KESADARAN AKAN MISTERI BERSEMAYAMNYA ALLAH TRITUNGGAL DALAM JIWA YANG
MENTRANSFORMASI KE DALAM HIDUP TRITUNGGAL
(Menurut Ajaran St. Elisabeth dari Trinitas)
Paper Seminar Spiritualitas
OLEH:
YULIUS ARYAN YUNIANTA (NIM: 111.2020.008)
SEKOLAH TINGGI KATOLIK SEMINARI SANTO YOHANES SALIB
LANDAK, 2023
ii
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ... ii
1. PENGANTAR ... 1
2. RIWAYAT HIDUP ELISABETH ... 1
2.1. Latar Belakang Keluarga... 1
2.2. Komuni Pertama yang Mengubah ... 2
2.3. Panggilan Karmel dan Akhir Hidupnya ... 3
2.4. Proses Kanonisasi... 4
3. AJARAN ELISABETH MENGENAI SPIRITUALITAS TRITUNGGAL MAHAKUDUS ... 4
3.1. Menjaga Kemurnian Hati bagi Yesus dan Pertukaran Rahasia yang Menyenangkan ... 5
3.2. Sabda Allah: Sumber Pencarian akan Kehadiran Allah yang Berdiam di dalam Jiwa .. 6
3.3. Rahasia untuk Menyadari Allah Tritunggal dalam Jiwa ... 7
4. PENGALAMAN MISTIK ... 8
4.1. Dikuasai oleh Allah Tritunggal ... 8
4.2. Surga di Jiwa ... 9
4.3. Transformasi Jiwa dalam Tritunggal ... 9
5. RELEVANSI ... 10
6. SIMPULAN ... 10
DAFTAR PUSTAKA ... 11
1
1. P
ENGANTARManusia dalam dunia modern ini diwarnai dengan kebisingan dan kesibukan dalam usahanya mencapai kesempurnaan kualitas hidup jasmani dalam pelbagai bidang, telah banyak mengabaikan pentingnya keheningan batin. Akibatnya hidup rohani terasa dangkal. Orang sulit hadir pada diri sendiri yang menyebabkan kebingungan dan putus asa, kegelisahan untuk membuat diri sendiri hadir agar merasa tetap hidup melalui visibilitas media sosial yang sebenarnya justru gagal membuat diri hadir pada diri kita sendiri.1 Manusia modern memerlukan keheningan agar bisa menemukan sesuatu.
St. Elisabeth dari Trinitas, seorang mistikus yang menyadari esensi panggilan Kristen, yakni mengambil bagian dalam hidup Allah Tritunggal. Ia menjadi saksi hidup bagi di dunia zaman ini dengan menghayati panggilannya menuju hidup yang berpusat pada Tritunggal. Kesaksian hidupnya memberi tantangan bagi setiap orang Kristen untuk menyadari dan mengalami dalam dirinya sendiri misteri nyata Allah Tritunggal, karena setiap orang Kristen dipanggil pada kekudusan hidup.2 Seorang teolog Jerman, Karl Rahner, SJ (1904-1984) pernah mengatakan bahwa orang-orang Kristen di masa depan akan menjadi mistikus atau tidak menjadi apa-apa. Menjadi mistikus artinya mengalami kehadiran misteri Allah dalam hidupnya. Rahner tak melulu bicara mistisisme dalam hidup rohani, tapi kegiatan harian juga.3 Pengalaman akan Allah inilah yang dapat membawa manusia kepada kekudusan.4
Bagaimana Santa Elisabet dari Tritunggal benar-benar menghayati pengalaman akan berdiamnya Allah Tritunggal sedemikian rupa? Apa yang harus dilakukan oleh orang-orang Kristen modern agar dapat mengalami berdiamnya Allah Tritunggal dalam jiwanya? Penulis hendak menjawabnya dalam paper ini.
2. R
IWAYATH
IDUPE
LISABETH 2.1. Latar Belakang KeluargaElisabeth dari Tritunggal, juga dikenal sebagai Elisabeth Catez, atau sering dijuluki ‘Sabeth’, merupakan putri sulung dari Joseph Catez, seorang perwira militer dan Marie Roland (Ny. Catez), seorang ibu rumah tangga. Elisabeth dilahirkan di pangkalan militer Avor, dekat Bourges, Perancis pada tanggal 18 Juli 1880.5 Pasangan suami-istri ini selalu rajin mengikuti perayaan ekaristi hampir
1 Bdk. “The Superior General's Letter To the Order on The Occasion Of the Canonization of Blessed Elizabeth of the Trinity”, dalam http://ccacarmels.org/wp-content/uploads/Elizabeth-of-the-Trinity-Fr.Saverio1.pdf (diakses tanggal 21 Maret 2023).
2 Bdk. Konsili Vatikan II, “Konstitusi Dogmatis tentang Gereja” (LG), dalam Dokumen Konsili Vatikan II (terj. R. HARDAWIRYANA), cet. VI, Obor, Jakarta 2002, 40.
3 Bdk. Yanuari MARWANTO, “Injil pada Zaman Serba Sibuk”, dalam https://www.hidupkatolik.com/2017/10/03/13350/injil-pada- zaman-serba-sibuk.php/feed (diakses tanggal 21 Maret 2023).
4 Bdk. Yohanes INDRAKUSUMA,Menuju Tanah Terjanji, Buku Pegangan Spiritualitas Jilid I, Pertapaan Shanti Bhuana, Cipanas 2021, 44.
5 Bdk. Joanne MOSLEY, Elizabeth of the Trinity, The Unfolding of Her Message Vol.1: In the world and In Community, Teresian Press, Oxford 2012, 3.
