• Tidak ada hasil yang ditemukan

kesiapan masyarakat dalam menghadapi pengembangan

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "kesiapan masyarakat dalam menghadapi pengembangan"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

KESIAPAN MASYARAKAT DALAM MENGHADAPI PENGEMBANGAN OBJEK WISATA BERTARAF INTERNASIONAL

DI PANTAI PADANG

JURNAL

HARNETI OKTAVIANI NIM. 12030101

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

(STKIP) PGRI SUMATRA BARAT PADANG

2017

(2)

COMMUNITY PREPAREDNESS DEVELOPMENT IN DEALING INTERNATIONAL TOURIST ATTRACTIONS ON PADANG BEACH

By :

Harneti Oktaviani1Helfia Edial2 Afrital Rezki3

1.Geography Education Students STKIP PGRI Sumatera Barat

2,3 Lecturer in Geography Education STKIP PGRI Sumatera Barat

Abstract

This study aims to determine analyze and discuss community preparedness in the face of international tourism development in Padang beach views from; 1) the ability and skills to communicate with the community of foreign tourists in welcoming international events and international tours, 2) community participation in the safety and comfort of tourists attractions Padang Beach, 3) the ability of people in the rescue action (Aid Basic Life) when the insident in regional attractions Padang Beach.

This research is a quantitative descriptive study, which analyzes the readiness of the community in the development of attraction international Padang Beach. The sample in this study conducted by cluster sampling (sampling area), with the distribution of the three regions namely Muara Padang Beach neighborhood 17 samples, 35 samples Cimpago Lake neighborhood and area Muaro restless 32 samples. Collecting data using questionnaires, analysis used is the percentage and scale likers Results of the study 1) Ability and communication skills people who are in the tourist area of Padang Beach is quite (64.40%) so that the majority of traders and parking attendants do not master a foreign language, 2) Community participation in the safety and comfort are classified as good (81.35%) because the majority of vendors and parking attendants are also involved in maintaining the security and comfort of the visitors, but in case of criminal acts the majority of people do not do anything on a regional attraction Padang Beach guard official TNI, Police and police Pamog Paraja,, 3) The ability of people in the rescue action is quite (69.03%) because rescuse team who have full responsibility to rescue drowning victims in Padang Beach tourist area.

Keywords: Community Preparedness, Padang Beach.

(3)

KESIAPAN MASYARAKAT DALAM MENGHADAPI PENGEMBANGAN OBJEK WISATA BERTARAF INTERNASIONAL DI PANTAI PADANG

Oleh :

Harneti Oktaviani1Helfia Edial2 Afrital Rezki3

1.Mahasiswa Pendidikan Geografi STKIP PGRI Sumatera Barat.

2,3 Staf Pengajar Pendidikan Geografi STKIP PGRI Sumatera Barat

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui menganalisis dan membahas kesiapan masyarakat dalam menghadapi pengembangan objek wisata bertaraf internasional di Pantai Padang dilihat dari; 1) kemampuan dan keterampilan berkomunikasi masyarakat sekitar dengan wisatawan mancanegara dalam menyambut event internasional maupun wisata internasional, 2) partisipasi masyarakat terhadap keamanan dan kenyamanan wisatawan di objek wisata Pantai Padang, 3) kemampuan masyarakat pada tindakan penyelamatan (Bantuan Hidup Dasar) saat terjadinya insident di kawasan objek wisata Pantai Padang.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuntitatif, yaitu menganalisis kesiapan masyarakat dalam pengembangan objek wisata Pantai Padang bertaraf internasional. Sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik cluster Sampling (area sampling), dengan pembagian tiga kawasan yakni kawasan LP Muaro Padang 17 sampel, kawasan Danau Cimpago 35 sampel dan kawasan Muaro Lasak 32 sampel.

