Sebagai salah satu unit utama di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Pembinaan dan Pembinaan Bahasa berperan aktif dalam upaya peningkatan kemampuan literasi dengan menyediakan bahan bacaan berkualitas yang relevan dengan kebutuhan pembaca. Mengingat pentingnya buku ini, maka saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada Badan Pembinaan dan Pembinaan Bahasa serta para penyusun bahan bacaan literasi ini. Saya berharap buku ini dapat memberikan manfaat bagi anak-anak Indonesia, penggiat literasi, praktisi buku, dan masyarakat luas.
Mari kita bersinergi mencerdaskan bangsa Indonesia dengan meningkatkan literasi sekaligus berupaya mewujudkan kemerdekaan belajar. Terima kasih yang tak terhingga saya ucapkan kepada Tim Pemberi Literasi Bacaan LDA 2020 atas kesempatan dan kerjasamanya. Buku Cerita Suku Baduy ini berkisah tentang seorang anak bernama Dika yang pergi ke desa Baduy.
Semoga kehadiran buku ini dapat memperkuat sikap toleran yang sudah ada atau mendorong sikap tersebut pada anak-anak yang tinggal di lingkungan yang kurang beragam. Paman Ajo rutin ke kampung Baduy untuk membeli hasil pertanian atau kerajinan tangan, dua atau tiga bulan sekali. Banyak orang menyukai Baduy karena ditanam tanpa pupuk kimia dan diolah secara tradisional.
Aku pun menyetujui tantangan Paman Ajo yang berjanji akan membawaku ke Baduy dalam waktu 1 bulan.
Peraturan Suku Baduy
Kami semua beristirahat di kedai bambu, lalu memesan minuman serta makan pisang goreng dan bakwan yang dijual di sana. Kata Paman Ajo, selama di kampung suku Baduy nanti aku juga masih bisa menjamak salat karena kami berasal dari luar kota. Suku Baduy Dalam adalah suku yang masih memegang teguh ajaran nenek moyang dan adat istiadat, sedangkan suku Baduy Luar lebih terbuka.
Paman Ajo berhenti berjalan, lalu menunjukkan spanduk lebar bertuliskan Tata Tertib Masuk Suku Baduy Dalam. “Nah, ini terakhir kalinya kita bisa berfoto,” kata Paman Ajo setelah melihat wajahku yang cemberut.
Di Mana Bumi Dipijak, di Sana Langit Dijunjung
Pak Rio dan istrinya akhirnya menggunakan jasa pengiriman untuk membawa ransel besar mereka karena dirasa berat. Ibu saya juga bercerita bahwa suku Baduy itu ramah dan baik hati, namun mereka mempunyai aturan yang ketat terhadap tamu yang datang. Saya masih bisa memotret pemandangan tersebut karena Om Ajo tidak memberi tahu saya batas waktu pengambilan gambarnya.
Saat saya melihat tur ke negara lain di YouTube atau TV, saya selalu ingin melihatnya secara langsung. Tiba-tiba, anak Baduy yang seumuran denganku, tapi lebih kecil, ada di belakang kami.
Bermalam di Kampung Suku Baduy
Nah, di bawah sana ada sungai khusus laki-laki." jelas Paman Ajo sambil sibuk membersihkan ranselnya. Setelah melihat sungai tempat orang Baduy membersihkan diri, aku jadi teringat salah satu peraturan di sini kalau tidak boleh menggunakan sabun, pasta gigi dan deterjen. Suku Baduy ingin menjaga kemurnian air sungai karena air sungai akan dialirkan ke pemukiman penduduk di luar Baduy dan digunakan di sana.
Orang-orang mulai makan dengan lahap, sementara saya masih memandangi nasi dan ikan asin di piring. Saat saya makan, saya teringat mie goreng dan ayam bakar, mungkin ayam bakar yang terlalu banyak garam.
Adang Anak Suku Baduy
Dijamin nggak akan bosan, nggak bakalan ngantuk!” Ucap Putri sambil memperhatikan Adang mengasah kayu dengan pisau tajamnya. Ini Ciak asli, dia burung terkecil, tapi dia berlari paling cepat. "Tak ada TV, tak ada musik, tak ada mainan yang bisa bergerak sendiri?" aku bertanya dengan rasa ingin tahu.
