KETIMPANGAN IENDER DALAM NOVEL GADIS KRETEK KARYA RATIH KOMALA
Dara
Windiyarti
Balai Bahasa Surabaya Pos-el : win diy ar ti dar a@y aho o. comInti Sari
Tujuan penelitian ini ad_alah mendeskripsikan ketimpangan jender dalam,hov elGadis Krtekkarya Ratih Komala yang terbit tahun 2012. Teori yang digunakan dalam perlelitian ini adalah teori fungsional jender. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik kepustakaan. Metode yang digunakan untuk analisis data adalah deskriptif analisiJ. Pembahasan ini menghasilkan hal-hal berikut. Pertama, adanya kesempatan dan kebebasan bagi perempurL menganta"rkan perempuan memiliki peran dominan di sektor publik. Kedua, ketipangan jender berripa perbedaan peran, perilaku, dan karakteristik emosional antara laki-laki dengan peiempuan, s"itu pukrurn kuitural, menyebabkan jatuhnya dominasi peran perempuan di selitor publik.
Kata-kata Kunci: novel, fungsional jender, ketimpangan jender
The purpose of this study was to descriu, ,r,
rllrl.liJfr'rf i, thr ro'orrtGadis Kretek by Ratih Komata,
published in 2012. The theory.used in this study was gender functional, Data collection wis done by using
literature technique. The method used for data analysis was descriptioe analysis. This discussion *os i,
follows. First, there were opportunity and freedom for women to deliaer womanio haae a dominant role in the public sector. Second, there was the inequity gender in the form of dffirent roles, behaaiors, and emotional characteristicsbetweenman andwoman, as well as culturalforce {hat-iaused thefall of woman dominant role in thepublic sector.
Key W o r d s : noa el, gen de r fu n c t iio n al theo ry, and gen der in e quity
1.
PendahuluanPersoalan jender bukanlah persoalan baru dalam kajian-kajian sosial. Namun demikian, kajian jender masih tetap aktual dan menarik, mengingat masih banyaknya isu berbagai ke- timpangan jender yang memunculkan terjadi-
nya
ketidakadilan jender. Dalam memahami persoalan jender,diperlukan
berbagai kajianyang
bisa mengantarkan pada pemahaman yang benar tentang jender. Kajian-kajian yangsering digunakan unfuk memahami persoalan jender adalah kajian-kajian dalam
ilmu-ilmu
sosial, terutama sosiologi. Dari berbagai kajian sosial inilah muncul berbagai teori sosial yang kemudian dijadikan sebagai teori-teori jender yang sering disebut teori-teori feminisme. Ana-
'lisis
jender dilakukan antara lain untuk meme- cahkan berbagai persoalan terutamaketim-
pangan jender yang terjadidi
tengah-tengah masyarakat.)
Naskah masuk tanggal 9 April 2014. Editor: Drs. Hery Mardiyanto. Edifl 5-10 Mei 2014.23
Dalam kajian sastra, analisis jender digu- nakan
untuk
mengungkapkan berbagai per- soalan jender yang terjadi dalam masyarakat sastra (karya sastra) mengingat bahwa teks sas-tra
sebenarnya merupakan karyayang
amatkompleks, karena sastra juga merupakan reflek- si kehidupan manusia dengan berbagai macam dimensi yang ada. Oleh karena sastra dapat diletakkan dalam konteks mimesis, maka unsur-
unsur
yang berkembang dan terdapat dalam kehidupan itu sendiri akan terefleksi dalam teks sastra. Refleksiini
terwujud berkattiruan
dan gabungan imajinasi pengarang terhadap reali- tas kehidupan atau realitas alam. Apa yang di- ungkapkan pengarang dalam karyanya pasti-lah
merupakanpotret kehidupan
atau alamyang dilihatnya.
Potret tersebut bisa berupa pandangan,ilmu
pengetahuan, ataupun religi yang terkait langsung dengan realitas. Oleh ka- rena itu, karya sastra dapat dipakai pengaranguntuk
mengungkapkan segala persoalan kehi-dupan
manusiadi
dalam masyarakat. Karya sastra dapat menunjukkan geiala-gejala yangdilukiskan
pengarang melalui bahasa tentang segala hal yang berkaitan dengan masalah so- sial maupun masalah budaya. Menurut Ratna (2003:35), pada dasarnya, seluruh kejadian da- lam karya sastra merupakan prototipe kejadian yang pernah dan mungkin terjadi dalam kehi- dupan sehari-hari.Dari
segiisi, karya
sastra menampilkan masalah sosial yang berbeda-beda sesuai de- ngan periode, semestaan, dan konteks sosial ter- tentu lainnya, sehingga menunjukkan kekhas- anf ciri sosial tertentu. Dikaitkan dengan baha- sa sebagai alat, makaciri
sosial terpenting ter- kandung dalam bahasa. Fungsi bahasa sebagai medium, melibatkan seluruh aktivitas kemanu- siaan, yang secara langsung dapat diamati me-lalui
hubungan-hubungan sosial dalam kehi- dupan sehari-hari. Pada umumnya,ciri
sosial dapat diketahui melalui lukisan tokoh, peristi-wa,
dan latar cerita.Dalam karya sastra, tokoh peremPuan se- lalu memiliki daya tarik tersendiri, berbagai per-
masalahan yang dihadapi dan cara (pemikir- an) mereka dalam mengatasi persoalary memi-
liki
ciri yang berbeda dari laki-laki. Oleh karena itu, untuk memahami karakter perempuan da-lam karya
sastra,peneliti
haruspula
mema- hami problem-problemyang dihadapi oleh pa- ra tokohnya baik laki-laki maupun perempuan/selain penampilan visual tubuh tokoh.
Salah satu karya sastra yang menampilkan tokoh utama perempuan dengan berbagai pro- blem sosial dan problem
individu
adalah novel Gadis Kretek (2012) karya Ratih Komala. Berda- sarkan pemahamandi
atas, novelini
dapat di-kaji dari
aspek jehder. Novelini
meampilkan tokoh utama perempuan yang bergelutdi
sek- tor publik yang biasa digeluti oleh laki-laki yaiturokok
kretek. Tokoh perempuan yanghidup
pada masa setelah kemerdekaan hingga tahun 1965-andi Jawa itu, memiliki kemampuan (ke- ahlian) sebagai pencipta rasa (peracik saus) ro- kok kretek tingwe yang disukai para lelaki. Ke-
mahirarftrya dalam meracik rokok kretek,
mengantarkannya terjundi
dunia bisnis rokok kretek secara profesional.Ia mampu mengelola dan mengembangkan usaha rokok kretekmilik
orang tuanya sehingga menjadi perusahaan ro- kok kretek yang terkenal dengan cita rasa tinggi dan melambungkan namanya sebagai satu-sa- tunya perempuan pengelola perusahaan rokok kretek. Namun demikian, keperkasaan perem- puan
fli
dunia"milik laki-laki" itu tidak
ber- langsung lama. Ia menjadi rapuh ketika jatuh cinta kepadalaki-laki.
