut.
Asam Amino Kadar (ppm)
Aloe barbadensis Aloe chinensis Asam Aspartat
Asam Glutamat Alanin
Isoleusin Fenilalanin Treonin Prolin Valin Leusin
43.00 52.00 28.00 14.00 14.00 31.00 14.00 14.00 20.00
14.37 14.27 1.09 3.72 4.47 5.68 0.07 6.85 8.53
1. Kandungan Nutrisi Lidah Buaya
Berbagai macam kandungan nutrisi dalam pelepah lidah buaya antara lain adalah:
Vitamin, yaitu A, B1, B2, B3, B12, C, E, Choline, Inositol, Folic Acid
Mineral, yaitu Calsium, Magnesium, Potasium, Sodium, Iron, Seng, Chromium
Enzim, yaitu Amylase, Catalase, Cellulose, Carboxypepilase, Carboxyhelulose, Bradykinase
Asam Amino, yaitu Arginin, Aspargin, Aspartat Acid, Analine, Serine, Glutamat, Threonine, Glycine, Phenil alanine, Histidine, Isoliucine 2. Hasil Analisis Kandungan Komponen Gel Lidah Buaya
(dalam 100 gr bahan)
Air : 99,5%
Lemak : 0,067%
Karbohidrat : 0,043%
Vitamin A
Vitamin C
Total padatan terlarut : 0,49%
E. Manfaat Lidah Buaya
Tanaman Lidah Buaya dikenal sebagai bahan obat tradisional dan kosmetika termasuk dalam bidang farmasi. Khasiat yang tersimpan dari lidah buaya untuk pembersih darah, penurun panas, obat wasir, batuk rejan dan mempercepat penyembuhan luka. Sejumlah nutrisi yang bermanfaat terkandung di dalam lidah buaya, berupa bahan organik dan anorganik, di antaranya vitamin, mineral, beberapa asam amino, serta enzim yang diperlukan tubuh. Penggunaannya dapat berupa gel dalam bentuk segar atau dalam bentuk bahan jadi seperti kapsul, jus, makanan dan minuman kesehatan. Manfaat lain dari lidah buaya yaitu:
1. Membantu menyembuhkan luka
2. Meminimalkan kerusakan kulit akibat radang yang disebabkan oleh udara dingin
3. Melindungi kulit dari sinar X, karena tanamn lidah buaya adalah antioksidan yang efektif dan dapat membersihan radikal bebas yang disebabkan oleh sinar radiasi X.
4. Mengurangi timbulnya penyakit kanker, infeksi akibat serangan HIV dan mengurangi pembengkakan pada radang sendi.
Bagian-bagian dari lidah buaya yang dapat di manfaatkan sebagai obat :
1. Eksudat, saat daun lidah buaya yang diiris dari batangnya akan meleleh semacam getah kental yang berwarna kuning. Cairan yang berasal dari bagian pelepah daun lidah buaya mengandung aloin sebagai bahan aktif laktasif/pencahar.
Gel, bagian yang paling dominan dari lidah buaya adalah cairan lendir yang keluar dari kulit daun lidah buaya daun yang dikupas yang mengandung zat nutrisi yang meliputi asam amino, enzim, mineral, dan vitamin. Gel lidah buaya ini tidak memiliki warna dan tidak berbau. Gel lidah buaya yang terdiri dari polisakarida, berperan menghalangi kelembaban dan oksigen yang dapat mempercepat pembusukan makanan.
Kandungan lidah buaya yang dapat bermanfaat :
1. Polifenol merupakan senyawa turunan fenol yang mempunyai aktivitas sebagai antioksidan. Antioksidan fenolik digunakan untuk mencengah kerusakan akibat reaksi oksidasi pada makanan, kosmetik, farmasi dan plastik. Fungsi polifenol sebagai penangkap dan pengikat radikal bebas dari rusaknya ion-ion logam (Hermani dan Rahardjom, 2006).
2. Saponin adalah senyawa aktif permukaan yang menimbulkan busa jika dikocok dalam air dan pada konsentrasi yang rendah sering menyebabkan hermolisis sel darah merah. Samponin memiliki kemampuan sebagai pembersih sehingga efektif untuk luka bakar terbuka (Robinson, 1995)
F. BUDIDAYA LIDAH BUAYA A. Penyiapan Benih
Tujuan penyiapan benih adalah menyediakan benih yang berkualitas sehingga menjamin stabilitas dan kepastian hasil budidaya lidah buaya.
Informasi Pokok Benih yang digunakan harus berkualitas, dengan ciri-ciri, sbb :
1. Benih dari varietas unggul yang teridentifikasi sama dengan induknya yang berumur lebih dari 1 tahun
2. Benih tidak cacat fisik dan berasal dari tanaman induk yang sehat yang berumur diatas 1 tahun dan anakan yang tumbuh di sekeliling tanaman induk dengan jarak antar anakan dengan pohon induknya + 10–20 cm
3. Kriteria anakan yang digunakan untuk benih : tinggi anakan sudah mencapai 25–30 cm, jumlah pelepah 3-4 helai atau anakan yang berumur 1-2 bulan, besar anakan minimal sebesar ibu jari
4. Warna pelepah hijau dan perakaran sehat.
Prosedur Kerja
1. Pembibitan anakan dapat dilakukan di bedengan yang berukuran 1-1,5 m x 10 m atau sesuai kebutuhan. Jarak tanam yang digunakan 10 cm x 10 cm atau 15 cm x 15 cm atau di polybag yang ukurannya disesuaikan dengan besar anakan 2. Bedengan harus benar-benar remah agar pertumbuhan akar tidak terganggu 3. Sebelum bedengan ditanami, terlebih dahulu ditaburi pupuk kandang (kotoran
ayam) yang sudah matang sebanyak 30 kg dan abu sebanyak 40 kg per bedeng, kemudian diaduk rata
4. Dianjurkan untuk menggunakan kapur pertanian untuk meningkatkan pH tanah dan penambahan urea sebanyak 7,5 kg per bedeng untuk merangsang pertumbuhan bibit; 5. Siapkan benih yang sudah berumur 3 atau 4 bulan (tinggi tanaman 25-30 cm), kemudian lakukan seleksi bersamaan dengan saat pencabutan bibit dari persemaian; SOP Budidaya Lidah Buaya Pontianak 7 6.
Bibit yang sudah terseleksi (tinggi anakan 25-30 cm, jumlah pelepah 5–6 helai) harus benar-benar sehat dan tidak terserang penyakit, kemudian disusun di dalam keranjang bambu lalu diangkut ke lokasi pertanaman yang telah disiapkan.
B. Persiapan Dan Pengolahan Lahan
Persiapan dan pengolahan lahan adalah mempersiapkan lahan agar kondisi lahan sesuai untuk pertumbuhan tanaman lidah buaya. Kegiatan yang dilakukan dalam penyiapan lahan adalah membersihkan lahan dari bebatuan, gulma dan sisasisa tanaman lainnya.
Informasi Pokok Lahan siap tanam harus memenuhi kriteria, sbb :
1. Bersih dari gulma dan sisa-sisa tanaman lain/tunggul/ akar tanaman pakis 2. Pembuatan galian dilakukan dengan hati-hati agar tidak menembus lapisan pirit
yang dapat menimbulkan asam sulfat
3. Pembukaan lahan baru dan pembersihan akar-akar gambut/pakis yang terdapat dalam tanah
4. Saluran drainase dibuat berukuran lebar bagian atas 100 cm, lebar bagian bawah 75-80 cm dengan kedalaman antara 75-100 cm atau disesuaikan dengan kondisi lahan.
