• Tidak ada hasil yang ditemukan

KELOMPOK 6 MANAJEMEN STRES PTSD (Post Traumatic Stress Disorder)

N/A
N/A
nurissyifaauliyah

Academic year: 2024

Membagikan "KELOMPOK 6 MANAJEMEN STRES PTSD (Post Traumatic Stress Disorder)"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

PTSD

(Post Traumatic Stress Disorder)

Disusun Oleh Kelompok 6 : 1. M. Rifki Wicaksono

(202060161)

2. Putri Wulandari (202160071)

3. Intan Rosalia (202160075)

4. Berliana Wafiroh (202160084)

(2)

Pengertian Trauma

Holland mengartikan trauma adalah suatu peristiwa yang bersifat mengejutkan dan

tidak disangka, situasi yang tidak biasa (diluar keseharian), menimbulkan rasa tidak berdaya, mengancam kehidupan, baik secara

fisik maupun emosional (Hatta, 2016).

Menurut Cavanagh dalam Mental Health Channel menyatakan tentang pengertian

trauma adalah suatu peristiwa yang luar biasa yang menimbulkan luka dan

perasaan sakit, tetapi juga sering diartikan sebagai suatu luka atau perasaan sakit berat akibat sesuatu

kejadian luar biasa yang menimpa seseorang langsung atau tidak langsung

baik luka fisik maupun luka psikis atau kombinasi kedua-duanya (Hatta,

2016).

Kata trauma, berasal dari

akar kata bahasa Yunani

“tramatos” yang berarti luka yang bersumber

dari luar (M ardiyati,

2015).

Trauma dalam paradigma medis

adalah seluruh aspek trauma fisik, yaitu, trauma pada kepala atau bagian

tubuh lainnya yang juga dikenal

sebagai cedera atau gangguan fungsi normal bagian tubuh yang

berasal dari benturan keras dari benda tumpul

maupun tajam

(Mardiyati, 2015).

(3)

Pengertian Setres Pasca Trauma

Stres traumatis didefinisikan sebagai peristiwa yang melibatkan ancaman serius terhadap kehidupan atau integritas fisik, baik terhadap diri sendiri

atau orang lain (misalnya, penghancuran rumah atau komunitas yang menimbulkan perasaan teror dan ketidakberdayaan yang ekstrem) (DSM-

IV, APA, 1994).

N ational Institute of M ental H ealth (N IM H ) mendefinisikan PTSD sebagai gangguan berupa kecemasan yang timbul setelah seseorang mengalami peristiwa yang mengancam keselamatan jiwa atau fisiknya.

Peristiwa trauma ini bisa berupa serangan kekerasan, bencana alam yang menimpa manusia, kecelakaan atau perang (Anonim, 2005d).

Menurut Hikmat (2005) mengatakan PTSD adalah sebuah kondisi yang muncul setelah pengalaman luar biasa yang mencekam, mengerikan dan

mengancam jiwa seseorang, misalnya peristiwa bencana alam, kecelakaan hebat, sexual abuse (kekerasan seksual), atau perang

(Dalam Wardhani & Lestari, 2018)

(4)

American Psychiatric Association (APA) dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder

(DSM.IV-TR), menyatakan ledakan trauma merangkum

sebagai berikut:

1.Seseorang yang mengalami, menyaksikan atau berhadapan

dengan kejadian ngeri yang menyebabkan kematian,

kecederaan serius atau mengancam fisik diri atau

orang lain,

2.Respon individu terhadap ketakutan, rasa tidak ada harapan, horror (kanak-kanak

mungkin mengalami kekeliruan tingkah laku)

(Hatta, 2016).