Ia memberikan segala- nya untuk laki-laki yang dicintainya, mulai dari cinta dan kesetiaaru materi (pekerjaan), perlin- dungan (tempat tinggal), hingga rahasia per- usahaannya. Harapan untuk merajut hidup ba- hagia bersamalaki-laki
yangdicintai itu
pun kandas, karena laki-laki itu kemudihn mening- galkannya setelah memiliki usaha rokok kretek sendiri. Yang terjadi kemudian, laki-laki itu me- nguasai dunia bisnis rokok kretek, dan perem- puanitu
tidak memiliki perusahaan rokok kre- tek karena semua aset dibeli.24 Widyapanr?, Volume 42, Nomor 1, )uni 2074
Penggambaran
tokoh
perempuan yang mengalami ketragisan hidup itulah yang men- dorong penulis mengetahui lebih jauh eksistensi seorang tokoh utama perempuan dalam keselu- ruhan cerita. Menurut Abram (1957:2\), peng- gambaran tokoh dan penokohan yang meng- alami pergeseran bentuk dan wujud, sikap dan pandanganitu
dikategorikan sebagai seorang tokoh yang dikenal denganistilah
round cha- racter. Dalam hal ini, Foster (1979:59) menjelas- kan bahwa tokoh berwatakbulat
(round cha- racter) diungkap sisi baik maupun sisi buruk- nya sehingga ia tidak selalu tampil dengan wa- tak yang selalu baik atau selalu buruk.Persoalan
hidup
yang dialamitokoh
pe- rempuan dalam novel tersebut merepresentasi- kan adanya persoalan jender, khususnya ketim- pangan jender dalam masyarakat. Dalam hal ini, ketimpangan jender dapat dilihat dari kon- disi sosial dan budaya, nilai dan perilaku, men- talitas dan emosi, sertafaktor-faktor
biologis lainnya antaralaki-laki
dan perempuan.2.
MasalahDari uraian
di
atas, dapat dijelaskan bah-wa ketimpangan jender dalam
masyarakat mempengaruhi perilaku, mentalitas dan emosi perempuaan danperilaku laki-laki
yang me- nempatkannya pada posisi dan peran yang ber- beda.Dari
fenomenaitu, penelitian ini
me- nyangkut beberapa masalatuyakni:
(1) bagai- manakah posisi sosial perempuan dalam novel Gadis Kretek; (2) Bagaimanakah posisi sosial la- ki-laki dalam novel Gadis Kretek? danbagaima- nakah ketipanganjender
dalamnovel
Gadis Kretek?3. Tujuan
Atas dasar permasalahan
di
atas, peneliti- anini
bertujuan: (1) mengungkapkan posisi so- sial perempuan dalamnovel
Gadis Kretek; (2) mengungkapkan posisi sosiallaki-laki
dalam novel Gadis Kretek; dan (3) mengungkapkan ke- timpangan jender dalam novel Gadis Kretek.4.
LandasanTeori
Untuk membahas novel Gadis Kretek, digu- nakan pendekatan sosilogis feminis. Pendekat- an
ini
digunakan untuk memahami jender de- ngan implikasi metodologis berupa pemaham-an
mendasar mengenaikehidupan
manusia dalam masyarakat. Oleh karena itu, teori yang digunakan untuk menganalisis adalah sosiologi tentang jender yaitu teori fungsionalisme. Ana- lisis memfokus pada karakter tokoh utama pe- rempuan dan tokoh utama laki-laki dengan pe- ran sosial yang termanifestasi melalui tindakan (perilaku), perasaan (bmosi), dan kondisi sosial budayanya.Menurut Fakih
(2001:3-4),untuk
mem- bahas masalah kaum perempuant
yang perludipahami adalah pembedaan konsep seks (ienis
kelamin)
dan konsep jender. Pemahamanini penting
dalamuntuk
memahami persoalan- persoalan ketidakadilan sosial yang menimpa kaum perempuan.Hal ini
disebabkan adanya kaitan yang brat antara perbedaan jender @en- der differences) dan ketidakadilan gender (gender ine qualities) dengan struktur ketidakadilan da- lam masyarakat secara lebih luas. Pemahaman atas konsep jender diperlukan karena dari kon- sepini lahir
suatu analisis jender.Dalam
Women's Studies Encyclopediadi-
ungkapkan bahwa jender adalah suatu konsep kultur yang dipakai untuk membedakan peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosio-nal
antaralaki-laki
dan perempuan yang ber- kembang dalam masyarakat(Mulia
2004:4).Kultur
merupakan fondasi yangdimiliki
sejaklahir
tentang peran yang akandijalani
dalam masyarakat. Dengan demikian dapat dipahami bahwa perbedaan peran antaralaki-laki
dan perernpuan dibentuk oleh kondisi sosial budaya masyarakat.Menurut
Ritzer (2005:409), teori fungsio- nalisme yang sangat penting untuk memahami masalahjender adalah aplikasi
pandanganMiriam
Johnson atas konsep Talcott Parsons.Aplikasi
Johnson atas konsep Parsons adalah mengenai peran ekspresif versus instrumental,Ketimpangan Jender dalam Novel Godis Kretek Karya Ratih
Komala
25tesisnya tentang hubungan lembaga keluarga dengan lembaga sosial lain. Teori
ini
menem-patkan
asal-usul ketimpanganjender
dalamstruktur keluarga patriarkis
(patriarchal).Johnson mengkaji temuannya tentang ketim- pangan
jender dalam struktur keluarga
pa- triarkis. Jender terintegrasi dalam masyarakat baik secarakultur
maupun moralitas. Keluarga mempunyai fungsi yang berbeda dari lembaga ekonomi dan lembaga"publik" lainnya'
Ke- luarga mensosialisasikan anak-anak dan meme- ngaruhi emosi anggotanya yang dewasa, ber- peran penting dalam memperkukuh ikatan so- sial dan memproduksi nilai. Posisi sosial utama wanita dalam struktur keluarga adalah sebagai produsen utama fungsi-fungsi pokok keluarga.Fungsi wanita dalam keluarga berorientasi ke arah penekanan perasaan
kasih
sayang (ex- pressiaeness) dan memengaruhi fungsi mereka dalam seluruh struktur sosial lainnya, terutama ekonomi.Lebih lanjut Johnson (dalam Ritzer
2005:410) menyatakan,dalam keluarga
pa-triarkis, wanita
mengasuh anak dengan ber- orientasi pada pengungkapan Perasaan kasih sayang, merekabertindak
dengan kekuatan dan wewenang, memberikan perasaan "kema- nusiaan yang sama" baik kepada anak laki-laki maupun perempuan. Paksaankultural
dan ke- lembagaan mengharuskanwanita
lemah danselalu mengalah dalam hubungan
dengansuaminya yang secara instrumental mengalami persaingan dalam mencari nafkah keluarga.
