Kemampuan Menulis Teks Narasi Bahasa Bugis Melalui Media Video Bencana Alam Siswa Kelas VIII SMPN 3
Watansoppeng Kabupaten Soppeng
Lukman Feri1, Kembong Daeng2, Aswati Asri3, Johar Amir4, Andi Fatimah Junus5 Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Makassar1,2,3,4,5
Email: [email protected]
Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan kemampuan menulis kerangka teks narasi bahasa Bugis melalui media video bencana alam siswa Kelas VIII SMP Negeri 3 Watansoppeng Kabupaten Soppeng; (2) mendeskripsikan kemampuan menulis teks narasi bahasa Bugis melalui media video bencana alam siswa Kelas VIII SMP Negeri 3 Watansoppeng Kabupaten Soppeng; Penelitian ini merupakan Penelitian Deskriptif Kuantitatif. Variabel penelitian yaitu kemampuan menulis narasi bahasa Bugis dengan menggunakan media video bencana alam. Sampel penelitian yaitu siswa Kelas VIII SMP Negeri 3 Watansoppeng. Teknik pengumpulan data yaitu Instrumen tersebut yaitu tes mengarang. Teknik analisis yaitu: (1) membuat daftar skor mentah; (2) Membuat distribusi frekuensi dari skor mentah; (3) Kategori taraf pencapaian belajar siswa; dan (4) membuat tabel klasifikasi kemampuan siswa sampel.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) kemampuan menulis kerangka teks narasi bahasa Bugis melalui media video bencana alam dikategorikan mampu (2) kemampuan menulis teks narasi bahasa Bugis melalui media video bencana alam dikategorikan mampu.
Keywords: Kemampuan, Narasi, Bencana Alam
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License
PENDAHULUAN
Membekali siswa dengan bermacam-macam pengetahuan. Salah satu pengetahuan yang penting adalah penguasaan dan penggunaan bahasa Bugis.
Bahasa Bugis merupakan salah satu bahasa yang sampai sekarang masih dipelihara serta dipergunakan oleh masyarakat penuturnya yang berada di wilayah Sulawesi Selatan (Syamsuryah, 2017). Agar terhindar dari kepunahan, bahasa Bugis semestinya perlu pembinaan, pemeliharaan, dan pengembangan. Salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan mutu penggunaan bahasa Bugis yaitu dengan menerapkan pembelajaran bahasa Bugis pada sekolah (Feri & Jahrir, 2020).
Pembelajaran bahasa Bugis diharapkan dapat membantu siswa mengenali kebudayaan yang ada, mengungkapkan perasaan, ide atau dan gagasannya, dan menemukan serta mengembangkan kemampuan serta imajinasi yang dimilikinya.
Selain itu, pembelajaran bahasa daerah pada K13 menjadi mata pelajaran yang diwajibkan di sekolah. Pergub No.79, Tahun 2018 Tentang pembinaan dan pengembangan bahasa daerah di Sulawesi Selatan Pasal 10 menyatakan bahasa daerah wajib diajarkan 2 jam pelajaran perminggu. Selanjutnya pada Pasal 11 menyatakan wajib berbahasa daerah setiap hari Rabu sesuai dialek masing-masing di sekolah.
Kurikulum 2013 menekankan pembelajaran bahasa berbasis teks. Pada pembelajaran bahasa Bugis di sekolah diarahkan pada empat aspek keterampilan berbahasa, mencakup keterampilan membaca, menulis, berbicara, serta mendengarkan (menyimak) (Nuzula & Sastromiharjo, 2018). Salah satu aspek dalam pembelajaran bahasa Daerah di tingkat SMP adalah keterampilan menulis. (Mardiah et al., 2018) mengatakan bahwa dalam kegiatan menulis sebaiknya menguasai lambang atau simbol-simbol visual serta aturan tata tulis, khususnya yang menyangkut masalah ejaan. Penggunaan bahasa Bugis dalam bentuk tulis meliputi berbagai kemampuan, diantaranya kemampuan menggunakan unsur-unsur bahasa, kemampuan dalam pemilihan gaya bahasa yang tepat, kemampuan mengkomunikasikan bahasa secara tertulis dan kemampuan untuk menyampaikan maksud pada pembacanya. Kemampuan untuk menyampaikan maksud pada pembacanya, dapat dilakukan dengan menulis teks narasi (Mursindong, 2018).
Pembelajaran bahasa daerah pada siswa Kelas VIII terperinci ke dalam empat teks, yaitu teks narasi, eksposisi, deskripsi, dan argumentasi. Dari keempat teks di atas acuan peneliti yaitu teks narasi. Narasi merupakan suatu bentuk wacana yang telah terjadi yang dideskripsikan dengan sejelas-jelasnya kepada pembaca (Kusumawarti & Subiyantoro, 2018). Berdasarkan Wahyono dalam (Nurwina et al., 2021), narasi merupakan suatu rangkaian kejadian atau peristiwa yang dibuat dalam bentuk karangan. Cerita yang diuraikan umumnya cerita fiktif atau sebatas rekaan dan dapat pula berupa cerita yang konkret. Tujuan umumnya ialah menyampaikan kepada pembaca amanat cerita, sedang tujuan khususnya ialah menambah wawasan, menghibur dan menyampaikan pengalaman atau informasi kepada pembaca.
