• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH KEPERAWATAN ANAK DAMPAK HOSPITALISASI PADA PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK

N/A
N/A
Khoirul Anam

Academic year: 2023

Membagikan " MAKALAH KEPERAWATAN ANAK DAMPAK HOSPITALISASI PADA PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH KEPERAWATAN ANAK

“DAMPAK HOSPITALISASI PADA PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK “

Dosen Pengampu : Ns. Wiwiek Retti Andriani,M.Kep

Di Susun Oleh:

1. Rahma Winda A 2. Nadia Wahyu P 3. Aura Putri Monica 4. Shindy Puji Lestari 5. Sherly Puspita A 6. Khoirul Anam 7. Devi Maharani

(P17250221008) (P17250221010) (P17250221020) (P17250221021) (P17250223029) (P17250223038) (P17250223042)

(2)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG PRODI D-III KEPERAWATAN PONOROGO

TH.2023 KATA PENGANTAR

Assalamualaikum,Wr,Wb..

Puji Syukur ke hadirat Allah SWT bila mana hingga saat ini kami masih di beri kelancaran dan kemudahan dalam menyusun dan mengerjakan makalah dengan judul “Dampak Hospitalisasi Pada Pertumbuhan Dan PerkembanganAnak“dengan mata kuliah Keperawatan Anak

Tidak lupa kami selaku anggota kelompok mengucapkan terima kasih kepada Ibu Ns. Wiwiek Retti Andriani,M.Kep selaku dosen mata kuliah Keperawatan Anak yang telah memberikan tugas ini kepada kami, sehingga kami bisa mengerjakan dengan lancar dan dapat memahami materi.

Kami juga meminta bimbingan atau mentoring apabila dalam pengerjaan tugas kami terdapat kesalahan dan harus ada yang harus kami perbaiki.

Demikian kata pengantar ini kami buat dengan sebenar-benarnya, agar makalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kami sebagai media pembelajaran kedepan-nya.

Waalaikumsalam,Wr,Wb

Ponorogo, Agustus 2023

Penulis

(3)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...

KATA PENGANTAR...ii

DAFTAR ISI...iii

BAB I PENDAHULUAN... 1.1 Latar Belakang...1

1.2 Rumusan Masalah...1

1.3 Tujuan ...2

1.4 Manfaat...2

BAB II PEMBAHASAN... 2.1 Pengertian Hospitalisasi...3

2.2 Faktor Penyebab Stres Hospitalisasi pada Anak...4

2.3 Peran Perawat Dalam Mengurangi Stres Hospitalisasi Pada Anak....4-6 2.4 Dampak Hospitalisasi Terhadap Anak...6

2.5 Hubungan Hospitalisasi Terhadap Pertumbuhan Dan Perkembangan Anak...6-7 2.6 Tabel Literatur Review...8-13 BAB III PENUTUP... 3.1 Kesimpulan...14

3.2 Saran...14

DAFTAR PUSTAKA...15

(4)
(5)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Hospitalisasi merupakan perawatan yang dilakukan dirumah sakit dan dapat menimbulkan trauma dan stress pada klien yang baru mengalami rawat inap dirumah sakit. Hospitalisasi dapat diartikan juga sebagai suatu keadaan yang memaksa seseorang harus menjalani rawat inap di rumah sakit untuk menjalani pengobatan maupun terapi yang dikarenakan klien tersebut mengalami sakit. Pengalaman hospitalisasi yang dialami klien selama rawat inap tersebut tidak hanya mengganggu psikologi klien, tetapi juga akan sangat berpengaruh pada psikososial klien dalam berinteraksi terutama pada pihak rumah sakit termasuk pada perawat.

Masalah yang dapat ditimbulkan dari hospitalisasi biasanya berupa cemas, rasa kehilangan, dan takut akan tindakan yang dilakukan oleh pihak rumah sakit, jika masalah tersebut tidak diatasi maka akan mempengaruhi perkembangan psikososial, terutama pada anak-anak. Masalah tersebut akan berpengaruh pada pelayanan keperawatan yang akan diberikan, karena yang mengalami masalah psikososial akibar hospitalisasi cenderung tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan di rumah sakit. Hal ini tentu saja akan menyebabkan terganggunya interaksi baik dari perawat maupun tim medis lain di rumas sakit.

Family center care merupakan fasilitas yang di berikan oleh paramedis kepada keluarga untuk mengurangi rasa stress anak terhadap hospitalisasi, sehingga keluarga berperan penting dalam proses penyembuhan anak, agar anak tidak merasa cemas akibat perpisahan dan memudahkan perawat untuk melakukan intervensi kepada anak.

Dampak dari hospitalisasi yang dialami anak usia prasekolah berisiko dapat menggangu tumbuh kembang anak dan proses penyembuhan pada anak.

Untuk mengurangi dampak rawat inap di rumah sakit, peran perawat sangat berpengaruh dalam mengurangi ketegangan anak. Usahausaha yang dilakukan untuk mengurangi dampak stress hospitalisasi.

(6)

1.2 Rumusan Masalah

a. Apa yang dimaksud dengan hospitalisai?

b. Apa faktor yang mempengaruhi stress hospitalisasi pada anak?

c. Apa hubungan hospitalisasi dengan pertumbuhan dan perkembangan anak?

d. Bagaimana peran perawat dalam mengurangi stress akibat hospitalisasi pada anak?

e. Apa dampak hospitalisasi terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak?