2
setiap hari. Dalam suasana iman inilah Elisabeth dilahirkan. Elisabeth menunjukkan pada tahap yang sangat awal tanda-tanda cintaya kepada Yesus. Ibunya pernah mengamati saat Elisabeth sangat ingin mencium salib dan berdoa, bahkan Elisabeth mengajarkan bonekanya cara berdoa.6 Elisabeth menerima baptisan tanggal 22 Juli 1880. Nama pelindung “Elisabeth” dipilih baginya yang memiliki arti: “Kediaman Allah”7
Dua setengah tahun kemudian (20 Februari 1883) lahirlah adiknya bernama Marguerite (Guite) di kota Dijon.8 Marguerite memiliki karakter dan sifat yang lemah lembut, tenang dan sedikit pendiam. Sebaliknya, Elisabeth memiliki temperamen yang keras, mudah marah, bersemangat, sensitif dan berkemauan kuat. Wataknya ini cukup merepotkan ibunya. Namun di sini ibunya dengan penuh kesabaran berusaha mengajarkan Elisabeth untuk menguasai diri demi cinta kasih kepada Yesus.9 Sejak kecil Elisabeth sudah belajar untuk menguasai diri.
Ayah Elisabeth meninggal (1887), ketika Elisabeth baru berusia tujuh tahun karena serangan jantung, dan meninggalkan ibunya untuk membesarkan keluarga dengan uang pensiun suaminya serta harus pindah ke rumah yang lebih kecil lagi di bagian lain kota, Rue Prieur-de-la-Côte-d'Or. Dari sinilah Elisabeth menemukan pemandangan indah dari jendela kamarnya lantai dua; biara Karmel Dijon.10 Ny. Catez memberi pelajaran privat dalam bahasa Prancis untuk Elizabeth dan mendaftarkannya ke Konservatori Dijon untuk pelajaran piano. Elizabeth membuktikan dirinya menjadi yang terbaik dalam perlombaan piano saat ia memenangkan hadiah pertamanya ketika berusia tiga belas tahun.11
2.2. Komuni Pertama yang Mengubah
Pada usia ini, Elisabeth melakukan pengakuan dosa pertama kalinya; dalam rangka mempersiapkan komuni pertamanya. Sejak saat itu dia memulai tekadnya untuk memerangi kelemahan utamanya, yakni kemarahan dan sensitif yang berlebihan. Ini merupakan fase sulit dalam peperangan rohaninya yang berlangsung hingga ia berusia delapan belas tahun.12 Bahkan seorang imam yang mempersiapkan komuni pertamanya mengenal Elisabeth dengan baik dan berkata,
“Dengan temperamennya, Elisabeth Catez akan menjadi orang suci atau setan.”13
6 Sketsa lengkap biografi dapat dilihat dalam Conrad De MEESTER (ed.),Elizabeth of the Trinity. I Have Found God: The Complete Works, Vol. I (Terj. ALETHEIA KANE), ICS Publications, Washington (DC) 1984, 8.
7 Bdk. Guido STINISSEN,Beata Elisabet dari Tritunggal (Terj. H.J.KACHMADI), Komisi Spiritualitas dan Pendidikan Ordo Karmel Indonesia, Malang 1987, 2.
8 Sebagai seorang Kapten militer, Joseph Catez bersama pasukannya ditempatkan di berbagai tempat, sehingga keluarga Catez terpaksa harus berpindah-pindah tempattinggal dan akhirnya tahun 1882 mereka menetap di Dijon. Bdk. Conrad DE MEESTER (ed.), Elizabeth of the Trinity. Vol. I ... op. cit., 9-10.
9 Bdk. Guido STINISSEN,op. cit., 2-6.
10 Bdk. Conrad DE MEESTER (ed.),Elizabeth of the Trinity. Vol. I ... op. cit., 6-8.
11 Bdk. Ibid.
12 Bdk. M.M. PHILIPON,The Spiritual Doctrine of Sister Elizabeth of the Trinity, The Newman Press, Westminster 1947, 2.
13 ibid.
3
Elisabeth menerima komuni pertamanya usia 10 tahun (1891). Selama Misa dan ucapan syukur, air mata mengalir di pipinya. Hatinya dipenuhi dengan cinta kepada Yesus. Ketika Elizabeth dan temannya, Marie-Louise meninggalkan gereja paroki, dia mengatakan sesuatu yang indah kepada temannya: “Saya tidak lapar; Yesus telah memberi saya makan...”14 Sejak hari itu Elizabeth merasa dimenangkan oleh Yesus. Dia mulai suka menghabiskan waktu bersama-Nya dalam doa. Demi Yesus, dia mengerahkan seluruh energinya untuk mengatasi ledakan emosinya dan menaklukkan sifat sensitifnya.15
2.3. Panggilan Karmel dan Akhir Hidupnya
Ketika berusia 14 tahun, setelah menerima komuni kudus, ia mendengar kata “Karmel” yang diucapkan dalam hatinya. Ia diam-diam mengambil sumpah keperawanan untuk menjadi milik Tuhan saja.16 Kemudian ia memberanikan diri untuk meminta izin dari ibunya untuk memasuki biara Karmel, atas persetujuan bapa pengakuannya. Ibunya terkejut dan kemudian menolaknya. Sejak saat ia dilarang untuk berkunjung ke Karmel. Elisabeth patuh, namun hal itu menjadi suatu pengorbanan dan penderitaan yang besar baginya. Melihat penderitaan Elisabeth, akhirnya ibunya mencabut larangan itu dan bahkan memberikan izin untuk bergabung dengan Karmel ketika ia berusia 21 tahun.