Pengumpulan data mengunakan angket, analisa yang digunakan adalah persentase dan skala likers. Hasil penelitian 1) Kemampuan dan keterampilan berkomunikasi masyarakat yang berada di kawasan wisata Pantai Padang tergolong cukup (64.40%) sehingga mayoritas pedagang dan juru parkir tidak menguasai berbahasa asing, 2) Partisipasi masyarakat terhadap keamanan dan kenyamanan tergolong baik (81.35%) karna mayoritas pedagang dan juru parkir juga terlibat dalam menjaga keamanan dan kenyamanan pengunjung namun jika terjadi tindakan kriminal mayoritas masyarakat tidak berbuat apa-apa pada kawasan objek wisata Pantai Padang penjagaan resmi TNI, POLRI dan Polisi Pamog Paraja, 3) Kemampuan masyarakat pada tindakan penyelamatan tergolong cukup (69.03%) karna tim rescuse yang memiliki tanggung jawab penuh terhadap penyelamatan korban tenggelam di kawasan wisata Pantai Padang.

Kata kunci : Kesiapan Masyarakat, Pantai Padang

(4)

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, dengan ± 18.110 pulau yang dimilikinya dengan garis pantai sepanjang 108.000 km.

Negara Indonesia memiliki potensi alam, keanekaragaman flora dan fauna, peninggalan purbakala, peninggalan sejarah, serta seni dan budaya yang semuanya itu merupakan sumber daya dan modal yang besar artinya bagi usaha pengembangan dan peningkatan kepariwisataan (Upi,edukasi)

Pengembangan yang dilakukan oleh lembaga terkait agar objek wisata lebih terstruktur dengan baik, lebih menarik untuk dikunjungi, lebih nyaman dan aman untuk pengunjung. Tidak hanya pengembangan objek wisata juga memerlukan promosi. Promosi ini agar objek wisata dikenal oleh masyarakat luas. Promosi yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata baik melalui media cetak maupun media eletronik. Pengembangan dan promosi yang dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan pengunjung. Apabila tingkat pengunjung tinggi maka dapat berpegaruh terhadap perekonomian masyarakat sekitar yang tentunya akan berdampak pada pendapatan daerah.

Kota Padang adalah salah satu kota yang memiliki potensi wisata alam dan budaya yang beragam. Hal ini disebabkan karna Kota Padang secara geografis terletak di pesisir pantai barat Pulau Sumatera, dengan garis pantai sepanjang 84 km. Luas keseluruhan Kota Padang adalah 694,96 km², dan lebih dari 60% dari luas tersebut, sekitar

± 434,63 km² merupakan daerah perbukitan yang ditutupi hutan lindung.

Dengan demikian kondisi kota Padang berada di pesisir pantai dan memiliki kawasan perbukitan yang membentang.

Kota Padang merupakan daerah yang memiliki objek wisata yang patut untuk dikembangkan. Perkembangan tersebut akan berdampak terhadap perekonomian daerah dan tentu saja perekonomian

masyarakat sekitar serta peluang investasi (Wikipedia).

Pemerintahan Kota Padang melakukan pengembangan kawasan wisata Pantai Padang. Pengembangan tersebut dilakukan dengan menata kawasan objek wisata Pantai Padang dengan menjadikan Kawasan Wisata Keluarga (KWK) pada sepanjang 500 meter di Jalan Samudera Pantai Padang.

Kawasan wisata tersebut akan dibangun plaza sebagai arena bermain keluarga, yang terdiri dari bangunan panggung kebudayaan, lapangan utama dengan bangku taman, hingga pancuran air tawar untuk pengunjung membersihkan diri setelah bermain di pantai. Pada KWK Pantai Padang juga akan dibangun pedestrian, dari pintu masuk hingga menuju plaza yang ditujukan agar wisatawan dapat berjalan sambil melihat pemandangan pantai.

Pengembangan KWK di kawasan pantai mengunakan anggaran untuk membangun KWK Pantai Padang pada APBD 2016. Dalam pembangunan KWK Pantai Padang, akan menggunakan sistem "year to year"

dengan pembagian tahapan pembangunan kedalam empat tahapan, yakni pembangunan lapangan utama dengan menempatkan tempat duduk santai keluarga di tahap pertama.

Dilanjutkan dengan tahapan kedua yakni membangun panggung kebudayaan yang nantinya diperuntukkan sebagai pagelaran kesenian, lalu pada tahapan ketiga membangun sarana pancuran air tawar bagi para pengunjung yang ingin membersihkan diri selesai bermain dari pantai. Dan pada tahap keempat membangun pedestrian dengan taman- taman hijau di sepanjangnya. Dan nantinya KWK Pantai Padang ini, tidak akan memungut biaya retribusi. KWK ini ditujukan untuk warga Kota Padang yang hendak bersantai bersama keluarga di hari libur, istilahnya alun-alunnya Kota Padang. Proyek pengembangan ini dimulai dari tahun 2015 hingga 2019.