Prosedur Kerja :
1. Lahan dibersihkan dari gulma dan sisa-sisa tanaman lain
2. Lakukan pengolahan tanah dengan menggunakan cangkul sedalam 20 - 30 cm
3. Setelah dicangkul, tanah dibiarkan selama + 1–2 minggu untuk mengurangi kemasaman dan kandungan air, kemudian tanah dicangkul kembali 2-3 kali sambil menaburkan abu sebanyak 0,5 - 1 kg per m2 sebagai pupuk dasar; 10 SOP Budidaya Lidah Buaya Pontianak
4. Melakukan penggambutan lalu dibakar dan tanah dicangkul 5. Melakukan penggaruan untuk menghilangkan akar/ tunggul.
C. Penanaman
Penanaman adalah proses meletakkan bibit ke dalam lubang tanam atau alur yang sudah disiapkan sesuai jarak tanam.
Informasi Pokok :
1. Penanaman sebaiknya dilakukan pada pagi hari (pukul 07.00 - 10.00 WIB) atau sore hari (pukul 15.00 WIB)
2. Jarak tanam dalam barisan 70 cm-80 cm, jarak antar barisan 100 cm-150 cm.
3. Benih ditanam dengan cara dibenamkan pada lubang tanam sampai batas leher akar;
4. Setelah tanaman berumur 10–15 hari dilakukan pengamatan, apabila terdapat tanaman mati atau menunjukkan gejala mati segera lakukan penyulaman.
Prosedur Kerja :
1. Lakukan penamanan pada pagi hari (pukul 07.00-10.00 WIB) atau sore hari (sekitar pukul 15.00 WIB)
2. Benih ditanam dengan cara dibenamkan pada lubang tanam sampai batas leher akar (pelepah daun paling bawah) dengan jarak tanam dalam barisan 70 cm-80 cm dan jarak antar barisan 100 cm-150 cm, kemudian tanah disekitar lubang tanam dipadatkan agar tanaman tidak mudah roboh
3. Lakukan pengamatan pada saat tanaman berumur 10- 15 hari setelah tanam.
Apabila terdapat tanaman yang mati segera lakukan penyulaman dengan tanaman yang berumur sama.
D. Pemupukan
Pemupukan adalah pemberian unsur hara, baik pupuk organik maupun pupuk anorganik ke tanaman.
Informasi Pokok :
1. Pupuk dasar yang digunakan adalah abu dan pupuk kandang (kotoran ayam) yang sudah matang masingmasing 250 gr/tanaman
2. Tanah diaduk dengan abu dan pupuk kandang secara merata. Pupuk dasar ini diberikan 3–4 hari sebelum tanam
3. Pupuk susulan yang diberikan berupa urea sebanyak 7,5- 15 gr/tanaman, diberikan pada umur 1-2 bulan setelah tanam, KCL sebanyak 20-25 gr/tanaman, diberikan pada saat tanaman berumur 4-5 bulan setelah tanam 4. Penambahan abu dan pupuk kandang yang sudah matang diberikan setiap 2-3
bulan sekali masing-masing sebanyak 2 ton/ha
5. Pemberian pupuk dilakukan dengan cara ditaburkan di sekeliling tanaman kemudian ditutup dengan tanah.
Prosedur Kerja :
1. Berikan pupuk dasar berupa abu sebanyak 250 gr/ tanaman dan pupuk kandang/kotoran ayam yang sudah matang 250 gr/tanaman, kemudian tanah diaduk dengan abu dan pupuk kandang secara merata. Pupuk dasar diberikan 3–4 hari sebelum tanam
2. Berikan pupuk susulan berupa urea sebanyak 10-15 gr/ tanaman, diberikan pada umur 1-2 bulan setelah tanam, KCL sebanyak 25 gr/tanaman, diberikan pada saat tanaman berumur 4-5 bulan setelah tanam; 18 SOP Budidaya Lidah Buaya Pontianak
3. Penambahan abu dan pupuk kandang yang sudah matang diberikan setiap 2-3 bulan sekali masing-masing sebanyak 2 ton/ha
4. Pupuk dasar maupun susulan diberikan dengan cara ditabur di sekeliling tanaman lalu ditutup dengan tanah.
E. Pemeliharaan
Pemeliharaan adalah suatu rangkaian kegiatan yang mencakup kegiatan penyulaman, penyiangan, penyiraman, pembumbunan, pembuangan anakan, pemotongan ujung pelepah, pembuangan pelepah yang patah dan membusuk.
Informasi Pokok :
1. Penyiangan yang dilakukan meliputi : penyiangan gulma, pelepah dan anakan.
Penyiangan gulma dilakukan sebelum pemberian pupuk susulan (pupuk organik) atau sesuai dengan kondisi gulma, penyiangan dilakukan secara manual dengan menggunakan tangan dan penyiangan pelepah dilakukan bersamaan waktunya dengan penyiangan anakan
2. Penyulaman dilakukan setelah tanaman berumur 1 bulan dengan menggunakan benih dengan umur yang sama
3. Pelepah yang akan rebah tidak dianjurkan diberi penyangga tetapi dibuang 4. Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan gulma. Tujuan
pembumbunan untuk mengubur batang yang telah tinggi agar tidak mudah rebah serta merangsang pertumbuhan akar baru. Pembumbunan dilakukan dengan memindahkan tanah yang ada di luar barisan tanaman sehingga bedengan akan terbentuk secara teratur
5. Pemotongan ujung pelepah bertujuan untuk mempertebal pertumbuhan pelepah yang dilakukan 2 bulan sebelum panen
6. Pelepah yang patah dan busuk dikumpulkan dan dimusnahkan dengan cara dibakar
Prosedur Kerja :
1. Penyulaman dilakukan saat tanaman berumur 1 bulan setelah tanam dengan menggunakan bibit yang umurnya sama dengan tanaman yang diganti
2. Lakukan penyiangan gulma sebelum pemberian pupuk susulan (pupuk organik) atau sesuai dengan kondisi gulma
3. Lakukan pembumbunan pada tanaman dengan memindahkan tanah yang ada di luar barisan tanaman
4. Lakukan penyiangan anakan yang tumbuh dipangkal batang tanaman, dan mengurangi daun pelepah yang tidak produkif (pelepah daun yang patah dan membusuk) serta mengurangi jumlah daun pelepah sewaktu tanaman masih berumur 1 – 6 bulan
5. Lakukan pemotongan ujung pelepah sepanjang 5 cm dengan arah potongan miring. Pemotongan dilakukan pada saat tanaman berumur 2 bulan sebelum panen dan dilakukan pada pagi hari atau saat cuaca panas dengan menggunakan pisau; 6. Lakukan pembuangan pelepah yang patah dan busuk dengan jalan dimusnahkan atau dibakar.
G. PANEN DAN PASCAPANEN A. Panen
Pemanenan adalah kegiatan pengambilan hasil berupa pelepah lidah buaya dengan cara mensayat pelepah dari pangkal batang tanaman dengan pisau.
Informasi Pokok :
1. Panen pertama dapat dilakukan setelah tanaman memiliki 15 pelepah dan bagian dalam/daging berwarna putih
2. Panen sebaiknya dilakukan pada waktu cuaca panas, dengan cara menyayat pangkal pelepah dengan menggunakan pisau. Panen harus dilakukan secara hatihati agar pelepah tidak patah/luka dan sayatan pisau tidak melukai batang tanaman
3. Panen dapat dilakukan hingga tanaman berumur 2-3 tahun, setelah itu
dilakukan peremajaan.
Prosedur Kerja :
1. Lakukan panen setelah tanaman berumur 8-12 bulan atau sudah memenuhi kriteria siap panen (pelepah sudah tua dan berwarna hijau kekuningan); SOP Budidaya Lidah Buaya Pontianak 29
2. Panen sebaiknya dilakukan pada waktu cuaca panas, dengan cara memotong atau menyayat pangkal pelepah lidah buaya yang sudah tua atau pelepah paling bawah dengan menggunakan pisau serta dilakukan secara hatihati.