Hal ini membuat Elizabeth senang sekaligus sedih karena dia harus menunggu dua tahun lagi untuk menunggu. Elizabeth senang berimajinasi untuk mengunjungi Karmel dan hidup seperti seorang postulan di luar tembok Karmel, mengintensifkan doa dan pengorbanannya untuk Yesus serta merindukan kesunyian fisik Karmel.17 Pada masa penantian ini ia memperdalam kehidupan rohaninya dengan mempelajari tulisan-tulisan St Teresa dari Avila dan menghadiri retret. Dia tumbuh dalam kesadaran bahwa Tuhan tinggal di dalam dirinya. Pada tanggal 2 Agustus 1901 Elizabeth memasuki Karmel Dijon dengan mottonya, "Allah di dalam aku dan aku di dalam Dia".18 Ia mengikrarkan kaul pertama pada tahun 1903 dan menerima nama ‘Elisabeth dari Tritunggal’.
Dia tinggal hanya lima setengah tahun di biara Karmel dan dikenal karena kedermawanan, perhatian, suka menolong dan pribadi yang menyenangkan terutama di tengah-tengah penyakit dan penderitaannya yang parah selama tahun terakhir hidupnya di dunia karena penyakit Addison,19 yang tidak ada obatnya saat itu. Di tengah penderitaan itu Elizabeth benar-benar mengalami bahwa ada sesuatu yang ilahi dalam penderitaan.20 Ia meninggal pada tanggal 9 November 1906 (usia ke-26).
14 Conrad DE MEESTER (ed.),Elizabeth of the Trinity. Vol. I ... op. cit., 11.
15 Bdk. Donald KINNEY,Bl. Elizabeth of the Trinity and Her Sister Guite: Make My Soul Your Heaven, 3.
16 Bdk. M.M. PHILIPON,op. cit., 2.
17 Bdk. J. MOORCROFT, He Is My Heaven: The Life of Elizabeth of the Trinity, ICS Publications, Washington (DC) 2006, 27.
18 Bdk. Ibid., 27-59.
19 Informasi lengkap mengenai penyakit Addison secara lebih detil dapat dibaca dalam tulisan: Fadhli Rizal MAKARIM,“Penyakit Addison”, dalam https://www.halodoc.com/kesehatan/penyakit-addison (diakses tanggal 22 Maret 2023).
20 Bdk. Carl BUNDERSON,“Who was Elizabeth of the Trinity? The Story Behind a New Saint”,dalam
https://www.catholicnewsagency.com/amp/news/33532/who-was-elizabeth-of-the-trinity-the-story-behind-a-new-saint (diakses tanggal 15 April 2023).
4
Dia dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1984 dan dikanonisasi oleh Paus Fransiskus pada tahun 2016.
2.4. Proses Kanonisasi
Ada dua mukjizat yang menyertai proses kekudusan Elisabeth dari Trinitas. Pada tahun 1980- an terjadi kesembuhan atas Kardinal Decourtray (pada saat itu Uskup Dijon dari tahun 1974-1981, tetapi kemudian menjadi Uskup Agung Lyons) mengaitkan kesembuhan penyakit kankernya dengan perantaraan Elisabeth. Keajaiban ini diakui oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 25 November 1984, yang mengarah pada beatifikasi Elisabeth.21
Keajaiban yang kedua berkaitan dengan kesembuhan seorang wanita asal Belgia, Marie-Paul Stevens yang didiagnosis menderita Sindrom Sjorgen,22 yakni penyakit autoimun yang membuatnya cacat sehingga tidak memiliki kemampuan berbicara, menelan makanan padat dan berjalan tanpa alat bantu. Saat tahun 2002, di usia Steven yang ke-30 tahun, ia meminta dua orang temannya untuk mengantarnya berziarah ke Karmel Flavignerot Dijon, dengan intensi agar diberi rahmat kematian yang bahagia. Ia berdoa di kapel dengan sekuat tenaga. Saat ia keluar dari kapel dalam keadaan lelah, ia duduk untuk beristirahat di salah satu batu di tepi tempat parkir biara. Tiba-tiba ia berdiri, mengangkat tangannya ke langit, dan berteriak bahwa ia telah sembuh. Mukjizat ini membawa Elisabeth pada keputusan kanonisasi oleh Paus Fransiskus pada tanggal 16 Oktober 2016.23
Kekudusan Elisabeth juga dikarenakan bahwa ia mengalami transformasi melalui doa kontemplatif yang membawanya pada pengalaman mistik akan Allah Tritunggal serta kebajikan hidupnya. St. Elisabeth dari Trinitas diperingati dalam liturgi Gereja setiap tanggal 8 November. Dan digelari sebagai pelindung orang sakit dan mereka yang kehilangan orang tua.24
3. A
JARANE
LISABETH MENGENAIS
PIRITUALITAST
RITUNGGALM
AHAKUDUSSebagai seorang biarawati Karmel, Elisabeth tidak terlepas dari warisan pendahulunya seperti Theresa Avila dan Yohanes Salib.25 Mengenai berdiamnya Allah Tritunggal dalam jiwa memeroleh pengaruhnya dari Teresa Avila yang berbicara tentang Allah yang berdiam dalam lubuk jiwa yang mana Allah bersemayam dalam lubuk jiwa sebagai Sri Baginda (gambaran Puri batin). Sedangkan
21 Bdk. “Blessed Elizabeth of Trinity to be Canonized”, dalam https://angelusnews.com/news/us-world/blessed-elizabeth-of-trinity- to-be-canonized/amp/ (diakses tanggal 21 Maret 2023).