Dengan melihat wanita dalam peranannya se- bagai
"istri yang
lemah",
anak-anakmulai
belajar memuja-muja
sistempatriarkis
dan mendevaluasi sikap mental yang mengutama- kan perasaan. Dalam hal ini, peran instrumen- tal laki-laki dinilai lebih objektif ketimbangpe-ran
perasaan peremPuan.Untuk
memahami peran perempuan da-lam
lembagapublik
(ekonomi),perlu
mema- hami perbedaan jender yang secara psikologis memengaruhi keputusan dalamberpikir
danbertindak.
Dalamhal ini,
Beauvoir (2003a:3) menyatakan bahwa perempuanitu tidaklah
dilahirkan, namun menjadi perempuan melalui proses sosial dan psikologis yang membentuk- nya menjadi perempuan yang sesungguhnya.Dari sudut
pandang psikoanalisis, Beauvoir (2003b: 53) menyatakan, peremPuan adalah se- orang perempuan pada tingkatan ketika ia me- rasakandirinya
memang demikian. Terdapat bentuk-bentuk yang secara biologis-esensial, yang bukan merupakankondisi dari
dirinya.Bukan alam yang mendefinisikan perempuan;
ia sendiri mendefinisikan
dirinya
dengan me- ngaitkan alam atds dasar pertimbangan sendiri dalamkehidupan
emosionalnya.Dari
sudutpandang materialisme,
Beauvoit
(2003b:7 4)menyatakan bahwa
sifat
dasar membericiri
khas perempuan adalah penguasaannya atas dunia kurang luas dibanding laki-laki, ia lebih erat diperbudak oleh spesiesnYa.Kedua sudut pandang tersebut mengan-
tarkan
perempuan padaposisi yang
lemah, khususnyadi
sektorpublik.
Kehidupan emo-sional dan kurang luasnya pandangan di- banding laki-laki, di
antaranya dapatdilihat dari
pandangan mengenaikehidupan
cinta (seks). Dalam halini,
Byron (dalam Beauvoir, 2003a:524) menyatakan:"Cinta
dan kehidup- anlaki-laki
adalah sesuatu yang berbeda; se- mentara bagi perempuan adalah keseluruhaneksistensi." Demikian pula diungkapkan
Nietzsche dalam tulisarrnya The Guy Science (da-
lam
Beauvoir, 2003a: 524), sallt kata cinta se- benarnya menerangkan dua hal yang berbeda bagi taki-laki dan perempuan. Apa yang perem-puan pahami dari cinta
adalahcukup
jelas:cinta
tidak
hanya kesetiaan, cinta adalahp"-
nyerahantotal
akantubuh
danjiwa,
tanpa pamrih, tanpa mendapatkan imbalan apa pun.Sifat
mutlak dari
cintanyaitulah
yang mem- buatnya menjadi kesetiaan, satu-satunya yangdimiliki
perempuan. Sementar a bagi laki-laki, jika ia mencintai seorang perempuarL apa yang ia inginkan hanyalah cinta dari perempuary se- bagai konsekuensinya ia jauh dari mendalilkan26 Wdyapanui, Volume 42, Nomor 1, Juni 2014
perasaan yang sama baginya seperti pada pe- rempuan.
Konsep tersebut menunjukkan bahwa la- ki-laki tidak pernah sepenuhnya memasrahkan
diri; di
dalam kehidupan, mereka tetap meru- pakan subjek-subjek utama; perempuan yang dicintai hanyalah salah satu nilai di antara yang lainnya. Sebaliknya, bagi perempuan, mencin- tai berarti menyerahkan segalanya demi keba-hagiaan
pasangan. Perbedaanpandangan
menjadikan perempuan kadang bersikap ku- rang rasional sehingga menempatkandirinya
pada posisi yang kurang beruntung.Untuk
memahami perbedaan peran pe- rempuan dalam sektorpublik,
perlu juga me- mahami fungsi tubuh (perempuan). Dari aspek sosiologi tubutu tubuh merupakan suatu kon- struksi sosial yang biasanya digunakanuntuk mengkritisi
pandangantentang
"esensialis-me"-bahwa
antomi adalah suatu aspek pen-ting
dalam perbedaan antara pria dan wanita.Oleh karena itu, perlu ditelusuri hubungan-hu- bungan sosial mengenai kekuasaan. Dalam hal ini, tubuh berfungsi sebagai teks yang merepre- sentasikan hubungan-hubungan kekuasaan da- lam masyarakat (Turner, 2012:863-864). Ber- kaitan dengan persoalan tubutu Radly (dalam Turner, 2012:864) berpandangan bahwa tubuh
dikonstruksi
merupakan perspektif yang do- minan dalam sosiologi modern dan terkait erat dengan gerakan-gerakan sosial radikal, biasa-nya
menggunakan konstruksionisme sebagai alatuntuk
menentang pandangan bahwa tu- buh hanyalah objek alam semata.5.
MetodeSecara
umum,
penelitianini
merupakanpenelitian kualitatif
yang secara operasional,menggunakan metode deskriptif. Metode'
deskriptif analisis dilakukan dengan cara men- deskripsikan fakta-fakta yang kemudian disu- sul dengan analisis (Ratna, 2004:53).Sumber data penelitian adalah karya sas-
tra,
yaitu novel
Gadis Kretek karya Ratih Ko- mala,diterbitkan
oleh Gramedia tahun 2012.Data formal dalam penelitian adalah kata-kata, kalimat, dan wacana dalam novel Gadis Kretek.
Penelitian
ini
merupakan penelitian sastra de- ngan perpektif sosiologis bersifat kualitatif. De- ngan demikian, jenis data yang diambil adalah data bersifat kualitatif, misalnya data-data yang mendeskripsikan status dan peran perempuan dan laki-laki dalam sektor publik serta lingkung- an masyarakat.6.