Keterampilan menulis teks narasi wajib dikuasai oleh setiap siswa, sebab dengan menulis teks narasi siswa dapat menuangkan ide, gagasan atau pendapat, dan mengekspresikan pikirannya. Keterampilan menulis narasi tidak serta merta dapat diraih oleh siswa. Siswa perlu dilatih menulis narasi secara bertahap, yakni dengan melatih menentukan ide atau tema yang akan dituangkan dalam bentuk tulisan, menentukan diksi yang tepat, dan merangkainya sesuai dengan ide dan tema yang telah ditentukan sehingga menjadi suatu kesatuan yang utuh dan bermakna (Desy, 2021).
Kehadiran materi pembelajaran menulis teks narasi dalam kurikulum menunjukkan bahwa masalah yang satu ini memiliki tingkat aplikasi yang tinggi bagi
pembentukan kognitif dan psikomotor siswa. Dalam menulis teks narasi siswa berusaha menuangkan ide, gagasan atau pendapat, dan mengekspresikan pikirannya.
Namun kenyataan yang ditemui di Kelas, ternyata siswa mengalami kesulitan dalam menemukan ide dan gagasannya, sehingga ketika siswa diarahkan menuangkan ide dan gagasannya dalam bentuk karangan narasi mereka kesulitan melakukannya.
Proses latihan secara bertahap tentunya harus mendapat perhatian dan bimbingan oleh guru sehingga siswa dapat memiliki keterampilan menulis khususnya menulis narasi dengan baik dan benar. Penelitian yang dilakukan oleh (Hera, 2018) mengenai pembelajaran menulis teks narasi bugis melalui media komik siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Watansoppeng, menunjukkan bahwa kemampuan siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Watansoppeng menulis teks narasi mengalami peningkatan setelah menggunakan komik sebagai media pembelajaran.
Penelitian lainya yang dilakukan oleh (Nurwina et al., 2021) dengan judul pengaruh penggunaan media lagu bugis terhadap hasil belajar menulis teks narasi bahasa Bugis siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Watansoppeng, juga mengalami peningkatan keterampilan menulis narasi bahasa Bugis menggunakan media lagu berbahasa Bugis.
Perkembangan teknologi yang semakin pesat menjadikan media yang dipilih harus disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Media yang akan digunakan guru dalam proses pembelajaran di Kelas harus disesuaikan dengan mempertimbangkan kriteria pemilihan media yang tepat bagi siswa, dikarenakan media pembelajaran yang tepat akan dapat membuat siswa lebih aktif dalam pembelajaran, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai (Hilman, 2020). Salah satunya dengan menggunakan media audio visual dikarenakan dapat melibatkan dua indra sekaligus yaitu dengan indra penglihatan dan pendengaran. Media audio visual juga diharapkan mampu membuat pembelajaran lebih menarik, berkesan, efektif dan efisien sehingga siswa lebih bersemangat dalam mengikuti pembelajaran di Kelas.
Media audio visual adalah media yang diasumsikan efektif dalam pembelajaran menulis narasi karena melibatkan indra yaitu dengan indra penglihatan dan pendengaran. Selain itu, media audio visual dianggap tepat digunakan pada masa sekarang yang dari segi teknologi telah berkembang pesat. Media audio visual diharapkan mampu memenuhi kebutuhan guru dan siswa dalam hal penyajian materi dan bahan ajar (Hilman, 2020). Media audio visual yang digunakan dalam penelitian ini adalah media video tentang bencana alam. Media video tentang bencana alam diharapkan mampu memproyeksikan suatu peristiwa dengan baik untuk merangsang daya imajinasi dan kreativitas siswa dalam menulis narasi.
Media video tentang bencana alam dalam proses pembelajaran menulis narasi dapat digunakan untuk menampilkan peristiwa bencana alam dengan waktu yang lebih singkat meskipun pada kenyataannya peristiwa tersebut berlangsung dalam waktu yang lama. Melalui media video tentang bencana alam, siswa dapat menambah perbendaharaan kosakata melalui benda-benda, tempat dan keadaan yang ditampilkan dalam video tersebut untuk digunakan dalam menulis narasi.
Dengan demikian, siswa dapat mengembangkan ide, gagasan, rasa simpati, empati, imajinasi dan pengalaman pribadi kemudian menuangkannya dalam bentuk kesatuan utuh narasi yang baik, bermakna, dan dapat dinikmati khalayak luas (Hilman, 2020).
Masalah mendasar yang dikeluhkan oleh salah satu guru bahasa daerah di SMP Negeri 3 Watansoppeng yang merupakan tempat yang akan dijadikan lokasi oleh peneliti, pada pembelajaran bahasa daerah terdapat permasalahan yaitu pemberian tugas menulis teks narasi secara konvensional tanpa menggunakan media. Hal tersebut ditandai dengan rendahnya kemampuan siswa dalam menemukan gagasan/ide yang akan dituliskan ke dalam bentuk karangan narasi sehingga karangan narasi yang ditulis hanya seadanya, biasanya hanya terdiri atas satu paragraf saja. Dengan adanya kondisi di lapangan yang terdapat kendala pada proses pembelajaran narasi, peneliti ingin siswa lebih mengoptimalkan pembelajaran narasi melalui metode pembelajaran berbasis audio visual. Melalui penelitian ini, peneliti berharap siswa mampu memahami sepenuhnya cara menulis narasi dengan lebih baik dan dengan digunakannya media audio visual dapat membantu siswa dalam menemukan ide menulis karangan narasi.