1.3 Tujuan

a. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan hospitalisai

b. Untuk mengetahui apa saja faktor yang mempengaruhi stress hospitalisasi pada anak

c. Untuk mengetahui apa saja hubungan hospitalisasi dengan pertumbuhan dan perkembangan anak

d. Untuk mengetahui bagaimana peran perawat dalam mengurangi stress akibat hospitalisasi pada anak

e. Untuk mengetahui apa saja dampak hospitalisasi terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak

1.4 Manfaat

Dengan dibuatnya makalah ini,diharapkan bahwa makalah ini dapat menambah pengetahuan serta informasi tentang dampak stress akibat hospitalisasi pada anak dalam dunia keperawatan.Dan dari makalah ini semoga bisa menjadi penambah ilmu dan wawasan bagi kami penulis.

1. Manfaat Teoritis

Di dalam penulisan ini diharapkan agar dapat memberikan materi mengenai dampak stress akibat hospitalisasi pada anak.

2. Manfaat Bagi Diri Sendiri

Penulisan ini sebagai salah satu syarat bagi penulis untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Anak.

(7)

BAB II

ISI DAN PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Hospitalisasi

Hospitalisasi merupakan perawatan yang dilakukan dirumah sakit dan dapat menimbulkan trauma dan stress pada anak yang baru mengalami rawat inap dirumah sakit. Hospitalisasi dapat diartikan juga sebagai suatu keadaan yang memaksa seseorang harus menjalani rawat inap di rumah sakit untuk menjalani pengobatan maupun terapi yang dikarenakan anak tersebut mengalami sakit.Pengalaman hospitalisasi dapat mengganggu psikologi seseorang terlebih bila seseorang tersebut tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan barunya di rumah sakit. Pengalaman hospitalisasi yang dialami anak selama rawat inap tersebut tidak hanya mengganggu psikologi anak,tetapi juga akan sangat berpengaruh pada psikososial anak dalam berinteraksi terutama pada pihak rumah sakit termasuk pada perawat.Dimana peran perawat sangatlah penting.

Usia perkembangan kognitif, persiapan anak dan orang tua,keterampilan koping dan pengaruh budaya mempengaruhi reaksi anak terhadap penyakit.Reaksi anak terhadap penyakit adalah ketakutan yang tidak diketahui,cemas karena pemisahan, takut sakit, kurang kontrol,marah dan regresi (James & Ashwill, 2007).

Penelitian membuktikan bahwa hospitalisasi anak dapat menjadi suatu pengalaman yang menimbulkan traum.tidak hanya dapat menimbulkan gangguan mental hospitalisasi juga dapat menghampat serta mempengaruhi kehidupan klien anak,dan jika hal itu terjadi maka dampak pada kehidupan pasien anak ini akan semakin pmemburuk jika tidak segera di benahi, baik pada anak,maupun orang tua.Sehingga menimbulkan reaksi tertentu yang akan sangat berdampak pada kerja sama anak dan orang tua dalam perawatan anak selama di rumah sakit (Halstroom dan Elander, 1997, Brewis, E, 1995. dan Brennan, A. 1994). Oleh karena itu betapa pentingnya perawat memahami konsep hospitalisasi dan dampaknya pada anak dan orang tua sebagai dasar dalam pemberian asuhan keperawatan (Supartini, 2002)

(8)

2.2 Faktor Penyebab Stres Hospitalisasi pada Anak a.Faktor Risiko Individu

. Risiko tertentu membuat beberapa anak lebih rentan daripada yang lain terhadap stresor rumah sakit, antara lain :

1. Temperamen

2. Kurangnya keharmonisan antara anak dan orang tua.

3. Usia terutama anak usia 6 bulan sampai 5 tahun 4. Anak laki-laki.

5. Kecerdasan di bawah rata-rata.

6. Penyebab rawat inap dan lama rawat inap (frekuensi rawat inap).

b.Perubahan Populasi Anak Yang Dirawat Di Rumah Sakit

Alasan anak-anak dirawat di rumah sakit saat ini berbeda dengan dua dekade lalu. Meskipun terdapat tren peningkatan morbiditas pada anak saat masuk rumah sakit, terdapat lebih banyak anak yang dirawat di rumah sakit dengan masalah yang lebih serius dan kompleks dibandingkan anak yang pernah dirawat di rumah sakit sebelumnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, perawatan anak berfokus pada memperpanjang masa rawat inap di rumah sakit. karena perawatan medis dan masalah yang kompleks serta diagnosis yang sulit dipahami dan masalah psikososial anak yang rumit

2.3 Peran Perawat Dalam Mengurangi Stres Hospitalisasi Pada Anak 1. Berikan Informasi Kepada Anak Dan Keluarga Secara Adekuat

Memberikan penjelasan kepada keluarga mulai saat anak akan di rawat.Menjelaskan prosedur medis yang akan di berikan kepada pasien anak.Kita sebagai perawat juga harus menjelaskan bagaimana kondisi di rumah sakit seperti contoh fasilitas rumah sakit dan siapa saja yang akan terlibat dalam proses pemberian asuhan keperawatan. Kita sebagai perawat juga harus selalu mengkomunikasikan tindakan apa saja yang akan kita berikan,dimana komunikasi ini dilakukan sebelum memberikan tindakan kepada pasien anak. Untuk

(9)

penjelasan yang akan perawat berikan sendiri kepada pasien anak bisa di sesuaikan dengan usia serta kondisi anak,dimana jika pada pasien anak perawat hosa menggunakan media pendukung seperti boneka dan mainan, Selain itu perawat juga bisa menggunakan metode cerita untuk memberikan penjelasan kepada pasien anak untuk mencapai tujuan komunikasi yang di inginkan.