(5)

Pengembangan Pantai Padang menjadi Kawasan Wisata Keluarga (KWK) mulai terlihat dengan adanya pembenahan Pantai Padang. Dimana Pemerintah mulai membersihan kawasan tenda ceper yang berada di sepanjang Pantai Padang, membersihkan Pantai Padang dari pedagang maupun rumah makan yang berdiri di sepanjang bibir pantai. Sehingga warga Kota Padang dan wisatawan dari luar daerah Kota Padang dapat dengan leluasa menikmati keindahan Pantai Padang (KabarBisnis).

Objek wisata Pantai Padang merupakan salah satu objek wisata yang menjadi destinasi utama dan membanggakan bagi warga Kota Padang. Evenst-events besar sudah digelar dikawasan wisata Pantai Padang.

Events-events dimanfaatkan oleh Pemerintah Kota Padang untuk mempromosikan objek wisata Pantai Padang luar daerah Sumatera Barat maupun mancanegara.

Dalam dua tahun terakhir ini Kota Padang sudah menjadi tuan rumah dua kegitan yang bertaraf internasional yakni; Konferensi Tingkat Tinggi Indian Ocean Rim Association (KTT IORA) yang digelar pada tanggal 20 sampai 23 Oktober 2015. Kegiatan ini juga mengikut sertakan kawasan objek wisata Pantai Padang, yang mana para peserta Konferensi Tingkat Tinggi Indian Ocean Rim Association (KTT IORA) melakukan serangkaian kegitan

“babendi-bendi” di Pantai Padang (depan Lapau Panjang Cimpago), menyaksikan pemecahan rekor MURI penampilan 1.200 talempong pacik oleh siswa/siswi sekolah di Kota Padang, serta melepas tukik (anak penyu) di Pantai Padang. Pemerintah Kota Padang juga pada saat itu meresmikan taman IORA di kawasan tersebut (Padangmedia).

Events kedua yang menjadikan Kota Padang tuan rumah adalah Multilateral Naval Exercise Komodo

(MNEK) 2016. Multilateral Naval Exercise Komodo (MNEK) 2016 dihadiri angkatan laut dari 36 negara yang dilaksanakan pada tanggal 12 hingga 16 April 2016 di Padang dan Mentawai. Lantamal II Teluk Bayur bersama Pemko Padang membangun Tugu Perdamaian di Pantai Padang, tepatnya di kawasan Muaro Lasak. Tugu perdamaian sendiri berbentuk burung merpati origami dan dibawahnya terdapat bola dunia. Peresmian Tugu Perdamaian tersebut dilaksanakan pada pembukaan Multilateral Naval Exercise Komodo (MNEK) 2016 (infosumbar).

Events-events tersebut berdampak positif terhadap penambahan daya tarik wisata yang berada di kawasan Pantai Padang, sekaligus sebagai perkenalan bagi dunia luar.

Seiring dengan itu Pemko terus membenahi kawasan wisata Pantai Padang sehingga wisatawan dapat berkunjung dengan aman dan nyaman di kawasan wisata tersebut.

Dalam pengembangan dan promosi wisata yang dilakukan oleh lembaga terkait harus mengikut sertakan masyarakat lokal yang berada di kawasan wisata tersebut. Hal ini dikarnakan masyarakat sekitar yang akan menerima dan melayani pengunjung selama berada di objek wisata. Masyarakat juga berpengaruh terhadap keberhasilan pengembangan objek wisata serta mempengaruhi promosi kawasan objek wisata. Apabila masyarakat tidak ikut serta maupun mendukung pengembangan yang dilakukan oleh lembaga terkait maka pengembangan tersebut tidak berjalan dengan optimal dan begitupun sebaliknya.

Masyarakat sekitar juga mempengaruhi citra objek wisata di mata pengunjung. Walaupun objek wisata tersebut memiliki pesona alam yang indah akan tetapi jika masyarakat tidak memperlihatkan sikap positif dalam menerima kehadiran pengunjung

(6)

maka objek wisata tersebut akan meninggalkan kesan tidak mempunyai daya tarik dihati pengunjung. Sehingga masyarakat sekitar juga harus mengambil peran dalam membina citra suatu objek wisata. Dikarenakan masyarakat sekitar yang akan berinteraksi langsung dengan pengunjung.

