KEUTAMAAN THAHARAH (BERSUCI) DALAM ISLAM 1. Seseorang akan diampuni dosa-dosanya bersama tetesan air wudhu
Rasulullah berkata
هِيْنَيْعَبِ اهَيْلَإِ رَظَنَ ةٍئَيْطِخَ لُّكُ هِهَجْوَ نْمِ جَرَخَ ؛هِهَجْوَ لُّسَغَفَ ،نْمِؤْمُلَا وَأَ مُلِسَمُلَا دُبْعَلَا أَ,ضَّوَتَ اذَإِ
،ءِامُلَا عَمِ هُادُيَ اهَتْشَطِبِ ةٍئَيْطِخَ لُّكُ هِيَدُيَ نْمِ تجْرَخَ ؛هِيَدُيَ لُّسَغَ اذَإِفَ ،ءِامُلَا رَطِقَ رَخَآ عَمِ وَأَ ،ءِامُلَا عَمِ
رَطِقَ رَخَآ عَمِ وَأَ ،ءِامُلَا عَمِ هُلَاجْرِ اهَتْشَمِ ةٍئَيْطِخَ لُّكُ جَرَخَ ؛هِيْلِجْرِ لُّسَغَ اذَإِفَ ،ءِامُلَا رَطِقَ رَخَآ عَمِ وَأَ
بوَنَذُّلَا نْمِ ا@يْقِنَ جَرَخْيَ ى,تْحَ ،ءِامُلَا
“Jika seorang muslim atau mukmin berwudhu, ketika membasuh wajahnya maka akan keluar dari wajahnya seluruh dosa yang (disebabkan) matanya memandang (yang haram) bersama dengan air (wudhunya) atau bersama dengan akhir tetesan air (wudhunya), jika membasuh kedua tanganya maka akan keluar dari kedua tanganya seluruh dosa yang (disebabkan) memegang (yang haram) bersama air (wudhunya) atau bersama dengan akhir tetesan air (wudhunya), jika membasuh kedua kakinya maka akan keluar seluruh dosa yang (disebabkan) kakinya berjalan (kepada yang haram) bersama air (wudhunya) atau bersama dengan akhir tetesan air (wudhunya) hingga keluar bersih dari dosa.” Hadis riwayat muslim no 244, Shahihul Jami” hadis no 450
Ada perbedaan pendapat tentang mengusap dan mengeringkan sisa air wudhu dari badan, disebutkan oleh Imam Nawawi dalam kitab Al Majmu’ 1/461, 462
..…
يفَ حيْحصلَا هِجْوَأَ ةٍسَمُخَ اهَعَمُجيَ باحصلَالَ ةدُعابْتْمِ قرَط هِيْففَ فيْشَنَتْلَا مُكحَ امِا
فيْشَنَتْلَا لاقِيَ لاوَ هِكُرَتَ بحتْسَيَ هِنَأَ انَبْهذُّمِ يفَ حيْحصلَا نأَ انَرَكُذَ دُقَ فيْشَنَتْلَا يفَ فلِسَلَا بهاذُّمِ
كلَامِ نْبِ سنَأَوَ يلِع نْبِ نْسَحلَاوَ نافع نْبِ نامُثع نْع فيْشَنَتْلَا ةٍحَابِا رِذُّنَمُلَا نْبِا يكحَوَ هُوَرَكمِ
كلَامِوَ كاحضلَاوَ قوَرَسَمِوَ دوَسلااوَ ةٍمُقِلِعوَ نْيَرَيْس نْبِاوَ يرَصبْلَا نْسَحلَاوَ دوَعَسَمِ يبِأَ نْبِ رَيْشَبِوَ
يبِأَ نْبِ نْمُحَرَلَا دُبْعوَ هِلِلَا دُبْع نْبِ رَبِاجْ نْع هِتْهارَكُ يكحَوَ قاحساوَ دُمُحَأَوَ ىأَرَلَا باحصأَوَ يرِوَثلَاوَ
نوَد ءِوَضَّوَلَا يفَ هِتْهارَكُ سابْع نْبِا نْعوَ ةٍيْلَاعَلَا ىبِأَوَ دُهاجمِوَ يعَخْنَلَاوَ بيْسَمُلَا نْبِ دُيْعَسوَ ىلِيْلَ
يفَ فلَاخْلَا امُنَاوَ مرَحيَ لا هِنَأَ ىلِع عامُجْلاا ىلِمِاحمُلَا لُّقِنَوَ حابْمِ كلَذَ لُّكُ رِذُّنَمُلَا نْبِا لاقَ لُّسَغَلَا مُلِعأَ هِلِلَاوَ ةٍهارَكلَا
“Adapun hukum mengusap (air wudhu) ada perbedaan pendapat diantara ulamak (madzhab syafii) ringkasnya ada lima pendapat….. dalam madzhab salaf tentang hukum mengusap (air wudhu) telah kami sebutkan, yang benar dalam madzhab kami hukumnya lebih baik ditinggalkan bukan berarti hukumnya makruh, ibnul mundzir menceritakan bolehnya mengusap (air wudhu) dari Utsman bin Affan, Hasan bin Ali, Anas bin Malik, Basyir bin Abi Mas’ud, Hasan Al Basri, Ibnu Sirin, Al Qamah, Al Aswad, Masruq, Dhahhaq, Malik, Tsauri, Ashabur Ra’yi (pengikut abu hanifah), Ahmad dan Ishak, sedangkan yang menyebutkan makruh diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah, Abdurrahman bin Abi Laila,Ssaid bin Musayyib, An Nakha’i, Mujahid dan Abul Aliyah. Ibnu Abbas menghukumi makruh pada air wudhu bukan pada mandi junub, Iibnul Mundzir berkata : semuanya itu boleh, Al Muhamili menukil bahwa ada ijmak itu hukumnya tidak haram hanya saja diperdebatkan apakah hukumnya makruh.”