(5)

Perbedaan Stres & Trauma

Menurut (Wijaya, 2018) perbedaan stres dan trauma adalah sebagai berikut :

Ciri Stres Trauma

Waktu Konstan, terjadi dari hari ke hari Terjadi secara tiba-tiba dalam waktu yang singkat

Penyebab Stressor, hal-hal yang mengganggu atau dipersepsikan sebagai tekanan

Kejadian traumatik

Dampak Dapat mendukung seseorang beraktivitas secara optimal jika dikelola dengan baik

M enurunkan fungsi sosial dan kerja seseorang

Penangana n

Pengelolaan stres dimana stres digunakan untuk memicu seseorang beraktivitas dengan optimal

Pemulihan trauma agar seseorang

dapat berfungsi secara normal

kembali

(6)

Respon Fisik Dan Psikis Individu Terhadap Pengalaman Traumatik

PTSD memiliki gejala yang

menyebabkan gangguan, umumnya gangguan tersebut adalah panic attack (serangan panik), perilaku menghindar, depresi, membunuh

pikiran dan perasaan, merasa disisihkan dan sendiri, merasa tidak

percaya dan dikhianati, mudah marah, dan gangguan yang berarti

dalam kehidupan sehari -hari (Anonim, 2005b). Gejala fisik meliputi

jantung berdebar, berkeringat, gemetar, sesak nafas, sakit dada,

sakit perut, pusing, merasa kedinginan, badan panas, mati rasa

(Wardhani & Lestari, 2018).

Studi literatur yang dilakukan oleh Sarahdevina &

Yudiarso (2022), menyebutkan bahwa pada orang dewasa yang memiliki pengalaman traumatis

seringkali menunjukan gejala gangguan mental emosional seperti kecemasan dan reaksi emosi negatif yang

diikuti oleh gejala somatis seperti jantung berdebar, berkeringat dan kesulitan

bernafas (Aini & Wulan,

2023).

(7)

Tipe PTSD

1. Pengulangan pengalaman trauma, ditunjukkan dengan selalu teringat akan peristiwa yang menyedihkan yang telah dialami itu, flashback (merasa seolah-olah peristiwa yang menyedihkan terulang kembali), nightmares (mimpi buruk tentang kejadian-kejadian yang membuatnya sedih), reaksi emosional dan fisik yang berlebihan karena dipicu oleh kenangan akan peristiwa yang menyedihkan.

2. Penghindaran dan emosional yang dangkal, ditunjukkan dengan menghindari aktivitas, tempat, berpikir, merasakan, atau percakapan yang berhubungan denga n trauma. Selain itu juga kehilangan minat terhadap semua hal, perasaan terasing dari orang lain, dan emosi yang dangkal.

3. Sensitifitas yang meningkat, ditunjukkan dengan susah tidur, mudah marah/tidak dapat mengendalikan marah, susah berkonsentrasi, kewaspadaan yang berlebih, respon yang berlebihan atas segala sesuatu (Anonim, 2005a;

Anonim, 2005b).

(8)

Gejala PTSD

Menurut Everly et al. (Hatta, 2016) menyatakan bahwa ada beberapa gejala yang umum dari trauma psikologis dan PTSD yaitu:

3. Arousal Symptoms antara lain:

• Hyper vigilance (Keadaan kewaspadaan yang tinggi/

berlebihan)

• Respon kaget berlebihan,

• Gangguan tidur,

• Kesulitan berkonsentrasi, 1. Intrusive Symptoms (gejala yang

mengganggu) antara lain:

• Dapat mengalami kembali peristiwa dalam gambaran, pikiran,

kenangan, lamunan dan mimpi buruk,

• Bertindak dan merasa seolah - olah peristiwa tersebut datang kembali,

• Secara simbolis mengingat kembali penderitaan yang di hadapi.

2. Avoidance Symptoms (gejala penghindaran) antara lain:

• Menghindari tempat dan pikiran simbolis dari trauma,

• Berpanjangan dalam mengingat suatu peristiwa,

• Kehilangan minat dalam aktivitas yang penting,

• Membatasi emosi,

• Merasa tidak ada waktu depan.

(9)

Coping Pada Trauma

Menurut Hapsari dkk (2002) coping merupakan reaksi terhadap tekanan yang berfungsi memecahkan, mengurangi dan menggantikan kondisi yang penuh tekanan (Ayuningtyas,

2017). Perilaku coping juga diartikan sebagai tingkah laku dimana individu melakukan interaksi dengan lingkungan sekitarnya, dengan tujuan menyelesaikan tugas atau masalah (Ayuningtyas, 2017).

