• Tidak ada hasil yang ditemukan

kepemimpinan - Dr. Abdul Kadir, SH, M.Si

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "kepemimpinan - Dr. Abdul Kadir, SH, M.Si"

Copied!
114
0
0

Teks penuh

Persaingan yang semakin ketat saat ini tentunya mempengaruhi kepemimpinan perusahaan, kepemimpinan tentunya diperlukan untuk mendorong kinerja karyawan. Pengaruh kepemimpinan memegang peranan yang sangat penting terhadap kinerja pegawai dalam suatu organisasi yang akan dibahas pada artikel kali ini yaitu dalam kaitannya dengan kepemimpinan dan kinerja pegawai.

DEFINISI KEPEMIMPINAN

Sutarto Wijono

Moejiono

Sondang P. Siagian

Imam Moejiono

Stoner

Ralp M. Stogdill

Tujuan dari melakukan hal ini adalah agar orang-orang akan bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan. Menurut Hemhiel dan Coons, kepemimpinan adalah perilaku seorang individu ketika mengarahkan kegiatan dalam suatu organisasi atau kelompok.

George R. Terry

Jacobs dan Jacques

Charles F. Rauch dan Orlando Behling

Kenneth N. Wexley dan Gary Yukl

Sullivan dan Decker

Seorang pemimpin harus melibatkan orang lain

Kepemimpinan mencakup distribusi kekuasaan

Kepemimpinan sebagai kemampuan dalam menggunakan kekuasaan

Tanpa adanya bawahan atau anggota maka seluruh sikap dan sifat kepemimpinan seorang pemimpin menjadi tidak relevan. Oleh karena itu, pemimpin diharapkan mempunyai kewajiban khusus untuk mempertimbangkan etika dalam mengambil keputusan.

Teori gaya dan perilaku

Meskipun tidak dapat diidentifikasi melalui kajian ilmiah mengenai ciri-ciri dan kombinasi manusia apa yang bisa dikatakan sebagai pemimpin hebat, namun banyak orang yang telah menyadari bahwa hanya satu orang di antara banyak individu yang pasti memiliki ciri-ciri pemimpin hebat. . Teori gaya dan perilaku ini juga menyatakan bahwa seseorang dapat belajar dan berlatih menjadi seorang pemimpin.

Trait Theory

Behavioral Theories

Contingency Theory

Berdasarkan teori kontingensi ini, seseorang mungkin dapat melakukan dan memimpin dengan sangat efektif dalam situasi, keadaan, dan tempat tertentu. Jika pemimpin tergerak oleh keadaan dan situasi yang berbeda, atau jika faktor disekitarnya juga ikut berubah.

Teori Servant

Teori transaksional

Teori transformasional

Ketika seorang pemimpin menjalankan proses kepemimpinannya, sebenarnya akan terjadi perbedaan antara pemimpin yang satu dengan pemimpin lainnya. Instruksi tersebut dilaksanakan secara lisan atau langsung, penugasan dilakukan secara pribadi oleh pimpinan yang bersangkutan.

Otokratis atau otoriter

Partisipatif atau demokratis

Laissez-faire atau Free-rein Leadership

Bawahan diberikan hak dan kekuasaan penuh untuk mengambil keputusan guna menetapkan tujuan dan mengatasi masalah atau hambatan. Pengikut diberi kemandirian dan kebebasan tingkat tinggi untuk merumuskan tujuan dan cara mencapainya sendiri.

Berorientasi pada tugas dan berorientasi pada hubungan

Gaya kepemimpinan ini dikenal dengan sebutan “laissez faire” yang artinya tidak mencampuri urusan orang lain. Pemimpin yang berorientasi pada hubungan menekankan komunikasi dalam kelompok, menunjukkan kepercayaan dan keyakinan pada anggota kelompok, dan menunjukkan penghargaan atas pekerjaan yang dilakukan. Pemimpin yang berorientasi pada tugas biasanya kurang peduli dengan gagasan melayani anggota kelompok dan lebih peduli dengan membuat solusi spesifik untuk mencapai tujuan produksi.

