• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kezia Adeline Suraninta Br Sinuhaji - Jurnal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Kezia Adeline Suraninta Br Sinuhaji - Jurnal"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

664 PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEREMPUAN DALAM MASALAH PENEGAKAN HAK ASASI MANUSIA PADA KASUS PIDANA

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEREMPUAN DALAM MASALAH PENEGAKAN HAK ASASI MANUSIA PADA KASUS PIDANA

Oleh:

Kezia Adeline Suraninta Br Sinuhaji 1) John Pieri 2)

Manotar Tampubolon 3)

Universitas Kristen Indonesia, Jakarta 1,2,3) E-mail:

[email protected] 1) [email protected] 2) [email protected] 3)

ABSTRACT

This study aims to determine the form of legal protection for women in the issue of enforcing human rights (HAM) in criminal cases. Discrimination experienced by women in criminal cases is an important concern in the issue of human rights enforcement. A form of inhuman and degrading treatment and human dignity is verbal violence including sexual abuse and physical violence. This form of torture involves utilizing female sexuality and reproductive organs in the form of prostitution and rape. Women facing criminal cases are still subjected to violence and are deprived of their dignity and dignity as human beings which is carried out precisely by law enforcement officials (APH). The state must protect it through strict legal policies to protect women's rights in an emancipatory legal perspective. For the success of legal protection of women, of course, it must be supported by all partiesFrom this explanation, it can be concluded, that attention to legal protection of women in criminal cases, namely women as reported, suspects, defendants, or convicted of the implementation of legal protection against women has not been fully achieved as expected. Legal protection of women in criminal cases is important to pay attention to because women also have rights attached to them that must be protected.

Keywords : Legal Protection, Women, Criminal Law

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk perlindungan hukum terhadap perempuan dalam masalah penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) pada kasus pidana. Diskriminasi yang dialami perempuan pada kasus pidana menjadi perhatian penting dalam masalah penegakan HAM. Bentuk perlakuan yang tidak manusia dan merendahkan harkat dan martabat manusia yaitu kekerasan verbal termasuk didalamnya pelecehan seksual dan kekerasan fisik. Bentuk dari penyiksaan tersebut dengan memanfaatkan organ seksualitas dan reproduksi perempuan berupa penelanjangan dan pemerkosaan. Perempuan yang berhadapan dengan kasus pidana masih mengalami kekerasan serta direnggut harkat dan martabatnya sebagai manusia yang dilakukan justru oleh Aparat Penegak Hukum (APH). Negara harus melindunginya melalui kebijakan hukum yang ketat untuk melindungi hak-hak perempuan dalam perspektif hukum emansipatif. Untuk keberhasilan perlindungan hukum terhadap perempuan ini tentunya harus didukung oleh semua pihakDari penjelasan tersebut, dapat ditarik kesimpulan, bahwa perhatian terhadap perlindungan hukum terhadap perempuan pada kasus pidana, yaitu perempuan sebagai terlapor, tersangka, terdakwa, ataupun terpidana pelaksanaan perlindungan hukum terhadap perempuan belum sepenuhnya tercapai seperti harapan.

(2)

Perlindungan hukum terhadap perempuan pada kasus pidana penting untuk diperhatikan karena perempuan juga memiliki hak-hak yang melekatpada dirinya harus dilindungi.

Kata Kunci : Perlindungan Hukum, Perempuan, Hukum Pidana

1. PENDAHULUAN

Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara kaum perempuan kerap dipandang sebagai pihak yang inferior dan kaum laki-laki dipandang sebagai pihak yang superior.

Perempuan masih sering dianggap pihak yang memiliki posisi lemah, berbeda dengan laki-laki yang dipandang lebih kuat dan mampu dalam berbagai situasi dan kondisi. Hal ini, berimbas menjadikan perempuan objek ketidakadilan dalam masyarakat.

Terdapat beberapa hal yang menjadi faktor yang mempengaruhi anggapan ini, seperti kultur, budaya atau adat- istiadat, ekonomi, politik, hukum dan sosial.

Menurut data dari Komisi Nasional Perempuan (Komnas Perempuan) Republik Indonesia melalui laporan Catatan Tahunan (CATAHU) 2022 tentang kekerasan terhadap Perempuan Tahun 2021 terdapat kasus-kasus yang menimpa perempuan, dalam hal ini dikualifikasikan berdasarkan bentuk, yaitu secara fisik, psikis, ekonomi dan seksual. Data pengaduan kepada Komnas Perempuan dalam ranah personal secara fisik 900 kasus, psikis 1.986 kasus, ekonomi 520 kasus, seksual

1.149 kasus, Not Applicable/Not Available/No Answer (NA) 22 kasus, total 4.577 kasus. Ranah publik secara fisik 65 kasus, psikis 691 kasus,

ekomoni 157 kasus, seksual 1.051 kasus, NA 11 kasus, total 1.975 kasus.