22 Informasi lengkap mengenai ‘Sindrom Sjogren’ dapat dilihat di “Sindrom Sjogren”, dalam https://www.halodoc.com/kesehatan/sindrom-sjogren (diakses tanggal 22 Maret 2023).
23 Bdk. “The Miracle that Made Elizabeth of the Trinity a Canonized Saint: the Healing of Marie-Paul Stevens”, dalam
http://www.thereseoflisieux.org/my-blog-about-st-therese/2016/6/21/the-miracle-that-made-elizabeth-of-the-trinity-a-canonized- s.html (diakses tanggal 21 Maret 2023).
24 Bdk. “Patron Saint-St. Elizabeth of the Trinity”, dalam https://stelizabethtrinity.org/patron-saint-st-elizabeth-of-the-trinity/ (diakses tanggal 21 Maret 2023).
25 Bdk. Elisa MARIA,“Mengenal Spiritulitas Santa Elisabeth dari Trinitas”, dalam
https://www.carmelia.net/index.php/artikel/spiritualitas/154-mengenal-spiritualitas-bt-elisabeth-dari-trinitas (akses tanggal 23 Maret 2023).
5
pengaruh Yohanes Salib terhadap Elisabeth lebih kepada persatuan yang mengubah (unio- transforman) yang dicapai melewati suatu tahapan kematian dan penyangkalan diri. Keheningan Karmel yang Elisabeth anggap sebagai surga, di dalamnya ia melewati seluruh tahapan kematian dan penyangkalan diri serta kesunyian batin yang mana di dalamnya ia menenggelamkan dirinya ke dalam persatuan cinta kasih dengan Allah Tritunggal.26 Inti dari spiritualitas St Elisabeth adalah doktrin berdiamnya Allah Tritunggal Mahakudus di dalam jiwa. Dia percaya bahwa Tritunggal tinggal di kedalaman pribadi manusia, mengundang kita ke dalam hubungan yang dalam dengan Allah.
Hubungan ini, menurutnya, ditandai dengan cinta, keintiman, dan transformasi.
Bagi Elisabeth, Tritunggal merupakan sebuah kesadaran akan realitas yang hidup yang ada di dalam diri setiap orang. Ia menulis, "Oh, seandainya saja jiwa-jiwa tahu bagaimana hidup di dalam hadirat Tritunggal! Betapa mereka akan menikmati rasa manis dan kegembiraannya! (Surat 291)".27 Dia menyadari bahwa semua berkat kehidupan mengalir dari kehadiran Tritunggal yang berdiam, dan dia berusaha untuk meresponsnya dengan penyerahan diri dan kepercayaan penuh.
3.1. Menjaga Kemurnian Hati bagi Yesus dan Pertukaran Rahasia yang Menyenangkan Elizabeth tahu betul bagaimana menjaga hatinya semata-mata untuk Tuhan bahkan di tengah- tengah kenikmatan duniawi dan kemuliaan yang datang ke dalam hidupnya. Hal ini terlihat jelas dalam salah satu puisi-puisinya yang paling awal: “Yesus, jiwaku merindukan-Mu, Aku ingin segera menjadi pengantin-Mu. Dengan-Mu aku ingin menderita dan untuk menemukan-Mu, mati (Puisi 4).”28 Hati Elizabeth kecil semata-mata tertuju kepada Allah dan berkobar-kobar dengan kerinduan untuk bersatu dengan Allah. Kesadaran yang tajam akan Allah ada di dalam jiwanya sejak tahun- tahun awal masa remajanya dan dia tidak pernah mengabaikannya.
Sejak komuni pertamanya, ketertarikan batinnya kepada Tuhan dalam doa terus bertumbuh.
Hubungannya dengan Tuhan semakin kuat:
Pada hari itu, ketika Yesus membuat rumah di dalam diriku, ketika Tuhan menguasai hati saya, begitu lengkap, begitu baik, sejak jam itu, sejak pertukaran rahasia itu, hubungan intim yang ilahi dan menyenangkan, satu keinginan saya adalah memberikan hidup saya, untuk membalas sedikit cinta kasih-Nya yang luar biasa kepada Kekasih Ekaristi yang tinggal di dalam hatiku yang lemah, membanjirinya dengan nikmat-Nya... Hari terindah dalam hidup saya (puisi 47).29
Sebuah pertukaran rahasia yang dimaksud merupakan sebuah hubungan yang membahagiakan telah terjadi di dalam jiwa Elisabet yang tidak disadari oleh orang lain. Ia paham bahwa Yesus ingin tinggal di dalam dirinya, dan tidak pernah menolak hal itu kepada Yesus. Kesadaran akan kehadiran
26 Bdk. Ibid.
27 Conrad DE MEESTER (ed.),Elizabeth of the Trinity. I Have Found God: The Complete Works, Vol. II (Terj. ANNE ENGLUND NASH), ICS Publications, Washington (DC) 1995, 6-8.
28 Emmanuel KANIYAMPARAMPIL,“Saint Elizabeth of the Trinity: Model for Experiencing the Trinitarian Indwelling”, dalam https://www.academia.edu/38364898/Article_on_Elisabeth_of_the_Trinity_doc (diakses tanggal 23 Maret 2023).