Disebutkan dalam Shahih Muslim dari Maimunah
هُ,درَفَ لُّيَدُنَمُلَابِ هِتْيْتَأَ ,مُثُ ،هِيْلِجْرِ لُّسَغَفَ ،كلَذَ هِمِاقِمِ نْع ى,حنَتَ ,مُثُ ،هُدُسَجْ رَئِاس لُّسَغَ ,مُثُ
“Kemudian beliau menyiram seluruh badanya kemudian mundur dari tempatnya itu kemudian membasuh kedua kakinya kemudian aku berikan handuk namun beliau menolaknya.” Hadis riwayat Muslim no 317
Imam Nawawi berkata: Hadis ini menunjukan lebih baik tidak mengusap (air wudhu), ulamak madzhab kami berbeda pendapat tentanghukum mengusap (air wudhu) pada badan ketika (selesei) wudhu atau mandi dengan lima pendapat:
Yang paling mashur : lebih baik ditinggalkan bukan berarti makruh untuk melakukanya. Kedua : hukumnya makruh. Ketiga : hukumnya mubah, hukumnya sama (boleh) dilakukan dan boleh ditinggalkan, ini pendapat yang kami pilih, sesungguhnya hukum tidak boleh atau mustahab butuh dalil yang jelas. Keempat : hukumnya makrub dimusim panas dan tidak makruh dimusim dingin
Sedangkan para shahabat dan yang lainya berbeda pendapat dalam tiga pendapat
Pertama : hukumnya boleh, baik mengusap setelah wudhu atau setalah mandi, ini pendapat Anas bin Malik dan Tsauri
Kedua : hukum makruh pada kedua duanya, ini pendapatnya Ibnu Umar dan Ibnu Abi Laila
Ketiga : hukumnya makruh (mengusap setelah) wudhu bukan setelah mandi, ini pendapatnya Ibnu Abbas.
Hadis inilah yang menjadi dalil tidak mengusap dan disebutkan dalam hadis lain dalam Shahih Bukhari bahwa Nabi mandi (junub) kemudian keluar sedangkan kepalanya masih meneteskan air. Syarah muslim Imam Nawawi, syarah hadis no 317
Keluarnya dosa dari anggota wudhu dalam hadis diatas bukanlah kata kiasan tapi itu adalah kenyataan yang hakiki seperti yang di sebutkan oleh Assuyuti dalam kitab quutul mugtadzi 1/31
هِجْرَخَأَامِكلَذَدُهاشوَ،هِلِيَزتَةرِاهَطِلَاوَ،رَهاظَلَاوَنْطابْلَايفَرَثُؤْتَايَاطِخْلَانأَكلَذَوَ،ةٍقِيْقِحلَاىلِعهِلِمُحَرَهاظَلَالُّبِ
« : – –
نإِ لاقَ ﷺ يبْنَلَا نْع ةرَيَرَه يبِأَ نْع مُكُاحلَاوَ ،نابْحَ نْبِاوَ ، هِجْامِ نْبِاوَ ،يئِاسَنَلَاوَ فنَصمُلَا تداز داع نإِوَ ،هِبْلِقَ لُّقِص رَفغَتْساوَ عزنَوَ باتَ نإِفَ ،ءِادوَس kةٍتْكنَ هِبْلِقَ يفَ تتْكنَ اlبْنَذَ بنَذَأَ اذَإِ دُبْعَلَا
نوَبْسَكيَ اوَنَاكُ امِ مُهَبِوَلِقَ ىلِع نارِ لُّبِ mلَاكُ نآرَقِلَا يفَ هِلِلَا هُرَكُذَ يذُّلَا ،نارَلَا كلَذَوَ ،هِبْلِقَ وَلِعَتَ ىتْحَ ﴿
Yang benar ditafsirkan makna hakiki, yang demikian itu sesungguhnya dosa memberikan bekas pada batin dan zhahir (manusia) dan dengan thaharah akan membersihkanya, dalilnya adalah hadis abu Hurairah yang diriwayatkan penulis (Tirmidzi), Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Al Hakim bahwa Nabi berkata : sesungguhnya seorang hamba jika berbuat dosa akan ada titik hitam dalam hatinya jika dia taubat dan lepas (dari dosa itu) dan meminta ampunan maka hatinya akan mengkilat, jika dia kembali (berbuat dosa) maka bertambah (banyak titik hitamnya) hingga merata di hatinya dan itulah yang dinamakan ar-raan yang disebutkan Allah Azza wa Jalla dalam Al-Qur’an : sekali kali tidak, bahkan apa yang mereka kerjakan menutupi hati mereka. Surat Al-Muthaffifin ayat 14
As-Suyuti juga menukil perkataan ibnu arobi bahwa yang maksud dosa dalam hadis di atas adalah dosa kecil bukan dosa besar
« :
سمُخْلَا تاوَلِصلَا ثيَدُحلَ ؛رِابْكلَا نوَد رَئِاغَصلَا يه اهَتَرَفغَمُبِ موَكحمُلَا ايَاطِخْلَا يبِرَعَلَا نْبِا لاقَ
رَئِابْكلَا تبْنَتْجْا امِ اذَإِ mنْهَنَيْبِ امُلَ ةرِاmفكُ ةٍعَمُجلَا ىلَإِ ةٍعَمُجلَاوَ
Ibnul Arabi berkata : Dosa yang dihukumi akan diampuni (dengan wudhu dan ibadah shalat) adalah dosa kecil bukan dosa besar, berdasarkan hadis : shalat lima waktu, (antara shalat) jumat ke jum’at
(berikutnya) menghapus dosa diantara keduanya selama dijahui dosa besar. Hadis riwayat muslim no 233.
