Nama kampung sekaligus nama pesantren yang didirikan oleh seorang kyai bernama "Mbah Ngalim" pada masa perang di tanah Jawa. Di antara kisah kampung tersebut adalah Kampung Pesantren Bulus yang diawali dengan peran tokoh legendaris bernama Kyai Ahmad Alim (beberapa di antaranya menulis Muhammad Alim), namun lebih populer disebut Mbah Ngalim. Kajian ini menarik bukan karena kisah mistis dan mitologinya, melainkan karena kelanjutan kisah atau keturunan pimpinan pesantren yang diperankan oleh keluarga “Sayyid-Priayi” dari Al-Ba’bud. Keluarga Al-Kharbasyani, menggantikan kepemimpinan Mbah Ngalim di Pesantren Bulus.
Mereka melanjutkan kepemimpinan pesantren yang didirikan oleh seorang Kyai Jawa bernama Ahmad Alim, atau populer dengan panggilan Mbah Ngalim. Salah satu ceritanya tentang babad alas atau pembukaan lahan baru di suatu daerah yang dulunya dianggap "angker" namun kemudian diubah menjadi kampung pesantren oleh Mbah Ngalim. Kisah tokoh Mbah Ngalim sendiri dalam kitab Pustoko Bangun nampaknya dibubuhi unsur mitos, beberapa di antaranya berkaitan dengan keterlibatannya dalam berbagai peristiwa sejarah yang berlangsung selama tiga abad, yakni sejak zaman Sultan Agung saat perang melawan VOC. di Batavia sampai saat perang Diponegoro, ketika dia disana dia juga akan hidup sampai 280 tahun, sesuatu yang tentu saja tidak masuk akal.
Kisah Mbah Ngalim hampir seperti legenda di kalangan masyarakat, dan mungkin ini juga yang menyebabkan namanya jarang disebut dalam historiografi modern, kecuali sangat sedikit. Dalam kitab Pustoko Bangun, nama-nama Kyai desa Pakauman (tengah) masing-masing memiliki keterkaitan erat dengan sosok Kyai Ahmad Alim atau Mbah Ngalim, yang ditulis oleh sejarawan Peter Carey. Berkaitan dengan fakta tersebut, muncul beberapa spekulasi, pertama Mbah Ngalim adalah nama fiktif atau mitos yang diciptakan masyarakat.
Kisah Kyai Muhammad Alim atau Mbah Ngalim masih bertahan sebagai cerita semi legenda yang cenderung mistis-metaforis dan sedikit berbicara tentang fakta sejarah.
Hasil Penelitian
Mbah Ngalim; Pendiri Pesantren Bulus, Antara Mitos dan Fakta Sejarah Sebagaimana sudah disinggung sebelumnya bahwa penggambaran sosok
Dalam hal ini, Mbah Ngalim tidak pernah bisa ditangkap oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, meskipun ia juga mengajarkan tarekat Sattariyah kepada santrinya di Pesantren Bulus, bahkan beberapa santrinya menjadi guru atau Mursyid tarekat Sattriyah di pesantren yang mereka dirikan. Kisah sulitnya Mbah Ngalim ditangkap oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda sebenarnya tidak selalu harus dikaitkan dengan kehebatan fisik ilmu kanuragan, bahkan kemampuan tersebut bukan tidak mungkin, ada kemampuan lain yang sebenarnya bisa. dijelaskan dengan cara lain, bahwa dalam hal ini. Mbah Ngalim adalah sosok yang selalu berhati-hati dalam perilaku dan tindakannya, bahkan jika beberapa muridnya diizinkan menjadi pendukung pasukan Pangeran Diponegoro, Mbah Ngalim tidak mengambil sikap menentang pemerintah secara diametris.
Kemampuan Mbah Ngalim dapat disimpulkan sebagai upaya untuk melakukan taktik diplomasi politik, bukan berperang atau kekerasan. Kira-kira begitulah fakta di balik mitos kesaktian Mbah Ngalim yang konon tidak mudah ditangkap atau dirobohkan oleh pemerintah. Upaya memmitologi diri juga terkadang dilakukan oleh Mbah Ngalim sendiri, contohnya terkait dengan tindakan tirakat "ngluwat".