Getah berwarna kuning kecoklatan yang mengucur dari bekas sayatan dibiarkan, dijaga agar tidak mengenai helaian pelepah daun dengan cara menyimpan pelepah dengan posisi miring.
3. Hindari pelepah agar tidak terluka pada saat saat panen, karena dapat menurunkan kelas mutu
B. Pascapanen
Pasca panen adalah tindakan yang dilakukan setelah panen, mulai dari pengumpulan dan pembersihan pelepah, sortasi, pengkelasan, pengemasan, dan penyimpanan.
Informasi Pokok :
1. Kegiatan pasca panen meliputi : pengumpulan, pembersihan, pengkelasan, pembungkusan, pengemasan, penyimpanan, dan pengangkutan. Kegiatan ini dilakukan apabila pelepah akan dikirim/ dijual dalam bentuk segar
2. Pengkelasan pelepah bertujuan untuk mendapatkan pelepah yang seragam sesuai dengan grade, yaitu Grade A : > 0,8 kg dan Grade B : 0,6 – 0,8 kg 3. Pengemasan bertujuan untuk mempertahankan mutu pelepah pada saat
pengangkutan atau penyimpanan agar kulit pelepah tetap mulus dan cerah 4. Penyimpanan bertujuan untuk memperpanjang masa simpan pelepah agar tetap
segar
5. Dalam penanganan pasca panen harus dilakukan secara hati-hati, usahakan pelepah tidak luka atau patah pada saat pelepah dimasukkan ke dalam peti kayu.
Pengemasan untuk dikirim keluar provinsi :
1. Pelepah yang sudah dipanen disusun secara berlapis dan diletakkan di gerobak sorong, kemudian diangkut ke tempat penampungan sementara, kemudian di lap lalu di kering anginkan di para-para
2. Lakukan penyotiran sesuai standar grade : Grade A : > 0,8 kg; Grade B : 0,6 – 0,8 kg, dengan ketebalan mencapai 2,4 cm-2,6 cm (Grade A). Grade B dibawah 2,4 cm dengan kriteria : daun dan tekstur kokoh dan segar; pemukaan pelepah tidak cacat dan tidak cekung; tidak ada tandatanda pembusukan pelepah
3. Bungkus pelepah dengan kertas koran kemudian masukkan ke dalam peti kayu (kapasitas 50 pelepah) yang diberi celah untuk pertukaran udara. Upayakan agar tumpukan tidak terlalu tinggi, karena dapat menyebabkan pelepah rusak 4. Pelepah yang sudah dikemas ditempatkan ditempat yang kering atau di simpan
di gudang penyimpanan dengan masa simpan 1-7 hari; 5. Susun peti kayu yang berisi pelepah dalam kendaraan dan beri sirkulasi udara untuk mempertahankan kesegaran pelepah sampai di tempat tujuan.
C. Proses Produksi
1. Nama Produk : Handsinitizer Aloe Vera a. Bahan :
2/3 cangkir isopropil alkohol 99% atau alkohol 95%
1/3 cangkir gel lidah buaya murni (sebaiknya tanpa zat tambahan)
8-10 tetes minyak esensial seperti minyak lavendel, cengkih, kayu manis, atau pepermin
b. Alat
Mangkuk untuk mencampur bahan
Sendok
Corong
Wadah plastik c. Prosedur kerja
1) Menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan.
Cairan pembersih tangan ini sangat mirip dengan pembersih tangan komersial, tanpa zat kimia dan tanpa aroma yang tajam.
2) Mencampurkan alkohol dan gel lidah buaya di dalam mangkuk.
menuangkan bahan-bahan ke dalam mangkuk dan gunakan sendok untuk mencampurnya. Campuran tersebut harus benar-benar halus.
Jika menginginkan larutan yang lebih kental, maka menambahsatu sendok makan gel lidah buaya. Atau encerkan dengan menambahkan satu sendok makan alkohol.
3) Menambahkan minyak esensial.
Menambahkan tiap tetes bertutut-turut, sambil terus mengaduknya.
Setelah 8 tetes, cium uap campuran ini untuk mengetahui apakah Anda menyukai aromanya atau tidak. Jika aromanya cukup kuat, hentikan. Jika menyukai aroma yang lebih kuat, maka tambahkan beberapa tetes minyak esensial lagi. Minyak esensial lavendel, cengkih, kayu manis, dan peppermint memiliki manfaat tambahan yaitu memiliki khasiat antiseptik pada campuran ini. Jika tidak menyukai aroma minyak-minyak esensial ini, maka tidak masalah
untuk menggunakan aroma apa saja yang disukai. Lemon, grapefruit, dan markisa semuanya bisa digunakan.
4) Masukkan campuran ke dalam wadah dengan corong.
Letakkan corong di atas mulut wadah dan tuangkan cairan pembersih tangan. Isilah cairan ini hingga penuh, lalu kencangkan tutupnya hingga siap digunakan. Bisa menggunakan botol semprot kecil jika ingin membawa cairan pembersih tangan ini sepanjang hari. Jika hasil cairan pembersih ini terlalu banyak untuk dimasukkan ke dalam botol itu, simpan sisanya di dalam stoples dengan penutup yang rapat.
d. Bagan
2. Nama Produk : Sabun Aloe Vera a. Alat :
Kompor Pemanas
Termometer 100 oC
Gelas beker 100 ml
Gelas beker 500 ml
Klem + Statif + Buret
Erlenmeyer
Labu takar
Blender
pengaduk b. Bahan :
Minyak goreng
NaOH
Asam stearat
Alkohol 96%
Gliserin
Larutan gula
Lidah buaya
Pewarna sabun
Pewangi sabun c. Prosedur kerja
1) Aloe vera dibersihkan, kemudian dibilas dengan air.
2) Pangkal aloe vera dipotong, kemudian dikuliti untuk memisahkan kulit dengan daging buahnya.
3) Daging aloe vera diblender dan hasilnya yang berupa ekstrak kasar disaring untuk didapatkan filtratnya.
4) Daging aloe vera dipanaskan pada suhu 45 0C – 70 0C selama sepuluh menit.
5) Daging aloe vera yang telah dipanaskan lalu disaring.
6) Sebanyak 12 gram asam strearat dipanaskan pada suhu 60-700C kemudian ditambahkan 25 gram minyak goreng diaduk hingga homogen.
7) Lalu proses penyabunan yaitu penambahan 18 gram NaOH 31% pada suhu 70-800C kemudian ditambahkan 15 gram alcohol 96%
8) Masih dalam pengadukan ditambahkan 45 ml larutan gula dan 13 gram gliserin
9) Kemudian proses pendinginan pada suhu 400C. Ditambahkan 4 gram ekstrak lidah buaya serta 5 gram pewarna dan pewangi
10) Proses terakhir yaitu pencetakan kurang lebih selama 24 jam hingga dihasilkan sabun.
d. Bagan
3. Nama Produk : Jelly Aloe Vera a. Alat :
• Blender
• Panci
• Pengaduk
• Kompor
• Wadah cetakan b. Bahan :
• Daging lidah buaya 1 kg
• Gula pasir 1 kg
• Pewarna makanan merah, kuning, hijau dan oranye secukupnya c. Prosedur kerja :
1) Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan. Menghaluskan lidah buaya dengan blender kemudian dituang ke dalam panci.
2) Menambahkan gula pasir lalu diaduk rata.
3) Memasak di atas api sedang sambil diaduk hingga mendidih.
Kemudian diangkat
4) Membagi adonan menjadi empat bagian, tambahkan tiap bagian dengan pewarna yang berbeda (merah, kuning, hijau dan oranye).
Lalu diaduk rata.