Pembelajaran Bahasa Daerah
Awalnya pembelajaran bahasa Bugis dikenal dengan sebutan bahasa daerah, pembelajaran yang dipelajari oleh siswa jenjang pendidikan dasar SD/MI dan SMP/MTS. Seiring dengan perkembangan zaman, kurikulum pembelajaran bahasa daerah kemudian berubah menjadi muatan lokal. Bukan hanya itu muatan lokal kini telah dipelajari siswa pendidikan menengah seperti SMA/MA/SMK.
Pembelajaran merupakan komponen penting dalam proses pendidikan. Dalam proses pembelajaran, terdapat komunikasi antara pengajar dan pembelajar.
Pembelajaran bahasa daerah menggunakan metode tradisional yang rata-rata berfokus pada penghafalan abjad lontara bahasa Bugis dan penguasaan tata bahasa saja. Minat belajar siswa pada bahasa daerah Bugis juga ditemukan rendah.
Penggunaan metode pembelajaran tradisional yang dianggap monoton nampaknya dianggap mempengaruhi rendahnya minat siswa dalam belajar Bahasa Bugis tersebut. Pelajaran ini dirasa kurang mendapatkan perhatian karena kurangnya guru yang memahami bahasa daerah, alhasil guru mata pelajaran lain yang mengajarkan bahasa daerah di sekolah tersebut.
Adapun kompetensi dasar pelajaran bahasa daerah adalah program mengembangkan pengetahuan, kemampuan berbahasa, menulis, saling menghargai sesama manusia, dan kemampuan mengembangkan kemampuan yang terkait dengan bahasa daerah, serta nilai-nilai kemanusiaan. Standar kompetensi ini disusun dengan mempertimbangkan kedudukan dan fungsi bahasa daerah di Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan nasional (Syamsuryah, 2017). Menurut Alwi dan Sugono dalam (Rabiah, 2013), kedudukan bahasa daerah dapat dilihat dua sudut pandang. Pertama adalah bahasa daerah sebagai sarana komunikasi bagi para
penutur yang berasal dari kelompok etnik yang sama, dan yang kedua bahasa daerah dalam kaitannya dengan bahasa Indonesia.
Dilihat dari kedudukan yang disebutkan diatas, bahasa daerah memiliki beberapa fungsi diantaranya: 1) Sebagai lambang kebanggan daerah; 2) Lambang identitas daerah; 3) Alat penghubung di dalam keluarga dan masyarakat daerah; 4) Sarana pendukung budaya daerah dan bahasa Indonesia dan 5) Pendukung sastra daerah dan sastra Indonesia (Syamsuryah, 2017).
Salah satu upaya yang perlu dilakukan untuk mempertahankan bahasa daerah adalah dengan menggalakkan kembali pembelajaran bahasa daerah melalui jalur pendidikan yaitu melalui pengajaran bahasa daerah di sekolah-sekolah dengan menggunakan model dan perangkat pembelajaran yang menarik sehingga siswa berminat dalam belajar bahasa daerah.
Pengertian Keterampilan Menulis
Menulis adalah meletakkan simbol grafis yang mewakili bahasa yang dimengerti seseorang sehingga orang lain dapat membaca simbol tersebut yang di dalamnya terdapat pesan yang ingin disampaikan penulis. Menulis dapat dianggap sebagai suatu proses maupun suatu hasil. Selanjutnya, menulis sebagai suatu usaha untuk membuat atau mereka ulang tulisan yang sudah ada. (Semi, 1990) dalam bukunya mengungkapkan pengertian menulis adalah suatu proses kreatif memindahkan gagasan ke dalam lambang-lambang tulisan.
Menulis memberi bentuk terhadap segala sesuatu yang dipikirkan, melalui pikiran, perasaan, yang berupa rangkaian kata tertulis yang disusun sebaik-baiknya sehingga dapat dimengerti dan dipetik manfaatnya dengan mudah oleh pembacanya. Di dalam masyarakat modern seperti sekarang ini dikenal dua macam cara berkomunikasi, yaitu komunikasi secara langsung dan komunikasi secara tidak langsung. Kegiatan berbicara dan mendengar (menyimak) merupakan komunikasi secara langsung, sedangkan kegiatan menulis dan membaca merupakan komunikasi tidak langsung.
Berikut adalah beberapa pendapat para ahli tentang pengertian menulis.
Menurut (Tarigan, 1994) menjelaskan bahwa menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafis yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang tersebut dapat membaca lambang- lambang grafis tersebut. Sementara itu, (Langan, 2013) menjelaskan menulis sebagai tiga hal yakni: writing as a skill, writing as a process of discovery, dan writing as a way to communicate with others yang mempunyai arti orang percaya bahwa menulis adalah pemberian alam atau bakat alamiah, padahal menulis sebenarnya adalah keterampilan yang bisa dipelajari seperti halnya mengemudi, memasak, mengetik, dan lain sebagainya. (Astuti & Mustadi, 2014) Menulis juga sebagai proses penemuan yang membutuhkan proses perjalanan panjang dan bertahap untuk menghasilkan tulisan finalnya. Selain itu, menulis adalah cara berkomunikasi dengan orang lain. Komunikasi yang terjalin bersifat tak langsung sebab melalui bahasa tulis.