2. Menghadirkan Orang Tua Atau Orang Terdekat Selama Anak Dirawat

Mengingat pada pasien anak sangat memerlukan pendamping an dari orangtuanya, sebagian besar rumah sakit di Indonesia telah memperbolehkan orang tua dari pasien anak untuk mendampingi serta menunggu anaknya,tidak hanya orang tua keluarga dari pasien pun diperbolehkan untuk menjenguk.Hal ini bertujuan untuk meminimalisir stresor yang akan di hadapi oleh pasien anak.

Menciptakan rasa aman damai melalui keluarga merupakan salah satu upaya yang bisa dilakukan.

3. Mempertahankan Rutinitas Kegiatan Anak Saat Hospitalisasi

Pada pasien anak yang menjalani proses hospitalisasi menyebabkan anak tersebut mengalami perubahan jadwal dan perubahan pola kegiatan untuk sementara waktu,hal ini juga akan berdampak pada pasien anak yaitu dapat memicu ternyata rasa tidak nyaman dan stresor pada pasien. Akan tetapi hal ini bisa di modifikasi melalui kegiatan bermain meskipun pasien berasa di rumah sakit, memperbolehkan pasien membawa mainan yang sering ia mainkan,mengajak pasien anak bercerita bahkan hingga melakukan kegiatan belajar melalui media online juga merupakan upaya yang bisa di lakukan

4. Komunikasi Efektif Untuk Meningkatkan Pemahaman

Untuk menjamin keefektifan komunikasi terutama untuk anak dengan gangguan perkembangan, maka harus dipilih metode dan media yang sesuai.

Penggunaan alat- alat tertentu, seperti social script book, alat distraksi (alat bermain) mungkin diperlukan.

(10)

5. Penataan Ruang Rawat Dan Program Bermain

Untuk mendukung perawatan anak yang optimal selama hospitalisasi, rumah sakit selayaknya dapat memfasilitasi ruangan khusus bagi anak dengan penyediaan perabotan yang berwarna cerah dan sesuai dengan usia anak, dekorasi ruangan yang menarik dan familiar bagi anak, serta adanya ruangan bermain yang dilengkapi berbagai macam alat bermain. Peran perawat adalah tetap memilah kriteria kondisi anak yang diperbolehkan bermain di ruang bermain dan berinovasi dalam jenis terapi bermain yang bersifat terapetik bagi anak yang hospitalisasi.

2.4 Dampak Hospitalisasi Terhadap Anak

Hospitalisasi pada anak dapat memberikan dampak yang kurang baik akan tetapi mendorong anak semakin menjadi dewasa.Menurut Hockenberry Wilson and Rodgers (2017) ada beberapa dampak yang dapat dialami oleh anak diantaranya yaitu :

1. Cemas terhadap perpisahan

Perpisahan dan adanya trauma merupakan stressor utama yang dirasakan oleh anak dan orang tua ketika anak dirawat, setiap anak berbeda ketika merasakan penerimaan dalam kondisi tersebut. Anak prasekolah akan menunjukkan perilaku penolakan secara verbal maupun fisik terhadap orang yang baru dikenalnya dan dilihatnya yaitu dokter dan perawat karena anak selalu ingin orang tua ada dan hadir disampingnya. Anak prasekolah memiliki respons yang sesuai dengan sumber stresnya ketika mengalami hospitalisasi, sumber stres utama anak prasekolah yaitu cemas akibat perpisahan, selain itu respons perilaku anak yang sesuai dengan tahapannya yaitu antara lain protes, putus asa, dan menerima.

2. Cedera Tubuh

Ketika anak mendapatkan tindakan invasi maka anak akan bereaksi terhadap cedera tubuh dan nyeri ketika menjalankan perawatan . Hal ini dapat membuat anak takut dan melakukan penolakan untuk tidak mau dirawat oleh perawat atau dokter, dan juga takut terhadap peralatan medis.

(11)

3. Hilangnya Kontrol

Anak memiliki keterbatasan dalam bergerak ketika dirawat dirumah sakit sehingga membuat anak kehilangan kemampuan dalam mengontrol dirinya seperti menggigit bibirnya, memukul, dan menangis atau meringis ketika akan dilakukan tindakan keperawatan dan mengalami nyeri karena tindakan invasi (diinfus, diinjeksi, dan pengambilan darah), dengan begitu anak memberitahu adanya rasa nyeri dan tetap menunjukkan adanya rasa nyeri.