5) Menuang adonan dalam loyang. Didiamkan selama semalam.
6) Potong adonan sesuai selera. Kemudian dijemur hingga kering + 4-5 hari.
7) Kemas jeli dengan plastik/ kertas semenarik mungkin.
d. Bagan
4. Nama produk : Kerupuk lidah buaya a. Alat :
Loyang
Kompor
Panci untuk kukus
Wajan
Wadah / baskom
Pengaduk b. Bahan :
2kg lidah buaya, kupas kulitnya dan dan buang lendir, cuci hingga bersih
750gram tepung tapioka
1 butir telur ayam
250gram tepung beras
2 butir bawang putih haluskan
1 sdt gula pasir
3 sdm ketumbar, tumbuk kasar
150gram margarin
Merica dan garam secukupnya
Air secukupnya c. Prosedur kerja :
1) Semua bahan dicampurkan lalu aduk-aduk hingga rata.
2) Masukan air, aduk-aduk lagi sampai adonan agak mengental
3) Siapkan cetakan lontong atau loyang sesuai selera. (adonan jangan terlalu besar atau tebal karena lama matangnya).
4) Setelah itu kukus hingga matang.
5) Setelah matang angkat, lalu iris tipis-tipis.
6) Kemudian jemur di bawah terik sinar matahari hingga kering dan mengeras. Biasanya 4-6 hari tergantung kondisi panas.
7) Siapkan dan panaskan minyak goreng.
8) Goreng dalam minyak panas hingga mengembang.
9) Setelah matang sajikan atau bisa bungkus atau taruh di toples.
d. Bagan
5. Nama produk : gel aloe vera a. Alat :
Pisau atau alat pengupas untuk sayuran
Sendok kecil
Blender
Wadah kedap udara untuk menyimpan b. Bahan :
• Daun lidah buaya
• Vitamin C atau vitamin E (opsional)
c. Prosedur kerja :
1) Menyiapkan Daun Lidah Buaya
Setelah menyiapkan daun lidah buaya segar dari tanaman, potonglah kulit bagian terluar dari daun lidah buaya. Kemudian, cucilah dengan baik. Bersihkan kotoran yang terdapat pada daun lidah buaya.
Kemudian, berdirikan daun lidah buaya yang sudah dicuci bersih tersebut untuk menurunkan resin berwarna kuning yang mengalir keluar dari daun. Resin mengandung lateks yang dapat mengiritasi kulit.
Kalau resin sudah benar-benar tidak ada, bersihkan sisa-sisa daun dan kupas kulitnya dengan menggunakan pisau kecil. Pastikan untuk mengupas salah satu sisi kulit sehingga gel tetap menempel pada sisi yang lain.
2) Ambil Gel Lidah Buaya
Setelah daunnya dikupas, kamu akan melihat gel lidah buaya alami. Untuk mengambil gel lidah buaya, kamu bisa mengambilnya dengan sendok kecil. Kemudian masukkan ke dalam blender.
Blender beberapa detik gel lidah buaya alami hingga berbusa.
Setelah itu, pindahkan gel lidah buaya yang sudah diblender ke wadah tertutup. Kamu bisa menyimpannya selama 1 minggu. Jika ingin lebih lama, kamu bisa menambahkan pengawet.
3) Tambahkan Pengawet jika Ingin Bertahan Lebih Lama
Apabila kamu ingin mendapatkan gel lidah buaya bisa bertahan lebih lama, kamu bisa menambahkan pengawet berupa vitamin C atai vitamin E. Kedua pengawet alami ini merupakan pengawet
yang sangat baik untuk memperpanjang penyimpanan gel lidah buaya.
Kedua vitamin atau pengawet aman ini mengandung antioksidan dan anti-penuaan, yang bisa membantu meningkatkan daya untuk melindungi gel lidah buaya.
Pada ¼ cangkir atau 60 ml gel lidah buaya, kamu bisa menambahkan 500 mg bubuk vitamin C atau 400 International Unit (IU) bubuk vitamin E atau bisa menggunakan keduanya.
Tambahkan kedua vitamin ini langsung ke dalam proses blender gel lidah buaya.
Untuk penyimpanannya, gel lidah buaya tanpa pengawet bisa disimpan dalam lemari pendingin dalam wadah kedap udara hingga 1 minggu. Sedangkan, jika ditambahkan pengawet bisa disimpan lebih lama hingga 2 bulan di lemari pendingin.
d. Bagan
6. Nama Produk : Masker wajah aloe vera a. Bahan
Daun lidah buaya (Aloe vera barbadensis)
zat aditif yang digunakan meliputi maltodekstrin, CaCl, dan Carboxymethyl Cellulose (CMC)
b. Alat
Pisau
Spatula
Loyang
kain saring
ayakan 80 dan 100 mesh
Erlenmeyer
kaca arloji
gelas beker
timbangan analitik
mortar
blender
oven vakum c. Prosedur kerja
1) Perlakuan awal daun lidah buaya
Daun lidah buaya dipotong-potong dan dikupas kulitnya. Potongan yang terpisah dimasukan dalam air agar tidak terbentuk getah.
Potongan yang direndam air dibilas dengan larutan CaCl 1% hingga tidak terdapat getah dan potongan kulit yang terbawa. Selanjutnya potongan yang telah bersih disaring menggunakan kain saring
sehingga terpisah dari larutan CaCl. Potongan lidah buaya di blender hingga menjadi gel dan homogen. Gel kemudian disaring kembali dengan kain saring. Gel ditambahahkan zat aditif maltodektrin 6%
dan CMC 1% dari maltodekstrin. Gel dan zat aditif diaduk kembali hingga homogen.
2) Pengeringan oven vakum
Gel lidah buaya yang telah ditambahkan zat aditif disiapkan 40 ml.
Disiapkan beberapa loyang dan ditimbang dalam keadaan kosong terlebih dahulu untuk memperoleh berat kosongnya (mo). Selanjutnya gel yang telah disiapkan dituang pada masing-masing loyang dan ditimbang (m1). Loyang-loyang yang telah terisi gel dimasukan ke dalam oven. Tekanan dalam oven diatur tetap pada 100 mbar dan temperatur divariasikan pada 50oC, 60oC, dan 70oC. Oven dilakukan selama 6 jam. Masing-masing loyang ditimbang (m2). Gel lidah buaya yang telah kering pada loyang kemudian dipisahakan dari loyang dengan menggunakan spatula. Bongkahan gel lidah buaya yang telah terpisah dihancurkan dengan mortar agar menjadi serbuk.
Serbuk diayak dengan ayakan 80 mesh (Permanasari, dkk. 2019).
d. Bagan
7. Nama Produk : Toner Aloe Vera a. Bahan
Daun lidah buaya
jeruk nipis
mentimun
air mawar b. Alat
Blender
Pisau
Cawan
Saringan
Sendok
botol toner
c. Prosedur kerja
1) Siapkan gel lidah buaya dan ekstrak mentimun (blender mentimun lalu buang ampasnya).
2) Campurkan air ekstrak mentimun dengan gel lidah buaya.
3) Tambahkan perasan jeruk nipis dan air mawar. Aduk merata.
4) Masukkan campuran gel lidah buaya, ekstrak mentimun, perasan jeruk nipis, dan air mawar dalam botol spray.
5) Gunakan kapas untuk mengoleskan toner ke wajah.
d.Bagan
8. Nama Produk : Sirup Lidah Buaya a. Bahan
Lidah Buaya
Air
Gula Pasir
Garam
CMC
Na – Benzoat b. Alat
Blender
Kompor
Panci
Pisau
Baskom
Botol
Saringan
Sendok c. Prosedur kerja
1) Menyiapkan lidah buaya dan larutan gula
2) Daun lidah buaya yang berbentuk seperti tombak itu dipotong - potong , untuk memudahkan pengupasan ukuran pemotongan sebaiknya 3 x 3, pengukuran semacam ini akan memudahkan pembersih dan pengupasan gel sehingga benar - benar terpisah dari kulit luarnya.