Dalam melakukan ngluwat tirakat, Mbah Ngalim sebenarnya tidak bermaksud untuk mengajarkannya, melainkan menghapusnya, namun tidak secara radikal. Ia mencoba menunjukkan kepada murid-muridnya bahwa meskipun Mbah Ngalim adalah sosok 'alim (ilmu tinggi) dalam menguasai ilmu agama, namun ia adalah seorang Kyai Jawa yang sangat dekat dengan tradisi. Dalam kajian antropologi Jawa, tokoh Mbah Ngalim dapat dikategorikan sebagai sosok yang merepresentasikan Islam pedesaan yang “sinkretis”.
Penuturan atau pengisahan isi cerita di atas tidak menunjukkan bahwa Mbah Ngalim ingin tradisi itu dipertahankan, tetapi sebaliknya ditinggalkan, dan itu cukup baginya untuk dilakukan. Hasil dari cerita ini justru menunjukkan bahwa mbah Ngalim adalah seorang ulama yang berpikiran progresif, yang tidak menganjurkan tradisi lama yang cukup merugikan umat manusia secara umum dan juga karena bertentangan dengan syariat Islam. Namun Mbah Ngalim tidak radikal, tidak menolaknya secara langsung, tetapi menyikapinya secara halus.
Kisah ini sebenarnya menunjukkan bahwa Mbah Ngalim telah mengubah tradisi pengasuhan orang Jawa dari cara lama ke cara baru yaitu “menghafal Al-Qur’an” yang artinya mencari ilmu dengan cara yang benar. Tentu tidak semua cerita tentang Mbah Ngalim yang dituturkan secara lisan merupakan fakta, oleh karena itu masih diperlukan kritik sumber, baik internal maupun eksternal. Sedikitnya ada tiga kelompok yang menjadi sumber cerita tentang Mbah Ngalim, yaitu keluarga keturunan Mbah Ngalim, keluarga keturunan murid Mbah Ngalim, dan keluarga penerus pengelolaan pondok yang didirikan oleh Mbah Ngalim.
Tiga Sumber Historiografi Pondok Pesantren Bulus 1. Keluarga Mbah Ngalim
Untuk itu dicantumkan nama kontak dan alamat, diharapkan buku ini dapat bermanfaat bagi keluarga besar keturunan Mbah Ngalim maupun keturunan murid Mbah Ngalim. Selanjutnya kitab Pustoko Bangun bagian ketiga ini berlanjut setelah silsilah dengan cerita perjalanan Mbah Ngalim sebagai ghuroba; Informasi waktu kedatangan Mbah Ngalim di Bulus juga kurang jelas antara sebelum dan sesudah Perang Jawa.
Tertulis pula tentang para santri dan badal serta keluarga sayyid yang kelak menjadi penerus kepemimpinan Mbah Ngalim di Pesantren Bulus. Selain keluarga keturunan Mbah Ngalim, keluarga santri keturunan Mbah Ngalim merupakan sumber historiografi lain yang juga memiliki perspektif sejarah tentang Mbah Ngalim dan Pesantren Bulus. Beberapa nama santri Mbah Ngalim atau santri sendiri juga disebut dalam kitab Pustoko Bangun, yaitu Kyai Luning, Kyai Maron.
Meskipun demikian, keduanya tetap dapat dibedakan bahwa yang dimaksud dengan keturunan Mbah Ngalima adalah hubungan darah langsung, yaitu mereka yang berasal. Salah satu keturunan santri Mbah Ngalima bernama Kyai Khudhori (68 tahun), tinggal di Desa Bulus, sebenarnya memiliki ilmu yang cukup baik dan mewarisi ingatan kolektif Mbah Ngalima dan murid-muridnya. Selain penyebutan nama Kyai Luning, nama lain murid Mbah Ngalima yang disebutnya adalah Kyai Khudhori, Kyai Imam Puro, Kyai Minmojoyo, Kyai Jitus dan beberapa nama lainnya termasuk Sayyid Ali.
