• Tidak ada hasil yang ditemukan

konflik kelompok sosial mengenai

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "konflik kelompok sosial mengenai"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

KONFLIK KELOMPOK SOSIAL MENGENAI PENGUNJUNG PULAU

(Studi: Masyarakat Nagari Sungai Pinang Dengan Masyarakat Kelurahan Sungai Pisang)

ARTIKEL

OVY FIRMASARI NPM: 12070183

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN STKIP PGRI SUMATERA BARAT

PADANG

2016

(2)
(3)

CONFLICT OF SOCIAL GROUPS ISLAND VISITOR (STUDY: Community Nagari Sungai Pinang With the Community

Sungai Pisang)

Ovy Firmasari1 Dian Kurnia Anggreta, M.Si2 Rio Tutri, M.Si 3 Sociology of education courses

STKIP PGRI West Sumatra

ABSTRACT

From the background we can see that the conflicts of social groups regarding visitors to the island can not be separated from the struggle for visitors of the tourist who want to go on vacation kepulau-island by guides Sungai Pinang travel with tour guides UNGAI Pisang, which was originally one of the tourist attractions which is managed by the guides was the beginning where people crowded visit, but it occurred seizure of visitors by one of the tour guides opposite, causing a conflict. The analysis in this study uses the theory of conflict Lewis A. Coser. The approach used is qualitative and descriptive. Informants in this study are a group of islands guide by using group analysis unit. Data collection techniques are in-depth interviews, non-participant observation and document research. Analysis of the data used in this study is an analysis of the data by Miles and Huberman ie with data collection, data reduction, data presentation and verification (draw conclusions). From the results of this study concluded, conflict actors in question are the tour guides whose task was to deliver, pick up, visitors-visitors traveling to the islands. While the form of the conflicts in this research that the roadblocks or road closures, by tour guides Banana River to guide Sungai Pinang, in case of road closures by guides Banana River will have an impact both on the guides Banana River, because then the visitor will not know after Banana river, there are other tourist areas after the area, the aim of this seizure is money. Because visitors that they are sources of income such as money. This is what causes the occurrence of resistance by the tour guide Sungai Pinang they do not receive treatment from a tour guide Banana River, it came to pass at that time ± 1 year ago of resistance as violent, acts of violence occurred as a result of the road blockade and seizure of visitors to the island, and cause injury ,

.

Key word: Conflict, community groups, visitors, guides

1 Student Sociological Studies Program STKIP PGRI Force West Sumatera 2012 2 Supervisor I and Lecturer STKIP PGRI West Sumatra

3 Supervisor II And Lecturer STKIP PGRI West Sumatra

(4)

Konflik Kelompok Sosial Mengenai Pengunjung Pulau (Studi : Masyarakat Nagari Sungai Pinang Dengan Masyarakat

Kelurahan Sungai Pisang)

Ovy Firmasari1 Dian Kurnia Anggreta, M.Si2 Rio Tutri, M.Si 3 Program Studi Pendidikan Sosiologi

STKIP PGRI Sumatera Barat

ABSTRAK

Dari latar belakang dapat kita lihat bahwa terjadinya konflik kelompok sosial mengenai pengunjung pulau ini tidak terlepas dari adanya perebutan pengunjung-pengunjung wisata yang hendak pergi berlibur kepulau-pulau oleh para pemandu-pemandu wisata Sungai Pinang dengan pemandu-pemandu wisata Sungai Pisang, yang mana pada awalnya salah satu dari tempat wisata yang di kelola oleh pemandu-pemandu tersebut merupakan awal tempat orang-orang ramai berkunjung, tetapi terjadi perebutan pengunjung oleh salah satu dari pemandu wisata yang berlawanan sehingga menimbulkan konflik. Analisis pada penelitian ini menggunakan teori konflik Lewis A. Coser. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan tipe deskriptif. Informan pada penelitian ini adalah kelompok pemandu pulau dengan menggunakan unit analisis kelompok. Teknik pengumpulan data adalah wawancara mendalam, observasi non partisipan dan studi dokumen. Analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis data menurut Miles dan Huberman yaitu dengan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan verifikasi (mengambil kesimpulan). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan, aktor konflik yang dimaksud adalah para pemandu-pemandu wisata yang bertugas untuk mengantar, menjemput, pengunjung-pengunjung yang bepergian ke pulau-pulau. Sedangkan bentuk konflik yang terjadi dalam penelitian ini yaitu terjadinya blokade jalan atau penutupan jalan, oleh pemandu wisata Sungai Pisang terhadap pemandu Sungai Pinang, apabila terjadi penutupan jalan oleh pemandu Sungai Pisang akan berdampak baik pada pemandu Sungai Pisang, karena dengan begitu pengunjung tidak akan mengetahui setelah Sungai Pisang, ada daerah wisata lain setelah daerah tersebut, tujuan dari perebutan ini adalah uang. Karena pengunjung itulah yang mereka sumber pendapatan seperti uang. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya terjadinya perlawanan oleh pemandu wisata Sungai Pinang mereka tidak menerima perlakuan dari pemandu wisata Sungai Pisang, terjadilah pada waktu itu ± 1 tahun yang lalu perlawanan yang menimbulkan kekerasan, tindakan kekerasan terjadi akibat blokade jalan dan perebutan pengunjung pulau, dan menimbulkan luka-luka. 1

Kata kunci: Konflik, kelompok masyarakat, pengunjung, pemandu.