29 J. MOORCROFT, op. cit., 13.
6
dan kasih Allah di dalam jiwanya dipupuk oleh hubungannya yang terus menerus dengan-Nya. Inilah rahasia dari kesadarannya yang terus bertumbuh akan kehadiran Tuhan di dalam dirinya dengan doa yang terus menerus. Elisabeth menekankan pentingnya doa sebagai sarana untuk memperdalam hubungan seseorang dengan Allah Tritunggal. Dia menulis, "Doa adalah gelombang hati; pandangan sederhana yang mengarah ke surga, seruan pengakuan dan cinta, yang merangkul cobaan dan sukacita (Retret Terakhir, hari kedua)." 30
Elisabet mengajarkan agar seseorang harus melakukan segala sesuatu demi Tuhan yang hadir di dalamnya. Ini merupakan rahasia untuk menjadikan setiap tindakan seseorang sebagai cara untuk mencapai Tuhan. Ini sekaligus menjadi jalan untuk bertumbuh dalam kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam jiwa manusia. Misalnya dengan bakatnya bermain piano. Bagi Elisabeth, piano menjadi tempat di mana ia bertemu dengan Tuhan. Suatu saat Elisabeth berbicara kepada seorang gadis kecil yang merasa cemas untuk tampil dalam sebuah konser piano: “Ia harus melupakan orang-orang yang mendengarkannya dan membayangkan dirinya sendiri bersama Sang Maha Guru. Ketika seseorang melakukan hal itu, dia akan bermain untuk-Nya dengan sepenuh hati, dan dia akan mendapatkan yang terbaik dari alat musiknya – musik yang kuat dan manis.”31
3.2. Sabda Allah: Sumber Pencarian akan Kehadiran Allah yang Berdiam di dalam Jiwa Elizabeth memiliki kecintaan yang mendalam terhadap Alkitab.32 Di Karmel ia menggunakan dua ayat Kitab Suci sebagai panduan: pertama, mengenai berdoa dengan sembunyi-sembunyi (bdk.
Mat 6:6), yang mana hal tersebut mengidentifikasikan detak jantung Karmel, yakni berdoa secara rahasia, yang menopang keintiman seseorang dengan Tuhan; kedua, pada hari penghakiman orang akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap perkataan yang tidak dijaga (bdk. Mat 12:36), di mana ayat ini mengindikasikan bahwa jika berdoa jiwa berusaha bertemu dengan Tuhan dalam misteri yang tak terselami. Jadi dalam doa orang harus berdiam diri untuk memandang-Nya setiap saat.33
Elisabeth juga memiliki kitab-kitab favoritnya dalam Perjanjian Baru, khususnya dalam Injil Yohanes dan Surat Paulus: "Santo Paulus, yang Suratnya yang indah saya pelajari dengan senang hati;" "... Yohanes, murid yang dikasihi Yesus, yang membuka sebagian "pintu-pintu kekal" bagi saya. (Retret terakhir, 9)"34
Paulus dan Yohanes sangat sering berbicara tentang kehadiran Allah yang berdiam di dalam diri orang percaya. Pada Yohanes, Elisabet merenungkan secara khusus ayat-ayat di mana Yesus
30 Bdk. Conrad DE MEESTER (ed.),Elizabeth of the Trinity. Vol. I... op. cit, 142.
31 Emmanuel KANIYAMPARAMPIL,op. cit.
32 Bdk. Carolyn HUMPHREYS,“St Elizabeth of the Trinity“,dalam https://www.carmelites.org.au/item/281-st-elizabeth-of-the-trinity (diakses tanggal 24 April 2023).
33 Bdk. Ibid.
34 Conrad DE MEESTER (ed.),Elizabeth of the Trinity. Vol. I... op. cit., 144-145.
7
berbicara tentang tinggal atau berdiam di dalam diri orang percaya. Sebagai contoh, Yesus berkata:
"Tinggallah di dalam Kasih-Ku" (Yoh 15:4). Yang sangat menyentuh pengaruhnya adalah perkataan Yesus dalam Yohanes 14:23, dan ia memberikan komentar berikut: “Bukankah kepada orang yang menaati firman-Nya, Dia telah membuat janji ini: "Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam di dalam dia"? Seluruh Tritunggal yang berdiam di dalam jiwa mengasihi mereka dalam kebenaran, yaitu dengan menaati firman-Nya! (Retret Terakhir, 28)”35 Elisabet mengetahui keinginan Yesus yang sangat besar untuk tinggal di dalam diri orang percaya dari Injil Lukas 19:5 di mana Yesus berkata kepada Zakheus bahwa Dia ingin tinggal di rumahnya: “Tuanku telah berkata kepadaku tentang Zakheus: "Cepatlah turun (...) Cepatlah turun, tetapi ke mana? Ke dalam lubuk hati-Ku yang paling dalam (...). "Aku harus tinggal di rumahmu!" Guruku yang mengungkapkan keinginan ini! Guruku yang ingin tinggal di dalam diriku bersama Bapa dan Roh kasih-Nya ... (Retret Terakhir, 42-43)”36
Elisabet paham benar bagaimana menghubungkan keinginan Yesus, dengan pengalaman kata- kata Santo Paulus yang menjelaskan tentang berdiamnya Allah di dalam diri orang percaya: ‘"Kamu bukan lagi tamu atau orang asing, tetapi kamu sudah menjadi milik Rumah Allah, (Ef 2:19)".37 Inilah cara saya memahami "menjadi milik Rumah Allah": hidup dalam pangkuan Tritunggal yang tenang, di dalam jurang yang dalam ...(Retret Terakhir, 43).’38 Dengan demikian, bagi Elisabet, masuk ke kedalaman jiwanya yang paling dalam keheningan dengan Sabda Allah adalah cara untuk menjadi tempat kediaman Tritunggal. Mendengarkan berarti mengizinkan Sabda Allah untuk menciptakan di dalam dirinya apa yang ia dengarkan melalui suara Tuannya. Oleh karena itu, model Elizabeth dalam mendengarkan Sabda Allah mengundang kita untuk menciptakan ruang yang diperlukan bagi Firman Allah untuk mengaktualisasikan apa yang dikomunikasikan oleh Firman yang sama kepada pendengar dalam keheningan jiwanya.