Dengan adanya tulisan, penulis dapat mengkomunikasikan gagasan atau pikirannya
kepada orang lain. Melalui tulisan penulis dapat menyebarkan informasi dan ilmu pengetahuan.
Jenis-jenis Keterampilan Menulis
Keterampilan dalam menulis menurut (Dalle & Anwar, 2019) dapat dibedakan menjadi dua sudut pandang yaitu adanya kegiatan dan produk tulisan tersebut yang kemudian diklasifikasikan dalam lima kategori sebagai berikut:
1. Eksposisi, merupakan teks yang bertujuan memberitahu, mengupas, menguraikan atau menerangkan sesuatu. Masalah yang dikemukakan dalam teks tersebut adalah informasi berupa data faktual dan suatu analisis.
2. Deskripsi, merupakan teks yang menggambarkan atau memberikan sesuatu hal.
Sebuah tulisan yang menggambarkan suatu keadaan sehingga pembaca seperti dapat melihat, mendengar, mencium, dan merasakan apa yang dilukiskan oleh penulis.
3. Narasi, merupakan jenis tulisan yang berisi rangkaian peristiwa berdasarkan urutan kejadiannya dengan maksud memberi arti pada kejadian tersebut.
4. Argumentasi, tulisan yang berisi paparan alasan dan pendapat yang memuat fakta untuk membuat suatu kesimpulan. Yang mana penulis mendukung atau menolak sebuah pendapat atau gagasan.
5. Persuasi, merupakan tulisan yang bertujuan mempengaruhi orang lain yang didalamnya memuat logika dan perasaan sebagai peranan penting dari tulisan tersebut.
Manfaat Menulis
Manfaat menulis menurut (Fachruddin, 1994), sebagai berikut:
1. Menulis membantu menemukan kembali sesuatu yang pernah kita ketahui.
Menulis dengan topik tertentu dapat merangsang pemikiran serta membangkitkan pengetahuan dan pengalaman yang tersimpan dalam bawah sadar.
2. Menulis membantu menghasilkan ide-ide baru. Tindakan menulis merangsang pikiran kita untuk terus menuangkan gagasan-gagasan yang tidak akan berkembang tanpa menulis.
3. Menulis membantu mengorganisasikan pikiran dan menempatkannya secara teratur.
4. Menulis membantu mengorganisasikan pikiran.
5. Menulis menjadikan pikiran seseorang terlihat lebih obyektif.
6. Menulis membantu kita menyerap dan menguasai informasi baru, serta memahami materi lebih baik dan menyimpannya lebih lama.
7. Menulis membantu kita dalam memecahkan masalah.
Manfaat menulis menurut (Komaidi, 2007), membagi manfaat menulis menjadi 6, yaitu:
1. Kegiatan menulis dapat menimbulkan rasa ingin tahu terhadap sesuatu yang ada di sekitar.
2. Kegiatan menulis dapat membuat seseorang untuk lebih semangat mencari dan membaca berbagai referensi sehingga dapat menambah pengetahuan tentang apa yang akan seseorang tulis.
3. Kegiatan menulis dapat melatih seseorang dalam menyusun pemikiran dan argumen secara runtut, sistematis dan logis.
4. Kegiatan menulis merupakan sarana untuk mengurangi stres karena seseorang dapat menulis tanpa diganggu oleh orang lain.
5. Kegiatan menulis merupakan salah satu hal yang dapat dilakukan untuk membantu perekonomian.
6. Dengan menghasilkan banyak tulisan dan dikonsumsi oleh khalayak banyak dapat membuat seseorang lebih dikenal dan semakin populer.
Tahapan Menulis
Menurut (Gunawan, 2017) rangkaian dalam menulis yaitu: pramenulis, pendrafan, perbaikan, penyuntingan, dan publikasi. Hal ini sejalan dengan Yunus dkk dalam (Sari, 2019) langkah-langkah teknik outline (kerangka karangan) sebagai berikut:
1. Tahap Prapenulisan, Pada tahap ini guru memberikan sebuah tema karangan yang sama pada setiap siswa, tema ini merupakan bagian inti dari keseluruhan karangan.
2. Tahap Penulisan, siswa ditugasi membuat kerangka karangan sesuai dengan tema yang disediakan. Kerangka karangan yang dibuat oleh siswa berisikan topik-topik yang nantinya akan dibahas pada karangan tersebut. Topik-topik yang dimaksud adalah persoalan atau inti permasalahan yang menggambarkan seluruh karangan.
3. Pendrafan, siswa ditugasi mengembangkan kerangka karangan yang telah dibuat dan disusun secara teratur. Kemudian pendrafan meliputi: menyusun dan mengembangkan kerangka karangan, mengembangkan kalimat utama dan kalimat penjelas,
4. Tahap pascapenulisan, tahap pascapenulisan: merupakan tahap penghalusan dan penyempurnaan karangan.
Menurut Dalman dalam (Taufiqurrahman, 2019) tahapan menulis karangan narasi adalah sebagai berikut.
