• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kemiskinan bukan halangan untuk Kita menjadi seorang yang lebih sukses

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Kemiskinan bukan halangan untuk Kita menjadi seorang yang lebih sukses"

Copied!
82
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Rumusan Masalah

Penelitian ini akan memberikan kontribusi pengetahuan untuk menemukan makna sosial dari tradisi mansa'a (silat desa) masyarakat Wangi-Wangi di Kabupaten Wakatobi. Mansa'a (pencak silat desa) merupakan salah satu warisan budaya lokal yang ada di kecamatan Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi.

Tujuan Penlitian

Manfaat Penelitian

Mansa'a (bela diri desa) merupakan tradisi yang masih dilakukan oleh masyarakat Wangi-Wangi. Mansa'a (bela diri desa) dapat dipertunjukkan secara berkelompok setelah acara resmi. Masyarakat Wakatobi, khususnya desa diwangi-wangi Tindoi, menganggap mansa'a (bela diri desa) merupakan tradisi yang melekat dan masih dilakukan oleh masyarakat wangi-wangi hingga saat ini.

Defnisi Operasional

KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA KONSEP

Kerangka Konsep

Kerangka konseptual merupakan acuan dalam melakukan penelitian, isi kerangka konseptual merupakan jawaban dari rumusan masalah berdasarkan kajian teori, sehingga dapat dibuat kerangka konseptual dari teori yang telah dijelaskan di atas dengan cara sebagai berikut. Peneliti akan mengkaji beberapa permasalahan yang muncul dengan mengetahui beberapa pendekatan untuk mengetahui makna sosial dari tradisi mansa'a (silat kmapung) pada masyarakat Wangi-Wangi khususnya di desa Tindoi. Mansa'a (bela diri desa) adalah permainan berbasis kaki dan tangan yang dimainkan oleh tua dan muda.

Perayaan juga dilakukan setelah acara resmi seperti parame kampo'a (pesta rakyat), kafi'a (pernikahan), gonti hotu (akekah) dan diiringi dengan musik gendang tradisional yang dimainkan oleh tetua adat. Dari hasil penelitian yang dilakukan melalui observasi dan wawancara, dapat dikatakan bahwa makna sosial yang terkandung dalam perayaan Mansa’a adalah cara masyarakat menyikapi acara silat yang dirayakan setiap selesai acara resmi seperti pernikahan dan pernikahan. pesta rakyat. Makna sosial dari tradisi Mansa'a seperti yang telah dijelaskan di atas adalah bagi masyarakat Wakatobi khususnya di desa Tindoi mengartikan Mansa'a adalah sebuah tradisi yang patut mereka lestarikan karena mereka meyakini bahwa tradisi tersebut merupakan tradisi yang baik.

METODE PENELITIAN

  • Lokasi Penelitian
  • Informan Penelitian
  • Fokus Penelitian
  • Instrument Penlitian
  • Jenis dan Sumber Data
  • Teknik Pengumpulan Data
  • Teknik Analisis Data
    • Teknik Keabsahan Data

Yang dimaksud dengan makna sosial dalam penelitian ini adalah bagaimana pandangan masyarakat terhadap tradisi mansa'a (silat desa) di Kecamatan Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi. Masyarakat Wakatobi, khususnya di Desa Wangi-Wangi Tindoi, meyakini bahwa Mansa'a (bela diri desa) merupakan tradisi yang melekat dan masih dilakukan oleh masyarakat Wangi-Wangi. Mansa'a (silat kampung) merupakan permainan yang mengandalkan kaki dan tangan serta dimainkan oleh kalangan muda maupun tua.

Berdasarkan pendapat salah seorang yang bernama WY, maka dapat dikatakan bahwa maksud dari pendapat diatas adalah mansa’a merupakan tradisi budaya masyarakat aromatik yang dilakukan setelah acara resmi seperti pernikahan, akeka dan adat. Para Pihak. Berdasarkan pendapat tokoh masyarakat bernama LB di atas, maka dapat dikatakan bahwa mansa’a merupakan sebuah tradisi yang telah lahir sejak zaman dahulu dan ada pada masyarakat Wangi-Wangi khususnya di Desa Tindoi. Berdasarkan rumusan masalah penelitian yaitu mengenai “Makna Sosial Tradisi Mansa’a (Silat Desa) Masyarakat Wangi-wangi Kabupaten Wakatobi Provinsi Sulawesi Tenggara.

GAMBARAN DAN HISTORIS LOKASI PENELITIAN

Letak geografis

Kondisi alam yang ada di Desa Tindoi dapat dikatakan memiliki sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh penduduk di kawasan tersebut. Desa Tindoi mempunyai 3 (tiga) lingkungan yaitu lingkungan Ponda, lingkungan Seru dan lingkungan Wakomba. Kelurahan Menyenangkan berpenduduk 715 jiwa, Kelurahan Ponda berpenduduk 1.066 jiwa, dan Kelurahan Wakomba berpenduduk 348 jiwa, jumlah penduduk yang diperoleh dari kantor Desa Tindoi sebanyak 2.129 jiwa dan KK (kepala keluarga) sebanyak 652 jiwa.