Kepemimpinan yang melayani

Perempuan berhubungan lebih positif dengan anggota kelompok dengan tersenyum, menjaga kontak mata, dan menanggapi komentar orang lain dengan bijaksana. Sebagai pemimpin, laki-laki terutama berorientasi pada tugas, namun perempuan cenderung berorientasi pada tugas dan hubungan. Namun, penting untuk dicatat bahwa perbedaan gender ini hanyalah tren dan tidak terwujud pada laki-laki dan perempuan di semua kelompok dan situasi.

Penelitian dan Literatur

Penting untuk dicatat bahwa meskipun hambatan-hambatan yang tercantum di bawah ini mungkin lebih parah terjadi pada budaya non-Barat, hal ini tidak berarti bahwa budaya Barat tidak mempunyai hambatan-hambatan ini juga.

Cuti Bersalin

Masyarakat dan Hukum

Kemandirian, yaitu tingkat kemampuan seseorang yang kelak mampu melaksanakan fungsi pekerjaannya secara mandiri. Kesulitan tersebut disebabkan belum adanya sistem pengukuran kinerja kepemimpinan yang dapat menginformasikan tingkat keberhasilan kepemimpinan. Banyak hal yang mempengaruhi tumbuh suburnya kinerja kepemimpinan dalam suatu perusahaan, khususnya kinerja karyawan.

Iklim organisasi dalam organisai

Dalam hal meningkatkan kinerja karyawan perusahaan, manajer harus mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kinerja. Di bawah ini adalah beberapa definisi dan pendapat mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai. Peran manajer harus mampu menjalankan perannya dalam perusahaan, manajer harus mampu menggali potensi-potensi yang ada dalam dirinya dan memanfaatkannya dalam unit perusahaan.

Kualitas Pekerjaan

Kemampuan Kerja

Inisiatif

Pemimpin harus mampu memahami perilaku masyarakat sedemikian rupa sehingga dapat mempengaruhi mereka agar bekerja sesuai dengan apa yang diinginkan perusahaan.

Daya tahan atau kehandalan

Kuantitas Pekerjaan

Kedisiplinan

Kualitas, yaitu tingkat sampai mana proses atau hasil pelaksanaan suatu kegiatan dapat mendekati kesempurnaan atau mendekati tujuan yang diharapkan. Perlunya pengawasan adalah sejauh mana seorang pegawai akan mampu menjalankan suatu fungsi pekerjaannya tanpa harus diawasi oleh seorang atasan untuk mencegah tindakan-tindakan yang tidak diinginkan oleh perusahaan. Pengaruh interpersonal adalah tingkat dimana seorang pemimpin dapat menjaga harga diri, nama baik dan kerjasama antar rekan kerja dan bawahan.

Memiliki Visi

Ketiga indikator ini merupakan hal terpenting yang tentunya tidak boleh dilewatkan oleh seorang manajer baru. Hal ini untuk memastikan bahwa tim memahami upaya yang perlu mereka lakukan untuk berkontribusi pada tujuan. Dengan berfokus pada pencapaian visi dengan ketekunan, keuletan, dan antusiasme, para pemimpin juga dapat menginspirasi dan mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Mampu membuat perencanaan strategis

Seorang pemimpin yang berintegritas akan menggunakan nilai-nilainya untuk memandu keputusan, perilaku, dan hubungannya dengan orang lain. Pemimpin yang efektif juga mempunyai karakter yang kuat, menepati janji, dan berkomunikasi secara terbuka, jujur, dan langsung dengan orang lain.

Kemampuan untuk memengaruhi orang lain Indikator kepemimpinan yang efektif lainnya adalah

Oleh karena itu, untuk mempengaruhi orang lain, pemimpin harus fokus pada pemahaman motivasi karyawan dan mendorong mereka untuk menyampaikan pendapat.

Kemampuan memberi contoh

Dari sana, para pemimpin dapat menggunakan pengetahuan tersebut untuk membuat perubahan dan menunjukkan bahwa suara anggota tim atau karyawan penting. Untuk menjadi pemimpin yang efektif, kemampuan mengambil keputusan dengan cepat meski dengan informasi yang terbatas sangatlah penting.