1 Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat Angkatan 2012 2 Pembimbing I Dan Dosen STKIP PGRI Sumatera Barat

3 Pembimbing II Dan Dosen STKIP PGRI Sumatera Barat

(5)

PENDAHULUAN

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara kepulauan dengan kekayaan sumber daya alam yang sangat melimpah.

Kekayaan sumber daya alam tersebut seharusnya bisa dioptimalkan sebagai potensi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan perekonomian negara secara merata dan menyeluruh. Sebagai negara agraris dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, pengembangan wisata di Indonesia seharusnya memegang peranan penting dalam pembangunan.

Pengembangan industri pariwisata akan berdampak luas dan signifikan dalam pengembangan ekonomi dan melestarikan sumberdaya alam dan lingkungan. Melalui perencanaan dan pengembangan yang tepat, pariwisata dapat menjadi salah satu faktor penting dalam ekonomi nasional (Ramly,2007:20).

Salah satunya Sumatera Barat terkenal dengan kawasan yang dikelilingi ratusan pulau kecil yang dihiasi tekstur perbukitan dan biota laut yang mengagumkan. Keindahan alam Sumatera Barat tersebut berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai area wisata yang berkelanjutan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Terciptanya iklim usaha yang kondusif bagi pengembangan atau usaha kepariwisataan yang memungkinkan terbukanya lapangan usaha dan lapangan kerja, serta pemerataan kesempatan ( Bakaruddin, 2009:99).

Pertama, Pulau Pasumpahan adalah sebuah pulau yang berada di perairan Kecamatan Bungus Teluk Kabung Kota Padang Provinsi Sumatera Barat. Indonesia identik akan keindahan lautnya membuat pulau ini mulai dikenal oleh wisatawan lokal dan internasional. Pulau Pasumpahan berada sekitar 200 meter dari pulau Sikuai. Pulau ini memiliki obyek wisata pantai pasir putih dengan terumbu karang yang masih terjaga ( Kompas.Com Sabtu 17 Oktober 2015).

Tabel. 1.

Data Jumlah Wisata Pulau Pasumpahan

No Tahun Pengunjung

1. 2014 ± 100 Orang

2. 2015 ± 8000 Orang

3. 2016 ± 6200 Orang

Jumlah Total ± 14.300 Orang Sumber : Hasil Wawancara Dengan Pengelola Pulau (17 Mei 2016)

Kedua, Pulau Pamutusan, Pulau yang tersembunyi di tengah Samudera Hindia, biota ikan hias dan terumbu karang yang terdapat di dalam laut di sekitar pulau ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pulau pamutusan, dan banyaknya pohon- pohon kelapa di sekitar pulau pamutusan (Kompas.Com Jumat 15 Agustus 2014).

Tabel. 2.

Data Jumlah Wisata Pulau Pamutusan

No Tahun Pengunjung

1. 2014 ± 3500 Orang 2. 2015 ± 4300 Orang 3. 2016 ± 4600 Orang Jumlah Total ± 12.400 Orang Sumber : Hasil Wawancara Dengan Pengelola Pulau (10 Mei 2016)

Setiap pengelola tempat wisata tentu ingin tempat wisatanya terus dikunjungi oleh wisatawan, dengan terus datangnya orang-orang, akan berdampak terhadap peningkatan perekonomian si pengelola dan pemandu pulau, akibat terus mengalirnya uang wisatawan yang berkunjung untuk menjaga arus kunjungan ini, sudah pasti berbagai cara dilakukan oleh pengelola tempat wisata. Itu pulalah yang menjadi dasar keinginan pemandu pulau Pasumpahan yaitu sekumpulan atau sekelompok pemandu pulau masyarakat Sungai Pisang membuat setiap pengunjung pulau yang sebenarnya ingin melihat pulau- pulau lain seperti Pulau Pamutusan yang bertepatan di dekat Nagari Sungai Pinang, mereka mengatakan kepada para pengunjung bahwasanya pulau pasumpahan sangat menarik dan biayanya tidaklah mahal dengan kata lain para pemandu pulau pasumpahan menarik para pengunjung dengan biaya yang lumayan murah sehingga para pengunjung tertarik pergi kepulau tersebut, biasanya yang menjadi target pemandu pulau pasumpahan adalah pengunjung-pengunjung yang belum pernah pergi ke pulau tersebut atau dengan kata lain pengunjung yang tidak tau lokasi tempat pulau yang mereka kunjungi.

Coser menggambarkan konflik sebagai perselisihan mengenai nilai-nilai

(6)

atau tuntutan-tuntutan berkenaan dengan status, kekuasaan, dan sumber-sumber kekayaan yang persediaannya tidak mencukupi. Pihak-pihak yang sedang berselisih tidak hanya bermaksud untuk memperoleh barang yang diinginkan, tetapi juga memojokkan, merugikan, atau menghancurkan lawan mereka. Lebih lanjut Coser menyatakan, perselisihan atau konflik dapat berlangsung antara individu, kumpulan (collectivities), atau antara individu dan kumpulan. Coser juga menyatakan, konflik itu merupakan unsur interaksi yang penting, dan sama sekali tidak boleh dikatakan bahwa konflik selalu tidak baik atau memecah belah ataupun merusak.

Konflik bisa saja menyumbangkan banyak kepada kelestarian kelompok dan juga mempererat hubungan antara anggotanya.