Ranah negara fisik 7 kasus, psikis 32 kasus, ekonomi 10 kasus, seksual 4 kasus, NA 0, total 53 kasus. Total secara fisik 972 kasus, psikis 2.709 kasus, ekonomi 687 kasus, seksual 2.204, NA 33 kasus, total keseluruhan 6.605 kasus.

Presentasi data pada tahun 2020 dalam bentuk fisik 22%, psikis 40%, ekonomi 12%, seksual 26%, NA 0%, total 100%.

Sedangkan presentasi data tahun 2021 dalam bentuk fisik 14,7%, psikis 41,0%, ekonomi 10,4%, seksual 33,4% NA 0,5%, total 100%.

CATAHU 2022 terkumpul 459.094 kasus, sejumlah 338.496 adalah kasus Kekerasan Berbasis Geder (KBG) terhadap perempuan, bersumber dari laporan Komnas Perempuan 3.838 kasus, laporan Lembaga Layanan 7.029 kasus, dan Badan Peradilan Agama (BADILAG). Terjadi peningkatan kasus Kekerasan Berbasis Gender (KBG) terhadap perempuan di tahun 2021 dari 226.062 kasus di tahun 2020. Adapun

(3)

666 PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEREMPUAN DALAM MASALAH PENEGAKAN HAK ASASI MANUSIA PADA KASUS PIDANA

yang menjadi dasar HAM setiap warga negara telah diakui dan dilindungi diatur dalam Pembukaan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang tercantum pada alinea keempat.

Berkaitan tentang perlindungan hukum ini adalah sebuah hak. HAM telah diatur didalam Pasal 1 UU Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia menjelaskan arti Hak Asasi Manusia adalah: Seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, Pemerintah dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.

Sebab itu, seluruh pihak tanpa terkecuali haruslah mengambil peran suntuk melindungi hak asasi manusia pada setiap manusia tanpa kecuali.

2. TINJAUAN PUSTAKA

Pengakuan tentang perlindungan HAM telah tertuang dalam Pembukaan UUD RI Tahun 1945 alinea keempat. Melalui penegasan yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945, jelas bahwa setiap warga negara harus dilindungi.

Menurut Satjipto Raharjo sebagaimana yang dikutip oleh Emil El Faisal dan Mariyani hukum melindungi kepentingan

individu melalui mekanisme memposisikan suatu kekuatan atau kuasa dengan cara tertata untuk bersikap dalam strategi kepentingan tersebut.

Menurut Philipus M. Hadjo sebagaimana yang dikutip oleh Emil El Faisal dan Mariyani hukum sebagai perlindungan akan harkat dan martabat, juga sebagai pengakuan terhadap hak-hak asasi manusia yang dimiliki oleh subjek hukum. Terkait pendapat diatas jenis perlindungan hukum dibagi menjadi 2 (dua) sebagai berikut :

1. Pencegahan

Untuk mencegah terjadinya konflik atau permasalahan.

2. Reprensif

Reprensif menyelesaikan permasalahan yang telah terjadi.

Permasalahan berikutnya dalam putusan hakim terkait kekerasan seksual kepada perempuan dengan peluang hukuman yang diberikan sanksi yang rendah dengan anggapan korbannya bertindak ikut serta dalam proses terjadinya tindakan tersebut. Secara trandisional hukum menempatkan laki-laki lebih tinggi posisinya dibanding perempuan. Pada realitanya perlindungan kepada perempuan masih belum sesuai dengan sebagaimana mestinya untuk memberikan perlindungan terhadap perempuan pada kasus pidana.

Penerapan perlindungan harus

(4)

memperhatikan kebutuhan dan semua pihak. Pengakuan terhadap HAM merupakan suatu perwujudan dari gambaran suatu bangsa dalam artian negara hukum. Sri Soemantri. M berpendapat sebagaimana yang dikutip oleh Saptosih Ismiati terdapat 4 (empat) komponen penting negara hukum, yaitu : 1) Bahwa pemerintah (arti luas) dalam

menjalankan tugas kewajibannya haruslah berdasarkan peraturan yang berlaku.

2) Terdapat kepastian untuk warga negara.

3) Peraturan komponen kekuasaan dalam suatu negara.

4) Terdapat pengawasan oleh badan atau instansi yang berwenang.