4.Rasa Bersalah dan malu

Anak mempunyai kemampuan terbatas dalam memahami kejadian yang dialaminya selama pengobatan. Peristiwa tersebut dianggap sebagai peristiwa menakutkan bagi anak-anak. Inilah alasan utama mengapa anak merasa malu dan malu saat dirawat di rumah sakit

2.5 Hubungan Hospitalisasi Terhadap Pertumbuhan Dan Perkembangan Anak

Reaksi anak terhadap penyakit dapat berupa rasa cemas, takut akan sakit, kurang kontrol dalam emosi, marah tidak adaptif dan regresif. Reaksi anak usia prasekolah yang mengalami stres akibat hospitalisasi disebabkan karena mereka belum beradaptasi dengan lingkungan di rumah sakit, masih merasa asing sehingga anak tidak dapat mengontrol emosi dan mengalami stres, reaksinya berupa menolak makan, sering bertanya, menangis dan tidak kooperatif

Selain berdampak terhadap kesehatan mental di masa anak-anak, stres juga memengaruhi perkembangan emosi anak.Bukan hanya itu, perkembangan kognitif anak dan perkembangan sosial anak juga dapat ikut terkena dampak dari stres.Perubahan nafsu makan yang dialami anak karena stres juga bisa berdampak pada perkembangan fisik anak.

(12)

No .

Title,Author&Name Jurnal

Responden Hasil Penelitian Pembahasan

1. HUBUNGAN ANTARA

PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKUPERAWAT DALAM MENGATASI STRES HOSPITALISASI

PADA ANAK PRA SEKOLAH DI RUMAH

SAKIT UMUM FITRI CANDRA

WONOGIRI BAHRI, Ahmad Samsul;

SUNARYANTI, Sri Sayekti Heni;

DARYANTI, Daryanti.

HUBUNGAN ANTARA

Responden 25 perawat Rawat Inap dan 25 pasien anak dengB an hospitaslisasi.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui 56%

perilaku perawat dalam mengatasi stres hospitalisasi anak pra sekolah dalam kategori baik. Menurut Notoadmojo (2016) perilaku merupakan respons atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Oleh karena itu perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut

merespons, maka teori skinner ini disebut “S- O-R” atau Stimulus Organisme Respons.

Skinner membedakan adanya dua respons.

Penelitian Aeni (2019) menjelaskan 53,1%

perawat yang telah menerapkan perilaku caring membuat pasien merasa puas dengan asuhan yang diberikan dalam penelitian di Rumah Sakit Kabupaten Indramayu.Hasil penelitian

Berdasarkan hasil

penelitian tingkat Tingkat pengetahuan perawat dalam mengatasi stres hospitalisasi anak pra sekolah 64%

dalam kategori baik. Kategori baik dalam pengetahuan responden dapat diartikan perawat sudah mempunyai pengetahuan yang baik tentang cara- cara mengatasi stres hospitalisasi anak pra sekolah.

(13)

PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU

PERAWAT DALAM MENGATASI STRES HOSPITALISASI PADA

ANAK PRA SEKOLAH DI RUMAH SAKIT UMUM FITRI CANDRA

WONOGIRI. Avicenna:

Jurnal Penelitian Kesehatan , 2021, vol. 4,

bukan 1.

https://scholar.google.com /scholar?

hl=es&as_sdt=0%2C5&q

=makalah+mengatasi+stre s+hospitalisasi+pada+pasi

Stres hospitalisasi anak pra sekolah diketahui 52% anak mengalami stres ringan. Wong (2012), menjelaskan penyakit dan hospitalisasi sering kali menjadi krisis pertama yang harus dihadapi anak. Anak-anak sangat rentan terhadap krisis penyakit dan hispitalisasi kerena stress akibat

perubahan dari keadaan sehat biasa dan rutinitas lingkungan. Stres utama dari hospitalisasi adalah perpisahan, dan maupun rasa nyeri yang dirasakan. Hasil penelitian yang dilakukan Sartika (2017) hospitalisasi mempengaruhi tingkat

kecemasan anak toddler diketahui 87,3% tidak mengalami cemas, 12,7% anak mengalami cemas. Tidak adanya kecemasan pada anak toddler disebabkan anak didampingi oleh orang tua saat hospitalisasi, lingkungan ruang perawatan yang

(14)

en+anak+&btnG=#d=gs_c it&t=1692743750772&u=

%2Fscholar%3Fq

%3Dinfo%3AccQlDE- C0rsJ

%3Ascholar.google.com

%2F%26output%3Dcite

%26scirp%3D0%26hl

%3Des

aman dan nyaman da adanya perlengakapan permainan, mengakibatkan anak toddler dapat melakukan koping adaptif dengan baik.Berdasarkan hasil penelitian bahwa stres anak dengan hospitalisasi terjadi karena takut berpisah dengan orang tua, takut pada saat pemeriksaan kesehatan.

Reaksi yang timbul seperti menangis, sulit makan. Namun pada saat penelitian diketahui bahwa anak dengan stres ringan disebabkan anak dalam kondisi ditemani orang tua, mau berkomunikasi dengan orang lain, dan bahkan sudah dapat memahami proses pengobatan selama di rumah sakit.

2. HUBUNGAN SIKAP

PERAWAT DENGAN

STRES AKIBAT

HOSPITALISASI PADA ANAK USIA PRA

Terdapat 47 Responden didapatkan hasil sikap perawat

Hasil penelitian yang diperoleh yakni terdapat 47 responden didapatkan hasil sikap perawat kurang baik yang tidak mengalami stress berjumlah 1 responden (2,12%) dan responden dengan sikap perawat kurang baik yang

Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan chi-square yang dilihat dari fisher's exact test, di peroleh nilai p value= 0,012. Hal ini berarti nilai p lebih kecil dari nilai a (a = 0,05), maka

(15)

SEKOLAH DI RSU PANCARAN KASIH GMIM MANADO

HULINGGI, Ismanto;

MASI, Gresty;

ISMANTO, Amatus Yudi.