Masalah-masalah klasik di kawasan Pantai Padang seperti tindakan premanisme dan pembalakan masih terjadi di kawasan ini. Para pedagang nakal pun ikut melakukan premanisme dengan mematok harga yang tidak masuk akal. Baru-baru ini Kota Padang dihebohkan oleh pengakuan salah seorang pengunjung Pantai Padang yang dibagikan di media sosial yakni facebook. Pengunjung tersebut berbagi cerita tentang pengalamannya. Ia memesan Cappucino dan Langkitang untuk porsi 2 orang. Ketika akan membayar pesanan, betapa kagetnya ia mendengar bahwa total tagihannya sebesar Rp 200.000 hanya untuk 2 porsi Langkitang dan Cappucino. Jelas ini merupakan pemalakan (premanisme) terselubung di tempat wisata pantai Padang. Tidak hanya premanisme di objek wista Pantai Padang namun para pedangang yang tidak terstruktur dengan baik, baik pedagang kaki lima maupun pedangan yang berjualan mengunakan kendaraan pribadi yang memakan badan jalan. Sehingga pada akhir pekan dan hari libur akan terjadi kemacetan diwilayah Pantai Padang (redaksi cepat).

Berdasarkan observasi yang penulis lakukan pada bulan April saat events Multilateral Naval Exercise Komodo (MNEK) 2016 masyarakat sekitar mengalami kesulitan berkomunikasi kepada tamu luar negeri yang terlibat dalam events. Tamu khususnya para jurnalis yang sedang menikmati suasana sore di pantai padang ketika mereka berusaha berkomunikasi kepada masyarakat namun komunikasi tersebut tidak begitu lancar. komunikasi

yang terjadi antara tamu dengan masyarakat sekitar kawasan objek wisata Pantai Padang menggunakan bahasa isarat seperti bahasa tubuh.

Padahal, events tersebut dijadikan sebagai alat promosi wisata Pantai Padang dimata dunia.

Berdasarkan pengamatan penulis kawasan objek pantai padang hanya memiliki satu pos penyelamatan yang mana pos tersebut terletak di depan kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Padang. Sedangkan, kawasan objek wisata memiliki kawasan yang cukup luas. Maka jika terjadi kecelakan atau pengunjung atau masyarakat sekitar yang hanyut maka memerlukan waktu untuk menuju ke lokasi kejadian. Namun, saat hari libur penulis melihat banyak team penyelamat yang berjaga disekitar kawasan objek wisata Pantai Padang.

Dari permasalahan tersebut terlihat bahwa masyarakat disekitar kawasan objek wisata Pantai Padang belum siap untuk berkerja sama dalam rangka pengembangkan objek wisata pantai padang. Tidak hanya itu masalah tersebut membuat citra pariwisata Kota Padang buruk di mata pengunjung dari luar wilayah Kota maupun pengunjung yang berasal dari Kota sendiri.

Berdasarkan masalah diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Kesiapan Masyarakat Dalam Menghadapi Pengembangan Objek Wisata Bertaraf Internasional Di Pantai Padang”.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuntitatif, Menurut Sugiyono (2013:7) menyatakan penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafah positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data mengunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuntitatif.

(7)

Populasi Penelitian Masyarakat Di Kawasan Objek Wisata Pantai Padang sebanyak 338 responden.

Menurut Sugiyono (2013:81) menyatakan sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.

Menurut Arikunto (2006:134) menyatakan sampel sebagian atau wakil populasi yang diteliti, apabila subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitinnya merupakan penelian populasi. Tetapi, jika jumlah subjek besar, dapat diambil antara 10- 15% atau 20-25% atau lebih.

Pengambilan responden masyarakat dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik cluster Sampling (area sampling) yaitu pengambilan sampel berdasarkan daerah populasi yang ditetapkan.