3.3. Rahasia untuk Menyadari Allah Tritunggal dalam Jiwa
Elisabeth memberikan nasihat ini – dalam surat kepada Ny. Angles – jika seseorang ingin menyadari kehadiran Allah tritunggal dalam jiwa:
Saya akan memberikan "rahasia" saya kepada Anda: pikirkanlah tentang Allah yang tinggal di dalam diri Anda, yang merupakan bait-Nya (Bdk. 1 Kor 3, 16); Santo Paulus berbicara seperti ini dan kita dapat mempercayainya. Sedikit demi sedikit jiwa akan terbiasa hidup dalam kebersamaan
35 ibid., 154.
36 ibid, 161-162.
37 Terjemahan ini berdasarkan terjemahan penulis dari buku Elizabeth of the Trinity. I Have Found God: The Complete Works, Vol. I, jadi ada ketidaksamaan kata dengan terjemahan Kitab Suci bahasa Indonesia Terjemahan Baru, demi menjaga kedekatan maksud dari refleksi Elisabeth sendiri.
38 Conrad DE MEESTER (ed.),Elizabeth of the Trinity. Vol. I... op. cit., 162.
8
dengan-Nya, jiwa akan memahami bahwa ia membawa di dalam dirinya sebuah Surga kecil di mana Allah yang penuh kasih telah menetapkan rumah-Nya." (Surat, 249).39
Dalam surat lain kepada ibunya, Elizabeth memberikan nasihat sederhana tentang bagaimana menyadari Tiga Pribadi Ilahi ke dalam keheningan batin seseorang:
Santo Yohanes, dalam Suratnya, ingin kita memiliki "persekutuan" (bdk. 1Yoh 1:3) dengan Allah Tritunggal yang kudus. Sadarilah bahwa jiwamu adalah bait Allah, sekali lagi Santo Paulus yang mengatakan hal ini (bdk. 1Jor 3:16-17 dan 2Kor 6:16);pada saat ini, siang dan malam, Tiga Pribadi Ilahi hidup di dalam dirimu. (...) ... Keilahian ... ada di dalam jiwamu; ada keintiman yang sangat menggemaskan ketika kamu menyadari hal itu; kamu tidak pernah sendirian lagi! (...) Pikirkanlah bahwa Anda bersama Dia, dan bertindaklah seperti yang Anda lakukan dengan Seseorang yang Anda cintai; ini sangat sederhana, tidak perlu pikiran yang indah, hanya curahan hati Anda.40
Elisabeth berpendapat bahwa cukuplah untuk percaya dengan teguh dan berpikir sesering mungkin bahwa Ketiganya, Bapa, Anak dan Roh tinggal di dalam jiwanya. Ini adalah cara untuk membuat jiwa kita terbiasa dengan kehadiran Tuhan di dalamnya.
4. P
ENGALAMANM
ISTIK4.1. Dikuasai oleh Allah Tritunggal
Pengaruh orang kudus dan mistikus pendahulunya, seperti Theresia Lisieux, Yohanes Salib, dan lainnya, serta melalui kontaknya dengan seorang Dominikan, Pastor Vallée, pembimbing rohani Karmel, Elisabeth bisa mendapatkan kepastian bahwa Allah yang tinggal di dalam dirinya adalah Allah Tritunggal: Bapa, Putra dan Roh Kudus. Elisabeth dengan sukarela menyerahkan dirinya kepada ‘Tiga’ yang dicintainya dan bertumbuh ke dalam kedalaman misteri Tritunggal. Dalam diri Elisabet kita dapat melihat keaslian pengalaman mistiknya. Salah satu pengalaman mistik Elisabeth yang paling terkenal adalah rasa tenggelam sepenuhnya dalam Tritunggal Mahakudus. 41
Cinta Elizabeth yang kuat kepada Tiga Pribadi Ilahi membuat misteri Tritunggal menjadi kenyataan dalam penghayatan hidupnya. Dia hanya kehilangan dirinya ke dalam pangkuan Tritunggal di kedalaman jiwanya melalui keheningan dan ketenangan, serta tetap dalam pujian dan penyembahan kepada Ketiganya.42 Inilah yang diinginkan olehnya, dan sebagai hasilnya, ia mencapainya. ia membiarkan dirinya dicintai oleh jurang tak terbatas dari cinta Allah Tritunggal. Bagi Elizabeth, cinta Tritunggal ini adalah lautan yang sangat luas, yang dapat menelan jiwa yang membiarkan dirinya tenggelam di dalamnya. 43 Dengan demikian, Elisabet adalah sebuah model untuk membiarkan diri dicintai oleh kasih Yesus dan diliputi oleh persekutuan Tritunggal, membuka jiwa seseorang untuk didiami oleh Ketiganya dan tidak pernah merasa sendirian dan tersesat dalam depresi dan
39 Conrad DE MEESTER (ed.),Elizabeth of the Trinity. Vol. II... op. cit., 230.
40 ibid.., 271.
41 Untuk rincian pengaruh yang diterima Elizabeth, lihat Conrad DE MEESTER (ed.),Elizabeth of the Trinity. Vol. I... op. cit., 68-70.
42 Bdk. Conrad DE MEESTER (ed.),Elizabeth of the Trinity. Vol. II... op. cit., 295-296.
43 Bdk. Ibid., 116.
9
ketidakberartian hidup yang menjadi ciri khas dunia materialisme dan konsumerisme masa kini yang sedang berada di puncaknya.