Hubungan Sikap Perawat Dengan Stres Akibat Hospitalisasi Pada Anak Usia Pra Sekolah Di Rsu Pancaran Kasih Gmim

Manado. Jurnal

Keperawatan, 2018, 6.1.

kurang baik, yang tidak mengalami stres

berjumplah 1 responden (2,12%) responden dengan sikap perawat

kurang baik mengalami stress

berjumplah 4 responden (8,48%)

mengalami stress berjumlah 4 responden (8,48%)Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Gaghiwu, 2013 tentang hubungan perilaku caring perawat dengan stress hospitalisasi pada anak usia pra sekolah di Irina E BLU RSUP Prof Dr. R. D. Kandau Manado. Hal ini disebabkan karena sikap perawat dipengaruhi oleh karateristik individu seperti temperamen (faktor internal) dan lingkungan seperti memiliki pengalaman pribadi yang pahit atau tidak menyenangkan (faktor eksternal).

Responden dengan sikap perawat baik dan yang tidak mengalami stress berjumlah 34 responden (72,37%) dan responden sikap perawat baik yang mengalami stress berjumlah 8 responden (17,03%). Penelitian ini sejalan dengan penelitian Tewuh2013 tentang

dengan demikian dapat dikatakan bahwa Ha diterima dan HO ditolak atau adanya hubungan yang signifikan antara sikap perawat dengan stress akibat hospitalisasi pada anak usia pra sekolah di RSU Pancaran Kasih GMIM Manado

(16)

hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan stress hospitalisasi pada anak usia pra sekolah di Irina E BLU RSUP Prof Dr. R.

DKandau Manado. Hal ini karena responden berpendapat bahwa perawat sekarang lebih ramah dan bersedia menjelaskan dengan sabar ketika keluarga bertanya tentang kondisi anak Tewuh2013 tentang hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan stress hospitalisasi pada anak usia pra sekolah di Irina E BLU RSUP Prof Dr. R. DKandau Manado. Hal ini karena responden berpendapat bahwa perawat sekarang lebih ramah dan bersedia menjelaskan dengan sabar ketika keluarga bertanya tentang kondisi anak Sejumlah faktor lain yang membuat anak-anak tertentu lebih rentan terhadap stress hospitalisasi seperti temperamen, ketidaksesuain antara anak dan orang tua, kecerdasan dibawah rata-ratastress

(17)

multiple dan kontinu misalnya sering dihospitalisasi (Wong, 2009)Sikap adalah konsep penting dalam psikologis sosial, sikap adalah kecenderungan untuk bertindak, bersepsi, serta berpikir dan merasakan situasi dan nilaiSikap bukan merupakan perilaku, tetapi merupakan kecenderungan untuk berperilaku dengan cara tertentu terhadap objek sikap. Objek sikap dapat berupa benda, orangtempat, gagasan atau situasi, misalnya sikap dalam menjaga kesehatan reproduksinya (Sukendar, 2017)Hospitalisasi adalah masuknya individu ke rumah sakit sebagai pasien dengan berbagai alasan seperti pemeriksaan diagnostik, prosedur operasi, perawatan medis, pemberian obat dan menstabilkan atau pemantauan kondisi tubuh (Saputro & Fazrin2017)

3. MANFAAT TERAPI 15 responden Hasil penelitian Menunjukkan bahwa Sebelum diberikan terapi

(18)

BERMAIN DENGAN TEKNIK BERCERITA TERHADAP

KECEMASAN AKIBAT HOSPITALISASI PADA ANAK PRASEKOLAH

DI RUANG

PERAWATAN ANAK Mustopa, A. (2019).

Manfaat Terapi Bermain dengan Teknik Bercerita terhadap Kecemasan Akibat Hospitalisasi pada Anak Prasekolah di Ruang Perawatan Anak. Jurnal Sehat Masada, 13(1), 86- 94.

pre and post

test yang

dirawat di RSUD Kota Bandung ruang perawatan anak.

responden yang memiliki tingkat kecemasansedang (46,7%) atau 7 responden dari 15 responden sebelum diberikan terapi bermain. Menunjukkan bahwa responden yang memiliki tingkat kecemasan ringan (66,7%) atau 10 responden dari 15

responden setelah diberikan terapi bermain.

Pembacaan singkat berdasarkan harga signifikasi (p),

dimana nilai p = 0,000, dimana nilai tersebut (p<0,05), maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya ada

beda ratarata antara nilai sebelum pemberian terapi bermain dengan setelah pemberian terapi bermain

bermain (Pre test) Dilihat dari segi umur anak, menunjukkan bahwa responden paling banyak

usia 5-6 tahun sebanyak 9 anak (60%).

