• Tidak ada hasil yang ditemukan

Yesus: Allah Yang Menderita menurut Walter Kasper

N/A
N/A
Past Present

Academic year: 2023

Membagikan "Yesus: Allah Yang Menderita menurut Walter Kasper"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Yesus: Allah Yang Menderita menurut Walter Kasper Pengantar

Adanya penderitaan dan kejahatan menjadi teka-teki dalam hidup manusia. Keberadaannya menghantar manusia pada pertanyaan akan eksistensi Allah. Salah satu pertanyaan akan eksistensi Allah termuat dalam pernyataan Epikuros (300 SM) yang dikutip oleh Adrianus Sunarko dalam karyanya Teologi Kontekstual bahwa Allah mau meniadakan penderitaan dan kejahatan atau tidak dapat, atau ia dapat tetapi tidak mau, atau tidak mau dan tidak dapat, atau ia mau dan dapat melakukannya. Jawaban atas pernyataan Epikuros tersebut memiliki konsekuensi.

Misalnya, jika Allah mau tetapi tidak dapat meniadakan penderitaan, berarti Allah tidak mahakuasa, Ia lemah. Di lain pihak, jika ia dapat tetapi tidak mau, berarti Allah tidak baik.

Selain itu, apabila Allah tidak mau dan tidak dapat meniadakan penderitaan, lantas dari mana asal penderitaan? Namun, jika Allah tidak mau dan tidak dapat, maka Allah bukanlah seorang Allah.1

Sebagai jawaban atas ilustrasi ini, maka kelompok akan memperkenalkan suatu perspektif yang bersumber dari pemikiran Walter Kasper tentang Kristologi. Kristologi Walter Kasper ini diharapkan menjawab keraguan akan eksistensi Allah berhadapan dengan adanya penderitaan di bumi. Dalam terang iman Katolik, kelompok akan menyajikan ulasannya menggunakan metode kepustakaan yang akan terbagi ke dalam beberapa bagian sebagai berikut. Pertama, kelompok akan menguraikan biografi singkat Walter Kasper. Kedua, kelompok akan menjelaskan kristologi Walter Kasper. Ketiga, kelompok akan menambahkan sedikit relevansi terkait pemikiran tokoh yang bersangkutan.

Biografi Singkat tentang Walter Kasper

Walter Kasper lahir di Heidenheinan der Brenz, Jerman, pada tanggal 05 Maret 1933.

Kasper sendiri memiliki cita-cita untuk menjadi seorang imam. Keinginannya itu begitu kuat sehingga ia ingin tinggal di dioses rumah penelitian Rottenburg-Stuttgart untuk seminari The Wilhelmstift, sewaktu belajar di University of Tubingen dari tahun 1952 hingga 1956.

Keinginannya itu terwujud pada tanggal 16 April 1957 ketika ia ditahbiskan menjadi seorang imam oleh Uskup Karl Leiprecht. Perjalanan hidupnya terus berlanjut hingga pada tanggal 17 Juni 1989, ia ditahbiskan menjadi uskup dan membaktikan diri pada tugas kegembalaan dan

1Adrianus Sunarko, Teologi Kontekstual (Jakarta: Obor, 2016), 51.

(2)

pelayanan.2 Ia memimpin Rottenburg-Stuttgart selama 10 tahun sampai ia diangkat oleh Paus Yohanes Paulus II menjadi Sekretaris Dewan Kepausan untuk Ekumene dan Komisi Dialog antara Kristen-Yahudi. Peristiwa ini terjadi ketika ia melakukan mutasi ke Roma pada 03 Maret 1999 atas kehendak paus. Setelah itu, Paus mengangkatnya menjadi kardinal pada 21 Februari 2001, hingga ditunjuk sebagai Presiden Dewan Kepausan dan Komisi. Pada tanggal 01 Juli 2010, ia pensiun setelah bekerja selama sembilan tahun dalam tugas yang bersangkutan.

Konteks dan Kristologi Walter Kasper

Kristologi Walter Kasper sebenarnya ingin melengkapi model teologi yang terlalu metafisis menjadi sebuah karya teologi yang lebih konkret. Hal ini sejalan dengan amanat Konsili Vatikan II untuk membaharui kehidupan Gereja melalui semboyan aggiornamento, yakni Gereja berusaha membaharui diri dengan kemajuan zaman. Dalam hal ini, Gereja harus relevan. Meskipun demikian, Gereja tidak boleh larut dalam kemajuan zaman tersebut, tetapi tidak boleh tertutup terhadap kemajuan zaman. Oleh karena itu, gereja perlu merefleksikan secara mendalam dasar hidupnya, yaitu Yesus Kristus bagi para pengikutnya pada saat ini.3 Model Kristologi Walter Kasper sebenarnya menjawab pertanyaan yang relevan di atas. Bagi Walter Kasper, studi mengenai Yesus Kristus dalam sejarah dapat memungkinkan siapa pun dalam menerimanya secara logis. Hal ini mendorongnya agar tidak mengikuti pemikiran Abad Pertengahan yang tidak relevan dengan situasi zaman modern. Zaman modern biasanya memiliki tendensi positivistik. Oleh karena itu, Kasper sangat menekankan sisi Yesus historis yang menampilkan peristiwa Yesus Kristus yang nyata terjadi di bumi. Hal ini tentu sangat membantu umat Kristen dalam merefleksikan pribadi dan karya Yesus Kristus dalam kehidupannya.