4.2. Surga di Jiwa
Pengalaman yang paling indah dari bersemayamnya Allah Tritunggal dalam jiwa ketika Elisabeth mengalami Surga di dalam dirinya. Ia mengatakan: “Kita memiliki Surga di dalam diri kita (...). Bagi saya, saya telah menemukan Surga saya di bumi, karena Surga adalah Tuhan, dan Tuhan ada [di dalam] jiwa saya (Surat, 122)”.44 Pada saat menjelang akhir hidupnya (tahun 1905), ia merenungkan Filipi 3:20, bahwa hidup kita ada di Surga, sambil dengan penuh semangat menulis surat kepada adiknya: “Oh, Guite ku, Surga ini, rumah Bapa kita, berada di "pusat jiwa kita"! Seperti yang akan Anda lihat dalam Santo Yohanes dari Salib, ketika kita berada di pusat terdalam kita, kita berada di dalam Allah (Surat, 239).”45
Setelah menemukan surganya di bumi dengan terus-menerus menjaga Tiga Pribadi Ilahi di dalam jiwanya dan membiarkan dirinya terbenam dalam kebersamaan dengan Tritunggal, Elisabet berseru, "Impian saya adalah untuk menjadi "puji-pujian bagi Kemuliaan-Nya", saya membacanya di dalam Santo Paulus (Ef 1:12]..."46 Inilah panggilannya di dunia ini. Maka dari itu seseorang harus mati bagi semua yang bukan Allah dan membiarkan dirinya digerakkan hanya oleh sentuhan Allah.47 4.3. Transformasi Jiwa dalam Tritunggal
Oleh karena tenggelam dalam Tuhan dan hanya menjadi pujian kemuliaan bagi Tiga Pribadi, Elizabeth dapat melihat bagaimana Tiga Pribadi Ilahi menjadi hidup dalam jiwanya. Ditunjukkan dengan jelas bagaimana Ketiga Pribadi Ilahi mengubah jiwanya dengan cara mereka masing-masing.
Elisabet melihat dengan jelas aktivitas yang berbeda dari Ketiganya. Ia mengalami tangan Bapa yang menutupi dan melindungi untuk menjaganya dari hal-hal duniawi yang dapat mengalihkan perhatiannya dan oleh karena itu, Sang Putra dapat mengukir dalam jiwanya gambar-Nya sendiri yang memurnikan. Sebagai hasilnya, Bapa melihat di dalam diri Elisabet, putri-Nya yang terkasih.
Disentuh oleh Roh Kudus, Elisabet masuk ke dalam kedalaman jiwanya sendiri dalam keheningan untuk menyanyikan puji-pujian kemuliaan bagi Allah Tritunggal. Jadi, kita dapat menyimpulkan bahwa, bagi Elisabet, Bapa adalah Pelindung yang penuh kasih dan Putra adalah Pemulih yang indah dan Roh Kudus adalah Pengubah ilahi jiwa manusia ke dalam keindahan surgawi. Untuk mengalami sentuhan penuh kasih dari Tiga Pribadi inilah Elizabeth mengundang setiap orang Kristen.48
44 Ibid., 51.
45 Conrad DE MEESTER (ed.),Elizabeth of the Trinity. Vol. II... op. cit., 214.
46 ibid., 238-239.
47 Bdk. Ibid.
48 Bdk. Ibid., 264-265.
10
5. R
ELEVANSIApa yang harus dilakukan seseorang untuk menjadi seperti St. Elisabeth dari Tritunggal agar dapat mengalami misteri Tritunggal dalam kehidupannya? Ia hanya menyarankan hal-hal yang sederhana: Sadari kehadiran Yesus di dalam hati Anda dan jagalah agar hati Anda bebas dari segala kesibukan lainnya. Tinggallah di dalam hati Anda dengan Firman Allah. Ingatlah selalu bahwa bersama Yesus, Bapa dan Roh Kudus ada di dalam diri Anda. Masuklah ke dalam keheningan jiwa Anda dan undanglah Ketiganya untuk datang dan tinggal di dalam diri Anda. Dalam sikap penyerahan diri sepenuhnya kepada Roh Kudus, mintalah Roh Kudus yang sama untuk mengubah Anda dan menjadikan Anda serupa dengan gambar Putra Tunggal yang terkasih, Yesus. Bapa kemudian akan mengenali di dalam diri Anda Putra Terkasih-Nya sendiri, Yesus, dan di dalam Dia menjadikan Anda sebagai putra/putri-Nya yang terkasih.
Mengalami keindahan ini akan membebaskan kita dari berhala-berhala materi dan terlibat dalam pengejaran duniawi. Hal ini berulang kali membawa kita kembali ke titik hening, memelihara kehidupan pada tingkat yang dalam, dan melihat umat manusia sebagai keluarga Allah. Elisabet melihat setiap orang sebagai rumah Allah Tritunggal. Iman kita membawa orang lain lebih dekat kepada kehangatan kasih Allah dan menerangi kegelapan dunia. Tuhan menghendaki bahwa setiap manusia dapat mengalami Diri-Nya. Pengalaman akan Allah ini membawa kepada kesadaran terus menerus akan kehadiran Allah dalam lubuk jiwa manusia serta mengubah manusia kepada kesucian hidup. Pengalaman akan Allah menjadi satu faktor penting dan menentukan dalam kerinduan seseorang untuk mengejar kekudusan hidup serta memberikan kedamaian dan kebahagiaan sejati.49
6. S
IMPULANSpiritualitas St Elisabeth dari Tritunggal dicirikan oleh penekanannya pada berdiamnya Allah Tritunggal Mahakudus di dalam jiwa. Ia percaya bahwa Allah Tritunggal mengundang kita ke dalam relasi cinta dan keintiman yang mendalam, dan bahwa relasi ini ditandai dengan transformasi dan pengudusan. Bagi St Elisabeth, Bapa, Putra, dan Roh Kudus hadir di kedalaman keberadaan kita, dan hanya dengan membuka diri terhadap kehadiran mereka, kita dapat menjadi sepenuhnya hidup dan diubah ke dalam hidup Allah sendiri.