1. Tentukan dulu tema dan amanat yang akan disampaikan.
2. Tetapkan sasaran pembaca kita.
3. Rancang peristiwa-peristiwa utama yang akan ditampilkan dalam bentuk skema alur.
4. Bagi peristiwa utama itu ke dalam bagian awal, perkembangan, dan akhir cerita.
5. Rincian peristiwa-peristiwa utama ke dalam detail-detail peristiwa sebagai pendukung cerita.
6. Susun tokoh dan perwatakan, latar, dan sudut pandang
Pengertian Narasi
Menurut (Semi, 1990) narasi merupakan bentuk percakapan atau tulisan yang bermaksud menyampaikan atau menceritakan suatu rangkaian peristiwa atau pengalaman manusia berdasarkan perkembangan dari waktu ke waktu. Dapat disimpulkan bahwa narasi adalah suatu bentuk wacana yang berusaha menggambarkan dengan sejelas-jelasnya kepada pembaca suatu peristiwa yang telah terjadi berdasarkan urutan waktu. Hal ini dapat diartikan bahwa dalam menulis narasi yang perlu menjadi perhatian utama adalah urutan waktu dari sebuah wacana tersebut.
Menurut (Green et al., 2006) yang menyatakan bahwa step by step instructions for how to conduct and write a narrative overview - approach are discussed, starting with appropriate preparatory work and ending with how to create proper illustrations (Petunjuk dalam menulis narasi dengan memanfaatkan bukti sintesis terbaik, membahas pendekatan, dimulai dari pekerjaan yang sesuai dan berakhir dengan cara yang tepat untuk membuat ilustrasi).
Ciri-ciri Narasi
Menurut (Keraf, 2007) ciri-ciri karangan narasi, yaitu:
1. Menonjolkan unsur perbuatan atau tindakan 2. Dirangkai dalam urutan waktu
3. Berusaha menjawab pertanyaan apa yang terjadi 4. Ada konflik.
5. Narasi dibangun oleh sebuah alur cerita.
Jenis-jenis Narasi 1. Narasi Ekspositoris
Narasi ekspositoris adalah narasi yang bersifat generalisasi atau narasi yang dapat menyampaikan suatu proses umum, yang dapat dilakukan siapa saja seperti menceritakan bagaimana seseorang menyiapkan nasi goreng, bagaimana membuat roti dan sebagainya. Narasi ekspositoris bertujuan untuk merangsang pikiran para pembaca untuk mengetahui apa yang dikisahkan. Sasaran utamanya adalah rasio, yaitu perluasan pengetahuan para pembaca sesudah membaca kisah tersebut. Narasi ekspositoris dapat bersifat khas atau khusus dan dapat pula bersifat generalisasi.
Narasi yang bersifat khusus adalah narasi yang berusaha menceritakan suatu peristiwa yang khas, yang hanya terjadi satu kali. Peristiwa yang khas adalah peristiwa yang tidak dapat diulang kembali, karena merupakan pengalaman atau kejadian pada suatu waktu tertentu.
2. Narasi Sugestif
Seperti halnya narasi ekspositoris, narasi sugestif juga berkaitan dengan tindakan atau perbuatan yang dirangkaikan dalam suatu kejadian atau peristiwa.
Seluruh rangkaian kejadian itu berlangsung dalam suatu kesatuan waktu. Tujuan atau
sasaran utamanya bukan memperluas pengetahuan seseorang, tetapi berusaha memberi makna atas peristiwa atau kejadian itu sebagai suatu pengalaman. Karena sasarannya adalah makna peristiwa atau kejadian itu, makna narasi sugestif selalu melibatkan daya khayal (imajinasi).
Unsur Kebahasaan Teks Narasi
Menurut (Rahman, 2017) yang menjelaskan beberapa kaidah unsur kebahasaan teks narasi sebagai berikut:
1. Menggunakan kata kiasan atau Metafora
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) me·ta·fo·ra /métafora/
didefinisikan sebagai "pemakaian kata atau kelompok kata bukan dengan arti yg sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan.[1], misal tulang punggung dalam kalimat "pemuda adalah tulang punggung negara".Metafora adalah majas (gaya bahasa) yg membandingkan sesuatu dengan yang lain secara langsung. Metafora adalah gaya bahasa perbandingan.
Contoh metafora: Mirip seperti pinang dibelah dua 2. Melibatkan kata kerja transitif dan intransitive
Kata kerja transitif adalah kata kerja yang diikuti oleh objek. Objek yang mengikuti bisa kata benda, frasa, atau kata ganti. Kata kerja transitif dapat diubah ke bentuk pasif. Contoh: Saya makan sebuah apel. Kata kerja intransitif adalah kata kerja yang tidak membutuhkan objek sebagai pelengkap kalimat. Tidak seperti kata kerja transitif, kata kerja intransitif tidak dapat diubah ke bentuk pasif.Contoh: Dia jatuh.
3. Menggunakan kata benda, sifat, frasa atau klausa
Penggunaan kata tersebut disesuaikan dengan topik yang diuraikan atau dinarasikan.
4. Menggunakan kata penghubung penanda urutan waktu
Contoh penanda urutan waktu seperti misalnya, pertama-tama, lalu, kemudian, ketika akhirnya selanjutnya dan lain sebagainya.
Pedoman menulis Narasi
Menurut Dalman dalam (Taufiqurrahman, 2019) langkah-langkah menulis karangan narasi adalah sebagai berikut.