Adanya unsur-unsur tersebut diatas terdapat dalam UUD 1945, dimana memperlihatkan adanya perlindungan hukum terhadap pihak yang ditunjuk.

Jaminan HAM mengandung arti keharusan memberikan perlindungan kepada pihak yang diperintah. Dalam tataran negara hukum, negara menjunjung tinggi hak warga negara Dinyatakan bahwa perlindungan serta penegakan HAM akan mampu terwujud secara efektif pada suatu negara hukum.

3. METODE PELAKSANAAN

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, hukum tidak saja diteliti dari aspek normatifnya tetapi hukum juga

dikaji tentang bagaimana implementasinya di masyarakat.

i. Data primer, yaitu diperoleh melalui wawancara, obervasi dan doumentasi. Adapun data yang yaitu data yang didapatkan langsung dari narasumber dalam hal ini petugas Lembaga Pemasyarakantan Perempuan Kelas IIA Pondok Bambu, Jakarta Timur, DKI Jakarta, Kepala Sub Seksi Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan, Narapidana Lapas Perempuan Kelas IIA Pondok Bambu, Jakarta Timur, DKI Jakarta dan Anggota Komnas Perempuan bagian Paripurna ibu Siti Aminah Tardi di Jakarta melalui penelitian lapangan, yang dilakukan melalui metode wawancara.

ii. Data sekunder, yaitu data-data berupa bahan hukum yang terdiri dari :

1. Bahan Hukum Primer

Merupakan bahan hukum yang terdiri dari perundang-undangan yang berlaku, yaitu :

a) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

b) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab

(5)

668 PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEREMPUAN DALAM MASALAH PENEGAKAN HAK ASASI MANUSIA PADA KASUS PIDANA

Undang-Undang Hukum Acara Pidana.

c) Undang-Undang Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.

d) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan (CEDAW).

e) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1998 tentang Pengesahan Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam atau Tidak Manusiawi (CAT).

f) Undang-Undang Nomor 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.

g) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perlindungan Saksi dan Korban.

h) Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 3 tahun 2017 tentang Pedoman Mengadili Perkara Perempuan Berhadapan Dengan Hukum.

i) Peraturan Menteri Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan

Anak Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2020 tentang Perlindungan Perempuan dan Perlindungan Anak Dari Kekerasan Berbasis Gender Dalam Bencana.

2. Bahan Hukum Sekunder

Bahan-bahan hukum sekunder dapat berupa :

a) Hasil penelitian yang pernah ada sebelumnya.

b) Buku-buku yang berkaitan langsung maupun tidak langsung terhadap topik penelitian.

c) Jurnal yang diperoleh dari media masa dan internet.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Untuk mengefektifkan proses penegakan hukum yang berkeadilan, Lawrence W. Friedman menawarkan tiga elemen penting dalam sistem hukum, yaitu structure, substance dan legal culture.

Menurutnya, struktur merupakan kerangka dari sistem hukum yang terwujud dalam lembaga-lembaga dan para penegak hukum di dalam lembaga tersebut.

Subtansi merupakan peraturan-peraturan hukum serta norma dan perilaku dari aparat penegak hukum di dalam sistem.

Sedangkan budaya hukum merupakan tingkat kualitas penataan terhadap sistem.

(6)

Fungsi-fungsi yang berkenan dilaksanakan, yang didukung untuk dikerjakan dan yang dilarang untuk dikerjakan.

Dengan melaksanakan nilai-nilai etik dan moral atau nilai-nilai yang mengandung prinsip-prinsip keadilan, kebenaran, kebebasan, dan kemanusiaan di dalam kehidupan berpolitik, berpemerintahan, berbangsa dan bernegara, maka akan terlihat kualitas budaya hukum masyarakat. Dalam kaitan itu apa yang dijelaskan oleh Franz Magnis- Suseno, adalah benar suatu negara baru bisa dikatakan negara hukum, jika hukum yang dibuat adil juga benar. Hukum yang adil dan benar, adalah hukum yang tidak memihak pada siapapun dan golongan manapun. Hukum yang demokratis serta hukum yang responsif kepada perkembangan kehidupan masyarakat, bangsa dan negara.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Komnas Perempuan melalui CATAHU 2022 Komnas Perempuan memfokuskan perhatian terhadap perempuan berperkara dengan hukum pada kasus pidana.

Sepanjang tahun 2021, Komnas Perempuan menerima 18 kasus Perempuan Berhadapan dengan Hukum (PBH) yang menunjukkan beragamnya pola kekerasan terhadap perempuan yang berkonflik dengan hukum. Konflik dapat terjadi di bagian individu, kelompok dan negara.