Pembahasan6.1 Posisi Sosial Perempuan dalam Novel Gadis
Kretek
;
Novel
Gadis Kr:btekmenampilkan
tokohutama perempuan
bernamaDasiyah
(Jeng Yah). Ia tampil sebagai perempuan publik yang mandiri, mengelola sebuah perusahaan rokok Kretek Gadismilik
ayahnya, Idroes Moeria. Ro-kok
kretek yangidentik
dengan keperkasaan laki-lakiitu
dikelola dengan baik oleh seorang gadis belia yang cantik. Iatidak
sekadar me- ngelola (memimpin) perusahaan rokok Kretek Gadis, tetapi dia merintis berdirinya Kretek Ga- dis sehingga menjadi sebuah perusahaan rokok kretek terkenal dengan cita rasa tinggi. Bahkan, cita rasa Kretek Gadis diciptakan oleh Dasiyah.Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa to- koh perempuan dalam novel ini merupakan to- koh dominary memilki peran penting dalam se-
jarah perkembangan bisnis rokok kretek pada masa
itu
(setelah kemerdekaan-1965-an).6.1.1 Perempuan sebagai Produsen Rokok
Kretek
Dalam dunia bisnis rokok kretek, Dasiyah fieng Yah) ikut merintis berdirinya perusahaan
rokok
Kretek Gadis.Diawali
ketika ayahnya, Idroes Moeria pemilik rokok Djojobojo menge-tahui
bahwaputri
pertamanya, Dasiyah, me- nunjukkan bakatkuat di "kretek"
(h1m.131- 132).Iamemiliki
keahlian dalam menciptakan rasa (meracik saus) rokok kretek yang disebutrokok
tingwe. Kelezatanrokok
tengwe buatan Dasiyah terletak dalam rahasia ramuan, yaitu rasa manis berkatair
ludahnya yang dipakaiKetimpangan Jender dalam Novel Gadis Kretek Karya Ratih
Komala
27untuk merekatkan lintingan pembungkus tem- bakau dan cengkih, ditambah saus tembakau dari sisa-sisa tembakau yang menempel
di
ta-ngannya
setelahmelinting
beberaparokok
Djojobojo. Tingwe, rokok yangdilinting
sendiri, buatan Dasiyah, menjadikan orang ketagihan.Awalnya, ayahnya, kemudian rekan-rekan bis- nis yang diharapkan menjadi pemodal.
Persaingan usaha mengundang inovasi te- rus-menerus. Idroes
pun
terus mengembang- kan berbagai merek alternatif. Dasiyah meng- ingatkan kepada ayahnya, agar fokus pada sa- tu-dua merek. Ia yakin Kretek Merdeka! masih bisa berkembang pesat jika ayahnya tidak sibukmengurus kretek-kretek baru yang muncul
hanyauntuk
tumbangdi
pasar. Dasiyah tahu bahwa ayahnya tidak benar-benar mencari for-mula
saus baruuntuk
kretek-kretek barunya.Rokok-rokok
itu
dibuat dengan cara mengira- ngira, mencampur bahan saus.Di
sinilah Da- siyah mulai menunjukkan kemampuannya me- ngelola perusahaanrokok
kretek. Meskipun usianya masih remaja, ia berani (mampu) me- yakinkan ayahnyauntuk
mempertimbangkan pendapatnya.Idroes Moeria pun kemudian sangat mem- percayai putrinya, Dasiyah, dan memberitahu rahasia campuran saus Kretek Merdeka! dan
kretek-kretek yang
gagaldi
pasaran. Idroes Moeria kemudian meneyerahkankeluar
ma- suknya uang keputrinya.
Dasiyah kemudian membuatpembukuan dan
memisahkan ke- uangan Kretek Merdeka! dengan kretek-kretek percobaan ayahnya. Dasiyah, gadis berusia tu- juh belas tahunitu
menjadi perempuan cerdas dan berwibawa, mengelola perusahaan kretek ayahnya. Sikap ldroes yang memberi kebebasanputrinya, menjadikan Dasiyah (gadis
ya+gmandiri)
berani berpendapat.Idroes pun akhirnya mencari pemodal de- ngan membanggakan tingzae buatan Dasiyah kepada kolega dan tamu-tamu istimewanya.
Semua ahli kretek itu terkesary sehingga tak ja- rang yang menawarkan kongsi untuk mengem- bangkan "resep saus" Dasiyah. Seorang
laki-
28
Widyapanu?, volume 42, Nomor 1, Juni 2014laki Cina bersedia memberi modal setelah me- rasakan tingwe buatan Dasiyah. Idroes menS- usulkan nama Kretek Gadis untuk kretek baru-
nya, Dasiyah pun setuju. Idroes kemudian
membuat gambar seorang gadis cantik berke- baya, tangan kanan memegang rokok dengan asap yang mengepul, sangatmirip
dengan Da- siyah. Atas permintaannya sendiri, Dasiyah di- libatkan dalam mengelola usaha Kretek Gadis, terutama dalam hal meracik kretek. Nama Kre- tek Gadis melambung. Pemodal pun memberi-kan
tambahan modaluntuk
memasangiklan
di surat kabar yang.berbunyi: "KRETEK GADIS.
Sekali isep, gadis yang Toean impikan muncul di hadapan Toean" (h1m.151).
Dari riwayat berdirinya perusahaan rokok Kretek Gadis, tergambar jelas bahwa Dasiyah adalah perempuan yang memiliki kemampuan lebih dibandingkan
laki-laki
(ayahnya) dalamhal
perkretekan,baik
dalamhal
pembuatan maupun pengelolaan.Ia
adalah satu-satunyaperempuan yang memiliki keahlian
dalam menciptakan (meracik)rokok kretek
dengancita rasa tinggi, di samping memilki kemampu- an dalam mengembangkan perusahaan rokok.