Penduduk di Desa Tindoi sebagian besar bekerja pada sektor pertanian, perdagangan dan perikanan/perikanan. Hanya sedikit atau sebagian dari mereka yang bekerja di bidang pendidikan karena pendidikan masyarakat masih sangat rendah, hanya sekitar 10 persen yang bergelar sarjana, mayoritas hanya bergelar SMA atau SMA.

Iklim

Curah hujan di berbagai tempat di Desa Tindoi umumnya tidak merata karena pengaruh kondisi iklim, kondisi geografis, serta perputaran dan pertemuan arus udara.

Jumlah Penduduk

Ekonomi dan Mata pencaharian

Mansa'a (pencak silat desa) dilaksanakan pada sore hari dengan melibatkan berbagai lapisan masyarakat dan acaranya dilaksanakan di lapangan terbuka. Berdasarkan penuturan salah satu orang yang bernama WA diatas, maka dapat dikatakan bahwa maksud dari pendapat diatas adalah mansa’a merupakan sebuah tradisi yang sangat-sangat menarik dan patut untuk dilestarikan kelestariannya. Berdasarkan pernyataan di atas maka dapat dikatakan bahwa yang dimaksud dengan pendapat WM adalah mansa’a merupakan tradisi yang masih dilakukan oleh masyarakat wangi-wangi dan perayaannya dilakukan setelah acara-acara resmi, baik setelah hari raya Idul Fitri maupun hari raya Idul Fitri. salat al-Adha, khitanan massal, dan pernikahan. .

Mansa'a (bela diri desa) merupakan permainan tradisional yang biasa dimainkan oleh tua dan muda setelah Idul Fitri dan Idul Adha, pesta pernikahan, dan pada saat hari raya rakyat. Sedangkan mansa'a dimainkan oleh orang tua dan anak secara berpasangan dan dikelilingi penonton. Jadi berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa: Mansa'a (bela diri desa) merupakan tradisi yang masih dilakukan oleh masyarakat Wangi-Wangi khususnya di desa Tindoi, Mansa'a (bela diri desa) mungkin dilakukan oleh beberapa orang setelah acara resmi.

Stratifikasi Sosial dan Adat

Agama dan Kepercayaan

Menurut data statistik pemerintah Kabupaten Wakatobi khususnya di desa Tindoi menunjukkan bahwa mayoritas (100%) penduduknya beragama Islam. Kesadaran masyarakat yang kuat akan pentingnya shalat lima waktu, sifat religius ini terlihat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat ketika waktu shalat tiba, mereka tampak antusias dalam menjalankan kewajibannya sebagai umat Islam, terutama masyarakat yang tinggal di sekitar masjid yang datang dengan berjalan kaki. Namun ada juga yang salat di masjid yang jauh dari rumahnya dan datang menggunakan sepeda motor.

Namun di sisi lain, masih ada sebagian masyarakat di Desa Tindoi yang tidak menjalankan kewajibannya sebagaimana lazimnya umat Islam lainnya, yaitu menghabiskan waktunya hanya untuk beraktivitas tanpa melihat bahwa waktu shalat telah tiba.

Adat Istiadat Masyarakat di Desa Tindoi

Mansa'a merupakan seni bela diri atau biasa disebut pencak silat yang melahirkan gerakan dan teknik bermain yang bahkan berbeda dengan logika. Mansa'a dimainkan secara berpasangan antara muda dan tua. Mansa'a (silat desa) merupakan permainan yang sangat seru dimainkan oleh masyarakat di Wangi-Wangi, permainan ini diadakan setelah acara resmi seperti kafi'a (pernikahan), heluluta kampo'a (pesta rakyat) dan kesempatan resmi lainnya. seperti karia'a (sunat massal). Mansa'a adalah tradisi pencak silat yang dimainkan pada sore hari oleh kalangan muda dan tua serta dihadiri oleh berbagai lapisan masyarakat. Mansa'a (bela diri desa) dilakukan setelah acara resmi seperti Idul Adha, khitanan massal dan pernikahan.

Mansa'a (bela diri desa) merupakan tradisi yang masih kuat dan dilakukan oleh masyarakat Wangi. Tradisi ini dilakukan setelah acara resmi, baik setelah salat Idul Fitri/Adha, setelah pernikahan, khitanan massal, atau bahkan di sela-sela pesta rakyat. Sebab pada nenek moyang kita, mansa'a tidak hanya digunakan sebagai tempat mencari teman atau menjalin pertemanan baru, namun jika dilihat sekarang, gerak-gerik yang dimainkannya. Mansa'a (Seni Bela Diri Desa) merupakan tradisi tradisional yang lahir dari zaman dahulu di masyarakat Wakatobi, dimana mansa'a (Seni Bela Diri Desa) merupakan kegiatan yang mempertemukan para ahli pencak silat dari berbagai aliran pencak silat yang ada di Wakatobi.