Seperti menghadapi musuh bersama dapat mengintegrasikan orang, menghasilkan solidaritas dan keterlibatan, dan membuat orang lupa akan perselisihan intern mereka sendiri (Wirawan, 2010:83).

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang peneliti lakukan, terjadinya konflik kelompok sosial mengenai pengunjung pulau, antara para pemandu yaitu pemandu pulau Pamutusan masyarakat Nagari Sungai Pinang dengan pemandu pulau Pasumpahan masyarakat Kelurahan Sungai Pisang, tentang perebutan pengunjung pulau atau wisatawan- wisatawan yang hendak pergi liburan ke pulau-pulau. Awal terjadinya perebutan pengunjung pulau ini, yaitu pada awalnya Nagari Sungai Pinang merupakan kawasan yang sering di datangi oleh orang-orang berwisata yang hendak pergi berliburan kepulau-pulau, dimana Nagari Sungai Pinang apabila pengunjung melewati daratan kawasan Nagari tersebut terletak ± 3 Kilo Meter melewati daerah Kelurahan Sungai Pisang, dengan banyaknya orang-orang yang berdatangan ke daerah Sungai Pinang, tidak ke daerah Sungai Pisang padahal Sungai Pisang juga memiliki potensi wisata pulau yang bagus, memiliki pemandu, transportasi pergi ke pulau, lebih dekat, dan biayanyapun terjangkau, maka timbullah kecemburuan oleh pemandu wisata pulau Pasumpahan.

Karena apabila banyak berdatangan pengunjung-pengunjung tersebut di Nagari Sungai Pinang, akan berdampak baik pada kemajuan daerah dan juga perekonomian

pemandu-pemandu wisata yang mengantar pengunjung pergi kepulau, hal tersebut yang memotivasi pemandu pulau pasumpahan untuk mengambil atau merebut pengunjung pulau yang sebenarnya pergi ke Pulau-pulau yang melewati Sungai Pinang.

Hal inilah yang mendorong awal terjadinya konflik perebutan pengunjung oleh pemandu pulau pasumpahan, terhadap pemandu pulau pamutusan, dimana pemandu masyarakat kelurahan Sungai Pisang menghalangi pemasukan untuk masyarakat Sungai Pinang, karena lewat daratan pengunjung harus melewati kelurahan Sungai Pisang, kemudian dari sini masyarakat Sungai Pisang mengambil alih pengunjung-pengunjung yang sebenarnya ingin pergi ke kawasan pulau-pulau milik Nagari Sungai Pinang, dengan mengatakan jalan menuju Pulau di Sungai Pinang sangat buruk, transportasi pergi ke pulau atau di sebut boatnya tidak ada, kalaupun ada boatnya kecil-kecil, disinilah timbul kemarahan, kekecewaan, perselisihan, pertentangan oleh masyarakat Nagari Sungai Pinang mereka tidak menerima atas perlakuan yang dilakukan oleh masyarakat Kelurahan Sungai Pisang, mereka tidak saja menghambat pemasukan tetapi juga menjelekkan Nagari tersebut, maka terjadilah pada tahun 2015 perkelahian antara pemandu pulau pamutusan masyarakat Nagari Sungai Pinang dengan pemandu pulau pasumpahan masyarakat Sungai Pisang. Sampai saat sekarang ini para pemadu Masyarakat Sungai Pinang dengan pemandu Pulau Masyarakat Sungai Pisang bersaing untuk mendapatkan pengunjung. Jadi konflik yang terjadi dalam penelitian ini adalah konflik antara pemandu pulau pasumpahan yang terletak di kawasan Kelurahan Sungai Pisang dengan pemandu pulau pamutusan yang terletak di kawasan Nagari Sungai Pinang.

BAHAN DAN METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan sejak bulan Mai s/d Juni 2016. Tempat di Kelurahan Sungai Pisang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe deskriptif.

Karena permasalah yang dibahas peneliti ini tidak berhubungan dengan angka-angka, akan tetapi menyangkut pendeskripsian, penguraian dan penggambaran suatu

(7)

masalah yang sedang terjadi. Jenis penelitian ini termasuk penelitian yang rinci mengenai suatu objek tertentu selama kurun waktu tertentu dan cukup waktu mendalam dan menyeluruh termasuk lingkungan dan kondisi masa lalunya (Moleong, 2007:4-6).

Yang mana penelitian ini memberikan gambaran lengkap tentang aktor konflik mengenai perebutan pengunjung pulau serta bentuk konflik yang terjadi.

Jenis data yang digunakan data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data penelitian ini adalah observasi, wawancara dan studi dokumen yang mencari data secara kompleks. Model analisis data penelitian ini adalah analisis data Miles dan Huberman.

HASIL PENELITIAN

Sejarah Pulau Pamutusan dan Pasumpahan dijadikan Tempat Wisata 1.Sejarah Pulau Pamutusan dijadikan Tempat Wisata

Menurut sejarahnya, Pulau Pamutusan merupakan pulau yang sudah ada sejak dulunya dimana pulau ini dijadikan oleh masyarakat nelayan untuk tempat istirah ketika mencari ikan, Asal muasal kenapa di beri nama pulau pamutusan karena disini terdapat semenanjung yang berubah menjadi daratan berpasir putih ketika air laut surut. Dan ketika air mulai pasang daratan yang berpasir putih tadi, akan tertutup air laut dan seolah-olah pulau ini seakan terputus karena tertutup air laut, makanya pulau ini di beri nama pulau pamutusan oleh orang- orang setempat (wawancara bersama Bapak Jas tanggal 14 Mei 2016 masyarakat Sungai Pinang).