Elisabeth menggambarkan pengalaman spiritualitas Allah Tritunggal yang berakar pada gagasan "Tritunggal yang berdiam" atau dengan kata lain “inhabitasi” Allah Tritunggal. Dia percaya bahwa berdiamnya Tritunggal dalam jiwa ini merupakan sumber kedamaian dan sukacita yang luar biasa. Di sini Elisabeth hendak mengingatkan semua umat Kristen tentang pentingnya menyadari bahwa Allah tritunggal sungguh-sungguh hadir di setiap lubuk jiwa.
49 Bdk. Yohanes INDRAKUSUMA,op. cit.
11
DAFTAR PUSTAKA
Kitab Suci
Alkitab Deuterokanonika, ed. NLO, cet. XXXIX, Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta 2009.
Dokumen
Dokumen Konsili Vatikan II (terj. R. Hardawiryana), cet. VI, Obor, Jakarta 2002.
Sumber Utama
DE MEESTER,Conrad (ed.),Elizabeth of the Trinity. I Have Found God: The Complete Works, Vol.
I (Terj. ALETHEIA KANE), ICS Publications, Washington (DC) 1984.
_____________________,Elizabeth of the Trinity. I Have Found God: The Complete Works, Vol.
II (Terj. ANNE ENGLUND NASH), ICS Publications, Washington (DC) 1995.
MOORCROFT, J., He Is My Heaven: The Life of Elizabeth of the Trinity, ICS Publications, Washington (DC) 2006.
PHILIPON, M.M.,The Spiritual Doctrine of Sister Elizabeth of the Trinity, The Newman Press, Westminster 1947.
Sumber Penunjang
MOSLEY, Joanne, Elizabeth of the Trinity, The Unfolding of Her Message Vol.1: In the world and In Community, Teresian Press, Oxford 2012.
STINISSEN, Guido,Beata Elisabet dari Tritunggal (Terj. H.J.KACHMADI), Komisi Spiritualitas dan Pendidikan Ordo Karmel Indonesia, Malang 1987.
Artikel
KINNEY, Donald,Bl. Elizabeth of the Trinity and Her Sister Guite: Make My Soul Your Heaven, 1-15. (tidak tercantum sumber).
Internet
“Blessed Elizabeth of Trinity to be Canonized”, dalam https://angelusnews.com/news/us-
world/blessed-elizabeth-of-trinity-to-be-canonized/amp/ (diakses tanggal 21 Maret 2023).
“Patron Saint-St. Elizabeth of the Trinity”, dalam https://stelizabethtrinity.org/patron-saint-st- elizabeth-of-the-trinity/ (diakses tanggal 21 Maret 2023).
“Sindrom Sjogren”, dalam https://www.halodoc.com/kesehatan/sindrom-sjogren (diakses tanggal 22 Maret 2023).
“The Miracle that Made Elizabeth of the Trinity a Canonized Saint: the Healing of Marie-Paul Stevens”, dalam http://www.thereseoflisieux.org/my-blog-about-st- therese/2016/6/21/the-miracle-that-made-elizabeth-of-the-trinity-a- canonized-s.html (diakses tanggal 21 Maret 2023).
12
“The Superior General's Letter To the Order on The Occasion Of the Canonization of Blessed Elizabeth of the Trinity”, dalam http://ccacarmels.org/wp-
content/uploads/Elizabeth-of-the-Trinity-Fr.Saverio1.pdf (diakses tanggal 21 Maret 2023).
BUNDERSON, Carl,“Who was Elizabeth of the Trinity? The Story Behind a New Saint”,dalam https://www.catholicnewsagency.com/amp/news/33532/who-was- elizabeth-of-the-trinity-the-story-behind-a-new-saint (diakses tanggal 15 April 2023).
HUMPHREYS, Carolyn,“St Elizabeth of the Trinity“,dalam https://www.carmelites.org.au/item/281- st-elizabeth-of-the-trinity (diakses tanggal 24 April 2023).
KANIYAMPARAMPIL, Emmanuel,“Saint Elizabeth of the Trinity: Model for Experiencing the Trinitarian Indwelling”, dalam
https://www.academia.edu/38364898/Article_on_Elisabeth_of_the_Trini ty_doc (diakses tanggal 23 Maret 2023).
MAKARIM, Fadhli Rizal,“Penyakit Addison”, dalam https://www.halodoc.com/kesehatan/penyakit- addison (diakses tanggal 22 Maret 2023).
MARIA, Elisa,“Mengenal Spiritulitas Santa Elisabeth dari Trinitas”, dalam
https://www.carmelia.net/index.php/artikel/spiritualitas/154-mengenal- spiritualitas-bt-elisabeth-dari-trinitas (akses tanggal 23 Maret 2023).
MARWANTO, Yanuari, “Injil pada Zaman Serba Sibuk”, dalam
https://www.hidupkatolik.com/2017/10/03/13350/injil-pada-zaman- serba-sibuk.php/feed (diakses tanggal 21 Maret 2023).