Teknik analisa data yang digunakan untuk menganalisa data dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif, karena tujuan penelitian ini adalah untuk melihat kecenderungan indikator masing-masing variabel dua teknik sebagai berikut;

1. Rumus persentase 𝑝 =𝑓

𝑛×100%

Berdasarkan rumus di atas maka sample responden sebanyak 84 responden

2. Skala Likerts

Penelitian ini mengunakan metode analisa dengan mengunakan skala Likert. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau kelompok orang tentang fenomena sosial. dalam metode analisa skala Likert ini fenomena sosial di tetapkan secara spesifik yang mana selanjutnya disebut sebagai variabel penelitian. Variabel tersebut diukur

dijabarkan menjadi indikator variabel. Indikator variabel tersebut dijadikan titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pertanyaan maupun pertanyaan. ( Sugiono:

2013)

Jawaban setiap instrumen yang mengunakan skala likert garasi nilai dari 4, 3,2,1 nilai baik dan sangat buruk.

( Sugiyono 94:2013)

Dalam penelitian ini terdapat 3 bagian kawasan penelitian yakni; Kawasan Pantai Muaro, Kawasan Danau Cimpago dan Kawasan Muaro Lasak. Maka hasil pengelolan data tentang kesiapan masyarakat dalam pengembangan objek wisata Pantai Padang bertaraf internasional dapat dilihat sebagai berikut:

1. Kawasan Pantai Muaro Dalam hubungan teknik pengumpulan data angket, instrumen tersebut disebarkan 17 responden, kemudian direkapitulasi dari data 17 responden. Misalnya, Skor Ideal = 4 x 17

= 68

Skor Terendah = 1 x 17 = 17 Untuk

menginterperstasikan hasil analisis deskriptif maka persentase kelompok responden adalah 53/68 x 100% = 77.9% tergolong

“Cukup”. Dengan kriteria nilai pencapaian responden

Keterangan :

Iya/ Selalu/ Ikut serta/ Sangat sering/

Sangat pernah/ Sering = 4

Kadang-kadang/ Sering/ Sekedar ikut serta/ Pernah/ Sesekali/ Selalu = 3 Ragu-ragu/ Kadang-kadang/ Jarang sekali= 2

Tidak/ Hampir tidak pernah= 1

(8)

diklasifikasikan sebagai berikut:

Tabel.3.4. Kriteria Nilai Pencapaian Responden

Kategori Pencapaian Angka 0% -

24,5%

Sangat buruk Angka 25% -

49.5%

Buruk Angka 50% -

74.5%

Cukup Angka 75% -

100%

Baik ( Sugiyono 94:2013)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pertama, masyarakat di kawasan wisata Pantai Padang dalam kemampuan dan keterampilan berkomunikasi dengan wisatawan asing yang berkunjung ke kawasan wisata Pantai Padang pada kawasan Pantai Muaro, kawasan Danau Cimpago maupun kawasan Muaro lasak. Pada kawasan Pantai Muaro kemampuan berkomunikasi masyarakat terhadap wisatawan asing yang berkunjung di kawasan wisata Pantai Padang kawasan Pantai Muaro rata-rata tergolong Cukup (64.70%), karena komunikasi terjadi antara masyarakat dengan wisatawan asing jarang terjadi namun, jika komunikasi terjadi maka masyarakat berusaha untuk melayani dengan baik walaupun hanya mengunakan bahasa isarat jika mereka tidak memahani Bahasa Indonesia. Bahasa isarat yang dilakukan antara pedagang dengan wisatawan asing dalam bentuk menunjuk barang yang diinginkan serta pembayaran juga dengan menunjuk nominal uang rupiah yang dimiliki pedagang.

Sedangkan, pada kawasan Danau Cimpago rata-rata tergolong Cukup (61.73%), karena walaupun komunikasi terjadi antara masyarakat dengan wisatawan asing jarang terjadi namun, jika komunikasih terjadi maka

masyarakat berusaha melayani dengan baik walaupun hanya mengunakan bahasa isarat jika mereka tidak memahani Bahasa Indonesia. Bahasa isarat yang dilakukan antara pedagang dengan wisatawan asing dalam bentuk menunjuk barang yang diinginkan serta pembayaran juga dengan menunjuk nominal uang rupiah yang dimiliki pedagang. Dan pada kawasan Muaro Lasak rata-rata tergolong tergolong Cukup (66.73%), karena walaupun komunikasi terjadi antara masyarakat dengan wisatawan asing jarang terjadi namun, jika komunikasi terjadi maka masyarakat berusaha melayani dengan baik walaupun masyarakat tidak bahasa asing namun masyarakat akan minta tolong kepada anaknya untuk melayani wisatawan tersebut. Pelayanan yang dilakukan dengan bahasa inggris dasar mengunakan kosa kata bahasa inggris yang sering digunakan.