Pulau pamutusan merupakan pulau yang secara administrasi milik Nagari Sungai Pinang, Pulau Pamutusan bisa di kategorikan pulau tersembunyi yang begitu mengagumkan, Namun karena kurangnya promosi membuat daerah wisata yang ada di pulau Pamutusan jarang dikenal oleh para wisatawan. tetapi masyarakat tidak begitu memperhatikan akan dampak baik jika pulau ini di ketahui oleh orang-orang luar, padahal pulau ini bisa dijadikan aset bagi Nagari untuk perkembangan Nagari itu sendiri.

Awal mula ada pengunjung di pulau Pamutusan yaitu sekitar ± 3 tahun yang lalu, dimana pengunjung yang datang ke pulau tersebut adalah teman-teman sekolah dari masyarakat Sungai Pinang itu sendiri. 3-10 orang teman-teman dibawa liburan ke pulau tersebut, pada awalnya

pulau ini dianggap sebagai tempat persinggahan saja, dan pergi masuk pulau tersebutpun tidak di pungut biaya. Dengan perkembangan zaman, karena masyarakat Sungai Pinang selalu membawa teman- temannya liburan ke pulau dari 3 orang menjadi 5 orang sampai puluhan orang, tiap liburan sekolah selalu ramai berliburan di pulau tersebut, inilah yang membuat pengelola pulau pamutusan berinisiatif untuk mengembangkan pulau pamutusan ini.

(wawancara bersama saudari Yelit 25 tahun masyarakat Sungai Pinang).

2.Sejarah Pulau Pasumpahan dijadikan Tempat Wisata

Berdasarkan cerita-cerita dari masyarakat sekitar, sejarah pulau pasumpahan bisa dibilang seperti cerita- cerita dongeng yang mana berbeda-beda pendapat, ada yang mengatakan kisah pulau pasumpahan ini sama dengan kisah seorang anak yang durhaka kepada orang tuanya, tetapi ada juga sebagian dari masyarakat itu mengatakan pulau pasumpahan itu merupakan tempat bersumpahnya nenek- nenek pada zaman dahulunya, jadi secara logisnya bisa dikatakan pulau ini memang sudah ada sejak dahulunya akan tetapi dengan berkembangnya zaman ternyata dengan adanya pulau pasumpahan dapat berdampak baik pada perkembangan daerah dan juga berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat yang menjadi pemandu-pemandu pulau pasumpahan, tidak itu saja dengan banyaknya pengunjung- pengunjung yang datang kedaerah Sungai Pisang memberikan manfaat yang cukup besar dalam perekonomian suatu daerah, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kegiatan di sektor-sektor lain secara tidak langsung.

Awal mula ada pengunjung di pulau pasumpahan yaitu ± 1 tahun yang lalu,

(8)

dimana ada sekelompok mahasiswa yang berkemah di lokasi pulau pasumpahan, mahasiswa-mahasiswa tersebut mengatakan kepada masyarakat setempat bahwasanya pulau ini merupakan aset yang perlu di kembangkan, karena pada saat ini orang- orang banyak lebih suka liburan ke pantai dari pada di rumah, inilah salah satu pendorong bagi masyarakat untuk mengembangkan pulau pasumpahan tersebut. Pada awalnya pengunjung- pengunjung yang datang ke pulau pasumpahan ini hanya teman-teman terdekat saja yaitu dari kota Padang sekitar pulau pengunjung tiap bulannya. Dengan perkembangan pulau pasumpahan ini tersebar luaskan ke daerah-daerah lain, lama-lama pengunjung berkembang menjadi 100 orang tiap bulan bahkan ada tiap minggunya. Pengunjung tersebut ada datang dari Padang, Bukittinggi, Riau dan daerah lainnya, dan ini tidak terlepas dari teman- temanlah yang menyebar luaskan kalau di Sumatera Barat ada pulau yang sangat indah yaitu salah satunya pulau pasumpahan.

(wawancara bersama saudara Jun 26 tahun masyarakat Sungai Pisang).

Fasilitas yang terdapat dilokasi terjadinya konflik

1.Perahu

Perahu merupakan kendaraan yang membawa penumpang dan barangnya melewati laut, dimana perahu lebih kecil dari kapal, kapal dapat membawa perahu tetapi perahu tidak bisa membawa kapal, dalam penelitian ini perahu merupakan sarana bagi pengunjung pulau untuk sampai ketempat yang mereka tuju atau inginkan.

Peneliti melihat bahwa yang menjadi kebanggan oleh pemandu wisata pulau di dalam penelitiam imi adalah banyak perahu yang mereka miliki, seperti dengan adanya perahu pengunjung dapat menuju pulau yang mereka ingin di tuju. Seperti yang telah sebelumnya peneliti bahas di atas bahwa yang menjadi bahan konflik dalam penelitian ini pemandu wisata Sungai Pisang mengatakan transportasi atau di sebut perahu milik pemandu wisata Sungai Pinang kecil- kecil atau bisa di bilang tidak ada.berikut tabel transportasi pergi ke pulau.