Kitab Qutul Mutaghadzi 1/35
Demikian pula setiap ibadah secara umum sebagai penghapus dosa, Nabi berkata
دُجس وَأَ عَكُرِ امُ,لِكفَ ،هِيْقِتَاعوَ هِسأَرِ ىلِع تعَضَّوَفَ اهَoلِكُ هِبِوَنَذُّبِ يتَأَ يoلِصيَ ماقَ اذَإِ دُبْعَلَا ,نإِ
هِنَع تطِقَاسَتَ
Sesungguhnya seorang hamba jika berdiri shalat akan didatangkan seluruh dosa-dosanya kemudian diletakan diatas kepalanya dan kedua pundaknya, setiap kali rukuk atau sujud akan berjatuhan dosa-dosanya.
Kitab Shahihul Jami” karya Albani hadis no 1671
2. Orang yang menjaga thaharah dicintai Allah Azza wa Jalla
Allah Azza wa Jalla berfirman
p ٰ,وَ,تْلَ بحیُهِ,لِلَ ,نإِ
ةرَقِبْلَا ةرِوَس نْیُرَoهَطِتْمُلَ بحیُوَ نْیبِ [ لۡ ٱ 222
]
Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mencintai orang yang banyak bertaubat dan mencintai orang yang ber-thaharah.
[
ةٍبِوَتْلَا ةرِوَس نْیُرَoهَ,طِمُلَ بحیُ هِ,لِلَوَا وَرَ,هَطِتْیُ نأَ نوَبْحیُ لاجْرِهِیفَ لۡ ٱٱ ۚا۟ لࣱ
108 ]
Dalam masjid itu ada orang orang yang suka bersuci dan Allah Azza wa Jalla mencintai orang orang yang bersuci.
Abu Hurairah menyebutkan bahwa ayat diatas turun berkaitan dengan penduduk Quba, dia berkata :
مُهَيْفَ ةٍيَلآا هُذُّه تلَزنَفَ ،ءِامُلَابِ نوَجنَتْسَيَ اوَنَاكُ
Mereka ber-istinja’ (cebok) dengan air maka ayat ini turun berkaitan dengan mereka. Hadis riwayat Abu Dawud no 44 dan Tirmidzi no 3100 dan Ibnu Majah no 357, lihat kitab ‘Aridhatul Ahwadzi 6/191
Syeikh As-Sa’di menjelaskan dalam kitab Tafsirnya
ةرِاهَطِلَا تنَاكُ اذُّهَلَوَ ،اهَبِ فصتْمُلَا بحيَ هِلِلَا نلأ ،اقِلِطِمِ ةرِاهَطِلَا ةٍيْعوَرَشَمِ هِيْففَ
رَهَطِتْلَا لُّمُشَيَوَ ،فحصمُلَا سمِ زاوَجْوَ ،فاوَطِلَاوَ ةلَاصلَا ةٍحصلَ اطرَش ،اقِلِطِمِ
ةٍسَيْسَخْلَا لاعَفَلأاوَ ،ةٍحيْبْقِلَا تافصلَاوَ ،ةٍلِيَذَرَلَا قلَاخَلأا نْع يوَنَعَمُلَا
Ini menunjukan disyariatkan thaharah secara mutlak karena Allah Azza wa Jalla mencintai orang yang memiliki sifat itu, oleh sebab itu thaharah secara mutlak menjadi syarat sahnya shalat dan thowaf dan bolehnya menyentuh mushaf, ini mencakup thaharah maknawi (yaitu membersihkan diri) dari ahlak yang rendah, sifat yang jelek dan perbuatan yang hina..
3. Bersinar anggota wudhunya
Nabi ﷺ bersabda:
ءِوَضَّوَلَا رِاثُآ نْمِ نْيْلِ,جحمِ ا@رَغَ ةٍمِايْقِلَا موَيَ نوَعدُيَ يتْ,مِأَ ,نإِ
“Sesungguhnya ummatku pada hari kiamat akan dipanggil dalam keadaan (anggota wudhunya) bersinar bercahaya karena bekas wudhu.” Hadis riwayat Bukhari no 136
Syeikh Abdullah Al-Bassam berkata dalam kitabnya Taudhihul Ahkam 1/227
--
ىلَاعَتَ هِلِلَا mنأَ كلَذَ ؛ةٍقِبِاmسَلَا مُمِلأا يفَ نْكيَ مُلَوَ ، دُمُحمِ ةٍ,مِأَ صئِاصخَ نْمِ ءِوَضَّوَلَا mنأَ حجْاmرَلَا
ءِاجْ امُلَ ؛ءِوَضَّوَلَا رَثُأَ نْمِ مُهَلَ lةٍ,صاخَ امُيْس ،مُهَمِادُقَأَوَ مُهَيَدُيَأَ يفَ لُّيْجحتْلَاوَ ،مُهَهوَجْوَ يفَ ة,رَغَلَا لُّعَجْ
) مُلِسَمِ حيْحص يفَ
« : -- ( ٢٤٧ ا@رَغَ ,يلِع نوَدرَتَ مُمِلأا نْمِ دُحَلأ تسَيْلَ امُيْس مُكلَ لاقَ يبْ,نَلَا mنأَ ؛ ﷺ
.-- »
ﷺ د م ح م ة مَّأ ل ا مَّ لث مَّ م هل راصل ،أض وتي مه ريغ ناك ولو ، ء و ض ولا رثأ ن مَّ نيلج حم
:
نْبِا هُاوَرِ امِ اmمِأَ ،ةٍحيْحصلَا ثيَداحَلأا هِبِ تءِاجْ امُكُ ةٍمِلأا هُذُّه صئِاصخَ نْمِ ءِوَضَّوَلَا ملَاسلإا خيْش لاقَ
:
نْيْمُلِسَمُلَا ءِوَضَّوَ أَضَّوَتْيَ هِmنَأَ ،ءِايْبْنَلأا نْمِ دُحَأَ نْع رَبْخَ باتْكلَا لُّهأَ دُنَع هِلَ سيْلَوَ ،هِبِ جتْحيَ لَافَ هِجْامِ
Pendapat yang kuat bahwa wudhu hanya khusus (dalam syariat) Nabi Muhammad dan tidak disyariatkan pada ummat terdahulu, alasanya karena Allah Azza wa Jalla menjadikan cahaya pada wajah wajah mereka dan sinar pada tangan dan kaki mereka, tanda khusus karena bekas wudhu, seperti yang disebutkan dalam Shahih Muslim sesungguhnya Nabi berkata : kalian memiliki tandan yang tidak dimiliki seorangpun dari ummat lain, kalian datang kepadaku dalam keadaan bercahaya bersinar karena bekas wudhu.