Keahliannya dalam menciptakan cita rasa ro-
kok
yang lezat, menarik pemodaluntuk
me- ngembangkan usaha Kretek Gadis. Halitu
me- nunjukkan bahwa perempuan, apabila diberi kebebasan (kesempatan)berperan di sektor pu-blik,
bisalebih
mal'u dibandingkanlaki-laki'
Meskipun dalam keluargapatriarki-keluarga di
Jawa, tempat utama Perempuan adalah ke- luarga (domestik)-perempuan
dapat mempu- nyai tempat struktural penting untuk mengam-bil
peran, terutama dalam ekonomi pasar. Ke- bgrhasilan perempuan di sektor publikdibukti-
kan oleh Dasiyah dalam bisnis rokok kretek. Ia benar-benarmemiliki
komitmentinggi,
mulai dari menciptakan produk, menentukan strategi pasar, hingga menarik pemodal.6.1.2 Perempuan sebagai Pengendali Konsumen
Rokok
KretekRokok
Kretek
Gadismemiliki tampilan
(bentuk) yang menarik bagi
konsumennya,hampir semuanya laki-laki. Pembungkus rokok tersebut bergambar seorang gadis cantik berke- baya memegang rokok dengan asap mengepul dan ekspresi mata yang menantang. Daya
tarik itu
ditunjang dengan iklan yang berbunyi "Se-kali
isep, gadis yang Tuan impikan munculdi
hadapan Tuan". Gambar yang sangat
mirip
de- ngan pemiliknya, Dasiyah, apabila dipersepsi secara negatif dapat dianggap sebagai perilaku yang melanggar norma dan etika perempuan Jawa yang seharusnya lembut penuh tatakra- ma. Demikian pula dengan frase"sekali
isep, gadis yang Tuan impikan munculdi
hadapanTtan,"
dapat diperspsi sebagai objek (imaji- nasi) seks bagi laki-laki.Terlepas
dari
perspektif negatif, gambar dan frase itu memiliki tujuan atau fungsi terkait dengan ekonomi pasar.Iklan
satu kalimatitu
membuat orang berbondong-bondong membeli Kretek Gadis (h1m.151). Bahkan, nama dagang Kretek Gadis mengundang orang (perokok) un- tuk berfantasi dan membuat mereka merasa le- bih jantan (h1m.152). Di sini, tubuh perempuan menjadi sangat penting
untuk
dibahas. Tubuh perempuan (Dasiyah)berfungsi
sebagai pe- ngendali ekonomi pasar, merupakan strategi dagang yangefektif.
Dengan memanfaatkan (gambar) kecantikan (tubuh) gadis belia,mirip
dengan tubuh pemiliknya, mampu mendong- krak penjualan rokok Kretek Gadis.Gambar
itu
menjadi dayatarik
tersendiri bagi konsumen (penikmat)rokok yang hampir seluruhnya laki-laki. Di sini,laki-laki diajak me- rokok sambil berimajinasi terhadap kehadiran seorang gadis cantik (Dasiyah). Dengan demiki- ary perempuanmemiliki
peran dan fungsi se- bagai subjek yang mengendalikanlaki-laki
se- bagai konsumen (penikmat rokok). Perempuan menyadari bahwa laki-laki dapatdikendalikan
,dengan hal-hal yang berbau seksual (erotisme).
Meskipun perempuan ditampilkan
sebagai objek pandang yang memikat laki-laki, kenya- taannya, dari aspek bisnis, kehadiran perempu- an merupakan saranauntuk
menunjang pe- masaran (iklan) yang berhasil.Peran perempuan (Dasiyah) sebagai pe- ngendali konsumen dalam bisnis rokok kretek tidak hanya melaluifungsi tubutr, namun dapat diamati melalui ketangguhan dan tanggung ja- wabanya dalam mengembangkan bisnis rokok kretek. Di saat penjualannya meroket, Dasiyah
makin rajin
"menjajakan" kreteknyadi
pasar malam-pasar malam (h1m.153). Di saat perusa- haan ayahnya mengalami kesulitan, Dasiyah menjual rokoknya ke warung-warung. Bersa- ma Rukayah, adiknya, Dasiyah kemudian men- jual Kretek Gadis di pasar malam di kota M. Ia memperkerjakan gadis-gadis teman Rukayah untuk menawarkan Itretek Gadis dengan upahyang
sama denganlaki-laki
(h1m.153). pada acara pasar malam tahun berikutnya, Dasiyah mendaftarkan Kertek Gadisuntuk
membuka stand denganmemperkerjakan
gadis-gadis sebagai menjaga stand. Stand-standlain pun
kemudianmengikuti
cara Dasiyah yang me- nempatan gadis-gadis sebagai penjaga stand.Dasiyah menjadi sangat populer
di
pasar ma- lam. Semua tahu, jika ada satu-satunya perem- puan yang mengelola sebuah stand kretek de- ngan serius, dia adalah Dasiyah atau Jeng Yah.Pemikiran-pemikiran dan tindakan Dasi- yah tersebut menunjukkan bahwa sebagai pe- rempuan,
ia memiliki pemikiran
(ide) dalam mengangkat " derajat" perempuan. Menyetara- kan kedudukan perempuan dengan laki-laki, halini
belum pernah dilakukan oleh perusaha- an rokok mana pun. Dengan demikian, jelaslah bahwa Dasiyah adalah perempuan yang me-milki
peran penting dalam bisnis rokok kretek.6.2 Posisi Sosial
Laki-laki
dalam Novel Gadis KretekDalam novel Gadis Kretek, tokoh
laki-laki
yang perlu mendapat perhatian dalam pemba- hasan adalah Soeraja. Tokohini
muncul ketika tokoh utama perempuan, Dasiyah (Jeng Yah) tengah berada pada posisi sebagai perempuan publik yang mandiri, sementara Soeraja adalah seorang pemuda lusuh danmiskin
(pengang- guran). Mereka bertemudi
sebuah pasar ma-Ketimpangan Jender dalam Novel Godis Kretek Karya Ratih Komala 29
lam,
di
stand rokokmilik
Dasiyah (h1m.154- 155).Hubungan Dasiyah
(]engYah)
dengan Soerajadiawali
dengan penawaran Dasiyah kepada Soerajamengikuti
permainanuntuk
mendapatkan sebungkusrokok
Kretek Gadismilik
Dasiyah. Namun demikian, meski pemu- daitu
kalah, Jeng Yah tetap memberikan ha- diah sebungkus rokok Kretek Gadis. Mereka ke- mudian berkenalan.Pemuda pengangguran
dan tidak
jelasasal-usulya itu memikat hati Jeng