Dan yang berusia 4-5 tahun sebanyak 6 anak (40%),

sedangkan dilihat dari

jenis kelamin responden menunjukkan bahwa responden paling banyak berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 8 anak (53,33%).Sedangkan yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 7

anak (46,67%), jika dilihat dari lama rawat anak

menunjukan bahwa responden paling banyak

anak dirawat masih kurang dari 3 hari yaitu sebanyak 9 anak (60%). Dan yang

(19)

https://scholar.google.com /scholar?

start=10&q=jurnal+dampa k+hospitalisasi+pertumbu han+dan+perkembangan+

pada+anak&hl=id&as_sdt

=0,5#d=gs_cit&t=169276 7324133&u=%2Fscholar

%3Fq%3Dinfo

%3AyW3oP4YFToMJ

%3Ascholar.google.com

%2F%26output%3Dcite

%26scirp%3D18%26hl

%3Did

dirawat sudah lebih dari 3 hari sebanyak 6 anak (40%),sebelum diberikan terapi bermain tingkat

kecemasan anak menunjukkan bahwa tingkat

kecemasan responden sebelum diberikan terapi

bermain paling banyak dengan tingkat kecemasan sedang yaitu 7 orang (46,75%).

4 PENGARUH TERAPI

BERMAIN MEWARNAI TERHADAP

PENURUNAN

KECEMASAN PADA

Responden cemas berat sebanyak 11 responden (55,0%) dan

Hasil penelitian menunjukkan terjadinya penurunan kecemasan anak setelah diberikan terapi bermain mewarnai dari nilai rata-rata (mean) 28,66667 menjadi 20,1Hal ini membuktikan terapi bermain mewarnai

Berdasarkan pada hasil penelitian yang dilakukan, respon yang muncul saat dilakukan penelitian yaitu anak cenderung diam ketika diajak bicarategang, takutmenangis ketika

(20)

ANAK USIA PRASEKOLAH

kutipan

AMBARWATI, Retno, et al. Pengaruh Terapi

Bermain Mewarnai

Terhadap Penurunan Kecemasan Pada Anak Usia Prasekolah. Jurnal Keperawatan GSH, 2018, 7.1: 24-29.

https://scholar.google.com /scholar?

hl=id&as_sdt=0%2C5&q

=responden+dampak+hos pitalisasi+pertumbuhan+a nak&btnG=

cemas sedang 9 responden (45,0%), sedangkan setelah terapi bermain

menunjukkan

dari 20

responden frekuensi tertinggi anak dengan tingkat kecemasan berat, yaitu sebanyak 14 responden (70%) dan frekuensi terendah anak

membantu mengurangi ketegangan atau kecemasan, menyebabkan efek rileks pada anak dan menjadi alat distraksi pada saat orang tua tidak menemani anak, distraksi terhadap lingkungan/orang asingHasil penelitian ini dikuatkan oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Agustina dan Puspita (2010) yang menyatakan bahwa ada pengaruh pemberian terapi bermain mewarnai gambar terhadap penurunan tingkat kecemasan anak prasekolah yang rawat inap di Ruang Nusa Indah RSUD Pare.Hasil penelitian ini juga sesuai dengan pernyataan Pravitasari (2012) kondisi anak yang mengalami kecemasan berlebihan seperti tidak mau makansulit tidursering menangisketakutan akan lingkungan atau orang yang belum dikenal serta hilangnya kebebasan bermain sudah tidak muncul lagi setelah diberikan kegiatan

didekati oleh orang yang belum dikenalRespon tersebut di pengaruhi oleh beberapa faktor yaitu ketakutan akan orang atau lingkungan asing, perawat berbaju putih, perpisahan dengan orang tua serta hilangnya kebebasan bermain membuat mereka

mengalami kecemasan

Pravitasari2012Mengenai tingkat kecemasan pada anak usia prasekolah di TK Negeri Pembina Sidoharjo sebelum diberikan terapi bermain mewarnai dibedakan dengan karakteristik tingkat kecemasan berat sekali, beratsedang, ringan dan tidak ada kecemasanDan disajikan dalam bentuk tingkat kecemasan nilai terendah atau minimum, nilai tertinggi atau nilai maximum, dan rata-rata atau mean.

(21)

dengan tingkat kecemasan sedang, yaitu sebanyak 6 responden (30%)

mewarnai.

Dan setelah dilakukan uji statistik non parametrik Wilcoxon Signed Rank Test pada program komputerisasi dengan tingkat kepercayaan 95% (p value <0,05) yang dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh pemberian terapi bermain mewarnai terhadap penurunan kecemasan pada anak usia prasekolah diperoleh nilai negative ranks 30positif ranks 0, ties (sama) O dan nilai AsympSig (2-tailed) atau nilai p=0,000 < 0,05 artinya Ho ditolak dan Ha diterimaMaka dengan demikian sebanyak 30 responden anak yang diberikan terapi bermain mewarnai efektif terhadap nonurunan kecemasan pada anak usia prasekolah di TK Negeri Pembina Sidoharjo.Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Putri (2017) dengan adanya perbedaan yang signifikan antara tingkat

(22)

kecemasan anak akibat hospitalisasi sebelum dan sesudah diberikan terapi bermain dengan didapatkan nilai P= 0,000 (<0,05).

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Aini (2016) dan Januarsih (2014) yang juga menemukan adanya pengaruh terapi bermain dalam menurunkan tingkat kecemasan akibat hospitalisasi pada anak usia prasekolah dengan nilai p value 0,000< 0,05Perbedaannya adalah Aini (2016) menggunakan media terapi bermain walkie talkie dan Januarsih (2014) menggunakan media terapi bermain origami.