2.Pusat informasi

Pusat informasi adalah kumpulan informasi-informasi yang di dapatkan oleh pengunjung agar mengetahui tempat-tempat

yang dianggap penting, menantang dan menarik oleh orang-orang luar, Faktor Tourist Information Service sangat penting untuk diketahui wisatawan karena dapat menjelaskan tempat-tempat yang akan dikunjungi wisatawan, kendaraan yang akan dipakai, waktu dan apa saja yang perlu dibawa, pelayanan pemesanan tiket, perpanjangan visa, penukaran valuta asing dan sebagainya seperti pulau pasumpahan dan pulau pamutusan banyak peminat yang ingn mengunjungin kawasan wisata ini.

Gambaran Tentang Aktor Konflik Mengenai Perebutan Pengunjung Pulau

Aktor konflik yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah pemandu- pemandu wisata yang bertugas untuk mangantar, menjemput, melayani orang- orang atau pengunjung-pengunjung yang datang ke pulau-pulau yang mereka kelola.Pemandu wisata merupakan pengemudi yang sekaligus berperan sebagai Pramuwisata. Ia bertugas mengantarkan wisatawan, melayani secara baik, ke objek atau atraksi wisata yang dikehendaki oleh pengunjung sekaligus memberikan informasi yang diperlukan dalam perjalanan menuju tempat yang di inginkan oleh pengunjung.

Gambar Aktor Yang Mengalami Konflik

Dari gambar diatas aktor konflik dalam penelitian ini juga sekaligus pemilik

Pemandu Wisata Sungai Pisang

Pemandu Wisata Sungai Pinang

Pemilik perahu Sungai Pisang

Travel Agen Sungai Pisang

Pemilik perahu Sungai Pinang

Travel Agen Sungai Pinang

(9)

perahu, yang mengantar, melayani, menjemput pengunjung, dan sekaligus sebagai travel agen bagi pengunjung, sepertinya wawancara yang peneliti lakukan, pemilik perahu dan travel agen, adalah pemandu-pemandu wisata tersebut, travel agen adalah orang-orang yang menginformasikan kepada orang-orang, bahwasanya pergi ke pulau-pulau tersebut bisa melewati mereka yang sebagai travel agen, karena mereka adalah pemandu- pemandu wisata tersebut.

Berdasarkan wawancara yang peneliti lakukan dengan pemandu-pemandu wisata Sungai Pinang dengan Sungai Pisang, sebelum terjadinya konflik perebutan pengunjung ini, sebenarnya sudah ada, konflik lain yaitu konflik antara masyarakat Nagari Sungai Pinang dengan masyarakat Kelurahan Sungai Pisang, yang mana konflik antar masyarakat ini selalu terjadi setiap tahunnya. Seperti pada saat acara pemuda, orgen tunggal maupun acara lainnya, inilah akar dari terjadinya konflik perebutan pengunjung pulau, ditambah lagi pada saat sekarang ini, masyarakat luar cendrung pergi liburan ke pulau-pulau, dan kedua kawasan ini memiliki pulau-pulau tersebut. Karena kawasan ini saling adanya kecemburuan satu sama lain, apabila salah satu dari kawasan atau daerah penelitian ini ramai di kunjungi masyarakat luar, maka pihak yang satunya pasti memiliki suatu rencana agar mengalahkan si pihak lawan.

Jadi terjadinya konflik perebutan pengunjung pulau ini, adalah konflik baru bagi kedua kawasan ini, dan penerus konflik-konflik sebelumnya

.

Sedangkan jarak tempuh antara Sungai Pinang dengan Sungai Pisang apabila melewati darat, Bungus Teluk Kabung Kota Madya adalah ± 10 KM, sedangkan Sungai Pisang ke Sungai Pinang ± 3 KM, sebenarnya terjadinya perebutan pengunjung ini tidak terlepas dari, bagaimana cara si pemandu tersebut meyakinkan pengunjung, contohnya pemandu-pemandu tersebut mengait pengunjung agar agar pergi ke kawasan wisata yang mereka kelola adalah dengan biaya yang lumayan terjangkau, dan mengatakan transportasi pergi ke pulau- pulau ada, sekaligus jarak antara kampung dengan pulau juga dekat, walaupun pada awalnya pengunjung tersebut ragu-ragu, namun akhirnya pengunjung-pengunjung

tersebut mau pergi ke kawasan yang mereka kelola.

Pemandu-pemandu tersebut sebenarnya sendiri-sendiri, tetapi apabila pemandu yang lainnya kebanyakan pengunjung, maka akan adanya suatu pembagian pengunjung, agar teman-teman pemandu yang lain mendapatkan pendapatan dari pengunjung-pengunjung tersebut, dan begitu sebaliknya.

Tidak terlepas dari hasil wawancara yang peneliti lakukan bersama dengan pemandu-pemandu Sungai Pinang dengan Sungai Pisang, yaitu apabila adanya suatu kerjasama dalam kelompok, maka pekerjaan yang kita lakukan pasti akan lancar, namun sesuai dengan penelitian yang peneliti lakukan, pemandu Sungai Pinang dengan Pemandu Sungai Pisang hanya melakukan kerjasama dengan pemandu-pemandu antar kampung saja, mereka tidak ada kerjasama dengan pemandu lain, malahan kedua pemandu antar kampung ini terjadinya persaingan yang dapat merugikan kedua kawasan wisata ini.