3) Direndam dengan air garam supaya bagian lendir yang dihasilkan lebih steril.
4) Cuci gel tersebut dengan air hingga bersih 5) Dilakukan blansing / pengukuran sekitar 5 menit
6) Keluarkan gel tadi dan aduk hingga tercerai berai ( dilakukan dengan blender ) yang bertujuan serat - serat yang ada
7) Gel hasil blenderan tadi disaring supaya larutan dari ampas yang berupa serat - serat tipis dan kecil dapat terseleksi
8) Lalu tambahkan Na – Benzoat dan CMC perbandingannya 1 : 5.
9) Tambahkan gula supaya manis. Larutan gula tersebut dapat dibuat dengan merebus gula pasir yang dicampur dengan air secukupnya 10) Campurkan larutan gula yang telah direbus tadi dengan gel lidah
buaya yang telah dipisahkan dari ampasnya. Perbandingannya adalah jika gelnya 100 cc maka larutan gula sebaiknya 75 cc
11) Campuran tadi diletakkan diatas api hingga mendidih 12) Dinginkan dan sirup lidah buaya siap dinikmati
d. Bagan
9. Nama Produk : Permen Lidah Buaya a. Bahan
Sari buah
Gelatin
Sukrosa
asam sitrat b. Alat
Kompor
Panci
sendok kayu
pisau
timbangan digital
loyang persegi, c. Prosedur kerja
1) Pembuatan sari buah.
2) Sari buah dipanaskan sampai suhu 1030C selama 2 menit, sambil ditambahkan gula pasir, fruktosa dan asam sitrat.
3) Turunkan suhunya sampai 50-600C selama 15 menit. Lalu tambahkan gelatin sebanyak 10 g yang telah dilarutkan dalam air sebanyak 25 ml dengan suhu 1000 C.
4) Panaskan kembali sampai suhu 960C, kemudian matikan api
5) Simpan pada suhu ruang selama 1 jam sampai suhu adonan permen 270C.
6) Simpan kembali pada cooler dengan suhu 50C selama 24 jam
7) Setelah 24 jam, keluarkan adonan dari cooler dan biarkan sampai suhu 270C, kemudian potong-potong
8) Lapisi permen jelly dengan cara di gulingkan diatas gula castor yang bertujuan untuk menghilangkan sifat lengket pada permen jelly.
d. Bagan
10. Nama Produk : Selai Lidah Buaya a. Bahan
Lidah buaya (Aloe vera)
Gula
jeruk nipis
vanili b. Alat
Baskom plastic
Timbangan
Kompor
blender atau pelarut
pengaduk
pisau stainless steel
sendok
baskom
gelas ukur
botol selai c. Prosedur kerja
1) Tahap persiapan
Buah yang berkulit dikupas terlebih dahulu menggunakan pisau, setelah dikupas buah dicuci dengan air yang bersih dan mengalir, selanjutnya, buah dipotong menjadi bagian yang agak kecil. Buah yang sudah dipotong dapat langsung dihancurkan dengan blender.
Untuk jenis beberapa buah yang kurang berair, pada saat diblender ditambah sedikit air, penghancuran dilakukan sampai terbentuk bubur buah.
2) Tahap pemasakan
Buah yang sudah diblender mula dipanaskan, kemudian ditambah gula dan pectin dan diaduk secara merata dan ditambah asam sitrat
sambil diaduk hingga mendidih, setelah mendidih ditambah pengawet bila dibutuhkan. Pemanasan bertujuan membuat campuran gula dan bubur buah menjadi homogen, pemanasan juga bertujuan mengekstraksi pectin untuk memperoleh sari buah untuk menghasilkan cita rasa yang baik, dan memperoleh stuktur gel.
Pembuatan selai biasanya dilakukan pada titik didih 103o–105oC, selama pemanasan harus dilakukan pengadukan agar campuran bahan selai menjadi homogen. Pengadukan juga bertujuan memperoleh stuktur gel. Pemanasan harus dilakukan dalam waktu yang singkat untuk mencegah kehilangan aroma, warna dan terjadinya hidrolisis pektin.
3) Tahap pengemasan (Pembotolan)
Setelah proses pembuatan selai, selai dimasukkan ke dalam wadah.
d. Bagan
11. Nama Produk : Nata De Aloe Vera a. Bahan
5 batang lidah buaya yang siap panen
1 sdm garam dapur
300-500 ml air rebus
2 buah jeruk lemon/ jeruk nipis b. Alat
Pisau stainless steel
Mangkok
Saringan
Panci
Pengaduk
Kompor c. Prosedur kerja
1) Kupas lidah buaya dan potong kotak-kotak sesuai selera. Agar mudah dalam prosesnya, kupas salah satu sisinya terlebih dahulu baru dipotong sesuai selera, kemudian kupas dan buang sisi yang tadi masih menempel.
2) Beri garam dan cuci di dalam mangkok dengan sedikit diremas- remas, lalu saring, bisa diulang sampai 2-3x.
3) Cuci lidah buaya dibawah air mengalir, sampai terasa tidak ada lendirnya, silakan juga diulang berkali-kali, lalu tiriskan
4) Campurkan air dan gula ke dalam panci, panaskan dengan api kecil, lalu masukkan lidah buaya. Aduk perlahan hingga mendidih
5) Aduk dalam kondisi mendidih sekitar 5-10 menit
6) Masukkan perasan air jeruk nipis untuk menghilangkan bau langu dan menambah aroma.
7) Matikan api, tiriskan dengan mengangkat lidah buayanya saja dan langsung masukkan kedalam es batu. Nata de aloe vera siap dinikmati bersama santan dan sirup gula
d. Bagan
12. Nama Produk : Es Krim Lidah Buaya a. Bahan
250 g Lidah Buaya
Air 150ml
Gula pasir secukupya
Susu kental manis secukupnya
Whipped cream 120 g
Garam b. Alat
Pisau stainless steel
Mangkok
Panci
k Matikan api, tiriskan lidah buaya dan masukkan kedalam es batu. Nata de aloe vera siap dinikmati Masukkan perasan air jeruk nipis
Aduk dalam kondisi mendidih sekitar 5-10 menit
Panaskan campuran air dan gula, lalu masukkan lidah buaya dan aduk hingga mendidih Cuci lidah buaya sampai terasa tidak ada lendirnya, ulangi berkali-kali, lalu tiriskan
Beri garam dan cuci dengan sedikit diremas-remas, saring, dan ulangi 2-3x Kupas lidah buaya dan potong kotak-kotak sesuai selera
Mixer
Cetakan c. Prosedur kerja
1) Kupas kulit lidah buaya, ambil dagingnya saja.
2) Kemudian potong dadu, beri garam untuk menghilangkan lendirnya.
3) Lalu rebus lidah buaya hingga matang
4) Setelah itu, mixer lidah buaya dan whipped cream secara perlahan- lahan
5) Tambahkan sedikit demi sedikit air, gula pasir, dan susu kental manis. Mixer dengan kecepatan tinggi hingga mengembang.