5. TINGKAT

PENGETAHUAN

PERAWAT DALAM PENCEGAHAN

DAMPAK

HOSPITALISASI PADA ANAK DI RUANG

Responden Berdasarkan usia,berpenget ahuan baik sebanyak9oran g (75%) dan berpengetahua

Dari hasil penelitian yang dilakukan pada 12 responden, menunjukkan bahwa responden yang berpenghasilan < Rp 1 Juta berpengetahuan baik sebanyak 2 orang (66.7%) dan berpengetahuan cukup sebanyak 1 orang (33.3%). Responden yang berpenghasilan Rp 1 Juta s/d Rp 3 Juta berpengetahuan baik

Hasil penelitian karakteristik responden terdiri dari usia, pendidikan, pekerjaan dan penghasilan yang akan (50%).

disajikan pada tabel berikut.

Dari hasil penelitian yang dilakukan pada 12 responden berdasarkan usia,

(23)

BAWANG PUTIH RSUD Dr.R.M DJOELHAM BINJAI

kutipan

SIREGAR, Ade Irma Triana.TINGKAT

PENGETAHUAN

PERAWAT DALAM PENCEGAHAN

DAMPAK

HOSPITALISASI PADA ANAK DI RUANG BAWANG PUTIH RSUD Dr. RM DJOELHAM BINJAI. Jurnal Kesehatan Bukit Barisan, 2020, 4.7.

https://scholar.google.com

n cukup

sebanyak 3 orang (25%).

Berdasarkan pendidikan, responden yang

berpengetahua

n baik

sebanyak 9 orang (75%) dan responden yang

berpengetahua

n cukup

sebanyak 3 orang (25%).

sebanyak 5 orang (83.3%) dan berpengetahuan cukup sebanyak (16.7%)Responden yang berpenghasilan > Rp 3 Juta berpengetahuan baik sebanyak 2 orang (66.7%) dan berpengetahuan cukup

sebanyak 1 orang (33.3%). Dari hasil penelitian yang dilakukan pada 12 responden, tentang pengetahuan perawat dalam meminimalkan dampak perpisahan yang berpengetahuan baik sebanyak 11 orang (91.7%) dan berpengetahuan cukup sebanyak 1 orang (8.3%).

Dari hasil penelitian yang dilakukan pada 12 responden, tentang pengetahuan perawat dalam meminimalkan perasaan kehilangan kendali yang berpengetahuan baik sebanyak 10 orang (83.3%) dan berpengetahuan cukup sebanyak 2

dapat kita ketahui bahwa usia 25-30 tahun sebanyak 2 orang (16.7 %), usia 31-35 tahun sebanyak 5 orang (41.6%), usia 36-40 tahun sebanyak 3 orang (25%), dan usia 41-45 tahun sebanyak 2 orang (16.7%).

12 responden berdasarkan pendidikan, dapat kita (100%). ketahui bahwa sebanyak 10 orang (83.3%) dan responden yangberpendidikan S1

sebanyak 2 orang (16.7%). Dari hasil penelitian yang dilakukan pada 12 responden berdasarkan pekerjaan, untuk tingkat pengetahuan yaitu baik, cukup dan kurang, maka didapatkan panjang kelas sebesar 3Dengan menggunakan p

= 4 dan nilai terendah = 0 sebagai batas bawah kelas interval pertama, maka

(24)

/scholar?

hl=id&as_sdt=0%2C5&q

=responden+dampak+hos pitalisasi+pertumbuhan&o q=responden+dampak+ho spitalisasi+pertum#d=gs_

qabs&t=1692790655587&

u=%23p

%3DtyaRWprYLoUJ

orang (16.7%).

Dari hasil penelitian yang dilakukan pada 12 responden, tentang pengetahuan perawat dalam meminimalkan perlukaan tubuh dan rasa nyeri berpengetahuan baik sebanyak 12 orang (100%).

pada 12 responden, tentang Tingkat atau 41.6%. Pengetahuan Perawat Dalam Pencegahan Dampak Hospitalisasi Pada Anak yang berpengetahuan baik sebanyak 9 orang (75%) dan berpengetahuan cukup sebanyak 3 orang (25%

tingkat pengetahuan responden dikategorikan atas interval sebagai berikut 0-4 adalah pengetahuan kurang, 5-8 adalah pengetahuan cukup, 9-12 adalah pengetahuan baik.

pada 12 responden berdasarkan penghasilan, dapat kita ketahui bahwa responden yang berpenghasilan < Rp 1 Juta sebanyak 3 orang (25%), responden yang berpenghasilan Rp 1 Juta s/d Rp 3 Juta sebanyak 6 orang (50%) dan responden yang berpenghasilan > Rp 3 Juta sebanyak 3 orang (25%)

(25)

b.Resume Tabel Literatur Review

1. Dari hasil penelitian jurnal yang kami baca dan kami pahami kita sebagai tenaga kesehatan khususnya perawat,harus dapat mengatasi stressor pada anak pra sekolah agar tidak mengganggu masa pertumbuhan dan perkembangan pada anak-anak tersebut.karena Ada hubungan antara pengetahuan, sikap dan perilaku perawat dalam mengatasi stres hospitalisasi pada anak pra sekolah. Faktor perilaku perawat merupakan faktor paling berpengaruh terhadap tingkat stres hospitalisasi anak pra sekolah.