Hal tersebut diperkuat oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Padang yang melakukan wawancara takterstruktur pada tanggal 23 Desember 2016 beliau menyatakan “Permko lebih kepada penataan pedagang, SDM (Sumber Daya Manusia) baik dari harga makan maupun tarif parkir. Belum ada pelatihan bahasa asing namun jika ada pihak swasta yang ingin melakukan pelatihan bahasa asing maka kami akan mengizinkan tapi dari Pemko pelatihan bahasa asing belum dilakukan kepada masyarakat di kawasan wisata Pantai Padang nanum rencana kedepannya ada

Hal ini sesuai dengan salah satu program pengembangan kepariwisata yang dinyatakan Bakaruddin (2011:110) dimana program pengembangan sumber daya manusia dan kelembagaan yang mana salah satunya menyatakan perlu adanya penyuluhan pembinaan masyarakat secara berkala melalui pendekatan yang berkesinambungan dan menyeluruh. Agar keberhasilan dalam

(9)

pengembangan pariwisata dapat terwujud (Smith dalam Seokarno)

Hal ini tidak sesuai dengan Aji Setyanto (2014) pada dasarnya proses komunikasi dengan wisatawan asing, membutuhkan kemampuan dan penguasaan bahasa asing. Bahasa asing yang harus diketahui dan harus dikuasai oleh masyarakat sekitar tempat wisata, minimal adalah bahasa asing dasar, kosa kata sederhana dalam perkenalan, atau hanya sekedar menyapa wisatawan asing ini. Dan pada dasarnya seluruh proses komunikasi dengan para wisatawan asing, membutuhkan kemampuan dan penguasaan bahasa asing. Terkait tentang pelatihan masyarakat mengatakan telah mendapat pelatihan dari pihak swasta namun masyarakat di kawasan Muaro Lasak tidak tertarik karna mereka takut ada kaitan politik namun pada kawasan Pantai Muaro dan Danau Cimpago masyarakat tertarik untuk mengikuti pelatihan bahasa asing

Kedua, partisipasi masyarakat terhadap keamanan dan kenyamanan wisatawan yang berkunjung ke kawasan wisata Pantai Padang tersebut baik kawasan Pantai Muaro, kawasan Danau Cimpago maupun kawasan Muaro lasak.

Pada kawasan Pantai Muaro partisipasi masyarakat dalam menjaga keamanan dan kenyamanan wisatawan di kawasan wisata Pantai Padang kawasan Pantai Muaro tergolong Baik (86.76%), karena masyarakat terlibat dan ikut serta dalam menjaga keamanan dan kenyamanan wisatawan meskipun masyarakat di kawasan ini tidak berani menegur bahkan membantu apabila terjadi tindakan kriminal di kawasan ini.

Sedangkan,kawasan Danau Cimpago partisipasi masyarakat dalam menjaga keamanan dan kenyamanan wisatawan di kawasan wisata Pantai Padang kawasan Danau Cimpago tergolong Baik (80.56%), karena masyarakat terlibat dan ikut serta dalam menjaga keamanan dan kenyamanan wisatawan

meskipun masyarakat di kawasan ini tidak berani menegur bahkan membantu apabila terjadi tindakan kriminal di kawasan ini namun masyarakat hanya manasehati pengunjung yang berkunjung ke kios. Namun kantor pos polisi pariwisata terdapat dikawasan Danau Cimpago tepatnya di kawasan Lapau Panjang Cimpago (LPC). Dan pada kawasan Muaro Lasak partisipasi masyarakat dalam menjaga keamanan dan kenyamanan wisatawan di kawasan wisata Pantai Padang kawasan Muaro Lasak tergolong Baik (76,74%), karena masyarakat terlibat dan ikut serta dalam menjaga keamanan dan kenyamanan wisatawan meskipun hanya sebagian masyarakat di kawasan ini tidak semua berani menegur saat terjadi tindakan kriminal di kawasan ini.