Jika ummat terdahulu juga disyariatkan berwudhu maka mereka akan memiliki tanda seperti tanda ummat Nabi Muhammad.
Syaikhul islam Ibnu Taimiyah berkata : Wudhu menjadi kekhususan ummat ini seperti yang disebutkan dalam hadis shohih, adapun yang diriwayatkan Ibnu Majah maka tidak bisa dijadikan dalil, dia tidak punya dalil dari ahlul kitab yang menyebutkan riwayat dari salah satu Nabinya bahwa dia berwudhu seperti wudhunya kaum muslimin.
Adapun hadis yang dimaksud Ibnu Taimiyah riwayat Ibnu Majah adalah
يلِبْقَ ءِايْبْنَلأا ءِوَضَّوَوَ يئِوَضَّوَ اذُّه
“Inilah wudhuku dan wudhu para Nabi sebelumku”.
Hadis ini dishahihkan Albani dalam kitab As-Silsilah Ash-Shahihah no 269 dan di- dhaif-kan Ibnu Taimiyah dalam kitab almustadrok alal majmuk 3/29
4. Thaharah menjadi setengah keimanan
Nabi ﷺbersabda:
:
نامُيَلإا رَطِش رِوَهَطِلَا يرَعَشلأا كلَامِ يبِأَ نْع
Dari Abu Malik al-Asy’ari, Rosulullah ﷺ bersabda: “Thaharah itu setengah iman”. Hadis riwayat muslim no 223
An-Nawawi berkata dalam menjelaskan hadis di atas dalam Syarah Muslim
: ” ” :
نأَ هُانَعَمِ لُّيْقِفَ ، نامُيَلإا رَطِش رِوَهَطِلَا مُلِسوَ هِيْلِع هِلِلَا ىلِص هِلَوَقَ ىنَعَمِ يفَ فلِتْخَاوَ
:
، ايَاطِخْلَا نْمِ هِلِبْقَ امِ بجيَ نامُيَلإا نأَ هُانَعَمِ لُّيْقَوَ ، نامُيَلإا رَجْأَ فصنَ ىلَإِ هِفيْعَضتَ يهَتْنَيَ هِيْفَ رَجْلأا
;
، رَطِشَلَا ىنَعَمِ يفَ نامُيَلإا ىلِع هِفقَوَتْلَ رِاصفَ نامُيَلإا عَمِ لاإِ حصيَ لا ءِوَضَّوَلَا نلأ ءِوَضَّوَلَا كلَذُّكُوَ
} { :
طرَش ةرِاهَطِلَاوَ مُكنَامُيَإِ عَيْضيْلَ هِلِلَا ناكُ امِوَ ىلَاعَتَ هِلِلَا لاقَ امُكُ ةلَاصلَا انَه نامُيَلإابِ دارَمُلَا لُّيْقَوَ
لوَقِلَا اذُّهوَ ، ايْقِيْقِحَ افصنَ نوَكيَ نأَ رَطِشَلَا يفَ مزلِيَ سيْلَوَ ، رَطِشَلَاكُ ترِاصفَ ةلَاصلَا ةٍحص يفَ
لاوَقَلأا برَقَأَ
Arti hadis : thaharah itu setengah iman, ditafsirkan berbeda beda, ada yang mengatakan : artinya bahwa pahalanya dilipat gandakan sampai setengan pahala iman, ada yang mengatakan : artinya bahwa iman itu menghapus dosa yang telah lalu, demikian pula wudhu, karena wudhu tidak sah kecuali disertai iman, ketika berkaitan dengan iman maka wudhu menjadi setengahnya, ada yang mengatakan : yang dimaksud iman itu adalah shalat seperti Allah Azza wa Jalla berkata : Allah Azza wa Jalla tidak akan menyia nyiakan imanmu (maksudnya adalah shalatnya ketika menghadap kebaitil maqdis) dan thaharah itu syarat sahnya shalat maka menjadi setengahnya, dan makna setengah itu tidak harus benar benar setengahnya dan ini pendapat yang paling dekat (kuat)
5. Menjaga wudhu menjadi tanda keimanan
Nabi ﷺ berkata:
) ت ينَابْلَلأا kنْمِؤْمِ لاإِ ءِوَضَّوَلَا ىلِع ظُفَاحيَ لاوَ . ( ١٤٢٠
لُّيْلِغَلَا ءِاوَرِإِ ، / ٢
• ١٣٦ ن سح هدان سإ
“Dan tidaklah menjaga wudhu kecuali orang mukmin. Hadis riwayat Ahmad no 22433 dan di-shahih- kan oleh Syuaib Al-Arnaut, Ibnu Majah no 277 dan di-hasan-kan Albani dalam kitab Irwaul Ghalil 2/136
Arti menjaga wudhu ada beberapa penafsiran, Al-Iraqi berkata dalam kitab Tharhut Tatsrib 2/59
مُلَوَ ةلَاص تقَوَ نْكيَ مُلَ نإِوَ ،ثِدُحلَا بقِع ءِوَضَّوَلَا بحتْسَيَ هِ,نَأَوَ ،ةرِاهَ,طِلَا ماوَد بابْحتْسا هِيْفَ
» « – –
ماوَد هِنَمِ دارَمُلَا ,نأَ رَهاmظَلَافَ kنْمِؤْمِ mلاإِ ءِوَضَّوَلَا ىلِع ظُفَاحيَ لاوَ هِلَوَقِبِ دارَمُلَا وَهوَ ،ةلَا,صلَا درَيَ