1. Tentukan dulu tema dan amanat yang akan disampaikan.
2. Tetapkan sasaran pembaca kita.
3. Rancang peristiwa-peristiwa utama yang akan ditampilkan dalam bentuk skema alur.
4. Bagi peristiwa utama itu ke dalam bagian awal, perkembangan, dan akhir cerita.
5. Rincian peristiwa-peristiwa utama ke dalam detail-detail peristiwa sebagai pendukung cerita.
6. Susun tokoh dan perwatakan, latar, dan sudut pandang.
Langkah-Langkah Menulis Narasi
Menurut (Resmini et al., 2006), dalam menulis narasi, berikut ini disajikan langkah-langkah praktis menulis karangan narasi, yaitu:
1. Tentukan dulu tema dan amanat yang akan disampaikan.
2. Tetapkan sasaran pembaca kita.
3. Rancang peristiwa-peristiwa utama yang akan ditampilkan dalam bentuk skema luar.
4. Bagi peristiwa utama itu dalam bagian awal, perkembangan, dan akhir cerita.
5. Rinci peristiwa peristiwa utama ke dalam detail-detail peristiwa sebagai pendukung cerita.
6. Susun tokoh dan perwatakan, latar, dan sudut pandang.
Pengertian Media
Media dalam perspektif pendidikan merupakan instrumen yang sangat strategis dalam menentukan keberhasilan proses belajar mengajar. Sebab keberadaannya secara langsung dapat memberikan semangat tersendiri bagi siswa.
Kata media pembelajaran berasal dari bahasa latin ”medius” yang secara harfiah berarti ”tengah”, perantara atau pengantar, sedangkan dalam bahasa Arab media berarti perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan.
Gerlach dan Ely dalam (Nurwina et al., 2021) berpendapat bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Dalam pengertian ini ditarik kesimpulan bahwa guru, buku teks, dan lingkungan sekolah merupakan media. Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual dan verbal.
Jenis Media
Ada berbagai macam media pendidikan yang dikemukakan oleh para ahli.
(Hamalik, 2008) mengklasifikasikan media pendidikan menjadi lima yaitu (1) alat-alat audio visual meliputi (a) media pendidikan tanpa proyeksi contohnya papan tulis, papan planet, diagram grafik, kartu gambar, (b) media pendidikan tiga dimensi contohnya model, benda asli, globe, pameran dan museum, (c) media pendidikan yang menggunakan teknik contohnya slide, movie film, komputer, film strip, rekaman, TV, (2) bahan-bahan cetakan atau bacaan berupa buku-buku, jurnal, koran, kartu dan sebagainya, (3) sumber-sumber masyarakat, (4) kumpulan benda-benda, dan (5) kelakuan yang dicontohkan oleh guru.
Fungsi dan Manfaat Media Pembelajaran
Fungsi utama media pembelajaran pada dasarnya yaitu sebagai sumber
belajar. Suatu media pembelajaran dapat digunakan oleh guru dalam menyampaikan materi pembelajaran. Tetapi guru harus memperhatikan tujuan pembelajaran sebagai pangkal acuan dalam menggunakan media. Kemp dan Dayton dalam (Arsyad, 2011) mengidentifikasi beberapa manfaat media dalam pembelajaran yaitu:
1. Penyampaian pembelajaran lebih baku.
2. Pembelajaran bias lebih menarik.
3. Pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan diterapkannya teori belajar dan prinsip- prinsip psikologis yang diterima dalam hal partisipasi siswa, umpan balik dan
pengetahuan.
Prinsip-Prinsip Penggunaan Media Pembelajaran
Agar media pembelajaran dapat mencapai tujuan dari penggunaanya, maka diperlukan adanya beberapa prinsip atau aturan dalam penggunaan media pembelajaran tersebut. Menurut (Arsyad, 2002) media itu disiapkan untuk memenuhi kebutuhan belajar dan kemampuan siswa, serta siswa dapat aktif berpartisipasi dalam proses belajar mengajar. Sedangkan (Sanjaya, 2006) berpendapat bahwa prinsip pokok yang harus diperhatikan dalam penggunaan media pada setiap kegiatan belajar mengajar adalah bahwa media digunakan dan diarahkan untuk mempermudah siswa belajar dalam upaya memahami materi pelajaran. Prinsip- prinsip yang perlu diperhatikan agar media pembelajaran benar-benar mengajarkan siswa menurut (Sanjaya, 2006) diantaranya:
1. Media yang akan digunakan oleh guru harus sesuai dan diarahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran
2. Media yang akan digunakan harus sesuai dengan materi pembelajaran.
3. Media pembelajaran harus sesuai dengan minat, kebutuhan dan kondisi siswa.
4. Media yang akan digunakan harus memperhatikan efektivitas dan efisiensi.
5. Media yang digunakan harus sesuai dengan kemampuan guru dalam mengoperasikannya.
METODE PENELITIAN
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain penelitian yang bersifat deskriptif kuantitatif. Deskriptif kuantitatif adalah rancangan penelitian yang menggambarkan variabel penelitian dalam bentuk angka-angka atau statisti. Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan siswa Kelas VIII SMP Negeri 3 Watansoppeng yang berjumlah 131 siswa yang terbagi ke dalam lima Kelas. Peneliti menggunakan teknik Simple Random Sampling karena populasi yang ada di SMP Negeri 3 Watansoppeng dianggap homogeny, sampel penelitian ini ditetapkan siswa Kelas VIII 2 yang berjumlah 27 orang sebagai sampel penelitian.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik tes. Tes tersebut yaitu tes unjuk kerja menulis karangan narasi dalam bahasa Bugis dengan menggunakan media video bencana alam, yang terdiri dari minimal dua Paragraf yang masing masing terdiri dari minimal tiga kalimat dan dua puluh kata.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen tes. Tes yang digunakan adalah jenis tes tertulis yang berisikan pemberian tugas menulis karangan narasi dengan menggunakan bahasa Bugis. Dalam penelitian, data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan deskriptif kuantitatif. Adapun langkah-langkah menganalisis data sebagai berikut: (1) Membuat daftar skor mentah, (2) Membuat
distribusi frekuensi dari skor rata-rata (3) Klasifikasi taraf pencapaian belajar siswa;
Tabel yang digunakan untuk menentukan taraf pencapaian belajar siswa dikemukakan oleh Nurgiyantoro (2010-399) sebagai berikut:
No Interval Nilai Frekuensi Persentase (%) Kategori
1 86-100 Sangat Mampu
2 75-85 Mampu
3 70-74 Kurang Mampu
4 0-69 Tidak Mampu
Jumlah
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil
Penelitian ini menggunakan analisis data deskriptif kuantitatif. Adapun penyajian hasil analisis data, yaitu analisis statistik deskriptif. Penggambaran mengenai peroleh skor siswa dalam keterampilan menulis kerangka dan karangan narasi dapat dilihat di bawah ini:
Tabel 1. Klasifikasi Hasil Belajar Menulis Kerangka Teks Narasi Bahasa Bugis No Interval Nilai Frekuensi Persentase (%) Kategori
1 86-100 20 80 Sangat Mampu
2 75-85 3 12 Mampu
3 70-74 - - Kurang Mampu
4 0-69 2 8 Tidak Mampu
Jumlah 25 100
Sampel yang mendapat nilai 86-100 berjumlah 20 orang (80%) dengan kategori sangat mampu, sampel yang mendapat nilai 75-85 berjumlah 3 orang (12%) dengan kategori mampu, tidak ada sampel yang mendapat nilai 70-74 dengan kategori kurang mampu, dan 2 sampel yang mendapat nilai 0-69 berjumlah 2 orang (8%) dengan kategori tidak mampu.
Tabel 2. Klasifikasi Hasil Belajar Menulis Teks Narasi Bahasa Bugis pada Aspek Aspek Penggunaan Tanda Baca
No Interval Nilai Frekuensi Persentase (%) Kategori
1 86-100 4 16 Sangat Mampu
2 75-85 11 44 Mampu
3 70-74 - - Kurang Mampu
4 0-69 10 40 Tidak Mampu
Jumlah 25 100
Sampel yang mendapat nilai 86-100 berjumlah 2 orang (8%) dengan kategori sangat mampu, sampel yang mendapat nilai 75-85 berjumlah 14 orang (56%) dengan kategori mampu, sampel yang mendapat nilai 70-74 berjumlah 5 orang (20%) dengan kategori Kurang Mampu, dan 4 orang (16%) yang memperoleh nilai 0-69 dengan kategori tidak mampu.
PEMBAHASAN
1. Hasil belajar keterampilan menulis teks narasi bahasa Bugis sebelum menggunakan media video bencana alam dikategorikan mampu. Kemampuan menulis kerangka teks narasi siswa dirasa sudah sangat maksimal dikarenakan media video bencana alam menggambarkan secara jelas kejadian atau peristiwa yang telah terjadi sehingga siswa dengan mudah dalam menulis kerangka teks narasi.
2. Hasil belajar keterampilan menulis teks narasi bahasa Bugis sebelum menggunakan media video bencana alam dikategorikan sangat mampu. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran menulis teks narasi dengan menggunakan media video bencana alam mampu membangkitkan semangat, minat, dan kreativitas siswa dalam pembelajaran sehingga potensi yang ada dalam diri siswa dapat muncul sehingga lebih mudah dalam menemukan ide atau gagasan dalam menulis teks narasi.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang dilakukan serta pembahasan yang telah dikemukakan maka dapat dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Hasil belajar kemampuan menulis kerangka teks narasi bahasa Bugis melalui media video bencana alam siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Watansoppeng dikategorikan mampu, dibuktikan dengan 23 siswa (92%) yang berada pada rentang nilai 75-100 dan 3 orang (8%) yang berada pada rentang nilai 0-74.
2. 2. Hasil belajar kemampuan menulis teks narasi bahasa Bugis melalui media video bencana alam siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Watansoppeng dikategorikan mampu, dibuktikan dibuktikan dengan 16 siswa (64%) yang berada pada rentang nilai 75-100. 9 orang (36%) yang berada pada rentang nilai 0-74.
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, A. (2002). Media pembelajaran, edisi 1. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 36.
Arsyad, A. (2011). Media pembelajaran. Jakarta: PT Raja grafindo persada.
Astuti, Y. W., & Mustadi, A. (2014). Pengaruh penggunaan media film animasi terhadap keterampilan menulis karangan narasi siswa kelas V SD. Jurnal Prima Edukasia, 2(2), 250–262.
Dalle, A., & Anwar, M. (2019). Penerapan Media Flashcard dalam Pembelajaran Keterampilan Menulis Karangan Bahasa Jerman. Indonesian Journal of Educational Studies (IJES), 22(2), 89–93.