Selanjutnya, Kasper kemudian membedakan tiga pendekatan kristologinya, yaitu perspektif kosmologis (Teilhard de Chardin), antropologis (Karl Rahner) dan universal history (Jurgen Moltmann). Baginya, ketiga pendekatan ini cenderung melihat iman sebagai perkara filsafat atau ideologi semata.4 Hal ini berarti pendekatan-pendekatan tersebut tidak memperhatikan, bahkan mengabaikan sisi historis Yesus Kristus. Oleh karena itu, Walter Kasper mulai menjawab pertanyaan terkait identitas Yesus Kristus dengan menelaah sisi historis-Nya.

Pendekatan ini memberi perhatian pada pribadi Yesus yang menderita dan disalibkan demi 2 Kristin M Colberg, Robert A. Krieg (ed.), The Theology of Cardinal Walter Kasper: Speaking Truth in Love (Amerika: Liturgical Press, 2014), xv.

3 Randy L. Stice, “Jesus The Christ: The Christology of Walter Kasper” dalam The Heythrop Journal 49 (2008):

240.

Walter Kasper, Jesus The Christ (London: T & T Clark International, 2011), 5-6.

(3)

keselamatan manusia. Hal ini menarik sebab Kasper melihat bahwa Yesus, Dia yang ilahi dan Mahatinggi, merendahkan diri dalam peristiwa inkarnasi.

Pencarian Yesus historis ini menempatkan kebangkitan sebagai titik tolak penyingkapan identitas Yesus.5 Hal ini menegaskan bahwa fokus kristologi Kasper adalah kebangkitan.

Kebangkitan menjadi awal mula pengakuan Yesus sebagai Kristus yang dalam perkembangan selanjutnya diwartakan oleh para rasul. Walter Kasper sendiri mengemukakan tiga tugas kristologi.6 Pertama, kristologi yang ditentukan secara historis dengan mengkaji jati diri Yesus dan tugas perutusan-Nya dengan menggunakan pendekatan sejarah (penyelidikan sejarah).

Kedua, kristologi yang bertanggung jawab secara universal. Tugas ini berkaitan dengan pemahaman kristiani terhadap realitas (ontologis) secara umum.7 Ketiga, kekristenan yang ditentukan secara soteriologis. Bagian ini menggabungkan dua tugas sebelumnya. Penekanannya adalah kesatuan antara pribadi yesus dan sejarahnya. Artinya kristologi dan soteriologi harus dilihat sebagai keseluruhan, satu kesatuan. Sampai pada titik ini, kelompok ingin menegaskan kembali bahwa Kasper sebenarnya sedang mengkritik teologi skolastik yang sangat abstrak. Hal membuat iman seolah-olah jauh dari pengalaman konkret umat. Teolog skolastik juga memisahkan doktrin kemanusiaan dan keilahian dari doktrin soteriologi (karya dan pekerjaan Yesus).

Yesus: Allah yang menderita

Sisi historis Yesus ini mengantar kita pada peristiwa Yesus Kristus. Yesus menjadi manusia, diutus Bapa, demi terwujudnya karya keselamatan Allah. Yesus yang menderita demi menebus dosa-dosa kita. Dia mati di salib demi keselamatan kita. Kemudian, ia bangkit dari antara orang mati. Kita mengakui dia adalah Kristus karena Roh Kudus. Artinya, Roh Kudus-lah yang membantu dan memampukan kita untuk menyadari identitas Yesus.

Kesediaan Yesus (Allah) untuk merendahkan diri menjadi manusia dan menebus manusia merupakan ungkapan kasih-Nya kepada manusia. Ia rela mati karena kasih-Nya kepada kita.

Allah Bapa yang tidak kelihatan menyatakan diri-Nya dalam Allah Putra, Yesus Kristus, untuk menjadi sama dengan manusia kecuali dalam hal dosa. Yesus Kristus sungguh Allah dan sungguh manusia menjalani pengorbanan yakni menderita dan wafat di salib. Sekalipun

5 Randy L. Stice, “Jesus The Christ: The Christology of Walter Kasper,” 243.

6Walter Kasper, Jesus The Christ, 8-11.