مُلِعأَ هِ,لِلَاوَ ةلَا,صلَا دُنَع طْقِفَ بجْاوَلَا ءِوَضَّوَلَا لا ءِوَضَّوَلَا
Pertama : selalu dalam keadaan wudhu, yaitu) menunjukan dianjurkan terus (dalam keadaan) thaharah, dianjurkan berwudhu setiap kali batal walaupun belum masuk waktu shalat dan tidak ingin shalat, inilah yang dimaksud dalam hadis beliau : tidak menjaga wudhu kecuali orang mukmin. Dhohirnya bermakna selalu menjaga wudhu bukan maknanya wudhu yang wajib saja ketika akan shalat. Wallahu a’lam
Kedua : berwudhu ketika masuk waktu shalat, ini disebutkan oleh Syeikh As-Sindi dalam Hasyiah Sunan Ibnu Majah pada hadis no 277, beliau berkata
” ةلَاصلَا ىلَإِ تمُقَ اذَإِ ءِوَضَّوَلَابِ ترَمِأَ امُنَإِ مُلِسوَ هِيْلِع ىلَاعَتَ هِلِلَا ىلِص هِلَوَقِلَ ،هِتَاقَوَأَ يفَ يأَ “ :
. . :
مُهرَيْغَوَ نْنَسَلَا باحصأَ هُاوَرِ ماعَطِلَا هِيْلَإِ برَقَوَ ءِلَاخْلَا نْمِ جَرَخَ دُقَوَ ءِوَضَّوَبِ كيْتَأَنَ لاأَ هِلَ اوَلَاقَ نْيْحَ
Maksudnya dalam waktunya, karena Nabi berkata : sesungguhnya aku diperintahkan wudhu jika aku akan berdiri shalat, ketika para shohabat berkata kepada beliau apakah kami siapkan air wudhu ? ketika beliau keluar dari kamar kecil dan disiapkan makanan. Hadis riwayat ashabus sunan dan yang lainya.
Ketiga : maksudnya adalah menyempurnakan wudhu, disebutkan oleh Al-Munawi dalam kitab Faidhul Qadir 1/497
"
"
هِبِادآوَ هِنَنَس ءِافيْتْساوَ هِتْمِادإِوَ هِغَابْسإِبِ ءِوَضَّوَلَا ىلِع ظُفَاحيَ
“Menjaga wudhu (maksudnya) menyempurnakan dan selalu wudhu dan menyempurnakan sunnah- sunnah dan adab adabnya.”
Apa yang disebutkan Al-Munawi sejalan dengan hadis Nabi
نامُيَلإا رَطِش ءِوَضَّوَلَا غُابْسإِ
Menyempurnakan wudhu itu setengah iman. Hadis riwayat Nasai no 2436 dan Tirmidzi no 3517
Keempat : maksud thaharah dalam hadis diatas adalah meninggalkan dosa, penafsiran ini disebutkan Ibnu Rajab dalam kitab Jamiul Ulum wal Hikam 2/7 sampai 13, beliau berkata
»» «« :
هِلَوَقَ يفَ امُكُ ،بوَنَذُّلَا كرَتْبِ انَهاه رِوَهَطِلَا مُهَضعَبِ رَ,سَفَ نامُيَلإا رَطِش رِوَهَطِلَا ﷺ هِلَوَقِفَ
[ :
فارَعلأا نوَرَ,هَطِتْيَ kسانَأَ مُهَ,نَإِ ىلَاعَتَ ﴾ ﴿ .… ] ٨٢
:
وَهوَ ،تارِوَظَحمُلَا كرَتَ هِفصنَوَ ،تارِوَمِأَمُلَا لُّعَفَ هِفصنَفَ ،kكرَتَوَ kلُّعَفَ ناعوَنَ نامُيَلإا لاقَوَ
»» ««
هُدرَتَ نامُيَلإا رَطِش ءِوَضَّوَلَا ةٍيَاوَرِ ,نأَ لاوَلَ kلُّمُتْحمِ لوَقِلَا اذُّهوَ ،يصاعَمُلَا كرَتْبِ سف,نَلَا رَيْهَطِتَ
..…
: :
كلَذُّكُوَ ،ثِادُحَلإا نْمِ ءِامُلَابِ رَيْهَطِ,تْلَا انَهاه رِوَهَطِلَابِ دارَمُلَا ,نأَ نوَرَثكُلأا هِيْلِع يذُّ,لَا حيْح,صلَاوَ
امُهرَيْغَوَ هِجْامِ نْبِاوَ يئِاسَ,نَلَا هِجْ,رَخَ كلَذُّكُوَ ،ءِوَضَّوَلَا باوَبِأَ يفَ هِجيَرَخْتْبِ kمُلِسَمِ أَدُبِ
Hadis Nabi : thaharah setengah iman, sebagian menafsirkan kata thaharah di sini bermakna meninggalkan dosa seperti yang disebutkan dalam ayat : sesungguhnya mereka (Nabi luth dan pengikutnya) sok suci. Surat Al-A’raf ayat 82 (sok suci yaitu menjauhi perbuatan liwath)
Beliau berkata : iman itu ada dua jenis yaitu melakukan dan meninggalkan, setengahnya melaksanakan perintah dan setengahnya meninggalkan larangan yaitu membersihkan diri dengan meninggalkan maksiat, penafsiran ini kemungkinan benar kalau tidak ada hadis : wudhu setengah iman.