Dalam hal penjagaan resmi di kawasan wisata Pantai Padang Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Padang dalam wawancara takterstruktur pada tanggal 23 Desember 2016 beliau menyatakan “Penjagaan di kawasan wisata Pantai Padang dilakukan oleh TNI, Polisi, dan Polisi Pamong Praja.

Pemerintah juga lebih kepada penataan tarif parkir dan makanan di kawasan wisata Pantai Padang Juga Sapta Pesona

Hal ini tidak sesuai dengan Dirjen Pariwisata dalam Bakaruddin (2011:75) dimana pengunjung merasa aman, nyaman dan tidak takut dari tindakan kejahatan seperti kecopetan.

Untuk keamanan dan kenyamanan di kawasan pariwisata dipengaruhi oleh tingkat pemahaman masyarakat yang rendah tentang sadar wisata melalui unsur sapta pesona hal tersebut dikemukakan oleh Wahyu Khalik (2014)

Namun, untuk partisipasi masyarakat dalam menjaga kenyamanan telah sesuai dengan Budianda (2000) masyrakat berpartisipasi dalam pembangunan pariwisata, dimana masyarakat ikut serta dalam proses pengembangan pariwisata sehingga, rasa

(10)

tanggung jawab tumbuh pada masyarakat hal tersebut menyebabkan rasa memiliki jawab otomatis masyrakat akan ikut merawat serta memelihara kelestrarian objek wisata.

Ketiga, kemampuan masyarakat pada tindakan penyelamatan (Bantuan Hidup Dasar) saat terjadinya insident di kawasan wisata Pantai Padang tersebut baik kawasan Pantai Muaro, kawasan Danau Cimpago maupun kawasan Muaro Lasak. Pada kawasan Pantai Muaro kemampuan masyarakat pada tindakan penyelamatan (Bantuan Hidup Dasar) saat terjadinya insident di kawasan wisata Pantai Padang kawasan Pantai Muaro tergolong Cukup (73.15%), hal ini dikarnakan semua kejadian yang berhubungan dengan kecelakan korban hanyut dilakukan oleh Tim rescuse masyarakat hanya melaporkan dan memberi petunjuk berkaitan dengan korban. Sedangkan, kawasan Danau Cimpago kemampuan masyarakat pada tindakan penyelamatan (Bantuan Hidup Dasar) saat terjadinya insident di kawasan wisata Pantai Padang kawasan Danau Cimpago tergolong Cukup (74.42%), hal ini dikarnakan semua kejadian yang berhubungan dengan kecelakan korban hanyut dilakukan oleh Tim rescuse masyarakat hanya melaporkan dan memberi petunjuk berkaitan dengan korban, namun kantor pos pengamanan dan pos polisi pariwisata terdapat dikawasan Danau Cimpago tepatnya di kawasan Lapau Panjang Cimpago (LPC). Dan pada kawasan Muaro Lasak kemampuan masyarakat pada tindakan penyelamatan (Bantuan Hidup Dasar) saat terjadinya insident di kawasan wisata Pantai Padang kawasan Muaro Lasak tergolong Cukup (59.52%), hal ini dikarnakan semua kejadian yang berhubungan dengan kecelakan korban hanyut dilakukan oleh Tim rescuse masyarakat hanya melaporkan dan memberi petunjuk berkaitan dengan korban.

Dalam hal tindakan penyelamatan pada korban hanyut di kawasan wisata Pantai Padang Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Padang dalam wawancara takterstruktur pada tanggal 23 Desember 2016 beliau menyatakan “tim penyelamatan dilakukan oleh tim Rescuse dibantu tim Bazanas, BPBD Padang dengan kordinasi yang baik, kantor tim rescuse berada di Lapau Panjang Cimpago (LPC)

Hal ini sesuai dengan Egar Rahadianto (2015) menyatakan penjaga pantai (life guard) merupakan pemberian pertolongan pertama khususnya dalam pemberian bantuan hidup dasar pada korban tenggelam.