Perempuan bEthadapan dengan Hukum (PHB) biasanya merupakan perempuan korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang dikriminalisasi oleh suami/mantan suami berperan menjadi pelaku KDRT baik sebagai balas dendam maupun penolakan pelaku untuk memberikan hak-hak istri dan anaknya sebagaimana kriminalisasi dalam kasus inisial LLD di Surabaya sebagai upaya pelaku dalam menolak adanya pembagian harta bersama selama masa perkawinan.

Dalam kasus tersebut LLD dilaporkan karena melakukan pemalsuan status

“belum kawin” pada pencatatan dokumen perkawinan mereka ketika keduanya telah bercerai. Adapun vonis yang diterima oleh LLD dipidana 2 tahun penjara. Kasus yang sama terjadi juga di PN Karawang dalam kasus korban KDRT. inisial VA yang dilaporkan oleh mantan suaminya dengan KDRT psikis yang dilatarbelakangi mantan suami untuk mendapatkan harta korban. Namun, dalam 2 (dua) kasus tersebut terdapat perbedaan dalam kasus tersebut. Kejaksaan Agung menarik tuntutanya sehingga VA dinyatakan tidak terbukti melakukan KDRT psikis dan dibebaskan.

Dalam ranah publik, kriminalisasi terhadap PBH terjadi sebagai upaya pelaku untuk menunjukkan ancaman dan kuasanya yang awalnya adalah perempuan korban baik karena konflik personal

(7)

670 PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEREMPUAN DALAM MASALAH PENEGAKAN HAK ASASI MANUSIA PADA KASUS PIDANA

dengan pelaku maupun saat perempuan menggunakan haknya untuk mengungkapkan pendapat di ruang personal dan ruang publik ini kemudian dikriminalisasi dengan ancaman pasal pencemaran nama baik. Pada ranah negara, pelaku yang melakukan kriminalisasi adalah APH (Aparat Penegak Hukum) atau lembaga penegakan hukum baik karena status perempuan sebagai PBH (Perempuan Berhadapan dengan Hukum) maupun karena APH (Aparat Penegak Hukum) tersebut berada di pihak berlawanan/bersengketa dengan perempuan yang menjadi PBH.

Hal ini dialami oleh SMO di Bitung, Sulawesi Utara, yang berkonflik perdata dalam sengketa tanah dengan sebuah perusahaan. Penolakan insial SMO untuk meninggalkan tanah miliknya yang dalam proses sengketa berakibat pelecehan seksual terhadap SMO oleh polisi yang berinisial E yang melakukan pengusiran paksa terhadap SMO dan keluarganya.

Namun justru SMO menjadi tersangka tindak pidana penganiayaan atas laporan polisi E.

Dalam kasus-kasus tersebut terdapat bentuk kekerasan yang menunjukkan kerentanan perempuan korban mengalami kriminalisasi yang diakibatkan ketersinggungan maskulinitas pelaku, dimana terdapat dukungan ketidakberpihakan APH (Aparat Penegak

Hukum) terhadap PBH (Perempuan Berhadapan dengan Hukum). Pada beberapa kasus ditemukan bahwa penyidik kepolisian dan jaksa penuntut umum cenderung hanya melihat peristiwa hukum yang dilaporkan pelaku tanpa menyelidiki latar belakang terjadinya peristiwa hukum dalam laporan tersebut.

APH (Aparat Penegak Hukum) yang menangani kasusnya belum berperspektif gender, baik karena ketiadaan pedoman internal dalam menangani PBH seperti lembaga kepolisian juga belum tersosialisasinya pedoman internal terkait PBH yang telah ada ke setiap APH maupun kekakuan para APH dalam melihat suatu kasus yang melulu dari aspek kepastian hukum dalam menangani laporan kriminalisasi yang masuk. Selain itu, kriminalisasi PBH (Perempuan Berhadapan dengan Hukum) yang dilakukan oleh APH menunjukkan adanya konflik kepentingan APH pelapor dalam menyalahgunakan profesi dan jabatan yang dimilikinya di lembaga penegakan hukum.

Sikap ketidakberpihakan tersebut merugikan PBH (Perempuan Berhadapan dengan Hukum) berupa pengabaian hak- hak mereka sebagai terlapor, tersangka, terdakwa atau terpidana. Pengabaian hak ini di antaranya keterbatasan akses PBH ke pendamping/kuasa hukumnya, ancaman dan tekanan terhadap PBH terutama jika

(8)

pelapornya adalah APH, terhalangnya PBH dalam mengakses hak-hak dasar selama berada di tahanan seperti hak pemulihan kesehatan. Dalam permasalahan tersebut diperburuk dengan ketimpangan relasi kuasa antara PBH dan pihak pelapor/pelaku disertai tekanan pelaku ke APH untuk mengkriminalisasi PBH. Oleh karena itu PBH sulit dalam mengakses transparansi proses hukum yang jalaninya, dimana berdampak harus menghadapi proses hukum berlarut-larut.