Maka pendapat yang benar yang dipilih mayoritas ulamak bahwa maksud thaharah di sini adalah thaharah dengan air dari hadas (kecil atau besar), seperti itulah imam muslim menyebutkan hadis ini dalam bab wudhu demikian pula disebutkan Nasai, Ibnu Majah dan yang lainya.
6. Thaharah menjadi syarat sahnya shalat
Dalam hadis Ibnu Umar, Nabi ﷺ bersabda:
رِوَهَط رَيْغَبِ kةلَاص لُّبْقِتَ لا
“Shalat tidak akan diterima jika tanpa thaharah.” Hadis riwayat Muslim no 224 Sedangkan dalam hadis Abu Hurairah, Nabi bersabda
أَضَّوَتْيَ ىتْحَ ثِدُحَأَ اذَإِ مُكُدُحَأَ ةلَاص هِلِلَا لُّبْقِيَ لا
“Allah Azza wa Jalla tidak menerima shalat di antara kamu jika hadas hingga berwudhu.” Hadis riwayat Bukhari no 135
Dalam hadis Ali bin Abi Thalib, Nabi bersabda
رِوَهَطِلَا ةلَا,صلَا حاتْفمِ
Kunci (pembuka) shalat adalah thaharah. Hadis riwayat Abu Dawud no 61 dan Tirmidzi no 3 dan Ibnu Majah no 275
7. Tidak bersuci menjadi salah satu sebab adzab kubur
Nabi bersabda
لوَبْلَابِ رَبْقِلَا باذُّع رَثكُأَ
“Kebanyakan (sebab) adzab kubur disebabkan (tidak cebok dari) kencing.” Hadis riwayat Ibnu Majah no 348
Dalam hadis Ibnu Abbas, dia berkata:
: ” :
ا,مِأَ رَيْبْكُ يفَ نابِ,ذُّعَيَ امِوَ ،نابِ,ذُّعَيْلَ امُهَ,نَإِ لاقِفَ ،نْيَرَبْقِبِ مُ,لِسوَ هِيْلِع هِ,لِلَا ى,لِص يبْ,نَلَا ,رَمِ
.“
اهَ,قِشَفَ lةٍبْطرِ lةدُيَرَجْ ذُّخَأَ ,مُثُ ةٍمُيْمُ,نَلَابِ يشَمُيَ ناكفَ رَخَلآا ا,مِأَوَ ،لوَبْلَا نْمِ رَتْتْسَيَ لا ناكفَ امُهدُحَأَ
” : :
امِ امُهَنَع ف,فخْيَ هِ,لِعَلَ لاقَ ؟ اذُّه تلِعَفَ مُلَ ،هِ,لِلَا لوَسرِ ايَ اوَلَاقَ ،lةدُحَاوَ رَبْقَ oلُّكُ يفَ زرَغَفَ ،نْيْفصنَ
اسَبْيْيَ مُلَ
Nabi melewati dua kuburan kemudian beliau berkata : sesungguhnya kedua sedang diadzab dan tidak diadzab dalam perkara besar, adapun salah satunya dia kencing tanpa menutup diri dan yang lain suka berjalan mengadu domba kemudian beliau mengambil pelepah kurma yang masih basah dan dibelah dua bagian dan menancapkan satu bagian pada setiap kuburan, para shahabat berkata : wahai Rasulullah mengapa Anda melakukan ini ? beliau berkata : semoga diringankan adzabnya selama belum kering. Hadis riwayat Bukhari no 216 dan muslim no 292
Dalam riwayat Ibnu Majah disebutkan dengan lafadz
ةٍمُيْمُ,نَلَابِ يشَمُيَ ناكفَ رَخَلآا اmمِأَوَ ،هِلَوَبِ نْمِ هُزنَتْسَيَ لا ناكفَ امُهدُحَأَ اmمِأَ
Adapun salah satunya tidak cebok dari kencingnya dan yang lain suka berjalan mengadu domba. Hadis riwayat Ibnu Majah no 282 dan di-shahih-kan Albani
Imam Nawawi berkata dalam Syarah Muslim
” رَتْتْسَيَ تايَاوَرِ ثِلَاثُ يوَرَفَ هِلَوَبِ نْمِ رَتْتْسَيَ لا ” ( ) : مُلِسوَ هِيْلِع هِلِلَا ىلِص يبْنَلَا لوَقَ امِأَوَ
” ” ” ”
يفَ ةٍثلَاثلَا هُذُّهوَ ةزمُهَلَاوَ ةدُحَوَمُلَا ءِابْلَابِ ئرَبْتْسَيَوَ ، ءِاهَلَاوَ يازلَابِ هُزنَتْسَيَوَ ، نْيْتَانَثمِ نْيْئِاتْبِ
. :
مُلِعأَ هِلِلَاوَ هِنَمِ زرَحتْيَوَ هِبْنَجتْيَ لا اهانَعَمِوَ ، ةٍحيْحص اهَلِكُوَ ، هُرَيْغَوَ يرِاخْبْلَا