6) Setelah itu tuang kedalam cetakan dan masukkan ke dalam Freezer hingga membeku. Es krim lidah buaya siap disantap
d. Bagan
Tuang kedalam cetakan dan masukkan ke dalam Freezer hingga membeku. Es krim lidah buaya siap disantap
Tambah air, gula pasir, dan susu kental manis, lalu mixer dengan kecepatan tinggi hingga mengembang
Mixer lidah buaya dan whipped cream secara perlahan Rebus lidah buaya sampai matang
Potong dadu dan beri garam
Kupas kulit lidah buaya dan ambil dagingnya
13. Nama Produk : Sampo Aloe Vera a. Bahan
2 cangkir (475 ml) air suling
180 ml sabun castile cair
2 sendok makan (30 ml) gel lidah buaya
½ sendok teh (2,5 ml) minyak jojoba
40-50 tetes minyak esensial (opsional)
60 gram bahan herbal kering (opsional) b. Alat
Mangkok
Panci
Pengaduk
Kompor
Cangkir
Saringan
Sendok c. Prosedur kerja
1) Didihkan air suling
Siapkan 2 cangkir (475 ml) air suling. Tuangkan ke dalam panci.
Letakkan panci ke atas kompor, panaskan dengan api besar. Biarkan air hingga mendidih sempurna. Jika bahan herbal kering tidak digunakan, tidak perlu mendidihkan air suling. Cukup campurkan bahan-bahan lainnya.
2) Tambahkan bahan herbal kering yang dipilih
Jika bahan herbal kering akan ditambahkan ke dalam sampo, siapkan bahan itu sekarang. Jangan tambahkan bahan herbal kering melebihi 55 gram secara keseluruhan. Saat air suling mulai mendidih, masukkan bahan herbal ini perlahan-lahan ke dalam panci.
3) Tutuplah panci dan kecilkan api kompor
Setelah bahan herbal kering dimasukkan, tutuplah panci. Gunakan api kecil. Bahan yang terkandung dalam hebal kering akan meresap ke dalam air. Rebus herbal dalam air selama 15-20 menit.
4) Angkat panci dari kompor dan saring bahan herbal
Matikan kompor dan bukalah tutup panci. Berhati-hatilah karena uap panas mungkin akan keluar saat tutup panci dibuka. Letakkan mangkuk besar di bawah saringan.
5) Tuangkan air panas melalui saringan
Bahan herbal akan tertahan di atas saringan, sementara airnya mengalir ke dalam mangkuk. Buanglah sisa bahan herbal setelah terpisah dari air.
6) Tuangkan sabun castile ke dalam air rebusan bahan herbal
Siapkan sekitar 180 ml sabun castile cair. Tuangkan perlahan-lahan ke dalam air rebusan bahan herbal. Campurkan keduanya perlahan- lahan sambil menuangkan sabun.
7) Tambahkan gel lidah buaya, jojoba, dan minyak esensial
Siapkan 2 sendok makan (30 ml) gel lidah buaya dan ½ sendok teh (2,5 ml) minyak jojoba. Tuangkan ke dalam mangkuk satu per satu perlahan-lahan, sambil terus diaduk. Campurkan semua bahan hingga merata.
8) Jika Anda menggunakan minyak esensial, tambahkan sekarang.
Ingatlah, jangan tambahkan minyak esensial melebihi 40-50 tetes.
Aduk hingga rata.
d. Bagan
14. Nama Produk : Jus Lidah Buaya a. Bahan
Daun lidah buaya
Air
Gula
Tambahkan gel lidah buaya, jojoba, dan minyak esensial Tuangkan sabun castile ke dalam air rebusan bahan herbal
Tuangkan air panas melalui saringan
Angkat panci dari kompor dan saring bahan herbal Tutuplah panci dan kecilkan api kompor Tambahkan bahan herbal kering yang dipilih
Didihkan air suling
Lemon atau jeruk nipis b. Alat
Pisau stainless steel
Sendok
Mangkuk
Blender c. Prosedur kerja
1) Cuci daun lidah buaya sampai bersih. Potong tiap sisi untuk menghilangkan duri.
2) Kupas bagian luar daun. Hilangkan semua kulit hijaunya. Pisahkan getah kuning lidah buaya dengan pisau dan ambil gel bening lidah buaya bagian dalam dengan sendok.
3) Pindahkan gel ke dalam mangkuk
4) Ambil dua sendok makan gel lidah buaya dan masukkan ke dalam blender.
5) Tambahkan air dan gula (jika suka manis) lalu blender pada pengaturan rendah selama 3-5 menit.
6) Jika mau, dapat ditambahkan dengan perasaan lemon atau heruk nipis. Jus lidah buaya juga sering dikombinasikan dengan buah lainnya.
d. Bagan
15. Nama Produk : Dodol Lidah Buaya a. Bahan
1 kg daging daun lidah buaya
700 gram tepung ketan
400 gram tepung beras
2 kg gula pasir
2 liter santan
0,1% asam askorbat (1 gram untuk 1 liter air)
Pewarna hijau secukupnya (jika perlu dan suka)
Agar-agar secukupnya b. Alat
Pisau
Tambahkan perasaan lemon/jeruk nipis atau kombinasikan dengan buah lain Tambahkan air dan gula (jika mau) lalu blender pada pengaturan rendah selama 3-5 menit
Ambil dua sendok makan gel lidah buaya dan masukkan ke dalam blender Pindahkan gel ke dalam mangkuk
Bersihkan duri dan ambil gel lidah buaya Cuci dan potong daun lidah buaya
Blender
Wajan
Pengaduk
Loyang
Plastik atau kertas minyak c. Prosedur kerja
1) Pisahkan kulit daun lidah buaya dengan dagingnya, bersihkan dan haluskan dengan blender.
2) Masak santan dan gula di dalam wajan hingga mengental.
3) Masukkan tepung ketan dan beras ke dalam larutan gula.
4) Masukkan lidah buaya yang telah diblender, kemudian diaduk.
Pengadukan dilakukan sampai adonan menjadi liat, berminyak dan tidak lengket di wajan.
5) Beri agar-agar dan pewarna.
6) Angkat adonan dodol yang telah masak, kemudian dimasukkan ke dalam Loyang dengan ketinggian 1-2 cm. Adonan ditekan-tekan agar padat dan rata. Sebelum adonan dimasukkan, permukaan dalam loyang dialasi dengan plastik atau daun pisang
7) Dinginkan sampai adonan mengeras
8) Dodol yang telah mengeras dipotong-potong
9) Potongan-potongan dodol dibungkus dengan plastik. Setelah itu, dodol siap dikemas ke dalam kemasan plastik atau kertas minyak
d. Bagan
bungkus dodol dengan plastik/kertas minyak Potong-potong dodol yang telah mengeras Tekan-tekan adon dan dinginkan hingga mengeras
Angkat adonan yang telah masak lalu masukan ke dalam Loyang yang telah dialasi plastik/daun pisang (ketinggian 1-2 cm)
Beri agar-agar dan pewarna
Masukkan lidah buaya lalu diaduk sampai adonan menjadi liat, berminyak dan tidak lengket di wajan
Masukkan tepung ketan dan beras ke dalam larutan gula Masak santan dan gula hingga mengental
Bersihkan dan haluskan dengan blender Pisahkan kulit dan daging daun lidah buaya
LABEL PRODUK LIDAH BUAYA
1. Sabun aloe vera
2. Gel aloe vera
3. Toner aloe vera
4. Handsinitizer aloe vera
5. Masker aloe vera
SKETSA TONER LIDAH BUAYA
PENGEMASAN PRODUK A. Pengertian
Kemasan adalah desain kreatif yang mengaitkan bentuk, struktur, material, warna, citra, tipografi dan elemen-elemen desain dengan informasi produk agar produk dapat dipasarkan. Kemasan digunakan untuk membungkus, melindungi, mengirim, mengeluarkan, menyimpan, mengidentifikasi dan membedakan sebuah produk di pasar (Klimchuk dan Krasovec, 2006:33). Menurut Kotler & Keller (2009:27), pengemasan adalah kegiatan merancang dan memproduksi wadah atau bungkus sebagai sebuah produk. Pengemasan adalah aktivitas merancang dan memproduksi kemasan atau pembungkus untuk produk. Biasanya fungsi utama dari kemasan adalah untuk menjaga produk. Namun, sekarang kemasan menjadi faktor yang cukup penting sebagai alat pemasaran (Rangkuti, 2010:132).