Yah.Di
standrokok milik
Jeng Yah, lelaki bernama Soeraja atau Raja, sering menunggui Jeng Yah. Jeng Yah pun sering memberi rokok kretek danuang kepada Raja sebagai upah. Hubungan Dasiyah dengan Soeraja tidak hanya berakhirdi
pekan raya, namun berlanjut dengan Dasiyah mena-warkan
pekerjaan kepada Soerajauntuk
be- kerjadi
perusahaan rokok Kretek Gadismilik-
nya. Hal
itu
disambut gembira oleh Raja. Dasi-yah kemudian meminta kepada
ayahnya, Idroes Moeria agar menerima Soeraja bekerjadi
perusahaan dan tinggal bersamadi
rumah-nya. Meskipun
sempatragu,Idroes
Moeria akhirnya menyetujuinya dengan syarattidak
tinggaldi
rumahnya.Dari peristiwa-peristiwa
tersebut dapat dipahami bahwa tokohlaki-laki
(Soeraja) me-milki
daya pikatfisik
yang kuat, sehingga pe- rempuan publik dengan kedudukan lebih ting- gi pun dengan mudah tertarik dan memberikan cinta dan perlindungannya. Dalam halini
to- kohlaki-laki
(Soeraja)yarg
tidakmemiliki
ke- kuatan (kemampuan) materi, secara personal(pribadi) memiliki kekuatan menundukkan
Perempuan.Gambaran tokoh laki-taki (Soeraja) sebagai lak-laki yang dapat menundukkan perempuan (Jeng Yah) dapat juga
dilihat
dari aspek kepri- badiannya. Ia adalah seorang pemuda roman- tis, pandai melambungkan perasaan perempu- an (hlm. 178-181). Kepandaianyaitu
diman- faatkan sebagai "senjata"untuk
menaklukkan (mengalahkan) perempuan sehingga mamPumengubah
sikap
(perilaku) perempuan. Per- ubahan perilaku Jeng Yah antaralain
tergam- bar dari kebiasaannya yang semula membuat-kan
tingwe khususuntuk
ayahnya, berubah memberikanjatah
tingwe kepada Raja.Dari
peristiwaini
dapat dikatakan bahwa laki-laki memanfaatkancinta
sebagai alat pengendali perempuan.Tidakan Raja dalam melambungkan pera- saan Jeng Yah memberikan keuntungan (ke- kuatan) bagi dirinya. Keberuntungan laki-laki (Raja) terus
berlanjut
hingga Idroes Moeria, ayah Jeng Yah, ntemenuhi permintaan Jeng Yah agar memberikan tempat tinggal di rumah- nya kepada Soeraja. Bahkan dengan berjalan- nya waktu, Soeraja menjadi tangankiri
Idroes Moeriadi
perusahaan rokok. Dengan demiki-an, Jeng Yah merasa hidupnya lengkap: memili- ki usaha rokok kretek sendiri, memilki keluarga yang menyayanginya, dan kekasih yang men- cintainya.
t
6.3 Ketimpangan
]ender
dalamNovel
Gadis KretekDari uraian mengenai
penggambaran posisi sosial perempuan danlaki-laki di
atas,dapat diketahui bahwa di sektor publik, perem- puan memiliki kekuasaan (kekuatan) atas laki- laki, sebaliknya di sektor domestik (percintaan) perempuan berada
di
bawah kekuasaan (ke- kuatan) laki-laki. Dalam perkembangan selan-jutnya,
peranitu
bergeser; peran perempuan lebih terfokus pada aspekdomestik-cinta
un-tuk
membangunrumah
fangga,ketimbang
mengurus perusahaan. Di sisi lairu laki-laki lebih berperan menjadi lak-laki
publik
dan mening- galkan perannya sebagai laki-laki domestik. Per- geseran atau perubahanperilaku
peremPuandan perilaku laki-laki, mengantarkan posisi pe- rempuan ke dalam ketragisan hidup perempu- an. Perempuan
tangguh
(Dasiyah), akhirnya tidak berhasil membangun rumah tangga ber- samalaki-laki
yang dicintainya. Ia meninggal dunia bersamaan dengan berakhirnya kejaya- an perusahaan rokok kretekmiliknya
dan ber-30 Widyapanrll, Volume 42, Nomor !, )uni 2074
dirinya perusahaan rokok milik laki-laki
(Soeraja).
Persoalan (tragis) yang menimpa perem- puan
itu
terjadi karena adanya ketimpangan jender dalam kehidupan masyarakat. Perbeda-an peran antara laki-laki dan perempuan
mengantarkan perempuan pada posisi yang le- mah, khususnya dalam sektor publik.6.3.1 Perbedaan
Perilaku, Mentalitas,
danKarakteristik
EmosionalMunculnya ketimpangan jender yang dise- babkan adanya perbedaan perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan dalam novel tersebut
diawali
dari munculnya perasaan cinta Jeng Yah terhadap Soeraja. Ia menempatkanlaki-laki itu
sebagai karyawan sekaligus sebagai kekasih tanpa adajarak
(sosial) antara atasan-bawahan. Kede- katan hubungan tersebut dapat dilihat dari ke- dudukan Soeraja dalam perusahaan rokok Kre- tek Gadismilik
]eng Yah dan ayahnya. Ayah Jeng, Idroes Moeria, memberi keperayaan ke- pada Soeraja menjadi mandor yang mengatur buruh pabrik rokoknya.Keputusan Idroes Moeria membuat Jeng Yah merasa bahagia. Namun
tidak
demikian bagi Soeraja, ia merasa malu karena seringdi-
rendahkan oleh buruhnya, dianggap sebagai laki-laki yang menumpang hidup pada perem- puan. Oleh kerenaitu, ia
kemudian meminta izin kepadaJengYah dan Idroes Moeria mendi- rikan perusahaan kretek sendiri. Idroes menye-tujui
dan meminta Soeraja tetap tinggaldi
ru- mahnya. Karena Soerajatidak
bisa menemu- kan pemodaluntuk
mendirikan usahanya, iapun
kembali meminta bekerjadi
perusahaan Kretek Gadis. Iapun
disambut gembira oleh Jeng Yah dan ditempatkan pada posisi lebih penting di perusahaannya, yakni sebagai pera- cik saus rokok kretek yang sebelumnya hanya dipegang oleh Jeng Yah (Komala,2012:208-
209). Raja diajari membuat formula saus tem- bakau yang digunakan untuk campuran rokok
Kretek
Gadis. Rajapun
mengetahui rahasiaperusahaan Kretek Gadis yang terkenal dengan cita rasa tinggi.