Adapun hadis : tidak menutup diri dari kencing, telah diriwayatkan dengan tiga lafadz, (pertama) yastatir (tidak menutup diri) dengan dua huruf ta’ bertitik dua (kedua) yastanzih (tidak cebok) dengan huruf zai dan ha’ (ketiga) yastabrik (tidak bersuci) dengan huruf ba’ titik satu dan diahiri huruf hamzah, tiga riwayat ini disebutkan dalam shohih bukhoti dan yang lainya dan semuanya shohih yang artinya : tidak menjahui kencing dan tidak menjaga diri dari (najisnya) kencing. Allah a’lam
8. Celakalah orang yg tidak becus thaharahnya
Abdullah bin Amir berkata
نْحنَوَ ةلَا,صلَا انَتْقِهرِأَ دُقَوَ انَكُرِدأَفَ ،اهانَرَفَاس ةرَفس يفَ مُ,لِسوَ هِيْلِع هِ,لِلَا ى,لِص يبْ,نَلَا ا,نَع ف,لِخْتَ
. اlثُلَاثُ وَأَ نْيْتَ,رَمِ رِا,نَلَا نْمِ باقِعلْأَلَ kلُّيَوَ هِتَوَص ىلِعأَبِ ىدانَفَ ،انَلِجْرِأَ ىلِع حسَمُنَ انَلِعَجفَ ،أَ,ضَّوَتْنَ ” ” :
Nabi pernah terlambat dari kami pada suatu safar yang kami lakukan kemudian beliau menyusul kami dan sudah masuk waktu shalat dan kami sedang berwudhu maka kami mengusap kaki kami, maka beliau memanggil dengan suara keras : celakalah tumit dalam neraka (yang tidak tersiram air wudhu) dua kali atau tiga kali. Hadis riwayat Bukhari no 60
Dalam hadis riwayat muslim no 241, Ibnu Umar menceritakan
،قِيَرَ,طِلَابِ ءِامُبِ ا,نَكُ اذَإِ ى,تْحَ ةٍنَيَدُمُلَا ىلَإِ ةٍ,كمِ نْمِ مُ,لِسوَ هِيْلِع هِ,لِلَا ى,لِص هِ,لِلَا لوَسرِ عَمِ انَعَجْرِ
لاقِفَ ،ءِامُلَا اهَ,سَمُيَ مُلَ حوَلِتَ مُهَبِاقِعأَوَ ،مُهَيْلَإِ انَيْهَتْنَافَ ،kلاجع مُهوَ ،اوَئَ,ضَّوَتْفَ ،رَصعَلَا دُنَع kموَقَ لُّ,جعَتَ
” :
ءِوَضَّوَلَا اوَغَبْسأَ ،رِا,نَلَا نْمِ باقِعلْأَلَ kلُّيَوَ مُ,لِسوَ هِيْلِع هِ,لِلَا ى,لِص هِ,لِلَا لوَسرِ
Kami kembali dari Mekkah ke Madinah bersama Rasulullah hingga ketika kami sampai di salah satu sumber air di pinggir jalan, ada kaum yang tergesa-gesa waktu ashar maka mereka wudhu dengan tergesa- gesa kemudian kami mendatangi mereka sedangkan tumit mereka belang belum tersiram air maka Rasulullah berkata : celakalah tumit dalam Neraka (yang tidak tersiram air wudhu)
9. Berdoa setelah wudhu menjadikan masuk Surga dari pintu manapun
Rasulullah ﷺ bersabda:
:
،هِلَ كيَرَش لا هُدُحَوَ ،هِلِلَا لاإِ هِلَإِ لا نأَ دُهَشأَ لوَقِيَ مُثُ ءِوَضَّوَلَا غبْسَيْفَ أَضَّوَتْيَ دُحَأَ نْمِ مُكنَمِ امِ
ءِاش اهَيَأَ نْمِ لُّخَدُيَ ةٍيْنَامُثلَا ةٍنَجلَا باوَبِأَ هِلَ تحتْفَ لاإِ ،هِلَوَسرِوَ هُدُبْع ادُمُحمِ نأَ دُهَشأَوَ
Tidak ada seorangpun yang berwudhu kemudian menyempurnakan wudhu kemudian berdoa
هِلَوَسرِوَ هُدُبْع ادُمُحمِ نأَ دُهَشأَوَ ،هِلَ كيَرَش لا هُدُحَوَ ،هِلِلَا لاإِ هِلَإِ لا نأَ دُهَشأَ
“Aku bersaksi tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah Azza wa Jalla satu-satunya tidak ada sekutu baginya dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.”
Kecuali akan dibukakan delapan pintu Surga, dia bisa masuk dari pintu manapun yang dia kehendaki. Hadis riwayat Muslim no 234
Dalam riwayat Tirmidzi no 55 ada tambahan doa
نْيَرَهَطِتْمُلَا نْمِ ينَلِعَجْاوَ ،نْيْبِاوَتْلَا نْمِ ينَلِعَجْا مُهَلِلَا
“Ya Allah Azza wa Jalla jadikan aku termasuk orang yang banyak bertaubat dan jadikan aku termasuk orang yang selalu bersuci.”