Dampak dari perlakuan buruk terhadap para PBH, seperti kesehatan fisik yang menurun selama berada dalam tahanan.

Sekalipun secara tegas telah diatur bahwa setiap manusia tanpa terkecuali memiliki hak yang sama dan dilindungi oleh hukum, nyatakan tidaklah demikian.

Data yang diperoleh dari Komnas Perempuan sepanjang tahun 2021 telah menerima pengaduan kasus PBH sebanyak 18 kasus dan 4 diantaranya diindentifikasi telah mengalami perlakuan-perlakuan yang tidak layak seperti disiksa, merasakan kekejaman, tidak manusiawi, dan membuat martabat manusia menjadi direndahkan khususnya pada proses penyidikan.

5. SIMPULAN

1. Bahwa pelaksanaan perlindungan hukum terhadap perempuan belum sepenuhnya tercapai seperti

harapan. Perempuan yang berhadapan dengan kasus pidana masih mengalami kekerasan serta direnggut harkat dan martabatnya sebagai manusia yang dilakukan justru oleh Aparat Penegak Hukum (APH). Tubuh manusia, terutama organ-organ vital adalah ciptaan yang Maha Kuasa untuk dijaga dan dirawat oleh pemiliknya dan tidak boleh dirusak atau diselewengkan oleh mereka-mereka yang tidak bermoral. Negara harus melindunginya melalui kebijakan hukum yang ketat untuk melindungi hak-hak perempuan dalam perspektif hukum emansipatif.

2. Kasus-kasus yang terjadi kepada narapidana di Lapas Perempuan kelas IIA, Jakarta Timur, DKI Jakarta, bahwa memang mereka telah melanggar hukum dan wajib diberikan hukum atas perbuatannya. Namun dalam hal ini perempuan sering kali kalah dengan perasaan mereka sendiri, ketika mereka terbawa perasaan, logika mereka tidak mereka hiraukan. Faktor ini menjadi salah satu sebab perempuan sering kali dijadikan objek kaum laki-laki untuk kepentingan mereka sendiri.

(9)

672 PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEREMPUAN DALAM MASALAH PENEGAKAN HAK ASASI MANUSIA PADA KASUS PIDANA

6. DAFTAR PUSTAKA

Catatan Tahunan (CATAHU) tentang kekerasan terhadap Perempuan Tahun 2022

Data umum yang terkumpul sejumlah 459.094 kasus, terdiri dari data Pengaduan Komnas Permpuan sejumlah 4322 kasus, lembaga layanan 7029 kasus, dan BADILAG 447743 kasus. Namun setelah dilakukan verifikasi, data berbasis gender terkumpul 338.496 kasus bersumber dari laporan Komnas Perempuan 3.838 kasus, laporan lembaga layanan 7.029 kasus, dan BADILAG 327.629 kasus. hanya data berbasis gender yang dianalisis di CATAHU 2022 ini.

Emil El Faisal dan Mariyani, Buku Ajar Filsafat Hukum, Palembang, Bening Media Publishing, 2020

Lihat Didalam Buku John Pieris, Pembatasan Konstitusionaal Kekuasaan Presiden RI, Jakarta, Pelangi Cendikia, 2007.

Pasal 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia.

Saptosih Ismiati, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) & Hak Asasi Manusia (HAM) (Sebuah Kajian Yuridis), Yogyakarta, Deepublish, 2020.

Undang-Undang Dasar Negara Republik

Indonesia Tahun 1945, Pasal 27 ayat (1), Pasal 28B ayat (1), Pasal 28C ayat (1), Pasal 28D ayat (1), Pasal 28G ayat (1), Pasal 28H ayat (3), Pasal 28I ayat (1), Pasal 28I ayat (5)

Referensi

Dokumen terkait

"Quo Vadis Perlindungan Hak Asasi Manusia Dalam Penyelesaian Pelanggaran HAM Berat Masa Lalu Melalui Jalur Non Yudisial", Jurnal Jurisprudence,

Ruang lingkup artikel yang dimuat dalam jurnal ini membahas berbagai topik di bidang Hukum Pidana, Hukum Perdata, Hukum Hak Asasi Manusia, Hukum Ekonomi, Hukum Islam, Hukum