Kemasan yang dirancang dengan baik dapat membangun ekuitas merek dan mendorong penjualan. Kemasan adalah bagian pertama produk yang dihadapi pembeli dan mampu menarik atau menyingkirkan pembeli. Pengemasan suatu produk biasanya dilakukan oleh produsen untuk dapat merebut minat konsumen terhadap pembelian barang. Produsen berusaha memberikan kesan yang baik pada kemasan produknya dan menciptakan model kemasan baru yang berbeda dengan produsen lain yang memproduksi produk-produk sejenis dalam pasar yang sama.
B. Fungsi
Banyak perusahaan yang sangat memperhatikan pembungkus suatu barang sebab mereka menganggap bahwa fungsi kemasan tidak hanya sebagai pembungkus, tetapi jauh lebih luas dari pada itu. Simamora (2007) mengemukakan pengemasan mempunyai dua fungsi yaitu:
1. Fungsi Protektif
Berkenaan dengan proteksi produk, perbedaan iklim, prasarana transportasi, dan saluran distribusi yang semua berimbas pada pengemasan. Dengan pengemasan protektif, para konsumen tidak perlu harus menanggung risiko pembelian produk rusak atau cacat.
2. Fungsi Promosional
Peran kemasan pada umumnya dibatasi pada perlindungan produk. Namun kemasan juga digunakan sebagai sarana promosional. Menyangkut promosi, perusahaan mempertimbangkan preferensi konsumen menyangkut warna, ukuran, dan penampilan.
Sedangkan menurut Kotler (1999:228), terdapat empat fungsi kemasan sebagai satu alat pemasaran, yaitu :
1.Self service. Kemasan semakin berfungsi lebih banyak lagi dalam proses penjualan, dimana kemasan harus menarik, menyebutkan ciri-ciri produk, meyakinkan konsumen dan memberi kesan menyeluruh yang mendukung produk.
2.Consumer offluence. Konsumen bersedia membayar lebih mahal bagi kemudahan, penampilan, ketergantungan dan prestise dari kemasan yang lebih baik.
3.Company and brand image. Perusahaan mengenal baik kekuatan yang dikandung dari kemasan yang dirancang dengan cermat dalam mempercepat konsumen mengenali perusahaan atau merek produk.
4.Inovational opportunity. Cara kemasan yang inovatif akan bermanfaat bagi konsumen dan juga memberi keuntungan bagi produsen.
C. Tujuan
1.Physical Production. Melindungi objek dari suhu, getaran, guncangan, tekanan dan sebagainya.
2.Barrier Protection. Melindungi dari hambatan oksigen uap air, debu, dan sebagainya.
3.Containment or Agglomeration. Benda-benda kecil biasanya dikelompokkan bersama dalam satu paket untuk efisiensi transportasi dan penanganan.
4.Information Transmission. Informasi tentang cara menggunakan transportasi, daur ulang, atau membuang paket produk yang sering terdapat pada kemasan atau label.
5.Reducing Theft. Kemasan yang tidak dapat ditutup kembali atau akan rusak secara fisik (menunjukkan tanda-tanda pembukaan) sangat membantu dalam pencegahan pencurian. Paket juga termasuk memberikan kesempatan sebagai perangkat anti- pencurian.
6.Convenience. Fitur yang menambah kenyamanan dalam distribusi, penanganan, penjualan, tampilan, pembukaan, kembali penutup, penggunaan dan digunakan kembali.
7.Marketing. Kemasan dan label dapat digunakan oleh pemasar untuk mendorong calon pembeli untuk membeli produk.
D. Jenis-jenis Kemasan
Berdasarkan struktur isi, kemasan dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
1. Kemasan Primer, yaitu bahan kemas langsung mewadahi bahan pangan (kaleng susu, botol minuman, dll).
2. Kemasan Sekunder, yaitu kemasan yang fungsi utamanya melindungi kelompok kemasan lainnya, seperti misalnya kotak karton untuk wadah kaleng susu, kotak kayu untuk wadah buah-buahan yang dibungkus dan sebagainya.
3. Kemasan Tersier dan Kuarter, yaitu kemasan yang diperlukan untuk menyimpan, pengiriman atau identifikasi. Kemasan tersier umumnya digunakan sebagai pelindung selama pengangkutan.
Berdasarkan frekuensi pemakaiannya, kemasan dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
1. Kemasan sekali pakai (Disposable), yaitu kemasan yang langsung dibuang setelah satu kali pakai. Contohnya bungkus plastik, bungkus permen, bungkus daun, karton dus, makanan kaleng.
2. Kemasan yang dapat dipakai berulang kali (Multi Trip), kemasan jenis ini umumnya tidak dibuang oleh konsumen, akan tetapi dikembalikan lagi pada agen penjual untuk kemudian dimanfaatkan ulang oleh pabrik. Contohnya botol minuman dan botol kecap.
3. Kemasan yang tidak dibuang (Semi Disposable). Kemasan ini biasanya digunakan untuk kepentingan lain di rumah konsumen setelah dipakai. Contohnya kaleng biskuit, kaleng susu dan berbagai jenis botol.
Berdasarkan tingkat kesiapan pakai, kemasan dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
1. Kemasan siap pakai, yaitu bahan kemas yang siap untuk diisi dengan bentuk yang telah sempurna sejak keluar dari pabrik. Contohnya adalah wadah botol, wadah kaleng, dan sebagainya.
2. Kemasan siap dirakit, yaitu kemasan yang masih memerlukan tahap perakitan sebelum pengisian, misalnya kaleng dalam bentuk lempengan dan silinder fleksibel, wadah yang terbuat dari kertas, foil atau plastik
E. Syarat
1. Memiliki daya kemas yang baik guna memudahkan proses penanganan, distribusi, alokasi, penyimpanan, dan penyusunan produk.
2. Kemasan harus mampu mengamankan isi produknya dari berbagai risiko dari luar, seperti perlindungan dari sinar matahari, kelembapan udara, bau asing, gesekan, benturan, dan kontaminasi mikroorganisme.
3. Desainnya memiliki daya tarik tersendiri sehingga konsumen berkeinginan untuk membelinya.
4. Kemasan harus memprioritaskan pengenalan produk, informasi, tampilan, warna, dan keindahan bahannya.
5. Memiliki persyaratan ekonomi yang berarti kapasitas dapat mencukupi keinginan pasar, sasaran masyarakat, dan tujuan pembeli.
6. Kemasan harus memiliki ukuran, bentuk, dan bobot yang sesuai dengan pola standar yang ada. Selain itu juga harus mudah dibuat atau dicetak dan bisa didaur ulang kembali.
F. Pengemasan Toner Lidah Buaya
Toner lidah buaya memerlukan proses pengemasan untuk mempertahankan kualitas produk. Hal ini perlu dilakukan karena toner lidah buaya merupakan produk yang akan diaplikasikan secara langsung pada wajah sehingga perlu dijaga sterilisasinya. Keberhasilan proses pengemasan akan melindungi produk dari kerusakan sehingga produk masih dalam keadaan baik ketika sampai di tangan konsumen (Hambali, dkk, 2005). Toner lidah buaya bersifat mudah menguap karena ada kandungan alkohol sehingga diperlukan pengemasan yang rapat sehingga tidak toner lidah buaya tidak menguap dan tetap terjaga sterilitasnya. Kemasan yang digunakan berupa kemasan dengan permeabilitas air yang rendah sehingga kemasan
sulit ditembus uap air. Jenis kemasan yang dapat digunakan untuk produk toner lidah buaya adalah plastik dan botol kaca.