Kemampuan berkomunikasi secara efektif

Tahu bagaimana cara mengembangkan tim

Transparansi

Oleh karena itu, salah satu indikator kepemimpinan yang efektif adalah kemampuan untuk menyeimbangkan transparansi dengan privasi dan menetapkan berbagai batasan untuk tetap mendorong kolaborasi.

Berorientasi pada tujuan

Kemampuan memahami diri sendiri dan menyadari implikasi dari segala tindakan merupakan kriteria utama seorang pemimpin. Dimana seorang pemimpin diharapkan mampu mengatur keduanya agar tim tetap solid dan sinergis. Dari situlah akan muncul keselarasan antara ide dan tujuan bagi seorang pemimpin yang berkontribusi positif terhadap perusahaan.

Amanah

Laki-laki

Dengan adanya pemimpin yang lebih pintar dari rakyatnya, maka pemimpin akan mempunyai pemikiran yang lebih luas mengenai berbagai kebijakan yang diambil. Kecerdasan inilah yang diharapkan masyarakat dapat membimbingnya ke arah yang lebih baik.

Kedewasaan

Memegang teguh Al Qur’an dan Sunah

Mengayomi dan membela masyarakat

Bersikap adil

Arogansi

Nasehat dari orang bijak akan membuat seorang pemimpin tetap “on track” dalam kepemimpinannya. Ia tidak akan menyimpang baik ke kiri maupun ke kanan jika mendengarkan nasehat para resi bestari.Dalam cerita wayang nasehat Sri Krisna kepada para Pandawa dapat dikategorikan nasehat bijak ini. Jadi, tantangan bagi manajer dalam hal ini adalah: mampu membedakan mana yang merupakan hikmah dan mana yang merupakan nasehat.

Kurangnya Integritas

Ketika seorang pemimpin mencoba melakukan segalanya sendirian, dia pasti akan gagal sebagai seorang pemimpin. Sekalipun pengikutnya cukup terampil, hal-hal besar pun harus berani untuk didelegasikan. Seperti: memimpin visi atau memastikan segala sesuatunya bergerak bersama menuju visi yang disepakati bersama.

Menghindar

Tidak mampu membangun nilai yang kuat

Keterampilan kepemimpinan merupakan keterampilan seseorang untuk menginspirasi dan memotivasi orang lain agar bertindak sesuai rencana dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Pemimpin hebat senantiasa menantang anggota tim untuk memunculkan ide-ide baru yang dapat mempercepat pencapaian visi. Hubungan antara budaya kerja dan keterampilan kepemimpinan dapat digambarkan sebagai berikut: cara karyawan memperlakukan pelanggan merupakan cerminan dari cara pemimpin di perusahaan memperlakukan karyawannya.

Latar belakang

Berdasarkan pendapat Robins yang mengatakan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan mempengaruhi suatu kelompok untuk mencapai tujuan. Nurkolis juga menyatakan bahwa kepemimpinan dipahami dalam dua pengertian, yaitu kekuasaan untuk menggerakkan orang dan kekuasaan untuk mempengaruhi orang.

Grand Theory

Senada dengan itu, Rivai (2009:2) berpendapat bahwa kepemimpinan adalah proses mempengaruhi dan/atau memberikan contoh kepada pengikutnya melalui proses komunikasi dalam upaya mencapai tujuan. Kepemimpinan Robbins adalah kemampuan mempengaruhi suatu kelompok untuk mencapai suatu tujuan. Daft (2003:50) mengatakan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang-orang yang mengarah pada pencapaian tujuan tertentu.

  • Lokasi
  • Waktu Penulisan
  • Metode Pengumpulan Data
  • Jenis dan sumber data
  • Definisi operasional
  • Metode Analisis Data
  • Uji Hipotesis

Ho : Variabel independen yaitu manajemen dan motivasi kerja tidak mempunyai pengaruh yang signifikan secara bersama-sama terhadap variabel dependen yaitu kinerja karyawan. Ho : Variabel independen atau manajemen dan motivasi kerja tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen terhadap kinerja karyawan. Ha : Variabel independen atau manajemen dan motivasi kerja mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen yaitu kinerja pegawai.