10. Menjadi salah satu tanda kesempurnaan agama Islam
Salman Al-Farisi pernah ditanya orang yahudi
: . – –
وَأَ طْئِاغَلَ ةٍلِبْقِلَا لُّبْقِتْسَنَ نأَ انَاهَنَ دُقِلَ لُّجْأَ لاقِفَ ةءِارَخْلَا ىتْحَ ءِيش لُّكُ ﷺ مُكيْبْنَ مُكمُلِع دُقَ
مُظَعَبِ وَأَ عَيْجْرَبِ ىجنَتْسَنَ نأَ وَأَ ،رِاجحَأَ ةٍثُلَاثُ نْمِ لُّقَأَبِ ىجنَتْسَنَ نأَ وَأَ ،نْيْمُيْلَابِ ىجنَتْسَنَ نأَ وَأَ ،لوَبِ
Apa benar Nabimu mengajarkan segala sesuatu kepadamu ? Salman menjawab: “Tentu, beliau melarang kami menghadap kiblat ketika buang air besar atau buang air kecil, atau cebok dengan tangan kanan atau istinja’ kurang dari tiga batu atau istinja’ dengan kotoran hewan atau tulang. Hadis riwayat Ibnu Majah no 255
11. Diampuni dosa-dosa yg telah lalu jika shalat dua rakaat setelah wudhu.
Dari Humran maula Utsman bahwa dia melihat Utsman bin Affan minta air wudhu (kemudian dia memperlihatkan cara wudhunya)
,مُثُ ،قِشَنَتْساوَ ضَمُضمُفَ ،ءِانَلإا يفَ هِنَيْمُيَ لُّخَدأَ ,مُثُ امُهَلِسَغَفَ ،رِارَمِ ثِلَاثُ هِيْ,فكُ ىلِع غُرَفَأَفَ
ىلَإِ رِارَمِ ثِلَاثُ هِيْلِجْرِ لُّسَغَ ,مُثُ ،هِسأَرَبِ حسَمِ ,مُثُ ،رِارَمِ ثِلَاثُ نْيْقِفَرَمُلَا ىلَإِ هِيَدُيَوَ ،اlثُلَاثُ هِهَجْوَ لُّسَغَ
” : :
ىلَّ 8صَ مَّ;ثُ ا8ذَ8ه ي?ئِ و ;ض;و 8و Aح8نَ Cأض8و8تَ Aن8مَّ 8مَلَّ 8س8و ?هِAيْ8ل8 عَ ; هُلَّلا ىلَّ 8صَ ?هُلَّلا ;لُو ;س8ر 8لُا8 قَ 8لُا8 قَ مَّ;ثُ ، ?نAي8بَAعْ8كَARلا
)
مُقَرِ يرِاخْبْلَا حيْحص هِبْنَذَ نْمِ م,دُقِتَ امِ هِلَ رَفغَ ،هِسَفنَ امُهَيْفَ ثِoدُحيَ لا نْيْتْعَكُرِ
( ١٥٩
Dia membasuh kedua telapak tanganya tiga kali kemudian memasukan tangan kananya ke dalam bejana kemudian berkumur kumur dan ber-istinsyaq kemudian membasuh wajahnya tiga kali dan kedua tangannya tiga kali sampai ke siku-siku kemudian mengusap kepalanya kemudian membasuh kedua kakinya tiga kali sampai ke kedua mata kaki kemudian Utsman berkata, Rasulullah berkata: “Barang siapa yang berwudhu seperti wudhuku ini kemudian shalat dua rokaat (dengan khusuk) tidak mengajak bisara dirinya sendiri maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Hadis riwayat Bukhari no 159
Keutamaan yang didapatkan Bilal
: رَجفلَا ةلَاص دُنَع للَابْلَ لاقَ مُ,لِسوَ هِيْلِع هِ,لِلَا ى,لِص ,يبْ,نَلَا ,نأَ هِنَع هِ,لِلَا يضَّرِ ةرَيَرَه يبِأَ نْع يَ
ا
: .
امِ لاقَ ةٍ,نَجلَا يفَ ,يدُيَ نْيْبِ كيْلِعَنَ ,فد تعَمُس يoنَإِفَ ؛ ملَاسلإا يفَ هِتْلِمُع لُّمُع ىجْرِأَبِ ينَثُoدُحَ ،للَابِ
بتْكُ امِ رِوَهَطِلَا كلَذُّبِ تيْ,لِص ,لاإِ ،رِاهَنَ وَأَ لُّيْلَ ةٍعاس يفَ اlرِوَهَط رَ,هَطِتَأَ مُلَ يoنَأَ يدُنَع ىجْرِأَ lلَامُع تلِمُع يoلِصأَ نأَ يلَ
Dari Abu Hurairah bahwa Nabi berkata kepada Bilal di saat Shalat Subuh : wahai Bilal beritahukan amalan apakah yang paling engkau harapkan dalam Islam? Sesungguhnya aku mendengar suara sandalmu di depanku di Surga
Bilal berkata : tidak ada amalan yang aku kerjakan yang lebih aku harapkan bagiku, hanya saja tidaklah aku ber-thaharah di waktu malam atau siang kecuali aku shalat dengan thaharah itu semampuku untuk shalat. Hadis riwayat Bukhari no 1149
Dalam hadis Buraidah bin Hushaib Al-Aslami disebutkan, Nabi berkata kepada Bilal
: :
اذُّهَبِ هِلِلَا لوَسرِ لاقِفَ ،نْيْتْعَكُرِ تيْ,لِصوَ تأَ,ضَّوَتَ mلاإِ تثُدُحَأَ امِ لاقَ ؟ةٍ,نَجلَا ىلَإِ ينَتْقِبْس مُبِ ﷺ
Dengan amalan apakah engkau mendahului aku ke Surga? Bilal berkata : tidaklah aku hadas (batal thaharahku) kecuali aku (langsung) berwudhu dan shalat dua rakaat. Rasulullah berkata : (benar) dengan ini. Hadis riwayat Tirmidzi no 3689 dan Ahmad no 22996