RUMUSAN MASALAH PERTAMA DAN KEDUA

Sejarah Mansa’a (silat kampung)

Berdasarkan penuturan masyarakat bernama LJ maka dapat dikatakan bahwa mansa’a merupakan tradisi yang masih dilakukan oleh masyarakat Wangi-Wangi, selain permainannya yang menyenangkan, tradisi ini juga mampu menjalin tali silaturahmi. antar generasi muda karena jika mansa'a dilaksanakan pada sore hari maka tidak hanya warga desa saja yang ikut menyaksikan acara ini, namun dari desa lain pun turut serta memeriahkan acara ini. Berdasarkan pendapat para tokoh adat di atas maka dapat dikatakan bahwa mansa’a adalah permainan tradisional yang permainannya dimainkan setelah acara-acara resmi seperti perkawinan, khitanan massal atau pada saat hari raya rakyat, acara tersebut juga diadakan pada sore hari dan sore hari. Diikuti oleh berbagai lapisan masyarakat yang diperankan oleh tua dan muda yang ingin berpartisipasi dengan meramaikan acara ini dan memainkan gerak dasar dengan gerakan yang mengandalkan kaki dan tangan. Mansa'a (silat desa) adalah acara silat yang diadakan pada saat ada acara desa (festival rakyat) atau acara tertentu yang diikuti mansa'a (silat desa) oleh generasi muda untuk menghidupkan kembali mansa'a (pertarungan desa). art), dan terkadang kami mengikuti acara tersebut untuk memeriahkannya dengan gerakan yang kami miliki.

Berdasarkan pernyataan masyarakat yang disebut LS di atas, maka dapat dikatakan bahwa mansa'a adalah suatu tradisi yang dikenal dengan sebutan pencak silat, yang masih dilakukan hingga saat ini oleh masyarakat Wangi-Wangi, yang perayaannya juga diadakan setelah acara resmi dengan partisipasi dari mereka baik muda maupun tua sangat antusias dengan permainan ini dan terkadang mereka mengikuti permainan ini dengan jurus-jurus yang sesuai dengan apa yang mereka ketahui. Mansa'a (kampung silat) biasanya dilakukan pada sore hari, mansa'a (kampung silat) mempunyai corak silat yang unik dan biasanya melibatkan kekuatan batin. Mansa'a (bela diri desa) merupakan budaya tradisional yang masih dilestarikan hingga saat ini di Kabupaten Wangi-Wangi Wakatobi, khususnya di desa Tondoi. Bagi masyarakat Wangi-Wangi khususnya di Desa Tindoi, mereka meyakini bahwa Mansa'a (bela diri desa) merupakan sebuah permainan yang sangat seru untuk disaksikan. Mungkin sebagian orang yang belum familiar akan menganggap bahwa tradisi ini tidak layak untuk ditampilkan.

Gambar 1.1 dokumentasi acara silat
Gambar 1.1 dokumentasi acara silat

Hasil Penelitian

EKSISTENSI MANSA’A (SILAT KAMPUNG) DALAM ERA

  • Alat Musik Tradisional Yang Digunakan Pada Saat Acara Silat
  • Hasil Penelitian

SIMPULAN DAN SARAN

Saran

Generasi muda diharapkan tetap menjunjung tinggi budaya yang ada dan berupaya agar gerakan-gerakan yang merupakan turunan dari nenek moyang tidak perlu dihilangkan dengan menciptakan gerakan-gerakan baru demi kepuasan diri sendiri. Pemerintah daerah khususnya pemerintah Kabupaten Wakatobi diharapkan dapat berperan aktif dalam melestarikan budaya tradisional dengan memberikan pemahaman dan melakukan kegiatan sosialisasi mengenai makna dan makna sebuah tradisi. Hubungan Daya ledak otot tungkai dengan kemampuan tendangan samping pada olahraga Pencak Silat Palu Nusantara.

Berikut ini adalah daftar informan yang ditemui peneliti pada saat melakukan penelitian di Kabupaten Wakatobi khususnya di Wangi-Wangi (desa tindoi).

Gambar 3.1 dokumentasi acara silat (mansa’)
Gambar 3.1 dokumentasi acara silat (mansa’)

Gambar

Gambar 1.1 dokumentasi acara silat
Gambar 2.1 acara silat (mansa’a) disalah satu desa yang ada diwangi-wangi
Gambar 2.2 alat musik tradisional yang digunakan dalam acara silat (mansa’a)
Gambar 3.1 dokumentasi acara silat (mansa’)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Processing Time There’s no significant There’s no significant.. As a result, the project’s objec ve of analyzing and determining the suitable work process to

Jadi berdasarkan hasil penelitian, maka peneliti menyimpulkan bahwa mappatabe merupakan sebuah tradisi yang masih dilakukan sampai sekarang di Kecamatan Kajuara dengan tujuan meminta