Pada masa bergolaknya G30S PKI, Jeng Yah dan perusahaannya mulai terpuruk. Pada peristiwa ini, Soeraja menjadi sasaran penang- kapan berkait dengan
berdirinya
KretekArit
Merah yang
dirintis
Soeraja. Ia pun melarikandiri
menghindari penangkapan. Jeng Yah sa- ngat terpukul mernikirkan keselamatan Soeraja.Soeraja bersembunyi
di
kota Kudus dan men-dapat perlidungan dari Sudjagat,
saingan Idroes Muria. Soeraja kemudian bergabung de- ngan Sudjagat mengembangkan rokok Kretek Djagatmilik
Soedjaght, menjadi Kretek Djagat Raja.Akhirnya,
Soeraja memutus hubungan cinta dengan Jeng Yah dan menikahi Purwati,putri
sulung Soedjagat.Peristiwa tragis itu merupakan hasil
(akibat) dari tindakary pemikirarL dan perasaan Jeng Yah yang berbeda (emosional). Di sini pe-
ran
perempuan menjadi lemah, berada pada posisi rawart (rentan). Berbeda dengan pemi- kiran dan tindakan laki-laki (Soeraja) yangdini-
lai lebih objektif ketimbang peran perasaan pe- rempuan.Untuk
memudahkan meraih keber- hasilan sebagai laki-laki yangmemiliki
kekua- saan dalam bisnis rokok kretek, Soeraja memu- tuskan hubungan cinta dengan Jeng Yah dan menikahi Purwati, anak Soedjagat, partner usa- hanya. Dengan demikian, usaha rokok kretek- nya lebih cepat berkembang mengingat Soedja- gat adalahpemilik
perusahaanrokok
KretekApgat,
saingan Kretek Gadis.Tindakan Jeng Yah mengajari kekasihnya mencapur
formula
saus tembakauitu
dida- sarkan atas nama cinta. Jeng Yah semulaingin
selalu bersama-sama Soeraja. Dari aspek bisnis,
tindakan tulus
Jeng Yahitu
merupakantin- ,
dakan ceroboh (salah). Dalam hal ini, Jeng Yah tidakberpikir
bahwa keputusannya mengajak Soeraja membantu meracik saus rokok kretek dapat membahayakan perusahaannya (pada kemudian hari). Diatidak berpikir
bahwa ra- hasia perusahaanyang telah
mengantarkan namanyamelejit
bisa dicuri oleh Soeraja yangKetimpangan Jender dalam Novel Godis Kretek Karya Ratih
Komala
31nota bene adalah orang
lain-belum
menjadi suaminya. Tindakan Jeng Yah merupakan si-kap
dan pemikiran perempuan expressiaeness (penekanan perasaan kasih sayang) yang mam-pu
mengantarkandirinya
(perempuan) ke po- sisi kurang beruntung. Ketikaia
benar-benar mencintai seorang laki-laki, maka ia menyerah- kan hidupnya secara total kepada laki-laki itu.Berbagai persoalan
hidup yang dialami
Jeng Yah tersebut merepresentasikan adanya ketimpangan jender bahwa perempuan lebih emosional dan kurang berpikir rasional diban- dingkan laki-taki. Pemikiran dan perilaku laki-
laki
dianggap lebih objektif dibandingkan de- ngan perempuan. Hal itu tergambar dalamtin-
dakan Soeraja dalam memanfaakan (menya- lahgunakan)ilmu
meracik sausrokok
kretekdari
Jeng Yah. Formula saus tembakau yang merupakan hak paten Kretek Gadis, oleh Soe- raja dipakai membuat saus rokok kretek sen-diri-kongsi
dengan Kretek Djagad. Tindakan Soeraja didasarkan pada persaingan antara la-ki-laki
dan perempuan dalam hal mencari ma-teri
(nafkah). Dalamhal ini, laki-laki
(suami) tidak mau kalah dari perempuan (isteri) karenalaki-laki memiliki
kekuasaan atau peran lebih besardaridibandingkan perempuan
dalam institusi publik.Pencurian hak paten
itu
terungkap ketika Jeng Yah (dalam keadaan terpuruk) putus hu- bungan cinta secara sepihak oleh Soeraja, De- ngan perasaan terluka,leng Yah mencicipi ro-kok
Krtetek Djagad Raja yang juga beredardi
kotaM.
Setelah mencicipinya,ia
tahujika
ro- kok tersebut memilki rasa sama persis dengan rokok Kretek Gadis miliknya yang tidak dipro-duksi lagi.
Jeng Yahtahu jika
Soeraja telah menggunakan (mencuri) ramuan sausmiliknya untuk
mengembangkan usaha rokok bersama Soedjagat. Seketika itu, dengan kemarahan me- muncak, Jeng Yah pergi ke kota Kudus mene-mui
Soeraja yang akan menikah dua hari lagi.Sampai Kudus,
ia
memukuljidat
Soeraja de- ngan semprong petromak. Setelah peristiwa itu, Jeng Yah kembali bangkit dan mulai mempro-duksi rokok Kretek Gadis lagi
di
kotaM
(hlm.259
-261).
Tindakan Soeraja mencuri hak paten Kre- tek Gadis dan meninggalkan cinta tulus Jeng Yah, serta menikahi Purwati, merupakan upa-
ya
menjatuhkan peran perempuanyang
do- minan dalam bisnis rokok kretek. Dengan me- manfaatkan cinta perempuan,yaitu
mengga-bungkan cinta
JengYah
dancinta Purwati,
Soeraja memperoleh keberhasilan hidup. Ia me-
miliki
perusahaanrokok
raksasa PT. Kretek Djagad Rajadi
Kudus bersama tiga anak laki- lakinya.5.3.2 Paksaan
Kultural
Ketimpangan jender juga tergambar jelas dari proses jatuhnya kekuasanJeng Yah sebagai perempuan publik, disusul jatuhnya (matinya) perusahaan Kretek Gadis. Ketimpangan jender
itu
merujuk adanya paksaankultural
dan ke- lembagaan yang mengharuskanwanita
men- jadi lemalr dan selalu mengalah dalamhubung- an dengan laki-laki (suami) yang secara instru- mental mengalami persaingan dalam mencari nafkah keluarga. Konsep ini memiliki relevansi dengankultur
Jawayang patriarkis, bahwa la-ki-laki memiliki
keunggulan dalam aspek pe- nentuan garis keturunan, partisipasi dalam sta- tus publik danpolitik
atau agama. Paksaankul-
tural itu termanifestasi lewat peristiwa mening- galnya Jeng Yah saat melahirkanputri
perta- manya,Arum
Cengkeh, hasil pernikahan de- ngan Sugeng.Arum
Cengkeh, anak Jeng Yah satu-satunya, dirawat oleh Rokayah (Jeng YahII),
adik Jeng Yah. Berbeda dengan nasib Jeng Yah yang tragis, Soerajajustru
bernasib baik.Ia berhasil
membangun perusahaan raksasa IlT. Djagad Raja di kota Kudus,yangkemudiandikelola
olehketiga
anaklaki-lakinya, yaitu
Tegar, Karim, dan Lebas.