Hasil tulisan

  • Jenis Kelamin
  • Golongan Pangkat
  • Pendidikan
  • Masa Bekerja

Pada tabel 5.2 diatas, dari 32 (tiga puluh dua) responden menurut kelompok umur diberikan tabel dengan kelompok umur satu (25-32 tahun) dengan hasil sebanyak 16 (enam belas) orang atau 50,0%. 91 dari 32 (tiga puluh dua) responden, dan mayoritas berjenis kelamin laki-laki yaitu 20 (dua puluh) orang atau 62,5% dan sisanya perempuan seluruhnya sebanyak 12 (dua belas) orang atau 37,5%. Dari hasil olahan data mengenai karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan yang disajikan pada tabel 5.4 di atas, dari 32 (tiga puluh dua) responden terdapat 2 (dua) orang atau 6,3% yang berpendidikan D3.

Pembahasaan tulisan

  • Pernyataan Kepemimpinan (X 1 )
  • Uji Validitas
  • Uji Realibilitas
  • Analisis Regresi Berganda TABEL 5.12
  • Analisis dan Pembahasan Koefisien Determinasi (R 2 ) Dari ringkasan hasil regresi yang telah ditunjukkan pada
  • Uji Hipotesis
    • Uji F (Bersama sama)
    • Uji T (Parsial)

Data diatas telah diolah oleh peneliti, pada tabel 5.7 dapat disimpulkan bahwa jawaban responden terhadap variabel Kepemimpinan (X1), adalah positif dengan melihat rata-rata total poin pertanyaan pada variabel Kepemimpinan ini. 127,8 (seratus dua puluh tujuh skor delapan) yang berada pada kisaran hasil memuaskan. Data diatas telah diolah dan disajikan pada tabel 5.9, berikut dapat disimpulkan bahwa tanggapan responden mengenai kinerja pegawai yang dihasilkan dari variabel kepemimpinan (X1) dan variabel motivasi kerja (X2) adalah positif melihat mean dari total skor yang ada. pada soal ini adalah 139,4 (seratus tiga puluh sembilan koma empat) yang berada pada kisaran hasil memuaskan. Pengaruh variabel motivasi kerja (X2) terhadap kualitas kinerja pegawai (Y) terhadap kualitas kinerja pegawai (Y) Variabel motivasi kerja ternyata tidak berpengaruh dan tidak signifikan terhadap kinerja pegawai.

Tabel dibawah ini menunjukkan hasil pengujian reliabilitas  dengan  menggunakan  alat  bantu  SPSS  20.00  adalah  sebagai
Tabel dibawah ini menunjukkan hasil pengujian reliabilitas dengan menggunakan alat bantu SPSS 20.00 adalah sebagai

Rekomendasi

Untuk variabel kepemimpinan dan motivasi kerja terhadap kinerja karyawan mempunyai pengaruh secara simultan dimana tingkat signifikansi sebesar 0,002 yang berarti variabel kepemimpinan X1 dan motivasi kerja X2 mempunyai pengaruh yang baik, dari hasil uji F atau keseluruhan uji variabel X1, mempunyai pengaruh yang signifikan, namun pada saat yang sama kedua variabel tersebut mempunyai pengaruh yang signifikan dengan besarnya (0,002).

SARAN

DAFTAR PUSTAKA

Judge, Timothy A.; Bono, Joyce E.; Ilies, Remus; Gerhardt, Megan W. 34; Personality and leadership: a qualitative and quantitative review". A meta-analysis of three research paradigms". 34;A Meta-Analysis of Gender Stereotypes and Biases in Experimental Simulations of Employment Decision Making”.

TENTANG PENULIS

Gambar

Tabel dibawah ini menunjukkan hasil pengujian reliabilitas  dengan  menggunakan  alat  bantu  SPSS  20.00  adalah  sebagai

Referensi

Dokumen terkait

UNIVERSITAS MEDAN AREA FAKULTAS : EKONOMI DAN BISNIS PROGRAM STUDI : MANAJEMEN SILABUS MATA KULIAH KODE BEBAN STUDI SKS SEMESTER TGL PENYUSUNAN Teori Ekonomi I MGT32004 3 III