Kemasan Toner Lidah Buaya
PENYIMPANAN PRODUK A. Pengertian
Penyimpanan dilakukan untuk mempertahankan daya simpan komoditi dan melindungi produk dari kerusakan serta terkait erat dengan kebijakan distribusi dan pemasaran seperti pengangkutan, pengeringan, penjualan dan pengolahan.
B. Klasifikasi tipe penyimpanan dapat didasarkan waktu 1. Klasifikasi berdasarkan lama penyimpanan
Jangka pendek
Penyimpanan jangka pendek biasanya dilakukan tidak lebih dari 6 bulan.
Bahan-bahan yang mudah rusak misalnya telur, daging, dan produk susu umumnya disimpan unuk jangka pendek.
Jangka menengah
Penyimpanan jangka menengah bertujuan untuk menjaga kualitas produk yang disimpan hingga mencapai 12 bulan tanpa kerusakan yang nyata. Kualitas produk yang disimpan tidak dapat dijamin hingga lebih dari 18 bulan.
Jangka panjang
Penyimpanan jangka panjang dapat menjaga kualitas hingga mencapai 5 tahun.
2. Klasifikasi berdasarkan skala penyimpanan
Penyimpanan skala kecil
Sistem penyimpanan skala kecil kapasitasnya tidak lebih dari 1 ton dan biasanya dilakukan oleh petani.
Penyimpanan skala menengah
Penyimpanan skala menengah dapat menampung bahan yang disimpan hingga kisaran 100 ton. Kebanyakan skala penyimpanan ini memiliki kapasitas antara 2-50 ton dan sangat sedikit yang mencapai lebih dari 50 ton. Penyimpanan skala menengah ini digunakan dalam pabrik untuk penyimpanan sementara biji-bijian.
Penyimpanan skala kecil
Penyimpanan skala besar kapasitas penyimpanannya antara 100-1000 ton. Hal ini digunakan baik untuk penyimpanan sementara atau
penyimpanan secara permanen dari jumlah yang sangat besar berbagai produk pertanian. Penyimpanan skala besar ini membutuhkan biaya awal sangat besar namun secara umum akan mengurangi biaya operasional produksi.
3. Klasifikasi penyimpanan berdasarkan prinsip sistem operasi penyimpanan
Penyimpanan fisik
Penyimpanan fisik menggunakan prinsip-prinsip fisika untuk mencapai penyimpanan dan pengawetan kualitas produk yang disimpan.
Lingkungan fisik yang meliputi kadar air, suhu, dan kelembaban relatif dalam sistem penyimpanan umumnya dikontrol dan dimanipulasi untuk memperlambat dari aktivitas-aktivitas penyebab kerusakan atau juga untuk mencegah kerusakan. Cara yang dilakukan misalnya dengan penyimpanan dingin atau melakukan kontrol lingkungan
Penyimpanan kimia
Penyimpanan kimia menggunakan bahan-bahan kimia untuk menghentikan atau memperlambat aktivitas penyebab kerusakan.
Penggunaan bahan kimia misalnya lilin, atelic atau serbuk atau tablet phosphosene untuk mencegah respirasi atau juga investasi serangga dalam produk yang disimpan. Beberapa bahan kimia yang ditambahkan pada proses penyimpanan bersifat racun dan dalam penggunaannya harus dikontrol secara ketat.
Penyimpanan biologi
Penyimpanan biologi menggunakan agen biologi khususnya mikroorganisme untuk menghentikan atau memperlambat aktivitas penyebab kerusakan atau memperpanjang umur simpan produk. Hal ini merupakan suatu cara yang baik sebagai aplikasi bioteknologi dalam bidang pertanian.
C. Perawatan Barang Selama Penyimpanan
1. Melakukan pengecekan barang dan melakukan perawatan secara periodik.
Hal ini dimaksudkan agar barang tidak mengalami kerusakan yang parah.
2. Menjaga gudang dari kebocoran atap. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga gudang dari berbagai ancaman cuaca baik itu panas matahari maupun hujan.
3. Menghindari penempatan barang yang dapat mempengaruhi kualitas maupun kerusakan barang. Misalnya ada barang yang harus dihindarkan dari bau yang tajam seperti durian, alkohol, maupun bahan kimia lain.
4. Mengecek instalasi listrik secara periodik. Hal ini bertujuan untuk menghindari terjadinya konsleting listrik yang sewaktu-waktu dapat terjadi.
5. Gunakan metode FIFO untuk menghindari kadaluwarsa dan kerusakan barang, yaitu mengeluarkan barang yang pertama masuk.
6. Menyediakan alat pemadam kebakaran.
7. Mengatur aliran temperatur udara. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga suhu ruangan karena ada beberapa barang yang mungkin akan terbakar atau bahkan meledak pada suhu-suhu tertentu.
8. Memberi alas untuk setiap barang agar terhindar dari kelembaban. Barang- barang seperti almari kayu haruslah tetap kering agar tidak dimakan rayap.
9. Barang berat dan besar di bagian bawah, barang ringan dan kecil di atas. Hal ini berkaitan dengan penyusunan barang yang bertujuan untuk menjaga kualitas barang.
10. Barang – barang kecil yang sejenis dan mudah dicuri diletakkan ditempat khusus yang aman atau terkunci.
Barang-barang disimpan menurut jenisnya, oleh karenanya dalam penyimpanan harus dikelompokan, dengan memperhatikan prosedur sebagai berikut:
a. Mengelompokan golongan barang b. Mengelompokan jenis barang
c. Mengelompokan sub golongan barang d. Mengelompokan article
e. Mengelompokan merek atau cap gudang (Diyahwati, dkk)
D. Penyimpanan Toner Lidah Buaya
Produk perawatan kulit lebih mudah terpapar bakteri setelah dibuka. Artinya, temperatur memicu produk kecantikan tersebut lebih cepat kadaluwarsa dan manfaatnya pun bisa berkurang. Tempat penyimpanan produk terbaik skin care termasuk toner adalah di suhu dingin dan gelap, terutama produk-produk yang mengandung retinol atau salicylic acid. Maka dari itu, produk toner setelah
selesai proses produksi tetapi belum didistribusikan disimpan terlebih dahulu di tempat gelap dan temperatur rendah.
DAFTAR PUSTAKA
Diyahwati, dkk. PENYIMPANAN DAN PENGGUDANGAN : TIPE - TIPE PENYIMPANAN. RISTEKDIKTI.
Direktorat Sayuran Dan Tanaman Obat Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian. 2019. Standar Operasional Prosedur (SOP) Budidaya Lidah Buaya (Aloevera). Cetakan ke-4.
Furnawanthi, I. (2002). Khasiat dan Manfaat Lidah Buaya. Jakarta: Agro Media.
Pustaka.
Hambali, dkk. 2015. Membuat aneka Herbal Tea. Jakarta: Penebar Swadaya.
Klimchuk, Marianne dan Sandra A. Krasovec. 2006. Desain Kemasan. Jakarta:
Erlangga.
Kotler, Philip. 1999. Manajemen Pemasaran. Jilid II. Edisi Milenium. Jakarta:
Prenhallindo.
Purbaya, J.R. (2003). Mengenal Dan Memanfaatkan Khasiat Aloe vera (Lidah. Buaya). Bandung: CV Pioner Jaya.
Rangkuti, Freddy. 2005. Analisis SWOT: Teknik Membedah Kasus Bisnis. Jakarta:
Gramedia.
Wahjono, E. dan Koesnandar. (2002). Mengebunkan Lidah Buaya secara Intensif.
Jakarta: AgroMedia Pustaka.
Suryowidodo, C.W. 1988. Lidah Buaya (Aloe vera) sebagai Bahan Baku Industri.
Warta IHP. Bogor : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Hasil Pertanian (BBIHP).