Pada tiga kawasan tersebut menyatakan tim Rescuse yang membantu penyelamatan korban hanyut. Tim rescuse sendiri pada kawasan wisata Pantai Padang terdapat satu kantor utama kantor terletak di kawasan di Lapau Panjang Cimpago (LPC). Kantor utama berada di antara Lapau Panjang Cimpago (LPC) dimana kantor yang terletak lantai 3 yang memantau ke seluruh kawasan Wisata Pantai Padang, dan salah satu pos rescuse di depan kantor Budaya dan Pariwisata.

PENUTUP KESIMPULAN

1. Kemampuan dan keterampilan berkomunikasi masyarakat yang berada di kawasan wisata Pantai Padang tergolong cukup (64.40%) sehingga mayoritas pedagang dan juru parkir tidak menguasai berbahasa asing.

2. Partisipasi masyarakat terhadap keamanan dan kenyamanan tergolong baik (81.35%) dikarnakan mayoritas pedagang dan juru parkir juga terlibat dalam menjaga keamanan dan kenyamanan pengunjung namun jika terjadi tindakan kriminal

(11)

mayoritas masyarakat tidak berbuat apa-apa pada kawasan objek wisata Pantai Padang penjagaan resmi TNI, POLRI dan Polisi Pamog Paraja.

3. Kemampuan masyarakat pada tindakan penyelamatan tergolong cukup (69.03%) dikarnakan tim rescuse yang memiliki tanggung jawab penuh terhadap penyelamatan korban tenggelam di kawasan wisata Pantai Padang.

SARAN

1. Bagi masyarakat di kawasan wisata Pantai Padang terutama bagi pedagang dan juru parkir untuk berpartisipasi jika nantinya pemerintah terkait pelatihan bahasa asing, serta berpartisipasi dalam membantu melawan tindakan kriminal di kawasan wisata Pantai Padang.

2. Bagi pemerintah agar memberikan masukan tentang pelatihan bahasa asing bagi pedangang dan juru parkir di kawasan wisata Pantai Padang.

3. Dapat menjadi acuan dan tolak ukur bagi pemerintah dan instansi untuk mengetahui kesiapan masyarakat dalam menghadapi pengembangan objek wisata bertaraf internasional di kawasan wisata Pantai Padang mayoritas pedagang dan juru parkir tidak bisa berbahasa asing dan melakukan tindakan penyelamatan.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharja, 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. PT Rineka Cipta.

Jakarta.

Bakaruddin. 2011. Permasalahan dan Pengembangan

Kepariwisataan. UNP Press.

Padang.

Budianda. Luhur. 2000. Partisipasi

masyarakat dalam

pengembangan pariwisata (suatu studi terhadap partisipasi masyrakat di objek wisata pantai air manis kelurahan air manis kota padang). Tesis. Universitas Indonesia.

Bonawati, Eva. 2014. Geografi Indonesia. Ombak Dua.

Yogyakarta.

http://aresearch.upi.edu/operator/upload/

s_mrl_0606862_chapter1.pdf.

akses Februari 2016

http://kabar24.bisnis.com/read/2015080 7/78/460386/pengembangan- pariwisata-pemkot-padang- prioritaskan-kawasan-pantai- padang. akses Februari 2016 http://padangmedia.com/ini-jadwal- kegiatan-iora-di-padang/.

akses 3 Agustus 2016 http://redaksicepat.com/2042/makan-

langkitang-cappucino-di- pantai-padang-bayar-rp- 200-000/. Akses 3 Agustus http://www.infosumbar.net/berita/berita-

sumbar/tugu-perdamaian- pantai-padang/. akses 3 Agustus 2016

http://www.wikipedia.com . akses 15 Februari 2016

Rahardiantomo. Egar. Dkk. 2015 . Pengetahuan Life Guard Tentang Bantuan Hidup Dasar Pada Wisatawan Tenggelam Di Pantai Klayar Pacitan.

Jurnal. STIKes Kusuma Husada. Surakarta

Satyanto. Aji. 2012. Pentingnya Penguasaan Bahasa Dan

(12)

Budaya Asing Sebagai Pendukung Utama Sektor Pariwisata. Jurnal. Universitas Brawijaya Malang.

Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. CV Alfabeta. Bandung.

Referensi

Dokumen terkait

Tersedia marker untuk merepresentasikan tiap senyawa hidrokarbon Alkana, Alkena, dan Alkuna yang dimulai dari n=1,2,..., 5 dan untuk menghasilkan hasil reaksi oksidasi,