Menurut Lazarus dan Folkman menyatakan bahwa strategi coping yang merupakan respon individu terhadap tekanan yang dihadapi secara garis besar dibedakan atas dua fungsi

utama yaitu: Problem Focused Coping (PFC) dan Emotional Focused Coping (EFC)

(Ayuningtyas, 2017).

(10)

Coping Pada Trauma

Menurut Lazarus dan Folkman (Ayuningtyas, 2017) coping terdiri atas strategi yang bersifat kognitif dan behavioral.

Problem Focused Coping adalah strategi dengan cara menyelesaikan masalah yang dihadapi, sehingga individu

segera terbebas dari masalahnya tersebut.

Emotion Focused Coping adalah strategi untuk meredakan emosi individu yang ditimbulkan oleh stressor (sumber stres), tanpa berusaha untuk mengubah suatu situasi yang menjadi

sumber stres secara langsung.

(11)

Viktor Frankl (1962), seorang psikiater yang melakukan studi ilmiah tentang berbagai kamp konsentrasi menyatakan bahwa Altruisme para tahanan (dan kadang- kadang bahkan para penjaga) memungkinkan kehidupan di kamp. Menurut Frankl, para tahanan sering kali saling menjaga satu sama lain. Narapidana yang lebih berpengalaman akan memberikan nasihat tentang strategi bertahan hidup kepada pendatang baru.

Selain itu, bagi Frankl,

pemeliharaan makna atau tujuan hidup sangat penting

untuk kelangsungan hidup. Jika seorang narapidana kehilangan hal tersebut, dia juga kehilangan keinginan untuk hidup dan sering kali meninggal/bunuh diri.Yang paling penting dari semuanya adalah pertumbuhan dan perkembangan

spiritual.

Pentingnya

spiritualitas dan menjadikan makna sebagai cara untuk mengatasi

pemicu stres yang ekstrim telah menjadi hal yang sangat penting dalam studi trauma dalam dekade terakhir (Aldwin & Yancura, 2004)

Coping pada Trauma

Kamp Konsentrasi

Fase mengatasi trauma berbeda-beda berdasarkan jenis trauma diantaranya seperti trauma kamp konsentrasi, trauma pemerkosaan, dan trauma bencana alam.

(12)

A. Pemerkosaan & Pelecehan Seksual

Harvey, Orbuch, Chalisz, dan Garwood (1991) menegaskan bahwa korban pemerkosaan yang menceritakan rahasianya kepada seseorang secara cepat mempunyai hasil yang lebih baik dibandingkan perempuan yang menceritakannya belakangan. Namun, tanggapan orang kepercayaan juga penting: Perempuan yang mendapat tanggapan negatif dari orang kepercayaannya mempunyai hasil yang lebih buruk dibandingkan perempuan yang mendapat orang kepercayaan yang suportif ( Silver et al., 2000; Stephens & Long, 2000).

B. Inses

Silver, Boon, dan Stones (1983) menyatakan bahwa hanya 20% korban inses melaporkan hasil yang positif. Para perempuan ini pada dasarnya adalah mereka yang memiliki orang kepercayaan dan mampu

memahami” kejadian tersebut, terutama melalui pemahaman korban mengenai perilaku ayah mereka sebagai fungsi dari dinamika keluarga atau sebagai akibat dari penyakit mental atau gangguan karakter ayah.

Coping pada Trauma

Pemerkosaan & Pelecehan Seksual,

dan Inses

(13)

● Menurut Smith (1983), dampak bencana alam paling signifikan jika terjadi secara tiba-tiba, tidak terduga, atau berkepanjangan, dan jika terjadi pada malam hari.

● Smith (1983) mengidentifikasi empat fase adaptasi terhadap bencana alam:

a. Fase pertama (heroic), terjadi selama peristiwa tersebut dan segera setelahnya. Fase ini sering kali ditandai dengan altruisme.

b. Fase kedua (bulan madu), ditandai dengan solidaritas sosial dan upaya pembersihan.

c. Pada tahap ketiga, kekecewaan dapat mengaturnya. M asyarakat mungkin menarik diri dari upaya komunitas dan mengungkapkan perasaan negatif terhadap pemerintah, lembaga-lembaga pemerintah, terutama jika bantuan yang diberikan kurang dari yang diharapkan.

d. fase rekonstruksi, individu-individu diasumsikan bertanggung jawab, dan pada akhirnya, memiliki pemulihan dan membangun kembali komunitas mereka.