Awal mula terjadinya konflik perebutan pengunjung pulau kurang lebih 1 tahun yang lalu yaitu di tahun 2015, terjadinya perebutan pengunjung pulau oleh pemandu pulau pasumpahan yaitu masyarakat kelurahan Sungai Pisang, di dekat simpang Nias kelurahan Sungai Pisang dan Teluk Kabung Selatan, dimana di sana melewati darat ± 7 KM awal jalan menuju pulau pergi ke pulau pasumpahan dan pulau pamutusan, terjadinya perebutan pengunjung tersebut melalui perebutan diam-diam oleh pemandu Pulau masyarakat Sungai Pisang terhadap pengunjung yang sebenarnya bepergian ke kampung Sungai Pinang, mereka melakukan perebutan tersebut dengan sengaja karena mereka menginginkan pengunjung-pengunjung tersebut tidak pergi ke pulau-pulau tersebut melewati Nagari Sungai Pinang akan tetapi melewati Sungai Pisang, dengan banyaknya orang-orang berdatangan ke kawasan Sungai Pisang tentu akan berdampak baik terhadap kemajuan daerah tersebut, dengan begitu orang-orang luar akan mengetahui potensi yang dimiliki oleh daerah Sungai Pisang itulah yang menjadikan alasan pertama pemandu wisata Sungai Pisang untuk merebut pengunjung yang sebenarnya ingin ke kawasan wisata melewati daerah Sungai

(10)

Pinang, dan juga mereka memberikan discont harga paket pergi ke pulau yang biasanya ± 100 ribu rupiah bisa menjadi ± 70 ribu rupiah agar pengunjung-pengunjung tersebut mau atau berminat pergi ke pulau melewati daerah Sungai Pisang.

Selain itu pemandu pulau Sungai Pisang juga mengatakan bahwa jalan menuju kawasan wisata apabila melewati daratan pergi ke Sungai Pinang sangat buruk sekali, inilah yang menimbulkan terjadinya percekcokan atau pertengkaran yang menimbulkan kekerasan yang terjadi antara kedua belah pihak, pemandu wisata Sungai Pinang tidak menerima perlakuan yang dilakukan oleh pemandu wisata Sungai Pisang, terjadilah ± 1 tahun yang lalu awal mula terjadinya persaingan dan perkelahian antar pemandu wisata pulau pasumpahan dan pemandu pulau pamutusan.

Pemandu wisata Sungai Pinang awalnya mengetahui kalau pemandu Sungai Pisang menghambat pengunjung yang sebenarnya pergi ke Pulau melewati daerah Sungai Pinang yaitu dari tukang ojek Simpang Teluk Kabung ± 1 tahun yang lalu, tukang ojek tersebut mengatakan kepada pemandu pulau Sungai Pinang kalau pengunjung-pengunjung pulau yang ramai di Sungai Pisang itu sebenarnya tujuan awalnya ke Sungai Pinang tetapi, di hambat dan dibawanya ke kawasan wisata daerah milik Sungai Pisang, dengan berbagai cerita yang di sampaikan oleh pemandu wisata Sungai Pisang sehingga pengunjung- pengunjung tersebut mau ke daerah yang mereka miliki. Pada awalnya pemandu wisata Sungai Pinang tidak percaya apa yang disampakan oleh tukang ojek tersebut, seelah di selidiki ternyata apa yang di sampaikan oleh tukang ojek tersebut ternyata benar, pengunjung yang pergi berwisata ke kawasan Sungai Pinang dihambat oleh pemandu wisata Sungai Pisang, tujuan mereka adalah agar pengunjung tersebut tidak pergi ke kawasan wisata Sungai Pinang, terjadinya perebutan pengunjung yang tujuannya tidak saja ingin kawasannya di ketahui oleh masyarakat luar tetapi juga uang, karena pengunjung itulah yang memberikan mereka sumber pendapatan seperti uang. Sehingga timbullah amarah oleh pemandu wisata

Sungai Pinang, kedua belah pihak terjadinya perlawanan yang mengakibatkan perkelahian sampai-sampai timbulnya kekerasan yang dapat melukai kedua belah pihak yang terlibat konflik.

Perebutan Wisatawan oleh Pemandu Wisata

Berdasarkan dalam latar belakang sebelumnya penelitian membahas tentang pihak yang terlibat konflik, berdasarkan perolehan data wawancara pada tinjauan pustaka penelitian juga membahas tentang konflik yang di kemukakan oleh Coser, yang menyatakan konflik salah satu interaksi yang tidak perlu dipungkiri keberadaannya serta sebuah sistem sosial yang bersifat fungsional yaitu konflik yang terjadi tidak semata-mata menunjukan fungsi negatif saja, tetapi juga menimbulkan dampak positif (menguntungkan) bagi yang bersangkutan.

Seperti halnya yang peneliti teliti saat ini, terjadinya perebutan pengunjung oleh pemandu dengan maksud untuk mendapatkan keuntungan, ini tidak saja menguntungkan bagi si pemandu, tetapi juga berdampak pada perkembangan daerah itu sendiri, hal inilah yang menyebabkan konflik antar pemandu Sungai Pinang dengan pemandu Sungai Pisang terjadi, yaitu awal terjadinya perebutan ini terjadi kurang lebih dari 1 tahun yang lalu.

Proses Kejadian Konflik Perebutan Pengunjung Pulau

Berdasarkan di latar belakang hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti, bahwasanya setiap masyarakat pasti menginginkan tempat wisatanya ramai di kunjungi oleh orang-orang luar, dengan terus datangnya orang-orang luar atau disebut dengan pengunjung, akan berdampak baik terhadap peningkatan perekonomian si pengelola dan pemandu pulau, sudah pasti berbagai cara dilakukan oleh pengelola tempat wisata. Itu pulalah yang menjadi dasar keinginan pemandu pulau Pasumpahan dan pemandu pulau pamutusan.