Perbedaan nasib Jeng Yah dengan Soeraja yang bertolak belakang menunjukkan adanya perbedaan posisi antara perempuan dan laki- laki di semua sektor. Perempuan selalu di posisi yang rendah (lemah), sementara
laki-laki
ber-32 Widyapanul, volume 42, Nomor 7, Juni 2074
ada pada posisi yang lebih tinggi (kuat). penem- patan perempuan pada posisi yang kalah (di-
kalahkan) dikukuhkan
dengan cara meng- akhiri (menutup) perusahaanmilik
perempuan fleng Yah). Setelah Soeraja meninggal dunia, keluarga besar PT. Djagad Raja-Tegar, Karim, Lebas (anak-anak Soeraja) membeli seluruh aset Kretek Gadis, setelah berpuluh tahun menik- mati keuntungan perusahaan yang berasal dari hasil curian hak patenmilik
Kretek Gadis. Halitu
dapatdilihat
pada peristiwa kehadiran Le- bas, anak almarhum Soerja ke rumah Jengyah
untuk menyampaikan permohonan maaf resmi dari perusahaan Kretek Djagad Raja atas pen-curian formula
sausKretek Gadis dan
me- nyampaikan niatuntuk
membeli aset perusa- haan Kretek Gadis seharga satu milyar rupiah.Jeng Yah II dan Arum Cengkeh menyetujui dan melepaskan perusahaan Kretek Gadis menjadi
milik keluarga besar Soeraja (Komala,
2012:273).
Berakhirnya
perusahaanKretek
Gadis milikJeng Yah yang dibeli oleh pT. Kretek Dja- gad Rajamilik
Soeraja menggambarkan bahwa posisi perempuandi
kebanyakan situasi tidak hanya berbeda, tetapi juga kurang beruntung atautidak
setara dengan posisilaki-laki.
De- rajat perempuar! bagaimana pun berkuasanya,ia
tetap beradadi
bawah laki-laki. Dalam halini,
perempuan mengalami ketragisan hidup, sementaralaki-laki
memperoleh keberhasilan hidup. Jeng Yah, perempuan tangguhpemilik
perusahaan besar Kretek Gadis "diruntuhkan,, oleh Soeraja, laki-laki miskin yang semula men-
jadi
anak buahnya.Berdirinya PT. Kretek Djagat Raja dengan tiga laki-laki, Tegar, Karim, dan Lebas yang ke-
mudian
membeliseluruh
aset Kretek Gadis, merupakan simbol kekuasaanlaki-laki
dalam.bisnis rokok kretek. Dalam hal ini, laki-laki ber- hasil menjalankan perannya sebagai penguasa atas peran dominan perempuan dalam bisnis
rokok
kretek. Kekuasaanlaki-laki juga
dapatdilihat dari kultur
Jawa yang patriarkis,laki-
laki memiliki peran kuat sebagai penentu garis keturunan dalam status publik. Soeraja memi-
liki
tiga anak laki-laki yang kemudian mengua- sai semua aset perusahaanmilik
]eng yah; se-dangkan Jeng Yah
memiliki
satu anak perem- puan yang kemudian merelakan asetnya dibeli keluarga Soeraja.7.
SimpulanBerdasarkan pembahasan di atas dapat di- simpulkan hal-hal sebagai berikut. Dalam kon- teks Gadis Kretek, perempuan
memiliki
peran sangat penting dalam bisnis rokok kretek di Ja-wa
Tengah pada masa setelah kemerdekaan hingga masa setelah G30S pKI. Di sini, perem- puan mampu berperan secara kuat (dominan) dalam lembaga publik (ekonomi). Kemampuan perempuan dalam lembagapublik
bisadilihat
dari peran dorninan dalam bisnis rokok kretek,yakni
sebagai produsen rokok kretek dan pe- ngendali konsumen rokok kretek.AdanyJ
ketimpangan jender berupa per- bedaan peran, perilaku, dan karakteristik emo- sional antara laki-laki dengan perempuan, serta paksaan kultural, menyebabkan terjadinya per- geseran peran antara perempuan dengan laki_laki.
Dalamhal ini,
perempuan berada pada posisi lemah, sedangkan laki-laki berada padaposisi yang kuat
sehingga mengukukuhkan bahwa derajat perempuarL bagaimana pun ber- kuasanya,ia
tetaplah beradadi
bawahlaki- laki. Hal
tersebutterbukti dari
sikaplaki-laki
(keluarga besar Soeraja) yang berusaha me- nguasai bisnisrokok
kretek dengan membeli seluruh asetmilik
keluarga Jeng yah.Dengan demikian, dalam Gadis Kretek, pe- rempuan ditampilkan sebagai simbol jatuhnya kekuasaan perempuan dalam lembaga publik.
Jatuhnya dominasi perempuan bernama Dasi- yah (|eng Yah) menggambarkan kuatnya sistem patriarki dalam
kultur
Jawa pada masa setelah kemerdekaan hinggatahun
l961-an. Dengan adanya stratifikasijender-laki-laki
berusaha menempatkan perempuan pada posisi yang le-Ketimpangan Jender dalam Novel Godis Kretek Karya Ratih
Komala
33bih
rendahdari laki-laki.
Dalam halini,
laki-laki
berhasil menumbangkan dominasi peran perempuan dan membangun kekuasaannya dalam lembaga publik.Daftar
PustakaAbram, M.H. 1957.
A
Glossary of Literary Term.Third
Edition.New
York:Holt
Rinehart and Wiston, Inc.Beauvior, Simone de. 2003a (cet.I). Second Sex, Kehidupan P erempuan. Diterjemahkan oleh Toni B. Febriantono dan Nuraini Juliastuti.
Surabaya: Pustaka Promethea.
2003b (cet.I). Second Sex, Fakta dan
Mitos. Diterjemahkan oleh Toni B.
Fe- briantono. Surabaya: Pustaka Promethea.Fakih, Mansor.
2001,.Analisis
Gender dan Transforamasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.Forster, E.M. 1979. Aspek-aspek Noael (diterje- mahkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka
Kuala Lumpur).
KualaLumpur:
Dewan Bahasa dan Pustaka.Kumala, Ratih. 2012. Gadis Kretek, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Mulia, Siti Musdah.
2004. lslam MenggugatPoligami. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama. Cet.LRatna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan
Teknik Penelitian
Sastra.Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
2003. Paradigma Sosiologi Sastra.
Yogyakatta: Fustaka Pelajar.
Ritzer, George
-
Douglas J. Goodman. 2005.Teori Sosiologi Modern (diterjemahkan oleh Alimandan). Jakarta: Prenada Media.
Turner, Bryan S. (Ed.). 2012. Teori Sosial Dari Klasik Sampai Postmodern. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.