Coping pada Trauma

Bencana Alam

(14)

Contoh Kasus Individu Dengan Gangguan Stres Pasca Trauma

● Pada Desember 2016, Lady Gaga mengungkapkan bahwa dia menderita gangguan stres pascatrauma (PTSD) setelah menderita pelecehan seksual ketika dia masih remaja.  "Saya menderita PTSD. Saya tidak pernah memberi tahu siapa pun sebelumnya.

Tapi kebaikan yang ditunjukkan kepada saya oleh dokter serta keluarga saya, dan teman-teman saya, itu benar-benar menyelamatkan hidup saya,” ujar penyanyi itu mengaku di Today Show. 

● Gaga sebelumnya berbicara tentang diagnosis PTSD dan  fibromyalgia ,namun dalam pembicaraannya dengan Oprah, dia menyelami lebih dalam tentang bagaimana kedua hal tersebut dapat dihubungkan. “Saya diperkosa berulang kali ketika saya berumur 19 tahun, dan saya juga menderita PTSD akibat diperkosa dan juga tidak memproses trauma itu. Saya tidak punya siapa-siapa yang membantu saya, saya tidak punya terapis, saya tidak punya psikiater, saya tidak punya dokter yang membantu saya melewatinya,” katanya. “Saya tiba-tiba menjadi bintang dan bepergian ke luar negeri. dunia berpindah dari kamar hotel ke garasi ke limusin ke panggung, dan saya tidak pernah mengatasinya, dan tiba-tiba saya mulai merasakan rasa sakit yang luar biasa hebat di sekujur tubuh saya yang menyerupai penyakit yang saya rasakan setelah saya diperkosa.”

Lady Gaga mengidap Gangguan Stress Pasca Trauma (PTSD) akibat insiden pemerkosaan yang dilakukan oleh produser

musik saat usianya baru 19 tahun.

ht tp s: //e di tio n. cn n. co m /2 01 6/ 12 /0 6/ he al th /la dy -g ag a- pt sd / in de x. ht m l

(15)

M enurut M ayo Clinic ,

fibromyalgia adalah suatu kondisi yang ditandai dengan rasa sakit

yang meluas, kelelahan, dan kesulitan kognitif. M eskipun

dokter tidak mengetahui penyebab pasti fibromyalgia, M ayo Clinic mencatat bahwa hal ini dapat dipicu oleh trauma fisik

dan emosional, atau stres psikologis.

Selain pengobatan kimiawi, ia juga mengandalkan dialectical behavioral therapy

(DBT).

"DBT adalah cara luar biasa untuk menangani masalah mental. Cara yang kuat untuk belajar bagaimana hidup dan panduan untuk memahami

emosimu," ujar Gaga.

https://www.teenvogue.com/story/lady-gaga-oprah-mental-health-medication-fibromyalgia

https://www.fimela.com/lifestyle/read/4563836/terapi-dbt-pulihkan-kesehatan-mental-lady-gaga-dari-

gangguan-psikotik?page=2

(16)

Review Jurnal Penelitian Tentang Terapi/Coping Penderita PTSD

Hasil: Empat uji coba disertakan dalam

tinjauan ini. Temuan menunjukkan peningkatan yang signifikan pada gejala

PTSD dan BPD pada mereka yang menerima intervensi DBT dibandingkan dengan mereka

yang menerima intervensi lainnya. Namun, satu studi menunjukkan bahwa protokol paparan DBT yang berkepanjangan memberikan

hasil yang lebih baik daripada protokol DBT biasa. Khususnya, sebuah penelitian

menunjukkan bahwa NET sedikit lebih efektif daripada terapi DBT setelah 12

bulan.

Kesimpulan: Penelitian ini memberikan bukti bahwa DBT dapat digunakan untuk mengobati gejala PTSD pada individu dengan BPD. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan

protokol pemaparan yang berkepanjangan dapat memberikan hasil yang lebih baik

daripada pendekatan DBT standar.