Awal mula terjadinya konflik perebutan pengunjung ini, ± 1 tahun yang lalu adalah salah satu dari kawasan wisata ini timbul kecemburuan, karena kawasan mereka tidak di datangi orang-orang luar, hanya lumpang

(11)

lewat saja, maka timbullah suatu tindakan dimana pemandu wisata Sungai Pisang menghambat pengunjung-pengunjung tersebut dengan mengatakan jalan menuju Sungai Pinang sangat buruk sekali, transportasi pergi ke pulau tidak ada, jarak pergi ke Sungai Pinang sangat jauh, dari sinilah pemandu tersebut mengait pengunjung-pengunjung tersebut pergi ke kawasan wisata yang mereka kelola, sampai pada saat sekarang ini, pengunjung apabila pergi ke pulau melewati daerah Sungai Pisang.

Bentuk Konflik Mengenai Perebutan Pengunjung Pulau

Seiring dengan berkembangnya pariwisata pulau pasumpahan dan pulau pamutusan dapat berakibat baik dan juga buruk bagi masyarakat setempat, karena timbulnya persaingan yang mengakibatkan putusnya hubungan diantara para pemandu pulau, seperti yang sedang penulis teliti saat ini, timbulnya konflik kelompok sosial mengenai perebutan pengunjung pulau oleh para pemandu-pemandu wisata yang mana mereka menginginkan reward atas jasa-jasa yang mereka berikan, dalam penelitian ini, melalui observasi dan juga wawancara, peneliti melihat adanya perbedaan oleh pemandu-pemandu tersebut menjalankan usaha, mereka berlomba-lomba untuk meningkatkan kesejahteraan diri mereka sendiri dan juga untuk daerahnya masing- masing. Contohnya saja seperti, para pemandu pulau saling bersaing untuk mendapatkan pengunjung-pengunjung yang hendak berliburan ke pulau-pulau, mereka tidak bersaing secara sehat, tetapi saling menjelekkan satu sama lain untuk kepentingan mereka sendiri, atau dengan kata lain mereka perang mulut, dan merebut pengunjung yang sebenarnya ingin pergi ke tempat lain, dengan cara adanya perlawanan sembunyi-sembunyi.

Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa di dalam kita hidup bermasyarakat pasti mengalami konflik, konflik tidak akan hilang selagi masyarakat hidup, masyarakatlah yang menciptakan konflik karena konflik selalu melekat pada diri masyarakat, seperti yang telah di bahas di atas konflik kelompok sosial mengenai pengunjung pulau di Nagari Sungai Pinang

dengan Kelurahan Sungai Pisang, yang mana terjadinya konflik perebutan pengunjung wisata yang dilakukan oleh para pemandu wisata Sungai Pinang dengan Pemandu wisata Sungai Pisang dengan tujuan ingin membuat pihak lawan tidak berdaya, contohnya, pemandu wisata Sungai Pisang merebut pengunjung wisata yang sebenarnya ingin pergi ketempat wisata lain, dengan cara menawarkan harga pergi ke pulau dengan murah, sehingga pengunjung tertarik untuk pergi ke tempat yang mereka tawarkan. Begitu juga sebaliknya pemandu Sungai Pinang mereka merasa di rugikan oleh Pemandu wisata Sungai Pisang, sehingga terjadinya perlawanan antara pemandu Sungai Pisang dengan Sungai Pinang, apabila salah satu dari pihak merasa dirugikan maka akan berdampak pada pihak yang lain.

Cara-cara pemandu wisata mewujudkan kepentingan mereka tersebut adalah :

1. Blokade Jalan

Seperti halnya dengan penelitian yang peneliti lakukan terjadinya penutupan jalan oleh pemandu wisata Sungai Pisang terhadap Sungai Pinang, apabila jalan Sungai Pisang ditutup maka orang-orang luar tidak akan mengetahui kalau setelah Sungai Pisang ada daearah lain setelah daerah itu. Terjadinya perebutan pengunjung yang tujuannya adalah uang karena pengunjung itulah, yang memberikan mereka sumber pendapatan seperti uang.

Blokade jalan ini terjadi diawal tahun 2015 yang mana pemandu pulau Sungai Pisang tidak memperbolehkan sembarangan orang keluar masuk melewati daerah mereka, pemandu pulau Sungai Pisang selalu menanyai kepada orang-orang yang dianggap baru untuk ditanyai kemana arah tujuan dari orang-orang yang dianggap baru tersebut, apabila orang-orang tersebut mengatakan tujuanya ke tempat lain atau Sungai Pinang, maka mereka pemandu Sunga Pisang akan menghalangi dan menakut-nakuti orang-orang tersebut, dengan mengatakan jalan menuju Sungai Pinang sangat buruk sekali, jurang, jalannya semak belukar dan lain sebagainya.