7 Randy L. Stice, “Jesus The Christ: The Christology of Walter Kasper,” 249.

(4)

demikian, Yesus berani melakukan itu semua. Dia tidak menolaknya. Hal ini setidaknya membantu kita dalam menjalani kehidupan sebagai seorang beriman. Artinya, hidup Yesus memberikan teladan bagi kita untuk menjalani kehidupan kita. Ia menjadi standar sekaligus kriteria kemana hidup kita diarahkan. Selain itu, penderitaan Kristus juga mengungkapkan bahwa keselamatan membutuhkan pengorbanan. Penderitaan Kristus juga mengajarkan kita bersikap terhadap penderitaan kita. Sebagaimana Kristus yang tidak menyerah dan menjalani penderitaannya hingga akhir, kita pun diajak untuk berjuang mengatasi dan melewati penderitaan kita. Dari Kristus, kita belajar bahwa setelah salib yang mengantar-Nya pada kematian, ada kebangkitan dan kemuliaan. Dengan demikian, sikap kita di hadapan penderitaan sudah jelas, yaitu berjuang dan memaknainya dan bukan menyalahkan Allah, apalagi berpaling dari pada- Nya.

Relevansi Pemikiran Walter Kasper dengan Situasi Pandemi Covid-19

Di tengah situasi pandemi covid-19 yang tidak kunjung berakhir, penderitaan manusia dibenturkan dengan persoalan iman. Maut seakan berada di hadapan manusia. Allah yang selayaknya adalah kasih tampaknya berdiam diri dengan penderitaan manusia. Eksistensi Allah diragukan. Dimanakah Allah? Di sisi lain, bukannya memperkuat pengharapan akan Allah, arus ateisme justru menganggap aksi sosial selama pandemi merupakan bentuk humanisme. Tema penderitaan kini dipertegas oleh kaum ateisme. Hal ini dinyatakan oleh Robert A. Cook, Ketua Aktivisme untuk Iowa Atheists and Freethinkers bahwa aksi solidaritas ini murni merupakan humanisme yang didasarkan perhitungan moral: alasan, empati dan pengalaman manusia–Allah tidak dibutuhkan.8

Berdasarkan tatanan teologi-kristologi Kasper, penderitaan Yesus dapat menjawab pertanyaan di atas. Dalam sejarah manusia, penderitaan itu niscaya. Sejak awal penderitaan-Nya, Yesus justru selalu mengarahkan diri-Nya pada peristiwa salib. Melalui penderitaan, Yesus sungguh membuktikan kasih Allah yang memberikan Diri-Nya sehingga manusia mampu bersatu dengan-Nya. Bagi Kasper, “Allah yang menderita” pada dasarnya tidak berusaha mengilahikan realitas penderitaan melainkan Allah menebusnya. Singkatnya, penderitaan

8 https://www.desmoinesregister.com/story/opinion/columnists/iowa-view/2020/05/07/covid-19-iowa-atheist- see-hope-my-neighbors-deeds/3075664001/, Diakses pada Senin, 1 Maret 2021, pkl. 21.05 WIB.

(5)

manusia kiranya semakin mengarahkan manusia (umat Kristiani) untuk berharap pada kasih dan kerahiman Allah.9

Kemudian, berkaitan dengan ateisme, Kasper menegaskan kembali bahwa peristiwa salib menjadi bukti nyata Allah yang menderita, yang tidak menutup mata dengan penderitaan manusia. Dalam konteks iman kristiani, penderitaan yang tidak dapat dihindari dan harus diterima hendaknya disikapi dengan harapan. Penderitaan dimaknai secara spiritual, yakni hidup dalam pengharapan.10 Dengan demikian, umat kristiani hendaknya menyikapi pandemi covid-19 dengan perjuangan dan harapan, tanpa perlu menyalahkan dan mempertanyakan eksistensi Allah.

Penutup

Penderitaan manusia yang seyogyanya niscaya harus dimaknai dan disandingkan dengan Allah yang menderita. Hal ini menjadi dasar dalam kristologi Kasper, yakni Yesus-historis.

Peristiwa salib dijadikan Kasper sebagai kacamata iman dalam menyikapi penderitaan. Pada dasarnya Kasper tidak menjelaskan sejarah penderitaan manusia. Hal ini berdampak pada kristologinya yang tidak menyentuh solusi praktis yang sangat dibutuhkan pada zaman ini demi menjawab persoalan iman. Namun pada akhirnya, Kasper selalu berusaha menempatkan penderitaan dalam konteks pengharapan.

Daftar Pustaka

Colberg, Kristin M. dan Robert A. Krieg (ed.). The Theology of Cardinal Walter Kasper:

Speaking Truth in Love. Amerika: Liturgical Press, 2014.

Kasper, Walter. Jesus The Christ: New Edition. London: T & T Clark International, 2011.

Kasper, Walter. The God of Jesus Christ. London: Bloomsburry Academic, 2012.

Stice, Randy L. “Jesus The Christ: The Christology of Walter Kasper.” The Heythrop Journal 49 (2008): 240.

Sunarko, Adrianus. Teologi Kontekstual. Jakarta: Obor, 2016.

https://www.desmoinesregister.com/story/opinion/columnists/iowa-view/2020/05/07/covid-19- iowa-atheist-see-hope-my-neighbors-deeds/3075664001/ Diakses pada Senin, 1 Maret 2021, pkl. 21.05 WIB.

9 Walter Kasper, The God of Jesus Christ (London, Bloomsburry Academic, 2012), 197.

10 Walter Kasper, The God of Jesus Christ, 197.

Referensi

Dokumen terkait