Desy, A. R. (2021). Kemampuan Menulis Teks Narasi Menggunakan Media Audio Visual Siswa Kelas VII SMP Negeri 3 Solok Semester 1 Tahun Pelajaran 2021/2022. JELISA (Jurnal Edukasi Dan Literasi Bahasa), 2(1), 121–130.
Fachruddin, A. E. (1994). Dasar-Dasar Ketrampilan Menulis.
Feri, L., & Jahrir, A. S. (2020). Efektivitas pembelajaran daring di tengah pandemi covid-19. Panrita: Jurnal Bahasa Dan Sastra Daerah Serta Pembelajarannya, 1(1), 38–42.
Green, B. N., Johnson, C. D., & Adams, A. (2006). Writing Narrative Literature Reviews For Peer-Reviewed Journals: Secrets Of The Trade. Journal of Chiropractic Medicine, 5(3), 101–117.
Gunawan, P. (2017). Penerapan Strategi Aktivitas Menulis Terbimbing (SAMT) Untuk Meningakatan Keterampilan Menulis Teks Pengumuman Siswa Kelas VII SMP Negeri 7 Rambah Rokan Hulu. Jurnal PAJAR (Pendidikan Dan Pengajaran), 1(2), 223–233.
Hamalik, O. (1994). Media Pendidikan, cetakan ke-7. Bandung: Penerbit PT. Citra Aditya Bakti.
Hamalik, O. (2008). Proses belajar mengajar. rev. ed. Jakarta: Bumi Aksara, 50–51.
Hera, A. S. (2018). Pembelajaran Menulis Teks Narasi Bugis Melalui Media Komik Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Watansoppeng. Eprints.Unm.Ac.Id.
Hilman, A. (2020). Penggunaan Media Video Penggunaan Media Video Tentang Bencana Alam Gempa Dan Tsunami Di Palu Dan Donggala, Sulawesi Tengah Terhadap Keterampilan Menulis Puisi Siswa kelas VIII SMP AL-HASRA Tahun Pelajaran 2019/2020. Jakarta: FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Keraf, G. (2007). Argumentasi dan Narasi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 136.
Komaidi, D. (2007). Aku bisa menulis: panduan praktis menulis kreatif lengkap. Sabda Media.
Kusumawarti, E., & Subiyantoro, S. (2018). Minat Belajar: Faktor Pendukung Keterampilan Menulis Karangan Narasi. SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN, 14.
Langan, J. (2013). College Writing Skills With Readings. Tata McGraw-Hill Education.
Mardiah, M., Refdinal, R., & Ridwan, R. (2018). Korelasi Kemampuan Menyusun Paragraf dan Motivasi Berprestasi Siswa dengan Keterampilan Menulis Laporan. Jurnal Pendidikan Teknologi Kejuruan, 1(2), 67–74.
Mursindong. (2018). Keterampilan Menulis Teks Narasi Bugis Melalui Pengalaman Siswa Kelas VII SMPN 1 Watansoppeng (Issue 2).
Nurgiyantoro, B. (2010). Penilaian pembelajaran sastra berbasis kompetensi.
Yogyakarta: BPFe.
Nurwina, N., Saleh, M., & Sultan, S. (2021). Pengaruh Penggunaan Media Lagu Bugis Terhadap Hasil Belajar Menulis Teks Narasi Bahasa Bugis Di Watansoppeng.
Panrita: Jurnal Bahasa Dan Sastra Daerah Serta Pembelajarannya, 1(2), 65–73.
Nuzula, K., & Sastromiharjo, A. (2018). Pembelajaran Membaca Teks Deskripsi menggunakan Model 5M Berbasis Kearifan Lokal. Seminar Internasional Riksa Bahasa, 1061–1070.
Pergub No.79. (2018). Tentang pembinaan dan pengembangan di Sulawesi Selatan.
Rabiah, S. (2013). Analisis Kritis Terhadap Eksistensi Bahasa Daerah Makassar Sebagai Muatan Lokal Di Sekolah Dasar Kota Makassar Pasca Implementasi Kurikulum 2013. 1–12.
Rahman, T. (2017). Teks dalam kajian struktur dan kebahasaan. CV. Pilar Nusantara.
Resmini, N., Churiyah, Y., & Sundori, N. (2006). Membaca dan menulis di SD: teori dan pengajarannya. Reading and Writing in Elementary School: Theory and Teaching]. Bandung, Indonesia: UPI Press.
Sanjaya, R. (2006). Membuat Katalog Komersial dengan Flash 8. Elex Media Komputindo.
Sari, D. P. (2019). Perbedaan keterampilan menulis karangan narasi dengan menggunakan teknik outline (kerangka karangan) siswa kelas v sd negeri 161 pekanbaru. JURNAL PAJAR (Pendidikan Dan Pengajaran), 3(4), 954–965.
Semi, M. A. (1990). Menulis efektif. Angkasa Raya.
https://books.google.co.id/books?id=bdB1NAAACAAJ
Syamsuryah. (2017). Kemampuan Menulis Narasi Bahasa Bugis Dengan Menggunakan Aksara Lontaraq Pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 4 Liliriaja Kabupaten Soppeng. Ekp, 13(3), 1576–1580.
Tarigan, H. G. (1994). Menulis sebagai suatu ketrampilan berbahasa.
Taufiqurrahman, M. (2019). Buku panduan menulis karangan narasi dengan media big book dua dimensi. Prosiding Seminar Nasional PGSD UNIKAMA, 3(1), 318–330.