(17)

Review Jurnal Penelitian Tentang Terapi/Coping Penderita PTSD

H asil:M etode CBT yang digunakan pada korban bencana dengan PTSD efektif untuk menurunkan

tingkat kecemasan, ketidaknyamanan, depresi, ketidakberdayaan, dan masalah perilaku dari berbagai jenis alat ukur dan populasi pasien yang

berbeda. Kajian literature ini melaporkan bahwa pengaruh positif metode CBT yang digunakan

pada korban bencana dengan PTSD dapat mempertahankan koping yang adaptif, meningkatkan sosialisasi dan melatih keberanian

serta kemandirian.

Kesimpulan:Dari beberapa artikel yang didapatkan maka dapat disimpulkan bahwa penerapan CBT memberikan pengaruh positif

pada penderita PTSD pasca bencana sehingga efektif untuk menurunkan tingkat

stress, ketidaknyamanan, kecemasan, ketidakberdayaan, masalah perilaku dan

tekanan psikologis.

(18)

Review Jurnal Penelitian Tentang Terapi/Coping Penderita PTSD

Hasil: Terapi SEFT mampu menurukan tingkat PTSD pada korban dampak erupsi

merapi pada tahun 2010.

Kesimpulan: Terapi SEFT ini mempunyai peranan dalam mengatasi berbagai masalah

fisik maupun psikologis, terutama untuk penurunan trauma pada korban bencana

seperti erupsi merapi.

(19)

Reference s

● Aini, K., & Wulan, N. (2023). Pengalaman Trauma Masa Kecil Dan Eksplorasi Inner Child Pada Mahasiswa Keperawatan Stikes Kuningan: Studi Fenomenologi. Jurnal Ilmu Kesehatan Bhakti Husada: Health Sciences Journal, 14(01), 33–40. https://doi.org/10.34305/jikbh.v14i01.684

● Aldwin, C. M. (2009). Stress, coping, and development: An integrative perspective. Guilford press.

● Astuti, R. T., Amin, M. K., & Purborini, N. (2017). Efektifitas Terapi Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) untuk Menurunkan Tingkat Stress Pasca Bencana pada Warga Pasca Erupsi Merapi Tahun 2010.

URECOL, 397-400.

● Ayuningtyas, I. P. I. (2017). Penerapan strategi penanggulangan penanganan PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) pada anak-anak dan remaja. Proceedings International Conference 1st ASEAN School Counselor Conference on Innovation and Creativity in Counseling, 47–56. http://ibks.abkin.org

● Hatta, K. (2016). Trauma dan Pemulihannya suatu kajian berdasarkan kasus pasca konflik dan tsunami. In Dakwah Ar-Raniry Press.

● Mardiyati, I. (2015). Dampak Trauma Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Raheema: Jurnal Studi Gender Dan Anak, 2(1), 26–35. https://core.ac.uk/download/pdf/291677026.pdf

● Tanvir, Z., Bokhari, M. Z., Kareem, R., & Butt, M. G. (2023). The Effectiveness Of Dbt Compared To Other Psychological Therapies In Patients With A Dual Diagnosis Of Ptsd And Bpd: A Systematic Review. Journal of Population Therapeutics and Clinical Pharmacology30(18), 1121-1133.

● Wardhani, Y. F., & Lestari, W. (2018). Gangguan Stres pada Korban Pelecehan Seksual dan Perkosaan. 5(1), 123–138.

● Wati, D. F., & Wulan, W. R. (2018). Gambaran Efektivitas Penerapan Cognitive Behavior Therapy Pada Korban Bencana Dengan Ptsd (Post-Traumatic Stress Disorder). REAL in Nursing Journal, 1(3), 95-105.

● Wijaya, Y. D. (2018). Modul Manajemen Stress Perbedaan Stres Dan Trauma. In Universitas Esa Unggul (Vol. 2, Issue 1).

(20)

CREDITS: This presentation template was created by Slidesgo, including icons by Flaticon and infographics & images by

Freepik

Thank s!

Do you have any questions?

Referensi

Dokumen terkait