Historiografi santri Mbah Ngalim juga diambil dari sumber lain yang berasal dari latar belakang Mbah Ngalim. Ada fakta menarik yang disampaikan Kyai Khafidz, terkait salah satu santri yang kerap disebut murid Mbah Ngalim, bernama Sayyid Ali. Kedua sumber tersebut diturunkan dari sumber keluarga Mbah Ngalim sendiri atau sumber dari keluarga Sayyid Ba'abud;
Fakta yang dipersoalkan adalah fakta tentang status Sayyid Ali Ba'abud yang menggantikan Mbah Ngalim menjadi pimpinan dan pengurus Pondok Pesantren Bulus, khususnya mengenai hubungan Sayyid Ali dengan keluarga Mbah Ngalim. Dalam dua historiografi versi sebelumnya, dijelaskan status hubungan Sayyid Ali dengan Mbah Ngalim yang versi-versinya berbeda satu sama lain. Dengan demikian status menantu Mbah Ngalim adalah ibunda Sayyid Ali, sedangkan Sayyid Ali adalah anak dari suami sebelumnya yaitu Raden Tumenggung Kasan Munadi alias Sayyid Husain Ba'abud.
Putra Sayyid Husain yang bernama Kyai Kasan Munadi yaitu Sayyid Ali menggantikan Mbah Ngalim sebagai pimpinan pondok pesantren Bulus. Sebutan pertama keluarga sayyid Ba'abud ada pada bagian penjelasan mengenai masa fatra atau kekosongan kepemimpinan Pondok setelah wafatnya Mbah Ngalim.
Kesimpulan
Abushouk, Ahmad Ibrahim, “Al-Manar and the Hadrami Elite in the Malay-Indonesian World: Challenge and Response” Jurnal of The Royal Asiatic Society, Thirth Series Vol. Becoming Indonesian: The Ba'Alawi in the Interspaces of the Nation", Die Welts des Islam, Vol. The Social Construction of Reality: A Treatise in the Sociology of Knowledge, Penguin Books (NZ) Ltd, Registered Office: Harmondsworth, Middlelleses , England.
1981, “Babad Dipanegara; An Account of the Outbreak of the Java War The Surakarta Version of The Babad Dipanegara" with Translation in English and Indonesian Malay. Waiting for the Just King" The Agricultural World of South Central Java from Giyanti to the Java War (1825-30)". Dhofier, Zamakhsyari, 1999. The Pesantren Tradition; The Role of the Kyai in Preserving Traditional Islam in Java, Tempe.
Clarence Smith, 1997, Hadrami Trader, Scholar, and Statesman in The Indian Ocean Leiden: Brill, (Social, Economic and Political Studies on The Middle East and Asia Indian Ocean Migrant and State Formation in Hadramawt. Religiou Diffusion and Modernization: A Preliminary Reflection om spredningen af islam i Indonesien og dens indvirkning på sociale forandringer. European Journal of Sociology / Archieves Europeennes de Sociologie/. Kesheh, Natali Mobini, "The Hadrami Awakening Community and Identity in the Netherlands Indiee Southeast Asia Publication 1999 .., Islamic Modernism i Colonial Java, s. 321-248.
Knyish, Alexander, Sada in History, A Critical Essay on Hadrami Historiography, Journal of The Royal Asiatic Society, Third Series Vpl. Two sides of the same coin”Modernity and tradition in Islamic education in Indonesia, Anthropology &education Quarterly. Manger, Leif, "The Hadrami Diaspora, Community Building on the Indian Ocean Rim." New York: Berghahn Books.
Sumit K, The Natural Leader of the Native Muslims, Arab Nationality and Politics in Java under Dutch Rule, p. 185-198. Othman, Muhammed Reduzan, “Hadramis and Malay State Politics and Administration in the Late 18th and 19th Centuries”, p. 1930", p. 3-20, chapter in the book Islamization and its Opponent in Java: A Political, Social, Cultural and Religious History c.
Chapter of the book Islamization and its Opponent in Java: A Political, Social, Cultural and Religious History c. Mysticism and Synthesis in Java: A History of Islamization from the Fourteenth to the Early Nineteenth Century.