Pemandu pulau Sungai Pinang mengetahui Blokade jalan ini yaitu pada saat beberapa orang dari pemandu pulau Sungai Pinang pergi ke Bungus Teluk Kabung

(12)

untuk menjemput para pengunjung- pengunjung mereka yang tidak mengetahui jalan pergi ke lokasi Sungai Pinang, seiring denga berjalannya waktu, pada saat itu, pemandu pulau Sungai Pisang menghambat jalan dari rombongan ini, pemandu pulau Sungai Pisang mereka menanyai kemana tujuan dari rombongan ini, pemandu pulau Sungai Pisang tidak mengetahui kalau yang di hambatnya tersebut adalah pemandu Sungai Pinang, hal inilah yang membuat pemandu Sungai Pinang marah, kecewa, dan dengan dihambatnya rombongan ini pemandu Sungai Pinang yaitu Erik dan Deka selaku pemandu yang menjemput rombongan tadi menyampaikan kepada seluruh pemandu pulau Sungai Pinang bahwasanya mereka di hambat oleh pemandu Sungai Pisang, mereka mengetahui inilah salah satu penyebab kenapa pengunjung pergi ke lokasi pulau milik Sungai Pinang berkurang, dengan demikian timbullah tindakan oleh kelompok pemandu Sungai Pinang dengan mengadakan perlawanan.

Timbulnya tindakan kekerasan

Awal timbulnya tindakan kekerasan yaitu pada bulan maret 2015 pada sore hari sekitar pukul 16.25 Wib. Dimana terjadinya perkelahian yang mengakibatkan beberapa orang dari pemandu pulau luka-luka ringan akibat adanya penyerangan atau perlawanan oleh pemandu pulau Sungai Pinang terhadap pemandu pulau Sungai Pisang antara lain luka-luka ringan seperti Don luka ringan di tangannya, Deka, Jaya,Fahmi, Nanda di bawa ke rumah sakit karena luka di kepalanya, yang lainnya selamat dari luka- luka. Penyerangan ini terjadi dikawasan Sungai Pisang di dekat jembatan, dengan adanya penyerangan tersebut masyarakat dari kedua daerah ini tidak diam saja melihat apa yang terjadi dengan pihak-pihak yang berkonflik kedua belah pihak yang disegani bergegas untu melerai dan menyelesaikan permasalahan pada saat itu juga, yaitu tidak terlepas dari adanya kesepakatan dari kedua belah pihak yang berkonflik.

Sosiologi memandang bahwa masyarakat itu selalu dalam perubahan dan setiap elemen dalam masyarakat selalu memberikan sumbangan bagi terjadinya konflik. Manusia sebagai penguasa

lingkungan hidup di bumi berperan besar dalam menentukan kelestarian lingkungan hidup. Manusia sebagai makhluk ciptaan tuhan yang berakal budi mampu merubah wajah dunia dari pola kehidupan sederhana sampai kepada kehidupan modern seperti sekarang ini. Namun sayang, sering kali apa yang dilakukan manusia tidak diimbangi dengan pemikiran akan masa depan kehidupan generasi berikutnya.

Banyak kemajuan yang diraih oleh manusia membawa dampak buruk terhadap kelangsungan lingkungan hidup. Konflik yang terjadi dalam masyarakat apabila tidak dikendalikan akan berakhir dengan kekerasan dan akan berakibat buruk terhadap lingkungan masyarakat itu sendiri seperti yang terjadi antara pemandu wisata Sungai Pisang dan pemandu wisata Sungai Pinang, karena sering terjadinya percekcokan timbullah perkelahian yang bisa mengakibatkan luka-luka bagi yang terlibat konflik, dimana kedua belah pihak tidak saja perang mulut tetapi juga konflik memakai benda-benda tajam yang digunakan saat berkonflik.

Kesimpulan

Berdasarkan permasalahan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa awal mula terjadinya konflik kelompok sosial mengenai perebutan pegunjung pulau yaitu kurang lebih 1 tahun yang lalu yaitu di tahun 2015, terjadinya perebutan pengunjung pulau oleh pemandu pulau pasumpahan yaitu masyarakat kelurahan Sungai Pisang, di dekat simpang Nias Kelurahan Sungai Pisang Teluk Kabung Selatan, dimana di sana melewati darat ± 7 KM awal jalan menuju pulau pergi ke pulau pasumpahan dan pulau pamutusan, terjadinya perebutan pengunjung tersebut melalui perebutan sengaja maupun diam-diam oleh pemandu Pulau masyarakat Sungai Pisang terhadap pengunjung yang seharusnya bepergian ke kampung Sungai Pinang, mereka melakukan perebutan tersebut dengan sengaja karena mereka menginginkan pengunjung- pengunjung tersebut tidak pergi ke pulau- pulau tersebut melewati Nagari Sungai Pinang akan tetapi melewati Sungai Pisang.

Sedangkan bentuk konflik yang terjadi di

(13)

dalam penelitian ini adalah blokade jalan dan timbulnya tindakan kekerasan yang bisa melukai orang-orang yang terlibat konflik,karena apabila konflik tidak di dapat di selesaikan maka kan menimbulkan tindakan kekerasan.

Daftar Pustaka

Bakarrudin. 2009. Perkembangan Dan Permasalahan Kepariwisataan.

Padang: UNP Press.

Moleong, Lexy J. 2007. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Ramly, Nadjamuddin. 2007. Pariwisata Berwawasan Lingkungan. Jakarta:

Grafindo Khazanah Ilmu.

Internet

Harian Kompas. 2015. Menikmati Keindahan Pulau Pasumpahan.

Harian Kompas. 2014. Delapan Pantai Terindah di Sumbar.

http : // www. Pemandu-Wisata

Referensi

Dokumen terkait

Sehingga hal tersebut mudah bagi pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) untuk mendapatkan bahan baku. Namun, oleh karena literasi dan pendidikan warganya yang kurang,