Aku ingin memberitahunya bahwa Adang harusnya tetap bisa bermain karena dia masih anak-anak, sama seperti aku dan Putri. Hari itu, saya dan Putri pergi ke ladang bersama Adang dan menyaksikan dia membantu ayahnya memanen jahe merah. “Katanya warga kota suka dengan rempah-rempah yang dihasilkan suku Baduy,” kata Adang sambil menyebut nama Paman Ajo.
Kadang-kadang ada yang datang, tapi gadis-gadis di sini lebih sering di rumah membantu menjaga adik atau keponakannya." Iya lho, aku juga baru sadar kalau aku belum melihat ada gadis seumuran Putri sejak pagi. ,” kataku. “Lumbung padi itu bentuknya seperti rumah, tapi kecil sekali, dipisahkan dari pemukiman penduduk agar terhindar dari hama dan tikus,” kata Adang.
Adang menceritakan, dulu ibunya mengirik padi yang dihasilkan dari sawah Huma.
Rumah Gotong Royong
Kami berdua sepakat untuk memulai pagi sambil menunggu Putri selesai berdoa. Kata Adang, makan bersama selalu terasa nikmat. Sedangkan Adang mengajariku cara mengasah kayu untuk menghaluskan bentuk Ciak, lalu aku menulis nama Adang di tanah dengan menggunakan kayu birch agar Adang tahu cara menulis namanya. Mereka bertugas membawa batu-batu besar yang dibawa dari sungai, kemudian saling membantu ketika mengangkat tiang-tiang yang ditopang batu-batu besar tersebut.
Menjelang sore, warga sudah berhasil meninggikan atap rumah yang baru dibangun. Atapnya hanya terdiri dari atap kiri yang lebih panjang dan atap kanan yang lebih pendek. Adang berkata: Rumah di sini tidak boleh langsung menyentuh tanah, harus ditutup dengan batu dari sungai.
Menunya masih sama, ikan asin dan sayur rebus, namun kali ini dengan ubi dan pisang rebus sebagai camilan. Melihat Adang dan Putri makan dengan lahap dan menghabiskan sayur rebus dihadapan mereka, akhirnya aku jadi bersemangat untuk makan. Saya merasa malu dengan ikan asin yang saya keluhkan karena banyak durinya dan sayur-sayuran yang dimasaknya hambar.
Saya jadi berpikir bahwa makan tidak selalu karena menunya, tapi karena rasa lapar dan syukur saat menyantapnya.
Capai, tetapi Senang
Lalu dia pergi dan beberapa menit kemudian dia kembali dengan membawa sekantong gula merah di pundaknya. Kebiasaan hidup sehari-hari Adang di desa Baduy sangat berbeda dengan kebiasaan di tempat saya tinggal. Di rumah aku bukanlah anak yang suka membantu, aku bahkan tidak berpikir untuk menggunakan tenagaku.
Yang bisa saya pikirkan hanyalah bagaimana memainkan permainan yang menyenangkan, menonton acara yang menyenangkan, dan makan makanan yang saya suka. Paman Ajo dan Pak Rio tidak bisa menunda kepulangannya karena besok ada kegiatan lain. Saya tentu merindukan kesederhanaan anak-anak Baduy dan keikhlasan Adango dalam membantu masyarakat disekitarnya.
Kami mengucapkan selamat tinggal kepada pemilik rumah dan mengucapkan terima kasih atas akomodasi dan layanan makanannya. Padahal dialah Adang Adang, anak suku Baduy Dalam yang akan setia menjunjung tinggi adat istiadat dan ajaran nenek moyangnya tanpa memerlukan apa pun dari dunia luar. Kalau bosan, kamu bisa main.” Adang memberiku patung gadis kesayangannya, padahal aku tidak punya oleh-oleh apa pun.
Glosarium
Penulis
Ilustrator
Biodata
Penyunting
Kompetensi informasi adalah kemampuan untuk mewujudkan kebutuhan. informasi dan kapan informasi diperlukan, identifikasi dan lokalisasi informasi yang diperlukan, evaluasi kritis terhadap informasi, organisasi dan. untuk mengintegrasikan informasi ke dalam pengetahuan yang ada, memanfaatkan dan menyebarkannya secara efektif, legal dan etis. seperti dimuat di www.unesco.org, dikutip dari Panduan Gerakan Literasi Sekolah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2019).
Literasi Informasi
Tahukah Kamu