2. Dari hasil penelitian jurnal yang kami baca dan kami pahami Peran petugas kesehatan di rumah sakit sangat penting dalam mengurangi respon stress anak terhadap hospitalisasi, dengan tetap melibatkan orang tua sebagai support sistem terdekat.Penjelasan juga harus diberikan selama perawatan untuk setiap tindakan atau prosedur yang akan dilakukan. Pemberian informasi yang adekuat terbukti dapat menurunkan kecemasan orang tua dan ketakutan bagi anak yang menjalani hospitalisasi, dan bahkan mereka akan mendukung program pengobatan. Metode penjelasan pada anak harus disesuaikan dengan usia, kondisi, dan tahap perkembangan anak, misal dengan metode terapi bermain dengan alat bantu seperti boneka, miniatur peralatan rumah sakit; metode cerita/ dongeng dengan alat bantu menggunakan buku- buku bacaan, film.

3. Dari hasil penelitian jurnal yang kami baca dan kami pahami kita sebagai tenaga kesehatan khususnya perawat, memahami kecemasan pada anak usia prasekolah akibat hospitalisasi, kecemasan tersebut dapat diatasi dengan cara melakukan terapi bermain dengan teknik bercerita kepada anak usia prasekolah, dengan cara itulah kecemasan pada anak dapat berkurang.

(26)

4. Dari hasil penelitian jurnal yang kami baca dapat diketahui setelah dilakukan terapi tingkat kecemasan ringan sedikit dibanding dengan tingkat kecemasan sedang, terdapat pengaruh terhadap tingkat kecemasan anak usia prasekolah setelah dilakukan terapi. Kita sebagai tenaga khusus nya perawat dapat memberikan terapi bermain mewarnai gambar untuk menurunkan tingkat kecemasan akibat hospitalisasi.

5. Dari hasil penelitian jurnal yang kami baca dan pahami tentang pengetahuan perawat dalam meminimalkan dampak hospotalisasi pada anak dengan tingkat pengetahuan perawat yang baik, tentang pengetahuan perawat dalam meminimalkan perasaan hilang kendali berpengetahuan baik, tentang pengetahuan perawat meminimalkan perlukaan tubuh dan rasa nyeri berpengetahuan baik, dan tentang tingkat pengetahuan perawat dalam pencegahan dampak hospotalisasi pada anak yang berpengalam baik.

(27)

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan

Hospitalisasi merupakan perawatan yang dilakukan dirumah sakit dan dapat menimbulkan trauma dan stress pada anak yang baru mengalami rawat inap dirumah sakit. Hospitalisasi dapat diartikan juga sebagai suatu keadaan yang memaksa seseorang harus menjalani rawat inap di rumah sakit untuk menjalani pengobatan maupun terapi yang dikarenakan anak tersebut mengalami sakit. Selain itu juga terdapat faktor penyebab stres hospitalisasi pada anak yaitu faktor risiko individu, perubahan populasi anak yang dirawat di rumah Sakit Peran Perawat Dalam Mengurangi Stres Hospitalisasi Pada Anak :

1) Berikan Informasi Kepada Anak Dan Keluarga Secara Adekuat

2) Menghadirkan Orang Tua Atau Orang Terdekat Selama Anak Dirawat 3) Mempertahankan Rutinitas Kegiatan Anak Saat Hospitalisasi

4) Komunikasi Efektif Untuk Meningkatkan Pemahaman 5) Penataan Ruang Rawat Dan Program Bermain

Dampak Hospitalisasi Terhadap Anak : 1) Cemas terhadap perpisahan 2) Cedera Tubuh

3) Hilangnya Kontrol 4) Rasa Bersalah dan malu 4.2 Saran

Penulis memberikan saran kepada pembaca untuk dapat menjadikan makalah keperawatan anak ini sebagai pembelajaran untuk mengetahui teori-teori mengenai dampak hospitalisasi pertumbuhan dan perkembangan pada anak, penulis juga menyadari bahwa dalam pembuatan makalah masih terdapat banyak kekurangan maupun terdapat kesalahan dalam penulisan, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar dalam pembuatan makalah kedepan menjadi lebih baik.

(28)

DAFTAR PUSTAKA

Idris Handriana,E.Kep,.Ners,.M.Kep, e-book KeperawatanAnak,Lovrinz Publishing,Cirebon Jawa Barat

Ns. Zubaidah, S.Kep., MKM,2022,Dampak Hospitalisasi pada Anak dan Cara Meminimalisirnya, Kemenkes,RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang

Buku Ajar Keperawatan Anak Ns. Nurlaila, M. Kep., Ns. Wuri,2018, Buku Ajar Keperawatan Anak,Yogyakarta

Dianah Syariah,S.Kep.,Ns.Indah Permatasari,M.Kep,2023,TERAPI BERMAIN ORIGAMI UNTUK MENGATASI KECEMASAN AKIBAT HOSPITALISASI PADA ANAK PRA SEKOLAH

Referensi

Dokumen terkait

Hasil distribusi responden mengenai bermain gadget dengan tingkat perkembangan anak usia 4-6 tahun (di TK Bina Insani Jombang) dapat dilihat pada hasil uji statistik